Beranda blog Halaman 520

Suparman Reborn 4: Berhasilkah Suparman Mencari Pencuri Kotak Amal di Kampung Halamannya?

0
Suparman Reborn 4. (Foto; MNCTV)

NUKILAN.id | Iklan – Kejadian demi kejadian telah dilewati Suparman. Kali ini, Suparman dihadapkan dengan pencurian kotak amal di Masjid. Sekelompok orang yang diduga mencuri, terus dicari oleh Suparman.

Bermula dari Momon meminta anak buahnya, Gojim dan Nandi, untuk mencarikan sepatu buat dia. Gojim & Nandi memliki ide untuk curi kotak amal demi memenuhi permintaan bosnya itu. Setelah menyusun strategi, mereka berhasil mencuri kotak amal tersebut, namun sayang aksinya sempat terlihat Pepen.

Pepen yang melihat kejadian tersebut melapor, Hendarsa & para hanter berpencar. Nurdin yang melihat Gojim & Nandi tapi karena kalah jumlah Nurdin memilih kabur. Ia ketemu Suparman, Suparman pun ikut membantu menangkap Gojim & Nandi. Aksi kejar-kejaran pun terjadi.

Akankah Suparman berhasil menangkap Gojim & Nandi? Saksikan keseruanm aksi Suparman Reborn 4, ditayangkan selama bulan Ramadan pada pukul 02.00 WIB hanya di MNCTV Selalu di Hati.

Editor: Akil

Sosiolog Aceh Sebut ‘War’ Takjil Lintas Agama Bisa Menjadi Sarana Pererat Toleransi

0
sisiolog aceh
Sosiolog Aceh, Dr. Masrizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Tradisi berburu takjil menjelang berbuka puasa atau yang kini dikenal sebagai War Takjil menjadi salah satu momen khas Ramadan yang selalu dinantikan. Uniknya, fenomena ini tidak hanya dilakukan oleh umat Muslim, tetapi juga diikuti oleh warga non-Muslim.

Di Banda Aceh, misalnya, sejumlah warga non-Muslim turut berburu takjil di Pasar Ramadan Jalan Garuda. Kehadiran mereka tidak hanya menambah semarak suasana Ramadan, tetapi juga mencerminkan keberagaman dan kebersamaan dalam menikmati sajian khas berbuka puasa. Fenomena ini pun menjadi perbincangan di media sosial dan menuai beragam tanggapan dari masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Sosiolog Aceh, Dr. Masrizal, menilai bahwa fenomena War Takjil lintas agama merupakan bukti bahwa tali persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama di Aceh masih terjalin dengan baik.

“Aceh ini kan daerah yang memiliki banyak suku, ras, dan agama. Fenomena berburu takjil ini dapat bernilai positif sebagai ruang untuk non-Muslim merasakan kemeriahan Ramadan yang momennya setahun sekali,” katanya kepada Nukilan.id pada Rabu (5/3/2025).

Lebih lanjut, akademisi FISIP Universitas Syiah Kuala ini menjelaskan bahwa takjil tidak memiliki dimensi ritual keagamaan, melainkan lebih kepada praktik tradisional yang mempererat ikatan sosial. Oleh sebab itu, menurutnya, kelompok non-Muslim juga bisa ikut serta tanpa ada beban.

“Mencari takjil adalah praktik tradisional yang mempererat ikatan sosial dan mendekatkan masyarakat tanpa melihat agama, suku, dan rasnya,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa tradisi ini dapat menjadi sarana untuk meningkatkan toleransi dan memperkuat hubungan sosial antarumat beragama.

“Kegiatan ini bisa mendorong masyarakat untuk mempererat toleransi, hubungan sosial antarumat beragama bisa terjalin dengan baik,” tambahnya.

Masrizal berharap agar tradisi yang membawa dampak positif ini tetap dipertahankan dan terus dilestarikan di masa mendatang.

“Harapannya, pengaruh baik yang ada di momentum mencari takjil di bulan puasa ini terus dilestarikan,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Jumlah Penumpang Penerbangan di Aceh Turun

0
Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. (Foto: Dishub Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Jumlah penumpang penerbangan di Provinsi Aceh pada Januari 2025 tercatat mencapai 35.050 orang. Angka ini mengalami penurunan sebesar 16,17 persen dibandingkan dengan Desember 2024. Meski begitu, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah penumpang justru mengalami peningkatan sebesar 9,30 persen.

Analis Pengelola Keuangan APBN Ahli Madya BPS Aceh, Haifa Sari, mengungkapkan bahwa penerbangan domestik yang berangkat dari bandara di Aceh pada Januari 2025 tercatat sebanyak 22.115 orang.

“Meskipun begitu, jika dibandingkan dengan Januari 2024, jumlah penumpang mengalami peningkatan sebesar 9,30 persen. Penerbangan domestik yang berangkat dari bandara di Provinsi Aceh pada Januari 2025 tercatat sebanyak 22.115 orang,” ujarnya saat penyampaian rilis bulanan di kantornya, Senin (3/3/2025).

Jumlah penumpang domestik yang berangkat mengalami penurunan signifikan sebesar 22,83 persen dibandingkan dengan Desember 2024, di mana jumlahnya mencapai 28.658 orang. Bandara Sultan Iskandar Muda masih menjadi bandara tersibuk dengan jumlah penumpang domestik terbanyak, mencapai 21.240 orang yang berangkat. Sementara itu, Bandara Lasikin melayani 427 penumpang domestik, dan Bandara Malikussaleh melayani 208 penumpang domestik pada Januari 2025.

Di tengah penurunan jumlah penumpang domestik, sektor penerbangan internasional justru menunjukkan tren yang lebih positif. Penerbangan internasional melalui Bandara Sultan Iskandar Muda pada Januari 2025 tercatat sebanyak 12.935 penumpang. Meski mengalami sedikit penurunan sebesar 1,65 persen dibandingkan dengan Desember 2024, secara tahunan jumlahnya melonjak signifikan hingga 42,72 persen dibandingkan dengan Januari 2024.

Dari sisi kedatangan, jumlah penumpang internasional yang tiba di Aceh juga menunjukkan peningkatan. Secara bulanan (month-to-month), kedatangan penumpang internasional naik 13,02 persen, sementara secara tahunan (year-on-year) mengalami lonjakan drastis sebesar 51,64 persen dibandingkan dengan Januari tahun lalu.

Secara keseluruhan, meskipun terjadi penurunan pada sektor penerbangan domestik, tren penerbangan internasional di Aceh menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menjanjikan. Pertumbuhan pesat dibandingkan dengan tahun lalu menjadi indikasi bahwa minat perjalanan internasional ke Aceh semakin meningkat, memberikan harapan bagi industri penerbangan dan pariwisata di daerah ini.

Editor: Akil

Perdagangan Luar Negeri Aceh Alami Defisit pada Januari 2025

0
Ilustrasi Ekspor. (Foto: Niaga Asia)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada Januari 2025 mengalami defisit sebesar 24,97 juta dolar AS. Defisit ini terjadi akibat nilai ekspor yang hanya mencapai 50,85 juta dolar AS, sementara impor melonjak hingga 75,82 juta dolar AS. Ketidakseimbangan ini menandakan adanya tantangan serius dalam perdagangan luar negeri Aceh di awal tahun.

Analis Pengelola Keuangan APBN Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Haifa Sari, mengungkapkan bahwa nilai ekspor barang asal Aceh pada Januari 2025 mengalami penurunan drastis sebesar 28,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

“Defisit ini menunjukkan ketidakseimbangan antara ekspor dan impor barang di provinsi tersebut. Nilai ekspor barang asal Provinsi Aceh pada Januari 2025 mengalami penurunan signifikan sebesar 28,56 persen dibandingkan dengan bulan Desember 2024,” ujarnya dalam konferensi pers di Banda Aceh, Senin (3/3/2025).

Menurut Haifa, penurunan ekspor ini mencerminkan berkurangnya permintaan barang asal Aceh di pasar internasional. Kendati demikian, beberapa sektor tetap berkontribusi terhadap ekspor, terutama komoditas bahan bakar mineral. Batubara masih menjadi andalan ekspor Aceh, dengan nilai mencapai 36,81 juta dolar AS pada Januari 2025.

India tercatat sebagai negara tujuan ekspor utama Aceh, dengan nilai mencapai 31,76 juta dolar AS, yang sebagian besar berasal dari batubara. Secara keseluruhan, sektor pertambangan mendominasi ekspor Aceh dengan total 36,84 juta dolar AS, menegaskan perannya sebagai tulang punggung perdagangan luar negeri provinsi ini.

Namun, lonjakan impor yang signifikan juga menjadi perhatian. Pada Januari 2025, nilai impor Aceh meningkat tajam hingga 654,49 persen dibandingkan Desember 2024. Peningkatan ini didorong oleh impor bahan bakar mineral yang mencapai 66,74 juta dolar AS.

Sebagian besar ekspor barang asal Aceh dilakukan melalui pelabuhan setempat, dengan nilai mencapai 39,61 juta dolar AS atau sekitar 77,90 persen dari total ekspor. Meski mengalami defisit, peran pelabuhan Aceh tetap menjadi faktor kunci dalam aktivitas perdagangan luar negeri provinsi ini.

Dengan tren ini, para pelaku ekonomi dan pemerintah daerah diharapkan dapat mencari solusi untuk memperkuat ekspor sekaligus mengelola laju impor agar keseimbangan perdagangan dapat kembali tercapai.

Editor: Akil

Zakat dan Infak di Baitul Mal Aceh Capai Rp4,91 Miliar Hingga Februari 2025

0
baitul mal aceh
Sekretariat Baitul Mal Aceh (Foto. Dok. BMA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepercayaan masyarakat Aceh terhadap Baitul Mal semakin meningkat. Hingga Februari 2025, lembaga ini telah menerima zakat dan infak sebesar Rp4,91 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp3,05 miliar berasal dari zakat, sementara Rp1,86 miliar dari infak.

Anggota Badan Baitul Mal Aceh Bidang Pengumpulan, Abdul Rani Usman, menyebut capaian ini merupakan hasil dari kerja keras berbagai pihak dan dukungan masyarakat yang semakin kuat terhadap program pemberdayaan ekonomi umat.

“Angka tersebut menunjukkan komitmen dan kepercayaan masyarakat Aceh dalam mendukung program pemberdayaan ekonomi umat yang dilaksanakan oleh Baitul Mal Aceh,” ujar Abdul Rani di Banda Aceh, Selasa (4/3/2025).

Menurutnya, Baitul Mal Aceh terus berupaya meningkatkan layanan dan transparansi dalam pengelolaan zakat dan infak, agar dana yang terkumpul dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan umat.

“Kami terus berupaya meningkatkan layanan dan transparansi dalam pengelolaan zakat dan infak, agar dana yang terkumpul dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan umat,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para muzaki dan munfiq yang telah menyalurkan zakat serta infaknya melalui Baitul Mal Aceh.

“Semoga Allah menambahkan rezekinya dan mempermudah segala urusannya,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, Amirullah, optimistis bahwa pengumpulan zakat dan infak pada tahun 2025 akan terus meningkat, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kewajiban berzakat dan berinfak.

“Baitul Mal Aceh juga gencar melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya berzakat dan berinfak sehingga masyarakat pun ikut tercerahkan,” katanya.

Dana zakat dan infak yang terkumpul telah disalurkan dalam berbagai bentuk bantuan, mulai dari pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga bantuan sosial lainnya.

“Semakin banyak zakat dan infak yang terkumpul, maka akan semakin banyak pula mustahik yang bisa dibantu,” ujar Amirullah.

Sebagai gambaran, pada tahun 2024 lalu, Baitul Mal Aceh telah menyalurkan zakat dan infak sebesar Rp89,46 miliar kepada 29.859 mustahik dan penerima manfaat di seluruh Aceh. Dari jumlah tersebut, dana zakat sebesar Rp64,59 miliar telah disalurkan kepada 29.217 mustahik, sementara infak sebesar Rp24,87 miliar diberikan kepada 642 penerima manfaat.

Dengan tren positif ini, Baitul Mal Aceh terus mendorong kesadaran masyarakat untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan sosial melalui zakat dan infak.

Editor: Akil

Wali Nanggroe Aceh Terima Kunjungan Silaturahmi Kepala BI Aceh, Bahas Sinergi Pembangunan Daerah

0
Wali Nanggroe Aceh Terima Kunjungan Silaturahmi Kepala BI Aceh, Bahas Sinergi Pembangunan Daerah. (Foto: LWN)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al Haythar, menerima kunjungan silaturrahmi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini, di Meuligoe Wali Nanggroe, Rabu (5/3/2025).

Pertemuan ini berlangsung hangat dan penuh keakraban. Dalam kunjungan tersebut, Agus Chusaini didampingi oleh Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh serta Asisten Direktur. Sementara Wali Nanggroe turut didampingi oleh Staf Khusus, Dr. M. Raviq dan Rustam Effendi.

Pertemuan tersebut juga menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran Wali Nanggroe sebagai penjaga marwah adat dan budaya Aceh di tengah tantangan zaman, sekaligus mitra penting dalam pembangunan ekonomi daerah yang inklusif dan berkeadilan.

Gubernur Aceh Akan Terbitkan Edaran Wajib Tutup Toko Saat Waktu Shalat

0
Muzakir Manaf-Fadhlullah saat menyampaikan pidato perdananya. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mengumumkan bahwa Pemerintah Provinsi Aceh akan segera menerbitkan Surat Edaran (SE) yang mewajibkan seluruh toko tutup setiap kali memasuki waktu shalat. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat penerapan Syariat Islam di Tanah Rencong.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Muzakir Manaf saat memberikan sambutan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Selasa (4/3/2025). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan komitmennya untuk memastikan syariat Islam berjalan secara menyeluruh di Aceh.

“Sebagai pemimpin, kami memiliki tanggung jawab memastikan Syariat Islam berjalan secara kaffah di Aceh. Karena itu, dalam waktu dekat kita akan menerbitkan edaran agar seluruh toko tutup setiap masuk waktu shalat,” ujar Muzakir Manaf.

Pengumuman ini disampaikan di hadapan ratusan jemaah Shalat Tarawih yang hadir di Masjid Baiturrahman. Dalam kesempatan itu, pria yang akrab disapa Mualem ini juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan bulan suci Ramadhan dengan meningkatkan amal ibadah dan perbuatan baik.

“Mari dengan hati yang ikhlas dan semata mengharap ridha Allah, kita terus berbuat baik di bulan mulia yang penuh berkah, rahmah, dan ampunan ini,” ujarnya.

Selain itu, Muzakir Manaf menekankan pentingnya menjaga hati agar tetap bersih dari sifat dengki, khianat, dan munafik. Ia menilai, keadaan batin yang baik akan membawa kebaikan bagi kehidupan dunia dan akhirat.

“Dengan keadaan batin yang baik, Insya Allah, kita akan bisa mendapat surga dengan segala kebaikannya seperti yang Allah janjikan,” tambahnya.

Dalam upaya mendorong disiplin ibadah, Gubernur Aceh juga menginstruksikan Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh untuk meluncurkan gerakan Shalat tepat waktu pada 17 Ramadhan.

“Ini juga menjadi kewajiban seluruh pemimpin di semua tingkatan untuk mengingatkan bawahannya, termasuk para kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab untuk mengajak, memaksa istri dan anaknya untuk Shalat. Nanti, pada malam 17 Ramadhan kita akan meluncurkan gerakan Shalat tepat waktu,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, dalam sambutannya menegaskan bahwa Pemerintah Aceh berkomitmen untuk terus bekerja demi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami bersama Pak Gubernur Muzakir Manaf, bertekad untuk mewujudkan Aceh yang lebih baik, menjadi Aceh yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk turut serta dan mendukung kami dalam upaya menata Aceh menjadi jauh lebih baik ke depan,” kata Fadhlullah.

Rencana penerbitan surat edaran ini memicu beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian mendukung langkah tersebut sebagai bentuk penerapan syariat Islam, sementara yang lain berharap kebijakan ini tetap mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi warga, terutama para pedagang kecil.

Pemerintah Provinsi Aceh dalam waktu dekat akan menggelar pertemuan dengan berbagai pihak guna merumuskan implementasi kebijakan tersebut agar berjalan efektif tanpa menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.

Editor: Akil

BI Aceh Siapkan Rp3,6 Triliun untuk Penukaran Uang Jelang Idul Fitri

0
felia
Ilustrasi uang. (Foto: Pixabay)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh menyiapkan uang tunai sebesar Rp3,6 triliun guna memenuhi kebutuhan penukaran uang bagi masyarakat Aceh selama bulan Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah.

“Untuk kegiatan penukaran selama Ramadhan dan Idul Fitri ini, jumlah yang disediakan sebesar Rp3,6 triliun,” ujar Kepala Perwakilan BI Aceh, Agus Chusaini, dalam acara kick off Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2025 di halaman kantor BI Aceh, Selasa (4/3/2025).

Program Serambi 2025 yang bertajuk Menjaga Rupiah di Bulan Penuh Berkah ini digelar sejak 5 hingga 22 Maret 2025, bekerja sama dengan perbankan di Aceh. Program ini bertujuan memastikan ketersediaan uang rupiah bagi masyarakat, khususnya dalam denominasi kecil yang sering dibutuhkan untuk transaksi selama bulan suci.

Penukaran via Aplikasi PINTAR

Untuk memudahkan masyarakat, BI Aceh mengimbau penggunaan aplikasi PINTAR (Penukaran dan Tarik Uang Rupiah), yang dapat diakses melalui https://pintar.bi.go.id. Dengan aplikasi ini, masyarakat dapat mendaftar terlebih dahulu sebelum melakukan penukaran di loket perbankan yang telah ditentukan.

“Penukaran ini dilaksanakan lewat aplikasi, nanti mendaftar dulu lewat aplikasi dan menukar di tempat yang telah ditetapkan,” jelas Agus.

Empat Kegiatan Utama Penukaran Uang

BI Aceh telah menyiapkan empat skema layanan penukaran uang rupiah yang tersebar di berbagai lokasi strategis:

  1. Layanan Kas Keliling Ritel
    Diselenggarakan di masjid, pesantren, pasar, dan tempat strategis lainnya pada 5 hingga 14 Maret 2025, pukul 09.00–12.00 WIB. Penukaran dilakukan melalui pendaftaran di aplikasi PINTAR.
  2. Layanan Kas Keliling Tematik di Aceh Ramadan Festival
    Kolaborasi antara Pemerintah Aceh dan KPwBI Provinsi Aceh ini akan berlangsung pada 12-16 Maret 2025 pukul 16.00-17.30 WIB serta 17 Maret pukul 09.00-12.00 WIB.
  3. Layanan Kas Keliling Terpadu
    Kerja sama BI dengan perbankan ini akan hadir di dua lokasi: Taman Bustanussalatin, Kota Banda Aceh, pada 18-20 Maret 2025, serta Terminal Bus Batoh, Kota Banda Aceh, pada 22 Maret 2025, pukul 09.00-12.00 WIB.
  4. Layanan Penukaran di Loket Perbankan
    Masyarakat juga dapat menukarkan uang rupiah di 23 kantor cabang dari 13 bank yang beroperasi di wilayah kerja BI Aceh. Layanan ini tersedia pada 19-20 Maret 2025.

Dengan jumlah uang tunai yang telah disiapkan, Agus optimistis kebutuhan masyarakat selama Ramadhan hingga Idul Fitri dapat terpenuhi.

“Insya Allah, kita akan sediakan kebutuhan masyarakat, dan sudah dihitung-hitung dengan perbankan, Insya Allah jumlah ini mencukupi kebutuhan Ramadhan sampai Idul Fitri,” pungkasnya.

Editor: Akil

Delapan Kecamatan di Aceh Barat Daya Diterjang Banjir, Ratusan Rumah Terendam

0
Delapan Kecamatan di Aceh Barat Daya Diterjang Banjir, Ratusan Rumah Terendam. (Foto: MetroTv)

NUKILAN.id | Blangpidie – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh, dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir di delapan kecamatan. Ratusan rumah warga terendam, sementara fasilitas umum seperti masjid dan sekolah turut terdampak.

“Delapan kecamatan yang terendam banjir adalah Kuala Batee, Blangpidie, Jeumpa, Susoh, Manggeng, Lembah Sabil, Babahrot, dan Tangan-Tangan,” ujar Staf Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (Pusdatin-BPBA), Haslinda Juwita, Rabu, 5 Maret 2025.

Puluhan desa di delapan kecamatan tersebut kini dalam kondisi memprihatinkan. Di Kecamatan Kuala Batee, banjir merendam Desa Alue Pade, Rumoh Panjang, Padang Sikabu, Alue Pisang Perumahan Darma Caraka, Krueng Batee, Drien Berumbang, dan Blang Makmur. Sementara itu, di Blangpidie, genangan air melumpuhkan aktivitas warga di Desa Kuta Tuha, Babah Lhung, Kuta Tinggi, Guhang, dan Lhung Asan.

Dampak serupa juga terjadi di Kecamatan Jeumpa, dengan Desa Alue Seulaseh, Alue Rambut, Baru, Kuta Jeumpa, dan Ladang Neubok terendam banjir. Di Susoh, air meluap hingga ke Desa Kepala Bandar, Tengah Rawa, Durian Rampak, Gadang, dan Padang Hilir.

Di Kecamatan Manggeng, banjir merendam Desa Blang Manggeng, Seunelop, dan Paya. Lembah Sabil turut terdampak dengan genangan air yang melanda Desa Meurandeh, Cot Bak U, dan Padang Kelele. Sementara itu, di Kecamatan Babahrot, Desa Gunung Samarinda ikut terendam, dan di Kecamatan Tangan-Tangan, air naik di Desa Adan, Suak Nibong, Drien Jalo, serta Masjid.

Ketinggian air bervariasi, mulai dari 20 cm hingga 1 meter. Di Dusun Semancang, Desa Babah Lhung, banjir mencapai 1 meter dan merendam 30 rumah. Di Desa Tengah Rawa, Kecamatan Susoh, sekitar 60 rumah turut terdampak. Sejumlah fasilitas umum seperti masjid di Desa Alue Padee dan beberapa sekolah juga terendam air.

Banjir juga menyebabkan tergenangnya jalan nasional, menghambat arus lalu lintas dan mengganggu aktivitas ekonomi warga. Area persawahan tak luput dari dampak, dengan tanaman terancam gagal panen akibat genangan air. Selain itu, aliran sungai yang tersumbat turut memperparah kondisi banjir.

Meski belum ada laporan korban jiwa, warga masih waspada terhadap potensi meningkatnya volume air. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat Daya telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan pemantauan dan pendataan di lokasi terdampak.

“Air belum surut karena intensitas hujan yang masih tinggi,” jelas Haslinda.

Hingga saat ini, pihak berwenang terus berupaya menangani dampak banjir dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya luapan air yang lebih besar. Warga diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan petugas untuk menghindari risiko lebih lanjut.

Editor: AKil

Aceh Tengah Alami Deflasi 0,12 Persen pada Februari, Tarif Listrik Jadi Penyebab Utama

0
Ilustrasi listrik, pembangkit listrik (Shutterstock)

NUKILAN.id | Takengon – Kabupaten Aceh Tengah mengalami deflasi sebesar 0,12 persen secara Year on Year (YoY) pada Februari 2025. Angka ini menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dibandingkan bulan Januari lalu yang mencatat inflasi sebesar 1,73 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Tengah, Andi Hardiyanto S.ST, dalam rilisnya menyebutkan bahwa deflasi ini dipengaruhi oleh penurunan beberapa indeks harga kelompok pengeluaran. Kelompok yang mengalami penurunan terbesar adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, dengan angka mencapai 2,21 persen.

“Penyumbang utama deflasi di Februari ini adalah tarif listrik. Seperti kita ketahui, selama bulan Januari dan Februari, pemerintah melakukan diskon tarif listrik sebesar 50 persen,” katanya, dikutip dari RRI, Rabu (5/3/2025).

Selain itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga turut memberikan andil terhadap deflasi dengan angka yang sama, yaitu 2,21 persen. Sementara itu, beberapa kelompok pengeluaran lainnya justru mengalami inflasi, seperti sektor kesehatan yang naik sebesar 4,16 persen dan perawatan pribadi sebesar 3,77 persen.

Dengan angka deflasi Aceh Tengah pada Februari yang hanya sebesar 0,12 persen, kondisi ini masih tergolong rendah dibandingkan dengan ambang batas inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, yaitu antara 1,5 hingga 3,5 persen.

Tren deflasi ini menjadi perhatian tersendiri bagi perekonomian daerah, terutama dalam menjaga keseimbangan harga dan daya beli masyarakat. Pemerintah daerah diharapkan dapat terus memantau perkembangan harga komoditas serta kebijakan ekonomi guna menghindari dampak negatif yang berkepanjangan.

Editor: Akil