Beranda blog Halaman 827

54 Negara Sepakati Deklarasi Aceh pada Simposium Global Tsunami di Banda Aceh

0
Chair of The Programming Committee Second UNESCO-IOC Global Tsunami Symposium Harkunti P. Rahayu ditemui disela-sela forum simposium di Banda Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sebanyak 54 negara peserta Forum Second UNESCO-IOC Global Tsunami Symposium di Banda Aceh, Senin (11/11/2024), mencapai kesepakatan penting dalam upaya mitigasi bencana tsunami global, yang dituangkan dalam Deklarasi Aceh. Deklarasi ini disusun sebagai panduan langkah mitigasi tsunami untuk dua dekade ke depan.

Simposium yang berlangsung dari 10 hingga 14 November 2024 ini merupakan kolaborasi antara UNESCO-IOC dan Pemerintah Indonesia melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Tema utama yang diusung adalah penguatan mitigasi bencana berbasis teknologi dan peran serta masyarakat dalam menghadapi potensi tsunami, terutama di wilayah rawan bencana seperti Samudra Hindia, Karibia, Mediterania, dan Laut Utara.

“Deklarasi Aceh adalah intisari dari pengalaman dan refleksi para delegasi mengenai penanganan tsunami dalam 20 tahun terakhir. Tujuannya untuk membentuk langkah konkret guna mengurangi risiko tsunami di masa depan,” ungkap Harkunti P. Rahayu, Ketua Komite Program Simposium UNESCO-IOC, di sela-sela acara tersebut.

Harkunti menambahkan bahwa dunia belajar banyak dari tragedi tsunami Aceh pada 2004 yang menyebabkan kerusakan masif dan kehilangan jutaan nyawa di kawasan Samudra Hindia. Kini, pengalaman itu menjadi acuan bagi berbagai negara, termasuk Jepang, Seychelles, Bangladesh, India, Uni Emirat Arab, Maroko, China, dan negara-negara Amerika Selatan, untuk memperkuat langkah mitigasi melalui Deklarasi Aceh.

Penguatan Teknologi dan Peran Masyarakat

Para ahli di simposium ini menekankan pentingnya strategi mitigasi yang berbasis teknologi dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

“Kedua aspek ini sangat dibutuhkan, khususnya di wilayah Samudra Hindia dan sekitarnya,” ujar Harkunti.

Sistem peringatan dini tsunami Indonesia, yaitu Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), yang dioperasikan oleh BMKG, juga mendapat perhatian khusus dalam Deklarasi Aceh. Sistem ini, yang mulai dikembangkan dua tahun setelah tsunami 2004, telah dilengkapi dengan teknologi sensor canggih berbasis Artificial Intelligence (AI) dan big data. Teknologi ini kini menjadi andalan bagi 28 negara di kawasan dalam merespons ancaman tsunami.

“InaTEWS menjadi model yang menunjukkan bagaimana inovasi dapat dikembangkan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana,” tutur Harkunti, yang juga Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia.

Deklarasi Aceh diharapkan menjadi panduan internasional yang menekankan kesiapan komunitas global dalam menghadapi potensi bencana tsunami, dengan peran aktif masyarakat dan dukungan teknologi yang terus berkembang.

Editor: Akil

Prestasi Gemilang MTsN 1 Banda Aceh di Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2024

0
Prestasi Gemilang MTsN 1 Banda Aceh di Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2024. (Foto: Pendis)

NUKILAN.id | Banda Aceh Siswa-siswa dari Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Banda Aceh kembali mencatatkan prestasi nasional membanggakan. Razita Naila dan Atidya Achmad, siswa MTsN 1 Banda Aceh, berhasil meraih Juara Pertama dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2024 kategori Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Dengan penelitian bertajuk “Karakterisasi Senyawa Fitokimia Minyak Nilam Aceh Hasil Distilasi-Molecular sebagai Bahan Aktif Penyembuhan Luka Diabetes Melitus,” mereka mampu mengalahkan puluhan peserta lainnya dari seluruh Indonesia.

Penghargaan bergengsi ini diumumkan dalam acara puncak di Novotel Mangga Dua, Jakarta. Kemenangan Razita dan Atidya menjadi kebanggaan bagi MTsN 1 Banda Aceh serta masyarakat Aceh. Berkat kerja keras dan dukungan para guru pembimbing serta tim peneliti dari ARC-PUIPT Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala, mereka berhak membawa pulang hadiah uang tunai Rp15 juta serta sertifikat penghargaan.

Razita mengungkapkan rasa syukur atas capaian ini. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada kepala sekolah, guru pembimbing, serta ARC Universitas Syiah Kuala yang telah membantu kami dari awal,” ucapnya. “Semoga prestasi ini menjadi kebanggaan kecil dari MTsN 1 Banda Aceh untuk Aceh di tingkat nasional,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Kepala MTsN 1 Banda Aceh, Ummi Yani, turut mengapresiasi prestasi para siswanya.

“Prestasi ini sangat membanggakan madrasah, dan kami berharap mereka terus bersemangat melakukan penelitian inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar Ummi Yani.

Selaku koordinator riset, Nurmahni Harahap, juga mengungkapkan rasa haru atas kerja keras siswa-siswinya, yang tak hanya menyelesaikan penelitian namun juga berhasil mengesankan dewan juri di tahap expo.

Tidak berhenti pada medali emas di bidang IPA, MTsN 1 Banda Aceh juga berhasil merebut medali perak dalam kategori Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kebudayaan yang diraih oleh Najla Asheila. Ajang OPSI, yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), berkomitmen untuk mengembangkan karakter inovatif dan kritis siswa melalui kompetisi ilmiah yang mendorong kebebasan berpikir.

Prestasi MTsN 1 Banda Aceh ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lainnya di Aceh dan seluruh Indonesia, untuk terus mendukung pengembangan riset siswa yang inovatif dan membawa dampak positif bagi masyarakat.

Editor: Akil

Dua Rumah Warga di Aceh Singkil Hangus Terbakar, Delapan Jiwa Mengungsi

0
Dua Rumah Warga di Aceh Singkil Hangus Terbakar, Delapan Jiwa Mengungsi. (Foto: BPBA)

NUKILAN.id | Singkil – Kebakaran melanda Desa Suka Makmur, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Senin (11/11/2024) dini hari, sekitar pukul 03.15 WIB. Dua rumah warga hangus dilalap api, mengakibatkan kerusakan berat dan memaksa delapan jiwa dari tiga keluarga untuk mengungsi. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Singkil segera merespons dengan mengerahkan dua armada pemadam kebakaran beserta personel Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi untuk memadamkan api. Menurut BPBD, api berhasil dipadamkan dalam waktu singkat, dan saat ini petugas tengah melakukan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi menyebabkan kebakaran lanjutan.

Hingga saat ini, warga yang terdampak masih berada di tempat pengungsian sementara, dan pihak berwenang terus memantau kondisi mereka serta memberikan bantuan darurat.

Editor: Akil

Pj Gubernur Aceh Ajak Dunia Tingkatkan Kesiapsiagaan Tsunami di Simposium Global

0
Pj Gubernur Aceh Ajak Dunia Tingkatkan Kesiapsiagaan Tsunami di Simposium Global. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Penjabat Gubernur Aceh, Dr. H. Safrizal ZA, M.Si., mengajak dunia internasional untuk memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman tsunami. Ajakan ini disampaikan dalam Gala Dinner pembukaan 2nd Unesco IOC Global Tsunami Symposium di Hermes Hotel Banda Aceh pada Minggu malam (10/11). Acara ini dihadiri oleh para tokoh internasional, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara, serta mengusung tema “Two Decades After 2004 Indian Ocean Tsunami: Reflection and the Way Forward”.

Dalam sambutannya, Safrizal mengucapkan selamat datang kepada para peserta dan menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak dalam mengingat kembali peristiwa tsunami 2004 yang menghantam Aceh. Ia menyebut bahwa simposium ini adalah momentum penting untuk merefleksikan dua dekade sejak bencana besar tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi global untuk mitigasi bencana.

“Atas nama Pemerintah Aceh dan seluruh masyarakat, kami ucapkan selamat datang di Aceh, wilayah yang pernah dirundung musibah besar namun kini bangkit dengan ketegaran,” ucapnya.

Safrizal juga mengapresiasi peran UNESCO-IOC dan BMKG dalam menyelenggarakan simposium ini, serta menyampaikan pentingnya pertemuan ini untuk memperkuat sistem peringatan dini dan teknologi mitigasi.

Lebih lanjut, Safrizal menyoroti tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, yang menurutnya memerlukan langkah kesiapsiagaan yang lebih komprehensif.

“Perubahan iklim dan dinamika global lainnya terus menghadirkan tantangan baru. Penting bagi kita untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk daerah terpencil, dalam upaya mitigasi bencana,” tegasnya, menekankan komitmen Aceh untuk terus memperbarui data dan sistem peringatan yang tepat.

Acara ini diharapkan tidak hanya menjadi momen refleksi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi konkret untuk upaya mitigasi tsunami yang lebih efektif di masa depan. Sebagai daerah yang memiliki pengalaman langsung menghadapi dampak tsunami, Aceh, kata Safrizal, siap berkontribusi dalam berbagi pengetahuan dengan dunia untuk menghadapi ancaman bencana alam yang tak terduga. Ia berharap simposium ini mempererat solidaritas global dalam menghadapi bencana tsunami.

Simposium yang berlangsung selama beberapa hari ini akan diisi dengan berbagai diskusi mendalam dan presentasi hasil riset terbaru. Para peserta akan membahas strategi inovatif dan tantangan mitigasi di era perubahan iklim, dengan harapan tercapainya kesepakatan untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam menghadapi ancaman tsunami di masa mendatang.

Editor: Akil

Polisi Tangkap Dua Kurir Ganja di Langkat, Sita 272 Kg Ganja Siap Edar

0
Ilustrasi Ganja Siap Edar. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Medan — Tim Khusus Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Utara berhasil menggagalkan upaya penyelundupan ganja seberat 272 kilogram yang dibawa dari Aceh. Penangkapan dua kurir yang membawa barang haram tersebut terjadi pada Sabtu (9/11/2024) dini hari di Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Kepala Bidang Humas Polda Sumut, Kombes Hadi Wahyudi, mengonfirmasi penangkapan dua pelaku berinisial S alias I (37) dan DA (30), keduanya warga Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh.

“Penangkapan ini bermula dari informasi terkait kendaraan yang membawa ganja dari Aceh menuju Medan,” jelas Hadi pada Senin (11/11/2024).

Tim Ditresnarkoba melakukan penyelidikan setelah menerima informasi tersebut. Dengan cepat, mereka mengidentifikasi kendaraan yang diduga kuat membawa ganja tersebut.

“Setelah mengidentifikasi kendaraan, tim bergerak ke perbatasan Aceh-Sumut dan melakukan pemantauan hingga berhasil menghentikan mobil di kawasan Jalan Thamrin, Pangkalan Brandan,” kata Hadi.

Dalam upaya penangkapan, kedua kurir sempat melawan petugas dan mencoba kabur. Namun, aksi tersebut berhasil digagalkan setelah polisi menembak ban mobil yang dikendarai pelaku, memaksa kendaraan tersebut berhenti.

“Setelah kendaraan berhasil dihentikan, petugas langsung menangkap S alias I dan DA,” ujar Hadi.

Dari mobil tersebut, polisi menemukan 11 karung berisi ganja dengan total berat mencapai 272 kilogram yang disimpan di kursi tengah dan bagasi belakang mobil. Ganja itu rencananya akan dikirimkan ke luar Pulau Sumatera.

“Kami juga sudah mengidentifikasi tersangka lain yang diduga sebagai pemilik ganja ini dan saat ini tengah mendalami jaringan distribusi mereka,” tambah Hadi.

Aksi cepat dan terukur dari polisi dalam menggagalkan penyelundupan ini diharapkan dapat menekan distribusi narkoba di wilayah Sumatera dan sekitarnya.

Editor: Akil

Pj Gubernur: Aceh Selalu Ingat Dukungan Amerika Serikat dalam Pemulihan Pasca-Tsunami

0
Masyarakat Aceh Kenang Dukungan Amerika Serikat dalam Pemulihan Pasca-Tsunami. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam upaya memperingati dua dekade pasca-tsunami 2004, Masyarakat Aceh menyampaikan apresiasi mendalam kepada Amerika Serikat atas bantuan cepat dan tulus yang diberikan pada masa-masa sulit tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Dr. H. Safrizal ZA, M.Si., dalam pembukaan pameran bertajuk “Kemitraan yang Tangguh” yang diselenggarakan oleh USAID di Museum Tsunami Aceh, Minggu (10/11/2024).

“Masyarakat Aceh pasti mengingat dan berterima kasih kepada pemerintah dan rakyat Amerika Serikat atas dukungan yang sangat membantu kami dalam proses pemulihan. Bantuan tersebut tidak hanya cepat, tapi juga tulus, menjadi bagian yang tak terlupakan dari sejarah kami,” ujar Safrizal di hadapan para tamu undangan.

Dukungan Tanggap dari Militer AS

Safrizal mengenang kehadiran kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, yang berada dekat Aceh saat bencana terjadi, memungkinkan bantuan tiba dengan sangat cepat.

“Saya ada di Aceh saat itu dan menyaksikan langsung bagaimana militer AS membantu mengevakuasi korban dan memberikan bantuan medis pada saat yang sangat krusial,” kenangnya.

Pameran “Kemitraan yang Tangguh” sebagai Inspirasi Generasi Muda

Pameran “Kemitraan yang Tangguh,” yang berlangsung hingga Juni 2025, bertujuan tidak hanya mengenang tragedi tetapi juga memberikan edukasi kepada generasi muda akan pentingnya kesiapsiagaan dan kerja sama dalam menghadapi bencana. Melalui berbagai tampilan artefak, visual, dan elemen interaktif, pengunjung dapat memahami kontribusi Amerika Serikat dalam membantu masyarakat Aceh.

Jeff Cohen, Direktur USAID Indonesia, menyampaikan bahwa pameran ini juga menandai kuatnya semangat solidaritas masyarakat internasional.

“Pameran ini mengenang mereka yang hilang dan sekaligus merayakan semangat luar biasa masyarakat Aceh dan dampak dari kerja sama internasional,” ujarnya.

Proyek Rekonstruksi dan Dokumentasi

Dalam pameran ini, pengunjung dapat menyaksikan kisah rekonstruksi Aceh yang mencakup pembangunan jalan Banda Aceh-Calang, revitalisasi industri kopi Gayo, dan penguatan mitigasi bencana di Indonesia. USAID juga menayangkan tiga film dokumenter mini yang mengangkat cerita di balik proyek rekonstruksi ini.

Brigadir Jenderal Carla River dari Komando Indo-Pasifik AS turut hadir dalam acara ini dan menyatakan kebanggaannya atas kesempatan untuk melanjutkan kemitraan dengan Indonesia.

“Pada 2004, hanya dalam waktu 36 jam setelah permintaan bantuan dari Presiden Indonesia, pesawat militer AS sudah berada di Aceh untuk membantu. Tak lama setelah itu, USS Abraham Lincoln dan Mercy hadir membantu penanganan medis dan evakuasi,” ujarnya, sambil memuji ketangguhan masyarakat Aceh.

Pengingat Akan Solidaritas dan Kesiapsiagaan

Safrizal menegaskan bahwa tragedi tsunami memberi pelajaran penting akan pentingnya kolaborasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam.

“Dengan belajar dari masa lalu, kita berharap Aceh dan Indonesia dapat semakin kuat dan tangguh dalam menghadapi masa depan,” tutupnya.

Editor: Akil

Banda Aceh Terima Bufferstock Bencana dari Pemerintah Aceh untuk Tanggap Darurat

0
Banda Aceh Terima Bufferstock Bencana dari Pemerintah Aceh untuk Tanggap Darurat. (Foto: Dinsos Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah Aceh menyerahkan bantuan buffer stock bencana kepada Pemerintah Kota Banda Aceh sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Penyerahan dilakukan oleh Penjabat Gubernur Aceh, Safrizal, dan diterima langsung oleh Penjabat Wali Kota Banda Aceh, Ade Surya, pada Minggu (10/11) usai Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional di Kantor Gubernur Aceh.

Buffer stock tersebut terdiri dari satu truk berisi makanan siap saji, kasur, family kit, kids ware, selimut, minyak goreng, air mineral, kecap, sarden, serta makanan anak. Bantuan ini, menurut Safrizal, dirancang untuk memenuhi kebutuhan darurat saat menghadapi bencana skala kecil hingga sedang yang memerlukan tindakan cepat.

“Buffer stock ini diperuntukkan untuk kebutuhan segera dalam tanggap darurat bencana ringan hingga sedang. Jika bencana lebih serius, akan ada peningkatan status menjadi siaga darurat,” ujar Safrizal, Penjabat Gubernur Aceh.

Ia juga menekankan bahwa bantuan ini diharapkan mampu menunjang respons cepat Pemko Banda Aceh dalam penanggulangan dampak awal bencana.

Penyerahan buffer stock turut disaksikan oleh Kepala Dinas Sosial Aceh, Dr. Muslem Yacob, S.Ag., M.Pd., serta sejumlah pejabat Forkopimda Aceh. Dr. Muslem menambahkan bahwa bantuan ini mencakup kebutuhan dasar warga terdampak bencana dan dipersiapkan untuk mempercepat langkah tanggap darurat.

Safrizal berharap Pemko Banda Aceh dapat memanfaatkan bantuan ini dengan optimal dalam menghadapi situasi mendesak di masa depan.

Editor: Akil

RBT Pindah Dukungan ke Mualem-Dek Fadh, Tantangan Baru untuk Bustami-Fadhil di Pilkada Aceh 2024

0
Aktivis Aceh, Usman Lamreung. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dukungan politik menjelang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh 2024 semakin dinamis. Keputusan Relawan Bustami Aceh (RBT) untuk mengalihkan dukungan dari pasangan Bustami Hamzah-Fadhil Rahmi ke pasangan Muzakir Manaf-Fadhlullah, atau yang dikenal sebagai Mualem-Dek Fadh, menjadi peristiwa politik yang berpengaruh besar.

Peralihan dukungan ini dipandang oleh pengamat politik dan akademisi Aceh, Usman Lamreung, sebagai tanda adanya kelemahan dalam struktur pendukung Bustami-Fadhil.

“Ini lebih dari sekadar pergeseran dukungan. Ini menunjukkan adanya ketidakstabilan dalam fondasi politik pasangan Bustami-Fadhil,” ujar Usman.

Usman menjelaskan bahwa dukungan relawan yang semula setia pada satu calon, seperti RBT, bisa menjadi pemicu kekhawatiran di kalangan simpatisan lainnya.

“Langkah RBT ini menunjukkan adanya dinamika dan ketidakpuasan internal yang mungkin belum terlihat di permukaan,” tambahnya.

Dari pernyataan yang diberikan RBT, keputusan untuk beralih ke Mualem-Dek Fadh tidak diambil dengan sembarangan. Pertimbangan utama yang disampaikan adalah visi pembangunan Aceh yang dirasa lebih relevan dan cocok dengan program kerja pasangan Mualem-Dek Fadh. Mereka percaya pasangan ini mampu membawa perubahan yang dibutuhkan rakyat Aceh.

Menurut Usman, fenomena peralihan dukungan seperti ini wajar terjadi dalam politik, terutama di masa kampanye. “Perubahan dukungan ini biasanya menandakan adanya celah dalam soliditas pasangan yang ditinggalkan. Bustami-Fadhil harus segera berbenah dan mengonsolidasikan kekuatan agar tidak kehilangan lebih banyak pendukung,” katanya.

Dengan bergabungnya RBT ke Relawan Pendukung Mualem (RPM), pasangan Mualem-Dek Fadh diyakini akan mendapat dorongan kuat untuk menarik suara dari basis pendukung Bustami-Fadhil.

“Ketika satu kelompok relawan mengambil langkah berani untuk berpindah dukungan, sering kali akan ada pergerakan serupa dari kelompok lain,” jelas Usman.

Perubahan ini diperkirakan akan mempengaruhi peta kekuatan politik lokal. Bagi pasangan Bustami-Fadhil, langkah RBT bisa menjadi ancaman serius jika tidak segera disikapi. Usman menilai, pasangan Bustami-Fadhil harus segera memperlihatkan komitmen nyata untuk memperkuat dukungan simpatisan.

“Bustami-Fadhil harus memperkuat komunikasi politik dengan simpatisan dan masyarakat, serta membuktikan komitmen mereka lewat program-program yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.

Lebih jauh, Usman mengingatkan bahwa simbolisme dalam politik sangat penting. Peralihan dukungan ini bisa dipersepsikan publik sebagai tanda kelemahan atau sekadar dinamika politik biasa.

“Dalam situasi politik yang terus bergerak, masyarakat Aceh memiliki kesadaran politik yang semakin tinggi. Semoga persaingan ini dapat berjalan dengan sehat, dan setiap calon mampu menawarkan solusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat Aceh,” tutupnya.

Editor: Akil

AS Kenang 20 Tahun Tsunami Aceh Lewat Pameran ‘Kemitraan yang Tangguh’

0
AS Kenang 20 Tahun Tsunami Aceh Lewat Pameran 'Kemitraan yang Tangguh'. (Foto: Detik)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menjelang dua dekade peringatan tsunami yang menghancurkan Aceh pada 26 Desember 2004, Amerika Serikat melalui Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) menggelar pameran bertajuk Kemitraan yang Tangguh. Pameran yang diselenggarakan di lantai 3 Museum Tsunami Aceh ini menampilkan dokumentasi upaya bantuan Amerika Serikat dalam pemulihan Aceh pascabencana.

Acara pembukaan pameran pada Minggu (10/11/2024) dihadiri oleh Direktur USAID Jeff Cohen, Pj Gubernur Aceh Safrizal ZA, serta beberapa pejabat setempat. Dalam sambutannya, Jeff Cohen menekankan keberhasilan rekonstruksi Aceh sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah penanganan bencana global.

“Rekonstruksi Aceh merupakan salah satu upaya pemulihan bencana paling sukses dalam sejarah modern, yang menunjukkan apa yang bisa kita capai saat bekerja bersama,” ujarnya.

Pada pameran ini, USAID menampilkan sejumlah foto dan diorama yang menggambarkan bantuan yang diberikan Amerika Serikat kepada Aceh, mulai dari pengiriman kapal induk Abraham Lincoln hingga bantuan rekonstruksi dan infrastruktur. Salah satu karya yang dipamerkan adalah diorama jalan nasional sepanjang 146 kilometer yang menghubungkan Banda Aceh dan Calang, yang dibangun sebagai bagian dari bantuan senilai USD 400 juta dari pemerintah Amerika Serikat.

Jeff Cohen menambahkan bahwa pameran ini adalah bentuk penghormatan bagi masyarakat Aceh yang tangguh serta mengenang mereka yang menjadi korban tsunami.

“Dua dekade lalu, saat tsunami menerjang Aceh, Amerika Serikat berdiri bahu-membahu dengan Indonesia. Pameran ini mengenang mereka yang hilang sekaligus merayakan semangat luar biasa masyarakat Aceh dan dampak kuat dari kemitraan internasional,” katanya.

Selain pameran foto, USAID juga meluncurkan tiga film dokumenter mini yang mengeksplorasi perjalanan pemulihan Aceh dan dampak dari bantuan internasional. Film dokumenter tersebut mencakup tiga topik utama: pembangunan jalan nasional Banda Aceh-Calang, revitalisasi industri kopi Gayo, dan peningkatan kemampuan penanggulangan bencana di Indonesia.

Pameran ini akan berlangsung hingga Juni 2025 dan diharapkan dapat menjadi dokumentasi abadi dari kisah pemulihan Aceh, serta memperingati kemitraan berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Indonesia dalam penanggulangan bencana.

Editor: Akil

Menolak Korupsi di Pulau Breuh Lewat Sinema

0
Pemutaran film di Gampong Meulingge, Pulo Aceh, Rabu (16/10/2024). (Foto: Nukilan/Sammy)

Nukilan.id – Langit yang awalnya cerah tiba-tiba diselimuti gumpalan awan hitam saat tim Gampong Film berangkat menuju Pulau Breuh menggunakan perahu, Selasa (15/10/2024). Para penumpang yang tadinya berada di pinggir perahu, mulai merapat ke tengah, menghindar dari cipratan ombak yang pecah.

Sebagian tim Gampong Film yang duduk di bagian belakang perahu mengambil beberapa plastik berukuran besar untuk menutup diri dari pecahan ombak. Fauzi, salah satu tim Gampong Film bergegas menutup beberapa alat pemutaran film yang berada di depan dek perahu. Hujan mulai turun. Perahu ini masih harus menyeberang satu setengah jam lagi.

Ada lima orang tim Gampong Film dan ditambah Eileena dari Anti Corruption Film Festival (ACFFEST) yang ikut berangkat ke Pulau Breuh. Ketika arus Lampuyang, Pulo Aceh terlihat dengan mata, hujan mulai berhenti. Tim tiba di Pulau Breuh sekitar pukul 16.00 WIB, lantas melanjutkan perjalanan menuju ke penginapan.

***

Pulau Breuh adalah salah satu pulau yang berada di barat laut Pulau Sumatera yang menawarkan keindahan alam yang menakjubkan. Tidak seperti Pulau Sabang, pulau ini tidak banyak didatangi turis. Akses menuju Pulau Breuh hanya mengunakan perahu penumpang yang berangkat antara pukul 13.00-14.00 WIB setiap hari, kecuali hari Jumat. Meskipun aksesnya lebih dekat dari Banda Aceh, secara admintrasif Pulau Breuh masuk wilayah Aceh Besar.

Pulau Breuh menjadi titik terakhir dari rangkaian tur pemutaran Gampong Film yang diputar di halaman Sekolah Dasar (SD) Gampong Meulingge, Mukim Pulau Breuh Utara, Kecamatan Pulo Aceh, Rabu (16/10/2024). Ada tiga titik lain yang disinggahi Gampong Film tahun ini, yaitu di Iboih (Sabang), Deah Glumpang (Banda Aceh), dan Lamteuba (Aceh Besar).

Gampong Film pertama kali diselenggarakan oleh Yayasan Aceh Documentary (Adoc) pada tahun 2015. Sejak saat itu, Adoc terus menghadirkan sinema ke kampung-kampung pedalaman di Aceh. Hingga saat ini, Gampong Film telah menjadi program utama dari Aceh Film Festival (AFF) yang juga dikelola oleh Adoc.

“Selama melaksanakan Gampong Film, kami selalu menemukan para tetua yang memiliki pengalaman menonton layar tancap, yang mana hal itu sudah jarang ada di Aceh. Saya rasa Gampong Film ini penting sebagai ruang menikmati sinema di Aceh,” ujar Direktur AFF, Jamaluddin Phonna kepada Nukilan, Rabu (16/10/2024). Pada perhelatan tahun ini, AFF bekerja sama dengan ACFFEST serta Komisi Pemberantas Korupsi (KPK).

“Saya pikir kerja sama ini cukup menarik. Kami menganggapnya sebagai respons atas banyaknya pemberitaan tentang korupsi di kampung-kampung oleh kepala desa. Jadi juga bisa dilihat untuk menyampaikan pesan anti korupsi. Tema Gampong Film kali ini juga cukup jelas, “Tulak Korupsi dari Gampong”,” kata Jamal.

Kepala Satuan Tugas Direktorat Sosialisasi dan Kampanye AntiKorupsi KPK, Medio Venda mengatakan medium film lebih mudah untuk diterima oleh masyarakat luas. Dia berharap penayangan film-film ini tidak hanya menjadi hiburan semata, namun juga mampu menumbuhkan kepedulian terhadap isu korupsi dan memperkuat sikap antikorupsi di berbagai level masyarakat.

Tim Gampong Film telah memilih enam film dari yang disediakan oleh pihak ACFFEST, di antaranya, Kurang 2 Ons, Persenan, Titip Sandal, Jastip, Unbaedah, Hitler Mati di Surabaya.

Programmer Gampong Film, Akbar Rafsanjani menuturkan film-film tersebut dipilih karena ceritanya universal dan cocok bagi masyarakat Aceh.

“Semuanya memberi pelajaran dampak buruk dari korupsi. Film-film itu juga akan diputar berbarengan dengan film-film dari Aceh,” ujar Akbar.

***

Tim Gampong Film menginap di Gampong Gugop, Pulo Aceh. Tidak banyak penginapan di Pulo Aceh. Bahkan di beberapa desa di Pulau Breuh belum memiliki sinyal internet, termasuk di Meulingge, tempat pemutaran film. Dari Gampong Gugop ke Meulingge memakan waktu sekitar 40-50 menit. Tim tiba di Gampong Meulingge sebelum azan asar, lantas bergegas membentangkan layar dan mempersiapkan peralatan lain untuk pemutaran yang dibantu beberapa warga.

Pukul 20.30 WIB, acara pemutaran dilakukan. Tak lama berselang, tiba-tiba hujan turun begitu deras. Padahal sejak seharian cuaca cerah dan taka da tanda-tanda akan turun hujan. Tim Gampong Film yang dibantu warga berusahan menyelamatkan proyektor dari siraman hujan dan menutup loudspeaker dengan plastik.

“Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Adik-adik, pemutaran tetap akan kita lanjutkan. Kita tunggu hujan reda ya,” seru Zikra, pembawa acara. Penonton masih memadati beranda kelas SD Meulingge. Pemutaran film baru dimulai sekitar pukul 22.00 WIB ketika hujan reda.

“Semoga film-film yang akan kami putar bisa menghibur warga Gampong Meulingge khususnya dan seluruh warga Pulau Breuh yang telah hadir ke tempat ini. Nanti juga, kami akan memutar film yang lokasi shooting-nya di Pulo Aceh,” ujar Jamal dalam sambutannya.

Film pertama yang diputar adalah film Titip Sendal, bercerita tentang antrian vaksin di sebuah kampung terapung. Para ibu-ibu menitip sandal kepada teman dan anak mereka yang bekerja sebagai petugas kesehatan. Konflik dalam film bermula dari sana hingga menyebabkan lantai kayu kampung tersebut roboh, membuat para ibu-ibu yang bertengkar jatuh ke dalam air.

Film selanjutnya, Jastip (Jasa Tipu-tipu), bercerita tentang dua anak muda yang menjual madu di media sosial. Usaha mereka kemudian dilirik oleh seorang politisi yang ingin memberikan modal untuk usaha mereka. Namun, salah satu dari mereka menolak walau akhirnya mereka menerimanya. Wajah politisi terpampang di botol madu usaha mereka. Lalu, karena pasokan madunya tidak cukup, mereka mengolah madu tersebut. Madu yang dijual bukan lagi madu asli, melainkan hasil olahan.

“Meskipun film yang diputar tidak menjelaskan secara jelas tentang korupsi dalam praktik yang sering kita lihat di TV, seperti korupsi uang, ini adalah bentuk lain dari korupsi, jadi korupsi bukan hanya soal uang. Bahkan soal antrian juga termasuk. Saya rasa ini penting dikampanyekan,” ujar Fahmi, salah seorang aktivis sosial dan lingkungan yang menjadi pembicara dalam diskusi film tersebut.

Film terakhir adalah Pulo Rempah. Film yang bersetting di Pulau Breuh ini menceritakan tentang seorang anak kecil yang tinggal di kota, lalu pulang ke kampung halamannya. Di kampungnya dia mendapatkan pelajaran dan sejarah tentang Pulau Breuh. Film ini banyak membuat penonton tertawa geli karena akting beberapa aktor yang mereka kenal.

Kepala Desa Meulingge, Muhammad Dahlan mengatakan kegiatan pemutaran film seperti ini penting untuk terus dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang korupsi kepada masyarakat.

“Yang paling penting adalah soal korupsi dan keterbukaan dalam mengelola kampung,” ujarnya. ***

Reporter: Sammy