NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Suasana akhir pekan di Museum Aceh pada Minggu (17/5/2025) sore tampak tidak terlalu ramai. Tidak banyak pengunjung yang datang karena belum memasuki musim liburan. Meski begitu, sejumlah wisatawan mancanegara terlihat tetap mengunjungi museum tersebut, baik datang sendiri maupun bersama pemandu wisata.
Di Ruang Pameran Tetap, Nukilan.id bertemu dengan seorang turis asing bernama Tom, komika asal Australia yang tengah berkeliling menikmati koleksi budaya Aceh. Ia bersedia meluangkan waktu untuk diwawancarai singkat mengenai pengalamannya selama berada di museum.
Saat ditanya mengenai kesan pertamanya ketika memasuki museum dan melihat koleksi budaya Aceh, Tom mengaku terkesan dengan kekayaan identitas budaya yang ditampilkan, khususnya keberagaman etnis di Aceh yang sebelumnya belum ia ketahui secara mendalam.
“Saya tahu orang Aceh berbeda dari sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya, tetapi saya tidak tahu bahwa di Aceh ada delapan etnis berbeda dan masing-masing memiliki budaya serta bahasa sendiri,” katanya.
Bagi Tom, informasi yang disajikan museum mampu membuka pemahamannya tentang kompleksitas budaya Aceh yang selama ini jarang diketahui wisatawan asing. Tidak hanya soal keberagaman etnis, ia juga menilai cara museum menyampaikan informasi cukup membantu pengunjung internasional memahami konteks sejarah dan budaya yang dipamerkan.
“Penyajian (museum) juga sangat baik. Meskipun kemampuan bahasa Indonesia saya saat ini masih terbatas, informasi yang tersedia tetap cukup untuk membuat saya memahami isinya. Jadi menurut saya itu bagus,” ungkapnya.
Menurut Tom, penyajian informasi yang komunikatif membuat dirinya dapat memahami lebih jauh berbagai aspek budaya Aceh, termasuk pakaian adat yang digunakan oleh masing-masing etnis. Ia melihat adanya identitas yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu ikatan sosial dan budaya sebagai masyarakat Aceh.
“Menarik juga mengetahui bahwa walaupun berbeda etnis, mereka tetap menganggap diri mereka sebagai orang Aceh dan masih memiliki banyak kesamaan, seperti rumah adat misalnya,” jelasnya.
Tidak hanya soal budaya dan etnis, perhatian Tom juga tertuju pada sejarah perempuan dalam masyarakat Aceh. Ia menilai museum berhasil memperlihatkan bagaimana perempuan Aceh memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah, mulai dari kepemimpinan kerajaan hingga perjuangan melawan penjajahan.
“Selain itu, saya juga belajar bahwa masyarakat Aceh cukup netral dalam soal gender. Ada sultanah selain sultan, lalu ada laksamana perempuan pertama di dunia, dan beberapa pahlawan nasional dari Aceh juga merupakan perempuan. Saya merasa itu sangat menarik,” pungkasnya. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

