Beranda blog Halaman 656

Stok LPG 3 Kg di Aceh Aman, Pertamina Pastikan Distribusi Lancar hingga Ramadan

0
engisian LPG 3 Kg: Pekerja melakukan pengisian tabung Elpiji 3 Kg di SPBE Batavia Jaya Energi, Cakung, Jakarta Timur, Jumat (29/5). (Republika/ Yasin Habibi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menjelang bulan suci Ramadan, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut memastikan ketersediaan stok gas LPG subsidi 3 kilogram di Aceh dalam kondisi aman. Sales Area Manager (SAM) Aceh, Surya Suganda, menegaskan bahwa distribusi LPG 3 Kg di seluruh Aceh berjalan lancar dan terjamin.

Surya mengungkapkan, sepanjang Januari 2025, Pertamina telah menyalurkan sekitar 10.847 metrik ton LPG 3 Kg atau setara dengan 3,6 juta tabung. Penyaluran ini dilakukan melalui 101 agen dan 877 pangkalan yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Aceh.

“Hal ini memastikan bahwa masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan LPG di pangkalan terdekat,” ujar Surya dikutip dari RRI.

Namun, ia juga menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat terhadap penggunaan LPG subsidi agar tepat sasaran. Pasalnya, masih ditemukan sektor usaha seperti restoran, hotel, peternakan, dan jasa lainnya yang seharusnya tidak menggunakan LPG 3 Kg. Untuk itu, Pertamina berencana menggandeng pemerintah daerah guna melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait aturan penggunaan gas bersubsidi.

Selain itu, Pertamina juga aktif menggelar pasar murah dan pasar tani bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Asosiasi Sumber Daya Manusia (ASDM) guna memastikan harga LPG tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, upaya meningkatkan aksesibilitas LPG ke wilayah-wilayah terpencil juga terus dilakukan. Meski distribusi ke daerah sulit masih berjalan tanpa hambatan, Surya menegaskan bahwa pihaknya terus mencari solusi agar pasokan LPG 3 kilogram lebih mudah dijangkau oleh seluruh masyarakat Aceh.

“Langkah ini untuk memastikan bahwa distribusi LPG bisa tepat sasaran dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat Aceh,” pungkasnya.

Editor: Akil

Pererat Hubungan Diplomatik, Wali Nanggroe Aceh Bertemu Konjen Jepang di Medan

0
Pererat Hubungan Diplomatik, Wali Nanggroe Aceh Bertemu Konjen Jepang di Medan. (Foto: LWN)

NUKILAN.id | Medan – Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al Haythar, memenuhi undangan makan siang dari Konsul Jenderal (Konjen) Jepang di Medan, Tokonai Susumu, pada Jumat, 28 Februari 2025. Pertemuan yang berlangsung di kediaman resmi Konjen Jepang itu menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan diplomatik dan kerja sama antara Aceh dan Jepang.

Dalam kunjungan tersebut, Wali Nanggroe turut didampingi oleh sejumlah pejabat terdekat, yakni Staf Khusus Wali Nanggroe, Dr. M. Raviq; Katibul Wali, Drs. Mahdi Efendi; serta Kepala Subbagian Rumah Tangga, Ichsan Iswandy, S.STP., M.M.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Keduanya membahas berbagai potensi kerja sama, khususnya dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi yang dapat mendorong pembangunan berkelanjutan di Aceh.

Pertemuan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya yang terus dibangun oleh Wali Nanggroe dalam rangka memperkenalkan Aceh di mata dunia, serta membangun jejaring internasional yang bermanfaat bagi kemajuan daerah.

Pertamina Pastikan Kualitas Pertamax di Aceh Sesuai Standar

0
Ilustrasi Pertamina. (Foto: Dok. Mypertamina).

NUKILAN.id | Banda Aceh – PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) menegaskan bahwa kualitas bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax yang didistribusikan di Aceh telah sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Pernyataan ini disampaikan menyusul isu yang beredar di masyarakat mengenai dugaan pengoplosan BBM jenis Pertamax, yang dikaitkan dengan kasus dugaan korupsi yang menjerat pejabat tinggi Pertamina.

Nur Imam Mohamad, Officer Communication & Relations PT Pertamina Patra Niaga Sumbagut, dalam kunjungannya ke Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) Indrapuri, Aceh Besar, pada Kamis (27/2/2025), memastikan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir dengan kualitas BBM yang mereka gunakan.

“Kami jamin bahwa BBM yang disalurkan melalui SPBU di masyarakat sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Secara rutin, kami melakukan uji laboratorium yang dilakukan oleh ESDM dan lembaga independen lainnya,” ujar Nur Imam.

Ia menambahkan bahwa pengawasan kualitas dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa baik Pertamax (RON 92) maupun Pertalite (RON 90) tetap sesuai standar yang telah ditetapkan.

“Jika BBM yang disalurkan adalah RON 92, maka itu pasti RON 92, dan demikian pula untuk RON 90. Kami memastikan kualitasnya sesuai dengan standar yang berlaku,” jelasnya.

Terkait dampak isu ini terhadap penjualan BBM, khususnya Pertamax (RON 99), Nur Imam menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pemantauan lebih lanjut.

“Isu ini baru berjalan beberapa hari, dan kami masih perlu melakukan pengecekan lebih lanjut terkait dampaknya terhadap penjualan BBM jenis RON 99,” katanya.

PT Pertamina Patra Niaga, lanjutnya, tetap berkomitmen menjaga kepercayaan masyarakat dengan memastikan tidak ada praktik pengoplosan atau pelanggaran dalam distribusi BBM. Upaya pengawasan terus diperketat agar distribusi energi di Aceh tetap terjamin keamanannya.

Editor: AKil

Keluarga Temukan Jasad Remaja yang Hilang Terseret Arus di Pantai Riting

0
Proses evakuasi jenazah korban yang tenggelam di Pantai Riting, Aceh Besar. (Foto: Dok. BPBD Aceh Besar)

NUKILAN.id | Aceh Besar – Jasad M. Ikhsan Saputra (16), pelajar yang terseret arus di Pantai Riting, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Jum’at (28/2/2025) dini hari.

Jenazah korban ditemukan oleh Hamdani (38), pihak keluarga korban, sekitar pukul 03.00 WIB saat melakukan penyisiran di bibir pantai. 

“Korban ditemukan oleh pihak keliarga dalam kondisi sudah tidak bernyawa di area bibir pantai,” kata Maswani dari Pusdalops BPBD Aceh Besar dalam laporannya yang diterima Nukilan.

Jenazah Ikhsan, warga Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, langsung dievakuasi dan dibawa ke rumah duka menggunakan mobil ambulans Puskesmas Leupung.

Sebelumnya diberitakan, M. Ikhsan Saputra 16 tahun dilaporkan hilang dan tenggelam saat berenang di Pantai Riting, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Menurut keterangan saksi, korban datang ke lokasi wisata bersama rombongan dari balai pengajian tempat ia mengaji. Saat sedang mandi di pantai, korban tiba-tiba terseret arus laut dan langsung tenggelam.

“Korban bersama teman-teman seusianya pergi ke Pantai Riting. Setiba di pantai, mereka mandi bersama. Seketika teman korban melihat korban terseret oleh arus laut dan langsung tenggelam,” kata Maswani, Pusdalops BPBD Aceh Besar.

Reporter: Rezi

Meugang: Antara Tradisi dan Harga Diri

0
Penjual daging di kawasan Beurawe. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Di Aceh, tradisi Meugang dirayakan tiga kali dalam setahun, yaitu menjelang bulan Ramadhan, Idulfitri, dan Iduladha. Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Iskandar Muda dan bahkan diatur dalam Qanun atau Peraturan Daerah pada masa itu. Kala itu, Sultan memerintahkan jajarannya untuk menyembelih hewan, seperti sapi dan kambing, lalu membagikannya kepada masyarakat kurang mampu, termasuk anak yatim, janda, serta fakir miskin.

Seiring waktu, tradisi Meugang tetap lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Aceh. Perayaan ini berlangsung meriah di berbagai daerah, termasuk di ibu kota provinsi, Banda Aceh.

Dalam penelusuran pada Jumat, 28 Februari 2025, di salah satu pusat penjualan daging di kawasan Beurawe, harga daging berkisar antara Rp170 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram. Masyarakat terlihat berbondong-bondong membeli daging untuk diolah dan dinikmati bersama keluarga dalam suasana kebersamaan.

Di tengah hiruk-pikuk pasar, ada kisah menarik dari seorang tukang parkir bernama Samsul yang sehari-hari bekerja di kawasan tersebut. Ia meminta izin kepada pelanggan agar uang parkir yang biasanya bertarif Rp1 ribu bisa dinaikkan menjadi Rp2 ribu.

“Bang, mohon izin ya, kembalian-nya Rp3 ribu, saya lagi kumpulin uang untuk beli daging Meugang. Sudah tiga hari ini saya melakukan seperti itu, dan rata-rata mengizinkannya, bang. Bagaimanapun anak saya harus bisa merasakan Meugang, walaupun cuma 1 kg daging,” ujarnya lirih.

Mengetahui hal itu, saya pun menawarkan agar Samsul mengambil seluruh uang pecahan Rp5 ribu yang saya berikan. Raut wajahnya seketika berubah sumringah.

Saat ini, Meugang bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi simbol harga diri bagi seorang kepala keluarga yang merasa wajib membawa pulang daging untuk keluarganya. Dalam bahasa Aceh, ada ungkapan yang mencerminkan kondisi ini: “Na jeut, hana hanjeut”—kalau ada, boleh; kalau tidak ada, harus ada.

Di tengah tingginya harga daging dan sulitnya perekonomian, sejumlah gampong di Banda Aceh dan Aceh Besar memiliki inisiatif untuk membantu warganya. Melalui Badan Usaha Milik Gampong (BUMG), mereka mengumpulkan dana sepanjang tahun untuk menyediakan daging Meugang bagi masyarakat. Setiap warga yang terdaftar mendapatkan kupon daging, sehingga tidak ada yang terlewat merasakan kebahagiaan Meugang.

Ketika berita ini ditulis, suasana Meugang hampir usai. Malam ini, umat Islam di Aceh akan melaksanakan salat Tarawih pertama, dan esok hari memasuki bulan suci Ramadhan. Semoga perekonomian semakin membaik ke depan, sehingga setiap kepala keluarga tidak lagi merasa cemas ketika Meugang tiba.

Editor: Akil

Harga Daging Sapi di Darussalam Rp170-180 ribu per kg, Kerbau Rp200 ribu

0
Aktivitas penjualan daging sapi dan kerbau meugang di seputaran Simpang Galon, Kopelma Darussalam, Jumat (28/2/2025). (Foto: Nukilan/Sammy)

Nukilan.id – Harga daging sapi meugang menyambut Ramadan 1446 H yang dijual di seputaran Simpang Galon, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Jumat (28/2/2025) dibanderol dengan harga Rp170 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram. Sementara daging kerbau dijual dengan harga Rp200 ribu per kilogram.

Salah seorang pedagang, Rusdi mengatakan ia menjual daging sapinya seharga Rp180 ribu per kilogram, sedangkan daging kerbau dijual Rp200 per kilogram. Sapi dan kerbau ini dibawa dari Lambaro Angan, Aceh Besar.

“Untuk penjualan hari ini sudah lumayanlah. Kemarin sudah terjual dua ekor sapi,” sebutnya kepada Nukilan, Jumat (28/2/2025).

Sementara pedagang lainnya, Basri menyebutkan ada perbedaan harga untuk daging sapi yang dijualnya. Untuk paha belakang dijual seharga Rp180 ribu per kilogram, sementara daging paha depan dijual lebih murah sedikit, yaitu Rp170 ribu per kilogram.

“Untuk penjualan bagi saya masih sama dengan tahun kemarin. Selama dua hari ini sudah terjual empat ekor sapi,” katanya. []

Reporter: Sammy

Aceh Besar Dorong Pengembangan Wisata Pulau Terluar

0
Mercusuar Wiliam Toren yang menjadi ikon pariwisata Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kabupaten Aceh Besar terus mendorong pengembangan sektor pariwisata, terutama di kawasan pulau terluar yang menyimpan potensi besar. Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Aceh Besar mengajak para pelaku usaha pariwisata untuk berinvestasi dan mengembangkan destinasi di wilayah tersebut.

Ketua Dewan Pengawas ASPPI Aceh Besar, Kisswoyo, menegaskan bahwa pulau-pulau terluar di kabupaten ini memiliki daya tarik luar biasa, khususnya wisata bahari yang belum banyak dieksplorasi.

“Pariwisata pulau terluar di Aceh Besar yang bisa dikembangkan, antara lain, Pulau Beras dan Pulau Nasi di Kecamatan Pulo Aceh serta Pulau Bunta dan Pulau Tuangku di Kecamatan Peukan Bada,” ujarnya di Banda Aceh, Kamis (27/2/2025).

Salah satu destinasi unggulan adalah Pulau Beras atau Pulau Breuh. Selain panorama laut yang memukau, pulau ini menyimpan sejarah dengan keberadaan Mercusuar William Toren, peninggalan kolonial Belanda yang telah berusia 145 tahun.

Mercusuar ini bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi daya tarik wisata karena keunikan arsitekturnya.

“Mercusuar tersebut bernama William Toren. Mercusuar itu sudah berusia 145 tahun. Bangunan mercusuar William Toren hanya ada tiga di dunia. Selain di Pulau Beras, mercusuar William Toren dibangun di Belanda dan Kepulauan Karabia,” kata Kisswoyo.

Potensi wisata pulau terluar di Aceh Besar diharapkan bisa menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi unggulan, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Editor: AKIL

Satpol PP Banda Aceh Tegaskan PKL Harus Ikuti Aturan 

0
Plt Kasatpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Muhammad Rizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Setelah dilakukan penertiban pada 8 Januari 2025 lalu, pedagang kaki lima (PKL) kembali marak berjualan di sepanjang Jalan Syiah Kuala, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kasatpol PP dan WH Banda Aceh, Muhammad Rizal, menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan imbauan serta tindakan sesuai aturan yang berlaku.

“Kami terus mengimbau kepada PKL untuk berjualan di lokasi yang telah ditentukan atau memiliki izin resmi. Dalam pelaksanaannya kami akan mengambil kebijakan,” kata Muhammad Rizal saat diwawancarai Nukilan, Jum’at (28/2/2025).

Ia juga mengingatkan para pedagang agar tidak menunggu sampai ada tindakan langsung dari Satpol PP. “Jangan sampai nanti kami sudah turun ke jalan mengambil kebijakan, karena tentu akan merugikan para pedagang sendiri,” ujarnya.

Terkait pedagang takjil, Muhammad Rizal menjelaskan lokasi penjualan sudah ditentukan dalam rapat bersama Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kota Banda Aceh.

“Kemarin telah dilakukan rapat mengenai lapak bagi pedagang takjil, sehingga mereka memiliki tempat yang jelas dan tertib,” katanya.

Selain itu, Satpol PP dan WH Banda Aceh juga menegaskan terkait penjualan nasi pada siang hari selama bulan Ramadan akan mendapatkan tindakan tegas. 

“Ini bukan hanya berbicara sebagai petugas, tetapi juga sebagai masyarakat Aceh. Siapa pun yang menjual nasi di siang hari selama Ramadan akan kami tindak dan angkut,” tegasnya.

Ia berharap agar selama bulan Ramadan, penegakan syariat Islam semakin ditingkatkan dan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk. “Kami mohon dukungan dari seluruh masyarakat agar bulan Ramadan dapat menunaikan ibadah dengan lancar,” tutupnya.

Reporter: Rezi

MPU Aceh: Tradisi Meugang Harus Dijaga dan Dimaknai dengan Bijak

0
Suasana meugang di Pasar Kampong Ateuk, Banda Aceh. (Foto: Nukilan/Reji)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Tradisi Meugang, ritual makan daging bersama yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh, harus terus dilestarikan dan dimaknai dengan bijak. Hal ini disampaikan oleh anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Komisi B, Tgk. H. Abdul Gani Isa, dalam dialog interaktif bersama RRI Banda Aceh, Kamis (27/2/2025).

“Tradisi yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh ini harus terus berjalan. Karena melalui kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar,” ujarnya.

Menurutnya, Meugang bukan sekadar perayaan, tetapi juga memiliki nilai sosial dan religius yang mendalam. Ia menegaskan bahwa Meugang seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ajang hura-hura semata. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan momentum untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang mampu.

“Meugang bisa menjadi kesempatan untuk berbagi dengan masyarakat yang kurang mampu, terutama oleh mereka yang diberikan karunia lebih oleh Allah SWT. Dengan Meugang, orang-orang yang mampu dapat berbagi kepada sesama, sehingga tradisi ini tidak hanya menjadi ritual semata, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian sosial,” katanya.

Tgk. H. Abdul Gani Isa juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga kelangsungan Meugang. Dukungan dari berbagai pihak diperlukan agar tradisi ini tetap berlangsung dengan manfaat yang maksimal bagi seluruh lapisan masyarakat.

Ia berharap adanya mekanisme yang lebih baik dalam pelaksanaan Meugang, sehingga esensi dan manfaat dari tradisi ini tetap terjaga. Baginya, Meugang tidak hanya soal menikmati hidangan daging, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan ukhuwah di antara masyarakat Aceh.

“Mari kita teruskan tradisi ini dengan penuh makna dan manfaat,” ajaknya.

Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial, Meugang dapat terus menjadi tradisi yang tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh di masa mendatang.

Editor: AKil

Seorang Remaja Hilang Terseret Arus di Pantai Riting Aceh Besar

0
Upaya pencarian korban tenggelam di Pantai Riting, Aceh Besar, pada Kamis 27 Februari 2025. (Foto: Dok. BPBD Aceh Besar)

NUKILAN.id | Aceh Besar – Seorang remaja berusia 16 tahun dilaporkan hilang dan tenggelam saat berenang di Pantai Riting, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar pada Kamis (27/2/2025).

Informasi yang diterima Nukilan, korban bernama M Ikhsan Saputra, warga Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, diketahui tenggelam sekitar pukul 13.10 WIB saat sedang berenang bersama teman-temannya.

Menurut keterangan saksi, korban datang ke lokasi wisata bersama rombongan dari balai pengajian tempat ia mengaji. Saat sedang mandi di pantai, korban tiba-tiba terseret arus laut dan langsung tenggelam.

“Korban bersama teman-teman seusianya pergi ke Pantai Riting. Setiba di pantai, mereka mandi bersama. Seketika teman korban melihat korban terseret oleh arus laut dan langsung tenggelam,” kata Maswani, Pusdalops BPBD Aceh Besar.

Setelah menerima laporan kejadian, petugas Pusdalops BPBD Aceh Besar segera meneruskan informasi ke petugas piket Pos SAR Banda Aceh. Tim SAR yang tiba di lokasi langsung melakukan pencarian dengan menggunakan Rubber Boat, sementara sebagian personil gabungan lainnya menyisir bibir pantai.

“Hingga pukul 18.10 WIB, korban masih belum ditemukan. Operasi pencarian untuk hari ini dihentikan karena hari sudah gelap dan akan dilanjutkan kembali pada esok hari.

Reporter: Rezi