Beranda blog Halaman 832

8 November 1999, Aceh Menuntut Referendum

0
Masyarakat Aceh berunjuk rasa di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Senin, 8 November 1999 menuntut referendum. (Foto: AP PHOTO / Achmad Ibrahim)

NUKILAN.id | Feature – Sejak akhir 1970-an, Aceh bergulat dengan konflik berkepanjangan yang menyisakan luka mendalam bagi banyak warganya. Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2008, hlm. 626-627) menyoroti bahwa akar konflik di Aceh muncul dari kekecewaan masyarakat atas pengelolaan Jakarta yang dianggap tak adil. Di satu sisi, Aceh kaya akan sumber daya gas alam cair, namun hanya memperoleh bagian kecil dari keuntungannya.

Rasa ketidakpuasan masyarakat Aceh semakin diperparah oleh perampasan tanah-tanah rakyat dan kehadiran kelompok-kelompok preman yang diduga dilindungi oleh militer. Akumulasi kemarahan ini memicu lahirnya perlawanan yang dipimpin oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di bawah komando Hasan Tiro, yang berlangsung dari 1977 hingga 1982.

Setelah periode tenang yang singkat, GAM kembali aktif pada 1988, dan pemerintah merespons dengan langkah militer. ABRI menerapkan teror dan intimidasi, sementara GAM terus melawan dengan menyerang pos-pos militer.

“Pada pertengahan 1990, akibat meningkatnya eskalasi konflik, Jakarta mengirim pasukan Kostrad di bawah komando Prabowo ke Aceh. Dari periode ini hingga 1998, status Aceh ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) dan diberlakukan hukum darurat perang,” jelas Ricklefs.

Pasca lengsernya Soeharto pada Mei 1998, ABRI mulai menunjukkan sikap yang lebih lunak, namun ketegangan di Aceh tak kunjung mereda. Dorongan untuk mengusut pelanggaran HAM di Aceh pun semakin kuat, terutama dari kalangan mahasiswa yang peduli. Meskipun begitu, isu-isu Aceh tetap belum menjadi prioritas nasional.

Pada awal 1999, muncul wacana referendum bagi Aceh. Usulan ini tidak datang dari GAM, melainkan dari Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau yang diselenggarakan pada 31 Januari hingga 4 Februari 1999. Kongres ini kemudian melahirkan Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA), sebuah gerakan yang dimotori para mahasiswa Aceh, dengan Muhammad Nazar sebagai ketua presidium. Saat itu, Nazar baru saja lulus dari IAIN Ar-Raniry dan menjadi pengajar di kampus tersebut.

Tujuan SIRA adalah memperjuangkan pelaksanaan referendum di Aceh, memberikan pilihan bagi rakyat untuk menentukan apakah ingin tetap bersama Indonesia atau merdeka. Sepanjang 1999, SIRA menggalang dukungan melalui aksi-aksi massa dan perlahan memperoleh simpati dari tokoh-tokoh penting Aceh, termasuk deklarator GAM, Hasan Tiro, dan panglimanya, Abdullah Syafi’i, yang mendukung referendum sebagai alternatif solusi damai dibandingkan jalan senjata.

Namun, SIRA selalu menegaskan posisi independennya dari GAM. Muhammad Nazar secara tegas menyatakan bahwa SIRA tidak berafiliasi dengan GAM secara organisasi.

“Indonesia menginginkan Aceh tetap menjadi bagian wilayahnya. GAM ingin Aceh merdeka. Bagi kami yang penting adalah keinginan itu ditransformasikan secara beradab, tanpa harus ada kekerasan,” ujar Nazar, seperti ditulis Kompas pada 16 Februari 2003.

Wacana referendum tidak hanya bergema di Aceh, tetapi juga menyedot perhatian kalangan elite politik di Jakarta. Tuntutan referendum ini muncul bersamaan dengan masa kampanye Pemilu 1999, sehingga segera menjadi alat bagi partai-partai untuk memenangkan simpati rakyat Aceh.

“Partai Persatuan Pembangunan (PPP) akan memperjuangkan pengusutan pelanggaran HAM di Aceh dan mendukung referendum, sesuai tuntutan masyarakat setempat,” kata Ghazali Abbas, juru kampanye PPP, dalam kampanye di Banda Aceh pada Kamis (27/5), seperti yang tertulis dalam harian Kompas (29/5/1999).

Respon positif juga datang dari Abdurrahman Wahid yang waktu itu menjabat presiden. Persoalan Aceh menjadi salah satu prioritas pemerintahannya, dengan harapan pendekatan ini dapat meredakan konflik dan membuka jalan perundingan.

Menjelang November 1999, gaung referendum di Aceh kian besar. Upaya-upaya yang dilakukan oleh Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) berhasil menarik rakyat Aceh mendukung penyelesaian konflik secara damai. Aksi-aksi pawai referendum berlangsung di berbagai daerah, mulai dari Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Besar, Banda Aceh, hingga Pidie dan Aceh Selatan.

Puncaknya terjadi pada 8 November 1999, ketika ratusan ribu warga Aceh berkumpul di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Dalam acara yang disebut “Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum” (SU MPR), sebagai sindiran bagi lembaga legislatif nasional yang dipimpin Amien Rais kala itu, massa yang hadir menyuarakan tuntutan referendum secara lantang.

Menyikapi gelombang tuntutan ini, Gus Dur kembali menunjukkan komitmennya terhadap referendum. Dalam kunjungannya ke Jepang pada 16 November 1999, ia menjanjikan untuk mempersiapkan referendum dalam tujuh bulan.

“Satu bulan akan digunakan untuk menentukan sikap resmi pemerintah, dan enam bulan berikutnya untuk perundingan,” seperti yang tertulis di harian Kompas (17/11/1999).

Namun, dukungan Gus Dur terhadap referendum diartikan secara berbeda. Seperti yang diungkapkan Greg Barton dalam Biografi Gus Dur (2017, hlm. 385), Gus Dur memandang referendum bukan sebagai langkah menuju kemerdekaan, tetapi lebih kepada opsi untuk memperluas otonomi Aceh.

Semangat referendum akhirnya sampai juga ke Jakarta. Pada 25 November 1999, sekitar 3.000 orang dari Forum Perjuangan dan Keadilan Rakyat Aceh (Fopkra) berunjuk rasa di Gedung MPR/DPR, menuntut pemerintah pusat segera melaksanakan referendum di Aceh. Massa yang sebagian besar merupakan perantauan Aceh di Jawa ini mendesak agar tuntutan rakyat Aceh mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.

Namun, gerakan yang awalnya membesar itu tak bertahan lama. Pada 9 Desember, DPR resmi memutuskan untuk tidak merekomendasikan referendum kepada pemerintah. Artinya, jika Gus Dur tetap bersikeras menyelenggarakan referendum, DPR tidak akan memberikan dukungan.

“Tuntutan referendum muncul karena ketidakadilan. Kalau soalnya adalah ketidakadilan, tidak benar bila kita memberikan opsi kemerdekaan,” kata Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno yang dikutip oleh Kompas pada 10 Desember 1999.

Keputusan DPR ini jelas memperberat langkah Gus Dur dan meruntuhkan optimisme pendukung referendum. Pada akhirnya, Gus Dur terpaksa menarik dukungannya karena minimnya sokongan politik di Senayan.

Sejak itu, kampanye referendum melemah dan akhirnya hilang. Aktivis-aktivis SIRA, seperti Muhammad Nazar dan Cut Nur Asyikin kemudian dijebloskan ke penjara dengan tuduhan memobilisasi massa untuk makar. (XRQ)

Penulis: Akil Rahmatillah

Pj Ketua PKK Aceh Sambut Hangat Rombongan DWP Kemendagri

0
Pj. Ketua TP-PKK Aceh, Hj. Safriati, S.Si, M.Si, saat memberikan sambutan pada acara jamuan makan malam dan ramah tamah bersama Pengurus DWP Direktorat Jenderal Bina Administrasi Wilayah Kemendagri, di Anjong Mon Mata. (Foto: MC Aceh)

NUKILAB.id | Banda Aceh – Dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan, Pj Ketua PKK Aceh, Hj. Safriati, S.Si., M.Si., bersama jajaran PKK dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh menyambut rombongan Pengurus DWP Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan (Bina Adwil) Kemendagri di Anjong Mon Mata, Pendopo Gubernur Aceh, Kamis (7/11/2024). Acara ini menjadi ajang silaturahmi serta perkuatan sinergi antarinstansi dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan.

Jamuan makan malam ini terasa istimewa, dengan suguhan hidangan khas Aceh yang menggugah selera serta hiburan seni tradisional. Para tamu menikmati suguhan tarian daerah, puisi, dan peragaan busana, menambah semarak malam tersebut. Rombongan tamu yang merupakan para istri PNS dari Ditjen Bina Adwil Kemendagri mendapat sambutan hangat, dengan keterlibatan langsung Safriati bersama Ketua PKK kabupaten/kota di Aceh dan perangkat kerja terkait.

Safriati menyampaikan rasa terima kasihnya atas kunjungan DWP Kemendagri ke Aceh, serta dukungan penuh dari jajaran PKK.

“Hari ini benar-benar menjadi kejutan bagi saya. Ternyata, ketika kita bersama-sama, rasa kebersamaan ini begitu erat,” ujar Safriati, mengungkapkan kekaguman atas antusiasme dan dukungan dari para tamu.

Dalam sambutannya, Safriati juga mengajak rombongan untuk lebih dekat dengan keindahan alam dan budaya Aceh serta berharap mereka turut mendukung perekonomian lokal.

“Kami biasanya kalau ke Jakarta menghabiskan uang di sana. Jadi, harapan kami, habiskan juga uangnya di sini,” candanya yang mengundang tawa. Ia pun mengapresiasi ketertarikan tamu yang telah membeli berbagai produk kerajinan khas Aceh.

Acara yang sarat dengan rasa persaudaraan ini diakhiri dengan ajakan Safriati kepada semua pihak untuk terus memperkuat sinergi demi kemajuan Aceh.

“Mari kita jaga rasa persaudaraan yang luar biasa ini, dan ke depannya kita berkolaborasi lebih erat lagi untuk kemajuan Aceh,” tutupnya.

Editor: Akil

Biologi USK Tanam Mangrove di Lampulo, Langkah Nyata Lestarikan Ekosistem Pesisir

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (USK) bersama dengan sejumlah pihak melakukan aksi nyata dalam melestarikan lingkungan pesisir dengan menanam mangrove di pesisir Lampulo, Banda Aceh, Kamis (7/11/2024). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) yang diadakan di Aceh.

Ketua Departemen Biologi FMIPA USK, Prof Lenni Fitri, mengungkapkan bahwa penanaman mangrove ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus komitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk rehabilitasi lingkungan, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, agar lebih peduli terhadap pentingnya lingkungan hidup,” ujar Prof Lenni.

Aksi penanaman mangrove ini menggandeng berbagai pihak, termasuk Program Studi Pendidikan Biologi FKIP USK, Program Studi Biologi Saintek UIN Ar-Raniry, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Pelabuhan Perikanan Lampulo, Asosiasi Pemuda Peduli Mangrove Kutaraja (Pemangku), serta partisipasi masyarakat setempat.

Prof Lenni menegaskan bahwa dukungan dari berbagai kalangan menunjukkan pentingnya sinergi antara dunia akademik, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir yang terancam abrasi dan degradasi.

“Mangrove yang ditanam di kawasan Lampulo diharapkan dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi lingkungan, khususnya dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem pesisir dan menyediakan habitat alami bagi berbagai jenis biota laut,” tambahnya.

Menurutnya, mangrove juga memiliki peran penting dalam mencegah abrasi dan memperbaiki kualitas ekosistem laut, sehingga keberadaannya sangat krusial bagi keseimbangan alam.

Rakernas KOBI di Aceh kali ini turut menyoroti pentingnya kerja sama lintas sektor, khususnya antara institusi pendidikan dan pemerintahan, dalam menghadapi isu-isu lingkungan. Prof Lenni berharap kolaborasi antara akademisi dan praktisi dapat terus diperkuat, sehingga upaya pelestarian lingkungan di Tanah Rencong bisa membawa hasil yang signifikan.

Dengan adanya aksi nyata seperti penanaman mangrove ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat, sehingga dapat memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

“Langkah ini bukan hanya simbolis, tetapi sebagai langkah awal yang signifikan menuju keberlanjutan lingkungan yang lebih baik,” tutup Prof Lenni.

Editor: Akil

Rektor USK Tekankan Pentingnya Konservasi Biodiversitas dan Keberlanjutan di Rakernas KOBI 2024

0
Rektor USK Tekankan Pentingnya Konservasi Biodiversitas dan Keberlanjutan di Rakernas KOBI 2024. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Workshop Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) 2024. Dalam acara yang digelar pada Selasa (5/11/2024) di Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USK, Rektor USK, Prof. Marwan, menyampaikan urgensi pentingnya konservasi biodiversitas dan keberlanjutan lingkungan.

Prof. Marwan mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada USK untuk menjadi tuan rumah Rakernas KOBI 2024. Dalam sambutannya, ia menggarisbawahi relevansi biodiversitas dan keberlanjutan terhadap bidang ilmu biologi serta tanggung jawab masyarakat ilmiah untuk melindungi kekayaan alam Indonesia.

“Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Di Aceh, kita memiliki kawasan hutan Leuser yang menjadi habitat bagi empat satwa terlindungi: gajah, harimau, orangutan, dan badak. Selain itu, kita juga harus menjaga sektor-sektor lain seperti perairan, hutan mangrove, dan ketahanan pangan,” ujarnya.

Prof. Marwan menekankan pentingnya riset dan kolaborasi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dan berharap kegiatan ini dapat berkontribusi pada masa depan yang lebih hijau.

“Apa pun yang kita lakukan hari ini harus berdampak pada keberlanjutan. Konservasi dan ketahanan pangan merupakan bagian dari tujuan global yang terangkum dalam SDGs,” tambahnya.

Ketua KOBI, Prof. Budi Setiadi Daryono, juga menyampaikan peran penting KOBI dalam menjaga biodiversitas Indonesia. Ia menjelaskan bahwa KOBI, yang baru saja merayakan ulang tahun ke-13 pada September lalu, telah banyak berkontribusi terhadap kelestarian hayati di Indonesia. Salah satu kontribusi penting mereka adalah penyusunan Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI), yang kini digunakan sebagai referensi oleh BAPPENAS.

“Anggota KOBI juga berperan aktif dalam berbagai NGO yang berfokus pada pelestarian lingkungan, terutama di daerah terluar, tertinggal, dan termiskin,” jelasnya.

Pj Wali Kota Banda Aceh, Ade Surya, dalam sambutannya, menekankan pentingnya peran KOBI dalam mendukung pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang seimbang antara pemanfaatan lahan dan keberlanjutan.

“Kita butuh lahan untuk investasi sektor pertanian dan perkebunan, tapi juga harus mempertimbangkan kelestarian ekosistem dan biodiversitas untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Rakernas dan Workshop KOBI 2024 ini diharapkan dapat menghasilkan langkah konkret dalam upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia dan memastikan keberlanjutan bagi masa depan.

Editor: Akil

Kherkof Peutjut, Tapak Sejarah Ketangguhan Pejuang Aceh Melawan Kolonialisme Belanda

0
Kherkof Peutjut. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Feature – Selain dikenal sebagai daerah yang pernah mengalami bencana hebat tsunami, Aceh juga tercatat sebagai wilayah yang memiliki rangkaian sejarah peperangan yang begitu panjang. Sejarah konflik di Aceh bukan hanya tercatat di berbagai literatur dan manuskrip kuno, namun juga dapat dilihat melalui jejak sejarah yang masih ada hingga saat ini. Salah satunya Kherkof Peutjut.

Kherkof Peutjut adalah hamparan lahan seluas 3,5 hektare yang terletak di Gampong Blower, Kec. Baiturrahman, Banda Aceh, dan sekarang menjadi objek wisata menarik, khususnya bagi wisatawan mancanegara (terutama wisatawan asal Belanda). Lokasi wisata ini terletak tak jauh dari Lapangan Blang Padang dan berdampingan dengan Museum Tsunami.

Tempat ini cocok sekali dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah. Makam Kherkof dibuka setiap harinya dari pagi sampai sore, dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, dengan jam istirahat pukul 12.00 – 14.00 WIB.

Saat memasuki area makam militer Belanda ini, pengunjung akan melihat banyak corak tulisan pada pintu gerbang. Menurut informasi, tulisan-tulisan ini merupakan nama-nama tentara Belanda yang dikebumikan di Kherkof dan ditulis dalam bentuk bahasa Belanda.

Menjejakkan kaki ke dalam, pengunjung akan melihat bentaran makam berwarna putih yang berjejer rapi dengan rerumputan hijau di sekelilingnya. Setiap makam terpacak nisan berisikan informasi tentang nama jasad yang ada di dalamnya.

Diantara raga yang terkubur disini, bukan hanya diisi oleh tentara biasa-biasa saja atau berpangkat rendahan, namun juga terdapat empat perwira Belanda berpangkat jenderal. Salah satunya adalah Johan Harmen Rodolf seorang serdadu berpangkat jenderal yang dikenal sebagai pimpinan perang kala itu di Aceh.

Kerkof Peucut, pemakaman militer belanda terbesar kedua di dunia. (Foto: Nukilan)

Diriwayatkan dalam berbagai literatur sejarah, Perang Aceh merupakan pertempuran yang terjadi pada abad ke-19 antara Belanda dan Kesultanan Aceh. Perang ini dimulai saat Belanda menyatakan perang kepada Sultan Aceh pada 26 Maret 1873.

Perlawanan rakyat yang berlangsung hampir tiga dekade ini menjadikannya sebagai salah satu perang melawan kolonial terlama dalam sejarah perang di Indonesia. Perang ini melibatkan ribuan pejuang Aceh yang berjuang dengan heroik mempertahankan negerinya dari keinginan penjajah yang hendak merebut tanah leluhurnya.

Dalam terminologi Belanda, Kherkof ini memiliki arti kuburan, sedangkan Peutjut merupakan bahasa Aceh yang bermakna anak kesayangan. Penggalan nama Peutjut ini erat kaitannya dengan keberadaan sebuah pusara yang dihuni anak kesayangan Sultan Iskandar Muda, Meurah Pupok, yang turut dikubur di tempat ini.

Menurut cerita yang berkembang secara turun temurun, Meurah Pupok adalah putra semata wayang Sultan Iskandar Muda yang dihukum mati sang raja karena terbukti meniduri istri salah seorang perwira kerajaan.

Mendapati putranya telah melakukan kesalahan fatal, raja yang adil dan bijaksana ini pun menjatuhkan vonis mati. Meskipun Meurah Pupok berstatus sebagai anak kandungnya, namun Sultan Iskandar Muda kukuh menjalankan konstitusi Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu Qanun Meukuta Alam yang bersumber dari Alquran dan Hadis.

Kisah Meurah Pupok merupakan simbol tegaknya syariat Islam di Aceh. Nasib tragis yang dialaminya menjadi pelajaran penting tentang tegaknya hukum dan keadilan. Seperti alasan Sultan kala menjatuhkan vonis itu “Mate Aneuk Meupat Jirat, Mate Adat ho Tamita” (Mati anak tahu kuburannya, mati adat kemana kita cari).

Muhammad Ardian, salah seorang pengunjung yang ditemui di komplek makam militer Belanda ini mengaku tempat ini merupakan kali pertama ia kunjungi.

“Sebelumnya saya sering melewati pemakaman tentara Belanda ini. Tapi belum pernah masuk ke dalam,” terang Ardian, Jumat, 8 November 2024.

Remaja yang baru saja menyelesaikan pendidikan pada sekolah bangku menengah atas ini melanjutkan dirinya tertarik dengan sejarah perang Aceh dan penasaran dengan serdadu Belanda yang terbunuh saat itu.

“Saya banyak mendengar cerita tentang militannya pejuang Aceh kala itu. Ternyata benar ya bang, banyak sekali tentara Belanda yang dikubur disini,” ujar warga Darussalam ini.

Ardian tak sendiri. Ia datang bersama temannya, Ikhsan, seorang mahasiswa USK. Lebih spesifik Ikhsan menceritakan setelah mengamati sejumlah nisan yang ada disini, ia mengambil kesimpulan bahwa terdapat beberapa serdadu Belanda yang lahir di Indonesia.

“Rata-rata tentara Belanda yang dikubur disini mati muda. Diantara mereka ada yang terlihat diaspora, karena beberapa diantaranya ternyata lahir di Indonesia,” terang Ikhsan.

Sebagai orang yang tertarik dengan sejarah, Ikhsan mengatakan keberadaan makam Kherkof ini sangat penting sebagai bukti tentang perang Aceh.

“Saya senang dengan sejarah bang. Semoga saja tempat ini dapat dirawat dengan baik,” tutur dia.

Pada saat tsunami menerjang Aceh, makam Kherkof turut terkena imbasnya. Diketahui, sebanyak 50 salib penanda makam hilang dari tempatnya. Selain pengunjung domestik, Makam Kherkof juga ramai dikunjungi wisatawan mancanegara, terutama warga Belanda.

Area ini ‘dihuni’ oleh lebih kurang 2200 makam serdadu Belanda yang tewas pada Perang Aceh dalam rentang tahun 1873 hingga 1904. Para ‘penghuni’ makam militer Belanda tersebut menjadi saksi bisu betapa sengitnya perang Aceh saat itu.

Pertempuran yang begitu sporadis dan berdarah-darah telah menimbulkan jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit di kedua belah pihak. Meskipun secara resmi berakhir pada 1904, perlawanan secara gerilya terus bergelora hingga 1914 dan berlanjut hingga 1942.

Penulis: Boim

ARC USK Aceh Raih Juara Pertama Global Innovation Awards di Spanyol

0
ARC USK Aceh Raih Juara Pertama Global Innovation Awards di Spanyol. (Foto: ARC USK)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK) Banda Aceh mencetak prestasi membanggakan dengan meraih juara pertama di ajang Global Innovation Awards 2024 yang diselenggarakan oleh Global Innovation Management Institute (GIMI) di La Salle Auditorium, Barcelona, Spanyol, pada Rabu (6/11/2024). Penghargaan bergengsi ini diraih ARC USK dalam kategori inovasi sosial terbaik, mengalahkan sejumlah peserta kompetitif dari berbagai negara, termasuk Yayasan Inovasi Malaysia dan ILUNION Hotel Barcelona.

Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Prof. Marwan, menyatakan bahwa penghargaan ini merupakan pengakuan terhadap riset berbasis inovasi sosial dan keberlanjutan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Penghargaan ini adalah bukti nyata bahwa penelitian yang kami kembangkan di ARC USK tidak hanya berfokus pada aspek ilmiah, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata untuk tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat,” ujar Prof. Marwan di Banda Aceh, Kamis (7/11).

GIMI, sebagai organisasi profesional global terbesar yang fokus pada demokratisasi inovasi, memilih ARC USK sebagai juara pertama karena komitmennya dalam mengembangkan penelitian minyak atsiri (essential oils) nilam. Selain bermanfaat untuk kesehatan dan kesejahteraan sosial, inovasi ini juga memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dalam pidatonya, Prof. Marwan menegaskan pentingnya hilirisasi produk unggulan berbasis riset untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

“Selama sepuluh tahun, ARC USK telah berperan aktif dalam memanfaatkan komoditas nilam. Kami berharap kontribusi kami ini dapat mendorong ekonomi berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan,” tambahnya.

Kepala ARC PUIPT Nilam USK, Syaifullah Muhammad, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah bekerja keras untuk meraih prestasi ini. Ia juga berpesan kepada timnya agar tetap fokus dan konsisten berinovasi untuk kepentingan masyarakat.

“Seluruh prestasi ini menunjukkan bahwa kami berada di jalur yang benar. Semoga kami terus bisa memberikan kontribusi positif bagi orang banyak,” ujarnya.

Penghargaan ini tak hanya menambah daftar panjang prestasi yang diraih ARC USK, tetapi juga menunjukkan bahwa inovasi berbasis sosial dapat menjadi alat efektif untuk mengatasi tantangan sosial dan ekonomi yang ada di masyarakat.

Editor: Akil

Kadisbudpar Aceh Bangga 3 Siswa MTsS Ulumul Quran Juara I Cerdas Cermat Museum Tingkat Nasional

0
Kadisbudpar Aceh Bangga 3 Siswa MTsS Ulumul Quran Juara I Cerdas Cermat Museum Tingkat Nasional. (Foto: Disbudpar)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal mengaku bangga bahwa tiga siswa MTsS Ulumul Quran Kota Banda Aceh berhasil meraih juara pertama dalam Lomba Cerdas Cermat Museum (LCCM) 2024 tingkat nasional.

Ketiga siswa yang meneroleh prestasi adalah Faradisil Jinan, Muhammad Alfisyah Basri, dan Aisyah Ariiqah Anwar. Dalam babak final lomba, mereka mewakili Provinsi Aceh berhasil mengalahkan DKI Jakarta yang meraih juara 2 dan Provinsi Sulawesi Tengah juara 3.

Prestasi gemilang ini merupakan pencapaian yang membanggakan, baik bagi Aceh maupun bagi dunia pendidikan di Indonesia. Atas torehan itu, ketiga pelajar tersebut diberi hadiah tiket gratis masuk Museum Aceh seumur hidup dari Disbudpar Aceh melalui UPTD Museum Aceh. Selain itu, ketiga siswa akan menjadi mentor untuk pelajar lainnya dalam program ‘belajar bersama museum’.

“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya usaha dan kerja keras yang telah ditunjukkan oleh para santri MTsS Ulumul Quran Banda Aceh. Prestasi ini membuktikan bahwa anak muda Aceh tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga dapat unggul di kancah nasional di bidang sejarah, budaya dan pendidikan.”

“Ini menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Aceh dan diharapkan akan menginspirasi generasi muda lainnya untuk lebih mencintai sejarah dan kebudayaan,” ujar Almuniza saat menerima kunjungan para pemenang LCCC tingkat nasional di Kantor Disbudpar Aceh, Jumat, 8 November 2024.

Disbudpar Aceh melalui UPTD Museum Aceh juga berkomitmen untuk terus mendukung program-program yang bertujuan mengembangkan minat dan bakat generasi muda Aceh dalam bidang kebudayaan dan sejarah.

Melalui dukungan yang berkelanjutan, diharapkan semakin banyak generasi muda Aceh yang tertarik dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan budaya dan museum baik di tingkat lokal maupun nasional.

“Atas nama Pemerintah Aceh, selamat kepada para siswa-siswi atas prestasi yang membanggakan ini dan jangan cepat puas serta teruslah tingkatkan belajarnya. Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi santri dan siswa lainnya untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam pelestarian budaya dan sejarah bangsa,” harapnya.

Kepala UPTD Museum Aceh, Mudha Farsyah menambahkan LCCM tahun ini mengusung Tema ARUNIKA (Asah Rasa Untuk Generasi Muda Berbudaya). Lomba tersebut diikuti oleh 108 peserta dari 36 Provinsi se-Indonesia. Acara tahunan ini digelar dari tanggal 2-5 November 2024 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Sebelum melaju ke babak nasional Faradisil Jinan, Muhammad Alfisyah Basri dan Aisyah Ariiqah Anwar telah ditempa melalui beberapa tahapan sejak seleksi di tingkat provinsi, pembekalan dan latihan hingga pendampingan di tingkat nasional yang dilakukan Museum Aceh selama tiga bulan.

“Alhamdulillah,ini merupakan prestasi yang membanggakan dan membuktikan bahwa Aceh dapat bersaing bahkan unggul di ajang bergengsi level nasional di bidang sejarah, budaya dan permuseuman. Selamat kepada ketiga siswa-siswi MTsS Ulumul Quran Kota Banda Aceh yang telah berhasil memboyong piala bergilir Mahavidya,” katanya.

Aisyah Ariiqah Anwar menceritakan mereka sempat merasa kesusahan dalam hafalan yang dibebankan guru pendamping di sekolah. Namun berkat usaha dan sungguh-sungguh dalam belajar perjuangan mereka tak sia-sia.

“Kami mendapatkan (prestasi) ini karena usaha kami. Setiap siang selalu belajar. Kalau mau berhasil kuncinya ya harus belajar dan kami tidak boleh mempermalukan daerah, sehingga kami bertekad harus mengharumkan Aceh di kancah nasional.”

“Terima kasih kepada pihak museum Aceh, kepala sekolah, guru-guru kami dan orang tua kami telah mendukung kami sampai di titik ini. Alhamdulillah, karena dukungannya kami telah berhasil memenangkan kompetensi,” ujar Aisyah.

Sekadar informasi, pada LCCM tingkat nasional tahun 2023, Provinsi Aceh meraih juara 2. Tim dari Provinsi Aceh diwakili oleh siswa-siswi MTsN 1 Banda Aceh. Juara pertama diraih DKI Jakarta dan ketiga dari DI Yogyakarta.

Azhari Cage: Jangan Jadikan Aceh Tempat Transit Perdagangan Manusia

0
Senator Aceh, Azhari Cage. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Senator Aceh, Azhari Cage, menegaskan bahwa Aceh seharusnya tidak dijadikan sebagai tempat transit bagi tindak pidana perdagangan orang (TPPO), terutama bagi pengungsi Rohingya yang terus berdatangan. Hal ini disampaikan di tengah kasus perdagangan manusia yang sedang ditangani oleh Polda Aceh dan semakin maraknya imigran etnis Rohingya yang tiba di perairan Aceh.

“Kita tidak mengharapkan Aceh menjadi tempat transit perdagangan orang,” ujar Azhari Cage di Banda Aceh, Kamis (7/11/2024).

Azhari mengingatkan bahwa meskipun para pengungsi tersebut harus dibantu dari sisi kemanusiaan, masalah TPPO tidak boleh menjadi hal berulang yang terjadi setiap tahun.

Polda Aceh sebelumnya mengungkapkan telah menangkap tiga tersangka penyelundupan pengungsi Rohingya di Kabupaten Aceh Selatan, dan masih mencari delapan tersangka lainnya yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Para tersangka memiliki peran masing-masing dalam jaringan perdagangan manusia, termasuk seorang yang telah divonis dalam kasus serupa di Kabupaten Aceh Barat beberapa bulan lalu.

Azhari Cage meminta Pemerintah Aceh bersama aparat keamanan untuk meningkatkan pengawasan di wilayah perairan guna mencegah masuknya pengungsi secara ilegal yang sering kali berujung pada perdagangan manusia.

“Diharapkan kepada Polairud dan TNI Angkatan Laut (AL) untuk mengoptimalkan pengawasan, agar Aceh tidak lagi menjadi tempat transit menuju Medan hingga ke Malaysia,” tegasnya.

Menurut Azhari, kondisi ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk menindak tegas kasus TPPO.

“Kami berharap Polda Aceh mengusut tuntas masalah ini hingga ke akarnya agar kejadian yang sama tidak terus berulang,” tambahnya.

Penanganan kasus ini menjadi sorotan setelah ditemukan jenazah imigran Rohingya yang meninggal dunia di Desa Meunasah Hasan, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur. Kejadian ini semakin memperkuat kekhawatiran akan adanya jaringan perdagangan manusia yang menjadikan Aceh sebagai jalur transit.

Azhari Cage juga menyoroti peran pihak-pihak tertentu yang memfasilitasi masuknya pengungsi Rohingya untuk kepentingan TPPO. Ia mengingatkan bahwa aspek kemanusiaan harus tetap menjadi prioritas, tetapi penyalahgunaan situasi ini untuk kegiatan ilegal harus diberantas secara tuntas.

Dengan meningkatnya pengawasan dan penegakan hukum yang ketat, diharapkan Aceh tidak lagi menjadi target transit TPPO, dan perairannya menjadi lebih aman dari segala bentuk perdagangan manusia.

Editor: Akil

BNNP Aceh Blender 1.052 Gram Sabu, Amankan Tiga Pelaku di Lhokseumawe

0
BNNP Aceh Blender 1.052 Gram Sabu. (Foto: Humas BNNP Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh kembali menunjukkan komitmennya dalam memberantas peredaran narkotika. Dalam sebuah operasi di wilayah Lhokseumawe, tim BNNP Aceh berhasil menyita barang bukti berupa 1.052,07 gram sabu-sabu dan mengamankan tiga orang pelaku berinisial MAH, A, dan AZ.

Barang bukti narkotika tersebut dimusnahkan dengan cara yang tak biasa. Bertempat di halaman Gedung Pemberantasan BNNP Aceh, Kamis (7/11/2024), sabu-sabu tersebut dihancurkan menggunakan blender. Pemusnahan ini disaksikan langsung oleh Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M., didampingi Kabid Pemberantasan & Intelijen Kombes Pol Hairajadi, S.H., bersama sejumlah pihak terkait, termasuk Kejaksaan Provinsi Aceh, Balai POM, dan Dinas Kesehatan Aceh.

Brigjen Marzuki Ali Basyah menekankan pentingnya pemusnahan segera untuk menghindari potensi perubahan kualitas barang bukti akibat reaksi kimia.

“Pemusnahan ini bukan sekadar soal jumlah, tetapi soal menyelamatkan anak bangsa dari dampak narkotika,” ujar Marzuki.

Ia juga menekankan peran penting masyarakat dalam mendukung upaya pemberantasan narkotika melalui informasi yang akurat dan kerjasama dengan aparat hukum. Menurut BNNP Aceh, barang bukti tersebut merupakan hasil operasi yang dilakukan pada Oktober 2024, yang berhasil mengungkap dua paket sabu-sabu di Kota Lhokseumawe. Pemusnahan narkotika ini menunjukkan komitmen BNNP Aceh untuk terus berjuang menciptakan Aceh yang bebas dari narkoba.

Dengan pemusnahan ini, BNNP Aceh berharap masyarakat semakin sadar akan bahaya narkotika dan terus mendukung aparat dalam menjaga Aceh dari pengaruh barang terlarang tersebut.

Editor: Akil

Pengangguran di Aceh Turun 4.000 Orang, Sektor Pertanian Tetap Dominan

0
pengangguran
Ilustrasi Pengangguran (Foto: Pinterest)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Jumlah pengangguran di Aceh mengalami penurunan sebesar 4.000 orang dalam setahun terakhir, menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh. Pada Agustus 2024, jumlah pengangguran di provinsi ini tercatat mencapai 153 ribu orang, berkurang dibandingkan tahun sebelumnya.

Ahmadriswan Nasution, Kepala BPS Aceh, menjelaskan bahwa penurunan ini dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang positif, sehingga mampu menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.

“Selama periode Agustus 2023 hingga Agustus 2024, sebanyak 61.000 orang berhasil terserap ke dalam pasar kerja. Ini menurunkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Aceh menjadi 5,75%,” ungkap Ahmadriswan pada Kamis, 7 November 2024.

Selain itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Aceh turut meningkat menjadi 65,11%, naik 0,34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menunjukkan bahwa lebih banyak penduduk usia kerja yang aktif mencari pekerjaan.

Sektor Pertanian Masih Menyerap Tenaga Kerja Terbanyak

Ahmadriswan menambahkan bahwa sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar dalam penyerapan tenaga kerja di Aceh, yakni mencapai 37,47%. Di sisi lain, sektor perdagangan juga menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 14,65%.

Sektor-sektor ini membantu mendongkrak perekonomian Aceh, terutama di tengah tantangan ekonomi nasional yang masih berlangsung.

“Pertumbuhan di sektor perdagangan memberikan sinyal positif bagi ekonomi lokal yang semakin berkembang,” imbuhnya.

Peningkatan Kesetaraan Gender dalam Tenaga Kerja

Dalam hal kesetaraan gender, TPAK untuk laki-laki masih lebih tinggi, yaitu 80,68%, dibandingkan perempuan yang hanya mencapai 49,62%. Namun, kesenjangan ini sedikit membaik dibandingkan tahun lalu, menunjukkan adanya peningkatan kesempatan kerja bagi perempuan di Aceh.

Ahmadriswan juga menyebutkan bahwa jumlah penduduk usia kerja di Aceh mencapai 4,08 juta jiwa pada Agustus 2024, meningkat 66.000 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah ini, sebanyak 2,66 juta orang merupakan bagian dari angkatan kerja.

Dengan perkembangan positif ini, BPS Aceh optimistis tren penurunan pengangguran akan terus berlangsung seiring dengan perbaikan ekonomi di berbagai sektor.

Editor: Akil