Beranda blog Halaman 881

KONI Pusat Evaluasi PON 2024 Aceh-Sumut, Siapkan Langkah Menuju PON 2028

0
KONI Pusat Evaluasi PON 2024 Aceh-Sumut, Siapkan Langkah Menuju PON 2028. IFoto: RRI)

NUKILAN.id | Gorontalo – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat menggelar rapat evaluasi pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024. Evaluasi ini akan menjadi landasan untuk persiapan penyelenggaraan PON XXII yang akan digelar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2028.

Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Lukman Niode, Kantor KONI Pusat, Gorontalo, Jumat (4/10/2024) tersebut dipimpin oleh Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman. Ia mengapresiasi pelaksanaan PON XXI Aceh-Sumut yang dianggap telah berjalan baik.

“Tugas dan tanggung jawab KONI, khususnya di bidang Games Operation, sudah berjalan dengan baik di Aceh dan Sumut. Terima kasih dan apresiasi atas kerja keras kita semua,” ujar Marciano.

Namun, ia juga mengakui adanya beberapa kekurangan dalam pelaksanaan PON kali ini. Menurutnya, kekurangan tersebut lebih banyak diekspos di media sosial tanpa pemahaman yang utuh terhadap situasi yang sebenarnya terjadi.

“Banyak orang yang melihat tayangan di media sosial yang tidak memahami masalah sebenarnya. Kekurangan itu cepat terekspos di era sekarang ini,” ujarnya sambil menyoroti kurangnya publikasi yang berimbang dari beberapa pegiat media sosial.

Meski demikian, Marciano menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh untuk perbaikan ke depan. Marciano menambahkan, rapat evaluasi ini menjadi bagian dari langkah persiapan menuju PON XXII di NTB-NTT pada 2028. Selain evaluasi, KONI Pusat juga telah mengagendakan sejumlah kegiatan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan PON di masa mendatang.

“Kita akan merencanakan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pengurus KONI Pusat, Ketua KONI Provinsi, pimpinan cabang olahraga, dan akademisi untuk menanggapi hasil PON kemarin. Selain itu, pertemuan dengan seluruh KONI Provinsi juga akan dilaksanakan di Batam,” jelas Marciano.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pengawas dan Pengarah (Panwasrah) PON XXI Aceh-Sumut, Mayjen TNI Purn. Suwarno, menguraikan perjalanan panjang PON XXI, mulai dari proses bidding hingga pelaksanaan di lapangan. Ia menekankan bahwa pengalaman ini menjadi penting untuk acuan penyelenggaraan PON berikutnya.

“PON XXI Aceh-Sumut merupakan PON pertama yang diselenggarakan di dua provinsi dan menjadi yang terbesar, diikuti oleh 38 provinsi dan satu Ibu Kota Negara Nusantara (IKN), dengan total 12.923 atlet dan 6.481 ofisial yang tersebar di Aceh dan Sumut,” ujar Suwarno.

Ia juga menyebutkan bahwa sebanyak 65 cabang olahraga dipertandingkan dalam PON kali ini. Menurutnya, kualitas penyelenggaraan PON harus terus ditingkatkan demi memperbaiki sistem pembinaan olahraga di Indonesia.

“Kualitas PON harus selalu ditingkatkan, dan ke depan akan disempurnakan secara maksimal agar pembinaan olahraga di Tanah Air semakin terarah,” pungkas Suwarno.

Rapat evaluasi ini menjadi langkah penting dalam menciptakan PON yang lebih baik dan terencana, sehingga dapat menjadi ajang olahraga yang membanggakan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Editor: Akil

DPKA Gelar Roadshow di Nagan Raya, Dorong Minat Baca Generasi Muda

0
DPKA Gelar Roadshow di Nagan Raya. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Suka Makmue – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh mengadakan roadshow di Kabupaten Nagan Raya, Sabtu (5/10/2024), sebagai bagian dari upaya meningkatkan minat baca dan literasi di kalangan generasi muda Aceh. Acara ini berlangsung di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Nagan Raya dan dihadiri oleh para guru, duta baca, serta perwakilan pelajar dari berbagai sekolah di Nagan Raya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Nagan Raya, Drs. Said Amri, mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya menciptakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan semangat literasi di masyarakat.

“DPK Nagan Raya siap berkolaborasi dengan stakeholder dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menumbuhkan budaya membaca dalam rangka mencerdaskan generasi bangsa,” ujar Said.

Berbagai kegiatan seperti lomba duta baca, lomba cerita anak, dan lomba baca puisi digelar untuk menarik minat masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Melalui kegiatan ini, DPK Nagan Raya berharap dapat memperkuat budaya literasi di daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Dr. Edi Yandra, S.STP, menekankan pentingnya kegiatan ini dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membaca.

“Kami berharap dengan adanya roadshow ini, minat baca masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, dapat meningkat sehingga mereka lebih teredukasi dan siap menghadapi tantangan masa depan,” kata Edi.

Edi juga menegaskan komitmennya untuk terus melaksanakan program serupa di berbagai kabupaten/kota lainnya di Aceh. “Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah daerah, diharapkan upaya ini dapat membawa perubahan signifikan dalam budaya membaca di Aceh,” tambahnya.

Kegiatan roadshow ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan literasi dan menumbuhkan kecintaan membaca di kalangan generasi muda, sehingga mereka dapat menjadi individu yang berpengetahuan luas dan siap menghadapi tantangan zaman.

Editor: Akil

Politisi Tengah Tenggara Aceh: Mualem-Dek Fadh Kunci Kebangkitan Aceh

0
Politisi muda asal Tengah Tenggara Aceh, Fauzan Alia. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Politisi muda asal Tengah Tenggara Aceh, Fauzan Alia, optimistis Aceh akan mengalami kemajuan pesat jika pasangan Muzakir Manaf dan Fadhlullah (Dek Fadh) terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2025-2030. Menurut Fauzan, pasangan ini membawa visi dan misi yang konkret untuk pembangunan Aceh secara menyeluruh.

“Visi misi yang diusung Muzakir Manaf dan Dek Fadh berfokus pada pemerataan pembangunan, mulai dari pengentasan kemiskinan hingga peningkatan hak masyarakat dalam pendidikan dan kesehatan,” ujar Fauzan pada Minggu (6/10/2024).

Fauzan juga menyoroti komitmen pasangan ini dalam menjamin rasa aman bagi para investor yang ingin menanamkan modal di Aceh. Ia menyebut bahwa keberanian dan integritas Muzakir Manaf adalah kunci untuk membawa Aceh keluar dari kemiskinan.

“Kita membutuhkan sosok yang berani, berintegritas, serta jauh dari mentalitas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dukungan dari pusat adalah kunci, dan tanpa itu, Aceh hanya akan terus bermimpi,” tegas Fauzan.

Muzakir Manaf, yang dikenal sebagai mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dinilai memiliki jaringan politik yang kuat di tingkat lokal. Dengan Partai Aceh yang dipimpinnya sebagai partai pemenang di DPR Aceh, Fauzan meyakini implementasi program-program pembangunan akan lebih mudah terlaksana.

“Dukungan penuh dari DPR Aceh tentu akan mempermudah implementasi program-program pembangunan yang telah mereka canangkan,” katanya.

Sementara itu, Fadhlullah, atau yang akrab disapa Dek Fadh, disebut sebagai politisi berpengalaman di kancah nasional. Sebagai mantan anggota DPR RI dua periode dan ketua DPD Partai Gerindra Aceh, Fauzan menilai Dek Fadh memiliki akses langsung ke pusat kekuasaan, terutama karena Presiden terpilih berasal dari Partai Gerindra.

“Ini keuntungan besar bagi Aceh karena program pembangunan akan lebih mudah terealisasi dengan dukungan pemerintah pusat,” tambah Fauzan.

Pasangan Muzakir Manaf dan Dek Fadh diusung oleh partai-partai besar, seperti PKB, Demokrat, PKS, PPP, dan PDIP. Dukungan ini memperkuat keyakinan bahwa pembangunan Aceh dalam lima tahun ke depan akan lebih mudah terlaksana.

“Kombinasi dukungan lokal dan nasional adalah kunci bagi Aceh untuk bangkit dari keterpurukan,” ujar Fauzan.

Fauzan juga menekankan kedekatan pasangan ini dengan masyarakat dan ulama. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa Muzakir Manaf dan Dek Fadh adalah pasangan yang “rahmatan lil alamin,” membawa berkah bagi seluruh rakyat Aceh.

“Kedekatan mereka dengan ulama menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan yang membawa berkah bagi rakyat Aceh,” katanya.

Lebih lanjut, Fauzan menyoroti pentingnya kepemimpinan yang kuat dan bermoral dalam membangun Aceh. Ia meyakini kepemimpinan yang berlandaskan integritas dan dukungan politik dari pusat akan menjadikan Aceh tidak lagi menjadi daerah termiskin di Sumatera.

“Jika kita ingin Aceh lebih baik dari hari ini, Muzakir Manaf dan Dek Fadh adalah pasangan yang tepat untuk memimpin,” kata Fauzan.

Di akhir pernyataannya, Fauzan mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk mendukung pasangan ini agar Aceh bisa setara dengan provinsi-provinsi maju lainnya di Indonesia.

“Mari kita jadikan Aceh negeri Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, negeri yang sejahtera dan diberkahi oleh Allah SWT,” tutup Fauzan penuh harap.

Editor: Akil

Pererat Silaturahmi, Komunitas Rajolelo Gampong Sapik Peusijuek Mahasiswa Baru

0
Komunitas Rajolelo Gampong Sapik. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Masyarakat Gampong Sapik, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan, yang tergabung dalam Komunitas Rajolelo, menggelar kegiatan silaturahmi sekaligus prosesi peusijuek bagi mahasiswa baru tahun ajaran 2024-2025. Acara ini berlangsung di Pantai Riting 1, Leupung, Aceh Besar, pada Minggu (6/10/2024).

Ketua panitia kegiatan, Birul Walidain, mengatakan bahwa silaturahmi ini sudah menjadi agenda tahunan komunitas masyarakat Gampong Sapik yang berdomisili di Banda Aceh dan Aceh Besar. Tahun ini merupakan kali ketiga penyelenggaraan acara tersebut.

“Acara silaturahmi ini sudah menjadi agenda tahunan komunitas. Tujuannya agar menjadi momen berkumpul dan saling merangkul bagi seluruh lapisan masyarakat Gampong Sapik yang berada di perantauan, khususnya di Banda Aceh dan Aceh Besar,” kata Birul kepada Nukilan.id.

Ketua Umum Komunitas Rajolelo, Rizky Kurniawan, juga mengungkapkan harapannya terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, momen ini penting sebagai ajang mempererat hubungan antarwarga Gampong Sapik, terutama bagi mahasiswa baru yang akan memulai kehidupannya di perantauan.

“Kami berharap acara ini menjadi momen untuk bertemu, berkumpul, dan duduk bersama-sama, seperti istilah ‘serung, pulung tandok sehamparan’, agar rasa kekeluargaan dan solidaritas kita tetap terjaga,” kata Rizky.

Selain prosesi peusijuek, acara ini juga menghadirkan sharing session mengenai pendidikan di perantauan dengan Allif Kusnadi sebagai pemateri. Allif, alumni Universitas Al-Azhar Mesir sekaligus Diaspora Indonesia di Saudi, berbagi pengalaman serta tips beradaptasi di lingkungan internasional.

Setelah sesi tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama dan berbagai permainan tradisional yang melibatkan seluruh peserta. Melalui acara ini, diharapkan para mahasiswa baru dapat lebih mudah beradaptasi dan merasa didukung oleh komunitas, sehingga mereka dapat menjalani proses studi di perantauan dengan lebih baik. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

MIN 8 Aceh Barat dan PT Penerbit Erlangga Gelar Reading Day, Dorong Budaya Literasi Siswa

0
MIN 8 Aceh Barat dan PT Penerbit Erlangga Gelar Reading Day. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Meulaboh – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 8 Aceh Barat menyelenggarakan kegiatan Reading Day pada Sabtu (5/10/2024), bekerja sama dengan PT Penerbit Erlangga. Acara tersebut dipenuhi dengan semangat para siswa yang mengikuti lomba bercerita, yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca serta keterampilan bercerita di kalangan siswa.

Kepala MIN 8 Aceh Barat, Gamal Barqie, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya madrasah dalam membentuk generasi muda yang cerdas dan berkarakter.

“Acara seperti ini sangat penting dalam membentuk generasi muda yang cerdas dan berkarakter,” kata Gamal.

Menurutnya, melalui lomba bercerita, para siswa tidak hanya diajak untuk meningkatkan minat membaca, tetapi juga diberi kesempatan untuk mengasah keterampilan komunikasi dan meningkatkan rasa percaya diri dalam berbicara di depan umum.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memotivasi siswa untuk terus membaca dan mengasah kemampuan literasi mereka dalam bercerita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gamal menambahkan bahwa lomba bercerita ini menjadi langkah awal dalam membangun budaya literasi di lingkungan madrasah. “Kami ingin menumbuhkan generasi yang lebih aktif dalam dunia literasi dan kegiatan seperti ini adalah salah satu cara yang efektif,” jelasnya.

Kegiatan Reading Day di MIN 8 Aceh Barat ini disambut baik oleh para siswa dan guru. PT Penerbit Erlangga juga turut mendukung penuh acara ini dengan menyediakan buku-buku bacaan yang menarik serta hadiah bagi para pemenang lomba bercerita.

Dengan adanya kegiatan semacam ini, diharapkan para siswa dapat terus menumbuhkan minat baca dan memiliki keterampilan bercerita yang baik, sehingga mampu menjadi generasi yang unggul dalam bidang literasi dan komunikasi.

Editor: Akil

Harga Produk Lokal Aceh Mahal, Safriati: Sinergi Daerah Bisa Jadi Solusi

0
Pj. Ketua TP-PKK Aceh, Ny. Hj. Safriati Safrizal, S.Si, M.Si, mengamati hasil kerajinan produk lokal saat mengunjungi kantor Dewan Kerajinan Nasional Daerah di Kota Lhokseumawe. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Lhokseumawe – Penjabat Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Hj. Safriati, mengungkapkan keprihatinannya terhadap harga produk kerajinan lokal Aceh yang cenderung mahal. Hal tersebut ia sampaikan saat meninjau perkembangan kerajinan di Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Lhokseumawe, Sabtu (5/10/2024).

Dalam kunjungannya, Safriati menyoroti pentingnya mempertahankan identitas budaya Aceh dalam setiap produk kerajinan yang dihasilkan. Ia mencontohkan ciri khas pinto Aceh yang bisa langsung dikenali dari motif bordirnya.

“Ada ciri khas keacehan, seperti pinto Aceh misalnya. Orang melihat langsung tahu identitas dari motif bordirnya,” ujar Safriati sambil menunjukkan selempang bermotif bunga.

Namun, Safriati menyadari bahwa meski produk lokal Aceh memiliki kualitas tinggi, harga yang mahal menjadi tantangan tersendiri bagi para pengrajin. Menurutnya, perlu ada solusi agar produk kerajinan Aceh lebih kompetitif di pasar. “Harga kita juga mahal. Harus cari solusi,” katanya.

Sebagai upaya mengatasi permasalahan harga, Safriati berencana mendorong kerjasama antar kabupaten dan kota di Aceh untuk berbagi bahan baku dengan harga lebih terjangkau. Ia menyarankan agar pembelian bahan baku dilakukan dalam skala besar di tingkat provinsi sehingga biaya produksi dapat ditekan. “Kita bisa mengambil skala besar, sehingga daerah-daerah bisa mendapatkan bahan baku dari provinsi dengan harga lebih murah,” jelas Safriati.

Tidak hanya soal harga, Safriati juga menyoroti kurangnya promosi terhadap produk-produk kerajinan lokal. Ia menilai promosi yang dilakukan saat ini belum maksimal sehingga perlu ada upaya lebih besar untuk memperkenalkan produk-produk unggulan Aceh ke pasar yang lebih luas.

“Produk kita bagus, tapi promosi belum maksimal. Kita akan coba membuat galeri di tingkat provinsi untuk mempromosikan produk unggulan dari seluruh kabupaten/kota,” imbuhnya.

Safriati juga mengusulkan agar Dekranasda di tingkat kabupaten mengundang pengrajin dari luar, seperti dari Pulau Jawa, untuk berbagi pengalaman dan teknik kerajinan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan para pengrajin lokal.

Selain itu, Safriati tertarik dengan pendekatan yang dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana seni menenun sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah. Menurutnya, tradisi ini bisa menjadi inspirasi untuk diterapkan di Aceh agar generasi muda bisa lebih mengenal dan melestarikan kerajinan lokal.

“Di NTT, banyak anak-anak yang bisa menenun karena masuk kurikulum sekolah. Mama-mama di sana mendampingi langsung anak sekolah belajar menenun. Kita harus melakukannya juga,” ungkapnya penuh harap.

Dengan berbagai upaya tersebut, Safriati optimistis produk kerajinan Aceh tidak hanya akan mampu mempertahankan identitas budaya, tetapi juga menjadi lebih kompetitif dan dikenal luas di pasar nasional maupun internasional.

Editor: Akil

Lima Pencuri Ternak di Aceh Singkil Ditangkap Warga

0
Lima Pencuri Ternak di Aceh Singkil Ditangkap Warga. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Singkil – Warga Desa Kampung Baru, Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil, berhasil menangkap lima pelaku pencurian ternak yang beraksi di wilayah mereka, Jumat (4/10/2024). Kelima pelaku tersebut kemudian diserahkan ke Kepolisian Resor (Polres) Aceh Singkil untuk diproses hukum lebih lanjut.

Para pelaku diketahui berinisial ST (24), SGM (35), DP (31), S (36), dan H (25). ST dan SGM merupakan warga Desa Siatas, Kecamatan Simpang Kanan, sedangkan DP, S, dan H berasal dari Desa Gunung Lagan, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil.

Penangkapan para pelaku bermula dari kecurigaan warga terhadap aktivitas kendaraan di sekitar area Perkebunan PT Astra, yang dikenal banyak terdapat peternakan. Melihat adanya gerak-gerik mencurigakan, warga setempat segera bertindak dengan mengamankan para pelaku yang tengah memasukkan hewan-hewan ternak ke dalam mobil Daihatsu Sigra.

“Para pelaku ditangkap saat sedang menjalankan aksinya mencuri ternak milik warga. Setelah itu, warga langsung menghubungi pihak kepolisian untuk menyerahkan mereka,” kata salah satu warga setempat.

Kapolres Aceh Singkil AKBP Suprihatiyanto, S.I.K., memberikan apresiasi atas kecepatan dan keberanian warga dalam menangkap para pelaku pencurian tanpa melakukan aksi main hakim sendiri.

“Saya sangat mengapresiasi masyarakat yang cepat tanggap dan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib tanpa adanya amuk massa,” ujar Suprihatiyanto.

Ia menegaskan bahwa penangkapan ini diharapkan dapat memberikan efek jera bagi para pelaku pencurian ternak dan mencegah kasus serupa di wilayah Aceh Singkil.

“Penangkapan ini diharapkan menjadi efek jera bagi para pelaku kejahatan serupa. Kami juga akan melakukan patroli keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) secara rutin untuk mengantisipasi terulangnya kasus pencurian ternak di wilayah ini,” tegasnya.

Hingga saat ini, Polres Aceh Singkil masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus pencurian ternak tersebut. Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku berinisial SGM mengaku sudah lima kali melakukan aksi serupa, sementara DP dan S masing-masing empat kali, ST dua kali, dan H baru pertama kali.

Kapolres Suprihatiyanto menambahkan bahwa pihaknya akan menindak tegas para pelaku sesuai hukum yang berlaku.

“Kami pastikan para pelaku akan diproses hukum, dan kami berharap ini bisa menjadi peringatan bagi yang lain untuk tidak melakukan tindak kejahatan,” katanya.

Kasus pencurian ternak memang menjadi ancaman serius bagi masyarakat di Aceh Singkil yang sebagian besar menggantungkan hidup dari peternakan. Kapolres mengimbau agar masyarakat selalu waspada dan segera melapor jika menemukan aktivitas mencurigakan di lingkungan mereka.

“Kerjasama antara warga dan pihak kepolisian sangat penting untuk menjaga keamanan wilayah. Saya harap warga tetap waspada dan selalu berkoordinasi dengan kami demi keamanan bersama,” pungkasnya.

Editor: Akil

Sandera Sindikat Narkoba di Malaysia, Pulang Berkat Bantuan Haji Uma dan PPAM

0
Sandera Sindikat Narkoba di Malaysia, Pulang Berkat Bantuan Haji Uma dan PPAM. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Setelah mengalami penyanderaan dan penyiksaan oleh sindikat narkoba di Malaysia, Ismail Arif (33), warga Aceh Tamiang, akhirnya berhasil dipulangkan ke kampung halamannya dengan bantuan H. Sudirman atau Haji Uma dan Persatuan Perantau Aceh Malaysia (PPAM). Ismail tiba di Aceh setelah melalui perjalanan panjang dari Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara, Jumat (4/10/2024).

Proses pembebasan Ismail Arif berawal saat korban berhasil melarikan diri dari tempat penyanderaan di Shah Alam, Malaysia, pada Senin (23/9/2024). Ia kemudian menghubungi keluarganya di Aceh Tamiang, yang segera meminta bantuan Haji Uma, anggota DPD RI asal Aceh. Haji Uma pun langsung berkoordinasi dengan PPAM untuk memberikan perlindungan bagi Ismail di Malaysia.

Teuku Ricky, Ketua PPAM, menjelaskan bahwa setelah berhasil kabur, Ismail diarahkan ke daerah Chow Kit, Kuala Lumpur, dan tinggal sementara di rumah seorang anggota PPAM. Di sana, ia mendapat perlindungan serta bantuan kebutuhan dasar selama sepuluh hari.

Upaya pemulangan Ismail tidaklah mudah. PPAM turut membantu mengurus dokumen dan persiapan pemulangan dengan dukungan dana dari berbagai pihak. Keluarga Ismail menyediakan Rp 3,7 juta, sementara Haji Uma menyumbangkan Rp 2 juta serta biaya tambahan sebesar Rp 1,5 juta untuk tiket pesawat kakak Ismail yang menjemputnya di Malaysia dan biaya transportasi dari Bandara Kuala Namu ke Aceh Tamiang.

Setibanya di kampung halaman di Desa Lubuk Batil, Kecamatan Bendahara, Ismail disambut haru oleh keluarga, kerabat, dan warga yang telah menunggu kepulangannya. Momen penuh emosional ini menjadi puncak dari perjuangan panjang untuk membawa Ismail kembali ke tanah kelahirannya.

Haji Uma menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan pemulangan Ismail. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada PPAM dan pihak-pihak yang telah membantu memberikan perlindungan dan mendukung proses pemulangan korban.

“Saya sangat bersyukur Ismail berhasil pulang dengan selamat. Terima kasih kepada PPAM dan seluruh pihak yang turut membantu,” ujar Haji Uma.

Lebih lanjut, Haji Uma mengungkapkan bahwa dirinya akan segera menyurati Mabes Polri untuk mengusut lebih lanjut kasus ini. Berdasarkan informasi dari keluarga korban, ada dugaan bahwa sindikat narkoba ini dikendalikan oleh seorang warga Aceh berinisial Z, yang saat ini sedang ditahan di Lapas Tanjung Gusta, Sumatera Utara.

“Kita akan segera menyurati Mabes Polri. Kasus ini harus diusut tuntas, apalagi ada dugaan keterlibatan seorang yang sedang ditahan di Lapas Tanjung Gusta,” tambahnya.

Selain itu, Haji Uma juga meminta Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) untuk memberikan advokasi terkait proteksi keselamatan bagi Ismail. Ia khawatir jaringan narkoba ini masih mengincar Ismail di Aceh.

Diketahui, Ismail Arif menjadi korban penyanderaan oleh sindikat narkoba di Malaysia setelah dijadikan jaminan dalam transaksi narkoba oleh rekannya sendiri, Ridwan alias Bogam. Awalnya, Ismail hendak pulang ke Aceh, tetapi karena biaya perjalanan yang ditransfer oleh keluarganya gagal, ia terpaksa meminta bantuan Bogam. Alih-alih membantu, Bogam malah membawa Ismail ke dalam transaksi narkoba yang berujung pada penyanderaan.

Atas kejadian tersebut, keluarga Ismail bersama aparatur desa Lubuk Batil menghubungi Haji Uma untuk membantu pembebasan dan pemulangan Ismail. Kini, setelah melalui serangkaian upaya yang panjang, Ismail telah kembali ke pangkuan keluarganya di Aceh Tamiang, meski bayangan ancaman dari sindikat narkoba masih terus menghantui.

Editor: Akil

BMKG: Sejumlah Wilayah di Aceh Masih Berpotensi Alami Cuaca Buruk

0
Ilustrasi hujan. (Foto: Shutterstock)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh kembali mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca buruk yang berpotensi melanda sejumlah wilayah di Aceh pada Minggu (6/10/2024).

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis cuaca, BMKG memperingatkan masyarakat untuk waspada terhadap potensi hujan lebat dan angin kencang di beberapa kabupaten/kota di Aceh.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Banda Aceh, melalui keterangan resmi, menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan cuaca buruk tersebut. Di antaranya adalah adanya belokan angin (shearline), daerah konvergensi di wilayah Provinsi Aceh, serta gelombang ekuatorial Rossby yang terpantau di Sumatera bagian utara.

Anomali suhu muka laut yang hangat di perairan utara dan barat Aceh turut meningkatkan potensi penguapan, yang berimbas pada pertumbuhan awan hujan.

“Sejumlah wilayah di Aceh, seperti Simeulue, Lhokseumawe, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Tengah, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang perlu mewaspadai potensi cuaca buruk dalam beberapa hari ke depan,” ungkap BMKG dalam peringatannya.

BMKG juga menghimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor agar selalu waspada dan bersiap menghadapi dampak cuaca ekstrem. Cuaca buruk seperti hujan deras dan angin kencang dapat mengakibatkan kerugian yang signifikan bagi kehidupan dan infrastruktur.

“Kami mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh cuaca ekstrem. Jika hujan deras dan angin kencang terjadi, pastikan tetap berada di tempat yang aman dan hindari wilayah yang berpotensi terjadi longsor dan banjir,” imbau BMKG.

Peringatan dini ini diharapkan dapat menjadi langkah antisipatif bagi masyarakat agar selalu siaga dan meminimalisir risiko bencana yang diakibatkan oleh cuaca buruk. BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan koordinasi dan kesiapan dalam menghadapi potensi bencana alam, termasuk upaya evakuasi jika diperlukan.

Cuaca ekstrem merupakan fenomena alam yang tidak bisa dihindari, namun langkah pencegahan dan kesiapan dini dapat membantu mengurangi dampak buruk yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk selalu memantau informasi terkini dari BMKG serta mengutamakan keselamatan dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu ini.

Editor: Akil

Eungkot Keumamah, Sajian Legendaris Aceh yang Pedas, Gurih, dan Sarat Sejarah

0
Eungkot KeumamaH. (Foto: Detik)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Indonesia dikenal dengan kekayaan kulinernya yang menggunakan beragam rempah-rempah, tak terkecuali Aceh. Salah satu sajian khas yang tak hanya lezat tapi juga sarat sejarah adalah Eungkot Keumamah, atau yang dikenal dengan sebutan ikan kayu. Masakan berbahan dasar ikan tongkol kering ini menjadi favorit sejak masa perjuangan kemerdekaan Aceh.

Eungkot Keumamah tidak hanya terkenal karena rasanya yang pedas dan gurih, tetapi juga karena kemampuannya untuk disimpan dalam waktu yang lama. Keunikan ini membuatnya menjadi andalan dalam berbagai kegiatan masyarakat Aceh, seperti kenduri atau hajatan besar. Proses pengolahan Eungkot Keumamah dimulai dengan mengeringkan ikan tongkol selama beberapa hari, hingga kadar airnya benar-benar hilang. Sekilas, ikan yang sudah kering ini menyerupai potongan kayu, yang menjadi alasan mengapa masakan ini disebut “ikan kayu.”

Favorit Para Pejuang Kemerdekaan Aceh

Eungkot Keumamah tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah. Dalam masa-masa penuh perjuangan itu, para pejuang Aceh sering kali harus bergerilya di dalam hutan selama waktu yang lama. Keadaan tersebut menuntut mereka untuk menyediakan cadangan makanan yang praktis dan awet. Ikan tongkol yang diolah menjadi Eungkot Keumamah adalah jawabannya.

Karena ketahanannya yang luar biasa, Eungkot Keumamah menjadi makanan andalan yang dibawa oleh para pejuang di tengah beratnya perjuangan. Makanan ini dapat bertahan lama tanpa perlu disimpan dalam kondisi khusus, sehingga cocok untuk menemani para pejuang yang terus berpindah-pindah tempat di hutan.

Tidak hanya bagi para pejuang, Eungkot Keumamah juga dibawa oleh jamaah haji asal Aceh pada masa lalu. Perjalanan ibadah haji yang memakan waktu hingga 1,5 bulan melalui laut membuat mereka memerlukan makanan yang dapat bertahan lama, dan ikan kayu ini menjadi bekal yang sempurna.

Resep Eungkot Keumamah yang Menggugah Selera

Selain kaya akan sejarah, Eungkot Keumamah juga memiliki cita rasa yang khas dengan perpaduan bumbu rempah yang kuat. Bahan utama masakan ini adalah ikan tongkol yang telah direbus dan dikeringkan. Untuk membuatnya, diperlukan beberapa bahan seperti daun kari, cabai rawit, bawang merah, cabe hijau, dan kunyit bubuk.

Cara membuatnya cukup mudah. Pertama, iris tipis-tipis ikan kayu yang sudah kering dan rendam dalam air hangat selama lima menit. Kemudian, tumis bumbu giling hingga harum, lalu masukkan ikan dan tambahkan air secukupnya. Terakhir, masukkan bumbu rajang serta daun kari, dan Eungkot Keumamah siap untuk disajikan.

Dengan cita rasa pedas dan gurihnya, Eungkot Keumamah menjadi salah satu sajian khas Aceh yang menggugah selera. Selain itu, masakan ini menjadi saksi bisu dari ketangguhan para pejuang Aceh dan masyarakat yang dahulu harus menghadapi berbagai tantangan. Kini, Eungkot Keumamah terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan kuliner dan sejarah Aceh yang patut dibanggakan. (XRQ)

Penulis: Akil Rahmatillah