Beranda blog Halaman 518

Diduga Bunuh Istri yang Seorang Guru, Pria di Aceh Singkil Ditangkap di Rumah Orang Tua

0
Ilustrasi ditangkap Polisi. (Foto: LintasJatim.com)

NUKILAN.ID | SINGKIL — Seorang pria berinisial ES (34) ditangkap aparat Kepolisian Resor Aceh Singkil setelah diduga membunuh istrinya sendiri, NA (31), yang berprofesi sebagai guru. Penangkapan dilakukan saat ES bersembunyi di rumah orang tuanya di Desa Sumber Mukti, Kecamatan Kota Baharu, Aceh Singkil, pada Jumat (6/6/2025) pagi.

“Pada saat penangkapan, tersangka berupaya melarikan diri dan melakukan perlawanan. Namun, berhasil dibekuk oleh tim gabungan,” ujar Kapolres Aceh Singkil, AKBP Joko Triyono, kepada wartawan.

Penangkapan dilakukan sekitar pukul 06.30 WIB, setelah polisi menerima informasi bahwa pelaku kembali ke rumah orang tuanya usai kabur pasca kejadian.

Saat ini, tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif di Satuan Reserse Kriminal Polres Aceh Singkil. Polisi tengah mendalami motif di balik aksi pembunuhan yang menggegerkan warga tersebut.

“Kami akan melakukan penyidikan sampai tuntas. Kami mohon masyarakat tetap tenang dan bersabar. Tersangka akan diproses sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku,” kata Joko.

Dibunuh di Areal Perkebunan

Sebelumnya, kasus ini bermula ketika NA, guru perempuan asal Kecamatan Kuta Baharu, ditemukan dalam kondisi luka parah di areal perkebunan sawit pada Senin (2/6/2025). Saat itu, korban sedang mengendarai sepeda motor berboncengan dengan adik kandungnya, SN (19).

Menurut keterangan Kasat Reskrim Polres Aceh Singkil, AKP Darmi A. Manik, pelaku menghadang motor korban di tengah jalan perkebunan. Tanpa banyak bicara, ES menendang motor korban hingga terjatuh, lalu membacok NA berkali-kali.

“Korban sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong dan meninggal dunia dalam perawatan,” kata Darmi.

Dugaan Motif Cemburu

Informasi yang dihimpun dari warga sekitar menyebutkan, motif pembunuhan diduga berkaitan dengan konflik rumah tangga. Pelaku dikabarkan tersinggung karena disebut “mokondo” atau lelaki tak bertanggung jawab, setelah menyampaikan niat ingin menikah lagi.

Namun demikian, pihak kepolisian belum merinci secara resmi motif tersebut karena proses penyidikan masih berlangsung.

Kasus ini menyita perhatian publik, terutama kalangan tenaga pendidik di Aceh Singkil. Banyak pihak mengecam tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang berujung pada hilangnya nyawa seorang guru yang dikenal berdedikasi.

EDITOR: Akil

Haji Uma Kritik Keras Usulan Bobby Nasution Kelola Bersama 4 Pulau Aceh

0
Sudirman Haji Uma, Senator Aceh. (Foto: Dok Pribadi).

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, melontarkan kritik tajam terhadap usulan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, terkait wacana pengelolaan bersama empat pulau sengketa antara Aceh dan Sumut. Menurut Haji Uma, wacana tersebut justru mengaburkan batas wilayah dan mengancam marwah Aceh sebagai daerah yang memiliki kekhususan.

“Atas dasar apa Pemerintah Provinsi Sumut mencetuskan pengelolaan bersama? Yang kami perjuangkan adalah pengembalian kedaulatan dan kejelasan status, bukan kompromi yang mengaburkan wilayah. Ini bukan amanah rakyat Aceh,” tegas Haji Uma dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/6/2025).

Empat pulau yang menjadi sengketa itu yakni Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek. Belakangan, Kementerian Dalam Negeri disebut telah menetapkan keempat pulau tersebut ke dalam wilayah Sumatera Utara. Hal inilah yang memicu reaksi keras dari berbagai pihak di Aceh, termasuk dari Haji Uma yang dikenal vokal dalam isu-isu kedaerahan.

Haji Uma menegaskan, rujukan utama yang harus dipedomani dalam persoalan ini adalah kesepakatan penyelesaian batas wilayah antara Aceh dan Sumut yang telah ditandatangani pada tahun 1992. Ia pun mendesak Pemerintah Sumut agar tidak melontarkan wacana-wacana baru yang tidak memiliki dasar hukum jelas.

“Kami sedang menuntut Kemendagri untuk bertindak tegas mengembalikan pulau-pulau itu kepada Aceh. Kami juga berharap Sumut menghargai marwah pulau Aceh, taat pada kesepakatan 1992, dan menjaga keharmonisan antarprovinsi bertetangga,” ujar Haji Uma.

Lebih jauh, ia meminta Menteri Dalam Negeri agar tidak mengambil langkah sepihak yang bisa memperkeruh hubungan antara dua provinsi bertetangga tersebut.

“Kami meminta Menteri Dalam Negeri untuk menghargai marwah Aceh, mematuhi kesepakatan yang telah ada, dan tidak mengambil langkah-langkah sepihak yang justru berpotensi merusak hubungan baik antarprovinsi,” sambungnya.

Usulan Bobby Tuai Kontroversi

Sebelumnya, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution melakukan kunjungan ke Banda Aceh dan bertemu Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem. Dalam pertemuan itu, Bobby menyampaikan gagasan kolaborasi pengelolaan empat pulau tersebut bersama Pemerintah Aceh.

“Kami hadir di sini untuk bisa sama-sama meredam, ataupun bisa sama-sama menyepakati apa yang harus kita sepakati bersama dengan Pak Gubernur Aceh,” kata Bobby saat ditemui di Pendopo Gubernur Aceh, Rabu (4/6).

Meski tidak secara eksplisit menyatakan akan mengambil alih, Bobby menyebut terbuka terhadap pembahasan lebih lanjut terkait status empat pulau tersebut. Ia menekankan pentingnya kerja sama dalam mengelola potensi wilayah yang selama ini masih disengketakan.

“Kalau bicara soal potensinya, tadi tidak bicara ini akan dikembalikan atau tidak, atau akan punya siapa. Tapi kita bicarakan kalau ke depannya kalau ada pembahasan, kami terbuka saja,” ujar Bobby.

Potensi Memicu Ketegangan Antarprovinsi

Pernyataan Bobby tersebut dinilai oleh sebagian pihak di Aceh sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap persoalan kedaulatan wilayah. Haji Uma bahkan menyebut, usulan pengelolaan bersama itu bisa menjadi preseden buruk bagi hubungan antardaerah dan mencederai prinsip-prinsip kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.

“Sengketa ini bukan sekadar soal potensi, tapi menyangkut martabat dan kedaulatan Aceh. Kita tidak boleh bermain-main dengan wilayah,” pungkasnya.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Dalam Negeri mengenai langkah selanjutnya terkait polemik empat pulau tersebut. Namun, desakan dari berbagai elemen masyarakat Aceh agar pemerintah pusat segera mengembalikan status pulau-pulau itu ke Aceh terus bergema.

Editor: Akil

Kilas Balik Pemilu 7 Juni 1999, Titik Balik Politik Indonesia

0
Ilustrasi Pemilu 1999. (Foto; Kompas.id)

NUKILAN.ID | JAKARTA Dua puluh lima tahun silam, tepat pada 7 Juni 1999, rakyat Indonesia berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara dalam pemilu pertama pasca-reformasi. Momen bersejarah ini bukan sekadar pergantian kekuasaan, tetapi menjadi tonggak dimulainya era demokrasi yang lebih terbuka setelah lebih dari tiga dekade berada di bawah bayang-bayang Orde Baru.

Di bawah pemerintahan Presiden B.J. Habibie, Pemilu 1999 hadir membawa semangat baru: membebaskan rakyat dari kungkungan sistem politik yang terkonsentrasi dan membuka jalan bagi pluralisme politik. Untuk pertama kalinya sejak 1955, rakyat benar-benar merasakan kembali arti kebebasan memilih.

Dari Gejolak Reformasi ke Kotak Suara

Dikutip Nukilan.id, Pemilu 1999 tak bisa dilepaskan dari gelombang reformasi yang mengguncang tanah air sejak 1998. Krisis ekonomi parah, ditambah tekanan mahasiswa dan desakan publik, memaksa Presiden Soeharto mundur pada Mei 1998. Posisinya kemudian digantikan oleh B.J. Habibie, yang berjanji mengembalikan kedaulatan kepada rakyat.

“Pemilu ini adalah bentuk komitmen pemerintah untuk mengembalikan kedaulatan rakyat setelah puluhan tahun terkekang,” ujar Presiden Habibie dalam pidato kenegaraan menjelang hari pencoblosan, seperti dikutip Kompas edisi 1 Juni 1999.

Langkah awal pemerintahan Habibie adalah membentuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan mandat menyelenggarakan pemilu demokratis, terbuka, dan jujur. Hasilnya, pada 7 Juni 1999, rakyat Indonesia menikmati pemilu paling bebas dalam sejarah kontemporer.

Ledakan Partai dan Antusiasme Rakyat

Jika pada masa Orde Baru rakyat hanya diberi tiga pilihan—Golkar, PPP, dan PDI—maka di Pemilu 1999 rakyat disuguhi 48 partai politik. Banyak partai baru bermunculan, seperti PDI Perjuangan (PDI-P), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN), yang mengusung semangat perubahan dan reformasi.

KPU juga tampil dengan wajah baru. Meski belum sepenuhnya bebas dari intervensi politik, lembaga ini mulai menunjukkan independensi dan transparansi. Tempo dalam laporannya edisi 8 Juni 1999 menyebutnya sebagai “pemilu pertama yang diawasi oleh lembaga yang relatif independen.”

Antusiasme rakyat luar biasa. Dari 112 juta pemilih terdaftar, sekitar 92 persen memberikan suaranya. Angka partisipasi ini menjadi simbol kuat bahwa rakyat menginginkan perubahan nyata.

Hasil yang Mengejutkan, Proses yang Dinamis

Hasil pemilu menempatkan PDI-P sebagai pemenang dengan perolehan suara sekitar 33,7 persen, disusul Golkar 22,4 persen dan PKB 12,6 persen. Meski PDI-P memimpin perolehan suara, Sidang Umum MPR yang memilih presiden justru menjatuhkan pilihan pada tokoh Nahdlatul Ulama dan ketua PKB, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Megawati Soekarnoputri kemudian didapuk sebagai wakil presiden.

“Ini menunjukkan bahwa meski rakyat memilih PDI-P, proses politik di MPR masih sangat dinamis,” tulis Dwight Y. King dalam bukunya Half-Hearted Reform (2003).

Terpilihnya Gus Dur menandai keberhasilan transisi damai kekuasaan melalui mekanisme konstitusional yang terbuka, meski tidak selalu sejalan dengan hasil pemilu legislatif.

Warisan Demokrasi yang Tak Terhapus

Pemilu 1999 menjadi fondasi penting bagi demokrasi Indonesia. Beberapa warisan utamanya antara lain:

  • Kebebasan Pers: Media mulai leluasa memberitakan politik secara kritis, membuka ruang diskusi publik yang lebih sehat.

  • Pemilu Langsung: Pada 2004, Indonesia untuk pertama kalinya menggelar pemilihan presiden secara langsung, sebagai kelanjutan reformasi politik dari 1999.

  • Sistem Multipartai: Meski terus mengalami penyederhanaan, sistem multipartai yang dimulai pada 1999 masih dipertahankan hingga kini.

Pemilu 1999 bukan hanya soal kontestasi politik, tetapi tentang kemenangan rakyat atas ketakutan, pembungkaman, dan manipulasi. Ia adalah simbol kebangkitan demokrasi dari reruntuhan otoritarianisme.

Dua dekade lebih berlalu, namun semangat 7 Juni 1999 terus hidup dalam sejarah politik Indonesia—sebagai bukti bahwa rakyat bisa menjadi aktor utama dalam menentukan arah bangsa. (XRQ)

Reporter: Akil

Hutan untuk Siapa? Ketika Janji Prabowo Bertabrakan dengan Kenyataan

0
Ilustrasi Deforestasi (Foto: Ilustrasi/proxsisgroup)

NUKILAN.ID | OPINI – Presiden Prabowo Subianto kerap tampil sebagai orator yang berapi-api. Di berbagai forum nasional maupun internasional, ia dengan gagah menegaskan bahwa kekayaan negara tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang. Narasi ini tak ayal membangkitkan harapan publik: bahwa ada keberpihakan pada rakyat kecil dan bahwa era keadilan sosial benar-benar akan dimulai.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa semangat perubahan itu masih terjerembap di liang praktik-praktik lama. Pemerintah saat ini justru terlihat semakin aktif membagi-bagikan kawasan hutan kepada para pemodal besar melalui skema perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH), istilah baru yang menggantikan hak pengusahaan hutan (HPH). Hingga akhir 2023, sebanyak 152 pemohon tercatat mengincar konsesi seluas 4,8 juta hektare—luas yang setara dengan gabungan Provinsi Jawa Barat dan Banten.

Alih-alih didistribusikan untuk kepentingan masyarakat adat atau koperasi lokal, konsesi-konsesi ini justru lebih banyak mengalir ke korporasi yang sudah sejak lama menikmati kue kehutanan. Di Papua Barat dan Papua Barat Daya, misalnya, terdapat dua perusahaan—PT Salawati Hijau Lestari dan PT Sorong Hijau Ekosistem—yang mendapat konsesi 150.000 hektare. Kedua perusahaan ini dimiliki oleh Angelia Bonaventur Sudirman, cucu dari pendiri Grup Surya Dumai, yang saat ini mengendalikan perusahaan sawit raksasa di Singapura.

Ini bukan sekadar cerita tentang distribusi lahan, tapi juga tentang arah dan watak kekuasaan. Pemerintah memang menyebut bahwa izin PBPH kali ini bukan untuk eksploitasi kayu seperti di masa Orde Baru, melainkan untuk mendukung perdagangan karbon. Program ini diklaim sebagai upaya menjaga kelestarian hutan sekaligus memanfaatkan potensi ekonomi dari siklus karbon global.

Namun, di sinilah letak paradoksnya.

Perdagangan karbon, tanpa sistem yang transparan dan adil, justru membuka pintu baru bagi praktik greenwashing—mencuci dosa emisi lewat kompensasi palsu yang justru memperpanjang napas industri perusak lingkungan. Apalagi jika pengelolaan karbon hanya dijalankan oleh raksasa-raksasa sektor kehutanan, sawit, dan tambang. Maka manfaat lingkungan yang dijanjikan hanya akan jadi ilusi, sementara masyarakat adat dan komunitas lokal kembali jadi penonton.

Liputan Tempo mencatat ada 67 perusahaan yang mengajukan izin baru di area yang mengiris 310.000 hektare wilayah adat milik 37 komunitas adat. Ini bukan sekadar pengabaian terhadap hak masyarakat adat, tetapi pelanggaran terhadap prinsip keadilan ekologis dan distribusi ekonomi. Pemerintah bahkan menyulitkan publik mengakses informasi soal PBPH. Sistem informasi geospasial yang dulu digadang-gadang sebagai bukti keterbukaan, kini tak lagi berfungsi maksimal. Informasi soal luas area, jenis usaha, hingga nomor izin tidak bisa diakses publik. Sejak Mei 2024, Kementerian Kehutanan bahkan mengklasifikasikan proses PBPH sebagai informasi yang dikecualikan dari keterbukaan.

Di sisi lain, pemerintah melalui Undang-Undang Cipta Kerja membuka peluang multiusaha kehutanan. Dalam satu area konsesi, pelaku usaha bisa menjalankan beragam kegiatan—dari budidaya, wisata, hingga ekstraksi hasil hutan bukan kayu. Di atas kertas terlihat fleksibel, namun dalam praktiknya, ini justru menyuburkan potensi penyalahgunaan izin, konflik lahan, hingga degradasi lingkungan.

Yang lebih menyedihkan: pemerintah justru menempatkan sektor kehutanan dalam kategori industri berisiko tinggi. Seharusnya, risiko tinggi ini diikuti dengan tata kelola yang makin transparan dan akuntabel. Bukan sebaliknya.

Presiden Prabowo tidak boleh tinggal diam. Jika ia konsisten dengan ucapannya—bahwa negara ini bukan milik segelintir orang—maka ia harus segera mengoreksi arah kebijakan PBPH. Perlu ada moratorium sementara, audit menyeluruh, serta pelibatan masyarakat sipil dan komunitas adat dalam proses perizinan. Jangan sampai program ini hanya menjadi ladang baru bagi oligarki lama.

Presiden Joko Widodo pernah berujar, “We walk the talk, not only talk the talk.” Sayangnya, pidato itu kini lebih sering menjadi olok-olok ketimbang inspirasi. Jangan sampai Prabowo mengulang kesalahan yang sama: menjadi pemimpin yang hanya bicara lantang di podium, tapi bungkam ketika kebijakan nyata justru menyimpang dari semangat keadilan.

Kini, saatnya Prabowo membuktikan: apakah ia benar-benar berdiri untuk rakyat, atau sekadar bayangan dari sistem lama yang terus memihak segelintir elite. Jika tidak, sejarah akan mencatatnya sebagai pemimpin yang gagal menepati janji, dan hanya memperluas kesenjangan atas nama hutan dan perubahan iklim. (xrq)

Reporter: Akil

Guru MAN 3 Banda Aceh Jadi Pemateri di Forum Internasional Mazhab Syafi’i di Brunei

0
Guru MAN 3 Banda Aceh Jadi Pemateri di Forum Internasional Mazhab Syafi'i di Brunei. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Prestasi membanggakan datang dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Banda Aceh. Salah satu guru di sekolah tersebut, Dr. Sayuthi, dipercaya menjadi pemateri dalam Persidangan Antarbangsa Mazhab Syafi’i yang berlangsung di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, awal Juni 2025 lalu.

Kegiatan ilmiah bertaraf internasional ini mempertemukan para cendekiawan, peneliti, dan akademisi dari berbagai negara yang konsen terhadap pengembangan pemikiran Mazhab Syafi’i, mazhab yang paling dominan dianut di kawasan Asia Tenggara.

Dalam kesempatan itu, Dr. Sayuthi—yang mengajar mata pelajaran fikih di MAN 3 Banda Aceh—memaparkan makalah berjudul “RESOLVING INHERITANCE DISPUTES AND THEIR LEGAL IMPACT (EFFORT TO ACHIEVE PEACE THROUGH CUSTOMARY COURTS IN ACEH)”.

Dalam presentasinya, ia menyoroti praktik penyelesaian sengketa warisan di Aceh yang kental dengan pendekatan Mazhab Syafi’i dan terintegrasi dengan adat-istiadat lokal. Menurutnya, masyarakat Aceh cenderung memilih jalur non-litigasi yang diselesaikan melalui lembaga adat ketimbang melalui pengadilan formal.

Ia juga menegaskan bahwa pendekatan ini sejalan dengan nilai-nilai filosofis dalam hadih maja Aceh yang berbunyi: “Pantang peudeung melintueng sarong, pantang rincong meulinteung mata, pantang ureueng ta teu’oh kawon, pantang hukom geupeukara.”

Pandangan ini sejalan dengan pemikirannya yang tertuang dalam buku berjudul “Warisan dan Islam: Membongkar Perspektif Kesetaraan Gender”.

Kepala MAN 3 Banda Aceh, Junaidi Ibas, S.Ag., M.Si., mengapresiasi pencapaian tersebut. “Kami sangat bangga, karena ini menunjukkan bahwa guru-guru kita tidak hanya aktif di dalam kelas, tetapi juga mampu berkontribusi dalam forum ilmiah internasional,” ujarnya.

Persidangan ini tidak hanya menjadi ajang bertukar gagasan, tetapi juga wadah mempererat kolaborasi antarnegara dalam pelestarian dan pengembangan kajian Mazhab Syafi’i. Kehadiran guru dari Aceh menjadi simbol pentingnya peran pendidikan menengah dalam merawat kesinambungan tradisi keilmuan Islam di tengah arus modernisasi.

Editor: Akil

Aceh Tengah Luncurkan Sekolah Lansia untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Tua

0
Aceh Tengah Luncurkan Sekolah Lansia untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Tua. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | TAKENGON Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah resmi meluncurkan Sekolah Lansia di Kampung Gunung Singit, Kecamatan Silih Nara, pada Rabu (4/6/2025). Program ini diresmikan langsung oleh Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas hidup warga lanjut usia (lansia).

Dalam sambutannya, Bupati Haili menegaskan bahwa kehadiran Sekolah Lansia merupakan langkah strategis untuk menciptakan keluarga yang berkualitas. Melalui kegiatan edukatif dan pemberdayaan, para lansia diharapkan bisa lebih aktif, mandiri, dan tetap produktif di usia senja.

“Karena program ini membutuhkan dukungan semua pihak,” kata Haili Yoga, menekankan pentingnya kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat dalam menyukseskan program ini.

Ia juga menambahkan, Sekolah Lansia sejalan dengan visi pembangunan daerah yang berupaya menghadirkan Kampung Keluarga Berkualitas secara menyeluruh. Dengan pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan, program ini diharapkan mampu memperkuat fondasi sosial di tengah masyarakat Aceh Tengah.

“Pemerintah Aceh Tengah terus berkomitmen untuk mendukung program yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat,” ujar Haili.

Dengan peluncuran ini, Aceh Tengah menjadi salah satu daerah yang aktif mendorong peran serta lansia dalam pembangunan, sekaligus menunjukkan bahwa usia lanjut bukanlah halangan untuk terus belajar dan berkontribusi bagi komunitas.

Editor: Akil

Prajurit TNI AL Selamatkan Warga Tenggelam di Perairan Aceh Selatan

0
Prajurit TNI AL Selamatkan Warga Tenggelam di Perairan Aceh Selatan. (Foto: Kompas)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Seorang warga bernama Wahyu berhasil diselamatkan oleh prajurit TNI Angkatan Laut (AL) setelah tenggelam dan terseret arus di perairan pantai Desa Padang Bakau, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (3/6/2025) dini hari.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 00.45 WIB saat Wahyu bersama rekannya, Ahmad, sedang mencari ikan di kawasan tersebut. Tak lama berselang, Ahmad terdengar berteriak meminta pertolongan kepada warga setelah melihat Wahyu terseret arus dan menghilang di laut.

Mendengar teriakan tersebut, warga segera menghubungi Pos Jaga Pangkalan TNI AL (Lanal) Simeulue.

“Selanjutnya, personel Lanal Simeulue atas nama Kld Bah Ilham Firmansyah yang sedang melaksanakan jaga menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya korban tenggelam,” tulis keterangan Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal), Kamis (5/6/2025).

Merespons laporan tersebut, Kld Bah Ilham Firmansyah bersama unsur gabungan dari BPBD Aceh Selatan dan masyarakat setempat langsung bergerak ke lokasi dan melakukan pencarian dengan menyusuri perairan di sekitar titik hilangnya korban.

Beberapa waktu kemudian, Wahyu berhasil ditemukan dalam kondisi setengah sadar.

Korban kemudian dievakuasi ke daratan dan dilarikan ke Puskesmas terdekat guna mendapatkan penanganan medis. Saat ini, kondisi Wahyu telah sadar dan mulai membaik.

Komandan Lanal Simeulue, Letkol Laut (P) Oyu Mulia Sukmana, menegaskan bahwa keselamatan warga di wilayah kerja Lanal Simeulue menjadi prioritas utama. Ia juga mengimbau masyarakat agar selalu menggunakan alat keselamatan, seperti pelampung, saat melakukan aktivitas di laut.

Aksi cepat tanggap prajurit TNI AL dinilai sebagai wujud nyata komitmen TNI AL dalam menjaga keselamatan masyarakat di wilayah pesisir dan perairan.

“Hal ini sejalan dengan penekanan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali yang menegaskan bahwa prajurit TNI AL harus senantiasa hadir dan responsif terhadap situasi darurat, terutama yang terjadi di wilayah perairan, menjalin sinergi dengan instansi lain sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa dan negara,” ungkapnya.

Editor: Akil

Turki Salurkan 150 Hewan Kurban untuk Warga Aceh

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Turkiye Diyanet Vakfi (TDV), lembaga keagamaan yang bernaung di bawah Direktorat Kementerian Agama Turki, kembali menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat Aceh dengan menyalurkan 150 ekor hewan kurban. Bantuan ini disalurkan kepada warga di empat kabupaten/kota, yakni Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie Jaya, dan Aceh Jaya.

Penyembelihan hewan kurban tersebut dipusatkan di Gampong Lagang, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, pada Jumat, 6 Juni 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program solidaritas kemanusiaan tahunan yang dijalankan TDV bekerja sama dengan Aksen Foundation.

Prosesi penyerahan bantuan turut dihadiri perwakilan TDV Turki, Harun; perwakilan Aksen Foundation, Faisal; tokoh masyarakat Aceh, Husaini Ismail; serta Ketua DPRK Aceh Besar, Abdul Mukti, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Aceh Besar.

Dalam sambutannya, Harun menegaskan bahwa ikatan antara Turki dan Aceh sudah terjalin sejak lama dan bukan sekadar hubungan antarnegara.

“Hubungan antara Turki dan Aceh tidak bisa dipisahkan. Walau dipisahkan jarak, hati kami selalu dekat dengan Aceh. Kami mengikuti kabar dari sini, dan setiap kebahagiaan masyarakat Aceh juga menjadi kebahagiaan rakyat Turki,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa program kurban ini bukan hanya bentuk pelaksanaan ibadah, tetapi sekaligus menjadi simbol nyata solidaritas umat Islam lintas negara.

Ketua DPRK Aceh Besar, Abdul Mukti, dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian dan kepedulian pemerintah serta rakyat Turki kepada masyarakat Aceh.

“Kami sangat bersyukur atas kepedulian yang terus-menerus ditunjukkan oleh rakyat Turki. Semoga hubungan ini tidak berhenti di sini, tapi terus berlanjut dan semakin erat ke depan,” ujarnya.

Abdul Mukti memastikan bahwa pendistribusian daging kurban akan dilakukan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

“Semoga semangat persaudaraan antara Aceh dan Turki terus tumbuh dan memberi manfaat lintas generasi,” katanya.

Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama dan pembagian simbolis daging kurban kepada perwakilan masyarakat. Suasana haru dan penuh kebahagiaan mewarnai acara, yang tak hanya meringankan beban masyarakat menjelang Iduladha, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antara dua wilayah yang terpisah jarak namun dekat di hati.

Editor: Akil

Warga Pilih Salat Ied di Masjid Oman, BKM Sampaikan Terima Kasih

0
Ribuan jemaah memadati Masjid Oman Al-Makmur, Kampung Bandar Baru, Banda Aceh, untuk melaksanakan Salat Idul Adha 1446 Hijriah yang jatuh pada Jumat (6/6/2025). (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ribuan jemaah memadati Masjid Oman Al-Makmur, Kampung Bandar Baru, Banda Aceh, untuk melaksanakan Salat Idul Adha 1446 Hijriah yang jatuh pada Jumat (6/6/2025). Sebelum pelaksanaan salat, Badan Kemakmuran Masjid (BKM) menyampaikan informasi penting terkait kurban tahun ini.

Amatan Nukilan.id, salah satu pengurus BKM Masjid Oman menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat yang telah memilih Masjid Oman sebagai tempat pelaksanaan ibadah Idul Adha. Dalam pengumumannya, disebutkan bahwa sebanyak 21 ekor sapi dan 5 ekor kambing telah terkumpul dari warga Kampung Bandar Baru untuk kurban tahun ini.

“Alhamdulillah, tahun ini Kampung Bandar Baru berhasil mengumpulkan 21 hewan kurban, terdiri dari 17 ekor sapi di Masjid Oman dan 4 ekor sapi di Masjid Al-Fitra PHB Gampong Bandar Baru. Selain itu, 5 ekor kambing juga telah didaftarkan untuk disembelih,” ujar pengurus BKM dari mimbar pengumuman.

Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dijadwalkan pada Sabtu, 7 Juni 2025, dan akan dipusatkan di lapangan basket Kampung Bandar Baru, tepatnya di depan kantor kecil Gampong Bandar Baru. Proses penyembelihan dimulai pukul 06.30 WIB hingga selesai.

BKM juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyumbangkan hewan kurban berupa kambing atau domba. Biaya pemotongan untuk hewan jenis ini ditetapkan sebesar Rp250.000.

“Jemaah yang hendak berkurban kambing atau domba bisa langsung mengantarkan hewannya ke lokasi pemotongan,” ujar pengumum tersebut.

Suasana Idul Adha di Masjid Oman Al-Makmur tampak khidmat dan penuh kekeluargaan. Sejak pagi, jemaah dari berbagai penjuru mulai berdatangan, memenuhi halaman masjid dan jalan-jalan sekitarnya. Tak hanya sebagai momen ibadah, Idul Adha juga menjadi ajang silaturahmi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. (XRQ)

Reporter: Akil

Ustaz Muhajir Ajak Jemaah Masjid Oman Al-Makmur Teladani Ketaatan Nabi Ibrahim

0
Ilustrasi. (Foto: lamanriau)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ribuan umat Islam memadati halaman Masjid Oman Al-Makmur, Banda Aceh, Jumat (6/6/2025) pagi, untuk menunaikan Salat Idul Adha 1446 Hijriah. Di bawah langit Banda Aceh yang cerah, gema takbir dan lantunan tahmid berkumandang mengiringi pelaksanaan ibadah yang berlangsung khidmat.

Ustaz Muhammad Muhajir Syarifuddin, Lc., MA. bertindak sebagai khatib dalam salat ied kali ini. Amatan Nukilan.id, dalam khutbahnya, ia mengingatkan makna terdalam dari pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan pentingnya menumbuhkan kembali ketaatan tanpa syarat dalam kehidupan umat Islam hari ini.

“Inilah yang hilang dari kita hari ini, jemaah. Meja kerja kita, rumah tangga kita, bahkan fasilitas pendidikan dan olahraga kita—semuanya berjalan tanpa kehadiran Allah,” seru Ustaz Muhajir di hadapan ribuan jamaah yang memadati seluruh area masjid, termasuk hingga ke halaman dan badan jalan.

Nikmat Pilihan dan Kemuliaan Zulhijah

Di awal khutbahnya, Ustaz Muhajir menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat pilihan, yakni ketika seseorang dipilih oleh Allah untuk berada di waktu, tempat, dan keadaan yang mulia. Ia menyebutkan keistimewaan 10 hari pertama Zulhijah, sebagaimana Rasulullah menyatakan bahwa tidak ada amal saleh yang lebih dicintai Allah selain yang dilakukan di hari-hari tersebut.

“Kalau kalian tahu bagaimana cinta Rabb kalian kepada kalian, sungguh kalian akan meleleh dengan cinta,” ujar sang khatib, mengutip pandangan Imam Ibnul Qayyim.

Ia juga menyinggung Hari Arafah, yang disebut Rasulullah sebagai hari paling banyak Allah memerdekakan hamba-Nya dari api neraka. Hari itu, kata dia, merupakan momentum doa dan ampunan luar biasa bagi umat Islam yang memahami nilainya.

Ibrahim: Simbol Ketaatan dan Pengorbanan

Pesan utama dalam khutbah Idul Adha ini berpusat pada keteladanan Nabi Ibrahim AS. Ustaz Muhajir menekankan bahwa ketaatan Ibrahim merupakan simbol pengabdian tanpa syarat kepada perintah Allah, bahkan ketika perintah itu melampaui logika manusia.

Ia mengingatkan, perintah Allah kepada Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di tanah tandus, atau menyembelih anaknya sendiri, menjadi teladan tak terbantahkan tentang bagaimana seorang hamba sepenuhnya tunduk kepada kehendak Tuhannya.

“Ini yang hilang dari kita. Kita main hitung-hitungan sama Allah. Kita jadikan panggilan sederhana seperti azan menjadi berat,” kata Ustaz Muhajir dengan nada mengkritik diri.

Khutbah itu pun membawa jamaah menengok kembali sejarah Perang Uhud, saat para sahabat Nabi Muhammad SAW bangkit kembali meski tubuh mereka terluka parah, demi menjawab panggilan jihad. Ia mengaitkan kisah tersebut dengan realitas umat Islam masa kini yang mudah beralasan untuk menjauhi salat dan ibadah lain.

Ketergantungan kepada Allah

Khutbah kemudian ditutup dengan seruan untuk menumbuhkan kembali sifat tawakal dan ketergantungan mutlak kepada Allah, seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim dalam berbagai ujian berat yang ia hadapi.

Ia menyinggung dialog antara Siti Hajar dan Nabi Ibrahim ketika ditinggalkan di lembah tandus tanpa bekal.

“Kalau Allah yang memerintahkan, tidak mungkin Allah membiarkan kami sia-sia,” ujar sang khatib mengutip kalimat penuh keyakinan dari Siti Hajar, yang menjadi simbol kepercayaan mutlak terhadap janji Allah.

Khutbah yang disampaikan selama lebih dari 30 menit itu ditutup dengan takbir dan doa, yang diikuti penuh haru oleh para jamaah. Usai salat, banyak warga melanjutkan hari raya dengan menyembelih hewan kurban dan bersilaturahmi ke rumah-rumah keluarga. (xrq)

Reporter: Akil