Beranda blog Halaman 810

Kadinsos Aceh Serahkan Rumah Layak Huni Bantuan Kolaborasi Islamic Relief, Baitul Mal dan TKSK Aceh

0
Kadinsos Aceh Serahkan Rumah Layak Huni Tahan Gempa di Aceh Besar, Bantuan Kolaborasi Islamic Relief, Baitul Mal dan TKSK Aceh. (Foto: Dinsos Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kadis Sosial Aceh, Dr. Muslem Yacob, S.Ag, M.Pd secara simbolis menyerahkan bantuan rumah layak huni bagi warga kurang mampu di Desa Lampeneun, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Jum’at, (22/11/2024).

Bantuan rumah tersebut merupakan program Islamic Relief Aceh yang berkerjasama dengan Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial, Baitul Mal Aceh Besar dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Aceh.

Rumah dengan pondasi tahan gempa itu diserahkan Kadis Muslem kepada Rohani (59) yang disaksikan Kepala Desa, unsur Polsek, Babinsa, imum syik, dan warga setempat. Turut hadir perwakilan Islamic Relief Aceh, Syafrizal dan Koordinator TKSK, Misrayana dan kawan-kawan.

Usai penyerahan, Dr. Muslem berharap rumah yang diterima Rohani dan keluarga bisa dimanfaatkan sebagai tempat tinggal untuk memulai kehidupan baru bagi keluarganya. Pasalnya rumah yang dihuni sebelumnya jauh dari kesan layak.

“Kami berharap bantuan rumah ini bermanfaat untuk Ibu Rohani dan anak-anak. Saya mewakili Bapak Pj. Gubernur, khusus hadir di sini memastikan bantuan diterima oleh warga yang membutuhkan,” katanya.

“Kita juga berterima kasih kepada pihak yang telah membantu, Islamic Relief Aceh, Baitul Mal dan TKSK yang peduli pada nasib warga kelompok rentan,” sebutnya mengapresiasi.

Sebagai informasi rumah yang di bangun melalui program Islamic Relief ini merupakan bangunan ke 39 dari kuota 55 rumah di Aceh Besar.

Rumah type 36 itu bersumber dari dana Zakat Profesi yang digalang Islamic Relief Indonesia, serta dukungan Baitul Mal Aceh Besar dan termasuk donasi dari TKSK seluruh Aceh dalam memperingati HUT nya yang ke 15.

Editor: Akil

Arbi Sumandoyo dan Ayu Dwi Susanti Bahas Visualisasi Data di ICPD30 Creative Fellowship 2024

0
Arbi Sumandoyo dan Ayu Dwi Susanti Bahas Visualisasi Data di ICPD30 Creative Fellowship 2024. (Foto: Dok. Narasi Academy)

NUKILAN.id | Jakarta – Producer Narasi Newsroom, Arbi Sumandoyo, dan Researcher Narasi Newsroom, Ayu Dwi Susanti, menjadi pemateri dalam program ICPD30 Creative Fellowship 2024 di Aone Hotel Jakarta, Sabtu (30/11/2024). Mereka mengisi sesi bertema “Data Visualization: Crafting Content with Integrity”, yang memadukan pendekatan jurnalistik dan teknik analisis data untuk menciptakan karya yang relevan dan berdampak.

Amatan Nukilan.id di lokasi, sesi ini fokus pada cara membaca dan menerjemahkan data menjadi konten kreatif dalam berbagai medium, seperti visual, audio, dan interaktif. Peserta diajak mempelajari proses mengolah data menjadi karya yang tidak hanya menarik, tetapi juga menjaga integritas dan akurasi informasi.

“Kunci utama dalam mengolah data adalah kemampuan menyederhanakan kompleksitas tanpa mengorbankan substansi. Data yang disajikan dengan tepat akan mampu menginspirasi dan memberikan dampak,” ujar Ayu Dwi Susanti di hadapan peserta.

Arbi Sumandoyo menambahkan, penting bagi kreator dan jurnalis untuk memadukan narasi yang kuat dengan penyajian data yang akurat agar konten mampu memikat audiens secara emosional maupun intelektual.

Program bootcamp selama dua hari ini diikuti 15 peserta terpilih dari seluruh Indonesia, terdiri dari lima jurnalis, lima seniman, dan lima kreator konten. Seluruh peserta mendapatkan pelatihan intensif untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memanfaatkan data sebagai medium kreatif.

ICPD30 Creative Fellowship 2024 merupakan hasil kolaborasi antara United Nations for Population Fund (UNFPA), Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jakarta, dan Narasi Academy. Program ini bertujuan untuk membangun kapasitas para kreator dalam menyampaikan isu-isu populasi melalui pendekatan kreatif berbasis data. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Mengunjungi Masjid Istiqlal: Pesona Masjid Terbesar Asia Tenggara

0
Suasana dalam Masjid Istiqlal menjelang shalat maghrib. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Jakarta – Masjid Istiqlal, ikon keagamaan yang berdiri megah di pusat Jakarta, menjadi daya tarik bagi umat Islam dan wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Pada kamis (21/11/2024), suasana maghrib di masjid terbesar di Asia Tenggara ini memancarkan keindahan spiritual yang memikat.

Masjid yang dirancang oleh arsitek Friedrich Silaban ini dibuka setiap hari mulai pukul 03.30 hingga 22.00 WIB. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, Masjid Istiqlal juga dikenal dengan keramahan dan fasilitasnya yang memadai untuk menyambut para pengunjung.

Aturan dan Fasilitas

Pengunjung diwajibkan mengenakan pakaian sopan selama berada di kawasan masjid. Bagi perempuan yang belum mengenakan pakaian muslim seperti gamis panjang atau kerudung, pihak masjid menyediakan pakaian tertutup dan kerudung yang dapat dipinjam di ruang humas. Hal ini mencerminkan komitmen Masjid Istiqlal untuk menjaga kesucian tempat ibadah sekaligus memudahkan akses bagi semua orang.

Dengan luas bangunan yang mencapai 93.000 meter persegi, masjid ini mampu menampung hingga 200.000 orang. Dua pintu utama, yaitu pintu Al Fattah untuk laki-laki dan pintu Al Quddus untuk perempuan, mempermudah alur masuk dan keluar pengunjung. Menariknya, tidak ada biaya masuk yang dikenakan, sehingga semua kalangan dapat menikmati keagungan masjid ini tanpa hambatan.

Menikmati Keindahan Maghrib

Suasana maghrib di Masjid Istiqlal menghadirkan nuansa khusyuk sekaligus menenangkan. Ribuan jamaah yang hadir terlihat larut dalam ibadah, sementara gema azan yang berkumandang dari pengeras suara masjid memberikan pengalaman spiritual yang mendalam.

Seorang pengunjung dari Ambon, Rahmawati, mengungkapkan kekagumannya saat mengunjungi masjid ini.

“Ini pertama kali saya datang ke Masjid Istiqlal. Bangunannya sangat megah, dan fasilitasnya sangat lengkap. Suasana maghrib di sini begitu berbeda, saya merasa sangat dekat dengan Allah,” katanya kepada Nukilan.id, Kamis (21/11/2024)

Tidak hanya jamaah, wisatawan juga terlihat takjub dengan arsitektur masjid yang memadukan elemen modern dan tradisional. Keberadaan Masjid Istiqlal di pusat ibu kota memberikan peluang unik untuk merasakan harmoni antara kehidupan urban dan nilai-nilai religius.

Bagi siapa pun yang ingin merasakan pengalaman spiritual dan kekayaan budaya Islam Indonesia, Masjid Istiqlal adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Kunjungan Anda ke masjid ini tidak hanya akan memberikan kedamaian batin, tetapi juga memperkaya wawasan tentang toleransi dan keberagaman di Indonesia. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

100 Pimpinan Dayah di Pidie Deklarasi Dukung Muallem-Dek Fadh di Pilkada Aceh 2024

0
100 Pimpinan Dayah di Pidie Deklarasi Dukung Muallem-Dek Fadh di Pilkada Aceh 2024. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dukungan besar bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Muallem) dan Fadhlullah SE (Dek Fadh), semakin menguat. Sebanyak 100 pimpinan dayah di Kabupaten Pidie resmi mendeklarasikan dukungan mereka dalam pertemuan yang dihelat di Dayah Irsyadul Fatah, Pidie, Rabu (19/10/2024).

Deklarasi yang digelar oleh Dek Fadh Center ini juga menjadi momentum penting untuk menunjukkan besarnya dukungan komunitas dayah terhadap pasangan calon nomor urut 02 di Pilkada Aceh 2024.

Komitmen untuk Dayah dan Syariat Islam

Nasrul Sufi, Ketua Dek Fadh Center Aceh sekaligus aktivis reformasi 1998, menyebutkan bahwa 100 dayah yang hadir memiliki total basis massa hingga 30.000 orang. Mereka terdiri dari santri dan jamaah majelis taklim dari berbagai gampong di Pidie.

“Beberapa dayah bahkan memiliki lebih dari 1.000 santri. Ini membuktikan bahwa pasangan Muallem-Dek Fadh mendapat dukungan besar dari komunitas dayah,” ujar Nasrul.

Dalam acara itu, Nasrul bersama Dek Fadh menyerahkan Surat Keputusan (SK) Dek Fadh Center Pidie kepada Walidi Tgk H. Muthaleb yang ditunjuk sebagai Ketua Dek Fadh Center Pidie. Ia menegaskan bahwa tim Dek Fadh Center Pidie telah aktif bekerja selama tiga bulan untuk mendukung kemenangan Muallem-Dek Fadh.

Dek Fadh dalam sambutannya menyampaikan komitmen untuk menjadikan dayah sebagai prioritas pembangunan. Ia berjanji mengalokasikan 10 persen dari dana otonomi khusus (otsus) Aceh untuk mendukung pendidikan dayah dan memperkuat implementasi syariat Islam di Aceh.

“Kami ingin memastikan bahwa tidak ada lagi bilik dayah yang bocor, fasilitas sanitasi yang buruk, atau pengajar yang tidak mendapatkan kesejahteraan layak. Ini adalah tanggung jawab kami untuk memperbaiki kondisi dayah di Aceh,” tegas Dek Fadh.

Kabupaten Pidie Jadi Basis Dukungan

Tgk Abdul Wahab, salah satu perwakilan dayah di Pidie, menyampaikan antusiasme komunitas dayah untuk bekerja keras memenangkan Muallem-Dek Fadh.

“Pasangan ini memiliki visi yang jelas untuk memajukan dayah dan memperjuangkan syariat Islam. Kami siap menjadikan Kabupaten Pidie sebagai basis kemenangan mereka,” ujar Tgk Abdul Wahab.

Deklarasi ini memperkuat posisi Muallem-Dek Fadh sebagai pasangan calon yang mendapat dukungan kuat dari kalangan dayah di Aceh. Dukungan ini diharapkan memberikan dampak signifikan dalam meraih kemenangan di Pilkada Aceh 2024.

Dengan dukungan luas dari komunitas dayah, Muallem-Dek Fadh optimistis membawa perubahan besar bagi Aceh, khususnya dalam pemberdayaan pendidikan dayah dan penguatan nilai-nilai syariat Islam.

Editor: Akil

Jelajah Kuliner Aceh: Cita Rasa Unik yang Mendunia

0
Mie Aceh. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Feature – Ada sesuatu yang istimewa tentang makanan. Ia tidak hanya sekadar mengisi perut, tetapi juga menyentuh hati, membawa kenangan, dan sering kali, menjadi cerminan budaya yang mendalam. Di Aceh, tanah Serambi Mekkah, kuliner menjadi jalan cerita tentang sejarah, warisan, dan kebersamaan.

Ketika pertama kali menjejakkan kaki di Banda Aceh, aroma rempah langsung menyambut, menelusup lembut di udara. Aku tahu, perjalanan ini tidak hanya akan memuaskan rasa lapar, tetapi juga menjadi pengalaman mendalam, menggali makna di balik setiap hidangan yang dihidangkan di meja.

Malam pertama di Banda Aceh, aku menuju sebuah kedai kecil yang ramai di sudut kota. Kedai itu hanya diterangi lampu-lampu kuning temaram, tetapi pengunjungnya tak pernah sepi. Di sanalah aku berjumpa dengan Mie Aceh, hidangan ikonik yang telah membawa nama daerah ini ke panggung kuliner dunia.

Mangkuk mie itu tiba di meja, mengepul hangat dengan aroma kari yang tajam namun menggoda. Mie tebal yang berwarna kuning keemasan bercampur dengan irisan daging sapi, udang, dan taburan bawang goreng. Kuahnya kental, berwarna oranye pekat, seakan menyimpan rahasia rasa di dalamnya.

Ketika sendok pertama mencapai lidahku, ledakan rasa rempah memenuhi mulutku—kayu manis, cengkih, kapulaga, kunyit, semua bersatu dalam harmoni yang sempurna. Mie Aceh bukan sekadar makanan, tetapi sebuah cerita tentang perjalanan perdagangan rempah Nusantara.

Pak Yusuf, pemilik kedai, duduk di sampingku sambil tersenyum bangga. “Rempah-rempah ini adalah warisan nenek moyang kami,” katanya. “Mie Aceh adalah bukti bahwa makanan bisa menghubungkan kita dengan masa lalu.”

Kuah Pliek U: Rasa yang Dalam dari Tanah Gayo

Hari berikutnya, aku diajak ke rumah seorang teman di pedalaman Aceh Besar. Di sana, aku diperkenalkan dengan Kuah Pliek U, hidangan khas yang penuh filosofi.

Kuah Plik U. (Foto: Net)

Kuah Pliek U adalah semacam gulai, tetapi yang membuatnya istimewa adalah penggunaan pliek u, sisa olahan kelapa yang telah diambil minyaknya. Di dalam kuah ini terdapat campuran sayur-mayur, meliputi daun melinjo, kacang panjang, dan potongan pepaya muda.

Ketika suapan pertama masuk ke mulutku, rasa gurihnya menyentuh hati. Ada sesuatu yang menenangkan dari hidangan ini, seperti pelukan hangat seorang ibu. Pak Nasir, yang memasak hidangan itu, berkata, “Kuah Pliek U adalah simbol kebersamaan. Kami membuatnya untuk dinikmati bersama keluarga dan tetangga.”

Benar saja, makan siang itu berlangsung dengan kehangatan luar biasa. Orang-orang berkumpul, berbagi cerita, dan tertawa. Kuah Pliek U menjadi pengikat, bukan hanya lidah, tetapi juga jiwa.

Keunikan Ayam Tangkap

Sore itu, aku mengunjungi sebuah rumah makan di pinggir jalan. Di sanalah aku bertemu dengan Ayam Tangkap, salah satu hidangan paling menarik dalam daftar kuliner Aceh.

Ayam Tangkap adalah potongan ayam yang digoreng hingga garing, disajikan dengan daun kari, daun pandan, dan irisan bawang goreng. Ketika hidangan itu tiba, aku hampir tak bisa membedakan ayamnya dari dedaunan karena semuanya digoreng bersama.

Gigitan pertama pada ayam itu adalah perpaduan rasa renyah dan aroma harum dari daun-daun rempah. Setiap gigitan adalah kejutan kecil, karena rempah-rempah memberikan sentuhan rasa yang berbeda setiap kali.

Seorang pelayan berkata sambil tertawa, “Nama Ayam Tangkap berasal dari cara penyajian yang berantakan ini. Anda seperti harus menangkap ayam di antara daun-daun.”

Lezatnya Kue Tradisional Aceh

Setelah puas dengan hidangan berat, aku beralih ke makanan ringan. Aceh terkenal dengan berbagai kue tradisional yang menggugah selera, dan hari itu aku menjelajahi pasar tradisional Peunayong.

Di salah satu lapak, aku mencicipi timphan, kue berbentuk lonjong yang dibungkus daun pisang. Adonannya terbuat dari tepung ketan dan santan, dengan isian serikaya atau kelapa parut manis. Teksturnya lembut, hampir meleleh di mulut, dengan rasa manis yang tidak berlebihan.

Aku juga mencoba kue bhoi, yang sering disebut kue ikan karena bentuknya yang menyerupai ikan. Rasanya ringan, sedikit manis, dan cocok disantap dengan secangkir kopi hitam.

“Setiap kue ini punya cerita,” kata seorang penjual. “Timphan adalah simbol rasa syukur, dan sering disajikan saat hari besar seperti Idul Fitri.”

Kopi Aceh: Minuman dari Surga

Tidak lengkap rasanya menjelajahi kuliner Aceh tanpa mencicipi kopinya yang legendaris. Aku pun menuju Takengon, di dataran tinggi Gayo, tempat kopi terbaik Aceh ditanam.

Di sebuah kedai kopi sederhana, aku mencoba secangkir kopi Gayo. Aroma khasnya menyeruak begitu cangkir itu tiba. Ketika menyesapnya, aku merasakan rasa yang kaya, dengan keasaman halus dan sedikit sentuhan cokelat.

Pak Hasan, seorang petani kopi, berkata dengan bangga, “Kopi ini tidak hanya tentang rasa. Ia adalah hasil kerja keras, dari menanam, memetik, hingga mengolah.”

Di kebun kopi, aku melihat bagaimana petani memetik biji-biji merah dengan hati-hati. Setiap biji adalah hasil kerja tangan yang penuh dedikasi.

Keberagaman Cita Rasa yang Mendunia

Kuliner Aceh adalah perpaduan rasa yang mencerminkan sejarah panjangnya. Pengaruh Timur Tengah, India, dan Tiongkok terasa jelas dalam penggunaan rempah-rempah, teknik memasak, dan berbagai hidangan. Namun, di tengah keberagaman itu, kuliner Aceh tetap memiliki identitasnya sendiri—sebuah rasa yang otentik dan tidak tergantikan.

Melalui makanan, Aceh berbicara kepada dunia. Ia menyampaikan cerita tentang kekayaan alamnya, tentang para petani dan nelayan yang bekerja keras, dan tentang komunitas yang menjaga tradisi dengan cinta dan kebanggaan.

Namun, di balik keindahan ini, ada tantangan. Banyak resep tradisional mulai tergeser oleh makanan modern. Generasi muda lebih sering memilih makanan cepat saji daripada masakan rumah.

Tetapi, ada harapan. Upaya melestarikan kuliner Aceh mulai digalakkan, baik melalui festival makanan, pendidikan, maupun promosi internasional. Restoran Aceh di luar negeri menjadi duta rasa yang membawa harum nama daerah ini.

Jelajah kuliner di Aceh adalah pengalaman yang mendalam. Setiap hidangan membawa rasa, cerita, dan makna yang unik. Dari semangkuk Mie Aceh yang penuh rempah, hingga secangkir kopi Gayo yang harum, semuanya menggambarkan kekayaan budaya dan jiwa masyarakatnya.

Di akhir perjalanan, aku menyadari bahwa makanan adalah jembatan. Ia menghubungkan kita dengan masa lalu, dengan orang lain, dan dengan diri kita sendiri. Dan di Aceh, makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang cinta, kebanggaan, dan penghormatan kepada tradisi.

Judi Online dan Drama Penegakan Hukum: Mencari Akuntabilitas yang Hilang

0
Ilustrasi judi online. (Foto: Anton27/Shutterstock)

NUKILAN.id | Opini – Di era digital, perjudian online telah menjelma menjadi fenomena besar yang tak hanya merusak moral masyarakat, tetapi juga menelanjangi kelemahan sistem penegakan hukum di Indonesia. Drama ini kian menarik perhatian ketika kasus keterlibatan pegawai Kementerian Komunikasi dan Digital dalam sindikat judi online terungkap. Namun, yang mencuat bukanlah pemberantasan yang tuntas, melainkan potret kepura-puraan dan pembiaran sistemik.

Pengungkapan sindikat judi online yang melibatkan 22 tersangka, termasuk 10 pegawai Kementerian Komunikasi dan Digital, seharusnya menjadi babak penting dalam pemberantasan kejahatan dunia maya. Namun, penyelidikan yang setengah hati ini justru menunjukkan bagaimana aparat terkesan enggan menyentuh akar permasalahan.

Nama besar seperti Budi Arie Setiadi, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, bahkan disebut-sebut dalam pusaran kasus ini. Namun, sejauh ini upaya pemeriksaan terhadapnya tampak seperti sekadar formalitas. Padahal, fakta bahwa ada kantor satelit di Bekasi yang digunakan untuk mengatur lalu lintas situs judi online membuktikan bahwa kejahatan ini terorganisir dengan rapi, melibatkan pejabat tinggi yang seharusnya bertanggung jawab.

Mengapa pemberantasan judi online begitu lambat? Jawabannya ada pada angka-angka fantastis. Menurut Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), perputaran uang dari bisnis ini mencapai Rp427 triliun sepanjang 2023 hingga Maret 2024. Jumlah ini jauh melampaui anggaran sektor kesehatan yang hanya Rp16,4 triliun. Dengan angka sebesar itu, mudah dipahami mengapa upaya memberantas judi online seringkali hanya jadi drama pencitraan.

Bahkan, dana dari konsorsium bandar judi online diduga menjadi penopang operasi politik dan lembaga tertentu. Hubungan simbiosis ini menjadikan perjudian online sebagai industri yang sulit disentuh. Dalam banyak kasus, yang ditindak hanyalah pelaku lapangan atau pegawai rendahan, sementara para bos besar tetap bebas berkeliaran.

Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Judi Online melalui Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2024 menunjukkan itikad pemerintah untuk memberantas masalah ini. Namun, keputusan ini baru diambil setelah pemilu 2024 dan menjelang pensiun Presiden Joko Widodo. Langkah ini menimbulkan pertanyaan: apakah pembentukan Satgas ini sungguh untuk memberantas judi online, atau sekadar langkah pencitraan menjelang akhir masa jabatan?

Kasus ini tidak hanya soal judi online, tetapi juga cerminan bagaimana negara gagal memberikan akuntabilitas. Jika penegakan hukum benar-benar serius, seharusnya tidak ada kompromi dalam menindak para pelaku, termasuk mereka yang berada di puncak kekuasaan.

Sayangnya, drama ini lebih sering berakhir dengan aktor-aktor kecil menjadi korban, sementara para bos besar tetap “diamankan.” Dalam konteks ini, akuntabilitas menjadi hal yang mahal, karena keberanian untuk menyentuh akar permasalahan seringkali hilang di tengah besarnya godaan uang.

Penanganan judi online adalah ujian besar bagi integritas hukum di Indonesia. Jika negara terus melindungi para pelaku besar demi kepentingan politik atau ekonomi, kepercayaan publik terhadap institusi hukum akan semakin tergerus.

Kita memerlukan langkah konkret yang tidak hanya menyentuh operator kecil, tetapi juga menindak tegas para pejabat dan bos besar yang berada di balik layar. Tanpa itu, pemberantasan judi online hanya akan menjadi sandiwara, dan keadilan akan terus menjadi barang mahal di negeri ini.

Akhirnya, akankah kita terus membiarkan sistem ini berputar seperti mesin rolet, bergerak tanpa arah dengan pola yang sama, ataukah kita berani mengubah permainan? Jawabannya ada pada keberanian negara menempatkan hukum di atas segalanya. (XRQ)

Penulis: Akil Rahmatillah (Alumni Ilmu Pemerintahan USK)

Daftar Lengkap Pimpinan KPK 2024-2029: Setyo Budiyanto Jadi Ketua, Johanis Tanak Kembali Terpilih

0
Komisi Pemberantasan Korupsi. (Foto: Radioidola)

NUKILAN.id | Jakarta Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah menetapkan lima pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk periode 2024-2029. Proses pemilihan dilakukan melalui mekanisme voting dalam rapat yang berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Kamis (21/11/2024).

Pemilihan ini menjadi puncak dari rangkaian uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap sepuluh calon selama empat hari, sejak Senin (18/11/2024). Rapat penetapan ini dipimpin langsung oleh Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman.

“Berdasarkan ketentuan Pasal 30 ayat (10) dan (11), suara yang diperoleh dengan mekanisme suara terbanyak atau voting menetapkan lima calon pimpinan KPK masa jabatan 2024-2029,” ujar Habiburokhman dalam siaran langsung di kanal YouTube Kompas.com, Kamis.

Berikut adalah daftar lengkap pimpinan KPK periode 2024-2029 yang baru saja diumumkan:

1. Setyo Budiyanto (Ketua KPK)

Setyo Budiyanto, perwira tinggi Polri berpangkat Komisaris Jenderal (Komjen), terpilih sebagai Ketua KPK. Saat ini, Setyo menjabat sebagai Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Pertanian.

Lulusan Akademi Kepolisian 1989 ini memiliki pengalaman panjang di bidang penegakan hukum. Sebelumnya, Setyo pernah menjadi Direktur Penyidikan KPK dan terlibat dalam kasus penangkapan mantan Wakil Ketua DPR, Azis Syamsudin.

2. Fitroh Rohcahyanto

Fitroh Rohcahyanto, yang mengantongi 48 suara, dikenal sebagai tokoh hukum berprestasi. Ia menyandang gelar doktor dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) dengan IPK 3,83 dan predikat lulusan terbaik.

Sebelumnya, Fitroh pernah menjabat sebagai Direktur Penuntutan KPK dan Jaksa Fungsional di Kejaksaan Agung.

3. Ibnu Basuki Widodo

Ibnu Basuki Widodo terpilih dengan 33 suara, menjadikannya pimpinan KPK dengan perolehan suara paling sedikit. Sebelum bergabung, ia menjabat sebagai hakim di Pengadilan Tinggi Manado. Ia juga pernah bertugas di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

4. Johanis Tanak

Johanis Tanak kembali dipercaya sebagai pimpinan KPK setelah memperoleh 48 suara. Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Ketua KPK dengan latar belakang hukum yang kuat.

Sebelum bergabung di KPK, Johanis memiliki karier panjang di Korps Adhyaksa, termasuk sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah dan Direktur Tata Usaha Negara di Kejaksaan Agung.

5. Agus Joko Pramono

Agus Joko Pramono terpilih dengan 39 suara. Ia adalah lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Gadjah Mada. Sebelum terpilih, Agus merupakan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) periode 2018-2023 dengan pengalaman luas dalam pemeriksaan keuangan negara.

Kembali Dipimpin Jenderal Polisi

Pemilihan Setyo Budiyanto sebagai Ketua KPK mengulang sejarah 2019, saat Firli Bahuri, juga dari Polri, memimpin lembaga antirasuah. Kembalinya tokoh berlatar belakang kepolisian ini menimbulkan harapan baru sekaligus tantangan besar bagi KPK untuk memperkuat integritas dan kinerjanya di tengah sorotan publik.

Komposisi pimpinan baru ini diharapkan mampu membawa KPK lebih efektif dalam memberantas korupsi, menjaga independensi, dan memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga antirasuah.

Editor: Akil

Pangdam IM Pastikan Pilkada Aceh Aman: Sinergi TNI-Polri Jadi Kunci

0
Pangdam IM Pastikan Pilkada Aceh Aman. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Pangdam IM) Mayor Jenderal TNI Niko Fahrizal, M.Tr.(Han), memastikan keamanan selama pelaksanaan Pilkada Serentak 2024 di Aceh akan terjaga. Hal ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pimpinan Daerah (Rakorpimda) yang digelar di Aula Hotel The Pade, Banda Aceh, Kamis (21/11/2024).

Dalam paparannya, Pangdam menegaskan bahwa TNI bersama Polri akan bersinergi memastikan stabilitas keamanan, mulai dari masa kampanye hingga penghitungan suara.

“Kami siap memastikan setiap tahapan Pilkada berlangsung aman dan tertib,” ujar Pangdam.

Selain itu, ia menekankan pentingnya netralitas TNI dalam mendukung demokrasi. “TNI tidak terlibat dalam politik praktis. Kami berkomitmen menjaga profesionalisme dan tidak memihak,” tegasnya.

Antisipasi Potensi Konflik

Sebagai langkah preventif, TNI dan Polri akan memantau potensi kerawanan sosial serta mengintensifkan patroli di daerah-daerah rawan konflik.

“Langkah ini bertujuan untuk mencegah gangguan yang dapat menghambat jalannya demokrasi,” jelas Pangdam.

Ia juga mengajak seluruh pihak terkait untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga keamanan dan meningkatkan partisipasi dalam Pilkada.

“Sinergi kita harus sampai ke tingkat akar rumput,” katanya.

Pj Gubernur: Kolaborasi Demi Pilkada Sukses

Pj Gubernur Aceh, Dr. H. Safrizal ZA, M.Si., yang membuka acara, menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk memastikan Pilkada berlangsung aman, tertib, dan demokratis.

“Sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan KIP adalah fondasi kesuksesan Pilkada,” ucapnya.

Safrizal juga menekankan pentingnya menciptakan suasana yang kondusif agar masyarakat merasa nyaman menggunakan hak pilih mereka.

“Stabilitas adalah tanggung jawab bersama,” tambahnya.

Rakorpimda Perkuat Sinergi

Rakorpimda ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Kapolda Aceh, Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, Ketua Panwaslih Aceh, serta Forkopimda dari kabupaten/kota se-Aceh. Tujuan kegiatan ini adalah memastikan semua aspek teknis, keamanan, dan logistik berjalan lancar.

Dengan koordinasi yang matang, diharapkan Pilkada Serentak 2024 di Aceh dapat melahirkan pemimpin yang amanah dan berdampak positif bagi pembangunan di provinsi ini.

Editor: Akil

Panwaslih Aceh Dorong Pengawasan Partisipatif Jelang Pilkada 2024

0
Kegiatan r evaluasi pengawasan tahapan pemilu dan kesiapan pemantauan penyelenggaraan Pilkada 2024 di Hotel Mekkah, Banda Aceh, pada Rabu 20 November 2024. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh menggelar evaluasi pengawasan tahapan pemilu dan kesiapan pemantauan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun 2024. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Mekkah, Banda Aceh, Rabu (21/11/2024).

Kegiatan yang dihadiri oleh ratusan peserta ini difokuskan pada upaya mengembangkan dan meningkatkan pengawasan partisipatif menjelang Pilkada pada 27 November mendatang.

Dalam sambutannya, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Humas Panwaslih Provinsi Aceh, Maitanur menyampaikan bahwa kegiatan ini penting untuk mendiskusikan berbagai temuan dan tantangan dalam pengawasan Pemilu 2024. Selain itu, kegiatan ini juga membahas kesiapan pemantau dalam menghadapi Pilkada 2024.

“Kami berharap forum ini dapat menjadi wadah bagi kita semua untuk berdiskusi dan mencari solusi terbaik dalam meningkatkan kualitas pengawasan pemilu,” ujar Maitanur kepada peserta termasuk Nukilan.

Menurutnya, pemantau tidak sekadar hadir pada hari pencoblosan, melainkan harus terlibat aktif di setiap tahapan, mulai dari proses pendataan pemilih, pencalonan, hingga perhitungan suara.

“Idealnya ada tiga tahapan urgen yang harus dikawal: proses, pelaksanaan, dan hasil,” ujar Maitanur.

Maitanur mengungkapkan bahwa dari sekian banyak organisasi di Aceh, hanya enam organisasi yang lolos administrasi dan memenuhi syarat sebagai pemantau pemilu. Ia berharap jumlah ini dapat ditingkatkan di masa depan.

Salah satu tantangan yang dihadapi para pemantau adalah keterbatasan anggaran, mengingat mereka bersifat mandiri dan tidak dibiayai oleh pihak tertentu. Namun, peran mereka dinilai strategis dalam mengawal proses demokrasi.

Selain keterbatasan anggaran, para peserta juga menyoroti beberapa tantangan lain dalam pengawasan pemilu, seperti minimnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengawasan pemilu, serta adanya tekanan-tekanan dari pihak tertentu.

Meskipun demikian, para peserta tetap optimis bahwa dengan kerja sama yang baik antara Panwaslih, organisasi masyarakat sipil, dan seluruh stakeholder terkait, kualitas pengawasan pemilu di Aceh dapat terus ditingkatkan.

“Kami berharap ke depan semakin banyak organisasi masyarakat sipil yang bersedia menjadi pemantau pemilu,” tutup Maitanur.

Reporter: Rezi

15 Peserta Terpilih ICPD30 Creative Fellowship Ikuti Pelatihan di Jakarta

0
15 Peserta Terpilih ICPD30 Creative Fellowship Ikuti Pelatihan di Jakarta. (Foto: Dok. Narasi Academy)

NUKILAN.id | Jakarta – Sebanyak 15 peserta terpilih program ICPD30 Creative Fellowship 2024 mengikuti pelatihan intensif selama dua hari di Aone Hotel, Jakarta, pada Kamis (28/11/2024) hingga Jumat (29/11/2024). Program ini menjadi ajang kolaborasi lintas disiplin antara jurnalis, seniman, dan konten kreator, yang diselenggarakan oleh United Nations Population Fund (UNFPA), Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jakarta, dan Narasi Academy.

Para peserta, yang terdiri dari 5 jurnalis, 5 seniman, dan 5 konten kreator, mendapatkan pelatihan khusus untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menyampaikan isu-isu sosial melalui karya kreatif. Pelatihan ini menjadi bekal penting bagi peserta dalam menciptakan konten yang akan ditampilkan sebagai bagian dari kampanye ICPD30, peringatan 30 tahun Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (ICPD).

Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan tentang teknik penceritaan visual, produksi konten berbasis data, dan pendekatan kreatif dalam menyampaikan isu populasi, kesehatan reproduksi, dan kesetaraan gender.

Pelatihan ini juga menjadi ajang berjejaring bagi para peserta dari latar belakang yang beragam. Salah satu peserta, Mifta, seorang jurnalis dari Jawa Timur, mengungkapkan antusiasmenya terhadap program ini.

“Program ini membuka wawasan baru tentang bagaimana isu-isu populasi bisa disampaikan secara lebih kreatif. Saya sangat senang bisa bertemu dengan seniman dan konten kreator yang punya perspektif berbeda. Ini adalah kesempatan emas untuk belajar dari mereka,” kata Mifta kepada Nukilan.id, Kamis (21/11/2024).

Ia juga berharap keterampilan yang diperoleh selama pelatihan ini dapat diterapkan dalam liputannya, terutama untuk menjangkau generasi muda yang lebih dekat dengan media visual dan digital.

Setelah pelatihan ini, para peserta akan menghasilkan karya kreatif yang menjadi bagian dari kampanye ICPD30. Karya-karya tersebut akan ditampilkan dalam berbagai platform digital dan diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu populasi.

Pelatihan ini menjadi langkah awal bagi para peserta untuk memperkuat peran mereka sebagai agen perubahan dalam menyuarakan isu-isu penting, dengan cara yang kreatif dan berdampak luas. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah