Beranda blog Halaman 826

PLN Gandeng Perusahaan UEA untuk Kembangkan Infrastruktur Gas Bumi di Aceh

0
Ilustrasi pengeboran lepas pantai. (Foto: Ilmu Tambang)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Holding PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), melalui anak perusahaannya Energi Primer Indonesia (EPI), menjalin kerja sama strategis dengan Mubadala Energy, perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA), untuk mengembangkan infrastruktur gas bumi di Provinsi Aceh. Kolaborasi ini resmi ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Abu Dhabi, UEA, pada Selasa, 5 November 2024.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan bahwa kemitraan ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung program transisi energi dan mengurangi emisi karbon di Indonesia.

“Indonesia memiliki potensi sumber gas bumi yang besar. Kerja sama ini akan menyediakan alternatif sumber energi untuk pembangkit listrik serta mendukung target nol emisi pada 2060,” ujar Darmawan dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin, 11 November 2024.

Proyek ini difokuskan pada pemanfaatan gas dari Blok Andaman Selatan yang berada di lepas pantai utara Aceh. Melalui kolaborasi tersebut, PLN EPI dan Mubadala Energy akan melakukan studi menyeluruh untuk memanfaatkan gas alam dari sumur Layaran dan Tangkulo, yang diperkirakan mengandung lebih dari 8 Triliun Kaki Kubik (TCF) gas. Nantinya, gas ini diharapkan dapat menjadi sumber energi bersih dengan emisi rendah untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat.

Direktur Utama PLN EPI, Iwan Agung Firstantara, menuturkan bahwa pengembangan infrastruktur gas bumi ini akan mencakup proses eksplorasi, transportasi, hingga distribusi gas.

“Studi ini diharapkan menghasilkan peta jalan konkret dalam memanfaatkan gas bumi sebagai solusi energi ramah lingkungan yang juga berdampak positif pada ekonomi dan infrastruktur lokal,” jelas Iwan.

Sementara itu, CEO Mubadala Energy, Mansoor Mohamed Al Hamed, mengatakan bahwa kemitraan ini menjadi langkah penting dalam mendukung pengembangan energi berkelanjutan di Indonesia.

“Kami optimistis kerja sama ini akan mengoptimalkan potensi Blok Andaman Selatan dan memberikan dampak signifikan bagi Indonesia, baik secara ekonomi maupun infrastruktur energi,” ujar Mansoor.

Selain itu, Iwan menambahkan bahwa kolaborasi ini juga akan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan PLN melalui pelatihan dan diskusi untuk memperkuat keahlian dalam pengelolaan infrastruktur gas.

“Kami juga memastikan keamanan pasokan energi nasional, dengan tetap berupaya mengurangi emisi karbon untuk ketahanan energi Indonesia,” tambahnya.

Kerja sama ini diharapkan mampu memberikan solusi energi bersih dan berkelanjutan, mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, serta membantu Indonesia dalam mencapai ketahanan energi di masa depan.

Editor: Akil

UNESCO Tetapkan Dua Gampong di Aceh Besar sebagai Daerah Tsunami Ready

0
UNESCO Tetapkan Dua Gampong di Aceh Besar sebagai Daerah Tsunami Ready. (Foto: MC Aceh Besar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dua gampong di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, yaitu Gampong Mon Ikeun dan Lam Kruet, kini resmi mendapatkan sertifikat Tsunami Ready dari UNESCO. Sertifikat ini diberikan dalam acara “2nd UNESCO IOC Global Peringatan 20 Tahun Tsunami Aceh 2024” yang berlangsung di Balai Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, pada Senin (11/11/2024).

Penyerahan sertifikat ini menandai pengakuan UNESCO terhadap upaya kedua desa dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana tsunami. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar, Ridwan Jamil, mengatakan bahwa Mon Ikeun dan Lam Kruet telah lama dibina oleh BNPB sejak tahun 2017-2018 sebagai desa tangguh bencana.

“Selanjutnya, BMKG memastikan kedua desa ini memenuhi 12 indikator kesiapsiagaan yang disyaratkan UNESCO agar bisa memperoleh predikat Tsunami Ready Community,” ungkap Ridwan.

Ridwan menjelaskan bahwa “Tsunami Ready Community” merupakan inisiatif global untuk membangun komunitas yang siap menghadapi tsunami, dengan kolaborasi pejabat setempat, penduduk, dan organisasi internasional. Program ini bertujuan membentuk masyarakat yang sadar akan risiko tsunami dan memiliki kesiapan untuk melindungi nyawa, harta benda, serta mata pencaharian warga di daerah rawan tsunami.

Dalam kesempatan tersebut, Ridwan memaparkan bahwa ada 12 indikator yang harus dipenuhi sebuah komunitas untuk mendapatkan sertifikasi Tsunami Ready dari UNESCO. Beberapa indikator tersebut mencakup ketersediaan peta bahaya tsunami, papan informasi publik, peta evakuasi, serta rencana operasi darurat yang diperbarui secara rutin. Selain itu, masyarakat harus memiliki kemampuan untuk menerima dan menyebarluaskan informasi dini tsunami 24 jam sehari.

“Dengan memenuhi indikator-indikator ini, kami berharap masyarakat di wilayah pesisir siap menghadapi potensi bencana tsunami, sehingga dampak korban jiwa dan kerusakan bisa diminimalisir,” lanjut Ridwan.

Ridwan menambahkan bahwa di Indonesia, saat ini ada 22 desa yang telah memperoleh pengakuan sebagai komunitas Tsunami Ready, terutama di daerah-daerah yang berpotensi terkena dampak tsunami. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, akademisi, dan sektor swasta, untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat.

“Masih banyak desa di sepanjang garis pantai Aceh Besar yang perlu diperkuat dalam hal kesiapsiagaan bencana. Kami berharap kolaborasi pentahelix yang melibatkan berbagai sektor dapat terus mendorong kesiapan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana,” tutup Ridwan.

Lhoknga, wilayah yang paling parah terdampak saat tsunami 2004 silam, kini bisa menjadi contoh kesiapsiagaan dengan adanya pengakuan Tsunami Ready ini. Melalui kolaborasi berkelanjutan, Gampong Mon Ikeun dan Lam Kruet diharapkan dapat menjadi model bagi daerah-daerah pesisir lainnya di Aceh.

Editor: Akil

Pemerintah Dorong Perusahaan Platform Digital Realisasikan Kerja Sama dengan Media

0
Ketua Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Jurnalisme Berkualitas, Dr Suprapto Sastro Atmojo menyerahkan dokumen Panduan Pelaksanaan Fungsi Pengawasan Pemenuhan Kewajiban Perusahaan Platform Digital untuk Jurnalisme berkualitas kepada Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dalam pertemuan di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong perusahaan platform digital untuk segera merealisasikan kerja sama dengan perusahaan media yang masih tertunda. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem bisnis media yang sehat dan meningkatkan kualitas jurnalisme di Indonesia.

Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, dalam pertemuan di Gedung Komdigi pada Senin (11/11/2024), menyampaikan bahwa platform digital tidak perlu ragu akan petunjuk teknis (juknis) dari komite terkait kerja sama ini. Juknis tersebut telah disesuaikan dengan Peraturan Presiden (Perpres) No. 32 Tahun 2024 tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB).

“Kami mendorong agar, dengan adanya panduan ini, tercipta win-win solution antara perusahaan media dan platform digital,” ujar Nezar.

Ia menambahkan, perusahaan platform digital diharapkan segera melanjutkan atau menyelesaikan 75 persen sisa kerja sama yang tertunda, yang diharapkan bisa menjadi hadiah akhir tahun bagi perusahaan media.

Pertemuan tersebut juga dihadiri Ketua Komite KTP2JB, Dr. Suprapto Sastro Atmojo, Wakil Ketua Indriaswati Dyah Saptaningrum, dan sejumlah anggota komite, di antaranya Damar Juniarto, Guntur Syahputra Saragih, Fransiskus Surdiasis, dan Sasmito. Dalam kesempatan itu, Suprapto menyerahkan draf Panduan Pelaksanaan Pengawasan kepada Nezar Patria, yang berfungsi sebagai panduan teknis bagi platform digital dalam memenuhi kewajiban mereka terhadap media.

Panduan yang disusun komite ini menjadi acuan dalam pelaksanaan kerja sama, pengawasan, dan fasilitasi tanggung jawab platform digital, termasuk program pelatihan jurnalisme berkualitas. Selain itu, komite telah melakukan safari dialog dengan sejumlah pemangku kepentingan media, termasuk AMSI, IJTI, JMSI, PWI, PFI, PRSSNI, AJI, dan Forum Pemred, serta mengunjungi perusahaan pers seperti KG Media, Tempo, dan Tribun Network.

Komite KTP2JB juga telah berdiskusi dengan dua perusahaan platform digital besar di Indonesia, yaitu Meta dan TikTok Indonesia, untuk mengidentifikasi langkah konkret dalam mendukung jurnalisme berkualitas di Tanah Air.

Editor: Akil

Empat Tantangan Penguatan Mitigasi Bencana di Aceh, Ini Kata Pj Gubernur Safrizal

0
Empat Tantangan Penguatan Mitigasi Bencana di Aceh, Ini Kata Pj Gubernur Safrizal. (Foto: HUMAS ACEH)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Safrizal ZA, mengungkapkan bahwa masih terdapat empat tantangan utama dalam memperkuat mitigasi bencana di Aceh. Pernyataan tersebut disampaikan Safrizal dalam Simposium Global Tsunami ke-2 UNESCO IOC bertajuk “Two Decades After 2004 Indian Ocean Tsunami: Reflection and the Way Forward” di Balai Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, Senin (11/11/2024).

Menurut Safrizal, kendati Aceh telah banyak belajar dari pengalaman bencana tsunami 2004, tantangan infrastruktur, kolaborasi lintas negara, edukasi masyarakat, serta perubahan iklim masih menjadi kendala yang harus dihadapi bersama.

“Kita perlu mengembangkan pendekatan yang lebih menyeluruh agar semua komunitas dapat terjangkau, bahkan di daerah terpencil,” ujar Safrizal.

Tantangan Infrastruktur dan Aksesibilitas

Safrizal menekankan bahwa kesiapan infrastruktur, khususnya untuk sistem peringatan dini dan respons cepat, menjadi tantangan besar. Banyak wilayah yang memiliki akses terbatas, sehingga menghambat efektivitas peringatan dini.

“Penting untuk mengupayakan agar seluruh komunitas, terutama di wilayah sulit terjangkau, dapat memperoleh informasi cepat dan tepat,” katanya.

Kolaborasi Lintas Negara dan Pembaruan Data

Tantangan kedua adalah kolaborasi internasional dan pembaruan data. Menurut Safrizal, tsunami adalah bencana yang dampaknya bisa melintasi batas negara, sehingga perlu kerja sama antarnegeri untuk berbagi data secara real-time dan memperbaruinya secara berkala.

Peningkatan Kesadaran dan Pemahaman Masyarakat

Kesadaran masyarakat terkait langkah mitigasi bencana juga perlu ditingkatkan melalui program edukasi dan simulasi secara berkala.

“Kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap mitigasi bencana harus ditingkatkan, sehingga mereka tahu tindakan yang perlu diambil jika terjadi bencana,” ungkap Safrizal.

Perubahan Iklim sebagai Tantangan Global

Safrizal menyebutkan bahwa perubahan iklim adalah tantangan keempat yang tak dapat diabaikan dalam sistem peringatan dini.

“Perubahan iklim dapat memicu bencana yang lebih besar, sehingga integrasi dengan tantangan global menjadi penting,” lanjutnya.

Melalui simposium ini, Safrizal mengajak seluruh pihak untuk memperkuat komitmen global demi ketahanan dan keberlanjutan dalam langkah mitigasi bencana. Simposium ini juga menjadi momen bagi Aceh untuk mengenang dua dekade setelah bencana tsunami 2004 yang menelan ratusan ribu jiwa dan meninggalkan luka mendalam.

“Tsunami 2004 tidak hanya mengingatkan kita pada dahsyatnya kekuatan alam, tetapi juga menginspirasi kolaborasi global untuk memperkuat sistem peringatan dini,” ujar Safrizal menutup sambutannya.

Editor: Akil

Keren! Siswa MAN 4 Aceh Besar Terima Penghargaan Inisiator Muda Moderasi Beragama 2024

0
Siswa MAN 4 Aceh Besar Terima Penghargaan Inisiator Muda Moderasi Beragama 2024. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Bekasi — Nova Raudhalia, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Aceh Besar, berhasil meraih Piagam Penghargaan Inisiator Muda Moderasi Beragama Nasional 2024. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Abu Rokhmad, pada Senin (11/11/2024) di Hotel Ibis, Bekasi, Jawa Barat.

Piagam ini merupakan bentuk apresiasi atas upaya Nova dalam mempromosikan nilai-nilai moderasi beragama di kalangan generasi muda. Sebagai Ketua OSIM MAN 4 Aceh Besar, Nova dinilai mampu menunjukkan dedikasi dan pemahaman mendalam terhadap pentingnya moderasi dalam kehidupan beragama.

“Penghargaan ini saya persembahkan untuk semua teman-teman di MAN 4 Aceh Besar dan seluruh pemuda Indonesia. Semoga semangat moderasi beragama dapat terus tumbuh di hati kita semua,” ujar Nova dengan penuh syukur. Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pihak madrasah, khususnya kepada pembimbing Ismail dan Eva Maulida, yang telah mendukungnya.

Ismail, salah satu pembimbing Nova, menjelaskan bahwa kegiatan Inisiator Muda Moderasi Beragama di MAN 4 Aceh Besar telah berjalan sejak 2021 dan terus berkembang. “Kami mulai dengan Rifka Khairuna pada tahun 2021, lalu Nadira Safira pada 2023, dan sekarang Nova. Semoga program ini terus berjalan dan melahirkan lebih banyak lagi inisiator muda di masa depan,” ujarnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, Saifuddin, juga mengapresiasi prestasi Nova.

“Kami bangga memiliki generasi muda seperti Nova yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memahami pentingnya moderasi dalam beragama. Semoga ini menjadi inspirasi bagi pemuda lainnya di Aceh Besar,” ungkap Saifuddin.

Kepala MAN 4 Aceh Besar, Munzir, menyatakan dukungan penuh terhadap pencapaian ini.

“Penghargaan ini merupakan bukti bahwa pendidikan karakter dan nilai-nilai moderasi dapat berkembang pesat jika didukung oleh lingkungan yang kondusif dan komitmen dari semua pihak,” kata Munzir.

Dengan penghargaan ini, Nova berhasil mencetak sejarah sebagai generasi penerus yang mengedepankan moderasi beragama dan menjadi contoh bagi remaja lain di seluruh Indonesia.

Editor: Akil

Wali Nanggroe Aceh Kunjungi Kerajaan Gowa Makassar

0
Wali Nanggroe Aceh Kunjungi Kerajaan Gowa Makassar. (Foto: Humas LWN)

NUKILAN.id | Makassar – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar melakukan kunjungan kerja ke Kerajaan Gowa,Kota Makasar, Sulawesi Selatan.

Kedatangan Wali Nanggroe disambut langsung oleh Raja Kerajaan Gowa, Paduka Yang Mulia Andi Kumala Idjo.

Ada banyak hal yang dibicarakan pada pertemuan itu, diantaranya terkait sejarah Kerajaan Gowa dan keterkaitan dengan Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada kesempatan itu, Wali Nanggroe bersama delegasi juga berkesempatan mengunjungi Museum Balla Lampoa di Kabupaten Gowa.

DPRK Pastikan Anggaran Aceh Besar Sesuai Kebutuhan Masyarakat

0
DPRK Pastikan Anggaran Aceh Besar Sesuai Kebutuhan Masyarakat. (Foto: MC Aceh Besar)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, Abdul Muchti, menegaskan komitmen pihaknya untuk memastikan bahwa seluruh anggaran yang diusulkan dalam Rancangan Qanun (Raqan) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Aceh Besar tahun 2025 benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Pernyataan ini disampaikan saat menerima dokumen Raqan APBD dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar yang diserahkan oleh Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Aceh Besar, Farhan AP, di Jantho, Senin.

“Kami mengapresiasi respons cepat dari Pemkab Aceh Besar dalam menyerahkan dokumen Raqan APBD 2025. DPRK akan menjalankan tugas pengawasan serta pembahasan secara cermat agar alokasi anggaran ini benar-benar tepat sasaran,” ujar Abdul Muchti.

Ia menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat Aceh Besar. Menurutnya, DPRK akan mengawal setiap dana yang dianggarkan agar digunakan seefektif mungkin.

Farhan AP, Asisten I Setdakab Aceh Besar, menyatakan bahwa penyerahan dokumen Raqan APBD ini merupakan bentuk keseriusan Pemkab dalam memenuhi kebutuhan pembangunan di Aceh Besar.

“Raqan ini disusun dengan pertimbangan matang untuk mendukung program-program prioritas dan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Farhan.

Farhan juga berharap proses pembahasan APBD dapat berjalan efektif antara eksekutif dan legislatif agar tercapai kesepakatan yang optimal bagi masyarakat Aceh Besar.

“Kami berharap Raqan ini segera dibahas dan disepakati agar pelaksanaan program pembangunan bisa segera dimulai sesuai rencana,” pungkasnya.

Penyerahan dokumen Raqan ini menjadi langkah awal yang diharapkan akan mempercepat proses pengesahan anggaran untuk tahun 2025 dan memastikan kebutuhan masyarakat Aceh Besar dapat terpenuhi dengan baik.

Editor: Akil

Simalakama Nasib Pengungsi Rohingya

0
Ilustrasi Kedatangan pengungsi Rohingya di Aceh. (Foto: AFP/Amanda Jufrian)

Nukilan.id – Sebanyak 152 orang pengungsi Rohingya yang terdiri dari orang tua, anak-anak, wanita, dan laki-laki didatangkan ke Banda Aceh dari Aceh Selatan menggunakan empat unit truk dan satu unit mobil patrol Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Aceh Selatan, Kamis (7/11/2024). Sebelumnya, para pengungsi ini terdampar di perairan Labuhan Haji, Aceh Selatan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan kemudian memerintahkan sopir truk untuk membawa mereka ke Banda Aceh.

Para pengungsi tiba di Banda Aceh sekitar pukul 09.30 WIB dan dibawa ke depan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) Aceh. Namun hingga menjelang pukul 16.00 WIB, para pengungsi tersebut masih berada di dalam truk karena belum mendapatkan izin untuk turun. Warga Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, menolak kehadiran para pengungsi karena keberadaan mereka dianggap meresahkan warga.

“Kalau mereka di dalam kantor Kemenkumham kami tidak mempermasalahkan,” ujar Fauzan, Ketua Pemuda Jeulingke, dilansir Nukilan dari Detik, Jumat (8/11/2024).

Sekitar pukul 19.15 WIB, supir truk membawa para pengungsi ke Simpang Mesra, Lamnyong. Mereka menunggu hampir dua jam. Sekitar pukul 20.55 WIB, para pengungsi Rohingya diminta naik kembali ke atas truk dan diantarkan balik pulang ke Aceh Selatan.

Sebelumnya, Pj Gubernur Aceh, Safrizal ZA, Msi mengatakan pada dasarnya pemerintah provinsi dan kabupaten/kota tidak memiliki kewenangan menangani para pengungsi Rohingya. Namun, mereka harus ditolong atas nama kemanusiaan.

“Dari aspek kemanusiaan kita berempati dan menolong. Tetapi sembari berempati dan menolong, hukum juga harus ditegakkan terhadap kasus penyelundupan ini,” kata Safrizal ZA, dikutip dari Antara, Kamis (31/10/2024).

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) yang juga mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla alias JK menyoroti perlakuan masyarakat Aceh terhadap pengungsi Rohingya ini. Menurut JK, perlakuan terhadap pengungsi Rohingya dengan menempatkan mereka dalam truk selama dua hari ini merupakan tindakan tak berprikemanusiaan.

“Tentu tidak berprikemanusiaan kala ditaruh di atas truk selama dua hari. Bagaimana mereka makan, bagaimana membersihkan diri dan sebagainya,” kata JK, dikutip dari CNN, Sabtu (9/11/2024).

Sentimen Negatif Sejak 2023

Pengamat politik dari Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, Teuku Kemal Fasya mengatakan sentimen negatif terhadap pengungsi Rohingya mulai berkembang sejak tahun 2023 lalu. Saat itu, kata Kemal, ada pengarahan opini terutama dari TNI-AL yang menjaga kelautan yang menyatakan bahwa kedatangan para pengungsi Rohingya ke Indonesia ini bisa membahayakan integritas Indonesia.

“Wacana itu kemudian beresonansi juga di media sosial. Ada BEM suatu kampus swasta waktu itu yang melakukan demonstrasi dan pengusiran terhadap pengungsi Rohingya yang menumpang di Balai Meuseuraya Aceh. Gelombang antipatinya dimulai pada saat ini. Padahal, sebelumnya kita sangat welcome dengan mereka,” ujar Teuku Kemal Fasya kepada Nukilan, Jumat (8/11/2024).

Sebelumnya, pada Rabu (27/12/2023) lalu, ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Aceh melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menolak kehadiran pengungsi Rohingya. Siangnya, para demonstran merangsek ke basemen Gedung Balai Meuseuraya Aceh (BMA) dan dengan brutal mengusir paksa para pengungsi Rohingya yang ada di sana.

Dalam salah satu video yang diunggah bahkan bisa dilihat mahasiswa menendang barang-barang hingga menimpa para pengungsi Rohingya. Dalam video tersebut juga bisa dilihat bagaimana anak-anak dan perempuan Rohingya menangis ketakutan sembari mengangkat tangan mereka sebagai isyarat menyerah. Para pengungsi kemudian diangkut menuju Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) Aceh menggunakan beberapa unit truk.

Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, Azharul Husna menilai aksi mahasiswa terhadap pengungsi Rohingya itu telah menjadi bumerang bagi mereka yang selama ini konsisten mengangkat isu sosial di Aceh. Menurut Husna, aksi brutal mahasiswa yang mengusir paksa para pengungsi merupakan tindakan yang sangat tidak patut dilakukan.

“Apa yang terjadi di gedung BMA pasti berdampak secara psikis terhadap pengungsi di sana, terutama perempuan dan anak-anak yang tentu saja trauma,” ujar Azharul Husna, dikutip Kompas, Kamis (28/12/2024).

Pendapat serupa disampaikan Teuku Kemal Fasya. Menurut Kemal, sangat tak layak jika ada masyarakat yang menyamakan status pengungsi Rohingya ini dengan perilaku orang Yahudi Israel yang menjajah Palestina. Analagi seperti ini bagi Kemal tidak masuk akal karena situasinya jauh berbeda.

“Ketika orang Yahudi datang ke Palestina setelah Perang Dunia ke-II itu kan mereka dibackup oleh kekuatan dunia saat itu, di antaranya adalah Amerika Serikat dan Inggris. Jadi jangan disamakan dengan para pengungsi Rohingya ini, mereka warga yang tidak punya kewarganegaraan,” sebut Kemal.

Kemal menekankan, masyarakat tidak seharusnya mengusir pengungsi Rohingya kembali ke lautan. Karena mereka mengungsi dari tempat asal mereka lantaran ancaman yang membahayakan nyawa mereka. Karena itu, mereka mengungsi ke negara lain untuk menyelamatkan nyawa mereka. Kalaupun mereka kemudian tewas dalam perjalanan, nasib serupa juga bakal menimpa mereka yang tidak berangkat dari tempat asalnya karena juga nantinya akan dipersekusi. Di sinilah nasib pengungsi Rohingya menjadi seperti buah simalakama.

Dilansir dari BBC, analisis dari jaringan sosial Drone Emprit menyebutkan bahwa narasi kebencian yang dibangun atas dasar informasi hoaks disebar di media sosial X oleh beberapa akun fanbase atau forum di antaranya @jengyaws, @tanyarfes, @kegblgnunfaedh, @convomfs, @Heraloebss, dan @valhalla. Di media sosial X, jumlah sebutan Rohingya mencapai 47.672, lebih banyak daripada di berita daring yang hanya disebutkan sebanyak 4.421. Penyebutan nama Rohingya mulai mengalami peningkatan sejak 6 Desember 2023 lalu.

Sementara di media sosial lain seperti TikTok dan Instagram, narasi kebencian dan propaganda dibangun dari potongan-potongan video yang menunjukkan perilaku pengungsi Rohingya yang dianggap “tidak pantas.” Video-video dengan tujuan serupa banyak beredar di media sosial TikTok dan Instagram. Tujuan dari video-video seperti ini adalah untuk membangun citra buruk dari pengungsi Rohingya sehingga diharapkan mampu memprovokasi dan menyebarkan narasi kebencian dari warga Aceh.

Selain itu, di media sosial TikTok juga muncul tren akun-akun yang mempersonifikasikan diri sebagai akun resmi badan pengungsi PBB, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dengan foto profil logo UNHCR dan membuat narasi yang meminta kepada pemerintah Indonesia untuk memberikan makan, tempat tinggal, KTP, dan bahkan tanah atau pulau untuk pengungsi Rohingya.

Hal ini sengaja dilakukan untuk memprovokasi masyarakat Aceh agar membenci pengungsi Rohingya yang dianggap akan merebut tanah mereka sekaligus mengusir UNCHR yang dinilai telah memfasilitasi upaya tersebut. Jika ditelisik, banyak sekali akun-akun yang mempersonifikasi sebagai perwakilan resmi UNHCR tersebut di media sosial TikTok.

Perwakilan resmi UNHCR sendiri sudah membantah hal tersebut. Pejabat informasi publik UNHCR Indonesia, Mitra Salima Suryono mengatakan hal tersebut tidaklah benar dan meminta masyarakat agar tak memercayai hal tersebut.

“Pembaca sosmed kami harapkan kebijaksanaannya untuk hanya menanggapi/mempercayai menyebarkan konten resmi UNHCR yang ada dalam platform-platform kami yang real,” ujar Mitra, dikutip dari Liputan6, Minggu (10/12/2023).

Dalih Ratifikasi Konvensi 1951 dan Protokol 1967

Pemerintah selalu berdalih bahwa terkait penanganan pengungsi luar negeri, Indonesia tidak memiliki kewajiban untuk menerima mereka karena belum meratifikasi Konvensi 1951 dan Protokol 1967 tentang Pengungsi Internasional dan Pencari Suaka. Padahal Presiden Joko Widodo pada 2015 lalu telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri.

Walaupun Perpres tersebut dinilai belum komprehensif untuk mengatasi persoalan pengungsi luar negeri di Indonesia, namun setidaknya di dalamnya sudah mengatur hal-hal teknis mendasar terkait penanganan pengungsi. Dalam Pasal 7 disebutkan bahwa untuk menangani persoalan pengungsi, pemerintah berkoordinasi dengan PBB melalui kantor Komisariat Tinggi Urusan Pengungsi atau UNHCR di Indonesia.

Terkait penampungan sementara juga telah diatur dalam Bab III tentang Penampungan. Dalam Pasal 24 ayat (1), (2), dan (3) secara berturut-turut disebutkan bahwa Rumah Detensi Imigrasi berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota setempat terkait tempat penampungan yang, jika tempat penampungan dimaksud belum tersedia, maka pengungsi bisa ditempatkan di tempat akomodasi sementara yang ditetapkan oleh bupati/walikota.

Kemudian terkait pendanaan untuk penanganan pengungsi juga sudah diatur dalam Bab VII tentang Pendanaan. Dalam Pasal 40 disebutkan bahwa pendanaan untuk penanganan pengungsi bersumber dari APBN melalui kementerian/lembaga terkait dan/atau sumber lain yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Artinya dalih pemerintah untuk menolak kedatangan pengungsi luar negeri karena belum meratifikasi Konvensi 1951 dan Protokol 1967 juga tak bisa dijadikan legitimasi karena sudah diatur dalam Perpres 125 Tahun 2016. Pejabat pemerintahan tak bisa mengabaikan tanggung jawab mereka untuk menangani pengungsi dari luar negeri sebagaimana yang sudah diamanatkan dalam Perpres tersebut.

Hal senada disampaikan Teuku Kemal Fasya. Menurut Kemal, pemerintah Indonesia harus memiliki komitmen untuk menangani para pengungsi dari luar negeri di Indonesia dengan adanya Perpres ini.

“Kita harus ada komitmen untuk menolong orang-orang yang terusir dari negara lain untuk ikut membantulah dalam konteks darurat saja kalau kemudian tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Misalnya jadi tempat transit. Selanjutnya kita serahkan kasus ini kepada UNHCR untuk dicarikan solusinya,” katanya. Dengan demikian, tak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak menangani pengungsi Rohingya yang terdampar di wilayah Indonesia. ***

Reporter: Sammy

Penemuan Mayat Tanpa Identitas di Sungai Krueng Aceh Menggegerkan Warga

0
Penemuan Mayat Tanpa Identitas di Sungai Krueng Aceh Menggegerkan Warga. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Penemuan mayat tanpa identitas di Sungai Krueng Aceh menghebohkan warga Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Sesosok mayat pria ditemukan dalam kondisi mengapung dan mulai membusuk pada Senin siang oleh warga setempat.

Kapolsek Kutaraja, AKP Bambang Junianto, mengonfirmasi penemuan tersebut dan menyebutkan bahwa mayat tersebut diperkirakan telah berada di dalam air selama dua hari.

“Dari kondisi mayat yang sudah ada lalat dan kulit yang mulai mengelupas, kami memperkirakan jasad ini sudah di sungai sekitar dua hari,” ujarnya.

Mayat tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang nelayan bernama Nirwan (69), warga Gampong Jawa, yang hendak berangkat melaut. Pada pukul 08.00 WIB, Nirwan melihat sesuatu yang awalnya dikira tumpukan sampah mengapung di sungai. Namun, setelah mendekat pada siang hari usai salat Zuhur, ia mendapati bahwa yang ia lihat adalah jasad manusia dalam posisi telungkup dengan mengenakan celana jeans.

Pihak kepolisian bersama tim gabungan segera melakukan evakuasi dan membawa jenazah ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Kami sedang melakukan upaya identifikasi untuk memastikan identitas korban dan menyelidiki penyebab kematiannya,” jelas AKP Bambang Junianto.

Ia juga mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga agar menghubungi Polsek Kutaraja dan melakukan pengecekan di RSUZA Banda Aceh.

“Jika ada keluarga yang hilang sesuai ciri-ciri mayat tersebut, kami persilakan untuk datang ke RSUZA atau menghubungi Polsek Kutaraja,” tambahnya.

Hingga saat ini, polisi masih berusaha mengungkap asal mula kejadian dan kemungkinan penyebab kematian korban.

Editor: Akil

Acara Pembinaan Mualaf Level II di Subulussalam Perkuat Pemahaman Al-Qur’an

0
Acara Pembinaan Mualaf Level II di Subulussalam Perkuat Pemahaman Al-Qur'an. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Subulussalam — Untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan mengajar Al-Qur’an di kalangan mualaf, Forum Dakwah Perbatasan (FDP) Subulussalam menggelar acara Pembinaan Mualaf Level II. Kegiatan yang berlangsung di Subulussalam pada Minggu ini dihadiri oleh para mualaf, serta Koordinator FDP Subulussalam, Mukhlis Pohan, dan sejumlah da’i FDP dari Dairi.

Saat dihubungi Nikilan.id, Mukhlis Pohan mengatakan acara ini bertujuan meningkatkan pemahaman ajaran Islam di kalangan mualaf, khususnya dalam membaca dan mengajar Al-Qur’an. Menurutnya, pendekatan Tsaqifa yang diperkenalkan dalam pelatihan ini terbukti efektif. Dengan metode tersebut, tujuh orang mualaf berhasil belajar membaca Al-Qur’an hanya dalam satu kali pertemuan.

“Dengan pendekatan Tsaqifa ini, para mualaf dapat lebih mudah mempelajari cara membaca Al-Qur’an. Kami berharap ini menjadi langkah awal yang baik untuk memperdalam pemahaman mereka terhadap ajaran Islam,” kata Mukhlis Pohan, Senin (11/11/2024).

Acara ini tidak hanya membekali para mualaf dengan keterampilan membaca Al-Qur’an, tetapi juga memperkuat kemampuan mereka untuk menyampaikan ilmu tersebut ke komunitas mereka. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah