Beranda blog Halaman 509

Illiza Sebut ARF Momentum Perkenalkan Aceh sebagai Destinasi Wisata Unggulan

0
Illiza Sebut Aceh Ramadan Festival 2025 Sebagai Momentum Perkenalkan Aceh sebagai Destinasi Wisata Unggulan. (Foto: MC Banda Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Aceh Ramadan Festival (ARF) 2025 resmi dibuka di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Rabu (12/3/2025). Acara yang masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025 ini menjadi ajang promosi budaya dan wisata religi Aceh ke kancah nasional dan internasional.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan bahwa ARF bukan sekadar tradisi, melainkan simbol kebersamaan dan keberagaman budaya yang memperkaya khazanah Aceh. Ia juga menyoroti kolaborasi erat antara Pemerintah Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan berbagai pemangku kepentingan dalam melestarikan budaya Aceh.

“ARF adalah upaya bersama untuk memperkenalkan Aceh dan Banda Aceh khususnya sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia. Kota di mana keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan masyarakatnya menyatu harmonis,” ujar Illiza dalam sambutannya.

Ia juga mengajak para pengunjung untuk mendukung pelaku UMKM lokal dengan membeli produk-produk yang dijual selama festival.

“Belanja yang banyak, sesuai tagline kita: bela dan beli produk UMKM Banda Aceh. Semua juga ikut share promosi via medsos masing-masing,” tambahnya.

Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf, secara resmi membuka rangkaian acara ARF 2025. Hadir pula Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata RI Reza Fahlevi, unsur Forkopimda Aceh dan Banda Aceh, Kepala Dinas Pariwisata Aceh Almuniza Kamal, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.

Festival ini berlangsung selama sepekan, 12-17 Maret 2025, dan menghadirkan berbagai kegiatan menarik. Didukung oleh sejumlah sponsor utama, seperti Pertamina, Bank Indonesia, dan Bank Aceh Syariah, ARF 2025 dimeriahkan dengan puluhan stan kuliner khas Aceh, termasuk bubur kanji rumbi gratis bagi pengunjung. Selain itu, terdapat pameran kaligrafi, manuskrip kuno, serta mushaf Al-Qur’an yang semakin menambah nilai edukatif dan religius dalam festival ini.

Illiza berharap ARF dapat terus berkembang menjadi acara tahunan yang lebih besar dan meriah.

“Semoga tahun depan bisa kita gelar lebih megah lagi dengan dukungan penuh Bapak Gubernur Aceh. Kami siap berkolaborasi membangun Aceh-Banda Aceh demi masyarakat yang lebih sejahtera,” ujarnya optimistis.

Editor: Akil

Gubernur Mualem Resmi Buka Aceh Ramadhan Festival 2025

0
Kembali dari Singapura
Gubernur Aceh, Mualem. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Aceh Ramadhan Festival 2025 resmi dibuka oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, di Halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Rabu (12/3/2025) sore. Event tahunan yang telah digelar untuk ketujuh kalinya ini berlangsung hingga 17 Maret 2025, menghadirkan beragam kegiatan yang memadukan syiar Islam dan penguatan ekonomi kreatif.

Tahun ini, Aceh Ramadhan Festival semakin semarak dengan 50 tenant UMKM yang difasilitasi oleh Bank Aceh Syariah. Tenant-tenant ini menawarkan kuliner khas Aceh, fesyen Islami, serta berbagai produk kerajinan tangan. Selain itu, berbagai lomba, pameran, dan pertunjukan seni budaya bernuansa Islami turut meramaikan acara.

Gubernur Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, menegaskan bahwa festival ini menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara 2025 Kementerian Pariwisata. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya memperkuat syiar Islam, tetapi juga mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Aceh.

“Mari kita majukan wisata Aceh supaya datang tamu dari dalam dan luar negeri, cukup senyum dan ramah kepada sebagai modal penting wisata,” ujar Mualem dalam sambutannya.

Sebagai upaya mendukung sektor pariwisata, Pemerintah Aceh berencana membangun kawasan Tamaddun Islam di kompleks makam Syiah Kuala. Kawasan ini akan menjadi pusat aktivitas keislaman, termasuk manasik haji dan umrah, yang diharapkan mampu menarik minat wisatawan dari luar Aceh.

“InsyaAllah kalau kita saling mendukung kita bisa bangun Aceh yang lebih maju,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Mualem juga meluncurkan Khazanah Piasan Nanggroe 2025, yang mencakup 42 event kebudayaan dan pariwisata sepanjang tahun di berbagai kabupaten/kota. Aceh Ramadhan Festival menjadi salah satu event unggulan dalam program ini.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, turut mengapresiasi penyelenggaraan festival ini. Ia menilai, festival ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga cerminan kekayaan budaya Aceh yang harus terus dijaga.

“Event ini bukti nyata kolaborasi antara Pemerintah Aceh dengan Pemko Banda Aceh dan ini adalah ikhtiar bersama untuk mengenalkan Aceh sebagai wisata unggulan dengan kekayaan budaya dan keindahan alam,” ujar Illiza.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, menambahkan bahwa penyelenggaraan festival ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia, Bank Aceh, Pertamina, serta sejumlah lembaga lainnya. Menurutnya, keberhasilan sektor pariwisata Aceh tidak bisa dicapai secara individu, melainkan melalui sinergi yang kuat.

“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa upaya memajukan sektor pariwisata di Aceh tidak bisa berjalan sendiri,” kata Almuniza.

Ia juga mengungkapkan bahwa angka kunjungan wisatawan ke Aceh terus meningkat pascapandemi. Sejumlah event besar yang digelar sebelumnya telah berhasil menarik wisatawan dalam jumlah signifikan. Diharapkan, Aceh Ramadhan Festival 2025 akan menjadi pendorong utama dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Tanah Rencong.

Acara pembukaan ini turut dihadiri oleh Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata, Reza Fahlevi, Plt Direktur Utama Bank Aceh, Hendra Supardi, Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar, serta sejumlah tokoh penting lainnya.

Editor: Akil

Bidang PAI Kanwil Kemenag Aceh Gelar Pembinaan MANDUM PAI

0
Bidang PAI Kanwil Kemenag Aceh Gelar Pembinaan MANDUM PAI dan Safari Ramadan di Aceh Utara. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Lhoksukon – Bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh menggelar kegiatan Pembinaan Manajemen Sumber Daya Unggulan Mutu (MANDUM) PAI di Aula PLHUT Kemenag Aceh Utara, Rabu (12/3/2025). Kegiatan ini turut dirangkaikan dengan sosialisasi Program GEMMA (Gerakan Menulis Mushaf Al-Qur’an) yang diperuntukkan bagi Guru PAI se-Aceh.

Sebanyak 70 Guru PAI, Pengawas PAI, Pengurus Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI, Kelompok Kerja Guru (KKG) PAI, serta Asosiasi Guru PAI (AGPAI) Kabupaten Aceh Utara hadir dalam kegiatan tersebut.

Kepala Bidang PAI Kanwil Kemenag Aceh, H. Khairul Azhar, S.Ag., M.Si., menjelaskan sejumlah hal penting terkait pelaksanaan Program Profesi Guru (PPG) PAI dan petunjuk teknis pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG) PAI Tahun 2025.

Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi langkah Kemenag Aceh Utara, Seksi PAI, serta AGPAI yang telah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dalam upaya mendukung bantuan dana PPG bagi Guru PAI yang berada di bawah naungan Pemda Aceh Utara.

“Koordinasi yang baik ini memungkinkan bantuan dana PPG dapat dilaksanakan pada Batch 1 Tahun 2025,” ungkapnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Tim SMA/SMK, Dr. H. Taharuddin, MA, dan Ketua Tim SMP Bidang PAI, M. Nasir, S.Pd.I.

GEMMA Siap Dimulai Serentak di Aceh

Khairul Azhar juga mengajak seluruh Guru PAI dan Kemenag Aceh Utara untuk turut menyukseskan Program GEMMA.

“Kick off program ini akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Aceh bersama Bapak KaKanwil dan 604 Guru PAI serta Pengawas pada 17 Ramadhan 1446 H atau bertepatan dengan 17 Maret 2025 M,” ujarnya.

Program GEMMA sendiri merupakan kegiatan penulisan Mushaf Al-Qur’an secara serentak oleh Guru PAI se-Aceh sebagai bentuk kecintaan terhadap Al-Qur’an dan upaya memperkuat literasi keislaman di kalangan pendidik.

Safari Ramadan di Aceh Utara

Selain pembinaan, rangkaian kegiatan juga mencakup Safari Ramadan oleh Tim Kanwil Kemenag Aceh di Kabupaten Aceh Utara. Dalam kegiatan tersebut, Dr. H. Taharuddin, MA, memberikan siraman rohani di Masjid Al-Kautsar, Desa Alue Mudeng, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh pejabat Kemenag Aceh Utara, termasuk Kakankemenag Aceh Utara, Drs. H. Maiyusri, M.Ag., beserta jajarannya. Safari Ramadan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi serta memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.

Dengan adanya rangkaian pembinaan dan safari ini, diharapkan kualitas pendidikan agama Islam di Aceh semakin meningkat, serta program-program unggulan seperti GEMMA dapat berjalan dengan sukses.

Editor: AKil

Syech Besar Asal Mesir Akan Pimpin Qiyamullail di Banda Aceh

0
Syech Besar Asal Mesir Akan Pimpin Qiyamullail di Banda Aceh. (Foto: Diskominfo BNA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh kembali menghadirkan nuansa istimewa di bulan suci Ramadhan dengan mendatangkan Syech Muhammad Hamid Al Gammal, seorang imam dan qari internasional asal Mesir. Kehadirannya akan mengisi malam-malam penuh berkah dengan memimpin salat isya, tarawih, witir, dan qiyamullail di sejumlah masjid di Banda Aceh mulai 16 hingga 26 Ramadhan 1446 H.

Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh, Ridwan, S.Ag., M.Pd, menyampaikan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan syiar Islam dan mendorong masyarakat semakin menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan dengan ibadah.

“Selain itu juga memotivasi warga Banda Aceh dalam menghidupkan 15 malam terakhir dalam bulan suci Ramadhan,” ujar Ridwan.

Ia juga berharap kehadiran imam asal Mesir ini menjadi momentum istimewa bagi warga Banda Aceh untuk lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah qiyamullail.

Jadwal Imam Syech Muhammad Hamid Al Gammal:

  • 16-17 Maret: Masjid Quba Blower
  • 18 Maret: Masjid Istiqomah Blower
  • 19 dan 21 Maret: Masjid Jami’ Kemukiman Lueng Bata
  • 20 Maret: Masjid Raya Baiturrahman
  • 22-26 Maret: Masjid Al Falah Nesu Jaya

Dengan kedatangan imam besar asal Mesir ini, diharapkan masyarakat Banda Aceh dapat merasakan pengalaman spiritual yang lebih mendalam selama bulan suci Ramadhan. Pemerintah Kota juga mengajak seluruh warga untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan menghadiri dan meramaikan salat berjamaah di masjid-masjid yang telah dijadwalkan.

Editor: Akil

Ditjenpas Terima Hibah 4,1 Hektare untuk Pembangunan Lapas Baru di Aceh Tenggara

0
Ditjenpas Terima Hibah 4,1 Hektare untuk Pembangunan Lapas Baru di Aceh Tenggara. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia menerima hibah tanah seluas 4,1 hektare dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara. Lahan tersebut akan digunakan untuk membangun lembaga pemasyarakatan (lapas) baru guna mengatasi persoalan kelebihan kapasitas di Lapas Kelas IIB Kutacane.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, dalam kunjungannya ke Aceh Tenggara pada Selasa (11/3), menyampaikan komitmen Ditjenpas untuk segera merealisasikan pembangunan lapas baru tersebut.

“Kami akan membangun lapas baru secepatnya di atas tanah yang telah dihibahkan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dengan luas 4,1 hektare,” kata Mashudi.

Penyerahan surat hibah tanah dilakukan langsung oleh Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry, kepada Mashudi di sela-sela kunjungan meninjau kondisi Lapas Kelas IIB Kutacane. Dalam kesempatan tersebut, Mashudi mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi lapas yang mengalami kelebihan kapasitas.

Saat ini, Lapas Kelas IIB Kutacane dihuni oleh 362 narapidana dan tahanan, padahal kapasitas idealnya hanya untuk sekitar 100 orang. Kondisi ini mencerminkan permasalahan yang hampir merata di seluruh lapas dan rumah tahanan (rutan) di Aceh.

“Kami prihatin dengan kondisi Lapas Kutacane. Tidak hanya di Kutacane, hampir semua lapas dan rutan di Aceh kelebihan huni hingga 300 persen. Karena itu, Ditjenpas akan membangun lapas di Kabupaten Aceh Tenggara di atas lahan hibah pemerintah daerah,” ujar Mashudi.

Selain meninjau kondisi lapas, kunjungan Mashudi juga berkaitan dengan insiden kaburnya 52 narapidana pada Senin (10/3) petang. Para narapidana tersebut melarikan diri diduga akibat insiden antrean pembagian makanan berbuka puasa yang memicu ketegangan di dalam lapas.

Mashudi menegaskan bahwa pembangunan lapas baru menjadi langkah mendesak untuk meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan serta mencegah insiden serupa terjadi di masa mendatang. Ia juga mendorong pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan DPR RI untuk mendukung percepatan pembangunan lapas guna mengatasi persoalan kelebihan kapasitas yang semakin mendesak di berbagai wilayah.

Pembangunan lapas baru diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi permasalahan yang selama ini menghantui sistem pemasyarakatan di Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Tenggara.

Editor: Akil

Narapidana Aceh Tuntut Bilik Asmara, Begini Kata Ahli

0
Ilustrasi penjara. (Foto: Ist)

NUKILAN.id | Jakarta – Isu penyediaan bilik asmara di lembaga pemasyarakatan kembali mencuat setelah insiden kaburnya puluhan narapidana dari Lapas IIB Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Selain karena kapasitas lapas yang melebihi batas, para napi juga disebut-sebut menuntut fasilitas bilik asmara sebagai bagian dari hak mereka selama menjalani masa tahanan.

Menanggapi hal ini, ahli andrologi dan seksologi Wimpie Pangkahila menilai bahwa keberadaan bilik asmara di lapas merupakan hal yang wajar, asalkan diperuntukkan bagi pasangan sah narapidana.

“Saya pribadi setuju. Istri menengok, ada kesempatan untuk berdua, di kamar tanpa diganggu. Tapi kalau orang lain [selain pasangan sah] jangan,” ujar Wimpie dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (12/3/2025).

Bilik asmara sendiri merupakan ruang khusus di lapas yang memungkinkan pasangan sah narapidana bertemu secara lebih privat. Konsep ini telah diterapkan di beberapa negara untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan emosional warga binaan.

Dampak Psikologis Jika Hasrat Seksual Tidak Tersalurkan

Menurut Wimpie, hubungan seksual memiliki dimensi psikoseksual yang tidak hanya melibatkan aspek fisik, tetapi juga emosional. Ia menjelaskan bahwa tidak adanya penyaluran hasrat seksual dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang.

“Hubungan seks itu salah satu kebutuhan psikoseksual ya. Kita menyebutnya psikoseksual karena ada unsur fisik tapi juga melibatkan perasaan. Jadi memang orang yang melakukan masturbasi tentu tidak merasakan kepuasan seperti yang dilakukan dengan pasangan yang diminati,” jelasnya.

Meski begitu, Wimpie menambahkan bahwa manusia tetap bisa hidup tanpa hubungan seksual, terutama dengan adanya alternatif seperti masturbasi. Namun, jika kebutuhan seksual tidak tersalurkan sama sekali, dampaknya bisa berujung pada stres dan kecemasan.

“Yang paling banyak (dampaknya seperti) merasakan ketidakpuasan, stres, karena ketika orang berhubungan seks atau masturbasi puncaknya adalah orgasme. Orang kan merasakan tenang, rileks, (tapi) itu nggak ada, sebaliknya (merasa) stres, bingung, gelisah,” tuturnya.

Perdebatan Soal Bilik Asmara di Lapas

Isu bilik asmara di lapas bukanlah hal baru dan terus menjadi perdebatan di Indonesia. Sejumlah pihak menilai bahwa fasilitas ini perlu diberikan untuk menjaga kesejahteraan psikologis warga binaan. Namun, di sisi lain, ada pula yang khawatir akan potensi penyalahgunaan fasilitas tersebut.

Sejauh ini, belum ada regulasi yang mengatur secara eksplisit tentang bilik asmara di lapas Indonesia. Namun, diskusi mengenai kebijakan ini terus berkembang, terutama dalam konteks pemenuhan hak asasi narapidana dan pembinaan yang lebih manusiawi di lembaga pemasyarakatan.

Editor: Akil

Sisi Lain Balap Liar Remaja di Banda Aceh: Antara Hobi dan Minimnya Fasilitas

0
Aksi balap liar remaja di Kota Banda Aceh. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Suara deru knalpot dan sorak-sorai penonton membelah udara pagi di Jalan Rama Setia, Deah Baro, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Kamis (13/3/2025). Seperti tahun-tahun sebelumnya, balap liar kembali menjadi fenomena di bulan Ramadan, khususnya setelah waktu subuh.

Amatan Nukilan.id, sepanjang jalan, ratusan remaja tampak berkerumun menyaksikan aksi balapan yang dilakukan oleh sesama mereka. Tanpa helm, tanpa perlengkapan keamanan, dan dengan trek seadanya—jalan umum yang disulap menjadi lintasan dadakan—balapan ini tetap berlangsung dengan antusiasme tinggi.

“Setiap Ramadan pasti ada seperti ini,” ujar salah satu remaja yang ikut menyaksikan balapan. Ia mengaku datang dari Aceh Besar hanya untuk melihat ajang ini.

Bagi para peserta, kegiatan ini bukan sekadar ajang uji nyali, tetapi sudah menjadi bagian dari hobi.

“Ini sudah jadi tradisi Ramadan, bangun sahur, shalat Subuh, lalu ke sini,” kata seorang remaja lainnya.

Namun, di balik keseruan ini, ada bahaya yang mengintai. Minimnya pengamanan, ketidaksiapan fasilitas, serta tidak adanya pembatas antara pembalap dan penonton membuat risiko kecelakaan sangat tinggi. Salah seorang remaja menyoroti kurangnya perhatian dari pihak berwenang.

“Kalau ada tempat yang disediakan, mungkin kami nggak harus balapan di jalan seperti ini,” ungkapnya.

Ketika ditanya tentang razia polisi, para peserta mengaku sudah terbiasa. “Kalau ada polisi datang, ya tinggal lari saja. Kalau ketangkap, ya sudah, resiko,” ujar seorang remaja sambil tertawa.

Balap liar remaja di Banda Aceh menunjukkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, menjadi hiburan bagi remaja dan wadah menyalurkan hobi, namun di sisi lain menjadi ancaman bagi keselamatan mereka sendiri dan pengguna jalan lainnya.

Tanpa solusi berupa fasilitas yang lebih aman, tradisi ini kemungkinan besar akan terus berulang. Bukan sekadar aksi balap di jalan raya, tetapi juga potensi bahaya yang mengintai setiap pesertanya. (XRQ)

Reporter: Akil

Drama Korupsi Impor Minyak: Antara Populisme Hukum dan Permainan Kekuasaan

0
Ilustrasi korupsi minyak mentah. (Foto: Detik)

NUKILAN.id | Opini – Penyidikan kasus korupsi impor minyak oleh Kejaksaan Agung awalnya bak drama yang memikat publik. Pernyataan demi pernyataan dari lembaga hukum ini sukses membakar emosi masyarakat. Bagaimana tidak? Kejaksaan menyebutkan bahwa kerugian negara akibat kasus ini pada 2023 saja mencapai Rp3,7 triliun. Padahal, skandal ini telah berlangsung sejak 2018.

Masyarakat semakin geram ketika Kejaksaan mengungkap bahwa bahan bakar Pertamax yang dijual di SPBU Pertamina ternyata dioplos dengan zat aditif agar nilai oktannya naik. Sentimen publik kian membara. Kepercayaan terhadap Pertamina, bahkan terhadap pemerintah, mulai terkikis. Namun, drama ini kemudian mengalami antiklimaks.

Kejaksaan buru-buru meralat pernyataan mereka, menyatakan bahwa kualitas Pertamax yang beredar saat ini sudah sesuai standar. Mereka juga mengganti diksi “oplosan” dengan “blending”, seolah mencoba meredakan kegaduhan.

Namun, apa yang terjadi ini bukan sekadar soal pernyataan yang direvisi. Ada pola berulang dalam kasus-kasus besar yang ditangani Kejaksaan Agung: menggiring perhatian publik pada angka kerugian fantastis, tetapi mengaburkan sosok yang seharusnya bertanggung jawab.

Dalam perkara korupsi pengusaha Surya Darmadi, misalnya, Kejaksaan semula mengklaim negara rugi Rp8,8 triliun, tetapi pengadilan kemudian hanya mengesahkan Rp2,6 triliun. Dalam kasus korupsi timah, meski angka kerugian Rp300 triliun diakui pengadilan, hingga kini pengembalian kerugian negara masih tanda tanya. Publik disuguhi angka-angka besar, tetapi substansi perkara justru terpinggirkan.

Dalam kasus impor minyak, misalnya, asal-usul klaim kerugian Rp3,7 triliun patut dipertanyakan. Salah satu komponen yang dihitung sebagai kerugian negara berasal dari subsidi dan kompensasi BBM dalam APBN 2023 sebesar Rp147 triliun. Jika nanti angka kerugian negara ini tidak terbukti di pengadilan, sejak awal penyebabnya sudah bisa ditebak: Kejaksaan lebih sibuk menggiring opini ketimbang menegakkan hukum yang solid.

Impor minyak adalah bisnis yang menggiurkan dengan banyak celah korupsi. Mulai dari manipulasi stok di kilang untuk menciptakan alasan impor, rekayasa pengadaan dan harga, hingga permainan dalam pengapalan minyak ke dalam negeri. Bisnis ini dikuasai oleh segelintir orang yang sudah bertahun-tahun bercokol di dalamnya.

Salah satu tersangka dalam kasus ini, Muhammad Kerry Adrianto Riza, adalah bukti betapa kuatnya jaringan bisnis minyak ini. Jejak ayahnya, Muhammad Riza Chalid, sudah lama menjadi sorotan, tetapi tak pernah tersentuh hukum. Dengan hubungan bisnis yang kuat di luar negeri dan kedekatan dengan banyak politikus lintas partai, keberadaan Riza dalam lingkaran impor minyak sulit digeser begitu saja.

Penelusuran Tempo menemukan bahwa kasus ini bukan sekadar soal hukum, tetapi juga perebutan kuasa di sektor impor minyak. Pengusaha yang tak kebagian jatah bisnis berupaya mendongkel pemain lama dengan menggiringnya ke dalam kasus hukum. Ini menjadi mungkin karena pesaing Riza saat ini berada dalam lingkaran kekuasaan. Dengan kata lain, perang bisnis dibalut dengan bumbu penegakan hukum.

Kejaksaan Agung sejak awal sudah menyatakan tidak ada keterlibatan seorang pengusaha dan saudaranya yang kini duduk di kabinet. Padahal, pergantian pemain tidak akan serta-merta membuat tata kelola impor minyak menjadi lebih baik. Jika kasus ini hanya dijadikan alat untuk menyingkirkan kompetitor, maka hukum kembali menjadi alat politik. Seperti istilah kata, “lepas dari mulut harimau, masuk ke perut hiena.” (XRQ)

Penulis: Akil

Dana Desa di Aceh Singkil Belum Cair, Proses Administrasi Jadi Kendala

0
Ilustrasi dana desa. (Foto: dpmpd.kaltimprov.go.id)

NUKILAN.id | Singkil – Memasuki pertengahan Maret 2025, belum ada satu pun desa di Kabupaten Aceh Singkil yang menerima pencairan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2025. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Aceh Singkil, Azwir SH, mengonfirmasi hal tersebut.

“Hingga saat ini belum ada Dana Desa yang cair,” kata Azwirdikutip dari RRI, Selasa (11/3/2025).

Menurut Azwir, keterlambatan pencairan Dana Desa disebabkan oleh proses penyiapan dokumen anggaran pendapatan dan belanja kampung (APBKam) yang masih berlangsung. Selain itu, desa-desa di Aceh Singkil juga tengah menyelesaikan berbagai persyaratan administrasi untuk pengajuan pencairan.

“Saat ini sejumlah desa sedang mengikuti proses posting pengajuan pencairan Dana Desa dan posting syarat lainnya,” tambahnya.

Azwir memperkirakan bahwa desa-desa yang telah mengajukan pencairan pada pekan ini baru akan menerima realisasi Dana Desa pada pekan depan.

“Terutama Dana Desa sumber ADD atau APBN,” tegasnya.

Namun, pencairan Dana Desa yang bersumber dari Alokasi Dana Kabupaten (ADK) masih terganjal. Proses ini terkendala oleh penetapan dan peraturan bupati (Perbup) terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Singkil tahun 2025.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai total pagu Dana Desa untuk 116 desa yang tersebar di 11 kecamatan di Aceh Singkil tahun ini. Pemerintah desa diharapkan segera menyelesaikan kelengkapan administrasi agar pencairan Dana Desa bisa segera direalisasikan untuk mendukung pembangunan di tingkat kampung.

Editor: AKil

Express Bahari Klarifikasi Dugaan Meninggalkan Pasien di Pelabuhan Balohan

0
Express Bahari. (Foto: for Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Manajemen kapal cepat Express Bahari memberikan klarifikasi terkait kabar yang beredar di media sosial mengenai dugaan kapal meninggalkan seorang pasien rujukan di Pelabuhan Balohan, Sabang, pada Kamis, 6 Maret 2025.

Rudi, Kepala Perwakilan Cabang Sabang Express Bahari, menjelaskan bahwa pihaknya telah memberikan toleransi keterlambatan hingga 20 menit sebelum akhirnya kapal diberangkatkan menuju Banda Aceh.

“Sesuai kesepakatan dari hasil koordinasi tahun 2023 lalu yang diinisiasi oleh BKK Sabang bersama para agen kapal, bahwasanya kapal cepat memberikan kelonggaran waktu hingga 10 sampai 15 menit dari jadwal keberangkatan untuk menunggu pasien rujukan, dan itu artinya kita sudah semaksimal mungkin memberikan dari waktu toleransi yang telah disepakati,” ujarnya.

Rudi menambahkan, pihaknya sebenarnya tetap berupaya menunggu pasien rujukan agar bisa ikut dalam keberangkatan pagi itu. Namun, kondisi di dalam kapal menjadi tidak kondusif lantaran penumpang yang sudah lama menunggu mendesak agar kapal segera diberangkatkan. Banyak dari mereka mengejar jadwal penerbangan pukul 11.00 WIB di Banda Aceh.

“Oleh karena itu, dari hasil koordinasi Nahkoda dengan pihak koordinator KKP, kepala rujuk RSU, dan pihak Syahbandar, serta dengan kesepakatan bersama, kapal akhirnya diberangkatkan,” jelasnya.

Express Bahari menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga pasien rujukan atas kejadian ini. Rudi juga mengimbau pihak RSU Sabang agar menyesuaikan jadwal rujukan dengan keberangkatan kapal guna menghindari kejadian serupa di masa mendatang.

“Pada kesempatan ini juga kami menghimbau kepada pihak RSU Sabang agar bisa menyesuaikan jadwal keberangkatan kapal. Apabila waktu terlalu mepet, maka kami sarankan untuk mengambil jadwal kapal berikutnya, karena Nahkoda juga harus mematuhi jadwal kapal yang ada, terutama di pagi hari, sebab ada kemungkinan penumpang lain berangkat mengejar jadwal pesawat,” tambahnya.

Sebagai informasi, Express Bahari telah beroperasi selama 17 tahun di rute Balohan – Ulee Lheue dan selama ini telah berkomitmen memberikan pelayanan terbaik, terutama bagi pasien rujukan.

“Sebagai informasi saja, bahwasanya prihal seperti ini baru kali ini terjadi selama kurang lebih 17 tahun kapal kami beroperasi di lintasan Balohan – Ulee Lheue (PP), dan selama ini alhamdulillah kita selalu memberikan pelayanan yang terbaik, terutama pada penumpang pasien rujukan yang mana bagi kami penumpang tersebut perlu pelayanan khusus serta yang paling diprioritaskan. Itu telah kami buktikan dengan memberikan fasilitas khusus tiket gratis (free) untuk pasien dan jenazah sebagai bentuk CSR perusahaan dan kepedulian sosial kami kepada masyarakat Sabang,” ungkap Rudi.

Ia berharap masyarakat Sabang, khususnya pasien rujukan RSU, dapat menyesuaikan jadwal keberangkatan ke Banda Aceh agar tidak mengalami keterlambatan.

“Pada kesempatan ini kami berharap kerja sama masyarakat Sabang, terutama pasien rujukan RSU, agar keberangkatan menuju Aceh bisa menyesuaikan jadwal keberangkatan kapal dan diusahakan untuk tepat waktu,” tutupnya.

Editor: Akil