Beranda blog Halaman 524

Kepala DPKA Ajak Masyarakat “Berpuasa” di Mall Baca Selama Ramadhan

0
Perpustakaan Wilayah Aceh. (Foto: Arpus)

NUKILAN.id | BANDA ACEH – Memasuki bulan suci Ramadhan, masyarakat Aceh diajak untuk mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat, salah satunya dengan berkunjung ke Mall Baca yang berlokasi di Pustaka Wilayah Aceh. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA), Edi Yandra, mengajak masyarakat menjadikan Mall Baca sebagai tempat meningkatkan ilmu dan memperdalam wawasan selama bulan puasa.

“Selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh masyarakat. Mari kita isi Ramadhan tahun ini dengan kegiatan bermanfaat, seperti memperbanyak tadarus dan amalan baik lainnya, termasuk berkunjung ke Mall Baca,” ujar Edi Yandra, Minggu (2/3/2025).

Menurutnya, Mall Baca menyediakan berbagai pilihan buku yang bisa menjadi teman di sela-sela ibadah puasa. Dari buku keagamaan, ilmu pengetahuan, hingga literatur populer, semua tersedia untuk menambah wawasan masyarakat.

“Banyak bahan bacaan yang bisa dinikmati di Mall Baca, mulai dari buku-buku agama maupun buku ilmu pengetahuan dan buku-buku menarik lainnya,” sambungnya.

Seiring datangnya bulan Ramadhan, jam operasional Mall Baca mengalami sedikit perubahan.

“Selama Ramadhan, jam operasional Mall Baca berubah. Senin-Kamis, Mall Baca buka sejak pukul 08.30 WIB hingga 15.00 WIB. Khusus Jumat, Mall Baca buka pukul 08.30 WIB hingga 16.00 WIB. Sementara Sabtu dan Minggu, Mall Baca buka pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB,” jelas Edi Yandra.

Namun, ia juga menginformasikan bahwa layanan Theater Library untuk sementara waktu ditutup selama Ramadhan dan baru akan dibuka kembali setelah libur lebaran.

Di akhir pernyataannya, Edi Yandra kembali mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum Ramadhan dengan hal-hal positif.

“Mari perbanyak amalan baik dan kegiatan positif selama Ramadhan, salah satunya tentu saja dengan berkunjung dan menimba ilmu dengan bahan bacaan bermutu di Mall Baca Aceh,” pungkasnya.

Ajakan ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus menjadikan Ramadhan sebagai bulan penuh manfaat, tidak hanya untuk ibadah tetapi juga untuk menambah wawasan dan literasi.

Editor: Akil

USK Sediakan Menu Berbuka Gratis bagi Mahasiswa dan Warga Kurang Mampu

0
USK Sediakan Menu Berbuka Gratis bagi Mahasiswa dan Warga Kurang Mampu. (Foto: USK)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Masjid Jami’ Kampus Darussalam, Banda Aceh, menyediakan takjil berbuka puasa gratis bagi mahasiswa dan warga kurang mampu selama bulan Ramadhan. Program ini menjadi bentuk kepedulian terhadap mahasiswa perantauan yang menghadapi keterbatasan ekonomi di tengah kesibukan akademik.

“Kasihan mereka yang untuk membayar uang kuliah saja susah. Keadaan di kampung susah, pendapatan orang tua tidak menentu. Untuk bertahan hidup di perantauan kuliah, mengejar prestasi, ditambah lagi uang papasan. Penganan berbuka ini tak lain adalah sentuhan guru kepada murid, tak ubahnya kerja keras orang tua untuk anaknya,” ujar Prof Mustanir, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, dikutip dari Media Indonesia, Sabtu (1/3/2025).

Pendanaan program ini bersumber dari sumbangan para dosen, civitas akademika, serta para donatur. Untuk memastikan kebersihan dan menghemat biaya, panitia penyelenggara dan pengurus masjid turut memasak sendiri beberapa menu berbuka.

Meski menu yang disediakan sederhana, berupa nasi, kue, kurma, dan air manis, program ini memberikan manfaat besar bagi mahasiswa, terutama yang jauh dari keluarga.

“Kami sangat mengharapkan dukungan semua pihak. Siapa saja boleh menikmati dan siapa saja silakan memberi dan berbagi bersama kami,” tambah Prof Mustanir, yang juga Imam Besar Masjid Jami’ USK.

Pada awal Ramadhan ini, panitia menyediakan sekitar 200 hingga 300 paket berbuka. Jika jumlah donatur bertambah, jumlah paket yang disediakan juga dapat meningkat sehingga lebih banyak mahasiswa dan warga yang merasakan manfaatnya.

Farida Hanum, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), mengaku sangat terbantu dengan program ini.

“Ini terbantu tiada terhingga untuk menutupi kebutuhan hidup selama Ramadhan. Karena bagi kedepan mahasiswa tidaklah mengutamakan kemewahan berbuka, tapi yang sangat terasa adalah adanya menu berbuka untuk lendapingi sedikit air manis pelepas lelah. Do’a kami untuk donatur semua, semoga lebih banyak lagi ikut mengulurkan tangan,” ujar alumni SMA Sukma Bangsa asal Kabupaten Pidie tersebut.

Editor: Akil

BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Barat Selatan Aceh

0
Ilustrasi Hujan Lebat dan Angin Kencang. (Foto: BNPB)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh kembali mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Aceh bagian barat dan selatan pada Minggu (2/3/2025). Hasil analisis cuaca menunjukkan adanya potensi hujan lebat yang berisiko menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang.

BMKG mencatat adanya belokan angin (shearline) dan konvergensi di wilayah Aceh, yang mendukung terbentuknya awan hujan di bagian barat Indonesia. Selain itu, anomali suhu muka laut yang lebih hangat di perairan barat, utara, dan timur Aceh semakin meningkatkan potensi penguapan, yang pada akhirnya dapat memperkuat intensitas hujan di wilayah tersebut.

“Beberapa kondisi tersebut dapat berpotensi terhadap pertumbuhan awan hujan di wilayah Aceh yg berpotensi banjir bandang terutama di wilayah Taman Nasional Gunung Lauser dan sekitarnya,” sebut BMKG dalam keterangannya.

Wilayah yang diperkirakan akan mengalami cuaca buruk meliputi Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Nagan Raya, dan Subulussalam. Masyarakat di daerah tersebut diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengantisipasi dampak yang ditimbulkan akibat curah hujan tinggi.

“Untuk masyarakat diminta waspada potensi Bencana Hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang dan lainnya akibat hujan lebat yang terus-menerus maupun dengan durasi lama,” imbuh BMKG.

BMKG juga mengimbau masyarakat yang berada di daerah rawan bencana agar segera mengambil langkah pencegahan. Warga yang tinggal di lereng bukit dan sepanjang aliran sungai disarankan untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika melihat tanda-tanda hujan deras dan awan hitam pekat.

“Apabila melihat awan tebal hitam dan hujan mulai rintik-rintik di daerah pegunungan maka masyarakat disarankan utk meninggalkan daerah lerengan serta wilayah aliran sungai,” tambah BMKG.

Selain itu, BMKG menekankan pentingnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrem. Hujan deras dan angin kencang berpotensi menyebabkan kerusakan infrastruktur, mengganggu aktivitas harian, dan bahkan membahayakan keselamatan jiwa. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu siaga dan mengikuti perkembangan informasi cuaca melalui sumber resmi.

Peringatan dini ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengantisipasi potensi bencana serta meminimalkan dampak yang ditimbulkan akibat kondisi cuaca ekstrem yang sedang berlangsung.

Editor: Akil

Gubernur Aceh dan Kalbar Cerita Kesan Selama Retret di Akmil

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. (Foto: Detik)

NUKILAN.id | Jakarta – Sejumlah kepala daerah berbagi pengalaman usai mengikuti retret kepala daerah di Akademi Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah. Dalam kesempatan buka puasa bersama Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO), di Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (1/3/2025), Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengungkapkan kesan mereka terhadap program yang berlangsung selama delapan hari tersebut.

Gubernur Aceh yang akrab disapa Mualem menilai retret tersebut penting dalam mempererat hubungan antarkepala daerah serta memperkuat persatuan di tingkat nasional.

“Ya, pada prinsipnya bagus. Dan kita dituntut untuk persatuan dan kesatuan dan menjaga status NKRI. Saya rasa untuk saling menang, saling berpaham, saling kenal satu sama lain untuk membangun daerahnya masing-masing, dan saling komunikasi,” ujar Muzakir Manaf seusai buka puasa bersama di kediaman OSO.

Lebih lanjut, Mualem berharap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat mendukung penuh kebijakan di daerah serta memperkuat sinergi antara pusat dan daerah.

“Mudah-mudahan sesuai dengan visi-misi kami, daerah masing-masing tetap kami laksanakan, dan juga kita tahu bahwa kami adalah perpanjangan tangan pemerintah,” tambahnya.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menekankan bahwa kedisiplinan menjadi nilai utama dalam agenda retret tersebut. Selain itu, program ini juga mengajak kepala daerah untuk lebih memahami permasalahan yang dihadapi bangsa dan negara.

“Kemudian, bagaimana kita memahami permasalahan daerah, bangsa, dan negara ini. Sehingga kita nanti, ya, komitmen untuk bisa membangun bangsa dan negara ke depan lebih baik daripada yang sekarang ini,” ujar Norsan.

Ia juga mengungkapkan pesan dari Presiden Prabowo yang meminta seluruh kepala daerah untuk membangun Indonesia dari tingkat paling bawah, mulai dari desa hingga ke tingkat provinsi.

“Ya, pesan Bapak Presiden, ya, kepada kami itu, ya, seluruh kepala daerah, ya, se-Indonesia, nah, kita akan membangun Indonesia ini dimulai dari desa, kemudian setingkat yang langsung kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Nah, itu, jadi kita membangun dari bawah. Nah, sehingga nanti bangsa dan negara kita akan makmur dari bawah sampai ke tingkat atas,” katanya.

Retret kepala daerah ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk menyelaraskan visi pembangunan nasional dengan kebutuhan daerah, sekaligus memperkuat koordinasi antarkepala daerah dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

Editor: Akil

Jemaah Masjid Oman Al-Makmur Antusias Ikuti Donor Darah di Malam Kedua Ramadan

0
Jemaah Masjid Oman Al-Makmur Antusias Ikuti Donor Darah di Malam Kedua Ramadan. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Jemaah Masjid Oman Al-Makmur antusias mengikuti kegiatan donor darah yang digelar pada malam kedua Ramadan. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (1/3/2025) malam, setelah salat tarawih, di halaman depan Hotel Syariah Oman Al-Makmur.

Salah satu jemaah, Ayong, mengaku rutin mendonorkan darahnya dan merasa senang bisa berbagi kepada sesama.

“Saya sangat senang bisa membantu orang-orang yang membutuhkan darah, apalagi di bulan Ramadan ini sangat dilipatgandakan pahalanya,” kata Ayong kepada Nukilan.id

Ayong menambahkan bahwa ini bukan kali pertama ia ikut serta dalam kegiatan serupa.

“Sudah dua kali melakukan donor seperti ini, pertama kali pada Ramadan tahun lalu di sini juga,” katanya.

Kegiatan donor darah ini merupakan inisiatif Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh dan telah menjadi agenda tahunan selama bulan Ramadan. PMI menggencarkan program ini dengan mendatangi masjid-masjid di Kota Banda Aceh, mengingat kebutuhan darah biasanya meningkat di awal Ramadan.

PMI berharap semakin banyak sukarelawan yang bersedia mendonorkan darahnya agar stok darah tetap terpenuhi dan bisa membantu mereka yang membutuhkan. (XRQ)

Reporter: Akil

Kisah Perantau: Menemukan ‘Rumah’ di Tanah Orang

0
Kopelma Darussalam. (Foto: Serambi)

NUKILAN.id | Feature – Matahari hampir tenggelam di ufuk barat. Sore itu, rona jingga membias di langit Banda Aceh, menyelimuti jalan-jalan di sekitar kawasan Kopelma Darussalam. Hiruk-pikuk mahasiswa yang berburu takjil menyatu dengan suara kendaraan yang berlalu-lalang. Di sebuah sudut dapur kos sederhana, Maula (22), mahasiswa semester lima asal Payakumbuh, sibuk menyiapkan makanan berbuka. Amatan Nukilan.id, tangannya lincah mengaduk Panik Cubadak, masakan khas kampung halamannya, yang menjadi obat rindu bagi seorang perantau sepertinya.

“Awalnya berat, rindu rumah itu pasti. Tapi lama-lama saya merasa di sini lebih mandiri dan nyaman,” ujar Maula sembari mengaduk wajan kecilnya. Aroma rempah yang menggugah selera menyeruak, seolah membawa bayangan rumah dan keluarga yang jauh di sana.

Merantau bagi mahasiswa bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan menemukan jati diri, melampaui batasan, dan belajar bertahan. Banyak yang akhirnya merasa bahwa tanah rantau bukan lagi tempat asing, melainkan rumah kedua yang memberi mereka kebebasan dan kesempatan untuk berkembang.

Mansur (21), mahasiswa asal Aceh Selatan yang kini menempuh studi di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, merasakan hal serupa. “Di sini saya bisa mengeksplorasi diri tanpa banyak batasan. Meski jauh dari keluarga, saya belajar bertanggung jawab pada diri sendiri. Rasanya seperti menemukan rumah baru,” katanya. Ia kini aktif dalam komunitas seni musik, menjadikannya sebagai ruang aktualisasi dan penghilang sepi.

Menemukan Nyaman di Tempat Baru

Menurut sebuah studi yang dimuat dalam jurnal The Role of Social Support in College Adjustment: A Longitudinal Study (2018), kemampuan mahasiswa perantau dalam beradaptasi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah dukungan sosial dari lingkungan sekitar. Mahasiswa yang memiliki jaringan pertemanan dan komunitas yang kuat lebih cepat menyesuaikan diri serta merasakan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi.

Adaptasi inilah yang dirasakan Maula. Meski awalnya canggung dengan kebiasaan baru di Banda Aceh, ia akhirnya menemukan ritmenya sendiri. “Saya banyak belajar dari teman-teman di sini. Bahkan, saya merasa lebih nyaman karena ada teman-teman senasib yang saling mendukung,” ujarnya dengan senyum hangat.

Selain aspek sosial, fasilitas di kota juga menjadi faktor penentu. Transportasi umum yang mudah diakses, pusat perbelanjaan, hingga fasilitas pendidikan yang memadai membuat mahasiswa perantau lebih leluasa menjalani keseharian mereka.

“Di sini saya bisa naik Trans Koetaradja ke kampus atau pergi ke perpustakaan wilayah dengan mudah. Semua lebih dekat dan praktis,” kata Mansur, yang kerap menghabiskan akhir pekan dengan menjelajahi kota.

Antara Rindu dan Mandiri

Namun, betah di tanah rantau bukan berarti tanpa tantangan. Kesepian dan rindu rumah masih kerap menyapa di sela-sela kesibukan kuliah. Mansur mengaku harus pintar-pintar mengelola keuangan, terutama untuk makan dan transportasi. “Kadang kalau lagi sulit, saya cari kerja sampingan,” ujarnya. Kini, ia menjadi relawan lembaga filantropi untuk menambah pemasukan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, Maula memilih aktif dalam organisasi pecinta alam di kampusnya. “Kami sering mengadakan acara makan bersama atau diskusi. Rasanya seperti pulang kampung,” katanya. Komunitas bukan hanya tempat berbagi cerita, tetapi juga menjadi pengganti keluarga di tanah perantauan.

Bagi Mansur, bergabung dalam komunitas musik bukan sekadar menyalurkan hobi, tetapi juga memperluas jaringan pertemanan. “Saya belajar banyak hal baru di sini, dan itu membuat saya merasa lebih diterima di tempat baru,” tuturnya.

Meski banyak tantangan, mahasiswa perantau sering kali merasa lebih nyaman di tanah asing. Adaptasi yang cepat, dukungan komunitas, serta fasilitas yang tersedia membuat mereka betah dan mampu menjalani kehidupan mandiri. Seperti yang dikatakan Maula, “Merantau mengajarkan saya arti sebenarnya dari rumah. Bukan hanya tempat, tapi bagaimana kita merasa diterima dan nyaman di mana pun kita berada.” (xrq)

Penulis: Akil

Warga Banda Aceh Berburu Takjil di Hari Pertama Ramadan

0
Suasana pasar takjil pada hari pertama di Jalan Garuda Kampung, Baru, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Sabtu 1 Maret 2025. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Aroma manis dan gurih tercium di sepanjang Jalan Garuda, Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Sabtu (1/3/2025).

Di hari pertama Ramadan 1446 Hijriah ini, jalanan dipenuhi warna-warni tenda pedagang takjil yang berjajar rapi, menyambut kedatangan warga yang berbondong-bondong mencari santapan berbuka puasa.

Pantauan Nukilan di lokasi sekitar pukul 17.30 WIB, suasana semakin ramai. 

Aneka ragam kuliner, mulai dari jajanan tradisional hingga modern tersedia untuk memenuhi selera pengunjung.

Air tebu, kelapa muda, minuman segar, serta rujak menjadi pilihan favorit banyak orang. Tidak ketinggalan, makanan khas Ramadan seperti oen peugaga, leumang, dan aneka kue turut meramaikan pilihan takjil.

Dewi, salah seorang warga yang ikut berburu takjil di lokasi tersebut, mengatakan kawasan ini memang selalu ramai setiap Ramadan. “Di sini banyak pilihan makanan, semuanya lengkap. Bahkan lauk pauk pun ada,” ujarnya. 

Selain itu, menurutnya, lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya menjadi alasan lain untuk berburu takjil di tempat ini.

Ia pun berharap dengan ramainya pengunjung, para pedagang takjil dapat memperoleh berkah dan rezeki yang melimpah selama bulan suci ini. “Semoga rejekinya lancar dan semakin banyak pelanggan yang datang,” harap Dewi.

Reporter: Rezi

Lemigas Pastikan Kualitas BBM di SPBU Sesuai Standar

0
Ilsutrasi SPBU (Foto: Dok. Pertamina)

NUKILAN.id | Jakarta – Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) menegaskan bahwa seluruh sampel Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin yang diuji memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan pemerintah. Hasil ini meredam kekhawatiran publik terkait kualitas BBM yang beredar di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Kepala Lemigas, Mustafid Gunawan, mengungkapkan bahwa pengujian dilakukan secara menyeluruh di laboratorium mereka setelah mengambil sampel dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina Plumpang serta sejumlah SPBU di berbagai wilayah, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang Selatan. Bahkan, sampel dari SPBU di Cibubur yang sempat dikunjungi Komisi XII DPR juga turut diperiksa.

“Hasil uji laboratorium Lemigas menunjukkan bahwa seluruh sampel BBM yang diperiksa berada dalam rentang batasan mutu yang dipersyaratkan (on spec),” ungkap Mustafid dalam rilis resminya, Jumat (28/2/2025).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengujian dilakukan dengan metode ASTM D4057 yang menjadi standar dalam pengambilan sampel minyak bumi. Proses pengawasan mutu ini melibatkan parameter utama seperti angka oktana (Research Octane Number/RON), massa jenis, kandungan sulfur, tekanan uap, serta distilasi, guna memastikan kualitas bahan bakar tetap sesuai standar yang telah ditetapkan.

“Nilai RON yang diukur pada setiap sampel menunjukkan hasil yang stabil dan tidak menyimpang dari spesifikasi yang berlaku,” tambah Mustafid.

RON sendiri merupakan parameter penting yang menunjukkan kualitas anti-knocking bahan bakar atau kemampuannya dalam menahan knocking saat proses pembakaran di mesin kendaraan. Semakin tinggi nilai RON, semakin baik bahan bakar dalam menjaga performa mesin. Dalam uji laboratorium, RON diuji menggunakan mesin CFR F-1 dengan metode ASTM D2699.

Di sisi lain, Plt. Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas, Mirza Mahendra, menegaskan bahwa pengawasan mutu BBM merupakan bagian dari amanat Peraturan Menteri ESDM Nomor 48 Tahun 2005. Peraturan tersebut menegaskan bahwa Direktorat Jenderal Migas bertanggung jawab dalam pembinaan dan pengawasan standar serta mutu bahan bakar yang dipasarkan di dalam negeri.

Sebagai bentuk implementasi regulasi tersebut, Ditjen Migas secara berkala mengambil sampel BBM untuk memastikan kualitasnya tetap terjaga. Mirza juga menekankan pentingnya koordinasi yang lebih erat dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pertamina dan penyedia BBM lainnya, guna menjaga kualitas bahan bakar di pasaran.

“Ditjen Migas berkomitmen menjalankan pengawasan mutu yang komprehensif demi melindungi konsumen serta memastikan bahan bakar yang digunakan masyarakat aman dan tidak merugikan,” ujarnya.

Penegasan ini muncul di tengah maraknya perbincangan publik mengenai dugaan adanya BBM oplosan, terutama setelah Kejaksaan Agung menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembelian RON 92 (Pertamax). Menanggapi hal itu, PT Pertamina (Persero) menepis anggapan bahwa Pertamax merupakan BBM oplosan, dengan menegaskan bahwa produk tersebut tetap sesuai standar RON 92 dan memenuhi semua parameter kualitas bahan bakar yang telah ditetapkan Kementerian ESDM.

Dengan hasil uji laboratorium dari Lemigas ini, masyarakat diharapkan dapat lebih tenang dan percaya bahwa BBM yang mereka gunakan telah memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

Editor: Akil

Zelensky Optimistis Hubungan dengan AS Bisa Diperbaiki Usai Perseteruan dengan Trump

0
Zelensky Optimistis Hubungan dengan AS Bisa Diperbaiki Usai Perseteruan dengan Trump. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Jakarta – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tetap optimistis bahwa hubungan negaranya dengan Amerika Serikat (AS) dapat diperbaiki, meskipun ia baru saja terlibat pertikaian sengit dengan Presiden AS Donald Trump.

“Tentu saja [hubungannya dengan AS bisa diperbaiki],” ujar Zelensky dalam wawancara bersama Fox News, jaringan media yang dikenal dekat dengan Trump.

Zelensky menekankan bahwa hubungan antara AS dan Ukraina lebih dari sekadar komunikasi antara dua kepala negara. Ia juga menggarisbawahi pentingnya dukungan AS bagi Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.

Ketegangan di Gedung Putih

Perseteruan antara Zelensky dan Trump terjadi dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih yang berlangsung panas. Dalam perdebatan tersebut, Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance dikabarkan meninggikan suara kepada Zelensky, menuduhnya tidak tahu berterima kasih dan menolak menerima syarat gencatan senjata yang diajukan AS.

Ketegangan itu memaksa Zelensky meninggalkan Gedung Putih lebih awal. Bahkan, pertemuan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan terkait pembagian sumber daya mineral yang dipandang penting bagi solusi damai yang diinisiasi AS.

Sumber-sumber di pemerintahan AS mengungkapkan bahwa peristiwa itu mengejutkan para diplomat dan pejabat yang hadir. Pasca-insiden tersebut, beberapa pemimpin Eropa langsung menyuarakan dukungan mereka untuk Ukraina, menegaskan komitmen mereka terhadap Kiev dalam menghadapi agresi Rusia.

Zelensky Enggan Minta Maaf

Meskipun mengalami ketegangan dengan Trump, Zelensky menegaskan bahwa ia tidak akan meminta maaf atas insiden tersebut. Ia berharap pertukaran pendapat yang memanas itu tidak terjadi di hadapan wartawan.

Pernyataan ini menandakan bahwa meskipun hubungan kedua negara tengah mengalami goncangan, Ukraina tetap berpegang teguh pada upaya mempertahankan dukungan internasional, khususnya dari AS, dalam menghadapi perang dengan Rusia.

Editor: Akil

Menguak Kekerasan Berbasis Gender di Aceh: Fakta, Tantangan, dan Solusi

0
Kekerasan Berbasis Gender. (Foto: Unplash)

NUKILAN.id | Indepth – Kekerasan berbasis gender, terutama yang menimpa perempuan dan anak, terus menjadi masalah yang mendesak di Aceh. Berdasarkan data dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Aceh, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2020, angka kasus kekerasan menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2021 tercatat 924 kasus, angka ini meningkat menjadi 1.029 kasus pada tahun 2022, dan terus bertambah menjadi 1.036 kasus pada tahun 2023.

Sumber: UPTD PPA

Situasi ini terus berlanjut di tahun 2024. Dalam rentang Januari hingga Juni, telah terjadi 241 kasus kekerasan terhadap perempuan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Aceh. Situasi ini menunjukkan bahwa dalam waktu setengah tahun, angka kasus sudah hampir mencapai seperempat dari total kasus pada tahun sebelumnya. Angka ini, jika tidak ditangani dengan strategi efektif, berpotensi melampaui jumlah kasus pada tahun-tahun sebelumnya.

Sumber: UPTD PPA

Di sisi lain, kekerasan terhadap anak juga menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Pada periode yang sama, tercatat sebanyak 309 kasus kekerasan terhadap anak di Aceh. Fakta ini memperlihatkan bahwa anak-anak, kelompok rentan yang seharusnya mendapatkan perlindungan maksimal, masih menjadi korban kekerasan fisik, emosional, maupun seksual.

Peningkatan ini mengindikasikan kondisi darurat yang tidak hanya mengancam keselamatan korban, tetapi juga menghambat upaya pembangunan masyarakat Aceh menuju lingkungan yang aman dan setara. Fenomena ini juga mencerminkan adanya tantangan dalam pengelolaan data dan kesiapan lembaga layanan perlindungan.

Sumber: UPTD PPA

Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan “Statistik Kriminal 2023” mengungkap peningkatan signifikan pada kasus pemerkosaan di Indonesia. Sepanjang 2022, tercatat 1.443 kasus pemerkosaan, naik 23,9 persen dari tahun sebelumnya yang berjumlah 1.164 kasus. Dari 34 Kepolisian Daerah (Polda) yang melaporkan data, Aceh mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 135 laporan, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya mencatat 70 kasus.

Ironisnya, data ini diduga belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Catatan Mahkamah Syar’iyah Aceh menunjukkan jumlah kasus pemerkosaan di provinsi tersebut lebih tinggi dibandingkan data BPS. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Aceh pun menyerukan pentingnya pemenuhan hak korban secara maksimal, termasuk akses keadilan dan perlindungan yang memadai. Situasi ini menggarisbawahi tantangan besar dalam memberantas kekerasan berbasis gender di Aceh, wilayah yang dikenal dengan penerapan syariat Islam.

Data resmi tersebut diyakini hanyalah puncak dari fenomena gunung es. Banyak kasus yang tidak terlaporkan atau tersembunyi di bawah permukaan karena berbagai faktor, seperti stigma sosial, tekanan keluarga, atau kurangnya akses layanan perlindungan.

Bagian 1: Data dan Tren Kekerasan Berbasis Gender di Aceh

Untuk memahami lebih lanjut tentang tren dan distribusi kasus tersebut, Nukilan.id mewawancarai Nurjanisah, Kepala Seksi Tindak Lanjut Kasus UPTD PPA Dinas PPPA Aceh. Dalam wawancara ini, Nurjanisah memberikan penjelasan mengenai latar belakang kenaikan kasus serta dampaknya terhadap masyarakat. Ia mengatakan bahwa peningkatan ini bukan hanya cerminan memburuknya situasi, melainkan juga meningkatnya kesadaran masyarakat dalam melaporkan kasus-kasus tersebut.

“Jika kita melihat data, trennya memang meningkat. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat yang semakin tinggi untuk melaporkan melalui berbagai platform pengaduan yang kami sediakan,” ungkap Nurjanisah, Kepala dalam wawancara eksklusif dengan Nukilan.id.

Janisa menyoroti beberapa faktor yang menjadi penyebab utama terjadinya kekerasan berbasis gender, terutama pada anak perempuan. Salah satunya adalah kondisi keluarga yang tidak harmonis atau broken home.

“Anak perempuan yang berasal dari keluarga broken home sering kali tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarganya, terutama sosok ayah. Ketika mereka mendapatkan perhatian dari lawan jenis, mereka mudah merasa berbunga-bunga. Selain itu, media sosial juga berpengaruh besar, terutama akses terhadap konten pornografi yang tidak terbatas. Ada beberapa kasus yang kami tangani di mana korban menjadi terstimulus setelah menonton konten semacam itu,” jelas Nurjanisah.

Media sosial, di satu sisi, membuka ruang untuk edukasi dan kesadaran, tetapi di sisi lain, memperbesar celah bagi penyalahgunaan informasi yang merugikan, terutama bagi anak-anak yang masih rentan secara psikologis.

Dalam menghadapi situasi ini, UPTD PPA memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan perlindungan dan pemulihan kepada korban. Berdasarkan Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Permen PPA) tahun 2022, UPTD PPA menyediakan enam jenis layanan, yang bertambah menjadi sebelas layanan pada tahun 2023.

“Layanan kami mencakup penerimaan pengaduan, penjangkauan, fasilitasi rumah aman, mediasi, pendampingan kasus, hingga pemberdayaan ekonomi korban. Misalnya, ada kasus di mana korban membutuhkan layanan hukum atau bantuan kesehatan karena mengalami infeksi di organ vital. Kami juga menyediakan layanan psikologis bagi mereka yang mengalami trauma berat,” ujar Nurjanisah.

Selain itu, UPTD PPA juga menyusun rencana intervensi yang spesifik sesuai kebutuhan korban. Proses ini melibatkan asesmen awal untuk memahami situasi korban secara mendalam sebelum menentukan langkah pemulihan terbaik.

Menurut pengalaman UPTD PPA Aceh, Kecamatan Peukan Bada di Aceh Besar menjadi wilayah dengan jumlah kasus kekerasan berbasis gender yang cukup tinggi. Lokasi ini menjadi salah satu fokus penanganan karena tingginya laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Kayaknya di situ lebih sering terjadi. Ini menjadi perhatian kami untuk meningkatkan edukasi dan pencegahan di masyarakat,” tambah Nurjanisah.

Kekerasan berbasis gender tidak hanya berdampak pada individu korban tetapi juga memengaruhi tatanan sosial masyarakat. Trauma yang dialami korban, terutama anak-anak, dapat membawa dampak jangka panjang terhadap perkembangan psikologis dan masa depan mereka.

Sebagai langkah preventif, Janisa mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, khususnya pada anak-anak. Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam memberikan perhatian, edukasi, dan pemahaman yang cukup kepada anak-anak mereka.

UPTD PPA Aceh bersama DPPPA juga terus mengupayakan kampanye kesadaran melalui media sosial, pelatihan, dan program pemberdayaan komunitas.

“Kita harus bekerja bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak-anak,” tutup Nurjanisah.

Bagian 2: Kisah Bunga, Penyintas KBG

Kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak tidak hanya dalam bentuk kampanye dan edukasi, tetapi juga dari suara-suara yang pernah mengalami langsung kekerasan. Pengalaman mereka menjadi pengingat betapa mendesaknya upaya bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung.

Salah satu kisah yang menggugah hati adalah cerita Bunga (nama samaran), seorang penyintas kekerasan dalam rumah tangga yang kini berani bersuara, mengungkapkan berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan dalam meraih perlindungan.

Bunga, seorang ibu rumah tangga asal Aceh Besar, menceritakan bahwa kekerasan dalam rumah tangganya bermula saat ia mengetahui perselingkuhan suaminya. Ketegangan yang muncul dari konflik ini berujung pada kekerasan fisik dan emosional.

“Saya melakukan perlawanan karena tidak terima dengan tindakan KDRT, tetapi itu tidak cukup menghentikan kekerasan,” ujarnya.

Bunga menghadapi tantangan besar saat mencoba mencari dukungan. Ketidaktahuan tentang jalur hukum dan minimnya informasi membuatnya merasa terisolasi.

“Waktu itu saya tidak tahu harus ke mana untuk melaporkan kasus ini. Ditambah lagi, tidak ada dukungan dari keluarga maupun masyarakat sekitar,” katanya.

Menurutnya, budaya di lingkungan tempat tinggalnya menekankan agar persoalan rumah tangga tidak dipublikasikan.

“Di sini, setiap masalah dalam rumah tangga harus disimpan rapat-rapat. Itu membuat saya semakin sulit mendapatkan bantuan,” tambahnya.

Namun, keberadaan organisasi non-pemerintah seperti Flower Aceh menjadi titik balik bagi Bunga. Organisasi ini memberikan bantuan hukum serta pelatihan untuk membantunya memulihkan diri.

“Mereka memberi saya kesempatan untuk bertemu dan berbaur dengan orang baru. Itu sangat membantu,” kata Bunga.

Menurut Bunga, salah satu kelemahan sistem perlindungan di Aceh adalah minimnya suara perempuan dalam pengambilan keputusan.

“Adat istiadat di Aceh membuat suara perempuan kurang didengar. Ini menjadi hambatan besar dalam melawan kekerasan berbasis gender,” jelasnya.

Stigma sosial juga menjadi penghalang utama bagi penyintas untuk melanjutkan hidup. Bunga mengakui, statusnya sebagai janda membawa beban psikologis yang berat.

“Trauma dan rasa malu terus menghantui karena di Aceh, status janda masih dianggap tabu,” katanya.

Meski begitu, Bunga tetap bertahan demi anak-anak dan orang tuanya. Ia juga memiliki harapan untuk mengubah pola pikir perempuan di Aceh agar lebih berdaya dan mandiri.

“Saya ingin perempuan di Aceh menyadari bahwa mereka bisa mandiri meski bersuami. Perempuan harus berani mengambil sikap tegas terhadap KDRT,” ungkapnya.

Bunga juga berharap pemerintah memperbaiki sistem perlindungan bagi perempuan dan anak.

“Saat ini, upaya pemerintah masih kurang efektif karena Indonesia menganut sistem ketimuran yang sering menempatkan perempuan pada posisi subordinat,” tambahnya.

Bunga ingin perempuan yang mengalami kekerasan berani berbicara dan mencari bantuan.

“Jangan takut untuk terbuka soal masalah yang terjadi di rumah tangga. Kita harus berani mengambil sikap tegas,” pesan Bunga.

Kisah Bunga mencerminkan kompleksitas KBG di Aceh yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga sistemik. Adat istiadat, stigma sosial, dan kurangnya dukungan masyarakat menjadi penghalang utama bagi perempuan untuk mencari keadilan.

Namun, keberadaan organisasi seperti Flower Aceh menunjukkan bahwa ada peluang untuk perubahan. Upaya pemberdayaan perempuan, pendidikan publik, dan reformasi kebijakan menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan.

Bagian 3: Tantangan Advokasi dan Penanganan Kasus

Kisah Bunga menggambarkan pentingnya keberanian untuk berbicara dan mencari bantuan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan berbasis gender (KBG). Namun, meskipun ada kesadaran yang semakin berkembang tentang pentingnya perubahan, tantangan dalam penanganan kasus-kasus KBG di Aceh masih sangat besar.

Selain faktor individu yang mempengaruhi keputusan korban untuk melapor, terdapat hambatan sistemik yang mengakar kuat dalam masyarakat, seperti adat istiadat dan stigma sosial. Inilah yang membuat upaya pemberdayaan perempuan dan reformasi kebijakan menjadi semakin krusial. Meskipun demikian, berbagai lembaga bantuan hukum, organisasi non-pemerintah (LSM), dan aktivis perempuan di Aceh terus berjuang untuk menghadirkan perubahan yang lebih signifikan.

Salah satu tokoh yang berperan penting dalam hal ini adalah Riswati, Direktur Eksekutif Flower Aceh, sebuah organisasi yang berfokus pada isu perempuan dan anak di provinsi ini. Dalam wawancara dengan Nukilan.id, Riswati mengungkapkan berbagai kendala struktural yang dihadapi dalam memerangi kekerasan berbasis gender di Aceh.

Menurut Riswati, salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah ketidakmauan sebagian masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan.

“Isu kekerasan sering dianggap tabu, sehingga banyak korban yang enggan melapor. Bahkan, ada yang tidak tahu harus melapor ke mana,” kata Riswati.

Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat tentang hak-hak mereka dan mekanisme perlindungan yang tersedia. Selain itu, Riswati menjelaskan bahwa meskipun korban sudah tahu ke mana harus melapor, seringkali mereka terhalang oleh proses yang rumit dan biaya yang tinggi.

“Proses hukum untuk menangani kasus kekerasan memerlukan biaya, dan korban sering kali harus bolak-balik ke beberapa lembaga yang berbeda. Padahal mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka,” tambah Riswati.

Kondisi ini menyebabkan banyak korban yang akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan kasus mereka. Di samping masalah birokrasi dan biaya, tantangan lain yang dihadapi adalah intimidasi yang diterima oleh korban, terutama jika pelaku adalah orang terdekat mereka. Ini memperburuk kondisi psikologis korban, yang semakin merasa terisolasi dan tertekan.

“Jika pelaku adalah orang terdekat, korban sering kali merasa terancam, baik secara emosional maupun fisik,” kata Riswati.

Selain itu, salah satu hambatan terbesar dalam penanganan kasus kekerasan berbasis gender di Aceh adalah penerapan hukuman yang tidak maksimal. Dalam sistem hukum Aceh yang mengacu pada Qanun Jinayah, hukuman bagi pelaku kekerasan sering kali tidak setimpal dengan tindakannya. Hal ini menciptakan ketidakpuasan di kalangan korban dan aktivis yang merasa hukum tidak memberikan perlindungan yang layak.

Akses terhadap layanan pengaduan juga menjadi kendala serius. Di Aceh, hanya ada 12 UPTD PPA (Unit Pelaksana Teknis Daerah Pemberdayaan Perempuan dan Anak) di 23 kabupaten/kota. Hal ini menyebabkan korban di wilayah pedesaan kesulitan untuk melaporkan kasus mereka, karena mereka tidak tahu harus mencari bantuan ke mana.

“Mereka lebih cenderung datang ke aparat desa, padahal seharusnya mereka langsung melapor ke UPTD PPA,” jelas Riswati.

Minimnya akses ini semakin memperburuk situasi, mengingat banyak korban kekerasan yang tinggal di daerah-daerah terpencil.

Sementara itu, keberadaan komunitas yang memiliki pemahaman tentang masalah kekerasan berbasis gender juga masih terbatas. Flower Aceh, meskipun telah banyak berkontribusi, tidak hadir di seluruh kabupaten/kota di Aceh.

“Komunitas yang paham tentang isu ini masih sangat terbatas. Seharusnya, organisasi dan lembaga yang menangani kekerasan berbasis gender ada di seluruh wilayah Aceh,” ujar Riswati.

Di sisi lain, masalah anggaran juga menjadi faktor penghambat. Untuk menjalankan program perlindungan perempuan dan anak, anggaran yang tersedia di tingkat kabupaten/kota sangat terbatas.

“Beberapa kabupaten hanya memiliki anggaran sebesar 10 juta rupiah, padahal untuk penanganan kasus membutuhkan banyak intervensi,” kata Riswati.

Hal ini menunjukkan ketidakseimbangan antara kebutuhan yang ada dengan anggaran yang tersedia, yang pada akhirnya membatasi efektivitas program perlindungan dan penanganan kasus kekerasan.

Dalam konteks ini, Riswati menekankan pentingnya upaya untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam perencanaan pembangunan di tingkat pemerintah daerah.

“Pengarusutamaan gender dalam perencanaan pembangunan harus menjadi perhatian utama. Tanpa kebijakan yang ramah gender, penanganan kekerasan berbasis gender akan selalu terhambat,” tambahnya.

Bagian 4: Harapan untuk Masa Depan

Namun, perjuangan untuk mewujudkan pengarusutamaan gender tidak hanya berhenti pada kebijakan. Tantangan yang lebih mendasar juga muncul dalam aspek pendidikan dan kesadaran masyarakat. Kesetaraan gender membutuhkan dukungan yang holistik, termasuk integrasi nilai-nilai kesetaraan dalam berbagai sektor kehidupan.

Salah satu sektor penting yang masih menghadapi hambatan signifikan adalah pendidikan, sebagaimana diungkapkan oleh Suraiya Kamaruzzaman, akademisi Universitas Syiah Kuala sekaligus aktivis perempuan Aceh, dalam wawancara eksklusif dengan Nukilan.id.

Menurut Suraiya, tantangan utama terletak pada kurangnya integrasi perspektif gender dalam sistem pendidikan formal di Aceh.

“Sampai hari ini, saya belum melihat kurikulum pendidikan formal memasukkan perspektif gender,” katanya.

Selain itu, ia menyoroti pengaruh budaya dan perbedaan tafsir agama yang turut memperlambat penerapan pendidikan kesetaraan gender.

Suraiya menekankan pentingnya keterlibatan tokoh agama dan adat dalam mendorong pemahaman dan penerimaan isu gender.

“Sangat penting sebenarnya untuk tokoh agama dan adat terlibat. Dengan begitu, isu gender bisa diterima, diimplementasikan, dan dipahami oleh semua pihak,” ujarnya.

Namun, ia mengakui bahwa tantangan ini tidak hanya berasal dari masyarakat umum. Di level kebijakan, Suraiya mengungkapkan bahwa masih banyak anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) yang belum sepenuhnya memahami atau bahkan menolak penggunaan istilah gender.

“Ketika ada pembahasan qanun, masih banyak anggota DPRA yang mempertanyakan penggunaan kata-kata gender,” jelasnya.

Meski menghadapi tantangan, sejumlah langkah telah diambil untuk meningkatkan pemahaman tentang isu gender. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Aceh, misalnya, telah menjadi motor penggerak utama dalam upaya ini. Namun, Suraiya menggarisbawahi bahwa peran dinas-dinas lain masih sangat terbatas.

“Concern terhadap isu gender ini lebih banyak dilakukan oleh DPPPA Aceh, sementara dinas-dinas lain masih terbatas,” katanya.

Ia juga menyoroti minimnya alokasi anggaran yang responsif gender dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Aceh. Hal ini, menurutnya, menjadi hambatan besar dalam mendorong pendidikan kesetaraan gender secara lebih luas.

“Hingga saat ini, anggaran dan program masih jauh dari responsif gender. Ini menunjukkan perlunya kerja sama semua pihak untuk memperjuangkan kesetaraan,” tambahnya.

Suraiya menyampaikan beberapa langkah yang perlu diambil untuk memperbaiki situasi ini. Pertama, pemerintah daerah perlu mengintegrasikan perspektif gender ke dalam seluruh kebijakan dan program. Tidak hanya tanggung jawab DPPPA, dinas-dinas lain seperti pendidikan, kesehatan, dan perencanaan pembangunan juga harus aktif mengadopsi kebijakan yang inklusif terhadap kebutuhan perempuan dan kelompok rentan.

Kedua, penguatan kapasitas para pemangku kebijakan melalui pelatihan dan pendidikan tentang pentingnya responsivitas gender.

“Pemahaman tentang gender perlu dimiliki oleh semua pihak, termasuk di tingkat legislatif, eksekutif, dan masyarakat sipil,” ujarnya.

Suraiya juga berharap anggaran yang lebih responsif gender dapat mendorong program-program yang lebih konkret. Misalnya, pembangunan fasilitas publik ramah perempuan dan anak, serta pengadaan program pemberdayaan perempuan di sektor ekonomi dan pendidikan.

“Kita berharap, ke depan, pemerintah Aceh dapat menunjukkan komitmen lebih besar terhadap kesetaraan gender. Dengan begitu, kita tidak hanya bicara soal kebijakan, tetapi juga implementasi nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tutupnya.

Nukilan.id juga berkesempatan mewawancarai Nurjannah Ismail, seorang akademisi dari UIN Ar-Raniry yang dikenal sebagai tokoh agamawan perempuan di Aceh. Dalam pandangan akademisnya, Nurjannah menggarisbawahi pentingnya kerja sama tiga pusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk mengatasi kekerasan berbasis gender.

“Segala macam kekerasan, ketidakadilan, dan ketidaknyamanan itu berawal dari rumah tangga. Orang tua, guru, dan masyarakat harus bekerja sama. Namun, ini yang sulit diwujudkan,” jelasnya.

Selain itu, tanggung jawab untuk menghentikan kekerasan juga terletak pada tiga pilar utama, yakni individu, masyarakat, dan pemerintah.

“Ketiganya memiliki peran penting. Diri pribadi harus sadar, masyarakat harus peduli, dan pemerintah harus mengambil langkah konkret,” katanya.

Nurjannah menekankan bahwa jika kekerasan berbasis gender tidak ditangani dengan serius, Aceh berpotensi menghadapi masa depan yang suram.

“Namanya saja daerah syariat, tapi masyarakatnya tidak tahu syariat. Kalau lingkungan penuh pemerkosaan dan kekerasan, apa yang bisa kita harapkan untuk masa depan?” ujarnya prihatin.

Ia berharap pemerintah Aceh lebih serius dalam mengatasi isu ini, bukan hanya sebagai upaya reaktif terhadap kasus, tetapi juga menciptakan kebijakan yang berorientasi pada pencegahan.

“Semoga pemerintah ke depan tidak menganggap isu kekerasan berbasis gender sebagai hal sepele,” pungkasnya.

Kesimpulan

Kekerasan berbasis gender di Aceh bukan hanya masalah individu, tetapi merupakan isu sistemik yang memerlukan perhatian mendalam dan kolaborasi dari berbagai pihak. Untuk mengatasi hal ini, kita perlu memahami tren kasus, mendengarkan kisah penyintas, mengidentifikasi tantangan, dan mengeksplorasi solusi inovatif. Dengan upaya ini, masyarakat Aceh memiliki peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman, adil, dan setara bagi perempuan dan anak.

Kisah-kisah seperti yang dialami Bunga mengingatkan kita bahwa meskipun tantangan yang dihadapi sangat besar, ada harapan untuk perubahan. Upaya kolaboratif dari berbagai pihak. Baik dari pemerintah, organisasi non-pemerintah, aktivis, dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi perempuan dan anak-anak di Aceh.

Untuk itu, kita perlu tidak hanya memperbaiki layanan dan sistem hukum, tetapi juga mengubah pola pikir serta norma sosial yang telah mengakar selama ini. Kekerasan berbasis gender adalah persoalan kolektif yang memerlukan tanggung jawab bersama.

Jika upaya-upaya ini dilakukan secara konsisten, Aceh dapat menjadi contoh bagaimana komunitas yang kuat mampu menciptakan lingkungan yang aman, setara, dan inklusif bagi semua.

Penulis: Akil Rahmatillah