Industri Terlupakan Akibat Sibuk Berpolitik
Industri manufaktur nasional, terutama sektor tekstil, sudah lama berada dalam kondisi kritis. Sebelum PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) resmi berhenti beroperasi pada 1 Maret 2025, almarhum ekonom senior Faisal Basri telah memperingatkan kemungkinan kehancuran industri ini.
Bukan hanya sektor tekstil yang menghadapi ancaman, tetapi berbagai industri manufaktur lainnya juga berada dalam situasi sulit. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dianggap gagal dalam mendorong pertumbuhan industri manufaktur. Bahkan, untuk sekadar mempertahankan industri yang sudah ada pun, tidak terlihat langkah konkret dari kementerian tersebut.
Dikutip dari Tempo, dalam sebuah diskusi publik di Jakarta pada Selasa (16/7/2024), Faisal menyoroti gelombang kebangkrutan yang melanda industri manufaktur.
“Banyak perusahaan bangkrut, bukan hanya keramik. Banyak yang bangkrut, tekstil bangkrut. Belum bisa pulih dari COVID-19, program restrukturisasinya sudah selesai, yang ndak bisa restrukturisasi ya sudah bangkrut, atau dijual murah,” ujarnya.
Ia juga mengkritik Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang dinilai lebih fokus pada aktivitas politik ketimbang memperkuat sektor industri.
“Anda pernah dengar menteri perindustrian bikin pernyataan? Jarang dia, mungkin enggak banyak yang tahu siapa nama menteri perindustrian kita, siapa,” kata Faisal.
Kekhawatiran Faisal Basri terbukti benar. Semakin banyak perusahaan manufaktur yang tidak mampu bertahan. Selain Sritex, PT Yamaha Music Indonesia dan PT Sanken Indonesia juga menghentikan operasionalnya, dengan keputusan merelokasi usaha mereka ke Jepang dan China.
Gelombang penutupan pabrik ini berdampak besar pada tingkat pengangguran. Dari Sritex saja, lebih dari 10.000 pekerja harus kehilangan pekerjaan. Sementara itu, jumlah pekerja yang terkena PHK akibat penutupan Yamaha Music dan Sanken melebihi 1.500 orang.
Tak hanya itu, dua pabrik sepatu di Tangerang, yakni PT Adis Dimension Footwear dan PT Victory Ching Luh, juga terpaksa menghentikan produksi dan memberhentikan sekitar 4.000 karyawan. Di Garut, Jawa Barat, pabrik bulu mata PT Danbi International mengalami nasib serupa, dengan kemungkinan jumlah pekerja terdampak mencapai 2.100 orang.
Sependapat dengan Faisal Basri, ekonom senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menilai bahwa kebijakan Kemenperin di bawah Agus Gumiwang Kartasasmita masih belum memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan sektor industri. Menurutnya, manufaktur memegang peran kunci dalam perekonomian nasional. Jika sektor ini runtuh, maka ekonomi negara pun akan ikut terdampak.
“Selama ini kementerian perindustrian berperan sangat terbatas dengan kebijakan yang lemah dan tidak bernilai signifikan untuk memajukan sektor industri,” ujar Didik dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Selasa (18/6/2024).
Didik menilai bahwa kebijakan yang diterapkan saat ini justru menghambat perkembangan industri nasional. Ia berpendapat bahwa regulasi yang ada tidak memberikan cukup peluang, ruang, maupun dorongan bagi industri dalam negeri untuk tumbuh.
Menurutnya, jika kondisi tersebut terus berlangsung, maka target Presiden Prabowo untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen sulit tercapai.
“Yang terjadi bahkan bisa jadi sebaliknya. Di mana, pertumbuhan ekonomi akan selalu di bawah 5 persen karena industrinya tumbuh sangat rendah,” ujar Didik.
Ia membandingkan Indonesia dengan Vietnam dan India yang mampu meningkatkan perekonomian mereka dengan menjadikan sektor industri sebagai penggerak utama pertumbuhan.
Di India, kata Didik, industri mampu tumbuh dua digit, sehingga perekonomiannya lebih mudah terdorong hingga mencapai pertumbuhan 7 persen. Sementara di Indonesia, industri dinilainya masih berjalan lambat, sehingga pertumbuhan ekonomi stagnan di angka 5 persen.
“Nah, faktor kritis dalam pertumbuhan ekonomi di masa pemerintahan Prabowo nanti terletak di kementerian ini,” tambahnya.
Pernyataan Didik mendapat tanggapan dari Ilham Permana, anggota Komisi VII DPR dari Partai Golkar. Ia menilai analisis Didik Rachbini kurang berbasis data.
Menurutnya, data menunjukkan sektor industri menyumbang 33 persen dari total investasi nasional. Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur tetap berada di zona ekspansi.
Ia juga menyoroti kinerja ekspor industri serta Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Desember 2024, yang tetap berada di level ekspansi, yakni 52,93.
Dilansir dari Kabar Golkar, pada 10 Feb 2025 lalu Ilham menegaskan bahwa posisi IKI pada Desember tahun lalu ditopang oleh ekspansi 19 subsektor yang berkontribusi terhadap PDB Industri Manufaktur Nonmigas pada Triwulan II-2024 sebesar 90,5 persen.
Berdasarkan data kuantitatif, lanjut Ilham, kinerja Menteri Perindustrian Agus Gumiwang cukup baik. Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB nasional mencapai 17,6 persen, menjadikannya yang tertinggi di kawasan ASEAN.
“Di bawah kepemimpinan Menperin Agus Gumiwang, kami sebagai mitra kerja sektor industri manufaktur, tetap menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional,” tutupnya.