Beranda blog Halaman 830

PT PEMA Dorong UMKM Aceh untuk Bersaing di Ajang Pitching Proposal Bisnis

0
PT PEMA Dorong UMKM Aceh untuk Bersaing di Ajang Pitching Proposal Bisnis. (Foto: PT PEMA)

NUKILAN.id | Banda Aceh — PT Pembangunan Aceh (Perseroda) bersinergi dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh menyelenggarakan acara Pitching Proposal Bisnis yang mempertemukan tujuh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari Aceh dengan para investor potensial. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (07/11/2024) di Landmark BSI ini bertujuan untuk memberikan wadah bagi UMKM lokal dalam menampilkan inovasi bisnis mereka.

Dalam acara ini, hadir berbagai pihak terkait, termasuk perwakilan DPMPTSP Aceh dan pelaku usaha. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mendukung peningkatan ekonomi daerah melalui pemberdayaan UMKM. Dengan ajang pitching ini, para peserta dapat menampilkan produk dan inovasi mereka, sekaligus berkesempatan mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis mereka ke tingkat yang lebih tinggi.

Ketujuh UMKM yang lolos seleksi dan terlibat dalam acara ini mengusung proposal yang mencakup sektor unggulan Aceh, seperti makanan dan minuman, produk perikanan, perkebunan, fashion, herbal, hingga produk rumah tangga. Para pelaku UMKM diberikan kesempatan untuk memaparkan rencana bisnis di hadapan dewan juri yang merupakan pakar di bidangnya.

Direktur Komersial PT PEMA, Almer Hafis Sandy, yang membuka acara ini, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen PT PEMA dalam mendukung keberlanjutan UMKM di Aceh.

“Kami yakin UMKM adalah tulang punggung perekonomian daerah. Dengan memberikan akses kepada sumber daya dan jaringan yang tepat, kami berharap pertumbuhan UMKM dapat lebih pesat dan dapat bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Analis Kebijakan Ahli Muda DPMPTSP Aceh, Nizar Wahyudi, S.Sos., M.M., yang mewakili Kepala DPMPTSP Aceh, menyampaikan bahwa pemerintah akan terus berupaya menyediakan fasilitas dan kemudahan bagi UMKM di Aceh.

“Kami mendukung penuh acara seperti ini karena dapat meningkatkan daya saing UMKM Aceh melalui akses modal yang lebih luas serta memperkuat jaringan bisnis mereka,” kata Nizar.

Setelah presentasi, para peserta juga mendapat kesempatan berdiskusi langsung dengan dewan juri, membuka peluang untuk menjajaki potensi kerja sama dan pendanaan bagi pengembangan bisnis mereka. Selain itu, acara ini turut memperkenalkan produk-produk lokal kepada masyarakat dan membantu menciptakan peluang kerja yang lebih luas di Aceh.

Diharapkan, acara ini menjadi langkah awal bagi UMKM Aceh untuk berkembang lebih cepat, memperluas pasar, dan memberikan dampak positif bagi perekonomian Aceh.

Tentang PT PEMA

PT PEMA merupakan perusahaan yang berkomitmen mendukung pengembangan UMKM di Indonesia dengan program-program pelatihan, pendampingan, dan jaringan bisnis. Dengan pengalaman dan koneksi yang luas, PT PEMA berupaya mempercepat inovasi dan transformasi digital di sektor UMKM, termasuk di Aceh, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di seluruh Indonesia.

Editor: Akil

Alumni LPDP yang Tetap di Luar Negeri Harus Kantongi Izin Pemerintah

0
Ilustrasi LPDP. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Jakarta – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, menegaskan pentingnya izin pemerintah bagi alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang memilih untuk tidak kembali ke Indonesia setelah studi. Izin ini diperlukan terutama bagi mereka yang akan bekerja di lembaga internasional.

“Bagi yang ingin menetap di luar negeri, harus ada persetujuan dari pemerintah, baik untuk bekerja di lembaga internasional atau menjadi perwakilan Indonesia di lembaga-lembaga yang berkelas dunia,” ujar Prof. Satryo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (6/11/2024).

Penerima Beasiswa dengan Ikatan Dinas Wajib Pulang

Menurut Prof. Satryo, alumni beasiswa LPDP umumnya diwajibkan pulang ke Indonesia, khususnya bagi penerima yang memiliki ikatan dinas di instansi pemerintahan.

“Kalau penerima beasiswa dengan ikatan dinas, seperti pegawai departemen yang dikirim untuk studi di luar negeri, mereka wajib kembali setelah selesai belajar. Tapi, untuk yang tanpa ikatan dinas, pemerintah tidak bisa memaksakan mereka kembali karena ada kondisi tertentu, seperti belum tersedianya pekerjaan yang sesuai di Indonesia,” jelasnya.

Bagi alumni yang bekerja di lembaga internasional dan membawa nama baik Indonesia, pengecualian untuk menetap di luar negeri dapat diberikan.

Kontribusi dari Luar Negeri Masih Bisa Mengharumkan Indonesia

Prof. Satryo memahami adanya kekhawatiran masyarakat terkait dana negara dari pajak yang digunakan untuk membiayai pendidikan di luar negeri. Namun, ia menekankan bahwa kontribusi kepada Indonesia tidak harus selalu dilakukan dari dalam negeri.

“Jika alumni berprestasi di luar negeri dan membawa nama Indonesia dengan baik, tentu itu juga membanggakan bagi bangsa. Mereka pasti akan kembali suatu saat,” tambahnya.

Sebagian Besar Alumni LPDP Telah Pulang

Prof. Satryo menegaskan bahwa hampir semua penerima beasiswa LPDP sudah pulang ke Indonesia, kecuali sebagian kecil yang masih melanjutkan studi mereka.

“Data kami menunjukkan bahwa mayoritas sudah kembali ke Tanah Air,” pungkasnya.

Editor: Akil

Kronologi Kekacauan di Amsterdam: Suporter Israel Membakar Bendera Palestina dan Rusak Taksi

0
Suporter Israel Membakar Bendera Palestina dan Rusak Taksi. (Foto: AFP)

NUKILAN.id | Amsterdam Ketegangan meledak di Amsterdam usai laga antara klub sepak bola Israel, Maccabi Tel Aviv, dan tuan rumah Ajax Amsterdam pada Kamis malam (7/11/2024). Suporter Israel dilaporkan mengalami serangan brutal usai pertandingan tersebut.

Menurut laporan dari AFP pada Sabtu (9/11/2024), sekelompok suporter Israel yang baru keluar dari stadion dikejutkan dengan serangan tabrak lari. Mereka kemudian dipukuli dan ditendang sebelum para pelaku kabur. Bentrokan ini adalah puncak dari serangkaian ketegangan yang terjadi sehari sebelumnya, Rabu malam (6/11/2024), ketika para pendukung Maccabi Tel Aviv merobek bendera Palestina, membakar simbol tersebut, dan merusak sebuah taksi di alun-alun utama Kota Amsterdam.

Polisi Amankan Situasi dan Cegah Bentrokan Lebih Lanjut

Kepala Polisi Amsterdam, Peter Holla, menjelaskan bahwa situasi pada Rabu malam sempat memanas, namun berhasil dikendalikan.

“Polisi turun tangan untuk mencegah bentrokan lebih besar antara suporter Israel dan pengemudi taksi yang marah,” ujarnya. “Kami berhasil mengawal para pendukung Israel menjauh dari lokasi untuk menghindari konfrontasi.”

Meski pertandingan berlangsung tanpa insiden dan Ajax bahkan memuji perilaku kedua suporter selama pertandingan, kekerasan kembali pecah ketika para penggemar mulai meninggalkan stadion. Sekelompok pria dengan skuter dilaporkan menabrak, memukul, dan menendang suporter Israel yang tengah berjalan pulang, sebelum kembali kabur. Kelompok ini juga melancarkan aksi kekerasan di beberapa titik di Amsterdam, termasuk melemparkan kembang api ke arah para suporter Israel.

Korban Luka dan Pengamanan Ketat

Akibat bentrokan ini, lima orang suporter Israel mengalami luka serius dan harus dilarikan ke rumah sakit, sementara sekitar 20 hingga 30 lainnya mendapat luka ringan. Walikota Amsterdam, Femke Halsema, menyatakan bahwa insiden ini sangat disesalkan dan mengakibatkan ketegangan yang tidak diinginkan di kota.

Demi memastikan ketertiban, polisi mengerahkan sekitar 800 personel, termasuk satuan berkuda, pawang anjing, unit pengintai, satuan mobil, hingga meriam air. Kepala polisi Peter Holla menyebutkan bahwa pengerahan ini adalah salah satu yang terbesar yang pernah dilakukan di Amsterdam.

“Kami siap menghadapi situasi ini. Persiapan sudah dilakukan berhari-hari sebelum pertandingan,” tegas Holla, menepis anggapan bahwa kepolisian tidak siap menghadapi insiden tersebut.

Sebagai tindak lanjut, sebanyak 62 orang telah ditangkap atas dugaan keterlibatan dalam aksi kekerasan ini. Sebagian besar dari mereka didenda dan segera dibebaskan. Pemerintah setempat berharap bahwa penangkapan ini dapat mencegah bentrokan susulan, terutama dengan diadakannya aksi protes pro-Palestina yang digelar bersamaan dengan kedatangan Maccabi Tel Aviv di Amsterdam.

Insiden ini menjadi sorotan publik dan turut mengundang perhatian Perdana Menteri Belanda, yang menyampaikan permohonan maaf atas bentrokan tersebut.

Editor: Akil

Pendaftaran Lomba Bercerita Anak RRI Banda Aceh Diperpanjang hingga 11 November

0
Pendaftaran Lomba Bercerita Anak RRI Banda Aceh Diperpanjang hingga 11 November. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh — LPP RRI Banda Aceh memperpanjang masa pendaftaran Lomba Bercerita Anak hingga 11 November 2024 pukul 10.00 WIB. Perpanjangan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih luas bagi anak-anak di Aceh untuk menyalurkan bakat bercerita mereka.

Lomba ini terbuka bagi anak-anak usia Sekolah Dasar, yang akan mendapatkan kesempatan untuk menampilkan kemampuan bercerita sesuai tema yang ditentukan. Selain menyenangkan, lomba ini juga bertujuan untuk mengasah kemampuan berbicara dan meningkatkan rasa percaya diri.

Ketua Panitia, Dian Isnaini, menyebutkan bahwa perpanjangan waktu pendaftaran ini ditujukan bagi anak-anak yang baru mengetahui informasi lomba atau yang sebelumnya belum sempat mendaftar. Pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui situs resmi RRI Banda Aceh atau kontak yang telah disediakan.

Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai aturan, ketentuan, dan teknis lomba, RRI Banda Aceh menyediakan informasi lengkap yang dapat diakses melalui kanal media sosial mereka. Panitia juga siap membantu peserta dengan panduan dan menjawab semua pertanyaan terkait lomba ini.

Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk mendaftarkan diri dalam Lomba Bercerita Anak RRI Banda Aceh dan tunjukkan bakat Anda dalam dunia bercerita. Pendaftaran berakhir pada 11 November 2024 pukul 10.00 WIB, jadi segera daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari pengalaman yang berharga ini.

Editor: Akil

Museum Tsunami Aceh Tutup Sementara pada 10 November 2024

0
Museum Tsunami (Foto: Antara)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Museum Tsunami Aceh akan tutup sementara pada hari Minggu, 10 November 2024. Pengunjung hanya dapat mengakses museum tersebut pada pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB. Setelah jam tersebut, museum akan ditutup untuk sementara waktu.

Dilansir dari unggahan di akun Instagram resmi Museum Tsunami dan Disbudpar Aceh, menginformasikan bahwa operasional museum akan kembali normal pada hari Senin, 11 November 2024. Pihak museum juga meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh perubahan jam operasional tersebut.

Pengunjung yang berniat mengunjungi museum pada tanggal tersebut diharapkan menyesuaikan waktu kedatangan agar dapat menikmati koleksi sejarah dan edukasi terkait bencana tsunami yang melanda Aceh pada 2004. Museum Tsunami Aceh, yang berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan pengingat akan tragedi tersebut, tetap menjadi salah satu destinasi wisata edukatif utama di Banda Aceh.

Masyarakat diminta untuk tetap mengikuti informasi terbaru melalui media sosial resmi Museum Tsunami Aceh dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh (Disbudpar) untuk memastikan jam operasional yang tepat.

Pemerintah Diminta Komitmen Tangani Pengungsi Rohingya di Indonesia

0
Pengungsi Rohingya. (Foto: Nukilan/Sammy)

Nukilan.id – Pengamat politik dari Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, Teuku Kemal Fasya meminta Pemerintah Indonesia memiliki komitmen untuk menangani kasus pengungsi Rohingya yang terdampar di Indonesia.

Menurut Kemal, walaupun Indonesia belum meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951 dan Protocol 1967, Presiden Joko Widodo sudah pernah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri.

“Kita harus ada komitmen untuk menolong orang-orang yang terusir dari negara lain untuk ikut membantulah dalam konteks darurat saja kalau kemudian tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Misalnya jadi tempat transit. Selanjutnya kita serahkan kasus ini kepada UNHCR untuk dicarikan solusinya,” ujar Teuku Kemal Fasya kepada Nukilan, Jumat (8/11/2024).

Karena itu, kata Kemal, masyarakat tidak seharusnya mengusir pengungsi Rohingya kembali ke lautan. Karena mereka mengungsi dari tempat asal mereka lantaran ancaman yang membahayakan nyawa mereka. Karena itu, mereka mengungsi ke negara lain untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Atas alasan itulah, kata Kemal, mereka tidak bisa disamakan dengan imigran gelap yang mencari kerja ke negara lain, tapi sebagai pengungsi yang ingin menyelamatkan hidup mereka dari konflik dan pembunuhan yang terjadi di daerah asal mereka.

“Tapi ini mereka cari biar nyawanya tidak hilang, itu saja. Itu sudah sangat terdesak, mereka mencari tempat yang kira-kira mereka bisa untuk hidup karena kalau tetap di kampung mereka bakal mati. Jadi beda dengan imigran gelap,” tuturnya. []

Reporter: Sammy

Pengamat: Jangan Samakan Pengungsi Rohingya dengan Israel

0
Pengungsi Rohingya. (Foto: Nukilan/Reji)

Nukilan.id – Pengamat politik dari Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, Teuku Kemal Fasya mengatakan sentimen negatif terhadap pengungsi Rohingya mulai berkembang sejak tahun 2023 lalu. Saat itu, kata Kemal, ada pengarahan opini terutama dari TNI-AL yang menjaga kelautan yang menyatakan bahwa kedatangan para pengungsi Rohingya ke Indonesia ini bisa membahayakan integritas Indonesia.

“Wacana itu kemudian beresonansi juga di media sosial. Ada BEM suatu kampus swasta Waktu itu yang melakukan demonstrasi dan pengusiran terhadap pengungsi Rohingya yang menumpang di Balai Meuseuraya Aceh. Gelombang antipatinya dimulai pada saat ini. Padahal, sebelumnya kita sangat welcome dengan mereka,” ujar Teuku Kemal Fasya kepada Nukilan, Jumat (8/11/2024).

Kemal menambahkan, imaginasi ini kemudian disamakan dengan perilaku orang Yahudi Israel yang kemudian menjajah bangsa Palestina. Menurut Kemal, ini merupakan analogi yang tidak masuk akal karena situasinya berbeda.

“Ketika orang Yahudi datang ke Palestina setelah Perang Dunia ke-II itu kan mereka dibackup oleh kekuatan dunia saat itu, di antaranya adalah Amerika Serikat dan Inggris. Jadi jangan disamakan dengan para pengungsi Rohingya ini, mereka warga yang tidak ada kewarganegaraan,” sebut Kemal.

Sebelumnya, sebanyak 152 pengungsi Rohingya yang didatangkan dari Aceh Selatan ditolak oleh warga Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Sebelumnya mereka mendarat di Labuhan Haji, Aceh Selatan. Para pengungsi didatangkan dengan lima truk dan tiba di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) Aceh sekitar pukul 09.30 WIB. Sekitar pukul 20.55 WIB, para pengungsi diminta naik kembali ke truk dan diantarkan pulang ke Aceh Selatan. []

Reporter: Sammy

Terkait Penanganan Pengungsi Rohingya, MPU: Tanya Sama Pj Gubernur

0
Pengungsi Rohingya. (Foto: Nukilan.id/Sammy)

Nukilan.id – Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Faisal Ali alias Lem Faisal mengatakan bahwa terkait penanganan pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh diserahkan dan bisa ditanyakan langsung kepada Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Safrizal ZA, MSi. Hal tersebut disampaikan Lem Faisal menanggapi kasus 152 orang pengungsi Rohingya yang ditolak di Banda Aceh, Kamis (7/11/2024).

“(Penanganan pengungsi Rohingya) tanya sama Pj Gubernur,” ujar Lem Faisal singkat saat dikonfirmasi Nukilan, Rabu (8/11/2024).

Sebelumnya, Pj Gubernur Aceh, Safrizal ZA, Msi mengatakan pada dasarnya pemerintah provinsi dan kabupaten/kota tidak memiliki kewenangan menangani para pengungsi Rohingya. Namun, mereka harus ditolong atas nama kemanusiaan.

“Dari aspek kemanusiaan kita berempati dan menolong. Tetapi sembari berempati dan menolong, hukum juga harus ditegakkan terhadap kasus penyelundupan ini,” kata Safrizal ZA, dikutip dari Antara, Kamis (31/10/2024).

Diberitakan sebanyak 152 pengungsi Rohingya yang didatangkan dari Aceh Selatan ditolak oleh warga Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Sebelumnya mereka mendarat di Labuhan Haji, Aceh Selatan. Para pengungsi didatangkan dengan lima truk dan tiba di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) Aceh sekitar pukul 09.30 WIB.

Sekitar pukul 19.15 WIB, mereka dibawa ke Simpang Mesra, Lamnyong dan menunggu hingga dua jam. Sekitar pukul 20.55 WIB, para pengungsi diminta naik kembali ke truk dan diantarkan pulang ke Aceh Selatan. []

Reporter: Sammy

UUI Gelar Pelatihan Pembuatan dan Pemasaran Teh Herbal Makjun untuk UMKM Desa Klieng Meuria

0
UUI Gelar Pelatihan Pembuatan dan Pemasaran Teh Herbal Makjun untuk UMKM Desa Klieng Meuria. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI), melalui Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa), mengadakan pelatihan pembuatan dan strategi pemasaran Teh Herbal Makjun bagi pelaku UMKM di Desa Klieng Meuria, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar. Acara yang berlangsung pada Kamis (7/11/2024) di Plenary Hall UUI ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan dan pemasaran produk herbal lokal, yang mengangkat kearifan Aceh.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah ahli, antara lain Dr. Zumaidar MSi dan Prof. Dr. Hafasnuddin dari Universitas Syiah Kuala (USK), serta Dr. Saudah MSi, seorang pakar herbologi dari Universitas Serambi Mekkah. Selain itu, tim Kosabangsa UUI, yang terdiri dari Dr. Mutiawati SPd MPd, Eva Rosdiana SST MKM, dan Rulia Meilina SFarm MSi, juga turut berperan aktif dalam kelancaran acara tersebut.

Meningkatkan Kualitas Produk UMKM Lokal

Pelatihan dimulai dengan sesi pemaparan tentang strategi pemasaran Teh Herbal Makjun yang disampaikan oleh Prof. Dr. Hafasnuddin. Setelah itu, para peserta, yang terdiri dari kader PKK dan ibu rumah tangga setempat, diajak untuk langsung berpraktik membuat Teh Herbal Makjun di Laboratorium Farmasi UUI. Dalam sesi praktek ini, mereka dibimbing dalam proses pembuatan dan pengemasan produk, dengan menggunakan dua jenis kemasan, yaitu serbuk dalam standing pouch dan tea bag yang dikemas dalam kotak teh.

Teh Herbal Makjun adalah ramuan tradisional khas Aceh yang terkenal akan khasiatnya untuk mempercepat pemulihan ibu pasca melahirkan. Produk ini menjadi pilihan unggulan yang diharapkan dapat mendukung kesehatan dan kesejahteraan ibu, sekaligus membuka peluang pemberdayaan ekonomi bagi ibu rumah tangga di desa tersebut.

Inovasi untuk Pemberdayaan Masyarakat

Dr. Mutiawati SPd MPd, Ketua Tim Kosabangsa sekaligus Plt Rektor UUI, menjelaskan bahwa pengembangan Teh Herbal Makjun ini merupakan bagian dari inovasi UUI dalam mengintegrasikan hasil riset ke dalam kegiatan pengabdian masyarakat.

“Melalui pengembangan produk herbal tradisional Aceh ini, kami berharap dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama ibu-ibu PKK dan ibu rumah tangga di Desa Klieng Meuria,” ujarnya.

Dalam rangka mendukung keberlanjutan produk tersebut, tim Kosabangsa juga menyerahkan bahan baku dan alat yang diperlukan untuk pembuatan Teh Herbal Makjun kepada perwakilan UMKM Desa Klieng Meuria. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa produk lokal ini dapat berkembang dan diproduksi secara berkelanjutan.

Dukungan untuk UMKM Lokal

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian upaya UUI dalam mendukung pengembangan UMKM di Aceh, yang sebelumnya telah menggelar workshop dua hari tentang “Pengembangan UMKM Ramuan Tradisional Aceh” pada 25-26 Oktober 2024. Selain pelatihan pembuatan dan pemasaran, acara ini juga mengundang partisipasi aktif masyarakat lokal, seperti Keuchik Klieng Meuria dan kelompok ibu rumah tangga yang terlibat dalam pengembangan produk UMKM desa.

Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan UMKM Desa Klieng Meuria dapat meningkatkan kualitas produk mereka dan membuka peluang pasar yang lebih luas, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Langkah Menuju Kemandirian Ekonomi Masyarakat

Melalui kegiatan ini, UUI dan mitra kerjanya berharap dapat berperan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat Aceh, khususnya Desa Klieng Meuria, agar semakin makmur dan mandiri. Dengan memanfaatkan kekayaan lokal dan inovasi produk, UMKM di daerah tersebut memiliki potensi besar untuk tumbuh dan berkembang, serta memperkenalkan kearifan Aceh ke pasar yang lebih luas.

Dengan upaya ini, Teh Herbal Makjun tidak hanya menjadi produk unggulan, tetapi juga simbol keberhasilan kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah dalam memajukan perekonomian lokal Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Memetik Pelajaran dari Pengabdian: Perjuangan Mahasiswa Keperawatan di RSUD dr. Zainoel Abidin

0
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin. (Foto: Humas RSUDZA)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Setiap pagi sebelum matahari sepenuhnya menyinari kota Banda Aceh, Asyraf Rahman sudah mengenakan seragam putih bersih, lengkap dengan stetoskop yang tergantung di lehernya. Langkah-langkah kakinya yang mantap menuju bangsal perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainoel Abidin adalah bukti nyata perjuangan dalam dunia ekonomi perawatan, sebuah sektor yang sering luput dari perhatian, tetapi menopang kebutuhan esensial kehidupan manusia.

Bersama puluhan rekan mahasiswa lain dari Program Studi Keperawatan Universitas Syiah Kuala, Asyraf menjalani masa co-assistensi (co-ass). Masa ini, yang biasa disebut sebagai tahap akhir pendidikan sebelum resmi menyandang gelar perawat profesional, bukan hanya tentang belajar teori medis dan praktik klinis, tetapi juga tentang menghadapi kenyataan hidup yang penuh tantangan.

“Di sini kami tidak hanya belajar merawat pasien secara fisik,” ujar Asyraf dengan mata yang sedikit memerah karena kurang tidur. “Kami juga harus belajar memahami rasa takut, cemas, dan harapan mereka. Ada tanggung jawab besar untuk memberikan perhatian yang tulus.”

Beban yang ditanggung oleh mahasiswa keperawatan dalam co-ass tidak ringan. Dari pagi hingga larut malam, mereka bergiliran memantau kondisi pasien, memberikan obat, hingga membantu prosedur medis yang rumit. Semua dilakukan dengan tingkat kewaspadaan tinggi, sering kali dengan istirahat yang minim. Perjuangan ini semakin berat ketika mereka harus mengelola emosi saat menghadapi pasien yang dalam kondisi kritis atau bahkan kehilangan nyawa.

“Kami pernah merawat seorang pasien lansia yang dirawat akibat stroke. Setiap harinya, keluarga pasien menunggu dengan cemas,” cerita Sarah Fitriani, salah satu mahasiswa keperawatan lainnya. “Ketika akhirnya beliau meninggal, kami ikut merasakan duka yang dalam. Itu mengajarkan saya bahwa perawatan bukan hanya tentang tindakan medis, tapi juga pendampingan hati.”

Meski mereka berada di garis depan perawatan kesehatan, mahasiswa co-ass sering kali menghadapi stigma dari masyarakat. Banyak yang memandang pekerjaan mereka sebagai tugas bawahan dibandingkan dokter atau spesialis. Padahal, peran perawat adalah elemen inti dalam sistem kesehatan.

“Ada saat di mana saya merasa diremehkan,” kata Ridwan Aziz, dengan suara tenang. “Tapi saya ingat bahwa merawat orang sakit adalah panggilan jiwa. Meskipun kerja kami terkadang tak terlihat, dampaknya nyata bagi setiap pasien yang kembali pulih.”

Ekonomi perawatan (care economy) adalah fondasi yang menopang masyarakat sehat dan produktif. Pekerjaan yang dilakukan mahasiswa keperawatan—dari mengurus pasien hingga menjaga kebersihan diri mereka—merupakan bentuk nyata dari investasi sosial yang sering kali tidak dihitung dalam angka-angka produk domestik bruto (PDB).

Menurut sebuah laporan dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), pekerjaan di sektor perawatan menyumbang signifikan terhadap perekonomian global, tetapi tetap kurang dihargai secara finansial dan sosial. Banyak negara kini mulai mendorong pengakuan lebih besar terhadap sektor ini, termasuk memberikan perlindungan kerja yang lebih baik dan pengupahan layak bagi tenaga perawat dan pengasuh.

Bagi mahasiswa keperawatan Universitas Syiah Kuala, menjalani co-ass adalah perjalanan pengorbanan dan pelajaran hidup yang tak tergantikan. “Saya ingin menjadi perawat yang tak hanya terampil secara klinis, tapi juga memiliki empati tinggi,” ujar Sarah. “Pengalaman ini menanamkan rasa hormat yang mendalam terhadap semua orang yang bekerja di bidang perawatan.”

Langkah kecil Asyraf, Sarah, dan Ridwan di koridor rumah sakit adalah simbol dari harapan besar. Mereka membuktikan bahwa ekonomi perawatan bukan hanya tentang angka dan statistik, melainkan tentang manusia yang merawat manusia lain, dengan cinta, kehangatan, dan kemanusiaan. Di balik setiap pasien yang sembuh, ada cerita perjuangan tanpa henti dari mereka yang memilih jalan ini dengan sepenuh hati.

Repporter: Akil