NUKILAN.ID | JAKARTA – Kutipan yang selama ini beredar luas di media sosial dan dinisbatkan kepada Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dipastikan tidak memiliki dasar historis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kutipan tersebut berbunyi: “Aku lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini, daripada pemuda kutu buku yang memikirkan diri sendiri.”
Berdasarkan penelusuran Nukilan.id terhadap berbagai sumber sejarah, tidak ditemukan bukti bahwa pernyataan tersebut pernah diucapkan atau ditulis oleh Soekarno. Kutipan itu juga tidak tercantum dalam naskah pidato, buku biografi, kumpulan pidato resmi, maupun dokumen historis yang berkaitan dengan Presiden pertama RI tersebut.
Sebaliknya, berbagai catatan sejarah justru menggambarkan Bung Karno sebagai sosok yang sangat mencintai buku. Sejak usia muda, ia dikenal gemar membaca dan memiliki ribuan koleksi buku dari berbagai bidang pemikiran, termasuk karya-karya tokoh seperti Willy Münzenberg dan Ernst Henri, yang turut membentuk cara pandangnya dalam merumuskan dasar negara serta gagasan perjuangan bangsa.
Kecintaan Soekarno terhadap literasi juga tercermin dalam berbagai pidatonya yang mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk rajin membaca sebagai jalan memperluas wawasan dan membangun bangsa yang cerdas. Dalam sejumlah kesempatan, Bung Karno bahkan menjadikan kebiasaan membaca sebagai teladan yang ia praktikkan sendiri.
Sementara itu, kutipan mengenai “pemuda merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa” diperkirakan baru mulai beredar luas di media sosial sekitar tahun 2020.
Sejumlah pemerhati sejarah menilai kalimat tersebut lebih merupakan analogi yang dibuat oleh pengguna media sosial untuk membandingkan aktivisme sosial dengan aktivitas akademik, bukan ucapan autentik Soekarno. Hingga kini, belum ada bukti primer yang dapat mengaitkan kutipan tersebut dengan Bung Karno.
Para sejarawan dan pemerhati sejarah pun mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menyebarkan kutipan yang mengatasnamakan tokoh nasional.
Mereka menilai setiap kutipan sebaiknya diverifikasi melalui sumber primer, seperti arsip pidato, buku resmi, maupun dokumen sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. (xrq)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News




