Pemerintah Aceh Libatkan Bidan untuk Atasi Masalah Stunting dan Kematian Ibu-Anak. (Foto: AcehKini)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah Aceh melalui Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Diwarsyah, mengajak para bidan untuk lebih berperan aktif dalam upaya menurunkan angka stunting serta menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di wilayah Aceh. Hal ini disampaikan Diwarsyah saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Aceh yang ke-11 di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, pada Ahad (3/11/2024).
Diwarsyah yang mewakili Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Safrizal ZA, menyampaikan bahwa bidan memiliki peran strategis dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak, terutama di wilayah pedalaman yang masih minim akses layanan kesehatan.
“Bidan tidak hanya sekadar membantu persalinan, tetapi juga menjadi ujung tombak dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Ini adalah tugas yang luar biasa,” ujar Diwarsyah.
Ia menegaskan bahwa peran bidan sangat penting dalam upaya menurunkan stunting di Aceh, yang masih menjadi perhatian serius di berbagai daerah.
“Bidan turut mendampingi ibu hamil, memberikan edukasi gizi, serta membantu mencegah risiko kesehatan yang dapat berujung fatal jika tidak ditangani dengan tepat,” tambahnya.
Musda IBI Aceh kali ini juga diharapkan menjadi ajang konsolidasi dan refleksi bagi para bidan, guna menyusun program kerja yang lebih responsif dan adaptif dengan tantangan kesehatan di era digital.
“Kami berharap Musda ini dapat melahirkan program kerja yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan daerah dan perkembangan teknologi, sehingga dapat meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” harapnya.
Keterlibatan bidan dalam program kesehatan ibu dan anak semakin ditekankan seiring dengan target Aceh untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan generasi masa depan. Diwarsyah juga berharap para bidan dapat terus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan, agar mampu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal di semua lapisan masyarakat.
NUKILAN.id | Feature – Semburat senja memantulkan cahaya perak di atas ombak yang tenang, menghiasi riak laut di pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. Angin laut berhembus lembut, menggerakkan dedaunan dan membawa kesejukan bagi setiap pengunjung yang hadir. Di pantai yang dangkal, anak-anak berlarian, berenang, dan tertawa bersama, menyatu dengan kehangatan suasana.
Sore itu, Minggu, 3 November 2024, matahari tinggal sepenggalah. Teriknya memberikan kehangatan kepada pengunjung yang saat itu sedang menikmati kebahagiaan bersama keluarga tercintanya di pantai Ulee Lheu, Banda Aceh.
Sementara itu, pengunjung terus berdatangan. Juru parkir terlihat sibuk mengatur arus keluar masuk kendaraan yang cukup padat sore itu. Kursi yang tersedia nyaris tak mampu menampung jumlah warga yang ingin menikmati akhir pekan di tempat ini.
“Setiap harinya ada saja yang datang kesini. Tapi dominannya ramai ketika hari Jumat, Sabtu dan Minggu bang,” ucap Ros, seorang pedagang yang telah dua tahun berjualan di tempat ini.
Namun, tak semua orang tahu di balik keindahan dan keramaian hari ini, Ulee Lheue pernah menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena hantaman tsunami pada 2004. Sebagian besar rumah penduduk rata dengan tanah, ribuan warganya tewas dan hilang disapu ombak raksasa. Kebanyakan warganya yang meninggal dikebumikan secara massal pada beberapa titik kuburan massal yang terdapat di desa ini.
Meski demikian, satu bangunan tetap berdiri tegak di tengah kehancuran, yaitu Masjid Baiturrahim. Dilihat dari posisi masjidnya, sangat mustahil rasanya bangunan ini bisa selamat. Pasalnya, keberadaan rumah Allah ini tepat berada di bibir pantai, sedangkan bangunan yang lain di sekitarnya, baik rumah dan toko, hancur tak bersisa. Kokohnya masjid ini menjadi saksi bisu kekuatan alam sekaligus perlindungan yang diberikan Sang Pencipta.
Kini, pantai Ulee Lheue bertransformasi menjadi destinasi wisata yang hidup. Setiap harinya tempat ini ramai dikunjungi masyarakat Banda Aceh menikmati suasana santai bersama anak dan istri. Di tempat ini terdapat pelabuhan penyeberangan yang akan menyeberangkan para wisatawan menuju Pulau Sabang.
Pilihan Ulee Lheu sebagai tujuan wisata favorit bukanlah tanpa alasan. Hal ini disebabkan dengan pandangan sejumlah warga yang menilai kalau tempat ini merupakan destinasi yang ramah anak.
“Di sini suasana sorenya asyik bang. Pilihan tujuannya banyak. Kalau anak ingin berenang, kita bisa ke sini. Pantainya dangkal dan nyaris tanpa gelombang sehingga kami tidak khawatir dengan keselamatan anak, meskipun harus diawasi juga. Terus kalau mau bermain trail dan lainnya, disini juga ada wahana bermain untuk anak,” ujar Dian, seorang warga asal Lamgapang, Aceh Besar.
Sesuai dengan keterangan di atas, di tempat ini memang terdapat beberapa taman terbuka seperti, Taman Ulee Lheu Park, Taman Wisata Meuraxa, Taman Landmark “I love Banda Aceh” dan Arena motor trail & APV anak-anak.
Bagi pengunjung yang ingin berjalan-jalan mengelilingi pantai Ulee Lheu, disini pengunjung dapat menyewa boat wisata yang dapat disewa. Wisata bahari ini menyuguhkan pemandangan yang menarik nan mempesona.
Suasana dore hari di Pantai Ulee Lheue. (Foto: Nukilan)
Selain ruang terbuka yang ramah anak, di tempat ini juga terdapat puluhan mobil yang menjual kopi Arabika. Mobil-mobil ini berjejer di sepanjang jalan dan siap melayani pecinta kopi menikmati temaram senja di ujung pantai Ulee Lheu. Di tempat ini pula, banyak penjual jagung bakar sebagai cemilan dan makanan ringan yang dapat dinikmati pengunjung.
“Ngopi disini sungguh asyik, karena tempatnya yang berada di ruang terbuka. Sembari menikmati keindahan alam plus semilir angin laut sepoi-sepoi, sensasi citarasa kopi Gayo ini semakin terasa. Coba lah bang,” ucap Anca seraya menawarkan segelas kopi Arabika kepada penulis. Saat itu ia bersama sejumlah koleganya duduk berkumpul menikmati citarasa kopi Gayo yang terkenal itu.
Bagi yang hobi mancing, Gampong Ulee Lheu adalah surga bagi kaum pemancing. Setiap sorenya, pengunjung dapat melihat puluhan pemancing ikan yang berbaris rapi di atas jembatan Ulee Lheu. Suasana akan semakin indah kala sunset turun dan memancarkan sinar berwarna jingga dengan sempurna.
Pada tahun 2022, Gampong Ulee Lheu masuk dalam jajaran 50 desa wisata terbaik. Setelah melalui serangkaian penilaian, desa ini dinilai memiliki potensi pariwisata dan ekonomi kreatif tinggi. Fakta ini menjadikan daerah ini memiliki daya tarik yang kuat bagi wisatawan untuk mengunjunginya.
Desa Wisata Gampong Ulee Lheue merupakan salah satu daerah yang terletak di Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh. Untuk menuju ke tempat ini, sangatlah gampang dan mudah untuk dicapai karena tak jauh dari pusat kota. Jika ditempuh dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda diperkirakan menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit.
Desa wisata Ulee Lheue memiliki potensi wisata yang luar biasa. Keberadaanya harus terus dilestarikan dan dikelola dengan baik. Jika pemanfaatan potensi wisata ini dapat dikembangkan secara maksimal, bukan tidak mungkin tempat yang dahulunya porak-poranda akibat gelombang tsunami akan berubah menjadi sebuah kawasan wisata yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.
Eksplorasi Batik Aceh untuk Modest Fashion Berkelanjutan di IN2MF 2024. (Foto: Investor.id)
NUKILAN.id | Jakarta – Perancang busana Nina Nugroho memperkenalkan koleksi busana terbaru bertema “Peuhaba” yang terinspirasi dari batik Aceh dalam perhelatan Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF) 2024 di JCC, Jakarta, pada Jumat (1/11/2024). Koleksi ini menonjolkan keunikan batik Pinto Aceh dengan desain yang mengedepankan kesantunan dan identitas budaya Aceh dalam busana muslimah profesional.
“Peuhaba berasal dari bahasa Aceh yang berarti ‘apa kabar’. Melalui tema ini, saya ingin mengingatkan akan kekayaan budaya Aceh, khususnya dalam cara berbusana dan berinteraksi dengan penuh kesantunan,” ujar Nina Septiana, desainer di balik koleksi tersebut.
Aceh dikenal sebagai wilayah yang menjunjung hukum Islam dan memiliki sejarah pahlawan perempuan yang kaya, mencerminkan semangat keberdayaan yang sejalan dengan visi Nina Nugroho. Batik Pinto Aceh yang menjadi pusat perhatian dalam koleksi ini menggambarkan kekhasan Aceh yang tidak mudah terbuka pada masyarakat luar, namun akan menjadi sangat ramah dan penuh kehangatan bagi mereka yang sudah mengenal.
Koleksi “Peuhaba” terdiri dari delapan busana dengan bahan utama batik Pinto Aceh. Menurut Nina, pemilihan motif ini sejalan dengan tema IN2MF 2024 yang mengusung sustainable modest fashion.
“Melalui batik Pinto Aceh, saya berupaya mewujudkan fesyen berkelanjutan sekaligus mendukung ekonomi para pengrajin batik di Aceh,” tambah Nina.
Batik Pinto Aceh yang digunakan dalam koleksi ini memiliki warna dasar gelap, berbeda dari batik Aceh tradisional yang seringkali berwarna cerah. Inovasi ini dimaksudkan untuk memperluas daya tarik batik Aceh bagi masyarakat di luar daerah, menjadikannya pilihan elegan untuk busana kerja. Nina juga menambahkan ciri khas desainnya berupa piping, pleats, dan double manset yang wudhu-friendly, memberikan kesan profesional namun tetap anggun dan kuat bagi para muslimah.
Selain dipamerkan di IN2MF, batik Pinto Aceh ini juga akan digunakan untuk koleksi “Aceh Series” sebagai bagian dari koleksi akhir tahun 2024. Dengan pembelian kain batik langsung dari para pengrajin di Aceh, Nina turut berperan dalam meningkatkan kesejahteraan para pelaku UKM lokal.
Koleksi “Peuhaba” ini menjadi langkah nyata Nina Nugroho dalam mengangkat kearifan lokal sekaligus mendukung fesyen berkelanjutan yang mengusung prinsip-prinsip modest fashion.
Wisatawan menikmati aliran sungai Peusangan, Aceh Tengah. (Foto: TribunGayo)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh terus menunjukkan tren peningkatan. Pada September 2024, tercatat sebanyak 3.912 wisatawan mancanegara masuk ke Aceh, mengalami kenaikan signifikan dibandingkan Agustus 2024 yang hanya sebanyak 3.042 orang.
Data tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Ahmadriswan Nasution, dalam konferensi pers di Banda Aceh, Sabtu (2/11/2024).
“Terjadi peningkatan jumlah wisatawan mancanegara di bulan September, terutama dari Malaysia,” ungkapnya.
Dari total wisatawan asing yang masuk, Malaysia mendominasi dengan 3.163 orang, disusul wisatawan dari Singapura, Jerman, Amerika, Australia, Thailand, dan Belanda. Jumlah wisatawan asal Malaysia pada September 2024 meningkat drastis dibandingkan Agustus 2024 yang hanya mencapai 2.217 orang.
Promosi dan Daya Tarik Destinasi Wisata Aceh
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal, mengapresiasi peningkatan ini sebagai hasil kerja keras berbagai pihak. “Yang pertama, kenaikan jumlah kunjungan ini harus kita syukuri. Hal ini menjadi bukti bahwa Aceh tetap menjadi favorit para turis mancanegara,” ujar Almuniza, Senin (4/11/2024).
Ia menambahkan, perkembangan berbagai destinasi wisata di Aceh turut berkontribusi terhadap kenaikan jumlah wisatawan. Lokasi-lokasi seperti Sabang, Banda Aceh, dan kawasan dataran tinggi Gayo terus menarik perhatian turis melalui daya tarik alam, budaya, serta pengalaman unik yang ditawarkan.
Promosi wisata Aceh yang semakin gencar melalui platform digital dan partisipasi dalam berbagai pameran internasional juga dinilai menjadi kunci. Sinergi antara pemerintah, pelaku wisata, dan masyarakat setempat telah menciptakan citra positif Aceh sebagai destinasi wisata berkelas dunia.
Tantangan dan Harapan
Meskipun jumlah wisatawan terus meningkat, Almuniza menekankan pentingnya menjaga kualitas layanan dan daya dukung destinasi wisata agar tetap kompetitif di pasar global. “Kita perlu terus berinovasi dan menjaga keberlanjutan pariwisata dengan melibatkan masyarakat lokal dalam pengembangan destinasi,” ujarnya.
Dengan lonjakan ini, Aceh diharapkan mampu mempertahankan tren positif kunjungan wisatawan asing dan menjadikannya peluang untuk meningkatkan pendapatan daerah serta memperkenalkan keunikan budaya Aceh kepada dunia.
NUKILAN.id | Meuredu – Masyarakat kemukiman Cubo melalui Mukim Cubo yang di Dampingi Oleh Kuasa Hukumnya yang bernama Hermanto, S.H dan Murtadha, S.H dari kantor F&P Lawfirm telah melaporkan Hasan Basri, ST, MM ke Polres Pidie Jaya terkait dengan Pernyataannya yang menghina masyarakat Cubo.
Laporan tersebut telah diterima oleh Polres Pidie Jaya sebagaimana Surat Tanda Laporan Polisi Nomor: STTLP/B/70/XI/2024/SPKT/POLRES PIDIE JAYA/POLDA ACEH tanggal 03 November 2024.
Hasan Basri, ST, MM dilaporkan terkait dengan dugaan tindak pidana penghinaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang KUHP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 310 KUHP dan atau Pasal 45 A Ayat 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang informasi dan Transaksi Elektronik Joncto Pasal 156 KUHPidana.
Pelaporan tersebut akhirnya dilaporkan oleh Mukim Cubo dikarenakan telah menimbulkan kemarahan atas kalimat hinaan yang disampaikan oleh Hasan Basri, ST, MM terhadap masyarakat kemukiman Cubo, karena video hinaan tersebut telah viral di media sosial tiktok dan Facebook dan telah beredar luas melalui pesan Whatsaap.
Kami sangat menyayangkan pernyataan yang timbul dari calon pemimpin tersebut seharusnya Hasan Basri, ST, MM bisa menjaga tutur bahasanya agar tidak melukai perasaan masyarakat cubo dengan hinaan yang sangat tidak manusiawi tersebut apalagi disampaikan di depan khalayak ramai/umum.
Bahwa penghinaan yang dilakukan oleh Hasan Basri, ST, MM terhadap Masyarakat Cubo tersebut diketahui terjadi di Ruang Pertemuaan PT. MAAR MOTOR yang terletak di desa Manyang Cut, Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.
ICMI Aceh Dorong Gubernur Terpilih untuk Selesaikan RS Regional dan Bangun Pelabuhan Ekspor. (Foto: SerambiNews)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Aceh menekankan pentingnya penyelesaian rumah sakit regional dan pembangunan pelabuhan ekspor sebagai prioritas bagi gubernur Aceh yang akan datang. Hal ini diungkapkan dalam Silaturahmi Kerja Wilayah (Silakwil) ICMI Aceh yang berlangsung di Aula Pemko Banda Aceh, Sabtu (2/11/2024).
Ketua MPW ICMI Aceh, Dr. Taqwaddin, menyatakan bahwa Silakwil adalah agenda tahunan sesuai AD/ART ICMI yang berfungsi sebagai ajang silaturahmi dan laporan kinerja organisasi daerah. Pada pertemuan ini, para pengurus ICMI kabupaten/kota melaporkan pencapaian dan kegiatan yang telah dilakukan, sekaligus mendiskusikan isu-isu aktual yang dihadapi masyarakat Aceh.
Dua masalah besar menjadi sorotan dalam Silakwil tahun ini: kebutuhan peningkatan pelayanan kesehatan dan tingginya angka kemiskinan di Aceh. Panitia mengundang dua pakar sebagai narasumber, yaitu Dr. Isra Firmansyah, ahli kesehatan, dan Ismail Rasyid, praktisi bisnis global, untuk membahas solusi yang bisa diimplementasikan.
Dr. Isra Firmansyah menyoroti lonjakan pasien yang mencapai 1.500 hingga 2.000 orang per hari di RSUD Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Dalam paparannya, ia menyarankan agar rumah sakit regional yang berkualitas segera didirikan di beberapa daerah seperti Meulaboh, Tapaktuan, Bireuen, Langsa, dan Takengon.
“Rumah sakit regional yang layak dapat mengurangi beban RSUZA serta memastikan akses kesehatan yang merata bagi masyarakat Aceh,” ujar Dr. Isra.
Sementara itu, Ismail Rasyid, yang juga Dewan Pakar ICMI Aceh, menyoroti pentingnya peran Aceh sebagai pusat produksi untuk pasar ekspor. Menurutnya, letak geografis Aceh sangat strategis untuk mengembangkan industri manufaktur yang berorientasi ekspor. Namun, untuk mendukung hal ini, ia menegaskan perlunya keberadaan pelabuhan ekspor yang memadai.
“Diperlukan sosok gubernur yang mampu membawa solusi dan visi untuk meningkatkan ekonomi Aceh serta mengatasi kemiskinan,” ungkapnya.
Di akhir pertemuan, Dr. Taqwaddin didampingi Prof. Rajuddin, Sekretaris MPW ICMI Aceh, meminta setiap organisasi daerah (Orda) untuk menjalin komunikasi yang baik serta membangun unit usaha untuk mendukung biaya operasional organisasi. ICMI Aceh Utara menjadi contoh dengan menjalankan usaha penggemukan sapi yang berhasil membantu membiayai organisasi.
“Saya berharap usaha seperti ini bisa diikuti oleh ICMI kabupaten/kota lain, tentu dengan brand ICMI sebagai identitas,” pungkas Taqwaddin.
Silakwil ICMI Aceh kali ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta yang datang dari berbagai daerah, menunjukkan semangat kebersamaan untuk mewujudkan Aceh yang sejahtera melalui peran aktif dan kontribusi pemikiran bagi pemimpin yang akan datang.
Rombongan Pengungsi Rohingya Kembali Mendarat di Aceh. (Foto: Detik)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Sebanyak 96 pengungsi etnis Rohingya kembali mendarat di pesisir pantai Desa Meunasah Asan, Kecamatan Madat, Aceh Timur, pada Kamis (31/10/2024) lalu. Para pengungsi yang terdiri dari pria, perempuan, dan anak-anak ini beristirahat di tepi pantai sembari menunggu pengarahan dari aparat setempat. Kedatangan ini menambah panjang daftar warga Rohingya yang mendarat di Aceh, menyoroti kembali masalah kemanusiaan yang belum terselesaikan.
Warga Aceh Timur dan sekitarnya menyambut kedatangan para pengungsi dengan sikap terbuka, meskipun muncul berbagai perbincangan di tengah masyarakat mengenai solusi jangka panjang bagi penanganan pengungsi ini. Nukilan.id mengunjungi sejumlah warga di kota Banda Aceh untuk mengetahui tanggapan mereka atas permasalahan ini.
Amirullah, seorang warga Banda Aceh yang ditemui di kawasan Ulee Lheue, menyampaikan rasa simpati yang mendalam terhadap para pengungsi.
“Saya kasihan melihat mereka, terutama anak-anak dan wanita. Mereka tidak punya tempat lain untuk pergi, dan Aceh selalu membuka hati bagi orang-orang yang membutuhkan,” katanya kepada Nukilan.id, Minggu (3/11/2024).
Di sisi lain, beberapa warga mengungkapkan keprihatinan terkait keberlanjutan penanganan para pengungsi. Fatimah, seorang ibu rumah tangga, mengungkapkan kekhawatirannya.
“Bukan tidak kasihan, tetapi kita harus memikirkan bagaimana ke depannya. Apakah pemerintah, baik lokal maupun internasional, punya solusi yang konkret? Jangan sampai ini membebani masyarakat sekitar,” jelasnya.
Persoalan pengungsi Rohingya di Aceh memang menjadi perhatian serius, namun hingga kini belum ada langkah konkret dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) untuk memberikan penyelesaian jangka panjang. Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat juga berada di posisi yang sulit, karena meski ingin membantu, sumber daya yang dimiliki terbatas.
“Kita paham ini persoalan kemanusiaan, dan Aceh memiliki sejarah panjang dalam menerima saudara-saudara kita yang membutuhkan. Namun, UNHCR juga harus lebih aktif dalam mencari negara ketiga sebagai tujuan permanen bagi mereka,” kata Putra, pemerhati sosial di Banda Aceh.
Sejumlah warga juga berharap ada solusi yang lebih baik bagi pengungsi Rohingya, terutama dari pihak-pihak yang memiliki peran di ranah internasional.
“Kita siap membantu dan menerima, tetapi harus ada batasan dan kejelasan, agar masalah ini tidak berlarut-larut tanpa solusi,” kata seorang pemuda yang enggan disebutkan namanya.
Dengan kedatangan yang terus berulang, para pengungsi Rohingya di Aceh diharapkan mendapatkan perhatian serius baik dari lembaga internasional maupun pemerintah. Masyarakat Aceh, yang terkenal dengan solidaritas dan kepekaan sosialnya, tetap memberikan dukungan, tetapi mereka juga berharap ada upaya untuk memberikan kepastian jangka panjang bagi para pengungsi Rohingya ini. (XRQ)
Calon gubernur dan wakil gubernur Aceh nomor urut 1, Bustami Hamzah dan M Fadhil Rahmi. (Foto: Nukilan)
NUKILAN.id | Banda Aceh — Debat kedua Pilkada Aceh 2024 yang digelar pada Jumat (1/11/2024) lalu mempertemukan dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang bersaing ketat untuk merebut suara rakyat Aceh. Pasangan nomor urut satu, Bustami Hamzah (Om Bus) – M. Fadhil Rahmi, berhadapan dengan pasangan nomor urut dua, Muzakir Manaf (Mualem) – Fadhullah, dalam debat yang penuh dengan argumen dan visi pembangunan Aceh ke depan.
Debat ini tampaknya makin mengerucutkan penilaian masyarakat terhadap kandidat yang dianggap mampu memimpin Aceh untuk lima tahun mendatang. Tim nukilan.id melakukan wawancara lapangan dan menemui beberapa warga Banda Aceh untuk mengetahui pendapat mereka setelah menyaksikan dua kali debat ini. Sebagian besar warga memberikan komentar mengenai kemampuan public speaking dan kelayakan calon untuk memimpin Aceh.
“Sudah dua kali debat, menurut saya, maaf, untuk Mualem public speaking-nya masih di bawah standar. Beliau belum cocok jadi cagub, lebih cocok jadi wakil saja,” kata Ardi, warga Kota Banda Aceh.
Sementara itu, pasangan Bustami dan Fadhil Rahmi justru dinilai memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik serta menyampaikan visi dengan lebih meyakinkan. Hal ini disampaikan oleh Reza, seorang mahasiswa di Banda Aceh, yang merasa Bustami dan Fadhil Rahmi adalah kandidat yang lebih berkompeten.
“Menurut saya, Bustami dan Fadhil Rahmi mereka lebih berkompeten, sedikit lebih cocoklah untuk mimpin Aceh lima tahun ke depan,” kata Reza.
Pendapat serupa diutarakan oleh Aisyah, seorang pengunjung yang sedang berbelanja di Pasar Aceh, yang menyebut dirinya lebih condong pada pasangan nomor urut satu.
“Pendapat pribadi lebih cocok Om Bus dan Syekh Fadhil. Tapi pilihlah sesuai hati nurani masing-masing, yang penting jangan ribut karena pilihan politik. Hal yang lumrah berbeda pilihan,” ucap Aisyah sambil tersenyum.
Meski demikian, dukungan terhadap pasangan Bustami-Fadhil Rahmi bukan berarti mengesampingkan kualitas pasangan nomor dua. Sebagian warga berpendapat bahwa kedua pasangan memiliki kemampuan masing-masing.
“Nomor satu lebih bagus, nomor dua bukan tidak bagus. Tapi kalau ada yang lain kenapa nggak yang lain,” kata Farhan, warga lainnya.
Debat kedua ini seolah menjadi ajang untuk mengenal lebih jauh karakter dan kemampuan para kandidat. Dengan berbagai pandangan dan dukungan dari masyarakat, tampaknya pilihan suara akan semakin mengerucut jelang hari pencoblosan. Siapapun yang terpilih, warga berharap Pilkada Aceh 2024 berjalan damai dan aman, serta menghasilkan pemimpin yang mampu membawa Aceh ke arah yang lebih baik. (XRQ)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Persiraja Banda Aceh, tim sepakbola kebanggaan masyarakat Aceh, akan menjamu tim papan atas Liga Super Malaysia, Penang FC, dalam laga persahabatan internasional di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh, Rabu (6/11/2024). Pertandingan yang diberi tajuk International Friendly Match ini diharapkan menjadi momentum besar bagi Persiraja untuk menunjukkan kemampuan mereka di level lebih tinggi. Kick-off dijadwalkan pukul 20.00 WIB, dan laga ini diharapkan menarik perhatian besar dari para pencinta sepak bola di seluruh Aceh.
Penang FC yang akan menjadi lawan Persiraja bukan tim sembarangan. Berasal dari kasta tertinggi Liga Malaysia (Liga 1), Penang FC dikenal sebagai tim kuat yang siap memberi tantangan serius di lapangan. Manajer Persiraja, Ridha Mafdhul Gidong, mengungkapkan bahwa laga ini bukan hanya soal meraih kemenangan, tetapi juga kesempatan bagi Persiraja untuk membuktikan kesiapan mereka di kancah internasional.
“Ini bukan hanya tentang memenangkan pertandingan, tetapi juga tentang menunjukkan bahwa Persiraja siap bersaing di level yang lebih tinggi dan mengharumkan nama klub serta kota Banda Aceh di kancah internasional,” ujar Ridha.
Ridha mengajak masyarakat Aceh untuk hadir dan mendukung Persiraja dalam pertandingan penting ini, apalagi momen ini juga dipandang sebagai upaya menyemangati tim menjelang putaran kedua Liga 2 musim 2024/2025.
“Dukung langsung Persiraja vs Penang FC. Ini adalah pembuktian kita (Aceh) bagi mereka yang tidak ingin ekosistem sepakbola kita baik. Disanksi dua kali, kita bangkit berkali-kali,” tambahnya, menyiratkan semangat juang yang tinggi.
Selain aspek prestasi, Ridha juga mengingatkan pentingnya keamanan dan kenyamanan selama pertandingan berlangsung.
“Pertandingan internasional seperti ini biasanya menarik banyak penonton, jadi mari kita bersama-sama menjaga ketertiban agar acara berjalan lancar,” lanjutnya.
Masyarakat Aceh, khususnya para suporter Persiraja, diimbau untuk memantau perkembangan dan pengumuman resmi dari klub mengenai laga ini.
“Mari bersiap-siap menyambut laga internasional yang menarik ini dan siapkan diri untuk mendukung tim kesayangan kita,” pungkas Ridha.
Laga ini diharapkan bukan hanya sebagai ajang uji tanding bagi kedua tim, tetapi juga langkah besar bagi Persiraja menuju level kompetisi yang lebih tinggi dan meraih perhatian di pentas Asia. (XRQ)
Mualem-Dek Fadh Siap Bangun 3 Rumah Sakit Regional di Aceh. (Foto: Kompas)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Aceh nomor urut 2, Muzakir Manaf-Fadhlullah, atau dikenal dengan Mualem-Dek Fadh, menyatakan komitmen mereka untuk meningkatkan akses kesehatan di Aceh dengan membangun tiga rumah sakit regional jika terpilih dalam Pilkada Aceh 2024. Pernyataan ini disampaikan Dek Fadh dalam debat publik kedua calon gubernur dan wakil gubernur Aceh yang berlangsung di Hotel The Pade, Aceh Besar, Jumat (1/11/2024) malam.
Dalam debat tersebut, Dek Fadh menjelaskan bahwa visi misi mereka adalah membangun tiga rumah sakit regional di kawasan pantai barat-selatan, poros tengah, dan pantai timur. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa masyarakat Aceh, terutama yang tinggal di daerah terpencil, mendapatkan akses kesehatan yang berkualitas dan merata.
“Kami ingin agar semua masyarakat Aceh memiliki hak yang sama dalam akses pelayanan kesehatan. Kami memahami kondisi di pulau-pulau terluar seperti Simeulue dan Sabang, jadi kami akan menyediakan ambulans laut untuk memudahkan akses bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Dek Fadh.
Selain itu, Mualem menambahkan bahwa mereka akan memastikan keberadaan dokter-dokter spesialis yang benar-benar kompeten di Aceh agar masyarakat tidak perlu berobat hingga ke luar negeri, seperti ke Penang, Malaysia.
“Banyak warga kita yang harus ke Penang untuk berobat. Kalau dokter-dokter kita siap, tentu hal seperti itu tidak perlu terjadi,” kata Mualem.
Namun, rencana ambisius pasangan Mualem-Dek Fadh ini mendapat tanggapan kritis dari Bustami Hamzah, calon gubernur nomor urut 1. Bustami mengingatkan bahwa rencana pembangunan rumah sakit baru di Aceh bukanlah hal yang mudah dan menyinggung lima rumah sakit regional di Aceh yang pembangunannya tak kunjung selesai hingga saat ini.
“Itu cerita lama. Sekarang kita sudah punya lima rumah sakit regional yang belum selesai dibangun selama sepuluh tahun karena kurangnya perencanaan yang matang,” ungkap Bustami.
Menurut Bustami, anggaran yang tersedia saat ini tidak mencukupi untuk mewujudkan rencana pembangunan tersebut, terutama dengan menurunnya dana fiskal dan alokasi dana otonomi khusus (otsus) yang tak difokuskan pada kesehatan.
“Kita harus realistis. Dengan penurunan anggaran, rencana ini hanya akan menjadi angan-angan jika perencanaannya tidak diperhitungkan dengan baik. Perbaiki dulu layanan kesehatan yang sudah ada, seperti puskesmas dan rumah sakit daerah, agar masyarakat tidak terbebani dengan biaya kesehatan yang tinggi,” imbuh Bustami.
Debat tersebut memperlihatkan perbedaan pandangan kedua calon tentang bagaimana memberikan akses kesehatan yang memadai bagi masyarakat Aceh. Sementara Mualem-Dek Fadh menekankan pada perluasan fasilitas kesehatan melalui pembangunan rumah sakit regional dan dukungan ambulans laut, Bustami berpendapat bahwa perbaikan sistem kesehatan yang ada, termasuk penguatan puskesmas dan rumah sakit daerah, merupakan solusi yang lebih efektif untuk saat ini.
Dengan beragam isu yang menjadi fokus dalam debat ini, masyarakat Aceh kini memiliki gambaran lebih jelas tentang visi dan strategi masing-masing pasangan calon dalam membangun sektor kesehatan di provinsi ini.