Beranda blog Halaman 707

150 Tahun Lalu: Belanda Rebut Istana Darud Donya Aceh

0
Lukisan perang Belanda dan Aceh. (Foto: Dok. The Dutch Colonial War in Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Tepat 150 tahun lalu, pada 24 Januari 1874, pasukan Belanda berhasil merebut Istana Darud Donya, pusat pemerintahan Kesultanan Aceh. Peristiwa ini menjadi bagian dari agresi militer kedua yang dilakukan Belanda untuk menaklukkan Aceh. Sebelumnya, mereka telah menguasai Masjid Raya Baiturrahman yang terbakar hebat saat perang berlangsung.

Dilansir Nukilan.id dari berbagai sumber, Pemerintah Kerajaan Belanda memulai perang dengan Aceh pada 26 Maret 1873, bertepatan dengan 26 Muharam 1290 Hijriah. Deklarasi perang tersebut diumumkan dari atas kapal perang Citadel van Antwerpen yang berlabuh di perairan Sabang. Sebulan setelahnya, pasukan Belanda di bawah komando Mayor Jenderal JHR Kohler mendarat di Pante Ceureumen, Ulee Lheue, pada 6 April 1873.

Pasukan Aceh mempertahankan tanah mereka dengan gigih. Dalam pertempuran di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Mayor Jenderal Kohler tewas ditembak pada 14 April 1873, yang menjadi pukulan telak bagi moral tentara Belanda. Akibatnya, agresi militer pertama ini berakhir dengan kegagalan, dan pasukan Belanda mundur pada akhir April 1873.

Namun, kegagalan itu tidak menghentikan ambisi Belanda. Seperti yang ditulis Paul van’t Veer dalam bukunya De Atjeh-oorlog, pemerintah Hindia Belanda segera menyusun strategi baru untuk menjaga reputasi mereka di dunia internasional. Setelah menghimpun sekitar 13.000 tentara, Belanda kembali melancarkan serangan pada 9 Desember 1873 di tengah wabah kolera yang melanda.

Target utama agresi kedua ini adalah merebut Masjid Raya Baiturrahman dan Istana Darud Donya, yang dianggap sebagai simbol kekuatan Kesultanan Aceh. Pada 6 Januari 1874, pasukan Belanda mengerahkan 1.400 personel untuk menyerang masjid tersebut. Meski berhasil merebutnya, masjid itu telah hangus terbakar, menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Aceh.

Perang berlanjut hingga puncaknya pada 24 Januari 1874, ketika pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Van Swieten berhasil menguasai Istana Darud Donya. Istana tersebut ditemukan dalam keadaan kosong setelah Sultan Alauddin Mahmudsyah, keluarganya, dan pengawal kerajaan mundur ke wilayah Lueng Bata, kemudian ke Samahani dan Indrapuri, sebelum akhirnya memindahkan pusat pemerintahan ke Keumala, Pidie.

Kabar keberhasilan ini segera disampaikan oleh Van Swieten melalui telegram ke Batavia dan Den Haag. Belanda kemudian mengumumkan kepada dunia bahwa Kesultanan Aceh telah ditaklukkan. Di Batavia dan Belanda, peristiwa ini dirayakan sebagai kemenangan besar.

Van Swieten mengadakan pesta di istana dengan menginstruksikan pasukan musiknya memainkan lagu “Wien Neerlandsch Bloed” sambil mengedarkan sampanye kepada para perwira. Namun, di sisi lain, rakyat Aceh tengah berduka atas wafatnya Sultan Alauddin pada 29 Januari 1874 akibat wabah kolera yang dibawa oleh pasukan Belanda.

Kendati istana telah jatuh, semangat perjuangan rakyat Aceh tetap berkobar. Perlawanan terus berlanjut di bawah pimpinan para ulama, seperti Tgk Imum Lueng Bata, Tuanku Hasyim Banta Muda, dan Panglima Polem. Perang ini berlangsung hingga Jepang masuk ke Aceh pada Maret 1942.

Paul van’t Veer menutup bukunya dengan menuliskan: “Aceh adalah daerah yang paling akhir dimasukkan dalam wilayah Pemerintahan Belanda, dan yang mula-mula sekali keluar dari padanya. Pengunduran diri Belanda pada 1942 adalah akhirnya.”

Peristiwa ini menjadi pengingat akan perjuangan rakyat Aceh yang tak kenal lelah melawan kolonialisme, sebuah warisan sejarah yang terus dikenang hingga kini. (XRQ)

Reporter: Akil

Teungku Chik di Tiro: Ulama Pejuang yang Rela Berkorban Demi Agama dan Bangsa

0
Foto Teungku Chik di Tiro di Museum Aceh. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Nama Teungku Chik di Tiro, yang memiliki nama asli Muhammad Saman, menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sebagai seorang ulama dan pejuang gerilya dari Aceh, ia dikenal karena dedikasinya yang total terhadap agama dan bangsa.

Dikutip Nukilan.id dari Buku Lima Putera-Puteri Aceh Pahlawan Nasional, dalam Perang Aceh pada 1881, Chik di Tiro sukses merebut wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah kendali Belanda. Perjuangannya menunjukkan keberanian dan tekad besar untuk melawan penjajahan.

Kehidupan Awal

Muhammad Saman lahir pada 1 Januari 1836 di Tiro, Aceh, dari pasangan Teungku Syekh Ubaidillah dan Siti Aisyah. Ia tumbuh dalam keluarga religius, yang menjadi fondasi kuat bagi pemahaman agama dan semangat juangnya.

Sejak usia 15 tahun, Saman belajar agama dari ayahnya. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya bersama pamannya, Teungku Chik Dayah Tjut di Tiro, sebelum pindah ke Aceh Besar untuk mendalami ilmu agama selama dua tahun. Pada siang hari, ia belajar Islam, sementara di malam hari ia bergaul dengan pejuang-pejuang gerilya.

Setelah kembali ke kampung halaman, Saman mulai mengajar agama bersama pamannya. Ia kemudian menunaikan ibadah haji ke Mekah untuk memperdalam ilmu agama dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin Islam yang menginspirasi perjuangannya melawan kolonialisme.

Memimpin Perlawanan

Pada 1880, Muhammad Saman kembali ke Tiro. Saat itu, sebuah kelompok gerilya datang mencari ulama yang bersedia memimpin perang melawan Belanda. Chik di Tiro dengan tegas menawarkan dirinya dan bergabung dengan pasukan gerilya yang bermarkas di Gunung Miram.

Ia memanfaatkan setiap persinggahannya di kota-kota Aceh untuk menyampaikan ceramah tentang perang suci di masjid-masjid. Tak hanya itu, ia mengirim surat kepada ulama-ulama lain untuk menggalang dukungan. Pada 1883, ia berhasil mengumpulkan sekitar 6.000 tentara bersama para ulama lainnya, dengan dukungan dari Sultan Aceh.

Puncak perjuangannya terjadi pada Mei 1881, ketika pasukannya merebut Benteng Belanda di Indrapuri, memicu dimulainya Perang Aceh. Perang tersebut berlangsung sengit hingga 1883, di mana Chik di Tiro dan pasukannya terus melancarkan serangan terhadap benteng-benteng Belanda di Aceh, termasuk di Kutaraja (Banda Aceh). Meski serangan ke Kutaraja gagal, mereka berhasil menewaskan penguasa Belanda di wilayah tersebut.

Sebagai hasil perjuangannya, wilayah yang dikuasai Belanda di Aceh menyusut drastis, hingga hanya tersisa sekitar empat kilometer persegi.

Akhir Hidup

Keyakinan Chik di Tiro terhadap kemenangan semakin kuat pada 1885. Ia bahkan sempat mengirimkan ultimatum kepada Asisten Residen van Langen agar Belanda menyerah dan memeluk Islam. Namun, upaya ini tidak membuahkan hasil.

Pada 21 Januari 1891, Chik di Tiro mengalami pengkhianatan. Ia diberi makanan beracun oleh putra pemimpin Sagi yang telah bekerja sama dengan Belanda. Setelah memakan hidangan tersebut, Chik di Tiro dibawa ke Benteng Aneuk Galong untuk dirawat, namun nyawanya tak tertolong. Ia wafat dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Meureu, Aceh Besar.

Pengakuan atas Jasanya

Sebagai penghormatan atas perjuangannya, Presiden Soeharto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Teungku Chik di Tiro melalui Keputusan Presiden No. 987/TK/1973 pada 6 November 1973. Hingga kini, nama Teungku Chik di Tiro diabadikan sebagai nama jalan di berbagai wilayah di Indonesia.

Perjuangan dan pengorbanan Teungku Chik di Tiro menjadi inspirasi bagi generasi bangsa untuk terus berjuang melawan segala bentuk penjajahan, demi kemerdekaan dan martabat bangsa. (xrq)

Reporter: Akil

Putra Aceh Utara Rian Syaf Dikukuhkan Sebagai Staf Khusus Menteri Ekonomi Kreatif

0
Proses pengukuhan Putra asli Aceh Utara Rian Firmansyah. (Foto: For NUkilan)

NUKILAN.id | Jakarta – Putra asli Aceh Utara, kelahiran Panton Labu, Rian Firmansyah, BBA., M.Com atau kerap disapa Rian Syaf secara resmi dikukuhkan sebagai Staf Khusus Menteri Ekonomi Kreatif untuk Bidang Isu Strategis dan Antar Lembaga oleh Menteri Ekonomi Kreatif | Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya. 

Acara pengukuhan Staf Khusus Menteri dilaksanakan pada Jumat, (23/1/2025) di Hermitage Hotel, Jakarta. Rian Syaf dikukuhkan berdasarkan usulan menteri yang disetujui oleh Presiden melalui Surat Keputusan Menteri Ekonomi Kreatif Nomor SK/14/HK.01.02/MK-EK/2025.

Sebelum diangkat sebagai Staf Khusus Menteri Ekonomi Kreatif, Rian Syaf selama ini memiliki latar belakang profesional dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di berbagai industri, termasuk teknologi start-up, consumer goods, logistik, dan manufaktur. 

Dalam perjalanan kariernya, ia telah menunjukkan kemampuan yang mumpuni dalam manajemen talenta, rekrutmen, pengembangan bisnis, serta negosiasi. 

Rian Syaf saat ini tercatat menjadi satu-satunya anak muda Aceh yang dipercayakan menjadi Staf Khusus Menteri, dengan latar belakang pendidikan Master of Commerce, Management, and Organizational Studies dari University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia, serta Bachelor of Business Administration dari International Islamic University of Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur, Malaysia. 

Dengan latar belakang pendidikan internasional dan keahlian yang kuat, ia dinilai mampu menjembatani berbagai isu strategis yang dihadapi kementerian.

Setelah menjalani 10 tahun karir profesional, Rian Syaf kemudian berkecimpung di dunia politik bersama Partai Demokrat. Kini ia juga menjabat sebagai Deputi BPOKK DPP Partai Demokrat di bawah kepemimpinan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.

Dengan amanah yang diberikan, Rian berharap dapat mengemban amanah dengan baik dan bekerja keras untuk menyukseskan kerja di kementrian, sesuai dengan visi Asta Cita  pemerintahan Prabowo Subianto. []

Mendes Yandri: Minimal 20 Persen Dana Desa untuk Ketahanan Pangan

0
Mendes, Yandri. (Foto: Kemendes)

NUKILAN.id | Jakarta – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, kembali mengingatkan pentingnya penggunaan Dana Desa secara tepat guna, terutama untuk mendukung program ketahanan pangan. Hal ini ia sampaikan dalam sosialisasi Peraturan Menteri Desa (Permendesa) Nomor 2 Tahun 2024, yang mengatur fokus penggunaan Dana Desa tahun 2025.

Dalam pertemuan yang dilakukan secara hybrid, kali ini Yandri berdiskusi langsung dengan para kepala desa dari Provinsi Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Sebelumnya, sosialisasi serupa telah dilaksanakan secara virtual untuk provinsi lain, seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jambi.

“Permendesa ini menjadi acuan pemerintah daerah hingga desa untuk mempercepat kesejahteraan masyarakat desa,” kata Yandri. Ia menekankan bahwa Dana Desa adalah salah satu upaya strategis pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di pedesaan.

Pada 2025, pemerintah pusat akan mengalokasikan Rp71 triliun sebagai Dana Desa. Sejak program ini dimulai pada 2015, total alokasi yang sudah disalurkan mencapai Rp610 triliun.

“Kementerian Desa dan PDT bersama instansi terkait terus memastikan agar percepatan dan pengendalian pemanfaatan Dana Desa bisa memberikan manfaat optimal,” tambahnya.

Fokus Penggunaan Dana Desa

Dalam sosialisasi itu, Mendes Yandri menjelaskan tujuh fokus penggunaan Dana Desa berdasarkan Permendesa Nomor 2 Tahun 2024. Fokus pertama adalah pengentasan kemiskinan ekstrem melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar 15 persen. Kedua, penguatan desa untuk menghadapi perubahan iklim. Ketiga, peningkatan layanan kesehatan dasar dan pencegahan stunting.

Keempat, Dana Desa digunakan untuk mendukung ketahanan pangan. Yandri menyatakan bahwa minimal 20 persen dari total Dana Desa, atau sekitar Rp16 triliun, harus dialokasikan untuk sektor ini.

“Sekurang-kurangnya ya, tidak boleh kurang dari Rp16 triliun,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa alokasi tersebut bisa ditingkatkan jika memungkinkan.

“Bagaimana kalau 30 persen? Ya boleh. Bagaimana kalau 25 persen? Boleh. Sekurang-kurangnya Rp16 triliun, berarti bisa juga sampai ke angka 20 triliun sebagaimana yang saya sampaikan di Istana Negara kemarin,” ujarnya.

Langkah ini, menurut Yandri, adalah bagian dari komitmen untuk mendukung program makan siang bergizi yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

“Jumat kemarin saya diundang oleh bapak presiden Prabowo untuk rapat kabinet terbatas tentang makan siang bergizi. Kemendes PDT diberi tanggung jawab untuk menyediakan bahan baku makan siang bergizi,” ungkap Yandri.

Fokus kelima adalah pengembangan potensi unggulan desa. Dana Desa juga akan dimanfaatkan untuk mempercepat implementasi Desa Digital melalui teknologi dan sistem informasi. Fokus keenam dan ketujuh mencakup program padat karya tunai berbasis bahan baku lokal serta pembangunan sektor prioritas lainnya di desa.

Pengawasan dan Pendampingan

Untuk memastikan penggunaan Dana Desa berjalan sesuai rencana, Kemendes PDT menggandeng Jaksa Agung Muda Intelijen, Reda Manthovani, dalam pengawasan dan pendampingan.

“Harapannya, ke depan tidak ada lagi masalah hukum yang melibatkan kepala desa atau perangkat desa,” kata Yandri.

Sosialisasi ini juga dihadiri oleh Wakil Menteri Desa dan PDT Ariza Patria, Sekretaris Jenderal Kemendes PDT Taufik Madjid, serta para pejabat tinggi di lingkungan Kemendes PDT. Secara virtual, acara ini diikuti oleh kepala dinas PMD, camat, kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan tenaga pendamping desa dari berbagai daerah.

Dengan langkah-langkah strategis ini, Yandri optimistis Dana Desa tahun 2025 akan mampu memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat desa di seluruh Indonesia.

Editor: Akil

Polresta Banda Aceh Musnahkan 3,7 Kilogram Sabu yang Gagal Diselundupkan

0
Polresta Banda Aceh Musnahkan 3,7 Kilogram Sabu yang Gagal Diselundupkan. (Foto: ANTARA)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Sebanyak 3,7 kilogram sabu-sabu yang berhasil digagalkan penyelundupannya melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar dimusnahkan oleh Polresta Banda Aceh pada Kamis (23/1/2025).

Pemusnahan dilakukan di Mapolresta Banda Aceh dengan dihadiri sejumlah pihak, termasuk unsur kejaksaan, Bea dan Cukai Banda Aceh, serta perwakilan dari Bandara SIM. “Total keseluruhan barang bukti yang kita musnahkan ini seberat 3,7 kg,” ujar Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Fahmi Irwan Ramli.

Barang bukti narkotika jenis sabu-sabu tersebut merupakan hasil pengungkapan tiga kasus yang terjadi sepanjang 2024 lalu, semuanya di wilayah Bandara SIM. Dari ketiga kasus ini, polisi menetapkan tujuh orang sebagai tersangka, terdiri dari enam pria dan satu perempuan.

Dalam proses pemusnahan, sabu-sabu dilarutkan dengan campuran alkohol dan air, kemudian diblender hingga larut sebelum akhirnya dibuang ke saluran air. Hadir dalam proses ini antara lain Kajari Banda Aceh Jemmy Novian Tirayudi, Kepala KPPBC TMP C Banda Aceh Dede Mulyana, serta PGS Airport Security Department Head Bandara SIM Vovo Kristanto.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 112 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Mereka menghadapi ancaman hukuman berat, mulai dari enam tahun penjara hingga maksimal hukuman mati atau seumur hidup.

“Kemudian, untuk berkas perkara sudah tahap satu dan menunggu pemberitahuan selanjutnya dari kejaksaan,” kata Fahmi.

Kapolresta Banda Aceh menegaskan pihaknya terus bekerja sama dengan instansi terkait, termasuk Bandara SIM, Bea dan Cukai, serta kejaksaan, untuk memberantas peredaran narkoba. Ia berharap para tersangka mendapat hukuman yang setimpal di pengadilan.

“Kita harapkan di tingkat pengadilan nanti para tersangka dapat dihukum dengan seberat-beratnya,” pungkas Fahmi.

Editor: Akil

Pemkab Aceh Barat Pastikan Tarif Bus Perintis Ramah di Kantong Warga

0
Pemkab Aceh Barat Pastikan Tarif Bus Perintis Ramah di Kantong Warga. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Meulaboh – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat memastikan tarif angkutan bus perintis yang dilayani oleh dua unit bus Perum Damri terjangkau bagi masyarakat. Penetapan tarif ini disesuaikan dengan jarak tempuh penumpang.

“Tarifnya disesuaikan berdasarkan jarak tempuh penumpang, ada tiga titik jarak yang dimulai dari Rp3.000, Rp5.000 dan di jarak terjauh Rp9.000 per penumpang,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Aceh Barat, Dodi Bima Saputra, Kamis (23/1/2025).

Dua rute yang dilayani bus perintis tersebut adalah trayek Meulaboh-Woyla-Teupin Peraho, Kecamatan Arongan Lambalek, dan Meulaboh-Alue Kuyun, Kecamatan Woyla Timur.

Dodi menambahkan, kehadiran bus perintis Perum Damri ini diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian serta mendukung pembangunan di Aceh Barat, khususnya di wilayah pedesaan.

“Selain pada dua rute tersebut, Pemkab Aceh Barat ke depan akan terus berupaya untuk mengajukan trayek lainnya yang melintasi setiap kecamatan di Kabupaten Aceh Barat,” ungkapnya.

Upaya ini dinilai penting untuk mempermudah akses masyarakat terhadap transportasi umum yang terjangkau, efisien, dan dapat diandalkan. Dengan begitu, aktivitas warga di pedesaan menjadi lebih lancar dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

Dodi juga berharap, keberadaan angkutan perintis ini dapat mengurangi risiko kecelakaan di jalan raya. Ia optimistis, armada Damri dapat menjadi solusi transportasi publik yang aman, murah, serta tepat waktu bagi warga Aceh Barat.

Editor: Akil

Polres Aceh Timur Tangkap Dua Warga Diduga Selundupkan Pengungsi Rohingya ke Medan

0
Ilustrasi ditangkap Polisi. (Foto: LintasJatim.com)

NUKILAN.id | IDI RAYEUK – Polisi di Kabupaten Aceh Timur menangkap dua warga, Za (44) dan AR (18), atas dugaan upaya penyelundupan tiga pengungsi Rohingya ke Medan, Sumatera Utara. Penangkapan tersebut dilakukan pada malam hari, 19 Januari 2025, setelah pihak kepolisian mendapatkan informasi dari masyarakat.

Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, Iptu Adi Wahyu Nurhidayat, dalam keterangannya pada Kamis (23/1/2025) mengungkapkan, ketiga pengungsi tersebut sebelumnya melarikan diri dari kamp penampungan sementara yang berada di Desa Sineubok Rawang, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur.

“Awalnya Polsek Peureulak Timur menerima informasi bahwa ada tiga imigran yang naik mobil angkutan umum. Polsek kemudian mendalami informasi tersebut,” kata Adi.

Polisi menghentikan mobil angkutan umum yang dimaksud di Kota Langsa, tempat para pengungsi berada. Setelah diperiksa, sopir kendaraan itu mengaku bahwa ia menerima penumpang tersebut dari Za. Dari pengakuan itu, polisi kemudian menangkap Za dan mengungkap keterlibatan AR dalam kasus ini.

“Saat diperiksa, sopir mengaku menerima penumpang Rohingya itu dari ZA. Dari situ, kami menangkap ZA dan ternyata ada keterlibatan AR,” tambah Adi.

Atas tindakan mereka, Za dan AR kini dijerat dengan Pasal 328 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan atau Pasal 10 Jo Pasal 2 Undang-undang RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Ancaman hukuman bagi keduanya adalah minimal tiga tahun penjara.

Saat ini, tim penyidik Polres Aceh Timur terus mendalami kasus ini untuk mengungkap pihak-pihak lain yang mungkin terlibat.

“Kami mendalami kasus ini, penyidikan masih berjalan. Keduanya masih diminta keterangan dengan status tersangka,” tutup Adi.

Kasus ini menjadi perhatian, mengingat Provinsi Aceh kerap menjadi pintu masuk bagi pengungsi Rohingya yang mencari perlindungan dari konflik di negara asal mereka.

EDITOR: AKIL

Platform Digital S.id Tembus 1,5 Juta Pengguna, Dominasi Pasar dan Siap Menuju Global

0
Logo Platform Digital S.id. (Foto: S.id)

NUKILAN.id | JAKARTA – Platform digital pemendek URL dan pembuat microsite, S.id, mencatat pencapaian luar biasa di awal 2025. Hingga pertengahan Januari, jumlah pengguna aktif S.id telah melampaui 1,5 juta dengan total tautan pendek mencapai 15,3 juta dan kunjungan microsite mencapai 1,43 miliar.

Sebagai platform yang mengintegrasikan kebutuhan digital modern, S.id kini semakin mengukuhkan posisinya di pasar lokal Indonesia dengan ekspansi pengguna global. Dari total pengguna aktif, 80 persen berasal dari Indonesia, sementara sisanya sekitar 636 ribu pengguna tersebar di 191 negara, termasuk Vietnam, India, Amerika Serikat, Hong Kong, dan Bangladesh.

“S.id berhasil menarik perhatian pengguna lokal dan global, serta menjadi solusi andalan bagi generasi digital masa kini,” ujar Atmaji Sapto Anggoro, Direktur PT Aidi Digital Global (ADG), dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/1/2025).

Berdasarkan data internal, dari total tautan yang dibuat melalui S.id, sebanyak 95,38 persen merupakan tautan pendek, sementara sisanya adalah tautan microsite. Sektor pendidikan mendominasi penggunaan platform ini dengan kontribusi sebesar 33 persen, disusul oleh personal branding (21 persen), event (6 persen), online shop (5 persen), portfolio (3 persen), dan laman komunitas (3 persen).

Platform ini juga telah menjadi alat penting bagi berbagai sektor, termasuk guru dan dosen yang menggunakan microsite untuk menampilkan materi ajar, serta pelaku UMKM dan penyelenggara acara yang memanfaatkan pemendek tautan untuk keperluan branding dan promosi.

“Kami bangga, karena dalam kurun waktu dua tahun setengah, apresiasi pengguna shortener dan bio-link terhadap kehadiran platform S.id semakin massive,” ujar Atmaji. “Kami tak boleh berpuas diri, sehingga akan terus meningkatkan keandalan platform S.id agar semakin bermakna bagi peradaban digital nasional dan global,” tambahnya.

Sebagai platform terbuka yang mengandalkan konten buatan pengguna (user-generated content), S.id juga menghadapi tantangan besar dalam menjaga keamanan dan kenyamanan. Langkah-langkah seperti penapisan konten dengan metode pre-factum dan post-factum terus dilakukan.

“Sejauh ini, kami telah memblokir lebih dari 26 ribu akun yang terindikasi penyalahgunaan, menambahkan 500 ribu domain berbahaya, dan memblokir 205 ribu tautan yang mengancam keamanan pengguna,” jelas Atmaji.

Langkah-langkah ini penting, mengingat ancaman seperti phising yang mendominasi hingga 92 persen, diikuti oleh scam (1 persen), judi online (2 persen), dan spam (0,1 persen). Untuk mendukung misi ini, S.id bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti IDADX, NetCraft, dan PhishLabs.

Pertumbuhan pengguna S.id juga menunjukkan tren positif. Pada 2023, jumlah pengguna aktif mencapai 965 ribu, dan kini melonjak hingga 1,5 juta, atau tumbuh sekitar 60 persen. Pengguna microsite juga meningkat pesat dari 201 ribu pada 2023 menjadi 700 ribu pada 2024. Saat ini, rata-rata kunjungan harian mencapai 37 juta, menjadikan platform ini peluang besar bagi kerja sama bisnis.

Kesuksesan S.id tak lepas dari dukungan pemerintah, melalui PANDI (Pengelola Nama Domain Indonesia), yang terus memberikan masukan terkait pentingnya membangun platform digital yang sehat dan bernilai.

Melihat pertumbuhan ini, pengembang S.id berkomitmen untuk terus berinovasi, termasuk mengembangkan aplikasi tambahan seperti Klip.id untuk komunitas dan 321 sebagai platform trivia game.

Platform S.id kini tidak hanya mendukung kebutuhan lokal, tetapi juga semakin bersiap menuju pasar global dengan layanan digital yang relevan, aman, dan inovatif.

Editor: Akil

Jemput Anak Bocor Jantung, Teuku Syahwal: Terima Kasih Bang Menteri TRH

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Teuku Riefky Harsya (TRH), Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat sekaligus Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf), kembali membantu pemulangan seorang pasien anak penderita bocor jantung asal Aceh.

Asyifa Almira (7), bocah asal Gampong Rambong, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, akhirnya bisa kembali ke kampung halamannya setelah menjalani pengobatan intensif selama enam bulan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita (RS JHK), Jakarta.

Asyifa didampingi ibunya, Sri Wahyuni, tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Kamis (23/1), pukul 13.35 WIB dengan pesawat Pelita Air. Kedatangan mereka disambut hangat oleh ayahnya, Aiyub (52), dan Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pidie, Teuku Syahwal.

“Alhamdulillah, kondisi adik Asyifa kini telah membaik, dan semoga ia bisa kembali beraktivitas dengan riang gembira. Terima kasih Bang Menteri,” ujar Teuku Syahwal kepada awak media.

Selama proses pengobatan di Jakarta, Asyifa dan keluarganya difasilitasi penuh oleh TRH. Menteri asal Aceh ini terus berkomitmen membantu pasien bocor jantung yang membutuhkan pengobatan lanjutan.

“Asyifa adalah pasien ke-33 yang kami bantu. Kami akan terus melanjutkan program ini. Jika ada pihak lain yang ingin turut serta membantu, kami siap memberikan data pasien agar lebih banyak yang terbantu,” jelas Teuku Syahwal.

Saat berada di sela jamuan makan siang, Teuku Syahwal sempat menerima panggilan video dari Teuku Riefky Harsya, yang sedang bertugas di Bali. Dalam percakapan tersebut, TRH menyampaikan doa dan harapan untuk kesembuhan Asyifa.

“Mohon izin, ini masih di Bali lagi tugas. Mudah-mudahan Syifa sehat kembali ya. Nanti kalau saya pulang ke Bambi, kita ketemu ya,” ucap TRH melalui sambungan video.

Sri Wahyuni, ibu Asyifa, tak dapat menyembunyikan rasa harunya. “Terima kasih atas semua kebaikan Bapak Teuku Riefky dan Partai Demokrat. Semoga Allah SWT membalas dengan segala keberkahan-Nya,” ungkapnya.

Meski kondisi Asyifa telah membaik, ia dijadwalkan untuk kembali menjalani pemeriksaan lanjutan di RS JHK, Jakarta, satu tahun mendatang.

Melalui upayanya ini, TRH berharap semakin banyak pasien yang dapat tertolong, khususnya di Aceh, di mana antrean pasien bocor jantung masih cukup panjang, mencapai lebih dari 150 orang.[]

Gajah Liar Sakit di Aceh Timur Ditemukan Kurus dan Lemas, Tim Gabungan Lakukan Pengobatan

0
Gajah Liar Sakit di Aceh Timur Ditemukan Kurus dan Lemas. (Foto: Detik.com)

NUKILAN.id | Idi Rayeuk – Seekor gajah liar betina berusia sekitar 6,5 tahun ditemukan dalam kondisi kurus dan lemas di Desa Seunebok Bayu, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur. Satwa dilindungi itu diketahui mengalami sakit pada bagian mulut sehingga membutuhkan penanganan medis.

Laporan pertama kali diterima oleh aparat Muspika setempat pada Senin (20/1/2025), sekitar pukul 10.00 WIB. Warga Desa Seunebok Bayu melaporkan keberadaan gajah tersebut di Dusun Olindo. Namun, ketika tim gabungan dari Muspika dan Polsek Indra Makmu turun ke lokasi, satwa itu sudah tidak terlihat.

“Awalnya kita hanya menemukan jejak kaki gajah dan diduga saat itu gajah tersebut sudah menjauh dari lokasi,” ujar Kapolsek Indra Makmu, Iptu Muhammad Alfata, Kamis (23/1).

Tim kemudian melakukan pencarian lanjutan pada Selasa (21/1). Dengan bantuan Forum Konservasi Leuser (FKL), keberadaan gajah akhirnya terpantau dari kejauhan. Tim medis dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh langsung diterjunkan untuk memberikan pengobatan pada Rabu (22/1).

Proses penanganan dimulai dengan menembakkan obat bius menggunakan senapan angin khusus untuk membuat satwa tersebut tidak bergerak. Setelah itu, tim medis mendekat untuk memberikan infus dan obat cairan guna memulihkan kondisinya.

“Tim medis kemudian langsung melakukan tindakan yaitu dengan melakukan infus dan memberikan obat cairan ke dalam infus tersebut,” jelas Alfata.

Menurut Alfata, kondisi gajah saat ditemukan cukup memprihatinkan. Selain terlihat kurus dan lemas, kulitnya juga tampak keriput. Setelah mendapatkan perawatan, satwa itu kembali disuntik agar sadar sebelum dilepas ke habitat alaminya.

“Setelah diberikan pengobatan oleh medis, lalu gajah tersebut disuntik kembali supaya sadar dan selanjutnya gajah tersebut kembali ke habitatnya,” pungkas Alfata.

Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya upaya pelestarian satwa liar, terutama yang dilindungi seperti gajah Sumatra. Dukungan dari masyarakat dan pihak terkait sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup satwa-satwa ini di alam.

Editor: Akil