Beranda blog Halaman 689

Rumah Tenun Mutiara Songket Aceh Besar Terima Kunjungan BI Pusat

0
Rombongan Bank Indonesia pusat saat mengunjungi Rumah Tenun Mutiara Songket di Aceh Besar, pada Kamis 6 Februari 2025. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Aceh Besar  – Rombongan Bank Indonesia (BI) Pusat mengunjungi Rumah Tenun Mutiara Songket di Gampong Krueng Kalee, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Kamis (6/2/2025). Kunjungan ini untuk melihat langsung perkembangan UMKM binaan BI Aceh yang telah diresmikan pada Juli 2024 lalu.

“Kami memiliki berbagai motif songket, termasuk motif pintu Aceh. Yang terbaru adalah songket menggunakan benang sulam,” kata Sekretaris Rumah Tenun Mutiara Songket, Ira Mutiara kepada Nukilan.

Menurut Ira, harga songket yang dijual bervariasi mulai dari Rp1 juta hingga Rp3 juta, tergantung kualitas, cara penenunan, dan modelnya. Pemasaran produk dilakukan secara online maupun offline dengan jangkauan pasar yang cukup luas mencakup Jakarta, Palembang, hingga Papua.

Salah satu prestasi Rumah Tenun Mutiara Songket adalah karyanya yang dipakai oleh artis Ariel Tatum di Paris melalui desainer Didiet Maulana. “Desainer Didiet Maulana yang datang langsung kesini untuk membeli kain, lalu di-design dan dipakai Ariel Tatum di Paris,” jelasnya.

Rumah tenun yang merupakan generasi kedua ini memiliki sejarah panjang sejak 1977. “Awalnya ibu saya adalah murid Nyakmu dan menenun sendiri di rumah tanpa bantuan. Pada 2019, BI dan Dekranas Aceh Besar mulai membina kami dengan memberikan pelatihan,” tutur Ira.

Ira menambahkan, Rumah Tenun Mutiara Songket saat ini mempekerjakan 10 orang pengrajin yang merupakan warga lokal. “Kami merekrut ibu-ibu rumah tangga di sini untuk meningkatkan pendapatan mereka,” tambahnya.

Untuk diketahuim Rumah Tenun Mutiara Songket diresmikan oleh Bank Indonesia Provinsi Aceh bersama Dekranasda Aceh pada 20 Juli 2024. Peresmian ini merupakan bagian dari program sosial Bank Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sektor UMKM di Aceh.

Reporter: Rezi

Donor Rutin Tahap Pertama 2025, DPKA Sumbang 23 Kantong Darah

0
Donor Rutin Tahap Pertama 2025, DPKA Sumbang 23 Kantong Darah. (Foto: Arpus)

NUKILAN.id | BANDA ACEH – Aparatur Sipil Negara di Jajaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh sukses menyumbangkan 23 kantong darah, pada Donor Darah Rutin Pemerintah Aceh tahap pertama tahun 2025. Donor berlangsung di halaman DPKA, Jum’at (7/2/2025).

Sekretaris DPKA Zulkifli, yang hari ini turut berdonor menjelaskan, jajaran DPKA akan terus mendukung kegiatan sosial Pemerintah Aceh ini demi menjaga ketersediaan stok darah di Unit Transfusi Darah PMI Kota Banda Aceh.

“Sesuai instruksi Pak Edi Yandra selaku Kepala DPKA, jajaran ASN baik para PNS, PPPK maupun tenaga kontrak, berkomitmen terus mendukung program donor darah massal Pemerintah Aceh. Alhamdulillah, hari ini kami berhasil menyumbangkan 23 kantong darah,” ujar Zulkifli.

Sekdis menambahkan, DPKA siap menyukseskan kegiatan sosial massal yang dilakukan rutin setiap tahun ini dan siap menyumbangkan lebih banyak lagi darah di tahap selanjutnya.

“Target awal kami 52 kantong, namun 29 calon pendonor kami tidak bisa berdonor karena sejumlah alasan. Ada yang kurang darah, kurang hb serta beberapa alasan medis lainnya. Insya Allah, tahap selanjutnya kami akan menyumbangkan lebih banyak lagi,” pungkas Zulkifli.

Editor: Akil

Pj Gubernur Aceh Resmikan Galeri Seuramoe Dekranasda, Dorong UMKM dan Digitalisasi

0
Pj Gubernur Aceh Resmikan Galeri Seuramoe Dekranasda. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Penjabat Gubernur Aceh, Dr. H. Safrizal ZA., M.Si., meresmikan Galeri Seuramoe Dekranasda Aceh di Kompleks Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, pada Kamis (6/2/2025). Peresmian ini menjadi tonggak baru dalam pengembangan industri kerajinan lokal serta upaya mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Aceh agar lebih maju dan berdaya saing.

Dalam sambutannya, Safrizal menekankan pentingnya pengelolaan galeri agar semakin menarik bagi wisatawan dan pembeli. Ia mengungkapkan, perbaikan interior terus dilakukan untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman dan estetis.

“Kita memulai (renovasi) dari awal, lalu terus menyempurnakan. Ini sudah ketiga kalinya saya berkunjung, artinya saya memberi atensi. Interiornya terus kita benahi agar tampilannya semakin menarik, sehingga orang mau datang dan menghabiskan uangnya di sini,” ujarnya.

Safrizal menyoroti peran besar UMKM dalam perekonomian nasional. Menurutnya, sektor ini berkontribusi sekitar 61–63 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi, terutama dalam menghadapi krisis.

“Indonesia dibangun di atas UMKM. Saat krisis ekonomi, sektor inilah yang tetap bertahan. Jika UMKM berjalan, maka tidak ada pengangguran. Sumber daya manusia Aceh ini hebat, kita hanya perlu memberikan kesempatan dan peluang,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya Aceh beralih dari ketergantungan terhadap ekspor sumber daya alam menuju penguatan industri kreatif dan intelektual.

“Singapura mengekspor produk kerajinan hingga 41 persen, Thailand 29 persen, sementara Indonesia baru mencapai 15,7 persen. Artinya, kita masih harus bekerja keras,” kata Safrizal.

Sebagai upaya konkret mendukung UMKM, Safrizal mengusulkan kebijakan penggunaan produk lokal di kalangan pegawai pemerintah.

“Setiap Kamis, pegawai kita bisa diwajibkan memakai batik khas Aceh. Ada sekitar 20 ribu pegawai, jika mereka menggunakan batik Aceh, maka UMKM akan terus berproduksi,” ujarnya.

Selain mengembangkan galeri fisik, Safrizal juga bercita-cita agar Dekranasda Aceh berkembang menjadi marketplace digital yang mempertemukan pengrajin dengan pembeli.

“Kita harus membuat Dekranasda menjadi platform digital yang mempertemukan pengrajin dengan pembeli. Tidak semua orang bisa datang ke sini, tapi mereka tetap bisa membeli produk kerajinan Aceh secara online,” katanya.

Sebagai langkah strategis lainnya, Safrizal menginstruksikan agar produk Dekranasda dijadikan sebagai buah tangan resmi bagi tamu-tamu pemerintah. “Dengan cara ini, uang akan terus berputar di masyarakat dan para pengrajin bisa merasakan dampaknya,” ujarnya.

Peran Dekranasda Aceh

Penjabat Ketua Dekranasda Aceh, Hj. Safriati, dalam kesempatan yang sama mengisahkan perjalanan panjang Dekranasda Aceh. Sejak berkantor di Peunayong pada tahun 1990 dan hanya menampilkan kerajinan bordir, kini Dekranasda telah berkembang pesat. Gedung baru yang diresmikan pada 2004 di Taman Ratu Safiatuddin awalnya hanya berfungsi sebagai showroom tanpa optimalisasi penuh.

“Kami berinisiatif membuat galeri ini sebagai cikal bakal galeri yang lebih besar untuk Aceh. Walaupun masih jauh dari sempurna, ini adalah langkah awal. Produk dari 23 kabupaten/kota di Aceh kini mulai hadir di sini, mulai dari tikar hingga kursi enceng gondok,” ujar Safriati.

Ia berharap galeri ini terus berkembang dengan dukungan pemerintah dan berbagai pihak. Untuk memperluas jangkauan, ia mengusulkan agar produk kerajinan Aceh tersedia di berbagai tempat strategis.

“Kami ingin galeri ini tidak hanya ada di sini, tapi juga di bandara, pusat perbelanjaan besar, bahkan hotel-hotel. Bisa saja ada aturan yang mewajibkan hotel dan rumah makan di Aceh menggunakan taplak meja dan runner buatan pengrajin lokal,” katanya.

Saat ini, Dekranasda Aceh memiliki dua unit usaha utama, yakni rumah batik dan galeri. Ia pun mengajak dinas pemerintahan untuk mulai memesan batik dari Dekranasda sebagai bentuk dukungan terhadap pengrajin lokal.

“Belanja di sini berarti ikut membesarkan pengrajin Aceh,” ujar Safriati.

Acara peresmian ini turut dihadiri oleh istri Gubernur Aceh terpilih, Marlina Usman, Kepala Bank Aceh Syariah, serta Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh. Dalam kesempatan tersebut, Safrizal juga meminta pihak perbankan untuk mendukung pengembangan Dekranasda melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Dengan hadirnya Galeri Seuramoe Dekranasda, diharapkan industri kerajinan Aceh semakin berkembang dan memiliki daya saing lebih tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Editor: Akil

Efisiensi Anggaran, Kemenag Aceh Besar Dorong ASN Lebih Inovatif

0
Efisiensi Anggaran, Kemenag Aceh Besar Dorong ASN Lebih Inovatif. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Jantho – Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Aceh Besar menegaskan bahwa efisiensi anggaran yang diterapkan secara nasional tidak boleh menjadi penghalang dalam menjalankan program kerja. Sebaliknya, kondisi ini harus menjadi pemicu bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyukseskan berbagai program.

Kepala Kemenag Aceh Besar, Saifuddin, menekankan bahwa meskipun anggaran mengalami pemangkasan, program-program yang telah dirancang tetap harus berjalan demi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Meskipun kita dihadapkan pada efisiensi anggaran, bukan berarti program-program harus terhenti, ujar Saifuddin di Aceh Besar, Kamis (6/2/2025).

Diketahui, Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja Kementerian/Lembaga. Dalam kebijakan tersebut, Kementerian Agama diminta untuk melakukan efisiensi anggaran hingga Rp14,2 triliun.

Menghadapi kondisi ini, Kemenag Aceh Besar telah menggelar rapat koordinasi guna menyusun strategi pengelolaan anggaran yang lebih efektif. Fokus utama adalah memastikan peningkatan kualitas layanan pendidikan dan keagamaan tetap berjalan optimal meskipun dengan dana yang terbatas.

Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari kita. Karena itu, tetap harus bekerja dengan profesionalisme, integritas, dan semangat pengabdian yang tinggi, tegas Saifuddin.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pendekatan baru dalam melaksanakan program kerja di tengah keterbatasan anggaran. Menurutnya, situasi ini harus menjadi tantangan bagi seluruh pegawai untuk berpikir lebih inovatif dan mencari solusi agar program tetap berjalan dengan baik.

Selain itu, Saifuddin mengajak para ASN untuk memanfaatkan teknologi, menjalin kemitraan strategis, serta menerapkan prinsip manajemen yang efisien demi memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap prima.

Saya mengajak kita semua tetap semangat, bekerja dengan cerdas, dan beradaptasi dengan tantangan yang ada demi kemajuan pelayanan keagamaan dan pendidikan di Aceh Besar, tutupnya.

Editor: Akil

Harimau Kembali Teror Aceh Timur, Ternak Warga Jadi Korban

0
Harimau Kembali Teror Aceh Timur, Ternak Warga Jadi Korban. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Idi Rayeuk – Konflik manusia dengan satwa liar kembali terjadi di Kabupaten Aceh Timur. Seekor harimau sumatera diduga memangsa satu ekor sapi milik Irwan (45), warga Desa Julok Rayeuk Selatan, Kecamatan Indra Makmur. Peristiwa ini menambah daftar panjang serangan harimau terhadap hewan ternak dalam dua bulan terakhir.

Kapolsek Indra Makmur, Iptu Muhammad Alfata, mengonfirmasi bahwa sapi tersebut ditemukan dalam keadaan mati di kawasan perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) pada Kamis (6/2/2025).

“Diduga baru saja mati karena masih ada sisa darahnya,” ujar Kapolsek.

Kasus serupa bukan kali pertama terjadi. Dalam dua bulan terakhir, serangan harimau terhadap hewan ternak semakin sering terjadi di pedalaman Aceh Timur. Hingga kini, setidaknya tujuh ekor sapi telah menjadi korban keganasan satwa liar yang dilindungi tersebut. Pihak kepolisian mengimbau warga agar lebih berhati-hati dan menjaga ternaknya di sekitar permukiman untuk menghindari kejadian serupa.

“Kami imbau, sebelum harimaunya tertangkap, lebih baik sapi dipelihara di dekat rumah dulu agar kasus serupa tidak terulang lagi,” tambahnya.

Sementara itu, upaya menangkap harimau yang telah menebar teror ini belum membuahkan hasil. Kepala Bidang Konservasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, Kamarudzaman, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memasang dua perangkap di Kecamatan Indra Makmur dan Kecamatan Nurussalam sejak Jumat (31/1/2025), namun satwa buas tersebut belum terjebak.

“Belum masuk ke perangkap harimaunya. Sudah dua kali kami coba,” ungkapnya.

BKSDA Aceh terus berupaya mengatasi konflik ini dengan berbagai langkah, termasuk meminta dukungan warga untuk menjaga kelestarian hutan.

“Dalam jangka panjang, kami harap Pemerintah Kabupaten Aceh Timur bisa membuat program perlindungan kawasan hutan,” ujarnya.

Konflik manusia dan harimau di Aceh Timur semakin mengkhawatirkan. Alih fungsi hutan menjadi perkebunan membuat habitat harimau semakin menyempit, memaksa mereka turun ke wilayah penduduk untuk mencari makan. Jika tidak ada langkah konkret dalam menjaga ekosistem hutan, serangan harimau terhadap hewan ternak, bahkan manusia, bisa saja semakin meningkat.

Editor: Akil

Merayakan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Warisan Sastra yang Tak Lekang oleh Waktu

0
Pramoedya Ananta Toer difoto pada Mei 1985. (Foto: H.C. Beynon/Creative Commons)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Bulan Februari 2025 menjadi momen bersejarah bagi dunia sastra Indonesia. Tahun ini menandai 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer, sosok sastrawan besar yang telah mengukir jejak penting dalam sejarah literasi tanah air. Dikenal sebagai penulis yang tajam dalam mengkritisi kondisi sosial dan politik, karya-karya Pramoedya tetap relevan dan menjadi rujukan hingga saat ini.

Jejak Pramoedya: Dari Blora ke Dunia

Dilansir Nukilan.id dari berbagai Sumber, Pramoedya lahir di Blora pada 6 Februari 1925, merupakan anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sementara ibunya seorang penjual nasi. Nama aslinya, Pramoedya Ananta Mastoer, kemudian ia ubah dengan menghilangkan awalan Jawa “Mas”, karena dianggap terlalu aristokratik, dan menggunakan “Toer” sebagai nama keluarganya. Keputusan ini tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita dari Blora.

Karya-Karya yang Tak Pernah Padam

Sejak lama, karya-karya Pramoedya menjadi sorotan, bahkan beberapa di antaranya sempat dilarang beredar pada masa Orde Baru. Namun, alih-alih meredup, larangan tersebut justru menciptakan fenomena unik di dunia literasi Indonesia. Karya-karyanya semakin diburu oleh kolektor dan pecinta sastra.

Sebagai salah satu sastrawan terbesar Indonesia, Pramoedya telah menulis lebih dari 50 karya yang kini menjadi bacaan wajib bagi pencinta sastra. Beberapa judul paling populer, seperti Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah, masih banyak dibaca dan dikaji hingga saat ini.

Harga Buku yang Melonjak Tajam

Di tengah peringatan satu abad Pramoedya, harga buku-buku karyanya menunjukkan variasi yang menarik. Berdasarkan data dari berbagai platform e-commerce, harga buku Pramoedya berkisar dari Rp 50.000 hingga lebih dari Rp 100.000.000. Buku dalam edisi cetak ulang dapat ditemukan dengan harga yang lebih terjangkau di platform seperti Shopee dan Blibli, sementara edisi langka dibanderol dengan harga selangit.

Sebagai contoh, buku Di Tepi Kali Bekasi edisi ketiga saat ini dihargai hingga Rp 30.000.000. Sementara itu, paket buku Pramoedya di toko daring seperti Blibli rata-rata dijual di kisaran Rp 200.000 hingga Rp 250.000. Kolektor yang mengincar edisi pertama atau buku dengan tanda tangan asli Pramoedya harus merogoh kocek lebih dalam.

Faktor yang Mempengaruhi Nilai Buku Pramoedya

Beberapa faktor utama yang mempengaruhi harga buku Pramoedya adalah judul, edisi, kondisi fisik buku, serta tingkat kelangkaannya. Edisi pertama dari karyanya dianggap sebagai artefak sejarah dan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan edisi-edisi terbaru. Kondisi fisik buku juga berperan besar dalam menentukan harga, di mana buku yang masih terawat baik tentu memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan yang sudah usang.

Selain itu, status “buku terlarang” yang sempat disematkan pada beberapa karyanya justru meningkatkan daya tariknya di kalangan kolektor. Tak heran jika beberapa buku Pramoedya menjadi buruan yang semakin mahal seiring waktu.

Sebuah Refleksi di Seabad Pramoedya

Perayaan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar mengenang sosoknya, tetapi juga menjadi momen refleksi terhadap kontribusi besarnya dalam dunia sastra. Karya-karyanya yang berani dan kritis tetap relevan hingga hari ini, menegaskan bahwa pemikiran dan narasi sejarah yang ia torehkan masih hidup di benak para pembacanya.

Penting bagi kita untuk terus menjaga dan mengapresiasi warisan sastra ini. Dengan mengetahui nilai dan sejarah di balik buku-buku Pramoedya, kita bisa lebih memahami betapa besar pengaruhnya terhadap literasi dan sejarah Indonesia. Bagi yang ingin memiliki atau sekadar membaca kembali karya-karyanya, disarankan untuk mengecek harga terkini di berbagai platform penjualan buku daring. (XRQ)

Reporter: Akil

IKAMBA Siap Gelar Mubes 2025, Regenerasi Kepemimpinan Mahasiswa Banda Aceh

0
Ketua Panitia Mubes IKAMBA 2025, Firsa Nailul Azzurakie. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Ikatan Mahasiswa Kota Banda Aceh (IKAMBA) bersiap menggelar Musyawarah Besar (Mubes) 2025 sebagai ajang penting dalam regenerasi kepemimpinan organisasi. Acara ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 15 Februari 2025, dengan agenda utama memilih kepengurusan baru serta merumuskan arah strategis organisasi ke depan.

Sebagai wadah bagi mahasiswa asal Kota Banda Aceh yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, IKAMBA terus berupaya mempererat silaturahmi, meningkatkan kapasitas intelektual, serta berkontribusi dalam pembangunan daerah. Mubes kali ini menjadi momentum bagi mahasiswa untuk menentukan arah organisasi yang lebih progresif dan adaptif terhadap tantangan zaman.

Ketua Panitia Mubes IKAMBA 2025, Firsa Nailul Azzurakie, memastikan persiapan telah dilakukan secara matang demi kelancaran acara.

“Kami berharap Mubes ini dapat menjadi ajang musyawarah yang produktif dalam menentukan pemimpin baru serta merancang program kerja yang bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya.

Mubes IKAMBA 2025 tidak hanya menjadi ajang pemilihan kepengurusan baru, tetapi juga kesempatan bagi mahasiswa asal Banda Aceh untuk menyuarakan aspirasi dan gagasan demi kemajuan organisasi. Para mahasiswa di berbagai kampus diharapkan berpartisipasi aktif agar proses regenerasi kepemimpinan berjalan demokratis dan melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang memiliki visi kuat untuk membawa IKAMBA ke arah yang lebih baik.

Pakar Sebut Pemberian IUP Bukan Solusi untuk Kemandirian Finansial Kampus

0
Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia, Nicholas Siagian. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Jakarta – Wacana perguruan tinggi mengelola izin usaha pertambangan (IUP) kembali mencuat setelah revisi ketiga Undang-Undang Mineral dan Batubara mengizinkan kampus terlibat dalam sektor pertambangan. Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga Anggota Komisi X DPR, Muhammad Haris, menilai kebijakan ini dapat menjadi peluang bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan pendapatan.

Menurut Haris, pemberian konsesi tambang kepada perguruan tinggi berpotensi meningkatkan kemandirian finansial kampus dan membantu mengatasi kendala biaya pendidikan tinggi. Ia berpendapat bahwa pendapatan dari sektor pertambangan bisa memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan.

“Ada kesempatan bagi masyarakat karena kampus memiliki dana yang besar. Kalau sumber-sumber pendanaan ini diperbanyak, akan semakin banyak pula mobilitas vertikal yang terjadi pada anak bangsa,” ujar Haris seperti dikutip dari Tempo. Ia juga mengingatkan agar ekspektasi positif ini tidak berbalik menjadi bumerang.

Namun, gagasan ini mendapat tanggapan kritis dari berbagai pihak. Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia, Nicholas Siagian, menilai bahwa kemandirian finansial perguruan tinggi seharusnya tidak bergantung pada sektor pertambangan, melainkan pada tata kelola anggaran pendidikan yang lebih baik.

“Jika persoalannya sekadar anggaran demi kemandirian finansial perguruan tinggi, seharusnya bisa dilakukan pembenahan terhadap tata kelola anggaran pendidikan,” kata Nicholas saat dihubungi oleh Nukilan.id pada Kamis (6/2/2025).

Ia juga menyoroti amanat konstitusi yang mengatur alokasi anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD. Menurutnya, jika anggaran tersebut dikelola dengan benar, maka pendanaan pendidikan seharusnya tidak menjadi persoalan.

“Kurang baik apalagi Konstitusi yang dibuat pendahulu negara ini memberikan prioritas anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional?” ujarnya.

Nicholas juga mempertanyakan apakah para pemangku kebijakan telah menjalankan kewenangannya dengan sepenuh hati dalam mengelola pendidikan nasional. Ia mempertanyakan apakah para pelaksana kebijakan di Indonesia sudah sepenuh hati memikirkan kepentingan rakyat.

“Artinya, persoalannya ada pada mereka yang menjalankan kewenangan dalam mengelola pendidikan, mereka yang mengelola anggaran pendidikan, mereka yang mengurusi teknis pendidikan, hingga mereka yang terlibat secara teknis mempengaruhi perencanaan hingga pelaksanaan kebijakan di negeri ini. Sudahkah benar-benar sepenuh hati memikirkan kepentingan rakyat?” kata Nicholas.

Wacana ini memicu perdebatan luas di kalangan akademisi, pemerhati kebijakan publik, dan aktivis pendidikan. Di satu sisi, pendukung revisi UU Minerba melihatnya sebagai peluang bagi kampus untuk mandiri secara finansial. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa pengelolaan tambang oleh perguruan tinggi bisa menimbulkan dampak lingkungan dan benturan kepentingan akademik dengan industri ekstraktif. (XRQ)

Reporter: AKil

Penyuluh Agama Aceh Bedah Buku 1001 Pesan Abimu

0
Pelaksanaan launching dan bedah buku “1001 Pesan Abimu” karya Abu Teuming, di Aula Balai Bahasa Provinsi Aceh. (Foto: Humas Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Aceh menggelar launching dan bedah buku 1001 Pesan Abimu, karya Abu Teuming, di Aula Balai Bahasa Provinsi Aceh (BBPA), Rabu (5/2). Acara ini menghadirkan pembahas utama, yakni Nominasi Penyuluh Agama Islam Award 2024, Muhammad, Sekretaris FKPAI Aceh Eva Khairani, serta Kabid Moderasi Beragama FKPAI Aceh, Dzulhijmi.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Umar Solikhan, mengapresiasi keterlibatan FKPAI Aceh dalam upaya meningkatkan literasi, mengingat tingkat literasi di Aceh masih tergolong rendah.

“Kami senang, para penyuluh agama berkunjung dan melakukan kegiatan di kantor kami. Harapannya penyuluh agama bisa meningkat minat literasi dan ikut terlibat memperkaya khazanah keilmuan melalui buku,” ujar Umar.

Sementara itu, Abu Teuming, yang juga Ketua FKPAI Aceh, menjelaskan bahwa buku 1001 Pesan Abimu telah terbit sejak akhir Desember 2024. Awalnya, peluncuran buku ini direncanakan bersamaan dengan peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-79 Kementerian Agama RI pada 3 Januari 2025. Namun, karena berbagai rangkaian kegiatan sebelum dan sesudah HAB, peluncuran akhirnya dijadwalkan ulang.

“Karena banyaknya rangkaian sebelum dan sesudah HAB, maka diundur. Alhamdulillah hari ini bisa dilaunching yang didukung Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Balai Bahasa Provinsi Aceh,” kata Abu Teuming yang juga Ketua Departemen Hubungan Lintas Sektoral dan Informasi Publik Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Aceh.

Buku 1001 Pesan Abimu juga mendapat sambutan dari Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Kemenag RI periode 2022-2024, Amirulloh, serta editornya yang juga Bendahara Umum PP IPARI, Ida Farida.

Peluncuran dan bedah buku ini menjadi momentum penting bagi para penyuluh agama untuk lebih aktif dalam dunia literasi dan dakwah berbasis tulisan. Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan literasi keagamaan di Aceh semakin berkembang dan dapat menjangkau lebih banyak kalangan.

Editor: Akil

Mahasiswi Aceh Lulus Tanpa Skripsi, Publikasi di Jurnal Scopus Jadi Kunci

0
Siti Dian Natasya Solin, mahasiswi Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh. (Foto: Dok. UIN Ar-Raniry Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Siti Dian Natasya Solin, mahasiswi Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, berhasil meraih gelar sarjana tanpa harus menyusun skripsi. Prestasi luar biasa ini diraihnya setelah berhasil mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal Scopus.

“Tanpa bimbingan dari dosen pembimbing saya, Prof Mursyid Djawas dan Aulil Amri, pencapaian ini tidak akan mungkin terwujud,” ujar Dian dalam keterangannya, Kamis (6/2/2025).

Dian, yang lahir di Subulussalam pada 7 Februari 2004, menyelesaikan masa studinya dalam tujuh semester. Tugas akhirnya yang terbit di jurnal El-Usrah pada Juni 2024 membawanya menjadi salah satu mahasiswa yang menempuh jalur publikasi untuk menyelesaikan perkuliahan lebih cepat. Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,89, ia resmi menyandang gelar sarjana dengan predikat cum laude setelah mengikuti Yudisium Gelombang I Tahun 2025 Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry pada Rabu (5/2/2025).

Mahasiswi Berprestasi dengan Segudang Pengalaman

Tak hanya unggul secara akademik, Dian juga dikenal sebagai mahasiswi aktif yang terlibat dalam berbagai kegiatan. Pada 2023, ia mengikuti program magang serta Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Thailand Selatan. Pada tahun yang sama, ia meraih penghargaan Mahasiswa Berprestasi dari Islamic Trust Fund (ITF) UIN Ar-Raniry.

Di lingkungan kampus, Dian aktif dalam organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Bendahara Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga (2022-2024), Wakil Kesekretariatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci UIN Ar-Raniry (2022-2024), serta anggota bidang pembinaan dan pelatihan UKM Catur pada 2024.

Tak hanya berprestasi di bidang akademik dan organisasi, Dian juga mencatatkan prestasi di dunia olahraga. Ia meraih Medali Emas dalam Tapak Suci Championship 2 se-Sumatra pada 2022 serta Medali Perak dalam Tapak Suci Championship 3 pada 2024.

“Pengalaman di organisasi dan olahraga membantu saya mengasah kepemimpinan, manajemen waktu, serta kemampuan komunikasi yang sangat berguna di dunia profesional,” tuturnya.

Kebijakan Baru Kampus

Keberhasilan Dian tidak lepas dari kebijakan baru UIN Ar-Raniry yang memberikan alternatif penyelesaian tugas akhir selain skripsi. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Prof Kamaruzzaman, menegaskan bahwa kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Rektor Nomor 200 Tahun 2024.

“Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Rektor Nomor 200 Tahun 2024. Mahasiswa diberikan pilihan untuk menyelesaikan tugas akhir dalam bentuk publikasi ilmiah, prototipe, atau proyek, sebagai alternatif dari skripsi,” ujar Kamaruzzaman.

Dengan pencapaian ini, Dian tidak hanya menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain, tetapi juga membuktikan bahwa jalur akademik bisa lebih fleksibel dengan tetap mempertahankan standar kualitas yang tinggi.

Editor: AKil