Sunday, 11 October 2026 Banda Aceh 30°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
ekonomi

Pemerintah Aceh Targetkan Pemulihan Sawah Rusak Ringan dan Sedang Rampung Tahun Ini

Petani gampong Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Mahmudi Ilyas yang tengah berdiri di pematang dan Ridwan yang tengah kesulitan berjalan di sawah terdampak banjir bandang, Kamis (15/1/2026). (FOTO: KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
Petani gampong Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Mahmudi Ilyas yang tengah berdiri di pematang dan Ridwan yang tengah kesulitan berjalan di sawah terdampak banjir bandang, Kamis (15/1/2026). (FOTO: KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemulihan lahan sawah yang terdampak bencana di Aceh terus berjalan. Sejumlah lahan dengan kategori rusak ringan dan rusak sedang kini telah kembali ditanami, bahkan sebagian di antaranya sudah memasuki masa panen.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, menyampaikan hal tersebut saat ditemui awak media di sela-sela kegiatan Silaturrahmi Akbar Warga Aceh Tenggara (IKAGARA), Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, dan Peusijuk Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Sabtu (10/10/2026).

Azanuddin menjelaskan, pada tahap I terdapat 23.818 hektare sawah dengan kategori rusak ringan. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.829,19 hektare atau 11,87 persen telah ditanami, sementara sekitar 1.100 hektare atau 4,6 persen sudah dipanen.

Menurutnya, realisasi penanaman dan panen berpotensi lebih tinggi apabila seluruh kabupaten yang telah melaksanakan kegiatan tersebut menyampaikan laporan kepada pemerintah provinsi. Pembaruan data terus dilakukan secara bertahap melalui dinas pertanian kabupaten/kota.

Sementara itu, dari total 4.393 hektare sawah rusak sedang pada tahap I, sekitar 1.340 hektare atau 30,50 persen telah ditanami. Adapun lahan yang sudah dipanen mencapai sekitar 428 hektare atau 9,74 persen.

Hingga 9 Oktober 2026, serapan anggaran untuk program pemulihan sawah di Aceh tercatat mencapai 56,7 persen. Program tahap I meliputi optimalisasi lahan (oplah) untuk 23.818 hektare sawah rusak ringan dan rehabilitasi terhadap 4.393 hektare sawah rusak sedang, dengan total luas mencapai 28.211 hektare.

Dari pelaksanaan oplah, pekerjaan konstruksi telah mencapai sekitar 68 persen atau 15.040 hektare. Sementara itu, kegiatan pengolahan lahan telah terealisasi sekitar 40 persen atau 7.035 hektare.

Untuk rehabilitasi sawah rusak sedang tahap I, pekerjaan konstruksi telah rampung 100 persen pada lahan seluas 4.393 hektare. Adapun realisasi pengolahan lahannya mencapai sekitar 79,14 persen atau 3.477 hektare.

Program pemulihan tahap II mencakup optimalisasi lahan seluas 3.253 hektare dan rehabilitasi 9.388 hektare, sehingga totalnya mencapai 12.641 hektare. Pekerjaan konstruksi untuk tahap ini direncanakan mulai dilaksanakan pada pertengahan Oktober 2026.

Selain pemulihan lahan, pembangunan infrastruktur pendukung pertanian juga terus berlangsung. Realisasi irigasi perpompaan telah mencapai 74,4 persen, irigasi perpipaan 88 persen, dan bangunan konservasi 71 persen. Sementara itu, serapan anggaran untuk jaringan irigasi tersier telah mencapai 100 persen, sedangkan pembangunan jalan usaha tani berada pada angka 67 persen.

Secara keseluruhan, rata-rata serapan kegiatan infrastruktur pendukung tersebut telah mencapai 80,8 persen.

Azanuddin mengatakan, percepatan pemulihan sawah rusak ringan dan rusak sedang dilakukan sesuai arahan Gubernur Aceh agar pekerjaan dapat diselesaikan pada tahun ini. Dengan demikian, para petani diharapkan bisa kembali menjalankan kegiatan pertanian dan memulihkan kondisi usaha tani mereka.

“Sesuai arahan Bapak Gubernur agar rusak ringan dan rusak sedang dapat diselesaikan tahun ini sehingga petani kita dapat cepat pulih kembali. “Koordinasi harus terus diperkuat, sehingga setiap kendala yang muncul dapat segera dicarikan jalan keluarnya,” katanya.

Upaya tersebut juga sejalan dengan salah satu misi Pemerintah Aceh, yakni “Mewujudkan Kemandirian Rakyat melalui Swasembada Pangan, Energi, Air, Ekonomi Hijau dan Ekonomi Biru yang Berkelanjutan.”

Ia turut mengapresiasi kerja para petani dan kelompok tani dalam proses pemulihan lahan. Apresiasi juga disampaikan kepada TNI, Kementerian Pertanian, serta dinas pertanian kabupaten/kota yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.

Azanuddin berharap dinas pertanian di tingkat kabupaten/kota terus mempercepat pekerjaan sekaligus memberikan pendampingan kepada kelompok tani penerima program. Ia optimistis target penyelesaian dapat tercapai melalui kerja sama dan koordinasi yang berkelanjutan.

Sebagai bagian dari perkembangan pemulihan, panen padi sebelumnya telah dilaksanakan di lahan kategori rusak sedang di Kabupaten Aceh Barat bersama Bupati Tarmizi dan sejumlah pihak terkait. Dalam waktu dekat, panen juga direncanakan berlangsung di lahan terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang.

Terkait lahan sawah dengan kategori rusak berat, Azanuddin yang juga merupakan alumni Taplai Lemhannas 2023 menyebutkan bahwa pihaknya bersama pemerintah kabupaten/kota masih melakukan pemutakhiran data.

Berdasarkan data Februari 2026, luas sawah rusak berat tercatat sekitar 16.283 hektare. Namun, jumlah tersebut diperkirakan mengalami penurunan setelah proses pendataan terbaru pada Oktober 2026 selesai dilakukan.

Pemerintah Aceh menargetkan finalisasi data sawah rusak berat pada pertengahan Oktober ini. Setelah data ditetapkan, hasilnya akan disampaikan ke pemerintah pusat melalui surat Gubernur Aceh untuk mendapatkan tindak lanjut penanganan.

Azanuddin berharap lahan sawah rusak berat tersebut juga memperoleh dukungan pemulihan pada 2027, baik melalui Kementerian Pertanian maupun pihak lain yang dapat memfasilitasi penanganannya.

Update  berita lainnya di Nukilan.id dan Google News