Beranda blog Halaman 819

Museum Tsunami Aceh: Jejak Memori dan Edukasi Bencana

0
Museum Tsunami Aceh. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Feature – Matahari siang itu, Sabtu, 16 November 2024, bersinar terik, menciptakan hawa gerah yang menyelimuti Kota Banda Aceh. Di depan Gedung Museum Tsunami, petugas keamanan tampak sibuk mengatur arus kendaraan yang keluar masuk dengan sabar dan profesional. Sementara itu, masyarakat antusias mengantri untuk memasuki museum, salah satu destinasi wisata favorit di Aceh.

Di deretan barisan antrian, seorang perempuan paruh baya terlihat sabar menanti. Sesekali ia membetulkan hijabnya yang diterpa angin sepoi-sepoi.

Ia adalah Uci, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Ulee Kareng, Banda Aceh. Saat ditanyai media ini Uci mengungkapkan ia datang bersama sejumlah kerabatnya asal Jawa Tengah yang sedang berlibur ke Aceh. Uci mengaku sengaja merekomendasikan Museum Tsunami sebagai destinasi prioritas yang harus dikunjungi keluarganya yang datang dari Semarang.

“Banyak opsi yang saya tawarkan kepada saudara saya Bang. Aceh ini kan banyak tempat wisatanya, tapi keluarga dari Jawa banyak yang bertanya tentang tsunami Aceh, makanya saya bawa kemari,” ucap Uci.

Menurutnya, kehadiran gedung Museum Tsunami ini telah banyak memberikan informasi penting tentang bencana maha dahsyat yang terjadi di penghujung tahun 2004 itu.

“Tempat ini kan juga sebagai sarana edukasi buat kami yang tidak pernah mengalami dan merasakan langsung bagaimana hebatnya kejadian itu,” tukas salah seorang kerabat Uci, Mbak Retno.

Pengunjung di Museum Tsunami Aceh. (Foto: Nukilan)

“Hal yang lain penasaran sih mas. Info yang kami dengar di luar sana, di museum ini banyak dipamerkan benda-benda peninggalan dari kejadian itu. Jadi kami ingin menyaksikan langsung,” tambah Mbak Retno.

Ungkapan yang sama disampaikan pengunjung lainnya, Zaki. Ia dan keluarganya mengaku sengaja memilih negeri Serambi Mekah, untuk melihat dan merasakan langsung suasana syariat yang ada di Aceh.

“Beda banget suasananya bang. Religius sekali. Tenang dan damai. Tidak ada kemacetan. Semua wanita yang saya lihat juga berjilbab,” terang Zaki yang mengaku berasal dari Medan, Sumatera Utara.

Terkait Museum Tsunami, Zaki menerangkan dirinya baru pertama sekali berkunjung ke tempat tersebut. Sebelumnya, ia sering mendengar tentang museum ini dari kolega dan sahabatnya yang pernah mengunjungi Museum Tsunami.

“Penasaran sih bang. Kabar yang saya dengar, di dalam banyak informasi yang menyajikan tentang fakta-fakta yang terjadi saat stunami Aceh,” kata Zaki.

Dikutip dari website museum tsunami, museum ini berdiri pada tahun 2008 tepatnya bulan Februari. Gedung ini merupakan buah karya Ridwan Kamil, mantan Gubernur Jawa Barat. Desain gedung yang ia buat berhasil memenangkan sayembara tingkat internasional pada tahun 2007 dalam rangka memperingati peristiwa tsunami tahun 2004.

Bukan hanya bentuk fisik yang sempurna, koleksi yang disimpan di dalam museum itu juga begitu lengkap. Museum Tsunami ini menyimpan sekitar 6.038 koleksi. Koleksi tersebut dibagi ke dalam beberapa jenis, yaitu koleksi etnografika, arkelogika, biologika, teknologika, keramonologika, seni rupa, numismatika dan heraldika, geologika, filologika, serta historika dan ruang audio visual.

Koleksi ini tidak dipamerkan secara serentak, ada beberapa yang nantinya diadakan dalam pameran temporer, jadi bagi pengunjung juga dapat menyaksikan semuanya secara bersamaan. Pengelola museum merotasi koleksi setiap enam bulan sekali. Dalam satu pameran, terdapat sekitar 1.300 koleksi yang tersebar di tiga titik, yaitu rumah Aceh, pameran temporer, dan ruang pameran tetap.

Saat memasuki ruangan museum, para pengunjung akan melewati sebuah lorong kecil dengan pencahayaan yang agak sedikit gelap. Suara gemericik air yang mengaliri dinding plus animasi suara saat bencana tsunami terjadi membuat pengunjung seakan sedang mengalami bencana maha dahsyat itu. Sungguh, lorong ini telah menghadirkan suasana yang begitu nyata hingga membuat emosi pengunjung campur aduk.

Selanjutnya, pengunjung akan menemui sebuah ruang yang bernama The Light of God. Di tempat berbentuk cerobong ini pengunjung akan melihat tulisan ratusan ribu nama korban dari bencana Tsunami Aceh.

Selanjutnya, pengunjung dapat menyaksikan sejumlah foto-foto sesaat peristiwa memilukan itu terjadi. Bukan hanya dokumentasi, pengunjung juga dapat menyaksikan sejumlah benda-benda peninggalan stunami yang dapat mendeskripsikan betapa hebatnya kejadian tersebut.

Jika pengunjung melihat ke bagian atas gedung, akan terlihat puluhan bendera negara-negara luar yang terlibat dan membantu Aceh ketika stunami terjadi. Bendera tersebut sengaja diperlihatkan sebagai bentuk ucapan terimakasih masyarakat Aceh kepada dunia internasional yang telah membantu mereka.

Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M. Syahputra Azwar, S.STP, M.Ec.Dev saat diwawancara melalui sambungan langsung menerangkan museum tsunami ini didirikan untuk mengenang kejadian tsunami yang melanda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 silam.

“Selain itu bangunan ini juga merupakan tempat evakuasi apabila terjadi bencana tsunami. Dan yang paling penting museum ini merupakan tempat edukasi bagi seluruh masyarakat serta pengunjung agar paham dengan bencana serta efek yang ditinggalkan sehingga ke depan mereka paham apa yang harus dilakukan apabila terjadi bencana gempa dan tsunami,” terang Putra.

Lebih lanjut Putra menjelaskan di dalam museum ini terdapat banyak sekali benda-benda peninggalan tsunami dan setiap isi bangunan memiliki filosofi yang menggambarkan berapa dahsyatnya bencana tsunami yang melanda Aceh.

“Seperti ada memorium hall, sumur doa, jembatan perdamaian serta audio visual yang menampilkan video tentang keadaan tsunami di Aceh,” jelas dia.

Ditambahkan Putra, pengunjung yang datang ke museum stunami berkisar 27.500 orang setiap bulannya. Kecuali hari Jumat, tempat ini buka setiap harinya dari pukul 09.00 s.d 16.00 WIB.

“Harga tiketnya sangat terjangkau. Untuk anak-anak Rp. 3000, dewasa Rp. 5.000, dan mancanegara Rp. 20.000. Pengunjung juga dapat membeli tiket dengan QRIS yang disediakan pada loket tiket sehingga lebih memudahkan pengunjung dalam bertransaksi dan tidak memakan waktu lama dalam pendaftaran,” ujar Putra.

Museum Tsunami Aceh terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda No 3, Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Posisinya tidak jauh dari Masjid Baiturrahman, sekitar 11 menit jika kalian berjalan kaki dan 1 menit ketika mengendarai kendaraan bermotor serta bersebelahan dengan Kompleks Makam Belanda (Kerkhof).

Penulis: Boim

UTU Perkenalkan Teknologi GIS untuk Pemetaan Potensi Desa Tumpok Ladang

0
UTU Perkenalkan Teknologi GIS untuk Pemetaan Potensi Desa Tumpok Ladang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Meulaboh – Universitas Teuku Umar (UTU) terus membuktikan komitmennya dalam mendukung pengembangan desa di Aceh. Melalui Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, UTU menggelar kegiatan pemetaan potensi Desa Tumpok Ladang, Kecamatan Sama Tiga, Aceh Barat, menggunakan teknologi Geographic Information System (GIS) dan perangkat canggih. Kegiatan yang berlangsung pada 16 November 2024 ini menjadi langkah strategis dalam memetakan potensi wilayah secara presisi.

Dengan memanfaatkan Drone DJI Matrice 350 RTK, dilengkapi kamera P1 dan GPS Geodetik V30+, pemetaan seluas 50 hektar berhasil dilakukan hanya dalam waktu 16 menit. Teknologi ini tidak hanya menghadirkan kecepatan, tetapi juga akurasi tinggi yang sangat dibutuhkan dalam menyusun program pengembangan desa berbasis data.

“Pemetaan ini sangat penting bagi kami untuk mengidentifikasi potensi wilayah, terutama sektor pertanian, agar pengembangan desa lebih terarah,” ujar Kepala Desa Tumpok Ladang, Chairul Musca, SP. Ia berharap data yang dihasilkan mampu meningkatkan potensi sumber daya alam sekaligus mempercepat pembangunan desa sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMD).

Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Masyarakat

Desa Tumpok Ladang telah menjadi desa dampingan Program Studi Agroteknologi UTU sejak 2023. Dalam kegiatan pemetaan kali ini, dukungan penuh diberikan oleh laboratorium GIS milik UTU yang dilengkapi fasilitas modern, seperti 10 unit komputer, layar TV touchscreen 75 inci, serta printer peta ukuran A0 dan A3.

Dr. Irvan Subandar, MP, Wakil Dekan 1 Fakultas Pertanian UTU, menegaskan pentingnya sinergi antara universitas dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi untuk pengembangan wilayah.

“Kami ingin kegiatan ini menjadi model bagi desa-desa lain untuk menggali potensi lokal menggunakan pendekatan teknologi modern,” katanya.

Selain pemetaan, laboratorium pertanian UTU juga berperan dalam mendukung administrasi lahan perkebunan kelapa sawit di wilayah barat-selatan Aceh, terutama untuk memenuhi sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi UTU dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

UTU Menuju Universitas BLU

Ketua Program Studi Agroteknologi UTU, Iwandikasyah Putra, SP, MSi, menyebut kegiatan ini selaras dengan visi universitas yang tengah mempersiapkan diri menjadi Badan Layanan Umum (BLU).

“Kami tidak hanya ingin membantu pengembangan desa, tetapi juga mengaplikasikan teknologi dan pengetahuan sebagai wujud kontribusi nyata perguruan tinggi dalam pembangunan daerah,” jelasnya.

Kegiatan pemetaan ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Fakultas Pertanian UTU, dosen, dan masyarakat setempat. Hasil pemetaan diharapkan menjadi dasar bagi Desa Tumpok Ladang untuk menyusun program pembangunan berbasis potensi lokal, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dengan langkah ini, Universitas Teuku Umar menunjukkan bahwa kolaborasi erat antara akademisi dan masyarakat dapat menghasilkan solusi konkret untuk kemajuan daerah secara berkelanjutan. Desa Tumpok Ladang kini tidak hanya memiliki data pemetaan yang akurat, tetapi juga peluang besar untuk memanfaatkan teknologi dalam membangun masa depan yang lebih baik.

Editor: Akil

Norma Pengasuhan dan Beban Domestik: Alasan di Balik Keputusan Hidup Childfree

0
Ilustrasi Childfree. (Foto: iStockimages)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Fenomena childfree, di mana seseorang memilih untuk tidak memiliki anak, semakin menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Meski masih jarang terjadi, data menunjukkan bahwa satu dari 1.000 perempuan di Tanah Air kini memilih jalan hidup ini. Tren ini mencerminkan perubahan besar dalam cara pandang perempuan terhadap peran mereka di masyarakat.

Riswati, seorang aktivis perempuan dan anak, menilai bahwa pilihan hidup childfree tak bisa dilepaskan dari norma pengasuhan anak dan pekerjaan domestik yang masih banyak dibebankan kepada perempuan.

“Pilihan ini mencerminkan keinginan untuk keluar dari belenggu peran tradisional yang sering kali membatasi ruang gerak perempuan,” ujar Riswati kepada Nukilan.id, Sabtu (16/11/20224).

Menurutnya, fenomena ini menjadi refleksi nyata dari perubahan cara pandang terhadap kehidupan dan peran perempuan, baik di ranah domestik maupun publik. Fenomena ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus mendorong kesetaraan gender, baik di ranah domestik maupun publik.

Pilihan childfree mungkin masih menjadi kontroversi di Indonesia, tetapi tren ini menunjukkan adanya dinamika baru dalam masyarakat yang patut mendapat perhatian. Pada akhirnya, menghormati setiap keputusan individu, termasuk memilih childfree, adalah langkah penting menuju masyarakat yang lebih adil dan setara. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Fenomena Childfree: Antara Pilihan Hidup dan Tantangan Ekonomi

0
Ilustrasi Childfree. (Foto: Kompas)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Fenomena childfree, yaitu keputusan untuk tidak memiliki anak, kian menjadi topik hangat di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia merilis laporan terbaru periode 2023 terkait fenomena childfree di kalangan perempuan Indonesia. Data survei menunjukkan terdapat 71 ribu perempuan berusia 15 hingga 49 tahun yang memilih untuk tidak memiliki anak.

Berdasarkan data terbaru, satu dari 1.000 perempuan di Tanah Air kini memilih jalan hidup ini. Keputusan ini memunculkan beragam diskusi, mulai dari faktor ekonomi hingga kesadaran perempuan dalam menentukan prioritas hidup.

Riswati, seorang aktivis perempuan dan anak, menyoroti bahwa kondisi sosial dan ekonomi menjadi salah satu alasan utama di balik fenomena ini. Ia mengungkapkan bahwa banyak perempuan merasa khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti sandang, pangan, papan, hingga pendidikan.

“Kemiskinan dan ketidakpastian ekonomi menjadi kekhawatiran besar bagi mereka yang memilih untuk menunda atau bahkan tidak berencana memiliki anak,” ujar Riswati kepada Nukilan.id, Sabtu (16/11/2024).

Namun, Riswati menegaskan bahwa keputusan childfree tidak selalu terkait dengan keterbatasan ekonomi. Ia menyebutkan bahwa banyak perempuan memilih jalur ini karena kesadaran akan prioritas hidup, seperti mengejar pendidikan, karier, dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

“Ini adalah bentuk kesadaran kritis perempuan dalam menentukan prioritas dan memaknai tubuhnya. Pilihan besar ini sering kali didasarkan pada pengalaman hidup yang membentuk cara pandang mereka terhadap masa depan,” jelasnya.

Fenomena childfree memunculkan berbagai pandangan di tengah masyarakat. Sebagian pihak menganggapnya sebagai langkah progresif, sementara yang lain melihatnya sebagai tantangan terhadap nilai-nilai tradisional keluarga di Indonesia.

Apapun alasannya, pilihan ini mencerminkan perubahan cara pandang perempuan dalam menjalani hidup, terutama di tengah tekanan sosial dan ekonomi.

Tren childfree ini menandakan bahwa perempuan Indonesia semakin berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka, meski sering kali harus menghadapi kritik atau stigma sosial. Riswati menekankan pentingnya memberikan ruang bagi setiap perempuan untuk menentukan pilihannya tanpa tekanan.

“Pada akhirnya, ini tentang bagaimana mereka bisa menjalani hidup yang sesuai dengan apa yang mereka yakini dan prioritaskan,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Diduga Kedipkan Mata ke Istri Pelaku, Warga Aceh Tengah Tewas Dibacok

0
Ilustrasi pembunuhan. (Foto: Kompas)

NUKILAN.id | Takengon – Seorang pria berinisial RN (50), warga Remesen, Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah, tewas mengenaskan setelah dibacok dan digorok oleh RD (52), seorang pria yang tinggal di kampung yang sama. Insiden tragis ini terjadi pada Sabtu pagi (16/11/2024) sekitar pukul 08.30 WIB di Dusun Burlah, Kampung Remesen.

Kapolres Aceh Tengah AKBP Dody Indra Eka Putra melalui Kasat Reskrim Iptu Deno Wahyudi mengungkapkan, peristiwa tersebut berawal dari dugaan tindakan korban yang mengedipkan mata kepada RA (28), istri pelaku.

“Pelaku RD bersama istrinya saat itu sedang memperbaiki saluran air di depan rumah mereka, sementara korban RN tengah menjemur kopi di dekat situ,” ujar Deno.

RA kemudian menghampiri RN untuk menegur perilaku korban yang dianggap tidak sopan. Tindakan ini memicu emosi RD yang merasa cemburu. Tanpa berpikir panjang, RD mengambil sebilah parang dan menyerang RN secara brutal.

“Pelaku membacok kepala korban berulang kali hingga korban terjatuh. Tidak berhenti di situ, pelaku juga menggorok leher korban hingga nyaris putus. Akibatnya, korban meninggal dunia di lokasi kejadian,” lanjut Deno.

Masyarakat setempat yang mendengar kegaduhan segera melapor ke aparat kepolisian. Tim Opsnal Satreskrim Polres Aceh Tengah bersama anggota Polsek Silih Nara langsung mengamankan RD, yang masih berada tak jauh dari lokasi kejadian.

Korban kemudian dievakuasi ke RSU Datu Beru Takengon untuk menjalani proses visum. Sementara itu, RD kini telah ditahan di Mapolres Aceh Tengah untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Motif pelaku diduga kuat karena rasa cemburu yang dipicu tindakan korban yang sering bermain mata dengan istri pelaku. Kami masih mendalami kasus ini,” tutup Deno.

Peristiwa ini menjadi peringatan keras akan pentingnya menjaga emosi dan hubungan antarwarga untuk mencegah konflik yang berujung pada tragedi. Polisi mengimbau masyarakat agar selalu melaporkan potensi konflik sebelum situasi memanas.

Editor: Akil

Tokoh Agama Buddha dan Kristen Sebut Syariat Islam Ciptakan Aceh Aman dan Nyaman

0
Karifuddin Ciawi alias Afuk (kiri) dan Pdt Hotman Aritonang (dua kanan) dalam pertemuan dengan pengurus FKUB Aceh dan pejabat Kesbangpol Aceh di Banda Aceh. (Foto: Serambi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Syariat Islam yang diterapkan di Aceh kembali mendapat apresiasi, kali ini dari dua tokoh agama non-Muslim asal Kota Langsa. Mereka menyatakan bahwa aturan tersebut menciptakan keamanan dan kenyamanan sosial, sekaligus membantah persepsi negatif yang sering dikaitkan dengan intoleransi di provinsi ini.

Karifuddin Ciawi atau Afuk, tokoh agama Buddha, menegaskan bahwa Syariat Islam di Aceh telah berhasil menghapus berbagai praktik negatif seperti mabuk-mabukan, perjudian, begal, hingga pelacuran.

“Aman dan nyaman sekali di Aceh. Syariat Islam telah menghapus pemabuk, judi, begal dan zina di Aceh,” tegas Afuk sebagaimana dikutip Sekretaris FKUB Aceh Hasan Basri M Nur, Jumat (15/11/2024).

Senada dengan itu, Pendeta Hotman Aritonang dari HKBP Kota Langsa, mengajak masyarakat luar Aceh untuk melihat langsung kondisi di provinsi ini. Menurutnya, cerita negatif yang beredar tentang Aceh sering kali tidak mencerminkan kenyataan di lapangan.

“Cerita versi orang luar tentang Aceh tentu berbeda dengan versi orang yang tinggal di Aceh,” ujar Aritonang.

Dalam kesempatan ini, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh, H A Hamid Zein, mengajak seluruh tokoh agama di Aceh, untuk terus menyuarakan pentingnya perdamaian dan toleransi di tanah rencong. Menurutnya, kampanye positif tentang Aceh yang damai dan harmonis tidak hanya memperkuat kohesi sosial, tetapi juga memberikan dampak ekonomi jangka panjang melalui peningkatan kunjungan wisatawan.

Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Munawar (Kabid Ideologi Kesbangpol Aceh), Surya Edy Rachman (Kabid Ketahanan Sosial Budaya Kesbangpol Aceh), Tgk H Abdullah Usman, Tgk Muhammad Nas Ibrahim, Mirza Dek Yang, dan Zairil Terbangan.

Dari Kota Langsa, hadir pula Karifuddin Ciawi Afuk, H Hasanuddin (Ketua FKUB Langsa), Saifuddin Puteh, Raja Bangsawan, H Bustami SH MH, Pdt Hotman Aritonang, Rafian, serta Vera dari unsur Kesbangpol Langsa.

Polresta Banda Aceh Bongkar Gudang BBM Ilegal, 4,2 Ton Minyak Oplosan Disita

0
Polresta Banda Aceh Bongkar Gudang BBM Ilegal, 4,2 Ton Minyak Oplosan Disita. (Foto: Humas Polresta Banda Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Polisi Resor Kota (Polresta) Banda Aceh berhasil mengungkap praktik penimbunan bahan bakar minyak (BBM) ilegal di sebuah gudang di Gampong Cot Serui, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Dalam operasi tersebut, petugas menyita 4,2 ton minyak oplosan yang diduga siap diedarkan.

Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Fadillah Aditya Pratama, menyebut penggerebekan ini berawal dari laporan masyarakat terkait aktivitas mencurigakan di kawasan tersebut.

“Kami menerima informasi tentang minyak oplosan yang beredar di masyarakat, hingga akhirnya dilakukan penyelidikan mendalam,” ujar Fadillah, Jumat (15/11/2024).

Tiga Tersangka dan Modus Operandi

Tiga tersangka, yakni HR (24), MEI (22), dan HD (22), yang berasal dari Pidie dan menetap di Aceh Besar, ditangkap saat membawa minyak campuran menggunakan mobil minibus Grandmax berpelat BK 9213 CV di wilayah Banda Aceh.

Menurut Fadillah, modus operandi para pelaku adalah mencampur BBM jenis pertalite yang dibeli dari SPBU dengan minyak mentah asal Aceh Timur. Minyak oplosan tersebut kemudian dijual kepada pedagang kecil di Banda Aceh dan sekitarnya.

“Dengan cara ini, mereka mengelabui masyarakat dan mendapatkan keuntungan besar dari penjualan minyak campuran tersebut,” tambahnya.

Barang Bukti Menggunung

Dalam penggerebekan di gudang, polisi menemukan berbagai barang bukti, termasuk:

  • Tiga tandon berisi 3.000 liter pertalite.
  • 35 jerigen berisi 1.225 liter minyak oplosan.
  • Mesin pompa minyak, jerigen kosong, dan peralatan lainnya.
  • Satu mobil pengangkut dan tiga unit ponsel berbagai merek.

Barang-barang tersebut disita untuk mendukung penyelidikan lebih lanjut.

Ancaman Hukuman Berat

Ketiga tersangka kini ditahan di Polresta Banda Aceh dan dijerat dengan Pasal 54 dan 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, yang telah diubah melalui UU Nomor 6 Tahun 2023. Ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara dan denda hingga Rp60 miliar menanti para pelaku.

“Kami juga terus mendalami kasus ini untuk mengungkap jaringan yang terlibat, termasuk pemasok minyak mentah,” tegas Fadillah.

Dukungan Arahan Kapolri

Pengungkapan kasus ini sejalan dengan arahan Kapolri yang mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yang berkomitmen memberantas mafia BBM bersubsidi di Indonesia.

“Pengawasan dan tindakan tegas seperti ini adalah bentuk nyata dari upaya menjaga ketersediaan dan distribusi BBM bersubsidi untuk masyarakat yang membutuhkan,” tutup Fadillah.

Polresta Banda Aceh mengimbau masyarakat untuk terus melaporkan aktivitas mencurigakan terkait BBM ilegal guna mendukung penegakan hukum dan mencegah kerugian lebih besar.

Editor: Akil

Antuasiasme Peserta Warnai Gerakan Tanam 1.000 Pohon di Tepian Sungai Tibang

0
Peseerta sangat antusisas mengikuti Gerakan Menanam 1.000 Pohon yang diselenggarakan oleh Yayasan Aceh Hijau. (Foto: YAHijau)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Puluhan peserta dari berbagai elemen masyarakat memadati kawasan tepian Sungai Tibang pada Sabtu (16/11/2024). Mereka berkumpul untuk mengikuti Gerakan Menanam 1.000 Pohon yang diselenggarakan oleh Yayasan Aceh Hijau. Acara ini menjadi salah satu langkah nyata dalam menjaga lingkungan dan mencegah abrasi di kawasan tersebut.

Menurut pengamatan Nukilan.id, kegiatan yang dimulai sejak pagi hari ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari perwakilan gampong, instansi pemerintah, mahasiswa, organisasi kepemudaan, hingga anak-anak sekolah dasar. Suasana penuh semangat terlihat jelas saat para peserta saling bekerja sama menanam pohon di sepanjang tepian sungai.

“Saya sangat senang bisa berpartisipasi dalam acara ini. Selain menambah pengalaman, saya merasa turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam,” ujar Kila, seorang warga Banda Aceh, dengan penuh kegembiraan.

Peserta dari kalangan SD. (Foto: YAHijau)

Antusiasme yang serupa juga dirasakan oleh Arif, seorang siswa kelas 5 SD Negeri Tibang. Ia mengungkapkan, “Kegiatannya sangat seru, dan kami senang melakukannya supaya sungai ini tetap bagus.”

Sebagai informasi, Yayasan Aceh Hijau menyediakan dua jenis bibit pohon untuk ditanam, yaitu cemara pantai dan ketapang, yang dipilih karena memiliki manfaat ekologis jangka panjang.

Gerakan Menanam 1.000 Pohon ditutup dengan doa bersama, sebagai bentuk harapan agar program pelestarian lingkungan ini dapat terus berlanjut. Banyak peserta berharap kegiatan serupa dapat diadakan secara rutin, guna menjaga kelestarian alam serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya aksi nyata dalam melindungi lingkungan. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Deklarasi Dukungan untuk Aminullah-Isnaini, Abu Mudi: Mari Kita Menangkan Bersama

0
Abu Syekh H Hasanoel Bashry HG atau dikenal sebagai Abu Mudi (tengah) dalam acara deklarasi dukungan untuk Aminullah-Isnaini di Amel Convention Hall, Banda Aceh, pada Sabtu 16 November 2024. (Foto Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dukungan untuk pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman dan Isnaini Husda (AMIN), terus mengalir. Para ulama, pimpinan dayah, balai pengajian, majelis taklim, TPA, imam masjid, serta ratusan santri se-Kota Banda Aceh menggelar deklarasi dukungan di Amel Convention Hall, Banda Aceh, Sabtu (16/11/2024).

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri ulama terkemuka, Abu Syekh H Hasanoel Bashry HG atau yang dikenal sebagai Abu Mudi. Dalam prosesi tersebut, Abu Mudi melakukan peusijuek (tepung tawar) kepada pasangan calon nomor urut 3 tersebut, sebagai simbol dukungan dan do’a restu.

“Hari ini kita berkumpul mendeklarasikan dukungan untuk calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh yang sudah kita peusijuek tadi,” kata Abu Mudi dalam sambutannya.

Ia juga menyerukan kepada seluruh warga Banda Aceh, mulai dari keluarga hingga tetangga, untuk bersatu mendukung pasangan AMIN.

“Harapan kita bersama, semoga Allah memberikan kemenangan kepada calon kita,” tambah Pimpinan Dayah MUDI Mesra Samalanga itu.

Dalam deklarasi tersebut, para ulama dan pimpinan lembaga pendidikan Islam se-Banda Aceh menegaskan komitmennya untuk mendukung dan memenangkan Aminullah Usman dan Isnaini Husda sebagai pemimpin Banda Aceh untuk periode 2025–2030.

Mereka menitipkan amanah umat agar pasangan ini melaksanakan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam bingkai akidah Ahlussunnah Wal Jamaah.

“Kami, para ulama, pimpinan dayah, pimpinan balai pengajian, pimpinan majelis taklim, imam masjid, pimpinan pendidikan Al-Qur’an, serta para santri se-Kota Banda Aceh, menyatakan dukungan dan berkomitmen dengan sesungguhnya, Insya Allah, siap memenangkan paslon nomor 3,” ucap para ulama saat membacakan pernyataan sikapnya.

Reporter: Rezi

Yayasan Aceh Hijau Tanam 1.000 Pohon di Tibang, Libatkan Beragam Kalangan

0
Yayasan Aceh Hijau Tanam 1.000 Pohon di Tibang. (Foto: YAHijau)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Yayasan Aceh Hijau menggelar aksi lingkungan bertajuk Gerakan Menanam 1.000 Pohon di tepi Sungai Tibang, Banda Aceh, pada Sabtu (16/11/2024). Kegiatan ini diawali dengan sesi diskusi inspiratif bertema “Pohon untuk Masa Depan”, yang disiarkan secara langsung melalui RRI Aceh (Pro 4 FM 88,6 MHz).

Amatan Nukilan.id, diskusi tersebut menghadirkan dua narasumber ahli, yaitu Prof. Dr. Ichwana, S.T., M.P., seorang akademisi Universitas Syiah Kuala (USK) sekaligus pengamat lingkungan, dan Aida Fitria, Sp., perwakilan dari DLHK3 Banda Aceh. Keduanya menekankan pentingnya peran pohon dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan generasi mendatang.

Sesi diskusi inspiratif bertema “Pohon untuk Masa Depan”. (Foto: YAHijau)

Setelah diskusi, peserta langsung turun ke lokasi untuk menanam pohon. Suasana semarak tampak dari kehadiran berbagai elemen masyarakat, mulai dari perwakilan instansi pemerintah, mahasiswa, organisasi kepemudaan, hingga anak-anak sekolah dasar yang antusias berpartisipasi.

Gerakan Menanam 1.000 Pohon ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga keseimbangan alam, khususnya di Banda Aceh. Dengan semangat kebersamaan yang terbangun, Yayasan Aceh Hijau optimistis gerakan ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah