NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Mujiburrahman, mengingatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia agar turut menjaga perdamaian Aceh yang telah dibangun melalui pengorbanan banyak pihak.
Ia menegaskan, berbagai persoalan dan tantangan pembangunan di Aceh harus diselesaikan tanpa mempertaruhkan perdamaian yang selama ini menjadi landasan kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan melalui sambutan tertulis Mujiburrahman yang dibacakan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Ar-Raniry, Reza Idria, pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XX Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) di Auditorium Ali Hasjmy, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (19/10/2026).
Rakernas tersebut dibuka oleh Penjabat Sekretaris Daerah Aceh, Taufik, yang mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Dalam sambutan gubernur yang dibacakan pada kegiatan itu, mahasiswa didorong menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan sekaligus menjalankan fungsi pengawasan sosial secara kritis dan konstruktif.
“Pemerintah Aceh memandang mahasiswa sebagai mitra strategis dalam pembangunan. Kami menyadari bahwa pembangunan yang baik membutuhkan keterbukaan terhadap aspirasi, kesediaan menerima kritik, dan kemauan untuk terus memperbaiki kebijakan,” ujar Muzakir Manaf dalam sambutan yang dibacakan Pj Sekda Aceh.
Sementara itu, Mujiburrahman menyampaikan pesan khusus kepada para delegasi mahasiswa yang mengikuti kegiatan nasional tersebut agar turut menjaga perdamaian selama berada di Aceh.
“Perdamaian Aceh tidak bisa ditawar,” demikian pesan Mujiburrahman dalam sambutannya.
Menurut Mujiburrahman, perdamaian telah memberikan kesempatan kepada masyarakat Aceh untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Ia mengaku pernah merasakan langsung situasi konflik Aceh ketika masih muda, sehingga memahami dampak yang ditimbulkan, mulai dari ketakutan dan ketidakpastian hingga keterbatasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Ia menilai, kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul, berdiskusi, melaksanakan kegiatan akademik, serta menerima kunjungan mahasiswa dari berbagai daerah dalam situasi aman merupakan hal berharga yang harus dipertahankan.
“Perdamaian bukan sekadar keadaan tanpa konflik bersenjata. Perdamaian merupakan fondasi bagi pembangunan Aceh yang bermartabat, bagi tumbuhnya pengetahuan, dan bagi masa depan generasi muda,” ujarnya dalam sambutan tersebut.
Mujiburrahman juga menekankan bahwa berbagai persoalan, kekurangan, dan ketimpangan pembangunan di Aceh perlu ditangani melalui pembenahan tata kelola serta kebijakan yang tepat, bukan dengan mengorbankan perdamaian.
Dalam kesempatan itu, ia mendorong mahasiswa untuk aktif mengawasi kebijakan pemerintah dan menyuarakan kepentingan masyarakat. Namun, peran tersebut perlu disertai pemahaman mendalam terhadap persoalan serta kemampuan menyampaikan solusi yang didukung pengetahuan dan data.
“Mahasiswa harus tetap kritis, berani mengawasi jalannya pemerintahan, dan menyuarakan kepentingan masyarakat. Namun, mahasiswa juga perlu membangun kapasitas untuk membaca persoalan secara mendalam, menggunakan data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan menawarkan solusi yang berlandaskan pengetahuan,” kata dia.
Ia menjelaskan, perguruan tinggi memiliki peran dalam mengembangkan pengetahuan, melaksanakan penelitian, dan menyediakan analisis ilmiah untuk menjawab persoalan masyarakat. Sementara itu, pemerintah bertanggung jawab menyusun kebijakan dan memastikan pembangunan sesuai dengan kebutuhan publik.
Atas dasar itu, Mujiburrahman berharap Rakernas BEM SI dapat menghasilkan rekomendasi yang memperkuat hubungan antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan pemerintah. Hal tersebut, menurutnya, perlu dilakukan dengan tetap menjaga independensi kampus serta kebebasan mahasiswa dalam menyampaikan kritik.
Ia juga berharap forum nasional tersebut tidak hanya menghasilkan agenda organisasi dan rekomendasi tertulis, tetapi turut melahirkan gagasan yang dapat ditindaklanjuti.
Selain menekankan pentingnya perdamaian dan gerakan intelektual mahasiswa, Mujiburrahman mengajak para delegasi BEM SI untuk mengenal Aceh lebih dekat melalui sejarah, adat istiadat, budaya, dan kehidupan masyarakatnya, termasuk penerapan syariat Islam yang menjadi bagian dari identitas daerah.
Menurutnya, keberagaman budaya dan tradisi di Indonesia seharusnya menjadi ruang untuk saling mengenal dan belajar, bukan menjadi penghalang persatuan.
“Melalui kegiatan Rakernas dapat memperlihatkan Aceh sebagai daerah yang terbuka dan kondusif bagi dialog, pertukaran gagasan, serta kegiatan intelektual,” ujar Mujiburrahman.
Ia berharap para peserta membawa pulang tidak hanya hasil Rakernas, tetapi juga pengalaman, persahabatan, serta pemahaman yang lebih baik mengenai Aceh.
Rakernas BEM SI XX berlangsung pada 19–25 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Poros Gerakan Intelektual: Menakar Arah Kebijakan Nasional dan Resiliensi Akar Rumput Demi Kedaulatan Rakyat”.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





