Beranda blog Halaman 660

Diharapkan Jadi Ladang Pendapatan Apa Daya Coretax Malah Jadi Beban

0
Coretax. (Foto: Konsultan Pajak)

NUKILAN.id | Indepth – Pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar senilai Rp1,3 triliun untuk Coretax, sistem administrasi perpajakan yang digadang-gadang menjadi terobosan dalam reformasi pajak. Sayangnya, harapan tersebut belum terwujud. Sejak diluncurkan pada awal Januari 2025, Coretax justru mengalami berbagai kendala teknis yang menghambat kinerja, alih-alih menjadi solusi peningkatan penerimaan negara.

Sistem Inti Administrasi Perpajakan ini telah diperkenalkan kepada publik melalui kampanye masif dalam beberapa bulan sebelum peluncurannya. Namun, sejak resmi dioperasikan, berbagai masalah teknis langsung bermunculan. Momen peluncuran yang semula disambut dengan optimisme pun berbalik menjadi gelombang kritik dan kekecewaan.

Gangguan pada Coretax yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 31 Desember 2024 telah memicu keprihatinan dari berbagai pihak, termasuk para pakar, Ombudsman, serta anggota DPR. Sistem baru ini menghadapi sejumlah hambatan teknis yang berimbas pada proses pelaporan dan pembayaran pajak, membuat banyak wajib pajak kesulitan dalam menjalankan kewajibannya.

Padahal, konsep di balik Coretax dinilai sangat strategis dan diharapkan mampu menjadi jalur cepat dalam optimalisasi penerimaan pajak. Sebagai bagian dari reformasi perpajakan, sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi administrasi pajak melalui digitalisasi.

Dilansir Nukilan.id dari situs resmi Universitas Gadjah Mada, Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr. Rijadh Djatu Winardi, menjelaskan bahwa Coretax bertujuan untuk menekan kesenjangan pajak, meningkatkan rasio pajak, serta memperbaiki kualitas data perpajakan.

Melalui sistem terintegrasi ini, Coretax seharusnya dapat mengakomodasi seluruh proses administrasi, mulai dari pendaftaran, pelaporan, hingga pengawasan pajak. Namun, “Ada indikasi bahwa perencanaan pelaksanaan dan mitigasi risiko belum dilaksanakan secara optimal,” ujar Rijadh, seperti dikutip dari situs UGM.

Sejak peluncuran, berdasarkan data dari Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), hingga pertengahan Januari 2025 telah teridentifikasi sekitar 34 jenis permasalahan. Kendala tersebut mencakup gangguan dalam pembuatan faktur pajak, kesalahan pada aplikasi sertifikat elektronik, kegagalan sinkronisasi data wajib pajak, hingga informasi pajak yang tidak terbarui.

Gangguan Coretax dan Dampaknya pada Pendapatan Pajak

Gangguan layanan Coretax memunculkan kekhawatiran akan dampak besar terhadap keuangan negara.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menargetkan peningkatan rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 18%, naik dari sekitar 10% saat ini. Pendapatan pajak yang lebih tinggi diperlukan untuk membiayai berbagai program yang telah dijanjikan, seperti penyediaan makan siang gratis bagi anak sekolah dan ibu hamil.

Jika penerimaan pajak terganggu, maka program-program tersebut berisiko terhambat. Pemerintah tahun ini menargetkan pendapatan negara sebesar Rp3.005,1 triliun, dengan penerimaan pajak ditetapkan mencapai Rp2.490,9 triliun.

Mencapai target ini bukan perkara mudah. Realisasi penerimaan pajak tahun 2024 mengalami shortfall atau tidak mencapai target, sehingga pada 2025 diperlukan peningkatan hingga 11,56 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

“Coretax itu salah satu andalan, tapi bukan untuk 2025,” ujar Awalil Rizky, Ekonom Bright Institute, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Jakarta, Rabu (12/2/2025).

Sementara itu, di media sosial X, beredar unggahan yang mengklaim bahwa penerimaan negara mengalami penurunan akibat kendala teknis pada Coretax. Dalam sebuah cuitan oleh pengguna X, @gg_02022020, pada Selasa (4/2/2025), terlihat data yang memperkirakan asumsi penerimaan negara sepanjang Januari 2025.

“Berdasar asumsi perhitungan, seharusnya 15 Februari, kas negara akan menerima Rp189,52 triliun, namun gegara Coretax akhirnya hanya menerima 49%-nya saja yaitu sebesar Rp93,24 triliun,” tulis @gg_02022020.

Meski angka tersebut hanya merupakan perkiraan kasar—karena perhitungan pajak tidak bisa sekadar dibagi rata per bulan mengingat pola setoran pajak cenderung lebih rendah di awal periode pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)—namun hal ini mencerminkan kekhawatiran publik terhadap pencapaian target penerimaan pajak.

Wajib Pajak Enggan Bayar

Gangguan pada sistem pajak Coretax yang dikembangkan sejak 2021 tidak hanya berdampak pada pencapaian target penerimaan pajak. Masalah ini juga memengaruhi kualitas layanan serta tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem perpajakan. Akibatnya, banyak wajib pajak yang enggan memenuhi kewajibannya, yang berimbas pada menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan telah menyampaikan permintaan maaf atas gangguan yang terjadi pada sistem inti administrasi perpajakan yang dibangun oleh konsorsium perusahaan Korea Selatan, LG CNS dan Qualysoft Group. Gangguan ini menyebabkan kesulitan akses bagi para wajib pajak.

“Dengan segala kerendahan hati menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh wajib pajak atas terdapatnya kendala-kendala yang terjadi dalam penggunaan fitur-fitur layanan Coretax DJP yang menyebabkan terjadinya ketidaknyamanan dan keterlambatan layanan administrasi perpajakan,” demikian pernyataan yang tertuang dalam keterangan tertulis terkait Implementasi Coretax DJP bernomor KT-02/2025.

Dalam pernyataan yang sama, Ditjen Pajak berjanji untuk segera mengatasi kendala teknis serta memastikan layanan Coretax kembali berfungsi secara optimal. Ditjen Pajak juga menegaskan bahwa para wajib pajak tidak perlu khawatir terkena sanksi administrasi apabila terjadi keterlambatan dalam penerbitan faktur pajak atau pelaporan pajak selama masa transisi sistem.

Namun, sekadar permintaan maaf tampaknya tidak cukup. Ditjen Pajak perlu bertanggung jawab atas permasalahan ini. Sesuai dengan Undang-Undang Pelayanan Publik No. 25 Tahun 2009, kegagalan dalam pelayanan publik seperti yang terjadi pada Coretax dapat berujung pada sanksi administratif bagi pihak penyelenggara, mulai dari teguran hingga pencopotan jabatan. Bahkan, apabila gangguan ini menimbulkan kerugian negara, potensi sanksi pidana atau denda juga dapat diberlakukan.

Sebagai pimpinan Ditjen Pajak, Suryo Utomo berada dalam posisi yang sangat menentukan. Beberapa pihak menilai bahwa kasus ini perlu diusut tuntas, dan ia seharusnya mengundurkan diri atau diganti sebagai bentuk pertanggungjawaban atas permasalahan yang terjadi.

Pada Januari lalu, Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, mendorong agar dugaan korupsi dalam aplikasi pajak Coretax segera diusut. Ia menilai perlu dilakukan pemeriksaan mendalam untuk memastikan ada tidaknya manipulasi dalam sistem tersebut.

“Ya diperiksa saja, apakah ada manipulasi itu kan yang menyelenggarakan atau yang membuat auditor salah satu, atau dua, empat auditor yang lalu direkomendasikan pemerintah untuk digunakan dari badan internasional. Jadi dicari aja,” ujar Agus, Selasa (21/1/2025).

Agus juga menyoroti ketimpangan dalam kebijakan pajak. Menurutnya, pemerintah selama ini tegas terhadap wajib pajak yang bermasalah, tetapi tidak memberikan sanksi ketika sistem perpajakan yang dibuat justru menyulitkan masyarakat.

“Tidak bayar pajak atau telat atau kurang bayar, kita dikejar-kejar. Sementara pemerintah melakukan kesalahan yang sangat menyulitkan wajib pajak tidak diberi sanksi. Penanggung jawab sistem Coretax harus disanksi,” tegasnya.

Pada 19 Februari lalu, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, yang sebelumnya membela keberadaan Coretax, kini meminta agar sistem tersebut diaudit secara menyeluruh. Menurutnya, sistem yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun namun masih mengalami berbagai kendala perlu dievaluasi.

“Ini perlu dilihat. Makanya, presiden melakukan audit saja, kan boleh lihat di mana kurang lebihnya. Apalagi sekarang Coretax dikembalikan lagi pada sistem yang lama,” ujar Luhut, Rabu (19/2/2025).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Suryo Utomo kini tengah menjadi sorotan seiring dengan permasalahan yang muncul dalam penerapan Coretax.

Luhut juga menyoroti rendahnya rasio pajak di Indonesia, yang hingga kini masih stagnan di kisaran 10 persen. Ia menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian serius dan segera dicarikan solusinya.

“Hal semacam ini perlu kita jawab dengan melakukan audit, sehingga kita tahu di mana masalahnya,” katanya.

Kini, publik menunggu bagaimana pemerintah akan menangani persoalan ini. Apakah kasus ini akan terus bergulir menjadi isu besar atau justru menghilang begitu saja? Pemerintah dituntut untuk bertindak cepat dan tegas, termasuk meminta pertanggungjawaban pejabat yang terkait. Jika tidak, sistem perpajakan yang diharapkan menjadi pilar utama pembangunan bisa berubah menjadi fondasi yang rapuh dan berisiko runtuh kapan saja. (XRQ)

Reporter: Akil

Beasiswa Chevening Dibuka Kembali, Kesempatan Emas Studi S2 di Inggris

0
UK jadi favorit
Menara Big Ben, Inggris. (Foto: WW You Go)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah Inggris kembali membuka kesempatan bagi para profesional Indonesia untuk menempuh pendidikan pascasarjana melalui beasiswa Chevening. Program bergengsi yang telah memasuki tahun ke-41 ini tidak hanya menawarkan gelar master, tetapi juga menjadi pintu gerbang bagi para pemimpin masa depan untuk bergabung dalam jaringan global yang berpengaruh.

Pendanaan Penuh dan Fleksibilitas Persyaratan

Beasiswa Chevening mencakup pendanaan penuh yang meliputi biaya kuliah, tunjangan hidup, tiket pesawat, asuransi kesehatan, serta biaya terkait visa. Bagi peserta program MBA, terdapat batasan biaya kuliah sebesar 22.000 poundsterling atau setara Rp 452 juta. Namun, banyak penerima beasiswa yang berhasil mendapatkan pendanaan tambahan dari universitas berkat reputasi prestisius Chevening.

Menariknya, tidak seperti banyak beasiswa internasional lainnya, Chevening tidak mensyaratkan sertifikat bahasa Inggris seperti IELTS atau TOEFL pada tahap awal pendaftaran. Selain itu, tidak ada batasan usia bagi pelamar. Bahkan, menurut Vonny Lisayani, Koordinator Beasiswa dan Alumni Chevening untuk Indonesia dan Timor-Leste, pendaftar tertua saat ini berusia 46 tahun.

“Kami mencari orang-orang yang berpotensi menjadi pemimpin masa depan, yang akan memberikan kontribusi positif dan mendorong dampak bagi Indonesia,” kata Vonny dalam acara Study UK & Careers Fest 2025 yang diselenggarakan oleh BritCham Education Centre, Sabtu (22/2/2025).

Syarat dan Tahapan Seleksi

Calon pelamar wajib memiliki gelar minimal S1 atau D4 serta pengalaman kerja selama minimal dua tahun. Pengalaman ini tidak harus berasal dari pekerjaan penuh waktu, tetapi juga dapat berupa magang, kerja paruh waktu, atau kegiatan sukarela.

Dalam aplikasinya, pelamar harus memilih tiga program master di universitas Inggris yang sesuai dengan tujuan karier mereka. Program yang dipilih harus berdurasi 9-12 bulan, karena Chevening tidak mendukung program berbasis riset atau yang lebih dari satu tahun.

Tidak seperti kebanyakan beasiswa lainnya, Chevening tidak mengharuskan pelamar memiliki Letter of Acceptance (LoA) dari universitas saat pendaftaran awal. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi pelamar untuk tetap mengikuti seleksi tanpa terburu-buru memperoleh LoA. Seleksi Chevening terdiri dari dua tahap, yaitu seleksi berkas dan wawancara, dengan hasil akhir diumumkan pada bulan Juni.

“Chevening tidak mewajibkan LoA atau sertifikat bahasa untuk mendaftar. Oleh karena itu, kami menyarankan pelamar untuk mendaftar ke universitas secara paralel, tanpa menunggu pengumuman Juni,” tambah Vonny.

Esai Jadi Penentu Utama

Salah satu aspek paling krusial dalam seleksi Chevening adalah esai. Pelamar harus mampu menggambarkan diri mereka, visi mereka, serta kontribusi yang dapat diberikan kepada Indonesia setelah menyelesaikan studi. Ada empat tema utama dalam esai yang harus ditulis oleh pelamar:

  1. Kepemimpinan: Menceritakan pengalaman dalam organisasi, pekerjaan, atau komunitas yang menunjukkan kemampuan memimpin.
  2. Jaringan Profesional (Networking): Menjelaskan bagaimana pelamar membangun dan memanfaatkan jejaring profesional mereka.
  3. Alasan Memilih Inggris: Menguraikan alasan akademis dan profesional mengapa memilih studi di Inggris, bukan di negara lain.
  4. Rencana Masa Depan: Menggambarkan bagaimana ilmu yang diperoleh dari studi di Inggris akan memberikan dampak bagi Indonesia.

“Jangan hanya menulis bahwa Anda ingin ke Inggris karena suka Harry Potter atau Manchester United. Anda harus menjelaskan alasan akademis dan profesional yang kuat,” ujar Vonny.

Ia juga menekankan pentingnya keaslian dalam esai. Kesalahan terbesar pelamar adalah meniru contoh esai yang beredar di internet. Pewawancara akan menggali lebih dalam terkait esai yang ditulis, sehingga ketidaksesuaian antara cerita dalam esai dan pengalaman nyata pelamar akan mudah terungkap.

Dukungan Alumni dan Program Mentoring

Chevening Alumni Association of Indonesia (CAAI) telah menginisiasi program mentoring bernama ChevBuddy. Program ini bertujuan membantu calon penerima beasiswa dalam penulisan esai hingga strategi wawancara. Mentorship ini terdiri dari tiga tahap utama, yaitu sesi umum, mentoring intensif 1-on-1, dan persiapan wawancara.

Pendaftaran beasiswa Chevening untuk tahun akademik 2025-2026 akan dibuka pada minggu pertama Agustus dan ditutup pada 6 November 2025. Pengumuman hasil seleksi dijadwalkan pada Juni 2026, dengan masa studi dimulai September atau Oktober 2026.

“Ini waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan diri. Manfaatkan waktu ini untuk meneliti pilihan universitas sehingga ketika pendaftaran dibuka, Anda sudah memiliki gambaran jelas tentang pilihan Anda,” pungkas Vonny.

Editor: AKil

Polda Aceh Blokir 405 Situs Judi Online, 64 Pemain Ditangkap

0
Ilustrasi judi online. (Foto: Media Indonesia)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh terus menggencarkan upaya pemberantasan judi online di wilayahnya. Dalam dua bulan terakhir, sebanyak 405 situs judi online telah diblokir, sementara 64 orang yang diduga sebagai pemain diamankan oleh aparat kepolisian.

“Pada medio Januari-17 Februari, Polda Aceh telah berhasil mengungkap 55 kasus maisir (judi) dan memblokir 405 situs judol, dengan 64 tersangka. Ini adalah wujud komitmen kita dalam memberantas kasus judi,” ujar Kabid Humas Polda Aceh Kombes Joko Krisdiyanto kepada wartawan, Rabu (26/2/2025).

Joko menjelaskan bahwa pengungkapan kasus ini dilakukan oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Aceh serta Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) di jajaran polres. Pihak kepolisian, katanya, semakin meningkatkan upaya pemberantasan judi online menjelang bulan suci Ramadan.

Sebagai langkah preventif, Polda Aceh mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap maraknya praktik judi online yang sering kali menjanjikan keuntungan instan, tetapi justru berujung pada kerugian besar.

“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak terlibat dalam aktivitas judi online, apalagi mau Ramadan. Karena selain melanggar hukum, juga dapat merusak perekonomian keluarga serta kehidupan sosial. Intinya, Polda Aceh ingin menciptakan Kamtibmas, salah satunya dengan cara penegakan hukum sesuai aturan atau qanun yang berlaku, guna memberikan rasa aman dan rasa nyaman kepada masyarakat Aceh,” lanjut Joko.

Selain menangkap para pemain, Polda Aceh juga menegaskan akan menindak tegas pihak-pihak yang terlibat dalam promosi dan penyelenggaraan judi online. Patroli siber terus dilakukan untuk mendeteksi dan menutup akses ke situs-situs judi yang masih beroperasi.

Joko menambahkan bahwa masyarakat berperan penting dalam mendukung upaya pemberantasan judi online. Oleh karena itu, ia mengajak warga untuk segera melaporkan jika menemukan indikasi perjudian, baik daring maupun luring, di lingkungan mereka.

“Manfaatkan Ramadan sebagai momentum meningkatkan ibadah dan kegiatan positif, alih-alih terjerumus dalam aktivitas ilegal, seperti judi, yang dapat membawa dampak negatif dalam kehidupan sosial,” tutupnya.

Editor: AKil

Tradisi Lemang Ramadan di Gampong Durian Kawan, Warisan Budaya yang Terus Dijaga

0
Berlemang Menjadi Tradisi di Kluet Timur Aceh Selatan Saat Menyambut Ramadan. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menjelang Ramadan 1446 H, masyarakat Gampong Durian Kawan, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan, tetap mempertahankan tradisi leluhur mereka: pembuatan dan penyajian lemang.

Zardan Salihin, salah satu warga setempat, mengatakan bahwa tradisi ini dilakukan tiga hari sebelum awal Ramadan dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Kluet.

“Lemang bukan sekadar makanan, tapi bagian dari warisan budaya kita yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujarnya dengan penuh kebanggaan saat diwawancarai Nukilan.id pada 26 Februari 2025.

Menurut Zardan, keluarganya selalu membuat lemang setiap tahun sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci.

“Ini sudah menjadi tradisi turun temurun di keluarga kami,” katanya.

Tradisi ini semakin menarik dengan adanya dua jenis lemang yang biasa dibuat oleh masyarakat Kluet, yaitu lemang ketan dan lemang gadung. Lemang ketan terbuat dari beras ketan yang dimasak bersama santan dan dibungkus dalam daun pisang, sedangkan lemang gadung menggunakan ubi kayu sebagai bahan utama, yang juga dimasak dengan santan dan dibungkus dalam daun pisang.

“Kedua jenis lemang ini memiliki cita rasa yang berbeda, namun keduanya sama-sama lezat dan disukai oleh banyak orang,” tambah Zardan sambil tersenyum.

Tak hanya sekadar hidangan khas Ramadan, lemang juga menjadi simbol kebersamaan. Warga kerap bertukar lemang dengan sanak saudara sebagai bentuk kehangatan dan keramahan.

“Kami dengan senang hati mengantarkan lemang sebagai tanda kehangatan dan keramahan kami kepada sanak family. Ini adalah bagian dari tradisi kebersamaan dan persaudaraan yang kami bangun di sini,” ujarnya.

Lebih dari sekadar kuliner, tradisi pembuatan lemang menjelang Ramadan menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga. Nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan yang melekat dalam budaya masyarakat Aceh Selatan terus terjaga, menjadikan tradisi ini tetap hidup di tengah arus modernisasi. (XRQ)

Reporter: AKil

Kepala DPMG Aceh Serahkan 36 SK Tenaga Kontrak 2025

0
Kepala DPMG Aceh Serahkan 36 SK Tenaga Kontrak 2025. (Foto: DPMG)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Aceh, Dr. Iskandar, AP, S.Sos, M.Si, secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) bagi 36 tenaga kontrak di lingkungan DPMG Aceh untuk tahun 2025. Acara penyerahan berlangsung di Aula DPMG Aceh pada Senin (24/2/2025), dihadiri oleh pejabat dan staf dinas terkait.

Dalam sambutannya, Iskandar menjelaskan bahwa penerbitan SK ini bertujuan memberikan kepastian status bagi tenaga kontrak yang masih menunggu diterbitkannya SK Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya penataan pegawai non-Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Aceh, sekaligus menindaklanjuti kebijakan penganggaran gaji bagi pegawai non-ASN sebagaimana tertuang dalam surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Nomor B/5993/M.SM.01.00/2024 tertanggal 12 Desember 2024.

“Kita mengeluarkan SK ini untuk memberikan status yang jelas kepada tenaga kontrak yang belum diterbitkannya SK Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), karena setiap aparatur di pemerintahan Aceh harus memiliki status dan keterikatan dinas yang jelas dan sah,” jelas Iskandar.

Lebih lanjut, Iskandar menekankan pentingnya peningkatan kinerja dan disiplin di kalangan tenaga kontrak. Ia mengingatkan agar para pegawai tetap menjaga etos kerja yang baik, bahkan setelah mendapatkan status sebagai PPPK di masa mendatang.

“Tetaplah bekerja dengan baik seperti yang ditunjukkan selama ini, jangan sampai setelah berubah memakai baju warna khaki, berubah juga perilaku dan kinerja menjadi tidak baik,” pesan Iskandar kepada seluruh tenaga kontrak.

Penyerahan SK ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi tenaga kontrak untuk terus berkontribusi dalam mendukung program kerja DPMG Aceh serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Editor: Akil

LPTQ Aceh Gelar Khataman Al-Qur’an Tarhib Ramadhan 1446 H

0
LPTQ Aceh Gelar Khataman Al-Qur'an Tarhib Ramadhan 1446 H. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menyambut bulan suci Ramadhan 1446 H, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Aceh menggelar Khataman Al-Qur’an Tarhib Ramadhan di Mushalla Al-Ikhlas, Kanwil Kemenag Aceh, Selasa (25/2/2025). Acara ini diikuti oleh 30 hafizh dan hafizhah terbaik Aceh, pengurus LPTQ Aceh, serta jajaran ASN Bidang Penaiszawa Kanwil Kemenag Aceh.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB ini merupakan bagian dari rangkaian Semarak Ramadhan 1446 H yang dilaksanakan serentak oleh seluruh LPTQ provinsi di Indonesia.

“Kita doakan semua kegiatan ini dapat terlaksana dengan sukses selama bulan Ramadhan tahun ini,” ujar Sekretaris Umum LPTQ Aceh, Ust. H. Zulfikar, S.Ag., M.Ag., dalam sambutannya sebelum pembukaan Rapat Koordinasi RKA-SK 2026 di Asrama Haji.

Judul besar dari kegiatan ini adalah Khataman Al-Qur’an bersama 1.000 hafizh/hafizhah juara nasional dan internasional se-Indonesia. Selain itu, LPTQ nasional juga mengarahkan beberapa kegiatan lain, seperti Tahsin Al-Qur’an bersama juara MTQ, Menulis Al-Qur’an bersama kaligrafer dunia, Kajian Tematik Tafsir Al-Qur’an, serta Penulisan Al-Qur’an Nusantara oleh para juara nasional dan internasional.

Ketua Harian LPTQ Aceh, Prof. Dr. H. Armiadi Musa, M.A., dalam arahannya menyampaikan apresiasi kepada jajaran LPTQ Nasional dan Kanwil Kemenag Aceh yang telah menjadi fasilitator Semarak Ramadhan tahun ini.

“Khusus untuk kegiatan Khataman Al-Qur’an, saya sangat bangga dengan kehadiran 30 hafizh-hafizhah terbaik Aceh guna menyukseskan kegiatan ini,” ujarnya.

Pakar zakat ini juga berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar dan melibatkan partisipasi dari LPTQ kabupaten/kota agar manfaatnya lebih luas hingga ke masyarakat umum.

Sementara itu, suasana di Banda Aceh semakin semarak dengan pawai tarhib yang berlangsung di jalan-jalan protokol. Pawai ini dimulai dari Balai Kota Banda Aceh atau Kantor Wali Kota, yang berdekatan dengan Kanwil Kemenag Aceh, menambah kemeriahan dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Editor: Akil

Petani Nilam Aceh Selatan Keluhkan Minimnya Dukungan Pemerintah di Tengah Kemerosotan Harga

0
Alman, S.H. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Kemerosotan harga minyak nilam kian menghantui petani di Aceh Selatan. Tanaman yang menjadi sumber pendapatan bagi banyak petani itu kini menghadapi tantangan berat, mulai dari anjloknya harga hingga dampak perubahan iklim. Namun, para petani mengaku belum merasakan perhatian nyata dari pemerintah.

Dalam wawancara dengan Nukilan.id, Alman, salah seorang petani nilam di Aceh Selatan, mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap pemerintah yang dinilai abai terhadap kondisi para petani.

“Sampai saat ini dari awal proses penanaman sampai dengan proses panen tidak ada peran tangan pemerintah. Bahkan sampai pada titik dimana nilam seeprti tak lagi berharga, pemerintah masih belum membuka mulut dalam hal ini,” kata Alman pada Rabu (26/2/2025).

Selain harga yang anjlok, perubahan iklim juga menjadi tantangan tersendiri bagi para petani nilam. Perubahan cuaca yang tidak menentu berdampak langsung pada pertumbuhan tanaman, namun hingga kini belum ada solusi nyata yang diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Tomi Aksan, rekan Alman yang juga petani nilam, menuturkan bahwa mereka hanya bisa menerima keadaan tanpa strategi khusus untuk menghadapi dampak iklim yang semakin tidak menentu.

“Iklim tentu sangat berdampak pada pertumbuhan nilam. Namun belum ada strategi khusus dalam menangani perubahan iklim ini, pasrah sajalah,” kata Tomi Aksan.

Melihat kondisi ini, Alman mengusulkan agar pemerintah segera mengambil peran lebih besar dalam membantu petani nilam, terutama dalam membuka akses pasar yang lebih luas agar mereka tidak lagi bergantung pada tengkulak lokal yang sering kali membeli dengan harga rendah.

“Menurut saya solusinya adalah perlunya andil pemerintah, baik daerah maupun pusat dengan cara membuat mekanisme dan membuka akses pasarnya. Sehingga kami tidak lagi menjual melalui tengkulak ini, namun langsung jual ke agen eksportir,” harap Alman.

Menurutnya, jika pemerintah tidak segera turun tangan, nasib petani nilam akan semakin sulit. Ia menekankan bahwa pemerintah seharusnya lebih aktif dalam memberikan solusi dibandingkan tengkulak yang selama ini menjadi satu-satunya jalur distribusi bagi petani.

“Pemerintah harus lebih aktif dari tengkulak. Hal ini penting bagi kesejahteraan petani nilam,” tutup Alman.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, petani nilam di Aceh Selatan berharap adanya perhatian dan kebijakan konkret dari pemerintah agar sektor pertanian nilam dapat kembali bangkit dan memberikan kesejahteraan bagi mereka. (XRQ)

Reporter: Akil

Petani Nilam Aceh Selatan Hadapi Tantangan Berat, Harga Minyak Anjlok Drastis

0
Petani menyuling minyak atsiri dari tanaman nilam. (Foto: Republika)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Aceh Selatan dikenal sebagai salah satu daerah penghasil nilam terbaik di Aceh. Namun, di balik potensi besar tersebut, para petani nilam menghadapi berbagai tantangan dalam proses budidaya hingga distribusi hasil panen.

Ferdy Ardiansyah, seorang petani nilam di Kluet Tengah, menjelaskan bahwa budidaya nilam dimulai dengan persiapan lahan yang matang.

“Tentu berawal dari meninjau lahan yang nantinya akan ditanami, kemudian baru lahannya dibersihkan, kemudian mencari bibit nilam yang akan ditanam,” katanya kepada Nukilan.id pada Rabu (26/2/2025).

Setelah bibit nilam ditanam, perawatan berlanjut dengan memastikan lahan tetap bersih dari gulma.

“Setelah ditanam, rumput-rumput yang sudah panjang dibersihkan lagi. Di umur 7-8 bulan baru nilam siap untuk dipanen,” tambah Ferdy.

Namun, perjalanan menuju panen bukan tanpa hambatan. Ferdy menuturkan bahwa tantangan terbesar dalam budidaya nilam meliputi beberapa aspek, mulai dari tenaga kerja hingga modal usaha.

“Tantangan utamanya yang dihadapi tentu yang pertama waktu dari awal penanaman, kemudian tenaga juga sangat terkuras dan ekonomi juga menjadi tantangan, sebab butuh modal juga,” jelasnya.

Selain menghadapi tantangan dalam proses budidaya, petani nilam di Aceh Selatan juga dihadapkan pada ketidakstabilan harga jual minyak nilam di pasaran. Ferdy mengungkapkan bahwa harga minyak nilam baru-baru ini mengalami penurunan drastis.

“Untuk kondisi pasar tentu harga sekarang ini membuat petani kecewa. Harga anjlok hanya dalam seminggu ke Rp 800.000 per kilo dari yang awalnya Rp 1.850.000,” ungkapnya.

Meski demikian, keberadaan tengkulak atau perantara dalam distribusi minyak nilam dinilai tidak terlalu berpengaruh terhadap fluktuasi harga.

“Tidak ada peran tengkulak yang sangat mencolok, selain jadi jembatan distribusi ke agen yang lebih besar yang biasanya berada di luar daerah,” ungkap Ferdy.

Ketidakpastian harga dan tantangan dalam proses budidaya menjadi ujian berat bagi para petani nilam di Aceh Selatan. Mereka berharap ada solusi dari pemerintah maupun pihak terkait untuk menstabilkan harga serta memberikan dukungan dalam bentuk bantuan modal dan tenaga kerja agar sektor ini tetap bertahan dan berkembang. (XRQ)

Reporter: Akil

90 Tukik Dilepasliarkan ke Laut Aceh, Upaya Jaga Kelestarian Biota Laut

0
90 Tukik Dilepasliarkan ke Laut Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sebanyak 90 ekor tukik jenis belimbing dilepasliarkan di Laut Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Pelepasliaran ini dilakukan oleh Staycation Joel Bungalows sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian biota laut.

“Tukik ini dilepasliarkan setelah 41 hari berada di penangkaran,” kata Pengelola Staycation Joel Bungalows, Zulfitri, di Aceh Besar, Selasa (13/2/2025).

Tukik-tukik tersebut berasal dari telur penyu yang sebelumnya dibeli Zulfitri dari nelayan atau pemburu setempat. Biasanya, telur penyu dijual untuk dikonsumsi dengan harga Rp10 ribu per butir. Namun, alih-alih membiarkannya dikonsumsi, ia memilih untuk menetaskannya terlebih dahulu sebelum melepasliarkan ke habitat aslinya.

“Ada 110 butir telur penyu yang saya beli, tetapi hanya sekitar 90 yang menetas,” katanya.

Upaya Konservasi dan Edukasi

Menurut Zulfitri, inisiatif menyelamatkan tukik belimbing ini sejalan dengan bisnis yang ia jalankan di sektor pariwisata laut. Baginya, menjaga ekosistem laut adalah tanggung jawab bersama, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup di sektor tersebut.

“Saya punya usaha di kawasan laut, saya terpanggil untuk menyelamatkan ini. Apalagi saya juga bergerak di bidang pariwisata sehingga berkeinginan menyelamatkan biota laut,” ujarnya.

Penyu belimbing sendiri berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Namun, populasinya terus menurun akibat perburuan dan eksploitasi telur. Tanpa penyu di laut, keseimbangan ekosistem dapat terganggu, yang berdampak buruk bagi spesies lainnya.

“Kalau penyu ini tidak ada di laut, saya yakin ini akan membuat efek yang tidak bagus untuk kehidupan spesies yang ada di laut,” tambahnya.

Sejak tahun 2014, Zulfitri telah menjalankan kegiatan konservasi ini. Selain bertujuan menyelamatkan tukik, ia juga ingin mengedukasi masyarakat setempat agar lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan. Ia menyadari bahwa melarang langsung pengambilan telur penyu bukanlah solusi yang efektif. Sebagai gantinya, ia memilih untuk membeli telur tersebut dengan harga yang sama seperti di pasar, agar nelayan memiliki alternatif yang lebih ramah lingkungan.

“Kalau kita larang, jangan mengambil, mereka pasti tetap mengambil karena sudah pencahariannya di situ. Jadi, saya edukasi kepada mereka daripada jual ke pasar, lebih baik jual ke kami dengan harga yang sama,” katanya.

Demi mendukung upaya ini, Zulfitri telah mengalokasikan dana khusus untuk membeli telur penyu dari nelayan atau pemburu setempat. Ia tidak pernah menolak siapa pun yang datang membawa telur penyu untuk dijual.

“Siapa pun yang bawa telur penyu, saya tampung semua, kadang-kadang bisa seribu butir, kadang-kadang 500 butir, kadang-kadang 400 butir. Tergantung, pokoknya siapapun yang bawa, saya tidak pernah menolak. Saya selalu menyediakan uang untuk beli telur penyu dan menetaskannya untuk menyelamatkan bumi ini,” pungkasnya.

Editor: AKil

Wagub Aceh Perintahkan Percepatan Implementasi Satu Data Aceh

0
Wagub Aceh Perintahkan Percepatan Implementasi Satu Data Aceh. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Wakil Gubernur (Wagub) Aceh, Fadhlullah (Dek Fadh), menegaskan pentingnya validasi dan konsistensi data dalam perencanaan pembangunan. Dalam rapat bersama jajaran Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan tim Program Sinergi dan Kolaborasi untuk Akselerasi Layanan Dasar (SKALA) di Ruang Rapat Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Selasa (25/2), Wagub menekankan bahwa implementasi Satu Data Aceh harus segera dituntaskan demi efektivitas pembangunan daerah.

Satu Data Aceh merupakan bagian dari kebijakan nasional Satu Data Indonesia yang bertujuan menghadirkan data akurat, mutakhir, terpadu, serta dapat dipertanggungjawabkan. Dengan data yang valid, pemerintah dapat merancang program yang tepat sasaran dan menghindari ketidakefisienan dalam pelaksanaan kebijakan publik.

“Kita harus memastikan bahwa permasalahan terkait Satu Data Aceh ini benar-benar tertangani dengan baik. Kita berdiskusi untuk mencapai satu kesimpulan yang jelas soal data,” ujar Wagub dalam pertemuan tersebut.

Hadir dalam rapat tersebut Plt. Sekda Aceh Al Hudri, para asisten sekda, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominsa) Aceh, sejumlah kepala SKPA terkait, serta tim SKALA Aceh. Diskusi berlangsung intensif dengan fokus pada upaya memperkuat tata kelola data agar lebih terintegrasi dan transparan.

Menurut Wagub, keakuratan data sangat krusial karena berbagai program bantuan dan layanan publik, seperti pendataan rumah layak huni, kepesertaan BPJS Kesehatan, distribusi LPG 3 kg, serta penyaluran BBM subsidi, bergantung pada informasi yang valid.

“Contohnya, data rumah layak huni dan tidak layak huni, kepesertaan BPJS Kesehatan, distribusi gas LPG 3 kg, bantuan sosial, hingga BBM subsidi—semuanya membutuhkan data yang valid dan terkontrol dengan baik,” katanya.

Ia memperingatkan bahwa ketidakvalidan data dapat berujung pada ketidaktepatan sasaran program dan berisiko menghambat penyelesaian masalah sosial di Aceh.

“Kita harus memastikan bahwa data di Aceh benar-benar valid. Ini wajib dibereskan. Saya ingin semua pihak bergerak cepat untuk memverifikasi dan memvalidasi data, agar kita memiliki informasi yang faktual dan akurat,” tegasnya.

Sebagai langkah strategis, Wagub meminta Diskominsa Aceh berperan lebih aktif dalam mengelola dan menyelenggarakan sistem Satu Data Aceh. Dengan demikian, kebijakan ini dapat diterapkan secara optimal dan menjadi landasan utama dalam pengambilan keputusan pemerintah daerah.

“Diskominsa harus memaksimalkan perannya sebagai pusat informasi pemerintah Aceh, memastikan data yang tersedia dapat diakses dengan mudah, serta menyebarkan informasi kepada masyarakat secara transparan,” ujarnya.

Arahan tegas ini diharapkan mampu mempercepat implementasi Satu Data Aceh, sehingga setiap kebijakan dan program pembangunan di Aceh memiliki dasar informasi yang akurat, transparan, dan terpercaya.

Editor: Akil