NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pelaksanaan seleksi calon pegawai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang digelar Badan Kepegawaian Negara menuai sorotan dari sejumlah peserta. Di tengah proses Computer Assisted Test (CAT) yang masih berlangsung secara nasional, muncul berbagai keluhan terkait durasi pengerjaan soal hingga gangguan teknis sistem yang dinilai merugikan peserta.
Program rekrutmen nasional ini diketahui merupakan bagian dari pengadaan sumber daya manusia KDKMP dan KNMP 2026, dengan total peserta yang lolos administrasi mencapai 483.648 orang. Hingga hari keempat pelaksanaan tes, lebih dari 140 ribu peserta telah mengikuti ujian CAT.
Salah seorang peserta, Afrizal Z, mengaku menemukan sejumlah kejanggalan selama mengikuti ujian. Menurutnya, persoalan paling mendasar terletak pada alokasi waktu pengerjaan yang dinilai tidak masuk akal.
“Dalam satu subtes, peserta hanya diberikan waktu sekitar 7 menit dengan jumlah soal berkisar antara 25 hingga 55 soal. Jika dihitung, rata-rata waktu pengerjaan hanya sekitar 7 detik hingga 17 detik per soal. Padahal soal yang diberikan cukup panjang dan membutuhkan analisis,” katanya dalam keterangan yang diterima Nukilan.id pada Sabtu (9/5/2026).
Selain tekanan waktu, Afrizal juga menyoroti respons sistem yang dianggap lambat saat memilih jawaban.
“Banyak peserta mengeluhkan pilihan jawaban pada sistem tidak langsung merespons ketika diklik. Bahkan ada yang harus menekan pilihan jawaban hingga 3 sampai 5 kali sebelum jawaban benar-benar terpilih,” ungkapnya.
Keluhan lain yang muncul, kata dia, adalah perubahan jawaban secara otomatis setelah peserta menekan tombol simpan.Peserta juga mengalami kejadian di mana jawaban yang sebelumnya telah dipilih berubah menjadi pilihan lain setelah menekan tombol ‘simpan dan lanjut.
Tak hanya itu, beberapa peserta disebut sempat terlempar keluar dari sistem saat ujian masih berlangsung.
“Di tengah proses pengerjaan, beberapa peserta mendadak keluar atau logout dari sistem tanpa sebab yang jelas,” tuturnya.
Kondisi tersebut, menurut Afrizal, membuat banyak peserta kehilangan fokus dan akhirnya menjawab soal secara acak demi mengejar waktu.
“Banyak peserta akhirnya tidak lagi membaca soal dengan baik dan memilih menjawab secara acak demi mengejar waktu,” jelasnya.
Keluhan serupa sebenarnya telah direspons pihak BKN. Dalam keterangan resmi yang dirilis 8 Mei 2026, BKN mengakui adanya dinamika di lapangan, termasuk persoalan peserta yang melakukan klik berulang saat sistem sedang memproses jawaban. BKN menyatakan jawaban yang sudah diklik sebenarnya tetap tersimpan di pangkalan data, sementara tampilan yang belum berubah disebut disebabkan jeda sistem saat trafik akses tinggi. BKN juga menegaskan waktu peserta tidak dihitung ketika proses pengiriman jawaban ke server sedang berlangsung.
Namun bagi sebagian peserta, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab keresahan di lapangan. Afrizal menilai gangguan yang terjadi berpotensi mengaburkan objektivitas hasil seleksi.
“Tidak sedikit peserta yang beranggapan bahwa kelulusan dalam kondisi seperti ini lebih banyak ditentukan oleh faktor keberuntungan dibanding kemampuan nyata,” pungkasnya.
Ia meminta BKN tidak menganggap persoalan tersebut sebagai keluhan biasa.
“Peserta tidak meminta kemudahan ataupun belas kasihan. Peserta hanya menginginkan seleksi yang adil, profesional, transparan, dan benar-benar mengukur kemampuan secara objektif,” tutupnya.
Sejumlah peserta kini berharap dilakukan evaluasi menyeluruh, termasuk audit log sistem, rekam aktivitas peserta, serta keterbukaan terhadap berbagai gangguan teknis yang terjadi selama pelaksanaan seleksi.

