NUKILAN.ID | MEULABOH – Kesempatan mengikuti kompetisi tingkat nasional membawa pengalaman baru bagi Nur Aisyah Safira, siswi kelas XII-C MAN 2 Aceh Barat.
Ia kini bersiap menuju Jakarta setelah berhasil masuk dalam daftar 30 finalis Gen Halal Championship 2026 yang diselenggarakan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).
Siswi yang akrab disapa Caca itu tidak hanya membawa nama MAN 2 Aceh Barat dalam kompetisi tersebut. Ia juga menjadi satu-satunya peserta dari Aceh sekaligus satu-satunya siswa madrasah yang mewakili Provinsi Aceh pada ajang tersebut.
Pencapaian itu diraih Nur Aisyah di tengah kondisi keluarga yang sederhana. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya, Syahril, sudah tidak bekerja karena faktor usia, sedangkan ibunya, Saribanun, juga tidak bekerja.
Kondisi tersebut tidak menyurutkan keinginannya untuk terus belajar dan mencoba berbagai kesempatan. Ketika Ubaidillah, guru yang selama ini membimbingnya dalam sejumlah perlombaan, mengajaknya mengikuti Gen Halal Championship, Nur Aisyah melihat kompetisi itu sebagai kesempatan untuk menguji kemampuan sekaligus mendapatkan pengalaman baru.
“Caca tertarik mengikuti Gen Halal Championship karena dimotivasi oleh Pak Ubai sebagai pembimbing Caca dalam lomba ini dan juga dalam beberapa perlombaan lainnya,” ujar Nur Aisyah.
Kompetisi tersebut juga menarik perhatiannya karena mempertemukan peserta dari berbagai daerah. Bagi Nur Aisyah, mengikuti perlombaan tidak semata-mata tentang menjadi pemenang, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar dan mengenal lebih banyak orang.
Untuk mencapai posisi 30 besar, Nur Aisyah harus melewati persaingan yang cukup ketat. Sebanyak 4.525 pelajar dari berbagai wilayah di Indonesia dan Jepang mengikuti kompetisi tersebut.
Dalam tahapan seleksi, peserta menghadapi soal yang sebagian menggunakan bahasa Inggris. Materi yang diujikan juga menuntut peserta memiliki pemahaman kritis terkait produk halal.
Karena itu, ketika mengetahui dirinya berhasil masuk 30 besar, Nur Aisyah mengaku sempat tidak percaya.
“Jujur saja, Caca tidak percaya bisa lolos karena persaingannya sangat ketat,” katanya.
Perasaan tersebut kemudian berubah menjadi rasa syukur. Bagi Nur Aisyah, keberhasilan mencapai babak final sudah menjadi pencapaian yang berarti, terlepas dari hasil yang akan diperolehnya nanti.
“Caca sangat bersyukur dan senang bisa sampai di tahap ini. Caca ingin menikmati setiap proses dan memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Babak selanjutnya akan berlangsung pada 6–9 November 2026. Para finalis akan mengikuti rangkaian bootcamp dan grand final yang digelar di Puncak, Bogor, dan Kemayoran, Jakarta.
Selain mempersiapkan diri menghadapi kompetisi, Nur Aisyah juga harus mempersiapkan mental karena akan melakukan perjalanan menuju Jakarta seorang diri.
“Persiapan yang paling utama bagi Caca adalah mental, karena Caca harus naik pesawat sendiri dari Banda Aceh ke Jakarta. Selebihnya mungkin Caca jalani dengan senang dan menikmati prosesnya,” katanya.
Nur Aisyah tidak membebani dirinya dengan target berlebihan untuk menjadi juara. Menurutnya, keberhasilan menembus 30 besar dari ribuan peserta sudah merupakan pencapaian yang patut disyukuri. Meski demikian, ia tetap bertekad memberikan kemampuan terbaik karena pada tahap berikutnya ia membawa nama Aceh dalam kompetisi tingkat nasional.
“Bagi Caca, terpilih sebagai salah satu dari 30 finalis saja sudah menjadi sebuah kemenangan tersendiri, karena Caca berhasil melewati persaingan dari lebih dari 4.000 peserta di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Kepala MAN 2 Aceh Barat, Affan, turut mengapresiasi capaian yang diraih Nur Aisyah. Ia menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses yang dijalani secara bertahap, mulai dari belajar, latihan, bimbingan hingga dukungan dari berbagai pihak.
“Kami sangat bangga atas prestasi yang diraih Nur Aisyah Safira. Dari ribuan peserta yang mengikuti kompetisi ini, ia mampu menembus 30 besar finalis,” ujarnya.
Affan berharap pengalaman mengikuti kompetisi nasional tersebut dapat membantu Nur Aisyah mengembangkan kemampuannya. Ia juga berharap pencapaian tersebut dapat mendorong siswa MAN 2 Aceh Barat lainnya untuk berani mengikuti berbagai kompetisi.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat, Khairul Azhar. Menurutnya, keberhasilan Nur Aisyah menjadi salah satu bukti bahwa siswa madrasah di Aceh Barat memiliki kemampuan untuk berkompetisi di tingkat nasional.
“Lolos sebagai 30 finalis dari ribuan peserta tentu bukanlah hal yang mudah. Ini merupakan hasil dari kerja keras, ketekunan, dukungan guru, madrasah, serta tentu saja semangat dari ananda
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





