NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pimpinan Dayah Babul Magfirah Aceh Besar, Ustaz Masrul Aidi, menilai etika berpakaian, khususnya penggunaan celana pendek bagi laki-laki, tidak hanya berkaitan dengan ketentuan agama Islam, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap martabat manusia.
Menurut jebolan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, hampir tidak ada tempat terhormat di dunia yang menerima kehadiran laki-laki mengenakan celana pendek. Terlepas dari latar belakang agama, tempat-tempat tersebut tetap mengharuskan laki-laki berpakaian menggunakan celana panjang sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap tempat tersebut.
“Lalu bagaimana dengan Banda Aceh yang seharusnya menjadi tempat terhormat bertahta syariat islam malah mentolerir kaum laki-laki yang menggunakan celana pendek? Sungguh itu merupakan tindakan yang tidak logis,” kata Masrul dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Senin (2/11/2026).
Ia kemudian mengibaratkan persoalan etika berpakaian dengan perintah mengonsumsi makanan halal dan baik sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Masrul merujuk Surah Al-Baqarah ayat 168 yang memerintahkan seluruh manusia mengonsumsi makanan halal dan baik, serta ayat 172 yang secara khusus mengingatkan orang beriman agar memakan rezeki yang baik.
Menurutnya, terdapat perbedaan penekanan dalam kedua ayat tersebut. Ketika Allah SWT menyeru seluruh manusia, aspek kehalalan dan kebaikan sama-sama ditekankan. Sementara ketika menyapa orang beriman, perhatian diarahkan pada kualitas kebaikan atau thayyib.
Ia menjelaskan, pembahasan mengenai thayyib mencakup kualitas penyajian makanan, nilai gizi, nutrisi, cara memperoleh rezeki, hingga pemanfaatan nutrisi yang dikonsumsi.
“Memakai celana panjang bukan merupakan karena beriman, akan tetapi karena dia manusia. Atas nama manusia dia harusnya terpanggil untuk memakai celana panjang. Karena satu-satunya hal yang membedakan manusia dan binatang adalah karena manusia berpakaian,” tegas Masrul.
Masrul juga menyebut bahwa kemampuan berpakaian merupakan salah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Menurutnya, semakin tinggi kehormatan seseorang, semakin lengkap pula pakaian yang dikenakannya untuk menutup tubuh.
Ia menggambarkan hal tersebut melalui pakaian seorang raja yang dilengkapi dengan berbagai atribut kehormatan, termasuk penutup kepala berupa mahkota.
“Maka ketika membahas ruang beriman, sangat memalukan setelah menjadi seseorang muslim masih berbicara mengenai celana pendek, seharusnya celana pendek sudah selesai pada saat kita menjadi manusia dan fokus kita pada tata berpakaian yang baik,” tuturnya.
Reporter: Tibrani
Editor: Akil
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News




