Beranda blog Halaman 880

KPAI Kecam Istri Pimpinan Ponpes di Aceh yang Siram Santri dengan Air Cabai

0
Ilustrasi kekerasan terhadap anak. (Foto: Shutterstock)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam keras tindakan istri pimpinan salah satu pondok pesantren (ponpes) di Aceh Barat, NN (40), yang diduga menyiram seorang santri berinisial T dengan air cabai sebagai bentuk hukuman. Hukuman ini diberikan karena T diketahui melanggar aturan ponpes dengan merokok di lingkungan pesantren.

Komisioner KPAI, Aris Adi Laksono, menyatakan bahwa tindakan kekerasan tersebut sama sekali tidak dapat dibenarkan.

“Kesalahan yang diperbuat oleh santri tidak perlu dihukum hingga melukai atau membuat trauma anak. Hukuman seperti menggunduli kepala dan menyiram dengan air cabai jelas merupakan tindakan kekerasan terhadap anak,” ujar Aris, Jumat (4/10/2024).

Aris menegaskan, dalam pendisiplinan anak, harus lebih mengedepankan pendekatan yang mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak dan melibatkan partisipasi mereka. Selain itu, pendekatan asertif dalam komunikasi dengan anak diperlukan agar anak dapat belajar tanpa harus menerima kekerasan.

“Hukuman kekerasan bukanlah langkah yang dibenarkan dalam peraturan tentang perlindungan anak, termasuk dalam aturan mengenai penanganan dan pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren,” lanjut Aris.

Ia juga menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) untuk mendorong penerapan disiplin positif sebagai upaya penanganan masalah di lingkungan pesantren.

Lebih lanjut, Aris mengungkapkan bahwa kekerasan di lingkungan pesantren semakin marak disebabkan oleh minimnya kepedulian masyarakat. Selain itu, langkah konkret dalam penanganan kekerasan di pesantren juga dinilai belum maksimal.

“Pesantren dan ekosistemnya perlu lebih serius dalam menanggapi isu kekerasan terhadap anak,” katanya.

Aris mengingatkan bahwa hukuman kekerasan terhadap anak telah diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Pelaku kekerasan dapat dijerat Pasal 80 ayat (1) jo. Pasal 76C UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72 juta.

“Undang-Undang ini dengan jelas melarang siapapun melakukan kekerasan terhadap anak, termasuk di lingkungan pesantren,” tegasnya.

KPAI berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, khususnya lingkungan pendidikan, untuk tidak melakukan tindakan kekerasan dalam mendidik anak.

“Mendidik anak seharusnya mengedepankan kasih sayang dan pendekatan yang dapat membantu anak berkembang dengan baik,” pungkas Aris.

Editor: Akil

Hadi Maros Minta Tiyong Bersikap Dewasa: Jangan Bermain Peran Sebagai Korban

0
Ketua Relawan Barisan Mualem, Hadi Maros,SH. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh Pernyataan politisi Aceh, Tiyong, yang menyebut adanya perusakan Alat Peraga Kampanye (APK) dalam skala masif dan terstruktur menuai sorotan. Sejumlah pihak menilai pernyataan tersebut terkesan tendensius dan cenderung menuding tanpa bukti yang jelas.

Menurut Ketua Relawan Barisan Mualem, Hadi Maros, perusakan APK jangan sampai dijadikan ajang untuk bermain peran sebagai korban atau playing victim. Ia menyebut, aksi seperti itu sudah usang dan tidak relevan lagi dalam dunia politik saat ini.

“Jangan sampai framing ini justru dilakukan sendiri, lalu dibesar-besarkan di media. Seharusnya, jika memang ada perusakan, laporkan saja ke pihak berwenang. Sertakan bukti dan indikasi siapa yang diduga merusak, agar masalah ini menjadi jelas,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa tuduhan Tiyong mengenai perusakan yang masif dan terstruktur juga perlu dipertanyakan.

“Bagaimana dia bisa tahu bahwa perusakan ini dilakukan secara masif dan terstruktur? Jangan-jangan ini memang skenario yang sudah disiapkan, jika melihat locus delicti-nya,” ujarnya dengan nada kritis.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga meminta Tiyong untuk bersikap lebih dewasa. Sebagai politisi dengan basis kombatan, seharusnya Tiyong paham dengan pola-pola konspirasi yang dapat memicu gesekan politik. Apalagi, Tiyong adalah salah satu perwakilan Aceh di Jakarta, sehingga sepatutnya bersikap lebih bijak dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik.

“Kok bisa dia menyarankan kepada tim Bustami untuk tidak terpancing? Apakah ini berarti dia sudah memastikan bahwa pelakunya adalah pihak lawan?” katanya.

Menurutnya, tindakan seperti itu sangat tidak bijak dan hanya akan memperkeruh suasana. Ia juga mengingatkan agar semua pihak tidak serta-merta menutup kemungkinan lain terkait perusakan APK tersebut.

“Spanduk rusak, bisa saja faktor alam, bisa saja dirusak oleh orang yang sengaja memancing agar kedua pihak ribut, atau bahkan dilakukan oleh orang dengan gangguan mental. Jangan menutup kemungkinan lain, termasuk bahwa ini mungkin saja skenario dari pihak mereka sendiri untuk mendapatkan simpati publik,” ujarnya.

Jika Tiyong sudah tahu siapa pelakunya, ia diminta untuk langsung menyebutkan identitasnya kepada polisi agar masalah ini segera dituntaskan dan tidak menimbulkan spekulasi lebih lanjut.

“Kalau mau menang, pilihlah metode yang elegan. Jangan kekanak-kanakan, malulah kepada konstituen dan partai Anda,” pungkasnya.

Pernyataan ini diharapkan dapat menjadi refleksi bagi semua pihak untuk menjaga suasana Pilkada Aceh tetap damai, tanpa kebohongan dan tuding-menuding yang tidak berdasar.

Editor: Akil

BPOM Aceh Musnahkan 328 Kilogram Boraks

0
BPOM Aceh Musnahkan 328 Kilogram Boraks. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Aceh memusnahkan 328 kilogram boraks yang ditemukan beredar di wilayah Aceh Besar. Pemusnahan ini digelar di pelataran Kantor BPOM Aceh, Jumat (4/10/2024), dan menjadi puncak dari upaya BPOM Aceh dalam memberantas penggunaan bahan tambahan berbahaya yang dapat mengancam kesehatan masyarakat.

Tumpukan boraks berlabel “Djago” terlihat tersusun rapi di atas meja panjang, siap untuk dimusnahkan. Kepala BPOM Aceh, Yudi Noviandi, memimpin pemusnahan ini, yang turut disaksikan oleh perwakilan Dinas Kesehatan dan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Banda Aceh, serta perwakilan dari Gampong Doy, Aceh Besar.

Boraks yang dimusnahkan ini bukan sembako ataupun obat-obatan, melainkan bahan tambahan berbahaya yang kerap digunakan dalam produksi kerupuk tempe. Temuan ini berawal dari pengawasan rutin BPOM Aceh, yang menguji sampel kerupuk tempe di sejumlah warung kopi di Banda Aceh. Hasilnya menunjukkan adanya kandungan boraks dalam kerupuk tersebut.

“Kami berhasil menelusuri asal boraks yang digunakan oleh para produsen kerupuk tempe ini, yang ternyata dijual di Pasar Lambaro, Aceh Besar. Temuan ini mengarahkan kami kepada produsen kerupuk tempe di Gampong Doy,” ujar Yudi Noviandi.

Pemusnahan boraks ini, menurut Yudi, juga menandai puncak dari upaya BPOM Aceh dalam melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada para produsen agar tidak lagi menggunakan bahan tambahan berbahaya dalam produknya.

“Ada bahan lain yang lebih aman yang dapat digunakan. Namun, alasan ekonomis dan kemudahan dalam proses produksi masih membuat para produsen memilih boraks,” ujarnya.

Selain boraks, BPOM Aceh juga memusnahkan satu karung kerupuk tempe dan satu loyang adonan kerupuk tempe yang juga mengandung boraks. Yudi mengingatkan bahwa penggunaan boraks pada makanan sangat berbahaya dan dapat berdampak serius bagi kesehatan, seperti kerusakan ginjal hingga risiko kanker.

“Penggunaan boraks dalam makanan sangat membahayakan. Kami tidak akan berhenti untuk memastikan semua produk makanan yang beredar di masyarakat aman dan bebas dari bahan berbahaya,” tegasnya.

Pemusnahan boraks ini diharapkan menjadi langkah tegas dalam melindungi kesehatan masyarakat sekaligus memberikan efek jera bagi para pelaku usaha yang masih menggunakan bahan berbahaya.

“Kami berharap ke depan para pengusaha lebih sadar dan hanya menyalurkan produk yang aman, bermutu, dan memiliki izin edar,” tambah Yudi.

Langkah konkret BPOM Aceh ini mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak yang turut hadir dalam pemusnahan. Dinas Kesehatan dan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Banda Aceh pun menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan BPOM dalam pengawasan peredaran bahan makanan, agar masyarakat Aceh terlindungi dari ancaman bahan berbahaya.

Editor: Akil

Ustaz Enzus Tinianus Tekankan Pentingnya Sanksi yang Mendidik dalam Pendisiplinan Anak

0
Ilustrasi anak pesantren. (Foto: Repro).

NUKILAN.id | Banda Aceh – Akhir-akhir ini, isu kekerasan di pesantren semakin sering muncul ke permukaan. Baik kekerasan antara sesama murid, maupun yang dilakukan oleh guru terhadap murid. Banyak pihak mengkhawatirkan dampaknya terhadap anak-anak, terutama dalam hal pendidikan karakter dan kesehatan mental.

Terkait hal ini, Nukilan.id mewawancarai Ustaz Enzus Tinianus, dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK) yang juga memiliki perhatian terhadap isu-isu pendidikan islam.

Dalam wawancaranya, Ustaz Enzus menjelaskan bahwa Islam sebenarnya memiliki prinsip-prinsip yang jelas terkait pengasuhan anak. Menurutnya, mendisiplinkan anak tanpa kekerasan fisik yang berlebihan sangat dianjurkan dalam Islam.

“Pada intinya, memukul dalam konteks memberi sanksi itu sebagian membolehkan, tapi yang penting adalah bagaimana caranya, kondisi anaknya, dan kondisi gurunya. Ini harus diperhatikan agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” kata Ustaz Enzus kepada Nukilan.id, Senin (7/10/2024).

Ustaz Enzus menekankan bahwa sanksi yang diberikan kepada anak harus dipilih dengan hati-hati. Sanksi yang bersifat merusak fisik, baik secara langsung maupun tidak langsung, sangat tidak dianjurkan.

“Misalnya, sanksi squat jump. Terlihat sepele dan tidak merusak fisik secara langsung, tapi sebenarnya bisa membahayakan saraf kaki. Tentara pun sekarang sudah tidak menggunakan sanksi ini lagi,” ujarnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa sanksi tetap harus diberikan agar hukum berjalan dan pelanggaran tidak terus terjadi. Namun, sanksi tersebut harus sesuai dengan martabat anak, terutama bagi mereka yang sudah berusia remaja atau dewasa, seperti siswa SMA atau mahasiswa.

“Memukul bagi usia tersebut tidak lagi relevan. Ada sanksi lain seperti skorsing atau bahkan dikeluarkan dari sekolah. Namun, hal itu harus dijalankan dengan memberi efek jera yang mendidik,” tambahnya. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

 

FJL Aceh Soroti Kerusakan Hutan di Tenggulun Aceh Tamiang

0
FJL Aceh Soroti Kerusakan Hutan di Tenggulun, Aceh Tamiang. (Foto: FJL Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh menyoroti kondisi hutan di Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, yang semakin parah akibat perambahan liar yang dibiarkan tanpa tindakan tegas dari pemangku kebijakan. Hal ini terungkap dalam diskusi dan pemutaran film dokumenter “Lemah Kuasa di Tanah Negara” yang diadakan di Escape Green Bistro Coffee, Banda Aceh, Sabtu malam (5/10/2024).

Kepala Departemen Advokasi FJL Aceh, Hidayatullah, mengungkapkan bahwa film tersebut diproduksi langsung oleh anggota FJL Aceh dan bertujuan untuk memberikan gambaran nyata terkait kerusakan hutan di Aceh, khususnya di Tenggulun yang berbatasan dengan Kawasan Ekosistem Leuser dan merupakan bagian dari Taman Nasional.

“Film ini kami buat untuk mengungkap kepada publik bahwa kondisi Taman Nasional Gunung Leuser di Tenggulun, Aceh Tamiang, sudah sangat memprihatinkan. Setiap malam kayu keluar dari kawasan, namun tak ada tindakan nyata dari pihak terkait,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi yang berlangsung usai pemutaran film, hadir juga perwakilan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), dan BPKH Wilayah 18 Banda Aceh yang turut memberikan pandangan terkait kondisi hutan di Aceh.

Ahmad Shalihin, Direktur Eksekutif Walhi Aceh, menyoroti lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku perambahan hutan. Menurutnya, kerusakan hutan yang masif ini memunculkan efek domino yang sangat besar, seperti banjir dan ancaman kepunahan satwa.

“Dampaknya serius, kejahatannya serius, hanya penanganannya saja yang patut dipertanyakan. Apakah kategori serius, tidak serius, atau pura-pura serius?” ujar Ahmad.

Ia juga menyoroti kebijakan pemerintah yang sering membuka peluang bagi perusahaan untuk mengelola hutan dengan dalih meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Padahal, daerah-daerah yang luas dengan perkebunan sawit seperti Aceh Singkil atau Aceh Utara, justru memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Kebun yang luas itu bukan milik masyarakat,” jelasnya.

Agung dari Yayasan HAkA menambahkan, tren laju deforestasi di Aceh dalam beberapa tahun terakhir cenderung menurun, meskipun masih ada beberapa wilayah dengan tingkat pembukaan lahan yang tinggi.

“Jika satu dekade lalu susutan hutan di Aceh bisa mencapai lebih dari 20 ribu hektare per tahun, kini angka tersebut sudah di bawah 10 ribu hektare per tahun. Namun, ini masih menjadi pekerjaan rumah bersama untuk terus menurunkannya,” kata Agung.

Sementara itu, Muhammad Yazid dari BPKH Wilayah 18 Banda Aceh mengingatkan pentingnya menjaga hutan Aceh sebagai hutan terbesar yang tersisa di Pulau Sumatra.

“Hutan Aceh memegang peranan penting bagi keseimbangan ekosistem, terutama sebagai rumah bagi satwa kunci. Jangan sampai hutan terakhir ini berubah menjadi ‘hutan’ monokultur,” ujarnya.

Pada akhir acara, Davi Abdullah, pendiri FJL Aceh dan jurnalis senior Kompas TV, memandu sesi komitmen bersama untuk mendorong kebijakan pelestarian hutan. “Rekomendasi bersama harus masuk dalam visi dan misi kandidat pemimpin, sehingga publik mengetahui seberapa besar perhatian mereka terhadap penyelamatan lingkungan,” tutur Davi.

Sayangnya, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) tidak hadir dalam diskusi ini, meskipun sudah diundang. Munandar, Koordinator FJL Aceh, menyayangkan ketidakhadiran tersebut.

“Beberapa hari lalu undangan sudah saya sampaikan langsung kepada Kabalai BBTNGL, namun mereka tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas. Padahal, film ini menggambarkan kondisi terkini kawasan yang terus dijarah, tapi pihak yang punya kebijakan seakan tidak peduli,” katanya.

Melalui film dan diskusi ini, Munandar berharap pesan konservasi dapat tersampaikan dan memberikan dampak bagi keberlanjutan hutan Aceh sebagai warisan bagi generasi mendatang.

“Semoga hutan di Aceh tetap terjaga untuk keberlangsungan hidup manusia di masa depan,” tutupnya.

Editor: Akil

Jalan Penghubung Antarkabupaten di Aceh yang Amblas Mulai Diperbaiki

0
Jalan penghubung antar Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh di Desa Paya Dua, Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Lhoksukon – Perbaikan jalan penghubung antara Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Utara yang amblas di Desa Paya Dua, Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara, mulai dilakukan pada Minggu (6/10/2024). Jalan ini sebelumnya amblas pada Jumat (4/10/2024) sekitar pukul 22.00 WIB, mengakibatkan terganggunya akses transportasi antarkabupaten.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Aceh mulai membongkar bagian jalan yang berada tepat di jembatan dan memasang baja sebagai penahan sementara. Langkah ini diambil agar jalur penghubung yang vital ini tetap dapat dilalui oleh masyarakat dari dan menuju Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tengah, dan Kabupaten Gayo Lues.

“Pemasangan baja ini diperkirakan akan memakan waktu dua hari. Kami berharap penanganan darurat ini dapat diselesaikan dengan cepat agar pengendara bisa kembali melintas,” ujar Kepala Subbag TU UPTD Jalan dan Jembatan Wilayah II Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Aceh, Zainuddin, saat meninjau lokasi.

Zainuddin juga mengingatkan warga agar menggunakan jalur alternatif selama proses perbaikan berlangsung.

“Untuk truk pengangkut barang, sebaiknya melalui jalur lintas tengah Aceh lewat jalan nasional Medan-Banda Aceh selama dua hari ke depan,” tambahnya.

Anggota DPRD Aceh Utara, Tajuddin, yang turut meninjau lokasi, meminta Pemerintah Aceh segera mengalokasikan anggaran untuk pembangunan jembatan permanen di lokasi tersebut. Menurutnya, jembatan ini merupakan jalur utama menuju wilayah tengah Aceh dan memiliki peran penting dalam konektivitas wilayah.

“Jembatan ini hanya berukuran 9 x 14 meter, namun sangat strategis karena berada di titik sentral menuju wilayah tengah Provinsi Aceh. Kami berharap tahun depan bisa dibangun jembatan permanen untuk kepentingan masyarakat dalam jangka panjang,” jelas Tajuddin.

Ia menekankan bahwa perbaikan darurat seperti ini hanya bersifat sementara dan tidak akan mampu menahan risiko amblas yang dapat terjadi kembali di masa mendatang.

“Jika tidak dibangun jembatan permanen, jalan ini akan terus mengalami kerusakan, apalagi berada di lokasi yang rawan amblas,” ujarnya.

Jalan Lintas KKA yang menghubungkan Aceh Utara dengan Bener Meriah amblas pada Jumat malam, menyebabkan kendaraan roda empat tidak dapat melintasi jalur tersebut. Meski demikian, kendaraan roda dua masih diizinkan melintas dengan sangat hati-hati.

Dinas Pekerjaan Umum berharap, penanganan darurat ini bisa membuka akses kembali secepatnya, meski hanya untuk kendaraan kecil. Pihaknya juga terus mengimbau warga agar berhati-hati melintas di area tersebut, mengingat proses perbaikan masih berlangsung.

Dengan dimulainya perbaikan jalan ini, diharapkan aktivitas masyarakat dan distribusi barang antarkabupaten dapat segera kembali normal. Namun, pembangunan jembatan permanen tetap menjadi prioritas agar jalan penghubung utama ini bisa digunakan secara lebih aman dan tahan lama.

Editor: Akil

3.042 Wisman Kunjungi Aceh pada Agustus 2024, Didominasi Turis Malaysia

0
Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. (Foto: Dishub Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Sebanyak 3.042 wisatawan mancanegara (wisman) tercatat mengunjungi Provinsi Aceh selama Agustus 2024. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Ahmadriswan Nasution, menyebut mayoritas wisman tersebut berasal dari Malaysia, yakni sebanyak 2.217 orang, diikuti oleh wisatawan asal Prancis dan Jerman masing-masing berjumlah 50 orang.

“Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Aceh pada Agustus 2024 mencapai 53,44 persen, meningkat sebesar 8,64 poin dibandingkan bulan Juli 2024,” ujar Ahmadriswan saat menyampaikan rilis bulanan di Kantor BPS Aceh, Jumat (6/10/2024).

Bahkan, jika dibandingkan dengan Juli 2023, peningkatan TPK mencapai 22,26 poin. Kenaikan tingkat hunian hotel ini sejalan dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Aceh.

Salah satu daya tarik utama bagi wisatawan adalah Pulau Sabang, yang terletak di ujung barat Indonesia. Keindahan pantai berpasir putih dan air laut yang jernih menjadikan Sabang sebagai destinasi populer untuk snorkeling dan diving.

Selain Sabang, Aceh juga menawarkan kekayaan budaya yang memikat serta keramahan penduduk lokal yang menjadi nilai tambah bagi para pelancong.

“Keberagaman hayati bawah laut dan keindahan terumbu karang di Sabang memang menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan mancanegara,” tambah Ahmadriswan.

Dengan keindahan alam yang luar biasa dan potensi wisata budaya yang terus digali, Aceh diharapkan dapat menarik lebih banyak lagi kunjungan wisatawan ke depannya. Keberlanjutan peningkatan kunjungan wisatawan, termasuk dari negara tetangga seperti Malaysia, menjadi harapan untuk mendongkrak sektor pariwisata Aceh di masa mendatang.

Editor: Akil

Setelah Diterjang Banjir, 200 Hektare Lahan Sawah di Aceh Utara Rusak

0
200 Hektare Lahan Sawah di Aceh Utara Rusak Setelah Diterjang Banjir. (Foto: MI)

NUKILAN.id | Lhoksukon – Sebanyak 200 hektare lahan sawah di Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, mengalami kerusakan parah setelah diterjang banjir yang melanda sejak Kamis hingga Sabtu (5-7/10/2024). Lahan sawah yang terdampak banjir itu sebagian besar baru ditanami padi berusia 1 hingga 4 hari, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap pembibitan di persemaian.

Banjir yang melanda kawasan tersebut merendam sejumlah gampong (desa) di Kecamatan Matangkuli, termasuk Gampong Tanjung Haji Muda, Lawang, Siren, Meunje, Leubok, Ceubrek, Alue Tho, Hagu, Tupok Barat, Alue Entok, dan Tanjung Teungku Kari. Petani setempat pun mengalami kerugian besar karena sawah mereka rusak dan harus diolah kembali dari nol.

Tokoh muda Kecamatan Matangkuli, Zulfadli, menyebutkan bahwa para petani kini tengah dilanda keresahan.

“Semua lahan sawah yang sudah ditanami atau masih benih di persemaian siap tanam, semuanya rusak akibat banjir,” ujar Zulfadli saat ditemui, Minggu (6/10/2024).

Menurut Zulfadli, aktivitas pertanian musim rendengan—atau musim tanam tahap pertama tahun ini—terancam gagal. Modal yang telah dikeluarkan oleh petani untuk menggarap sawah, kini musnah bersama arus banjir.

“Untuk menanam kembali, tentu harus mengolah tanah dari awal, menabur beniSet featured imageh lagi. Sementara kondisi perekonomian para petani sedang sulit, ditambah cuaca ke depan diperkirakan semakin sulit,” lanjutnya.

Banjir yang melanda Aceh Utara kali ini tidak hanya berdampak pada lahan pertanian, tetapi juga memperparah beban ekonomi warga setempat. Para petani kini hanya bisa berharap agar persoalan ini dapat segera terselesaikan dengan baik, dan ada bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban mereka.

Sebelumnya, banjir yang melanda Aceh Utara juga menyebabkan kerugian lain, termasuk jatuhnya korban jiwa. Sebanyak sembilan kecamatan di wilayah ini terendam banjir, yang mengakibatkan ribuan warga harus mengungsi dan berbagai fasilitas umum mengalami kerusakan.

Warga Aceh Utara, khususnya para petani, berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah untuk membantu pemulihan lahan pertanian yang rusak serta meringankan beban ekonomi yang kini semakin berat akibat bencana ini.

Editor: Akil

Partai Demokrat Aceh Kerahkan Seluruh Kekuatan untuk Menangkan Mualem-Dek Fad

0
Ketua DPD Demokrat Aceh, Muslim, SHI, MM. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Partai Demokrat Aceh menegaskan komitmennya untuk memenangkan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem) dan Fadhlullah (Dek Fad), dalam Pilkada mendatang. Ketua DPD Demokrat Aceh, Muslim, S.Hi, M.M, menyatakan seluruh infrastruktur dan kader partai hingga tingkat kecamatan telah bergerak untuk mendukung pasangan tersebut.

“Kami sudah bekerja sejak awal memberikan usulan dukungan kepada pasangan Mualem dan Dek Fad. Seluruh mesin partai telah dikerahkan untuk pemenangan,” kata Muslim kepada Nukilan.id pada Minggu (6/10/2024).

Muslim menjelaskan, instruksi telah disampaikan kepada seluruh jajaran partai, mulai dari tingkat provinsi hingga kecamatan, untuk memastikan kemenangan Mualem-Fadhlullah. Ia menegaskan pentingnya kerja sama antar kader dalam memenangkan pasangan tersebut.

“Saya telah memberikan arahan yang jelas kepada seluruh struktur partai. Kita harus bahu-membahu mengawal dan memenangkan Mualem dan Dek Fad,” tegasnya.

Muslim juga selalu menekankan pentingnya kesatuan komando dalam setiap kunjungannya ke berbagai daerah di Aceh. Menurutnya, upaya memenangkan pasangan Mualem-Dek Fad memerlukan kerja kolektif yang terkoordinasi dengan baik.

“Di setiap daerah yang saya kunjungi, saya selalu mengingatkan bahwa ini adalah tugas bersama. Kita bergerak sebagai satu kesatuan untuk memenangkan Mualem dan Dek Fad,” tambah Muslim.

Langkah strategis ini menunjukkan keseriusan Partai Demokrat Aceh dalam menghadapi kontestasi politik di provinsi tersebut. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan partai, Demokrat Aceh optimis dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kemenangan pasangan yang mereka usung.

Namun, Muslim tidak merinci target suara yang dicanangkan partainya. Ia hanya menegaskan bahwa seluruh kader akan bekerja maksimal untuk memastikan suara terbaik bagi Mualem-Fadhlullah di setiap daerah pemilihan.

Sementara itu, Ketua Partai Demokrat Aceh berharap dukungan dan kerja keras ini bisa memberikan hasil yang positif dan memenuhi harapan masyarakat Aceh.

“Tugas kita adalah memberikan yang terbaik bagi Aceh, dan itulah yang sedang kita perjuangkan,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Alumni Al-Azhar Mesir Berikan Motivasi kepada Mahasiswa Baru Gampong Sapik

0
Allif Kusnadi, alumni Universitas Al-Azhar Mesir yang kini berstatus sebagai Diaspora Indonesia di Arab Saudi. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Allif Kusnadi, alumni Universitas Al-Azhar Mesir yang kini berstatus sebagai Diaspora Indonesia di Arab Saudi, membagikan pengalaman dan tips beradaptasi di lingkungan internasional dalam sebuah sharing session pada Minggu (6/10/2024).

Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan silaturahmi dan peusijuek mahasiswa baru yang diselenggarakan oleh Komunitas Rajolelo Gampong Sapik.

Amatan Nukilan.id, dalam sesi tersebut, Allif menggarisbawahi pentingnya penguasaan bahasa asing sebagai kunci sukses, terutama bagi mereka yang berencana melanjutkan pendidikan atau bekerja di luar negeri.

“Di era global ini, menguasai bahasa asing, baik bahasa Inggris maupun bahasa Arab, adalah keterampilan yang harus dimiliki. Kesempatan kerja akan lebih mudah didapatkan bagi mereka yang fasih berbahasa asing,” katanya.

Selain itu, Allif membagikan pengalamannya selama tinggal di Arab Saudi. Ia menceritakan bagaimana dominasi tenaga kerja asing, khususnya dari Filipina, di berbagai sektor pekerjaan, terutama di sektor kesehatan.

“Saya melihat banyak perawat Filipina yang bekerja di rumah sakit di Saudi. Saya heran, kenapa bukan orang Indonesia? Ternyata, salah satu alasannya adalah mereka mampu berbahasa Arab,” ungkapnya.

Menurut Allif, banyak tenaga kerja Indonesia yang belum menguasai bahasa Arab dengan baik, sehingga kalah bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain yang lebih fasih dalam berbahasa.

Ia juga menambahkan bahwa peluang kerja di negara-negara seperti Arab Saudi sebenarnya sangat terbuka lebar, karena banyak warga lokal yang tidak ingin bekerja di sektor-sektor tertentu.

“Masyarakat Saudi kebanyakan tidak tertarik menjadi pekerja, sehingga banyak posisi diisi oleh pekerja asing. Ini adalah peluang besar bagi siapa pun yang memiliki kemampuan bahasa,” lanjut Allif.

Allif pun memotivasi mahasiswa baru untuk lebih giat belajar dan mempersiapkan diri, terutama dalam penguasaan bahasa asing. Menurutnya, persaingan di dunia kerja semakin ketat dan kemampuan berbahasa menjadi salah satu faktor penting untuk meraih sukses di luar negeri.

“Jadi, jangan ragu untuk mulai belajar bahasa asing dari sekarang, karena itu adalah investasi jangka panjang untuk masa depan kalian,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah