Beranda blog Halaman 710

Rupiah Diramal Melemah, CORE Indonesia Khawatirkan Dampak Trump

0
Rupiah dan Dolar AS. (Foto: market.bisnis.com)

NUKILAN.id | Jakarta Direktur Riset Bidang Keuangan Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Etika Karyani, memproyeksikan masa depan rupiah yang penuh tantangan di tengah kuatnya dominasi dolar AS, terutama setelah Donald Trump kembali terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47.

Dalam diskusi Outlook Ekonomi Sektoral 2025 yang berlangsung di Jakarta Selatan, Selasa (21/1), Etika menyoroti catatan performa rupiah selama periode pertama Trump memimpin pada 2017-2021 sebagai cermin atas situasi yang kemungkinan akan kembali terjadi.

“(Rupiah menguat) ke Rp10 ribu? Rasanya, banyak ekonom mengatakan akan sulit. Apalagi kalau kita belajar di masa Trump ketika menjadi presiden (periode pertama di 2017-2021), rupiah itu selalu mengalami penurunan,” ungkap Etika.

Ia juga menegaskan bahwa dolar AS tetap menjadi pilihan utama para investor sebagai aset safe haven karena stabilitas dan kekuatannya di pasar global.

Meskipun cadangan devisa Indonesia dinilai cukup memadai, Etika meragukan kemampuan cadangan tersebut untuk mendongkrak kekuatan rupiah secara signifikan.

“Memang kita melihat ini yang dikhawatirkan bahwa Trump akan menjadi bencana bagi dunia (khususnya lawan politik AS). Isu proteksionisme yang (kebijakan) America First akan mempengaruhi seluruh ekonomi global. Jadi, (rupiah menguat) ke Rp10 ribu rasanya sangat sulit,” jelasnya lebih lanjut.

Etika memperingatkan bahwa tantangan nilai tukar ini akan berlanjut sepanjang 2025, mengingat kebijakan moneter Bank Indonesia yang mungkin belum cukup kuat untuk meredam pengaruh eksternal.

“Ketika Bank Indonesia (BI) ingin menurunkan tingkat suku bunga, berharap ada ekspansi investasi, tapi ternyata itu juga tidak cukup kuat menahan adanya kurs dolar AS yang terus naik. Sehingga rupiah kita semakin menurun (melemah),” tutupnya.

Dengan latar belakang seperti ini, CORE Indonesia mengimbau para pelaku pasar untuk terus waspada terhadap dinamika kebijakan AS dan dampaknya terhadap ekonomi domestik di Indonesia.

Editor: Akil

Kanwil Kemenag Aceh dan UIA Perkuat Kolaborasi Melalui MoU

0
Kanwil Kemenag Aceh dan UIA Perkuat Kolaborasi Melalui MoU. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam upaya memperkuat sinergi pendidikan, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Aceh dan Universitas Islam Aceh (UIA) Peusangan, Bireuen, resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pada Rabu, 22 Januari 2025. Kerja sama ini bertujuan meningkatkan akses pendidikan serta memperbaiki kualitas guru dan tenaga kependidikan.

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan oleh Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si., dan Rektor UIA, Dr. Zainuddin Abdullah, M.A. Acara ini turut disaksikan oleh jajaran pejabat dari kedua institusi, termasuk para kepala bidang, kepala kantor Kemenag kabupaten, serta para kepala madrasah dan penerima Apresiasi Tingkat Provinsi 2024.

Dalam sambutannya, Azhari menyampaikan harapan besar terhadap kerja sama yang terjalin.

“Selamat datang jajaran rektorat UIA dalam kerja sama dengan Kanwil Kementerian Agama Aceh. Ini bagian dalam menghasilkan generasi yang tangguh, kemitraan kita jalin terus,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Kemenag Aceh telah memperluas kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi, termasuk IAIN Takengon dan STAIN Meulaboh, serta menjajaki sinergi dengan UIN Ar-Raniry, IAIN Lhokseumawe, dan IAIN Langsa. Menurut Azhari, keberlanjutan gerakan pendidikan tetap berjalan meski tanpa formalitas MoU, tetapi perjanjian resmi dapat memperkuat kolaborasi tersebut.

“Kita mendorong agar calon mahasiswa yang tinggal dekat dengan Matanggeulumpang Dua-Bireuen dapat melanjutkan kuliah di UIA, sehingga setiap zona pendidikan di Aceh dapat terus berkembang,” ujarnya. “Lingkaran pendidikan ini saling melengkapi: dosen, guru, siswa, dan seterusnya. Kita bangun mata rantai pendidikan bersama.”

Sementara itu, Rektor UIA, Dr. Nazaruddin Abdullah, M.A., memaparkan sejarah panjang UIA yang telah berdiri sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.

“Dan kini satu-satunya mungkin di bawah satu Yayasan Almuslim Peusangan, ada dua universitas, yakni di sini ada Universitas Almuslim dan UIA,” tuturnya.

Nazaruddin menegaskan komitmen UIA untuk terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.

“Semoga kerja sama ini membawa manfaat bagi kedua belah pihak dalam mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak mulia,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa transformasi dari institut menjadi universitas merupakan pencapaian besar bagi UIA, yang mencerminkan kemajuan di bidang akademik, fasilitas, dan visi pendidikan. Dengan status baru ini, banyak pihak berharap UIA dapat memperluas program studi dan memperkuat kolaborasi dengan institusi lain, seperti UNIKI.

UIA yang berakar dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Almuslim, berdiri pada 1985 di bawah Yayasan Almuslim Peusangan. Kini, yayasan tersebut mengelola tiga lembaga pendidikan: Institut Agama Islam (IAI) Almuslim Aceh, Universitas Almuslim (Umuslim), dan Pesantren Terpadu Almuslim Matangglumpangdua.

Lebih lanjut, Nazaruddin mengisahkan bahwa pendirian Yayasan Almuslim Peusangan pada 1929 dilakukan dalam suasana perjuangan melawan penjajahan Belanda.

“Pendirian Almuslim Peusangan pada 1929 dilakukan dalam situasi peperangan antara putra-putra Aceh dengan serdadu-serdadu Belanda untuk mewujudkan perjuangan membela Kemerdekaan yang dikepalai oleh Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap,” kutipnya.

Dengan komitmen yang terus mengakar, UIA diharapkan menjadi pelopor pendidikan yang memajukan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Editor: Akil

Dinas PUPR Diminta Segera Tangani Jalan Rusak di Ulee Kareng

0
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Musriadi Aswad. (Foto: Humas DPRK Banda Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Kondisi ruas Jalan T. Iskandar di kawasan Ulee Kareng, Banda Aceh, memprihatinkan. Sejumlah titik jalan berlubang yang membentang hingga simpang tujuh Ulee Kareng terus dikeluhkan masyarakat. Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) didesak untuk segera melakukan perbaikan.

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Musriadi Aswad, menegaskan bahwa masalah ini membutuhkan perhatian serius. Menurutnya, laporan dari warga terkait jalan rusak di wilayah tersebut hampir diterima setiap hari.

“Hampir setiap hari kami mendapat aduan masyarakat, ini segera mungkin harus direspon oleh Dinas PUPR,” ujar Musriadi, Selasa (21/1/2025).

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu menyoroti bahwa selain Jalan T. Iskandar, beberapa ruas jalan di Banda Aceh lainnya juga berada dalam kondisi yang memerlukan perhatian. Ia mengingatkan bahwa jalan-jalan di kota ini memiliki status yang berbeda, ada yang merupakan jalan provinsi, jalan nasional, serta jalan kota, sehingga diperlukan koordinasi antara Pemerintah Kota Banda Aceh dan Pemerintah Aceh.

“Sudah lama jalan ini butuh perhatian pemerintah Aceh. Masyarakat Ulee Kareng sudah lama mendambakan jalan tersebut diperbaiki, seperti jalan-jalan lain yang ada di Banda Aceh,” kata Musriadi.

Ia juga mendorong Dinas PUPR untuk segera menganggarkan biaya perbaikan yang memadai agar seluruh infrastruktur jalan di ibu kota Provinsi Aceh berada dalam kondisi yang lebih baik, demi keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.

Editor: Akil

Ketua DPM FEB UTU Desak Pencopotan Kacabdin Aceh Selatan Terkait Dugaan KKN

0
Sekretaris Jenderal Wangsa, Zikri Marpandi. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Desakan untuk mencopot Annadwi dari jabatan Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Aceh Selatan kian menguat setelah mencuatnya dugaan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang melibatkan dirinya. Zikri Marpandi, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Teuku Umar (DPM-FEB UTU) Meulaboh, menilai tidak ada alasan untuk menunda pencopotan Annadwi.

“Tidak ada alasan untuk menunda pencopotan jabatan Annadwi setelah terungkapnya skandal yang mencoreng wajah dunia pendidikan di Aceh Selatan,” ujar Marpandi tegas.

Marpandi, yang juga putra asli dari Kluet Timur, Aceh Selatan, mengungkapkan bahwa dugaan praktik KKN tersebut mencakup penempatan kepala sekolah dengan imbalan uang, pemotongan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan pengaturan gaji guru kontrak. Hal ini, menurutnya, telah membuktikan kegagalan Annadwi dalam menjaga integritas serta merusak sistem pendidikan.

“Praktik KKN yang diduga melibatkan penempatan kepala sekolah dengan imbalan uang, pemotongan dana BOS, dan pengaturan gaji guru kontrak sudah cukup menunjukkan bahwa Annadwi bukan hanya gagal menjaga integritas, tetapi juga menghancurkan sistem pendidikan yang seharusnya mendidik dan melayani masyarakat,” jelas Marpandi.

Menurut Marpandi, keberadaan pejabat dengan rekam jejak yang meragukan di posisi strategis akan semakin menurunkan kepercayaan publik terhadap instansi pendidikan. Menunda pencopotan, katanya, sama saja dengan memberi ruang bagi perilaku semena-mena tanpa konsekuensi.

“Di tengah perjuangan untuk menegakkan reformasi birokrasi yang bersih, penundaan pencopotan jabatan Annadwi hanya akan semakin memperburuk citra instansi pendidikan di Aceh. Tidak ada tempat bagi pejabat yang terlibat dalam praktik-praktik kotor dalam dunia pendidikan, yang seharusnya menjadi lembaga yang mengedepankan moral dan kejujuran. Keberadaan Annadwi di posisi tersebut hanya akan semakin menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan kita,” tegasnya.

Marpandi menekankan pentingnya langkah tegas dan transparan dalam menangani kasus ini untuk memperlihatkan bahwa penegakan hukum tidak pandang bulu.

“Sebuah instansi pendidikan yang berkomitmen untuk menjaga integritas dan bebas dari korupsi tidak dapat membiarkan orang dengan rekam jejak meragukan tetap memegang jabatan. Penundaan pencopotan hanya akan memperlihatkan bahwa pejabat publik bisa bebas bertindak semena-mena tanpa ada konsekuensi yang jelas. Kasus ini harus diproses dengan tegas dan transparan, agar masyarakat tahu bahwa tidak ada tempat bagi koruptor dalam dunia pendidikan,” tambahnya.

Marpandi menegaskan bahwa pencopotan Annadwi tidak hanya menjadi langkah konkret dalam menegakkan hukum, tetapi juga penting untuk mengembalikan sistem pendidikan Aceh ke jalur yang benar.

“Pencopotan Annadwi bukan hanya untuk memberikan contoh yang jelas tentang penegakan hukum, tetapi juga untuk memastikan agar sistem pendidikan di Aceh kembali pada jalurnya—menjadi lembaga yang bersih, profesional, dan berorientasi pada kemajuan dan kesejahteraan anak bangsa. Kini saatnya untuk bertindak tanpa kompromi dan menunjukkan bahwa korupsi di dunia pendidikan adalah hal yang tidak akan pernah ditoleransi!” pungkasnya.

Selain itu, Marpandi mengungkapkan rencana untuk berkoordinasi dengan Penjabat Bupati Aceh Selatan dan Kepala Dinas Pendidikan Aceh guna mengawal perkembangan isu tersebut serta memastikan proses hukum berjalan sesuai aturan jika dugaan pelanggaran hukum terbukti.

“Kami akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Pj Bupati Aceh Selatan dan Kadisdik Aceh untuk mengawal isu ini dan memastikan kejelasan proses hukum jika nantinya terbukti Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh Selatan, Annadwi, melanggar hukum,” tutupnya.

Editor: Akil

Irsan Sosiawan Tegaskan Komitmen Kawal Aspirasi Masyarakat Aceh

0
Ketua DPW NasDem Aceh, Irsan Sosiawan. (Foto: DPW NasDem Aceh)

NUKILAN.id | Jakarta – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Irsan Sosiawan, menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat di Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh II yang meliputi delapan wilayah, yakni Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Kota Lhokseumawe, dan Kota Langsa.

Menutup masa reses pertamanya, Irsan menegaskan bahwa menyerap dan menindaklanjuti kebutuhan masyarakat adalah langkah konkret yang harus dijalankan.

“Menutup masa reses perdana sebagai langkah awal untuk menjembatani harapan rakyat dengan aksi nyata. Dalam perjalanan menjangkau delapan wilayah di Aceh, saya mendengar langsung aspirasi, harapan, dan kebutuhan mereka,” ujar Irsan pada Selasa, 22 Januari 2025.

Irsan yang juga merupakan anggota Komisi XII DPR RI menyebutkan bahwa sejumlah persoalan menjadi fokus perjuangannya, terutama terkait infrastruktur, energi, lingkungan, dan pengembangan ekonomi. Ia mengusung semangat “Saya mendengar, saya bergerak!” untuk memastikan setiap suara yang diterima selama masa reses akan dibawa ke Senayan dan diperjuangkan bersama para pemangku kepentingan.

“Tidak hanya sekadar mendengar, saya didukung oleh tim dan beberapa pihak terkait dengan tantangan yang telah disampaikan. Beberapa solusi bahkan sudah mulai direalisasikan di lapangan,” tambahnya.

Irsan menegaskan bahwa reses bukan hanya sekadar menjalankan kewajiban legislasi, melainkan panggilan untuk melayani dan menciptakan dampak nyata.

“Bersama, kita bangun Aceh yang lebih baik!” katanya.

Sejumlah aspirasi masyarakat yang berhasil dihimpun Irsan selama masa reses meliputi penataan kabel listrik dan penambahan lampu penerangan jalan, pemerataan distribusi BBM bersubsidi agar tepat sasaran, serta tantangan distribusi jaringan gas yang belum merata dan masih mahal. Selain itu, isu lingkungan akibat eksplorasi sumber daya alam secara ilegal dan penyesuaian harga gas LPG tiga kilogram sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) juga menjadi perhatian.

Di bidang ekonomi, aspirasi petani kopi yang membutuhkan dukungan investasi dan penambahan pangkalan gas turut disuarakan. Permintaan pengelolaan lingkungan secara mandiri demi kepentingan sosial dan ekonomi masyarakat juga masuk dalam daftar prioritas yang akan diperjuangkan oleh legislator asal NasDem tersebut.

Dengan pendekatan yang menyeluruh dan partisipatif, Irsan berharap upaya yang ia lakukan dapat membawa perubahan positif dan membangun masa depan Aceh yang lebih baik dan sejahtera.

Editor: Akil

SEI Minta Polda Aceh Segera Tuntaskan Kasus TPPO di Kapal Perikanan Asing

0
SEI Minta Polda Aceh Segera Tuntaskan Kasus TPPO di Kapal Perikanan Asing. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sumatera Environmental Initiative (SEI), lembaga yang bergerak di bidang pendampingan hukum, mendesak Polda Aceh untuk segera menuntaskan kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang melibatkan anak-anak Aceh yang dipekerjakan secara ilegal di kapal perikanan asing.

Crisna Akbar, peneliti kebijakan SEI, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama korban telah melaporkan kasus tersebut ke Polda Aceh sejak November 2023. Namun, hingga saat ini, penanganan kasus masih jauh dari harapan.

“Kami berharap kasus TPPO ini bisa dituntaskan. Kami sudah menyampaikan kronologi kejadian dan siapa saja terduga pelakunya. Penuntasan kasus ini untuk mewujudkan rasa keadilan para korban,” ujar Crisna Akbar di Banda Aceh dikutip dari ANTARA, Selasa (21/1/2025).

Pernyataan tersebut disampaikan Crisna saat menghadiri gelar perkara terkait kasus yang menimpa 12 pelajar sekolah menengah kejuruan. Para pelajar tersebut dilaporkan bekerja di kapal perikanan secara ilegal pada 2019 hingga 2020. Gelar perkara tersebut berlangsung di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh.

Menurut Crisna, sejak laporan pertama kali diajukan, pihaknya baru menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) setelah tujuh bulan. Dalam surat itu, Polda Aceh menginformasikan bahwa perkara telah dilimpahkan ke wilayah hukum kepolisian lainnya dengan alasan lokasi kejadian.

“Alasan pelimpahan karena lokasi kasus. Kami pikir ini bukan soal locus, tetapi bagaimana kasus ini diselesaikan. Banyak anak Aceh menjadi korban dipekerjakan di kapal perikanan asing secara ilegal,” tegasnya.

SEI sebelumnya juga telah mendampingi dan melaporkan 43 anak Aceh yang diduga menjadi korban TPPO dengan modus magang di kapal perikanan asing. Mereka adalah pelajar sekolah menengah kejuruan yang direkrut dengan janji pelatihan kerja.

Selama berada di kapal tersebut, para pelajar mengalami penyiksaan, jam kerja hingga 16 jam per hari, dan tidak menerima gaji yang dijanjikan. Mereka harus bertahan selama satu hingga dua tahun sebelum akhirnya dipulangkan melalui jalur ilegal.

“Kami berharap kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut demi mewujudkan rasa keadilan para korban. Kasus ini mencuat setelah sebelumnya para korban tidak tahu mengadu ke mana. Ada orang tua yang masih depresi karena anaknya menjadi korban,” tutur Crisna.

Kasus ini, yang menyentuh isu serius perdagangan manusia dan eksploitasi anak, menjadi sorotan publik. Desakan agar penegak hukum bertindak tegas diharapkan dapat mempercepat proses keadilan bagi para korban.

Editor: Akil

Polisi Bongkar Ladang Ganja Sehektare di Aceh Besar

0
Personel Satresnarkoba Polres Aceh Besar saat menemukan satu hektare ladang ganja dan seorang terduga pelaku di wilayah Lamteuba, Aceh Besar. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Jantho — Jajaran Satuan Reserse Narkoba Polres Aceh Besar berhasil mengungkap satu hektare ladang ganja di kawasan lereng gunung Desa Lam Apeng, Kemukiman Lamteuba, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar. Seorang terduga pelaku yang diduga pemilik dan penanam ladang tersebut turut diamankan dalam operasi ini.

Kasat Resnarkoba Polres Aceh Besar, Iptu Bambang Pelis, menyatakan pihaknya telah melakukan penyelidikan intensif selama dua hari sebelum menangkap tersangka berinisial ZA (27), yang merupakan warga setempat.

“Kita temukan ladang tanaman ganja sekitar satu hektare, serta menangkap satu pelaku yaitu pemilik sekaligus penanam,” ujar Iptu Bambang di Aceh Besar, Selasa (21/1/2025).

Menurut Bambang, barang bukti yang berhasil disita dari lokasi mencapai sekitar 700 batang ganja. Berdasarkan pengakuan tersangka, ladang tersebut sebelumnya telah dipanen sekitar empat bulan lalu, sementara tanaman yang baru ditemukan berusia sekitar tiga pekan.

“Berdasarkan pengakuan pelaku, dari lahan satu hektare tersebut, sudah pernah dipanen sekitar empat bulan yang lalu. Sedangkan tanaman yang ditemukan saat ini adalah yang kedua kalinya dan baru ditanam sekitar tiga pekan lalu,” katanya.

Iptu Bambang mengungkapkan bahwa tren penyalahgunaan narkotika jenis ganja di Aceh Besar dalam tiga tahun terakhir cenderung menurun. Namun, laporan mengenai aktivitas penanaman ganja masih sering diterima. Lokasi yang sulit diakses dan medan yang berat menjadi tantangan dalam memberantas praktik tersebut.

Meski demikian, pihak kepolisian terus berupaya memberantas peredaran ganja dan mengedukasi masyarakat agar tidak terlibat dalam kegiatan ilegal tersebut. Bambang menyatakan bahwa upaya pencegahan akan dilakukan melalui dialog langsung dengan para petani, tokoh masyarakat, dan aparatur gampong di wilayah Lamteuba.

“Dalam waktu dekat ini pihaknya bakal mengundang para petani, tokoh dan aparatur gampong yang bermukim di kawasan Lamteuba guna membahas solusi pencegahan agar tidak menanam ganja lagi,” tuturnya.

Ia menambahkan, Polres Aceh Besar mendukung penuh upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan di daerah.

“Kami siap membantu dan mendorong masyarakat untuk fokus pada ketahanan pangan sesuai program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” pungkasnya.

Editor: Akil

Potensi Banjir di Aceh Rendah hingga Awal Februari 2025, Ini Penjelasan BMKG

0
Ilustrasi Banjir. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi banjir di Provinsi Aceh selama periode dasarian III Januari hingga dasarian I Februari 2025 akan berada pada tingkat rendah. Periode tersebut mencakup tanggal 21 hingga 31 Januari dan 1 hingga 10 Februari mendatang.

Harisa Bilhaqqi Qalbi, Analis Meteorologi Klimatologi BMKG Aceh, menyampaikan bahwa prakiraan tersebut didasarkan pada analisis curah hujan yang diperkirakan hanya melebihi 50 milimeter (mm) per dasarian dengan tingkat kepercayaan lebih dari 70 persen.

“Risiko meningkat menjadi menengah jika curah hujan melebihi 100 mm, dan masuk kategori tinggi apabila curah hujan melampaui 200 mm,” ujar Harisa di Banda Aceh, Selasa (21/1/2025).

Dia menjelaskan bahwa curah hujan lebih dari 50 mm per dasarian dengan probabilitas di atas 70 persen diprediksi akan terjadi di sebagian besar wilayah Aceh, kecuali Aceh Besar, Banda Aceh, serta kawasan pesisir utara dan timur Aceh. Sementara itu, curah hujan yang lebih tinggi, yakni di atas 100 mm per dasarian, diperkirakan hanya terjadi di sebagian wilayah Aceh Barat.

Menurut Harisa, wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami banjir tingkat rendah selama dasarian III Januari meliputi Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Bireuen, Gayo Lues, Subulussalam, Nagan Raya, Pidie, dan Pidie Jaya.

“Sedangkan pada dasarian I Februari, curah hujan lebih dari 50 mm per dasarian dengan probabilitas lebih dari 70 persen diprediksi terjadi di sebagian besar wilayah Aceh, khususnya di kawasan barat selatan,” tambah Harisa.

Dia juga menyebutkan bahwa curah hujan kurang dari 20 mm per dasarian dengan probabilitas sekitar 60 hingga 70 persen kemungkinan besar akan terjadi di wilayah pesisir utara dan timur Aceh. Pada periode 1 hingga 10 Februari, daerah yang berpotensi mengalami banjir tingkat rendah meliputi Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Subulussalam, Nagan Raya, dan Pidie.

Lebih lanjut, Harisa menjelaskan bahwa intensitas curah hujan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada dasarian I Januari, curah hujan mencapai lebih dari 300 mm per dasarian, sebelum menurun menjadi sekitar 150 mm per dasarian di dasarian II Januari di beberapa wilayah, termasuk Aceh Barat, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan.

“Curah hujan kemudian menurun menjadi 150 mm per dasarian pada dasarian II Januari 2025 di beberapa wilayah Aceh, seperti Aceh Barat, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan,” kata Harisa mengakhiri keterangannya.

Editor: Akil

Komunitas AF2 Ajak Siswa SDN Seuriget Peduli Lingkungan

0
Komunitas AF2 Ajak Siswa SDN Seuriget Peduli Lingkungan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Langsa – Komunitas Aceh Flora dan Fauna (AF2) terus menunjukkan konsistensinya dalam memberikan edukasi lingkungan hidup kepada generasi muda. Pada Selasa (21/1/2024), mereka menggelar kegiatan edukasi di SDN Seuriget, Kota Langsa, yang disambut antusias oleh para siswa.

Ketua AF2, Iqbal Fachrul Razzy, yang akrab disapa Ayong, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, kegiatan edukasi flora dan fauna di SDN Seuriget berjalan lancar. Kami berterima kasih kepada pihak sekolah yang telah memberikan kesempatan untuk bertegur sapa dengan siswa-siswi hebat di sini,” ujarnya kepada Nukilan.id pada Rabu (22/1/2025).

Ayong mengungkapkan kebahagiaannya melihat semangat dan partisipasi aktif para siswa dalam memahami pentingnya menjaga lingkungan.

“Senang rasanya melihat tingkah aktif mereka dalam memahami lingkungan hidup sekitar. Terus tumbuhlah menjadi anak-anak baik untuk masa depan Aceh,” tambahnya.

Program edukasi lingkungan yang diusung AF2 mencakup pengenalan beragam flora dan fauna khas Aceh serta cara melindungi keanekaragaman hayati. Selain pemaparan materi, siswa diajak terlibat langsung dalam kegiatan interaktif seperti menggambar dan bermain kuis bertema alam.

AF2 telah menjadikan edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah sebagai bagian dari komitmen mereka dalam menciptakan generasi yang peduli terhadap alam. Langkah kecil ini diharapkan dapat berdampak besar pada pelestarian lingkungan di masa depan. (XRQ)

Reporter: Akil

Empat Gubernur Berturut-turut Abaikan Kekosongan Ketua MAA

0
Aktivis Aceh, Usman Lamreung. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Majelis Adat Aceh (MAA), lembaga yang menjadi pilar pelestarian adat dan budaya di Aceh, masih mengalami kekosongan posisi Ketua definitif sejak wafatnya Profesor Farid Wajdi Ibrahim pada 14 Agustus 2021. Selama lebih dari tiga tahun, belum ada langkah konkret dari pemerintah Aceh untuk mengisi kekosongan tersebut.

“Saat ini, MAA dijalankan oleh wakil ketua satu dan dua yang disebut pimpinan kolektif kolegial,” kata Dr. Usman Lamreung, pengamat politik dan sosial dari Universitas Abulyatama (Unaya), dalam sebuah diskusi di Banda Aceh, Selasa, 21 Januari 2025.

Menurut Usman, Qanun Nomor 8 Tahun 2019 yang mengatur MAA menyebutkan bahwa kewenangan pimpinan kolektif kolegial sangat terbatas, bahkan tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan Surat Keputusan (SK) bagi perwakilan MAA di kabupaten atau kota. Kondisi ini, katanya, menyebabkan aktivitas MAA lebih banyak bersifat seremonial dan membebani anggaran negara melalui perjalanan dinas yang dinilai kurang produktif.

Ia menilai bahwa pemerintah Aceh seolah-olah mengabaikan isu adat, meski peran adat sangat penting sebagai perekat sosial dalam kehidupan masyarakat Aceh. “Ini amanah Undang-Undang Kekhususan Aceh yang diatur dalam Qanun Nomor 8 Tahun 2019 tentang MAA,” tambah Usman.

Kekosongan posisi Ketua MAA, menurutnya, merupakan bentuk pembiaran yang berlarut-larut. Proses musyawarah untuk memilih pengganti ketua telah gagal di bawah empat kepemimpinan gubernur, yaitu Nova Iriansyah, Pj Gubernur Ahmad Marzuki, Pj Gubernur Bustami Hamzah, dan Pj Gubernur Safrizal ZA.

“Hingga kini, langkah tegas terkait MAA masih ditunggu,” tegas Usman.

Ketika dikonfirmasi terkait hal ini, Pj Gubernur Aceh Safrizal ZA mengaku belum menerima informasi yang memadai mengenai persoalan tersebut. “Lage angen, meusape hana dilapor (seperti angin, apapun tidak dilapor),” ujarnya melalui pesan WhatsApp.

Publik Aceh masih menanti kepastian langkah pemerintah untuk mengakhiri polemik ini, mengingat pentingnya MAA sebagai penjaga nilai-nilai adat yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Aceh.

Editor: Akil