Beranda blog Halaman 613

Aktivis Sosialisme Sebut Sekolah Rakyat Bisa Memutus Rantai Kemiskinan

0
Ketua Umum Suara Muda Kelas Pekerja, sayap pemuda Partai Buruh, Zidan Faizi. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Jakarta – Pemerintah tengah bersiap membuka Sekolah Rakyat, sebuah inisiatif pendidikan berkonsep boarding school yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sekolah ini dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun ajaran 2025/2026 dengan fasilitas gratis, termasuk biaya pendidikan, tempat tinggal, dan konsumsi.

Diharapkan, Sekolah Rakyat dapat menjadi solusi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak. Dengan model boarding school dan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman, lulusan sekolah ini diharapkan mampu bersaing di dunia kerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Namun, efektivitas konsep ini masih menjadi perdebatan. Untuk melihat lebih jauh, Nukilan.id melakukan wawancara dengan Zidan Faizi, seorang aktivis yang mengusung konsep sosialisme. Ketika ditanya apakah model boarding school ini efektif dalam memberdayakan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, ia menilai bahwa konsep ini memiliki potensi besar.

“Model boarding school berpotensi memutus rantai kemiskinan dengan memberi lingkungan stabil bagi anak miskin,” katanya pada Senin (31/3/2025).

Meski demikian, Ketua Umum Suara Muda Kelas Pekerja ini menekankan bahwa tujuan utama dari sekolah ini harus diperjelas agar tidak justru memperkuat sistem eksploitasi tenaga kerja.

“Tapi, jika sekolah ini hanya mencetak tenaga kerja untuk pasar kapitalis misalnya, kurikulum berbasis keterampilan kerja ala neoliberal, ini hanya memperkuat eksploitasi,” tambahnya.

Menurutnya, agar Sekolah Rakyat benar-benar memberikan manfaat jangka panjang, pendekatan pendidikan yang diterapkan harus lebih kritis dan tidak sekadar menghasilkan tenaga kerja.

“Boarding school harus menjadi ruang untuk pendidikan kritis yang membangkitkan kesadaran kelas, mengajarkan sejarah emansipatoris, dan membekali siswa dengan alat analisis struktural. Jika tidak, anak-anak miskin hanya akan diasingkan dari akar kelasnya dan dijadikan alat kepentingan borjuasi,” jelasnya.

Selain itu, Zidan juga menyoroti pentingnya keberlanjutan program ini. Menurutnya, Sekolah Rakyat tidak boleh menjadi proyek jangka pendek yang akhirnya mati karena anggaran yang dipotong atau dikorupsi oleh elit politik.

“Agar Sekolah Rakyat tidak jadi proyek seremonial, pemerintah harus menasionalisasi sektor strategis seperti minyak, pertambangan untuk membiayai pendidikan secara permanen, bukan mengandalkan utang atau CSR perusahaan,” tegasnya.

Lebih jauh, ia juga menekankan pentingnya pengawasan yang melibatkan berbagai pihak agar transparansi dan keberlangsungan sekolah ini tetap terjaga.

“Bangun partisipasi rakyat langsung dalam pengawasan sekolah melalui dewan guru-siswa-orang tua yang demokratis,” imbuhnya.

Zidan menilai bahwa kebijakan pendidikan yang berkelanjutan juga harus didukung dengan perubahan sistemik pada regulasi yang mengatur sektor pendidikan.

“Hapuskan UU yang mengkomersialisasi pendidikan seperti UU BHP versi lama. Tanpa perubahan sistemik, Sekolah Rakyat akan mati oleh anggaran yang dipotong atau dikorupsi oleh elit politik,” pungkasnya.

Dengan berbagai tantangan dan potensi yang ada, pelaksanaan Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya menjadi solusi sesaat, tetapi benar-benar mampu menjadi wadah pendidikan yang memberikan dampak nyata bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. (XRQ)

Reporter: AKil

Sekolah Rakyat, Harapan Baru atau Sekadar Tambal Sulam?

0
Sekolah Rakyat Dimulai Tahun Ini, Kesempatan Pendidikan Gratis bagi Keluarga Miskin. (Foto: Suara Nanggroe)

NUKILAN.id | Jakarta – Pemerintah tengah bersiap membuka Sekolah Rakyat, sebuah inisiatif pendidikan berkonsep boarding school yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sekolah ini dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun ajaran 2025/2026 dengan fasilitas sepenuhnya gratis, mencakup biaya pendidikan, tempat tinggal, dan konsumsi.

Dengan konsep asrama dan kurikulum yang dirancang agar relevan dengan kebutuhan zaman, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi solusi bagi anak-anak kurang mampu untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Harapannya, lulusan sekolah ini dapat bersaing di dunia kerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun, gagasan ini menuai beragam tanggapan. Nukilan.id berbincang dengan Zidan Faizi, seorang aktivis sosialisme, yang mengapresiasi langkah pemerintah, tetapi juga mengkritisinya dari sudut pandang yang lebih luas.

“Sekolah Rakyat patut diapresiasi sebagai upaya mengurangi ketimpangan akses pendidikan,” kata Zidan kepada Nukilan.id pada Senin (31/3/2025).

Meski demikian, ia menilai program ini belum menyentuh akar permasalahan utama, yaitu ketimpangan struktural yang dihasilkan oleh sistem ekonomi saat ini.

“Pendidikan gratis dan asrama hanya mengatasi gejala, bukan penyebab,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa kemiskinan tidak berdiri sendiri, melainkan diproduksi oleh sistem ekonomi yang, menurutnya, mengeksploitasi kelas pekerja dan meminggirkan mereka dari ruang-ruang demokrasi.

“Selama kemiskinan diproduksi oleh formasi ekonomi yang mengeksploitasi pekerja, merampas tanah rakyat secara ugal-ugalan, dan meminggirkan kelas pekerja dalam demokrasi langsung di ruang kerja, program seperti ini hanya akan menjadi ‘tambal sulam’,” tegasnya.

Menurut Zidan, perbaikan sistem pendidikan harus dibarengi dengan reformasi yang lebih mendasar dalam pengelolaan sumber daya ekonomi. Tanpa itu, katanya, pendidikan gratis hanya akan menjadi alat untuk mempertahankan status quo.

“Pendidikan harus dibarengi dengan penghapusan hak kepemilikan privat atas sumber daya ekonomi (seperti tanah, industri, dan pendidikan) yang dikontrol segelintir elit,” paparnya.

Jika tidak ada perubahan dalam struktur kepemilikan ekonomi, ia khawatir Sekolah Rakyat hanya akan menjadi mekanisme baru untuk mencetak tenaga kerja murah.

“Tanpa itu, Sekolah Rakyat hanya akan menjadi ‘pabrik yang memproduksi pekerja murah’ yang akan selalu melanggengkan status quo,” pungkasnya.

Meski menuai kritik, program Sekolah Rakyat tetap menjadi langkah konkret pemerintah dalam membuka akses pendidikan bagi kelompok masyarakat kurang mampu. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah ini solusi jangka panjang atau sekadar tambal sulam dari permasalahan yang lebih besar? (XRQ)

Reporter: AKil

Dua Pengendara Sepeda Motor Tewas dalam Kecelakaan di Bireuen

0
Ilustrasi Meninggal. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Artem_Furman)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kecelakaan maut terjadi di Jalan Nasional Medan-Banda Aceh, tepatnya di Desa Pante Pisang, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, pada Sabtu (29/3/2025) sekitar pukul 23.00 WIB. Insiden yang melibatkan dua sepeda motor dan satu mobil sedan ini mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka ringan.

Direktur Lalu Lintas Polda Aceh, Kombes Pol M Iqbal Alqudusy, mengonfirmasi bahwa kecelakaan tersebut sempat menyebabkan kemacetan di jalan nasional tersebut.

Korban meninggal dunia adalah Imam Rizki (17), warga Desa Croh Kumbang, Kecamatan Kuta Blang, dan Nofrizal (35), warga Desa Ujong Blang Mesjid, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen. Sementara itu, dua korban luka ringan adalah Saputra Mulia (18), yang merupakan penumpang sepeda motor Imam Rizki, serta Fitratul Miranda (29), yang berboncengan dengan Nofrizal.

Berdasarkan keterangan polisi, kecelakaan bermula ketika Imam Rizki yang berboncengan dengan Saputra Mulia melaju dari arah timur menuju Kota Bireuen. Saat berusaha mendahului sebuah sedan di depannya, sepeda motor yang dikendarainya melebar ke kanan jalan dan bertabrakan dengan sepeda motor Nofrizal yang datang dari arah berlawanan. Benturan keras tersebut membuat kedua sepeda motor terpental dan menabrak sedan yang ada di jalur tersebut.

“Setelah kedua sepeda motor tersebut bertabrakan, kedua kendaraan itu kembali bertabrakan dengan sedan. Tabrakan menyebabkan pengendara dan penumpang sepeda motor terjatuh ke aspal jalan,” ujar Kombes Pol M Iqbal Alqudusy.

Saat kejadian, kondisi jalan dalam keadaan gelap karena malam hari. Jalan yang lurus dengan satu jalur dua arah itu memiliki permukaan kering, sementara arus lalu lintas sedang dan tidak terlalu ramai.

Pihak kepolisian setempat telah menangani kejadian ini dan mengamankan ketiga kendaraan yang terlibat sebagai barang bukti. Saat ini, kondisi lalu lintas di lokasi kejadian sudah kembali normal.

“Kecelakaan lalu lintas tersebut ditangani polantas setempat. Ketiga kendaraan bermotor terlibat kecelakaan sudah diamankan sebagai barang bukti. Kondisi arus lalu lintas usai kejadian aman dan lancar,” kata M Iqbal Alqudusy.

Kepolisian mengimbau pengendara untuk selalu berhati-hati saat berkendara, terutama pada malam hari, serta mematuhi aturan lalu lintas guna menghindari kejadian serupa.

Editor: Akil

Pemerintah Aceh Pulangkan Lima Warga Korban TPPO di Myanmar

0
Pemerintah Aceh Pulangkan Lima Warga Korban TPPO di Myanmar. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Lima warga Aceh yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Myanmar akhirnya dipulangkan ke kampung halaman mereka, Minggu (30/3/2025). Pemulangan ini difasilitasi oleh Pemerintah Aceh melalui Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) setelah sebelumnya mereka sempat tertahan di Jakarta.

“Hal ini merupakan arahan langsung dari Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh untuk memfasilitasi warga Aceh yang jadi korban TPPO di Myanmar,” kata Plt Kepala BPPA Said Marzuki saat dihubungi dari Banda Aceh.

Kelima warga tersebut merupakan bagian dari 11 warga Aceh yang sebelumnya telah dievakuasi dari Myanmar. Enam orang di antaranya sudah lebih dulu kembali ke Aceh dengan bantuan keluarga masing-masing, sementara lima orang lainnya harus menunggu di rumah singgah milik Pemerintah Aceh di Jakarta sejak tiba pada 20 Maret lalu.

Hari ini, kelima warga tersebut akhirnya dapat dipulangkan dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, berkat kerja sama antara BPPA dan Dinas Sosial Aceh.

Pemerintah Indonesia sebelumnya telah memulangkan sebanyak 564 WNI yang menjadi korban penipuan pekerjaan online di Myanmar. Proses pemulangan ini melibatkan Satgas Gabungan dari KBRI Yangon, KBRI Bangkok, dan Polri di bawah koordinasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

“Kita mewakili Pemerintah Aceh Jakarta menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri, serta pihak lainnya yang terlibat,” ujar Said.

Adapun lima warga Aceh yang dipulangkan hari ini adalah Syahrul Ramazan (22) asal Angkieng Barat, Samalanga, Bireuen; Riza Fadillah (26) warga Matang Seulimeng, Langsa Barat, Kota Langsa; Alfandi Pratama (27) asal Laksmana, Jumpa, Bireuen; Muklis Saputra (27) dan Muhammad Jafar (21) yang berasal dari Gelanggang Gampong, Kota Juang, Bireuen.

Pemulangan ini menjadi harapan baru bagi para korban untuk bisa kembali menjalani kehidupan yang lebih baik setelah pengalaman pahit mereka di luar negeri.

Editor: Akil

Gubernur Aceh Santuni Anak Yatim dan Melepas Pawai Takbir Idul Fitri

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf bersama Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, SE dan Unsur Forkopimda Aceh, saat melepas Musabaqah Pawai Takbir Idul Fitri 1446H/2025 M di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu, (30/3/2025). (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Ribuan masyarakat memadati kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (30/3/2025) malam, untuk menyaksikan kemeriahan Pawai Takbir Idul Fitri 1446 Hijriah. Acara tahunan yang menjadi tradisi dalam menyambut hari kemenangan ini dilepas langsung oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, didampingi Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh.

Namun, ada yang berbeda pada perayaan tahun ini. Sebelum melepas peserta pawai, Gubernur Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem, bersama Wakil Gubernur dan Forkopimda Aceh, menyerahkan santunan kepada anak yatim dan penyandang disabilitas. Aksi ini menjadi simbol kepedulian dan semangat berbagi di hari yang penuh berkah.

Dalam sambutannya, Mualem mengajak masyarakat Aceh untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum mempererat kepedulian sosial dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah dijalankan selama bulan Ramadhan.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada seluruh masyarakat Aceh. Mari kita jadikan momentum Idul Fitri sebagai sarana mengaplikasikan segala hal baik yang telah kita lakukan di Bulan Ramadhan, semakin peduli pada sesama, saling tolong menolong. Insya Allah kita semua menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa,” ujar Mualem.

Prosesi pelepasan Pawai Takbir ditandai dengan pemukulan beduk oleh Gubernur Aceh, yang kemudian diikuti oleh Wakil Gubernur. Suasana semakin semarak dengan gema takbir yang berkumandang di seluruh penjuru kota.

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Zahrol Fajri, dalam laporannya menyampaikan bahwa Pawai Takbir Idul Fitri tahun ini diikuti oleh 40 tim dengan total peserta mencapai 2.000 orang. Mereka berkeliling kota membawa berbagai ornamen bernuansa Islami, disambut antusias oleh masyarakat yang memadati ruas-ruas jalan protokol.

Acara ini juga dihadiri oleh Plt Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, Tuha Peut Wali Nanggroe Aceh, Sulaiman Abda, serta para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh dan tamu undangan lainnya.

Gema takbir, kebersamaan, dan semangat berbagi yang tercermin dalam kegiatan ini semakin menguatkan makna Idul Fitri sebagai momen penuh keberkahan bagi masyarakat Aceh.

Editor: Akil

Israel Tutup Akses Masjid Ibrahimi untuk Salat Idulfitri

0
Israel Tutup Akses Masjid Ibrahimi untuk Salat Idulfitri. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Jakarta – Umat Muslim di Hebron, Tepi Barat selatan, harus menghadapi kenyataan pahit saat Israel menutup akses ke Masjid Ibrahimi pada hari Idulfitri. Keputusan ini mendapat kecaman dari Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina, yang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beribadah.

“Pendudukan (Israel) menolak menyerahkan Masjid Ibrahimi, termasuk seluruh aula, halaman, dan bagian-bagiannya, untuk perayaan Idulfitri yang penuh berkah,” kata Menteri Wakaf Mohamed Najm dalam sebuah pernyataan.

Najm juga menyoroti bahwa ini bukan kali pertama pembatasan semacam ini terjadi. Sejak awal Ramadan, Israel telah menolak membuka seluruh bagian masjid bagi umat Muslim sebanyak enam kali. Ia menilai tindakan ini sebagai bentuk provokasi terhadap sentimen Muslim serta pengabaian terhadap kesucian ritual keagamaan.

Situasi ini memicu seruan kepada warga Hebron untuk tetap menghadiri salat subuh dan Salat Idulfitri sebagai bentuk keteguhan dalam menghadapi rencana Yahudisasi di wilayah pendudukan tersebut.

Keputusan Israel menutup akses ke Masjid Ibrahimi terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Tepi Barat. Sejak serangan Israel ke Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 940 warga Palestina tewas dan hampir 7.000 lainnya terluka akibat serangan tentara Israel serta pemukim ilegal, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Masjid Ibrahimi, yang terletak di Kota Tua Hebron, berada di bawah pendudukan Israel dan dijaga ketat oleh sekitar 1.500 tentara. Sekitar 400 pemukim ilegal juga tinggal di wilayah ini, menambah kompleksitas konflik yang terjadi.

Sejarah panjang ketegangan di Masjid Ibrahimi semakin diperburuk sejak insiden tragis tahun 1994. Saat itu, seorang pemukim ilegal menembaki jemaah Muslim yang sedang beribadah, menewaskan 29 orang. Pasca kejadian tersebut, Israel membagi masjid menjadi dua bagian: 63 persen diperuntukkan bagi orang Yahudi, termasuk ruang salat utama, sementara umat Muslim hanya mendapat 37 persen area masjid.

Mahkamah Internasional dalam keputusannya pada Juli lalu menyatakan bahwa pendudukan Israel di wilayah Palestina adalah ilegal. Pengadilan tersebut menyerukan agar semua permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur dievakuasi.

Di tengah berbagai tekanan internasional, keputusan Israel untuk kembali menutup akses ke salah satu situs suci umat Islam ini semakin memperburuk situasi di wilayah pendudukan. Sementara dunia merayakan Idulfitri dengan sukacita, warga Palestina di Hebron justru harus menghadapi ketidakadilan yang terus berulang.

Editor: Akil

Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Idul Fitri

0
Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia. (Foto: Biro Pers Skretariat Presiden)

NUKILAN.id | Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah kepada seluruh umat Islam di Indonesia dan dunia.

Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Minggu (30/3/2025), Prabowo menegaskan makna Lebaran sebagai momen suci untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan menjadi pribadi yang lebih baik.

“Saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, atas nama pemerintah Republik Indonesia dan atas nama pribadi, mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1446 Hijriah kepada seluruh umat Islam di Tanah Air dan di seluruh dunia,” ucap Prabowo.

Presiden juga menekankan bahwa Idul Fitri merupakan momentum kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan. Ia mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjadikan momen ini sebagai kesempatan memperkokoh persatuan dan solidaritas sosial.

“Idul Fitri adalah momen suci untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan meneguhkan kembali komitmen kita sebagai pribadi untuk menjadi lebih baik, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama,” ujar Prabowo.

Lebaran, kata Prabowo, bukan sekadar perayaan, tetapi juga refleksi dalam membangun bangsa yang lebih adil dan sejahtera. Nilai-nilai yang terkandung dalam Idul Fitri diharapkan dapat menjadi pijakan dalam memperkuat kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat.

“Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia di mana pun berada untuk menjadikan Idul Fitri ini sebagai kekuatan dalam memperkokoh persatuan bangsa, memperkuat solidaritas sosial, dan membangun masa depan Indonesia yang lebih adil, lebih makmur, dan berkeadaban untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, Presiden Prabowo menyampaikan doa agar Idul Fitri tahun ini membawa keberkahan bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” imbuhnya.

Editor: Akil

Plt Sekda Aceh: Daftar Proyek Strategis Aceh yang Beredar Bukan Susunan Gubernur Mualem

0
M Nasir Syamaun, Plt Sekda Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamuan, menegaskan bahwa daftar Proyek Strategis Aceh (PSA) yang beredar di publik bukan merupakan susunan Gubernur Aceh saat ini, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem. Hal itu disampaikan dalam keterangannya dikutip dari Dialeksis.com pada Sabtu (29/3/2025).

“Itu bukan Gubernur Mualem yang susun, masih punya lama brother,” ujarnya.

Nasir menjelaskan bahwa daftar PSA yang beredar masih dalam bentuk rancangan dan belum ditandatangani sebagai Surat Keputusan (SK) oleh Gubernur Aceh. Oleh karena itu, proyek-proyek yang masih berstatus usulan tersebut perlu dikaji ulang sebelum ditetapkan.

“Jadi, masih draft dan sudah dikembalikan untuk dilakukan pembahasan kembali guna menyesuaikan dengan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Mualem – Dek Fadh,” tambahnya.

Lebih lanjut, Nasir menyoroti perlunya menelusuri bagaimana draft tersebut bisa beredar ke publik sebelum resmi ditetapkan. Menurutnya, informasi yang belum final seharusnya tidak dipublikasikan agar tidak menimbulkan polemik.

“Harusnya, yang sudah final baru boleh dilaporkan ke publik melalui media massa, sehingga tidak menimbulkan polemik,” tutupnya.

Senada dengan pernyataan Sekda Aceh, Plt Kepala Bappeda Aceh, Dr. Husnan Harun, ST. M.P, juga menegaskan bahwa hingga saat ini proyek strategis Aceh belum diputuskan oleh Gubernur Aceh. Menurutnya, setiap proyek yang masuk dalam PSA harus sesuai dengan visi dan misi kepemimpinan saat ini.

“Saat ini yang sudah hampir final pembahasannya adalah program Quick Wins,” pungkasnya.

Editor: Akil

H-1 Lebaran, Pedagang Petasan di Kota Fajar Kebanjiran Pembeli

0
Pembeli sedang memilih petasan pada salah satu lapak di Kota Fajar Aceh Selatan. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Suasana malam takbiran semakin terasa di Kota Fajar, Aceh Selatan. Sehari menjelang Idul Fitri, lapak-lapak pedagang petasan dipadati pembeli, terutama anak-anak yang tak ingin melewatkan momen spesial ini tanpa gemerlap kembang api dan letusan petasan.

Rara, salah satu pedagang petasan di Kota Fajar, mengaku dagangannya laris manis di penghujung Ramadan. Menurutnya, anak-anak menjadi pelanggan utama yang datang bersama orang tua mereka.

“Anak-anak memang yang paling bersemangat. Setiap tahunnya, mereka datang dengan pengawasan orang tua untuk membeli petasan yang mereka inginkan. Kami harus cepat mengisi ulang persediaan jika barang yang laku keras telah habis,” ungkap Rara kepada Nukilan.id, Minggu (30/3/2025).

Puncak penjualan terjadi pada H-1 Lebaran, di mana omzet Rara melonjak drastis. Selain petasan, ia juga menyediakan berbagai jenis kembang api dengan harga yang bervariasi.

“Selain petasan, saya juga menjual berbagai jenis kembang api dengan harga yang beragam,” tuturnya.

Harga petasan di lapaknya berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 60.000 per bungkus. Dengan lonjakan pembeli, ia mengaku bisa meraup keuntungan hingga setengah juta rupiah per hari.

“Alhamdulillah, omzet yang saya dapatkan setiap harinya bisa mencapai Rp 200-500 ribu,” ujarnya.

Sementara itu, Azwa, salah seorang remaja yang membeli petasan untuk perayaan malam takbiran, mengaku antusias menyambut Idul Fitri dengan kembang api bersama teman-temannya.

“Kami memang sudah membeli beberapa petasan untuk malam takbiran nanti. Tapi kami sadar, keselamatan tetap nomor satu,” ujar Azwa sambil menunjukkan beberapa petasan yang baru saja ia beli.

Di sisi lain, Anton, seorang ayah dari dua anak, mengaku tetap berhati-hati dalam memperkenalkan petasan kepada anak-anaknya. Ia memilih membeli jenis kembang api yang lebih aman dan memberikan pesan penting kepada orang tua lainnya.

“Kita boleh saja membelikan petasan, tapi kita harus ingat untuk tetap mengawasi anak-anak kita. Kesenangan Lebaran tidak boleh berujung pada bahaya,” kata Anton dengan tegas.

Menjelang malam takbiran, suasana Kota Fajar semakin semarak. Cahaya kembang api menghiasi langit, sementara dentuman petasan menambah kemeriahan perayaan Idul Fitri di daerah tersebut. (XRQ)

Reporter: AKil

Akhir Ramadan, Semulin Tetap Jadi Primadona

0
Semulin, pucuk rotan yang diolah menjadi masakan khas Suku Kluet Aceh Selatan. (Foto: DetikTravel)

NUKILAN.id | Tapaktuan Menjelang akhir Ramadan, penjualan Semulin atau pucuk rotan di Kota Fajar, Aceh Selatan, tetap diburu warga. Makanan khas masyarakat Kluet ini menjadi salah satu jajanan favorit untuk berbuka puasa.

“Ramadan tahun ini meningkat sekali penjualannya,” kata Wahida, salah satu pedagang Semulin di Pasar Kota Fajar, Aceh Selatan, Minggu (30/3/2025).

Semulin merupakan makanan tradisional yang berasal dari pucuk rotan muda. Tidak semua jenis rotan bisa diolah, hanya batang muda tertentu yang dipilih. Setelah dibakar, bagian dalamnya yang lembut diambil dan disajikan sebagai kudapan khas.

Di bulan Ramadan, permintaan terhadap Semulin melonjak drastis. Wahida mengaku bisa menjual ratusan batang setiap hari selama bulan puasa. Semulin dijual dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per batang.

“Kalau hari biasanya itu memang jarang orang beli. Saat Ramadan ini bisa terjual 300 – 500 batang setiap harinya,” ujarnya.

Tak hanya lezat, Semulin juga memiliki nilai tradisional yang kental. Maulidin Selian, salah satu pembeli, mengungkapkan bahwa Semulin bukan sekadar camilan, tetapi juga warisan kuliner yang terus dijaga oleh masyarakat Kluet.

“Selain dinikmati sebagai santapan, mengonsumsi Semulin juga dapat menghadirkan kesehatan bagi tubuh kita di masa bulan Ramadan ini,” katanya.

Semulin menjadi bukti bagaimana kuliner tradisional tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern. Kehadirannya di bulan Ramadan tidak sekadar mengisi meja makan, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. (XRQ)

Reporter: Akil