Tuesday, 13 October 2026 Banda Aceh 31°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Aktual

Peringati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Dokter Spesialis Ajak Masyarakat Aceh Peduli Kesehatan Mental

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang berlangsung di kawasan Car Free Day, Jalan Moh. Daud Beureuh, Keuramat, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh pada Minggu (11/10/2026). (Foto: Nukilan/Tibrani)
Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang berlangsung di kawasan Car Free Day, Jalan Moh. Daud Beureuh, Keuramat, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh pada Minggu (11/10/2026). (Foto: Nukilan/Tibrani)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap 10 Oktober. Mengutip situs resmi World Health Organization (WHO), peringatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang persoalan kesehatan mental sekaligus memberikan dukungan kepada orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia pertama kali diselenggarakan pada 10 Oktober 1992 atas prakarsa Federasi Kesehatan Mental Dunia.

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS), para dokter spesialis kejiwaan dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh berkumpul di Banda Aceh untuk menyelenggarakan sejumlah kegiatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

Ketua Panitia Pelaksana HKJS Aceh, dr. Insan Sarami Artanoga, Sp.KJ, yang juga merupakan dokter spesialis kejiwaan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Munyeng Kute, Bener Meriah, menjelaskan bahwa rangkaian peringatan tersebut berlangsung selama dua hari, yakni pada 10–11 Oktober 2026, tepatnya Sabtu dan Minggu.

“Pada 10 Oktober 2026, kami sudah melaksanakan kegiatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh yang diisi dengan acara seremonial, pemotongan tumpeng, serta berbagai perlombaan bagi pasien ODGJ. Perlombaan tersebut antara lain senam dan storytelling atau bercerita. Para pasien diminta menceritakan kembali perjalanan hidup mereka, mulai dari masa kecil, pengalaman yang mereka lalui hingga mengalami gangguan jiwa, sampai akhirnya menjalani perawatan di RSJ Aceh,” kata Insan dalam wawancara bersama Nukilan. id pada Minggu ( 11/10/2026).

Ia menjelaskan, kegiatan berikutnya berlangsung di kawasan Car Free Day, Jalan Moh. Daud Beureuh, Keuramat, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa persoalan kesehatan mental dapat dialami oleh siapa saja, tetapi kerap tidak disadari.

“Kegiatan sosialisasi ini juga merupakan tindak lanjut dari instruksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak mengenal lebih jauh pentingnya kesehatan jiwa sekaligus berpartisipasi dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia,” ungkapnya.

Dari keterangan Insan, kegiatan tersebut turut menghadirkan dr. Subhan Rio Pamungkas, Sp.KJ(K), seorang psikiater konsultan dengan subspesialisasi psikiatri anak dan remaja. Ia memberikan edukasi mengenai gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja.

Pembahasan tersebut kata Insan dinilai penting mengingat berbagai persoalan yang dihadapi kalangan muda, mulai dari perundungan (bullying), penyalahgunaan narkotika, geng motor, hingga berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya yang mulai marak di Aceh.

“Jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Aceh telah mencapai sekitar 21 ribu orang berdasarkan data yang tercatat. Jumlah tersebut berpotensi menjadi fenomena gunung es apabila masih banyak kasus yang belum teridentifikasi akibat kurangnya kesadaran masyarakat terhadap gejala gangguan kejiwaan,” jelasnya.

Melalui momentum peringatan HKJS, Insan berharap masyarakat semakin terbuka untuk berkonsultasi mengenai persoalan kesehatan mental dengan dokter spesialis kejiwaan.

Ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan jiwa. Menurutnya, memahami kondisi diri sendiri menjadi langkah awal untuk mengenali berbagai kemungkinan gangguan mental.

“Gangguan kesehatan mental, lanjutnya, dapat dialami oleh siapa saja tanpa memandang kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia,” pungkasnya.

Mengakhiri wawancara, Insan menjelaskan, masih ada stigma di masyarakat yang menganggap gangguan jiwa hanya ditandai dengan perilaku seperti tidak mengenakan pakaian, berbicara sendiri, atau berbicara dengan benda mati, seperti tiang listrik. Padahal, gangguan jiwa memiliki gejala yang beragam dan tidak selalu ditunjukkan melalui perilaku tersebut.

“Gangguan jiwa tidak hanya ditandai dengan perilaku seperti itu. Gangguan tidur, seperti insomnia, juga bisa menjadi salah satu gejala awal masalah kesehatan mental. Meski tidak semua kasus insomnia berkaitan dengan gangguan mental, kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan dan dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis kedokteran jiwa,” tutupnya.

Reporter: Tibrani
Editor: Akil

Update  berita lainnya di Nukilan.id dan Google News