Arif Fadillah Pimpin Satgas Pilkada Demokrat Konsolidasi di Empat Kabupaten/Kota di Aceh. (Foto: For Nukilan)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Sekretaris DPD Partai Demokrat Aceh, Arif Fadillah, memimpin kunjungan tim Satgas Pemenangan Pilkada 2024 di empat kabupaten/kota di Aceh untuk memperkuat barisan dukungan terhadap pasangan calon yang diusung oleh partai. Kunjungan yang berlangsung bersama tim Satgas DPP Partai Demokrat ini bertujuan memastikan seluruh kader partai tetap konsisten mendukung pasangan calon yang diusung oleh Partai Demokrat dan bekerja maksimal memenangkan Pilkada 2024.
Dalam kunjungannya ke Gayo Lues pada Rabu (13/11/2024), Arif menegaskan bahwa Partai Demokrat akan memberikan sanksi tegas kepada kader atau pengurus yang mendukung pasangan calon lain.
“Jangan ada kader dan pengurus partai yang berbelok ke pasangan lain, itu akan ada sanksi tegas dari partai,” ujarnya di hadapan kader, pengurus, dan anggota DPRK dari Fraksi Demokrat di Gayo Lues.
Arif menyampaikan bahwa instruksi tersebut datang langsung dari Ketua Umum DPP Partai Demokrat, yang meminta seluruh kader partai untuk tegak lurus mendukung pasangan yang diusung.
“Partai Demokrat serius dalam mendukung pasangan calon yang telah diputuskan. Keputusan ini harus diikuti hingga ke tingkat ranting,” tambahnya.
Selain Gayo Lues, Arif bersama tim Satgas juga melakukan konsolidasi di Aceh Timur, Pidie, dan Kota Banda Aceh. Di Aceh Timur, pertemuan bersama pasangan calon dan pengurus DPC turut dihadiri oleh Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Muslim, SHI. Satgas dari DPP Partai Demokrat, seperti Ilham Mendrofa, Abdul Rasjid, dan Egi Gilang, juga hadir mendampingi konsolidasi ini.
Pasangan calon yang diusung Partai Demokrat untuk empat daerah tersebut adalah pasangan Suhaili & Maliki (nomor urut 2) di Gayo Lues, M. Sulaiman (Tole) – Abdul Hamid (Along) (nomor urut 1) di Aceh Timur, Zakaria A. Gani, SP – Dr. Imran (nomor urut 4) di Pidie, dan pasangan Aminullah – Isnaini (nomor urut 3) di Banda Aceh.
Kunjungan ini menjadi bukti komitmen Partai Demokrat dalam menghadapi Pilkada 2024 dan menunjukkan keseriusan mereka dalam memenangkan pasangan calon yang telah diusung di setiap daerah. Arif berharap seluruh kader dapat bekerja sama dan menjaga soliditas dalam menghadapi pesta demokrasi ini.
NUKILAN.id | Feature – Mendung menggelayut manja menaungi kawasan Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Hari itu, Kamis, 14 November 2024, hujan baru saja berhenti. Rintik air yang baru reda menyisakan aroma khas yang menguar dari aspal yang basah.
Disudut parkiran, mobil pengunjung yang mengunjungi situs tsunami Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung telah memenuhi area parkir. Dilihat dari plat kendaraan yang kebanyakan non BL, pengunjung yang datang dipastikan didominasi oleh masyarakat luar Aceh alias wisatawan domestik.
Para pengunjung belum bisa memasuki tempat tersebut, dikarenakan pintu utamanya belum dibuka. Maklum saja, saat itu sedang jam istirahat dimana para petugas nya sedang makan siang dan melaksanakan ibadah shalat Zhuhur. Sembari menunggu gerbang dibuka, beberapa pengunjung berkeliling ke gerai oleh-oleh khas Aceh yang ada di sekitar lokasi.
Seiring waktu, awan yang gelap mulai menghilang, dan matahari yang sebelumnya tertutup perlahan menampakkan diri. Tepat pukul 14.00 WIB, pintu dibuka. Para pengunjung segera masuk, antusias melihat langsung jejak kedahsyatan tsunami Aceh yang terjadi pada 2004 silam.
Seorang pengunjung asal Jakarta, Jamal, yang sempat ditemui media ini mengaku takjub melihat museum PLTD Apung. Baru kali ini dirinya melihat secara langsung kapal yang telah berubah fungsi menjadi museum itu berada di daratan. Sebelumnya, ia hanya mendengar cerita tentang museum PLTD Apung dari kolega dan sahabatnya yang pernah mendatangi tempat tersebut.
Wisatawan melakukan swafoto saat mengunjungi objek wisata Situs Tsunami Kapal PLTD Apung. (Foto: InfoPublik)
“Subhanallah. Bagaimana bisa kapal sebesar ini terseret ke tengah daratan seperti ini. Tuhan telah menunjukkan kebesarannya bang,” ucapnya takjub.
Pengunjung lainnya, Taufik, mengaku datang bersama keluarganya ke tempat tersebut. Warga Sibolga, Sumatera Utara ini menerangkan, ia telah dua kali mengunjungi destinasi wisata yang satu ini.
“Banyak keluarga saya yang penasaran dengan kapal apung ini. Begitu sampai di Aceh, tempat ini menjadi destinasi prioritas yang wajib dikunjungi,” tutur Taufik.
Sejarah Museum PLTD Apung
Dirangkum dari berbagai literatur, kapal PLTD Apung merupakan sebuah kapal yang memiliki luas sekitar 1.900 meter persegi, dengan panjang mencapai 63 Meter. Memiliki bobot 2.600 ton, kapal ini terseret sejauh 3 kilometer ke pusat kota Banda Aceh oleh gelombang tsunami yang terjadi di penghujung tahun 2004.
Konon, gempa bumi yang berkekuatan 9 skala richter dan disusul gelombang tsunami yang terjadi kala itu merupakan salah satu bencana terdahsyat yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia.
Mengutip informasi dari Kebudayaan Kemdikbud, Kapal PLTD Apung dibuat pada tahun 1996 di Batam. Kemudian kapal ini dipakai di Pontianak pada tahun 1997. Memiliki mesin pembangkit listrik berkekuatan daya mencapai 10,5 megawatt, kapal ini bertugas untuk mengatasi berbagai masalah kelistrikan.
Selanjutnya pada tahun 1999, kapal ini pernah digunakan untuk mengatasi krisis listrik di Bali. Pada tahun 2000, kapal ini juga turut mengatasi masalah kelistrikan di Madura dan kembali lagi ke Pontianak pada tahun 2001.
Atas permintaan Abdullah Puteh, Gubernur Aceh saat itu, kapal PLTD Apung pun tiba di perairan Ulee Lheu untuk mengatasi krisis listrik yang terjadi kala itu.
Keberadaan museum kapal PLTD Apung telah menjadi gambar kedahsyatan gelombang tsunami di tengah bencana yang tak terperi. Setelah masa pemulihan akibat bencana tsunami, kapal yang semula berfungsi sebagai pembangkit listrik tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Kemudian, Pemerintah Aceh menyulap kapal tersebut menjadi Museum PLTD Apung sebagai tempat wisata pasca tsunami. Hal ini bertujuan agar generasi selanjutnya dapat menyaksikan efek dahsyat yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut dan pengingat sejarah bencana yang pernah terjadi.
Kini, bagian dalam kapal PLTD Apung difungsikan sebagai museum edukasi tentang mitigasi bencana yang diisi dengan berbagai informasi dalam berbentuk video ilustrasi tentang proses terdamparnya kapal PLTD Apung.
Dalam momentum tertentu, museum PLTD Apung juga menjadi lokasi pembelajaran lapangan bagi para guru untuk memperkenalkan kepada para murid tentang kebencanaan sejak dini.
Museum ini telah dilengkapi 2 menara, sebuah monument, jalan setapak, dan air mancur. Pada bagian deck dasar kapal terdapat ruang ABK yang masih utuh seperti saat kapal ini beroperasi. Hal yang paling unik dari kapal ini terdapat teropong besar di lantai atas kapal yang dapat digunakan ketika pengunjung memasukan koin 500 rupiah. Melalui teropong tersebut, pengunjung dapat melihat seluruh kota Banda Aceh dengan sangat indah.
Museum PLTD Apung dapat dikunjungi pukul 09.00 – 17.30 WIB, dengan jam istirahat dari pukul 12.00 – 14.00 WIB. Adapun biaya untuk masuk ke dalam lingkungan museum ini adalah seikhlasnya, disediakan kotak amal didepan pintu masuk yang nantinya seluruh uang yang terkumpul diserahkan kepada pengelola masjid Punge Blang Cut untuk proses pembangunan masjid.
Demikianlah Museum PLTD Apung dengan segala kisah, cerita dan sejarahnya. Keberadaanya telah memberikan gambaran kepada generasi Aceh selanjutnya tentang kengerian gelombang tsunami yang pernah terjadi di tanah negeri berikut dampak yang terjadi. Semoga saja, Museum PLTD Apung dapat memberikan pelajaran penting bagaimana menghargai alam, meminimalisir dampak bencana, berikut pola penanganannya.
SUKAT dan Disbudpar Gelar Duek Pakat Kebudayaan Aceh. (Foto: For Nukilan)
NUKILAN.id | Banda Aceh — Suara untuk Kebudayaan Aceh Terarah (SUKAT) bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh dan Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah 1 Aceh mengadakan Duek Pakat Kebudayaan Aceh di Kompleks Taman Ratu Safiatuddin, Kuta Alam, Banda Aceh, Rabu (13/11/2024) hingga Sabtu (16/11/2024). Acara ini melibatkan 153 sumber daya manusia (SDM) kebudayaan dari seluruh kabupaten dan kota di Aceh.
Iskandar Tungang, Koordinator SUKAT, mengungkapkan bahwa Duek Pakat ini merupakan upaya nyata dalam melibatkan partisipasi publik yang bermakna dalam pembahasan Rancangan Qanun (Raqan) Pemajuan Kebudayaan Aceh. Menurutnya, keterlibatan ini adalah langkah maju yang belum pernah terjadi pada raqan-raqan sebelumnya.
“Ini adalah preseden baru yang membuktikan adanya partisipasi bermakna,” kata Iskandar, Kamis (14/11/2024).
Dalam pernyataannya, Iskandar menyampaikan apresiasi kepada Disbudpar Aceh atas dukungan penuh terhadap pelaksanaan Duek Pakat dan pemberian wewenang kepada SUKAT untuk terlibat dalam pengelolaan raqan ini. Ia juga berterima kasih kepada BPK Wilayah 1 Aceh yang telah memfasilitasi acara ini hingga terlaksana dengan baik.
Iskandar menambahkan bahwa keterlibatan SDM kebudayaan ini sangat unik dan beragam, mencakup berbagai profesi dan etnis dari seluruh Aceh.
“Kami bangga bisa menghadirkan keterwakilan yang unik seperti pawang, konservatoris, pengelola pasar tradisional, para pencari lebah, serta perwakilan dari etnis Gayo, Kluet, Simeulue, Tionghoa, Tamiang, Singkil, dan etnis lainnya,” ungkapnya.
Iskandar berharap Duek Pakat Kebudayaan Aceh bisa dilaksanakan secara berkala, minimal dua tahun sekali, sebagai sarana evaluasi dan penguatan kebijakan budaya di Aceh.
“Dengan adanya pertemuan rutin ini, kami berharap akan lahir kebijakan-kebijakan yang mendukung upaya pemajuan kebudayaan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten,” ujar Iskandar.
Acara Duek Pakat ini diharapkan menjadi langkah awal bagi seluruh SDM kebudayaan di Aceh untuk terus aktif mengawal implementasi kebijakan kebudayaan.
“Partisipasi aktif dari seluruh SDM kebudayaan di Aceh sangat penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem kebudayaan,” pungkasnya.
Mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Aceh Barat sepakat atas penggunaan jalan lingkar kampus di Desa Ujong Tanoh Darat, Kecamatan Meureubo, sebagai jalur hauling atau pengangkutan material hasil tambang batu bara. (Foto: Catat.co)
NUKILAN.id | Meulaboh – Mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Aceh Barat sepakat atas penggunaan jalan lingkar kampus di Desa Ujong Tanoh Darat, Kecamatan Meureubo, sebagai jalur hauling atau pengangkutan material hasil tambang batu bara. Kesepakatan ini muncul dalam Focus Group Discussion (FGD) di Aula Cut Nyak Dhien, Universitas Teuku Umar (UTU), yang juga dihadiri oleh perwakilan dua perusahaan tambang batu bara—PT Pada Smesta Utama (PSU) dan PT Bumi Tambang Energi (BTE)—serta beberapa pihak terkait dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dan DPRK.
Anwar Efendi, Presiden Mahasiswa UTU, menyebutkan alasan utama persetujuan ini adalah untuk mendukung investasi daerah dan keberlanjutan pendidikan di sekitar lokasi.
“Kami mendukung penggunaan jalan ini, tapi dengan catatan tidak mengganggu aktivitas perkuliahan. Ini perlu diperhatikan untuk menjaga keseimbangan antara investasi daerah dan kondisi pendidikan,” ujar Anwar, Kamis (14/11/2024).
Rekomendasi Mahasiswa untuk Pengoperasian Jalan Hauling
Meskipun setuju, para mahasiswa menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada pihak perusahaan dan pemerintah guna menghindari dampak sosial yang merugikan. Beberapa poin penting yang disampaikan meliputi:
Batas waktu pengoperasian selama tiga tahun.
Operasional hauling dilakukan di luar jam perkuliahan.
Peningkatan pengawasan terhadap jalan dan pengoperasian.
Pembangunan jalur dua untuk mengurangi potensi kemacetan.
Mahasiswa juga menuntut keterlibatan mereka dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan meminta pemerintah daerah menerbitkan Peraturan Bupati (Perbub) yang mengatur hauling ini. Selain itu, mahasiswa berharap ada kompensasi khusus di luar program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR).
Desakan Penerbitan Qanun dan Penanganan Kecelakaan
Para mahasiswa yang terlibat dalam diskusi juga menuntut penerbitan qanun (peraturan daerah) terkait pengoperasian hauling. Mereka menegaskan bahwa jika terjadi kecelakaan selama operasional hauling, izin perusahaan harus dicabut, dan lingkungan kampus perlu steril pada pagi hari agar kegiatan belajar-mengajar tidak terganggu.
Pembangunan Jalan Lingkar dengan Skema KPBU
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat, Kurdi, menjelaskan bahwa jalan ini dibangun oleh pihak perusahaan melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Unsolicited. Proyek ini menelan biaya Rp21 miliar dengan panjang jalan 14 kilometer, dan diperkirakan mampu menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp60 miliar dalam tiga tahun.
Pembangunan jalan ini mencakup pelebaran jalan menjadi dua jalur untuk mendukung pengangkutan batu bara selama tiga tahun, dan setelah itu, jalan akan menjadi aset Pemerintah Kabupaten Aceh Barat.
“Jalan ini sepenuhnya dibiayai oleh pihak perusahaan, dan nantinya akan menjadi aset milik pemerintah daerah,” kata Kurdi.
FGD bertajuk “Polemik Hauling” ini berlangsung selama enam jam dan menghasilkan kesepakatan penting antara mahasiswa, perusahaan tambang, dan pemerintah daerah untuk memastikan jalur hauling tidak mengganggu kegiatan akademik, sekaligus memajukan investasi dan PAD di Aceh Barat.
Atlet Aceh Barat Raih Medali di Ajang Muaythai Internasional di Malaysia. (Foto: RRI)
NUKILAN.id | Meulaboh – Dua atlet muaythai putra asal Aceh Barat berhasil mengharumkan nama daerah dalam ajang Battle Rumbel Warrior Championship yang berlangsung di Johor, Malaysia, pada 9-10 November 2024. Kedua atlet, M. Zakie Al Hafid dan Willy Wahidiansyah, masing-masing meraih medali emas dan perak di kategori amatir 64 kg dan 54 kg.
“Allhamdulillah, dua putra terbaik Aceh Barat kembali membawa pulang medali dari kompetisi internasional. M. Zakie Al Hafid sukses meraih emas di kelas 64 kg amatir, sementara Willy Wahidiansyah mendapat perak di kelas 54 kg amatir,” ujar Saputra, Pelatih Cabang Olahraga (Cabor) Muaythai Aceh Barat, Kamis (14/11/2024).
Menurut Saputra, persiapan kedua atlet ini sebenarnya berfokus pada ajang Pra Pora 2025. Meski demikian, keduanya terbukti siap bertanding di kejuaraan internasional.
“Kami memang sudah mempersiapkan mereka dengan matang, dan hasil ini menjadi bukti bahwa mereka siap berlaga di berbagai ajang,” tambah Saputra.
Tidak hanya soal teknik dan mental bertanding, Saputra juga mengakui bahwa keikutsertaan mereka di ajang internasional ini mengandalkan dana pribadi dan dukungan sponsor.
“Kami berangkat dengan dana pribadi dan sponsor. Semoga ke depan semakin banyak dukungan agar lebih banyak atlet Aceh Barat yang bisa mengharumkan nama daerah,” ujarnya.
Saputra menekankan pentingnya try-out atau ujicoba internasional seperti ini bagi para atlet. Menurutnya, pengalaman bertanding di luar negeri memberi kesempatan bagi atlet untuk mengukur kemampuan dan kesiapan mereka.
“Try-out sangat penting, apalagi untuk menghadapi Pra Pora 2025 dan PORA 2026. Kami terus berupaya mengasah kemampuan mereka,” tutup Saputra.
BMKG Aceh Rilis Alat Peringatan Dini Tsunami Otomatis Menjangkau Seluruh Wilayah Aceh. (Foto: ANTARA)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkenalkan Automatic Warning Broadcasting (AWB), alat peringatan dini tsunami yang mampu menjangkau masyarakat di seluruh Aceh dengan cepat dan otomatis beberapa saat setelah gempa terdeteksi. Inovasi ini dioperasikan oleh Stasiun Geofisika (Stageo) Kelas III Mata’Ie di Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.
Zaenal Abidin Alatas, Pengamat Meteorologi Geofisika Muda dari Stageo Mata’Ie, menjelaskan bahwa AWB yang diperkenalkan ini bertipe XCA05L dan didesain dengan teknologi terkini. Sebagian besar komponennya merupakan hasil produksi dalam negeri.
“AWB ini secara otomatis mendeteksi aktivitas seismik, lalu melakukan analisis cepat terkait parameter gempa seperti magnitudo dan kedalaman,” jelas Zaenal, Kamis (14/11/2024).
Menurutnya, jika parameter gempa menunjukkan potensi tsunami, sistem AWB akan langsung mengirimkan peringatan. Teknologi ini menggunakan jaringan komunikasi radio dan baterai, memungkinkan penyebaran informasi secara cepat melalui perangkat seperti walkie-talkie.
“Radius jangkauan peringatan bisa diatur hingga radius 500 kilometer dari pusat gempa, sehingga masyarakat di Aceh bisa segera mendapat peringatan dini jika gempa terjadi di lokasi sekitarnya,” tambah Zaenal.
Masih dalam Tahap Percobaan
Meski menjanjikan kemudahan akses dan kecepatan informasi, AWB saat ini masih dalam tahap percobaan dan jumlahnya terbatas. Oleh karena itu, penggunaannya lebih difokuskan untuk pelaporan kepada instansi terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh (BPBA), TNI, dan Polri, sebelum peringatan diteruskan kepada masyarakat.
Zaenal mengungkapkan harapan agar alat ini bisa dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat, minimal oleh perangkat desa atau ketua RT. “Dengan teknologi frekuensi radio, alat ini sebenarnya cukup mudah diakses, sehingga idealnya bisa dimiliki oleh pemangku kepentingan di tingkat lokal untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” ujarnya.
Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan respons cepat terhadap potensi tsunami di Aceh, mengingat pentingnya informasi yang tepat waktu demi keselamatan masyarakat di wilayah rawan bencana.
Pj Gubernur Aceh Safrizal Gaet Dubes Seychelles untuk Investasi Pariwisata di Aceh. (Foto: MC Aceh)
NUKILAN.id | Jakarta – Penjabat Gubernur Aceh, Dr. H. Safrizal ZA, M.Si, mengambil langkah besar dalam upaya mengembangkan pariwisata Aceh dengan menggandeng Seychelles untuk investasi di wilayahnya. Pada Rabu (13/11/2024), Safrizal bersama Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin berkunjung ke Kedutaan Besar Seychelles untuk ASEAN yang berlokasi di Menteng, Jakarta. Mereka disambut langsung oleh Dubes Seychelles, Nico Barito.
Dalam pertemuan tersebut, Safrizal mengungkapkan harapannya agar kedatangan delegasi dari Seychelles ke Aceh dapat membawa dampak positif bagi perekonomian daerah. Ia optimis bahwa investasi dalam sektor pariwisata akan menjadi salah satu cara memperkuat ekonomi masyarakat Aceh.
“Aceh memiliki potensi wisata luar biasa, kita berharap kedatangan delegasi Dubes nanti bisa membuka peluang investasi, yang tentunya akan membantu perekonomian masyarakat,” ujar Safrizal.
Nico Barito, Dubes Seychelles, menunjukkan antusiasmenya terhadap peluang kerjasama ini. Menurutnya, kekayaan alam dan keindahan wilayah Aceh sangat menarik perhatian bagi investor internasional, khususnya Sabang yang memiliki keindahan pantai dan kekayaan biota laut yang potensial untuk pariwisata.
“Sabang, misalnya, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata kelas dunia. Jika dikelola dengan baik, wisata Sabang bisa menjadi model yang menarik bagi wisatawan dan para investor,” ungkap Nico.
Tidak hanya itu, Nico juga menyatakan kesediaannya untuk memperkenalkan potensi wisata Aceh kepada para dubes dari negara-negara lain, dengan harapan dapat menarik lebih banyak investasi asing ke Aceh.
“Saya akan ajak delegasi dubes lain untuk melihat langsung potensi Aceh dan membawa peluang investasi dari negara-negara asal mereka,” tambahnya.
Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin turut mendukung upaya Safrizal dan Nico dalam meningkatkan pariwisata Aceh. Menurutnya, perkembangan sektor pariwisata adalah kunci kemajuan ekonomi, terutama di zaman modern yang semakin kompetitif.
“Peluang ini sangat berharga untuk Aceh. Saya harap ini bisa jadi langkah awal dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Aceh,” ujar Sultan.
Seychelles sendiri dikenal sebagai negara kepulauan tropis di Samudera Hindia yang terdiri dari sekitar 115 pulau dengan pemandangan alam yang eksotis. Diharapkan, dengan kerjasama ini, Aceh dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata berkelas dunia yang diminati oleh turis mancanegara.
Menekraf RI, Teuku Riefky Harsya, saat menghadiri acara Khanduri Maulid Raya. (Foto: Kemenparekraf)
NUKILAN.id | Banda Aceh — Acara Khanduri Maulid Raya yang diselenggarakan di Aceh pada hari ini menjadi momen spesial dengan kehadiran sejumlah tokoh penting. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Almuniza Kamal, bersama Pj Gubernur Aceh, Safrizal, mendampingi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Menekraf RI), Teuku Riefky Harsya, dalam acara yang penuh makna keagamaan tersebut.
Dalam momen tersebut, Teuku Riefky Harsya, mengapresiasi keberagaman dan potensi subsektor ekonomi kreatif Aceh yang terwujud dalam acara “Khanduri Maulid Raya” yang diselenggarakan di Taman Sultanah Safiatuddin, Banda Aceh, pada Jumat, 15 November 2024.
Acara ini, yang merupakan bagian dari Peringatan 20 Tahun Tsunami Aceh dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 Hijriah, menghadirkan berbagai kegiatan budaya dan kuliner khas Aceh yang menunjukkan betapa kaya dan beragamnya seni dan budaya daerah ini.
MenEkraf Riefky, dalam kesempatan tersebut, menyampaikan bahwa salah satu daya tarik utama dari Khanduri Maulid Raya adalah suguhan kuliner khas Aceh, seperti Dalong yang berisi kupi, pulot, dan beragam hidangan lainnya.
“Kuliner dan seni pertunjukan adalah dua subsektor ekonomi kreatif yang sangat potensial, dan Aceh telah menunjukkan bagaimana kedua subsektor ini dapat berkembang dengan baik,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang memperingati Maulid Nabi, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkenalkan lebih dalam potensi budaya Aceh yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Aceh sudah terkenal sejak zaman dahulu sebagai pusat kebudayaan. Saya berharap kegiatan ini dapat memperkuat ukhuwah dan membawa kesejahteraan bersama,” kata MenEkraf Riefky.
Selain kuliner, acara ini juga menampilkan berbagai seni pertunjukan yang menggambarkan kekayaan budaya Aceh. Dalam sambutannya, Menteri Riefky mengungkapkan pentingnya kegiatan seperti ini dalam mempererat silaturahmi antar masyarakat, serta memberikan refleksi pada ajaran Rasulullah SAW yang penuh kebijaksanaan dan kasih sayang.
Acara Khanduri Maulid Raya juga dihadiri oleh Direktur SDM Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf, Fahmi Akmal, dan Direktur Aplikasi, Permainan, Televisi, dan Radio Kemenparekraf/Baparekraf, Iman Santosa. Bersama Pj Gubernur Aceh, Safrizal, mereka turut mendampingi MenEkraf dalam acara yang juga menjadi simbol harapan bagi masa depan ekonomi kreatif Aceh.
Dengan kegiatan ini, Teuku Riefky berharap Aceh dapat terus melestarikan dan mengembangkan subsektor ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya, yang berpotensi memperkuat perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kadisbudpar Dampingi Pj Gubernur Aceh Safrizal Tinjau Persiapan Maulid Raya. (Foto: Humas Aceh)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal, mendampingi Pj Gubernur Aceh Safrizal dalam meninjau persiapan penyelenggaraan Maulid Raya Pemerintah Aceh, yang rencananya akan digelar di Taman PKA Ratu Safiatuddin, Banda Aceh.
Dalam tinjauan yang berlangsung pada Jumat (15/11), Almuniza Kamal mengungkapkan bahwa kegiatan Maulid Raya kali ini diharapkan dapat menarik ribuan peserta, dengan sejumlah tamu penting yang dijadwalkan hadir. “Acara ini akan dihadiri oleh Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan dai kondang Da’sad Latif. Kami berharap Maulid Raya ini dapat memberikan semangat keagamaan yang mendalam kepada masyarakat,” ujar Almuniza.
Sejak pagi hari, ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Aceh telah bergotong royong untuk membersihkan area Taman Ratu Safiatuddin, tempat di mana acara akan diselenggarakan. Mereka membersihkan area dan menyiapkan anjungan untuk memastikan acara berjalan lancar dan nyaman bagi ribuan undangan yang diperkirakan hadir.
Almuniza juga menambahkan, persiapan acara melibatkan banyak pihak, baik dari Disbudpar Aceh maupun instansi terkait. Dengan berbagai kegiatan yang dirancang, Maulid Raya diharapkan menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat Aceh.
Sebagai bagian dari perayaan, acara ini juga akan menyuguhkan berbagai acara keagamaan, diantaranya ceramah dari Da’sad Latif, yang diperkirakan akan menarik perhatian banyak pengunjung.
Pemerintah Aceh berkomitmen untuk terus menjaga warisan budaya dan tradisi Aceh, sekaligus memperkuat peran budaya dalam membangun kesadaran sosial yang lebih tinggi.
Agam Inong Aceh Ikut Serta dalam City Tour. (Foto: IG Disbudpar Aceh)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Menjelajahi kota Banda Aceh kini semakin seru dan praktis berkat layanan Trans Koetaradja. Setiap hari Minggu, warga dan wisatawan dapat menikmati layanan Trans Meudiwana yang menawarkan perjalanan nyaman ke berbagai destinasi wisata di ibu kota Provinsi Aceh. Bagi yang ingin menjelajahi kota tanpa harus menghadapi kemacetan, Trans Koetaradja hadir sebagai solusi praktis untuk menikmati perjalanan keliling Banda Aceh.
Dilansir dari Instagram Disbudpar Aceh, keseruan layanan city tour ini semakin istimewa karena finalis Agam Inong Aceh turut serta dalam menjelajahi kota menggunakan Trans Koetaradja. Para finalis yang merupakan wajah-wajah terbaik dari Aceh ini akan berkeliling kota, menyaksikan langsung berbagai destinasi wisata menarik sambil menikmati kenyamanan perjalanan yang disediakan oleh Trans Koetaradja.
Dengan konsep yang lebih menyenangkan, layanan Trans Meudiwana memberikan pengalaman wisata yang tak hanya mengasyikkan tetapi juga tanpa kerepotan. Cukup duduk santai, nikmati perjalanan, dan biarkan Trans Koetaradja membawa Anda ke tempat-tempat menarik di Banda Aceh tanpa harus khawatir dengan kemacetan.
Bagi Anda yang ingin mengikuti keseruan ini, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati city tour bersama finalis Agam Inong Aceh dan menjelajahi kota Banda Aceh dengan cara yang lebih seru. Bergabunglah dalam pengalaman baru yang lebih menyenangkan bersama Trans Koetaradja!