Beranda blog Halaman 685

Pemerintah Aceh Targetkan Eliminasi Pasung Tuntas Tahun Ini

0
Ilustrasi ODGJ. (Foto: radarbojonegoro)

NUKILAN.id | Meulaboh – Pemerintah Aceh menargetkan tahun 2025 sebagai batas akhir praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Program ini menjadi prioritas untuk memastikan seluruh ODGJ mendapatkan perawatan medis yang layak tanpa harus mengalami pemasungan.

“Target kami adalah eliminasi pasung di Aceh selesai tahun ini. Kami siap membantu bupati dan wali kota untuk menjemput dan mengobati mereka,” ujar Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, Hanif, dalam keterangannya di Aceh Barat, Minggu (9/2/2025).

Berdasarkan data RSJ Aceh, saat ini terdapat sekitar 21.000 ODGJ di wilayah tersebut, dengan sekitar 50 persen di antaranya mengalami gangguan jiwa berat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 114 orang masih berada dalam kondisi pasung.

Hanif menekankan bahwa keterlibatan keluarga dan masyarakat sangat penting dalam mendukung pemulihan pasien. Selain memastikan mereka mendapatkan pengobatan, upaya rehabilitasi juga perlu diperkuat agar ODGJ dapat kembali berbaur dengan masyarakat.

“Rumah Sakit Jiwa Aceh memiliki fasilitas rehabilitasi di kawasan Kuta Malaka, Aceh Besar,” katanya.

Di fasilitas tersebut, pasien yang telah pulih secara klinis akan mendapatkan pelatihan keterampilan guna membantu mereka menjadi lebih mandiri setelah kembali ke lingkungan sosialnya.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Safrizal, telah meluncurkan program Stop Pasung sebagai bagian dari upaya mewujudkan Aceh bebas pasung.

“Pasung bukanlah solusi, justru menambah berat penyakit mereka. Kita harus berpartisipasi dalam menghentikan praktik ini demi kemanusiaan,” tegasnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap ODGJ yang sering kali mengalami stigma dan keterasingan sosial. Safrizal meminta para bupati dan wali kota di Aceh segera menyerahkan data ODGJ yang masih dipasung agar mereka bisa segera mendapatkan penanganan medis yang layak.

Editor: Akil

Bougainville, Negara Baru yang Akan Menjadi Tetangga Indonesia

0
Cuplikan peta yang menunjukkan wilayah negara Bougainville (Foto: online.seterra.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Bougainville, sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Solomon, kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi negara baru yang akan menjadi tetangga Indonesia di masa depan.

Dilansir Nukilan.id dari Lowy Institute, pulau yang sebelumnya merupakan bagian dari Papua Nugini ini memutuskan untuk memilih merdeka melalui referendum yang digelar pada tahun 2019. Hasilnya, hampir seluruh penduduk Bougainville, yaitu 98,31%, mendukung kemerdekaan dan memilih untuk memisahkan diri dari Papua Nugini.

Proses menuju kemerdekaan Bougainville telah menemui titik terang, dengan pemerintah Papua Nugini dan Bougainville mencapai kesepakatan mengenai penyelesaian politik untuk mewujudkan aspirasi kemerdekaan tersebut. Menurut perjanjian yang tercapai, Bougainville diprediksi akan merdeka pada tahun 2027.

Keinginan Bougainville untuk merdeka tidak lepas dari sejarah panjang konflik yang terjadi di pulau ini. Selama berpuluh-puluh tahun, Bougainville dilanda ketegangan dan perselisihan yang serius. Salah satu faktor utama yang memicu ketidakpuasan penduduk adalah masalah pengelolaan tambang tembaga di daerah Panguna. Penduduk merasa bahwa mereka tidak mendapat bagian yang adil dari hasil tambang tersebut, yang menjadi sumber daya utama daerah itu.

Selain itu, sengketa tanah dan kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan semakin memperburuk hubungan antara penduduk Bougainville dan pemerintah Papua Nugini. Ketidakpuasan yang terus berkembang ini akhirnya menjadi salah satu alasan kuat bagi Bougainville untuk memilih kemerdekaan dan mencari solusi yang lebih baik bagi masa depannya.

Dengan kemerdekaan yang semakin dekat, Bougainville berharap dapat menciptakan kestabilan politik dan ekonomi yang lebih baik bagi penduduknya, sekaligus membangun hubungan yang lebih erat dengan negara-negara tetangga, termasuk Indonesia. (XRQ)

Reporter: Akil

Batu Raksasa Hantam Lima Rumah Warga di Aceh Selatan

0
Batu Raksasa Hantam Lima Rumah Warga di Aceh Selatan. (Foto: ANTARANNEWS)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Aceh Selatan pada Minggu (9/2/2025) pagi menyebabkan batu raksasa longsor dari perbukitan dan menghantam lima rumah warga di Gampong Drien Jalo, Kecamatan Meukek. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari AntaranNews, dua rumah mengalami kerusakan parah, sementara tiga lainnya rusak ringan. Pasca kejadian, tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI-Polri, serta warga setempat langsung turun ke lokasi untuk melakukan asesmen dan bantuan darurat.

“Akibat hujan lebat, batu besar di atas gunung runtuh, lalu menghantam lima rumah penduduk Gampong Drien Jalo, Meukek,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Aceh Selatan, H. Zainal ZA, SE, M.Si.

BPBD bersama dinas terkait telah melakukan pendataan dan pembersihan material longsor. Selain itu, langkah evakuasi sementara bagi warga terdampak juga sedang dipersiapkan guna mengantisipasi kemungkinan longsor susulan.

“Ini semata-mata untuk menghindari kemungkinan bahaya, karena dikhawatirkan batu-batu di atas gunung akan jatuh lagi,” kata Reza, salah satu perangkat gampong setempat.

Salah satu korban, Mahdi Is, mengisahkan momen menegangkan saat batu raksasa itu menerjang rumahnya.

“Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh benda berguling diiringi terjangan kerikil ke dinding dan atap. Saya menyuruh anak-anak dan keluarga menghindar dan keluar rumah. Selang beberapa detik, batu raksasa itu menghantam bagian dapur rumah dengan suara menggelegar,” tuturnya.

Saat kejadian, Mahdi dan keluarganya tengah memasak untuk kenduri anak yatim. Beruntung, mereka sempat menyelamatkan diri sebelum batu besar menghancurkan dapur rumahnya.

Editor: Akil

Kaya Keberagaman Etnis, Berikut Daftar Suku Bangsa di Aceh

0
Potret ritual adat "Pemanan" di Alas. Alas merupakan salah satu suku bangsa di Provinsi Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Provinsi Aceh, yang terletak di ujung barat Indonesia, memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya yang luar biasa. Selain berbatasan dengan Sumatera Utara, letaknya yang strategis menjadikannya bertetangga dekat dengan India, Myanmar, Malaysia, dan Thailand melalui perairan. Dengan populasi mencapai 5,3 juta jiwa pada 2019, Aceh terdiri atas 23 kota dan kabupaten, serta dikenal dengan status istimewanya berdasarkan UU No. 44 Tahun 1999.

Namun, keunikan Aceh tidak hanya terletak pada status khususnya. Keberagaman etnis dan suku yang mendiami wilayah ini turut memperkaya khazanah budaya lokal. Sejarah mencatat bahwa penduduk Aceh berasal dari perpaduan berbagai bangsa yang telah bermigrasi sejak berabad-abad lalu.

Jalur Perdagangan yang Memengaruhi Identitas Aceh

Interaksi dengan berbagai bangsa telah membentuk karakter masyarakat Aceh. Dilansir Nukilan.id dari Jurnal The History of Aceh, leluhur mereka diyakini berasal dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cochin Cina, hingga Kamboja. Selain itu, pengaruh kuat dari Arab dan India juga meninggalkan jejak mendalam dalam budaya Aceh.

Bangsa Arab, khususnya dari Hadramaut (Yaman), datang sebagai ulama dan pedagang, membawa marga-marga khas seperti Al Aydrus, Al Habsyi, Al Attas, Al Kathiri, Badjubier, Sungkar, dan Bawazier. Seiring waktu, mereka berasimilasi dengan masyarakat setempat dan banyak yang tak lagi menggunakan nama marga mereka.

Sementara itu, kehadiran bangsa India, terutama dari Gujarat dan Tamil, turut memperkaya warisan budaya Aceh. Hal ini terlihat dari ciri fisik beberapa masyarakatnya hingga pengaruh kuliner seperti kari, serta nama-nama desa yang memiliki akar bahasa India, seperti Indra Puri.

Tak hanya Arab dan India, bangsa Tiongkok juga memiliki hubungan erat dengan Aceh. Pelaut Tiongkok, termasuk yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho, menjadikan Aceh sebagai jalur perdagangan utama. Salah satu bukti peninggalannya adalah Lonceng Cakra Donya yang hingga kini masih tersimpan di Banda Aceh. Sejak era itu, Aceh menjadi pelabuhan transit penting sebelum pelaut Tiongkok melanjutkan perjalanan ke Eropa.

Pengaruh Persia (Iran/Afghanistan) dan Turki pun turut memperkaya identitas budaya Aceh. Ulama, ahli senjata, hingga tentara dari wilayah tersebut pernah datang ke Aceh. Bahkan, nama “Banda” dalam Banda Aceh berasal dari bahasa Persia yang berarti “pelabuhan”.

Di sisi lain, ada pula keturunan bangsa Portugis yang menetap di Kuala Daya, Lam No, pesisir barat Aceh. Mereka adalah keturunan pelaut Portugis di bawah Kapten Pinto yang pernah berdagang di wilayah itu pada 1492-1511. Hingga kini, keturunan mereka masih dapat dikenali melalui ciri fisik khas Eropa.

Sejarah mencatat bahwa tokoh dunia seperti Marco Polo, Ibnu Battuta, dan Kubilai Khan pernah singgah di Aceh, membuktikan bahwa wilayah ini telah lama menjadi pusat interaksi budaya dan perdagangan global.

Keberagaman Suku Asli Aceh

Selain pengaruh dari bangsa-bangsa luar, Aceh juga memiliki suku-suku asli yang telah lama mendiami wilayah ini. Setidaknya ada 13 suku asli di Aceh, yaitu:

  • Suku Aceh
  • Suku Tamiang
  • Suku Gayo
  • Suku Alas
  • Suku Kluet
  • Suku Julu
  • Suku Pakpak
  • Suku Aneuk Jamee
  • Suku Sigulai
  • Suku Lekon
  • Suku Devayan
  • Suku Haloban
  • Suku Nias

Keberagaman etnis dan sejarah panjang interaksi antarbangsa membuat Aceh menjadi salah satu provinsi dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Tradisi dan warisan budaya yang terus lestari menjadikan Aceh memiliki identitas unik yang tetap bertahan hingga kini. (XRQ)

Reporter: Akil

BMKG: Wilayah Tengah dan Barat Aceh Berpotensi Diguyur Hujan

0
Ilustrasi Hujan. (foto: Shutterstock)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Blang Bintang, Aceh Besar, memperkirakan cuaca di Aceh pada Minggu (9/2/2025) akan bervariasi, mulai dari cerah berawan hingga hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Potensi hujan ini juga disertai kilat, petir, dan angin kencang di beberapa wilayah.

Prakirawan BMKG Aceh, Betsi, menyampaikan bahwa hujan berpotensi terjadi di sejumlah daerah.

“Wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat berpeluang terjadi di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Gayo Lues, serta Aceh Barat,” ujarnya, dikutip dari RRI, Minggu (9/2/2025).

Sementara itu, cuaca di Banda Aceh, Sabang, dan Aceh Besar diperkirakan lebih bervariasi, dengan kondisi cerah berawan hingga kemungkinan hujan ringan.

“Untuk Banda Aceh hari ini diprakirakan dalam kondisi cerah berawan. Untuk Aceh Besar cerah berawan hingga hujan ringan,” tambahnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Kondisi hujan dapat menyebabkan jarak pandang berkurang dan jalanan menjadi licin, sehingga pengendara diharapkan lebih berhati-hati. Selain itu, angin kencang juga berpotensi menyebabkan pohon atau tiang tumbang.

“Kami juga menghimbau kepada masyarakat, jika terjadi angin kencang agar menghindari pohon atau tiang yang rawan tumbang serta agar selalu sedia payung atau jas hujan saat bepergian,” pungkas Betsi.

Editor: Akil

Akhir Pekan, Jalan Lhoknga Terpantau Ramai Lancar

0
Simpang Lampuuk, Kecamatan Lhoknga Terpantau Ramai Lancar. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Arus lalu lintas di Jalan Nasional Banda Aceh-Meulaboh, tepatnya di Kecamatan Lhoknga, terpantau ramai lancar pada Minggu (9/2/2025). Kepadatan terjadi karena banyak warga Banda Aceh yang menghabiskan akhir pekan di kawasan wisata pantai Lhoknga dan sekitarnya.

Berdasarkan pantauan Nukilan.id, volume kendaraan meningkat di beberapa titik, terutama di simpang Lampuuk, Gampong Mon Ikeun. Sekitar pukul 18.00 WIB, arus kendaraan yang kembali dari arah Leupung dan Lampuuk menuju Banda Aceh terpantau ramai, namun tidak menimbulkan kemacetan berarti.

Meski lalu lintas padat, kondisi jalan tetap terkendali. Pengguna jalan diimbau untuk tetap berhati-hati dan mematuhi rambu lalu lintas, terutama saat akhir pekan ketika volume kendaraan meningkat di kawasan wisata. (XRQ)

Reporter: AKil

Kemenag Ajak Kepala Madrasah Majukan Perfilman Dokumenter di Aceh

0
Pembukaan Sosialisasi Aceh Documentary Compertition (ADC) 2025, di Banda Aceh. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si, mengajak kepala sekolah dan madrasah untuk berperan aktif dalam mengembangkan perfilman dokumenter di Aceh. Ajakan ini disampaikannya dalam acara Sosialisasi Aceh Documentary Competition (ADC) 2025 yang digelar di sebuah hotel di Banda Aceh pada Jumat (7/2/2025).

“Semoga ini menghidupkan inspirasi bagi pelaku perfilman, komunitas, organisasi maupun sekolah dan madrasah yang ada di Provinsi Aceh,” ujar Azhari saat membuka acara.

Sosialisasi ini diselenggarakan oleh Yayasan Aceh Dokumenter dan dihadiri oleh 30 kepala Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), serta Madrasah Aliyah dari berbagai daerah di Aceh. Program ini bertujuan untuk memperkenalkan pentingnya dokumenter sebagai media edukatif serta mendorong para pendidik agar lebih kreatif dalam membimbing siswa dalam dunia perfilman.

Azhari berharap sekolah dan madrasah yang terpilih dalam program ini dapat memilih guru pendamping yang memiliki antusiasme tinggi terhadap pembelajaran kreatif dan budaya visual.

“Karena guru-guru inilah yang akan mengumpulkan bibit-bibit kreatif di sekolahnya, dan mengarahkan para siswa untuk mengekspresikan ide dan pandangan melalui film nantinya,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa setiap film dokumenter yang dihasilkan di Aceh harus mengandung pesan moral dan nilai-nilai positif.

“Harus ada pesan dakwah di sana,” ujarnya.

Menurutnya, Aceh Documentary Competition bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan. Lewat program ini, para guru mendapat kesempatan untuk meningkatkan kapasitas mereka sekaligus berkontribusi dalam pengembangan pendidikan kreatif di Aceh.

“Guru tidak hanya memperkuat kapasitas pribadi tetapi juga menciptakan perubahan nyata di sekolah masing-masing,” tuturnya.

Dengan adanya kolaborasi antara komunitas film dan dunia pendidikan, Azhari optimistis bahwa generasi muda Aceh dapat lebih kreatif dan mampu menuangkan ide-ide inovatif dalam bentuk dokumenter yang bermakna.

Editor: Akil

Aceh Penghasil Kakao Penting di Indonesia

0
Pj Bupati Aceh Timur Amrullah M Ridha pada sosialisasi program pendampingan petani kakao di Aceh Timur. (Foto: ANTATA)

NUKILAN.id | Idi Rayeuk – Provinsi Aceh memiliki peran penting dalam industri kakao nasional. Namun, sejumlah tantangan menghambat produktivitasnya. Penjabat (Pj) Bupati Aceh Timur, Amrullah M Ridha, menyoroti kondisi tersebut dalam sosialisasi program pendampingan petani kakao yang digelar di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Aceh Timur, Kamis (6/2/2025).

“Indonesia merupakan produsen utama dalam industri kakao global. Aceh juga berkontribusi dalam produksi kakao,” kata Amrullah di Aceh Timur, Sabtu (8/2/2025).

Meski memiliki potensi besar, produksi kakao di Indonesia justru mengalami penurunan signifikan dalam lima tahun terakhir. Data menunjukkan, volume produksi biji kakao nasional turun dari 270.000 ton pada 2017 menjadi hanya 170.000 ton pada 2021.

Di Aceh sendiri, lebih dari 95.000 hektare lahan kakao sudah berumur tua, yakni lebih dari 20 tahun, sehingga tidak lagi produktif. Sistem budidaya monokultur yang masih diterapkan membuat tanaman lebih rentan terhadap hama dan penyakit.

“Data menunjukkan lebih 95.000 ha areal tanaman kakao Aceh sudah berumur tua 20 tahun yang tidak produktif dengan tingkat produktivitas rendah,” ungkap Amrullah.

Faktor lain yang turut menjadi tantangan adalah rendahnya penerapan praktik budidaya yang baik serta minimnya inovasi dalam mengembangkan tanaman kakao. Selain itu, perubahan iklim turut memperburuk keadaan. Kondisi seperti kekeringan berkepanjangan, curah hujan yang tidak menentu, peningkatan suhu, hingga merebaknya hama dan penyakit, semakin menggerus hasil panen dan mempengaruhi kesejahteraan petani.

“Seiring dengan meningkatnya permintaan global akan kakao berkualitas, pengembangan pertanian kakao berkelanjutan menjadi sangat penting untuk diterapkan oleh petani untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan meningkatkan produktivitas kakao di Aceh,” ujar Amrullah.

Ke depan, program pendampingan bagi petani kakao diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mereka tentang budidaya berkelanjutan serta teknik pengelolaan lahan yang lebih baik. Dengan langkah konkret, Aceh diharapkan bisa tetap mempertahankan perannya sebagai daerah penghasil kakao yang berkontribusi bagi industri nasional maupun global.

Editor: Akil

Pedagang Eceran Elpiji 3 Kg di Aceh Keluhkan Sulitnya Pasokan

0
Tabung gas LPG 3 Kilogram. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Sejumlah pedagang eceran gas elpiji 3 kilogram di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan. Penyebab utama adalah aturan ketat dari pangkalan yang mengharuskan pembeli membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta ketiadaan alokasi khusus bagi pedagang eceran.

Indra, seorang pedagang di Jalan Darussalam, mengungkapkan bahwa mendapatkan elpiji bersubsidi bukan perkara mudah.

“Untuk mendapatkan elpiji itu tidak mudah. Pangkalan tidak memberikan jualan sembarangan, harus bawa Kartu Tanda Penduduk (KTP). Katakanlah saya satu rumah, saya dan istri. Ya dapat dua tabung saja,” ujar Indra, Sabtu (8/2/2025).

Ketiadaan pasokan khusus untuk pedagang eceran membuat mereka hanya bisa menjual dalam jumlah terbatas. Indra misalnya, hanya mampu menjual lima tabung elpiji per hari, dengan keuntungan yang tidak seberapa. Hal ini turut dirasakan oleh Zubir, pedagang lainnya, yang memiliki 20 tabung elpiji yang diperoleh dari pemasok lain.

“Sampai hari ini tidak ada pasokan khusus buat pedagang eceran. Harusnya ini yang dibenahi, berapa tabung kami bisa jual per bulan,” keluh Zubir.

Meski tidak terjadi antrean panjang di Aceh, para pedagang tetap merasa dirugikan karena harga yang mereka jual kerap dianggap terlalu mahal.

“Kesannya kami jual Rp 30.000 per tabung mahal sekali dari harga eceran di pangkalan Rp 18.000. Tapi itu sudah berapa kali ambil untung, kami beli dari pedagang lainnya,” jelasnya.

Zubir berharap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bisa memberikan solusi dengan memastikan adanya kuota tabung elpiji bagi pedagang eceran.

“Sehingga kami untung, rakyat juga untung. Karena harganya seragam,” katanya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut bahwa pemerintah tengah menata ulang distribusi gas elpiji bersubsidi agar harga lebih terjangkau bagi masyarakat. Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah meningkatkan status pedagang eceran menjadi subpangkalan sehingga distribusi gas lebih terkontrol dan harga lebih stabil.

Editor: Akil

Drs. Tgk. H. Abdul Wahab Dahlawy: Sosok Bupati Aceh Utara yang Berkontribusi bagi Pembangunan dan Pendidikan

0
Drs. Tgk. H. Abdul Wahab Dahlawy. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Drs. Tgk. H. Abdul Wahab Dahlawy adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah pemerintahan Aceh Utara. Lahir di Buket Pala, Idi Rayeuk, Aceh Timur, pada tahun 1918, ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang fokus pada pembangunan infrastruktur, industri, dan pendidikan.

Dikutip Nukilan.id dari berbagai sumber, ia pertama kali menjabat sebagai Penjabat Sementara Bupati Aceh Utara pada 1958-1960. Kemudian, ia kembali terpilih sebagai Bupati Aceh Utara periode 1967-1972. Di bawah kepemimpinannya, wilayah Aceh Utara, yang saat ini mencakup Lhokseumawe dan Bireuen, mengalami berbagai kemajuan signifikan.

Perjalanan Pendidikan dan Karier

Abdul Wahab Dahlawy memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, mulai dari Guvernemen-Inlandsche School hingga menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Ia juga pernah menimba ilmu di Madrasah Darus Hadist Az-Zubaidiyah di Delhi, India, dan meraih gelar Master of Islamic Law.

Kariernya di pemerintahan dimulai dari tingkat kewedanaan hingga menjabat sebagai Patih di berbagai kabupaten, seperti Aceh Timur, Nias, Aceh Barat, Aceh Selatan, dan Aceh Utara. Ia juga sempat menjabat sebagai pejabat bupati di beberapa daerah sebelum akhirnya menjadi Bupati Aceh Utara.

Selain itu, ia juga berkontribusi di dunia pendidikan. Abdul Wahab Dahlawy pernah menjadi guru di berbagai madrasah dan sekolah menengah Islam di Aceh serta menjadi dosen Fakultas Dakwah di Banda Aceh.

Kontribusi Besar bagi Aceh Utara

Selama menjabat sebagai Bupati Aceh Utara, Abdul Wahab Dahlawy berperan penting dalam merintis pembangunan perguruan tinggi yang kemudian menjadi cikal bakal Universitas Malikussaleh dan Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe. Upayanya dalam membangun sektor pendidikan ini menjadi salah satu warisan berharga bagi generasi mendatang.

Di bidang infrastruktur dan industri, ia mendorong pembangunan yang mendukung pertumbuhan ekonomi di Aceh Utara. Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai organisasi, termasuk menjadi Ketua Indonesian-Malayan Association di Delhi pada 1939-1941.

Sosok Multitalenta dan Pejuang

Tidak hanya berkarier di pemerintahan dan pendidikan, Abdul Wahab Dahlawy juga seorang veteran yang pernah menjabat sebagai Kepala Distrik Tentara di Langsa pada 1949-1950. Ia juga menjadi Wakil Ketua Perjuangan Rakyat Kewedanan Lhokseumawe serta pernah menjadi anggota DPRK Aceh Timur.

Di masa penjajahan Jepang, ia sempat menjadi petani sambil tetap mengajar. Tak hanya itu, ia juga pernah mengelola tambang minyak di Lhokseumawe.

Warisan dan Inspirasi

Perjalanan hidup Drs. Tgk. H. Abdul Wahab Dahlawy adalah bukti dedikasi seorang pemimpin yang bekerja keras demi kemajuan daerahnya. Kontribusinya di berbagai bidang, terutama pendidikan dan pembangunan, masih dirasakan hingga kini dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil