Beranda blog Halaman 508

Polres Aceh Selatan Gelar Rekonstruksi Kasus Pembakaran Rumah Bermotif Asmara

0
Adegan rekonstruksi proses pembakaran rumah dengan memakai minyak pertalite di Puncak Gemilang, Gampong Lhok Bengkuang Timur, Aceh Selatan, Jumat (13/6/2025). (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Aceh Selatan menggelar rekonstruksi kasus pembakaran rumah dan perusakan yang diduga dilatarbelakangi motif asmara, Jumat, 13 Juni 2025.

Rekonstruksi berlangsung di sejumlah titik berbeda di Puncak Gemilang, Gampong Lhok Bengkuang Timur, Kecamatan Tapaktuan. Tersangka utama berinisial JI (45), seorang petani asal Gampong Pulo Ie II, Kecamatan Pasie Raja, turut dihadirkan dalam proses tersebut.

Kasus ini tergolong langka di wilayah hukum Polres Aceh Selatan, lantaran diduga dipicu oleh kecemburuan dan konflik pribadi yang kemudian berujung pada tindakan kriminal serius berupa pembakaran dan perusakan rumah.

Peristiwa bermula dari laporan warga terkait insiden kebakaran rumah di Gampong Pasie Kuala Ba’u, Kecamatan Kluet Utara, yang terjadi pada Februari lalu. Berdasarkan laporan polisi Nomor: LP/B/22/II/2025, pihak kepolisian kemudian melakukan penyelidikan intensif hingga pelaksanaan rekonstruksi.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kasat Reskrim Polres Aceh Selatan Iptu Narsyah Agustian, S.H., M.H., Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kaur Identifikasi dan tim, Kanit Idik 4 PPA beserta personel Satreskrim, serta pengamanan dari Satsamapta.

Selama rekonstruksi, tersangka memeragakan sembilan adegan di lokasi berbeda, mulai dari tempat mengambil jerami, membeli bahan bakar, hingga titik pembakaran dan lokasi ditemukannya barang bukti seperti korek api dan telepon genggam.

Hasil penyelidikan mengindikasikan bahwa pembakaran dilakukan secara terencana. Tersangka membeli BBM jenis Pertalite dari sebuah kedai, lalu menunggu malam di jembatan gantung sebelum menuju rumah korban dan melancarkan aksinya.

Kapolres Aceh Selatan AKBP T. Ricki Fadlianshah, S.I.K., melalui Kasat Reskrim menyatakan bahwa rekonstruksi ini menjadi bagian penting dari proses penyidikan untuk memastikan kesesuaian fakta dan keterangan dari tersangka.

Ia juga menegaskan, tidak ada toleransi terhadap pelaku kejahatan yang dipicu oleh emosi pribadi, terlebih jika sampai membahayakan keselamatan dan harta benda orang lain.

Polres Aceh Selatan menegaskan komitmennya untuk menindak tegas setiap tindak pidana, termasuk yang bermotif konflik personal. Rekonstruksi berlangsung aman dan tertib hingga selesai.

Editor: Akil

Prabowo Ambil Alih Polemik Empat Pulau Antara Aceh dan Sumut, Keputusan Diumumkan Pekan Depan

0
Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia. (Foto: Biro Pers Skretariat Presiden)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengambil alih penanganan polemik batas wilayah antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara yang melibatkan empat pulau. Langkah ini diungkapkan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad setelah adanya komunikasi antara DPR dan Presiden.

“Hasil komunikasi DPR RI dengan Presiden RI bahwa Presiden mengambil alih persoalan batas pulau yang menjadi dinamika antara Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara,” kata Dasco kepada wartawan, Sabtu (14/6/2025).

Menurut Dasco, keputusan terkait status empat pulau tersebut akan ditetapkan Presiden dalam waktu dekat. Ia menyebut keputusan itu dijadwalkan rampung pekan depan.

“Dalam pekan depan akan diambil keputusan oleh Presiden tentang hal itu,” lanjutnya.

Empat pulau yang dipersoalkan ialah Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek. Keempatnya saat ini secara administratif tercatat berada dalam wilayah Sumatera Utara, meski sebelumnya dikenal sebagai bagian dari wilayah Aceh.

Polemik ini mencuat setelah keluarnya Keputusan Menteri Dalam Negeri pada 25 April 2025 yang mendukung klaim Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, termasuk dukungan terhadap Gubernur Bobby Nasution.

Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Sekretariat Daerah Aceh, Syakir, menyebut proses perubahan status empat pulau tersebut telah berlangsung sejak sebelum 2022. Ia mengatakan beberapa kali telah dilakukan rapat koordinasi dan survei lapangan oleh Kemendagri pada tahun tersebut.

“Proses perubahan status keempat pulau tersebut telah berlangsung sebelum 2022, jauh sebelum Gubernur Muzakir Manaf dan Wakil Gubernur Fadhlullah menjabat. Pada 2022, beberapa kali telah difasilitasi rapat koordinasi dan survei lapangan oleh Kementerian Dalam Negeri,” ujarnya pada Senin (26/5).

Pemerintah Aceh hingga kini menolak keputusan tersebut dan masih memperjuangkan agar keempat pulau tersebut kembali masuk ke dalam wilayah administratif Aceh.

Kementerian Dalam Negeri pun memberikan penjelasan terkait sengketa tersebut. Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal, menyampaikan kisruh bermula dari pengajuan perubahan nama pulau oleh Pemerintah Aceh pada tahun 2009.

Safrizal menjelaskan bahwa hasil verifikasi tim nasional pembakuan rupabumi pada saat itu menemukan 213 pulau di wilayah Sumatera Utara, termasuk keempat pulau yang kini dipersoalkan. Verifikasi ini juga mendapat konfirmasi dari Gubernur Sumatera Utara melalui surat resmi.

“Hasil verifikasi tersebut, mendapat konfirmasi dari Gubernur Sumatera Utara, lewat surat nomor sekian, nomor 125, tahun 2009 yang menyatakan bahwa provinsi Sumatera terdiri di 213 pulau, termasuk empat pulau yang tadi, yang empat pulau itu,” kata Safrizal dalam konferensi pers di kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Rabu (11/6).

EDITOR: AKIL

Langkah Berani TRK: Gaet Dukungan World Bank untuk Pembangunan Nagan Raya

0
bupati nagan raya
Bupati Nagan Raya, Dr. Teuku Raja Keumangan, S.H., M.H., menjadi satu-satunya kepala daerah di Indonesia yang diundang secara khusus oleh World Bank Group ke kantor pusat mereka di Washington, D.C., Amerika Serikat, Sabtu (14/6/2025). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | Washington, D.C. – Bupati Nagan Raya, Dr. Teuku Raja Keumangan, S.H., M.H., menjadi satu-satunya kepala daerah di Indonesia yang diundang secara khusus oleh World Bank Group ke kantor pusat mereka di Washington, D.C., Amerika Serikat, Sabtu (14/6/2025). Undangan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Eksekutif World Bank Group, Dr. Wempi Saputra, dengan disaksikan oleh Haryadi, Senior Advisor dari South East Asia Voting Group (EDS16).

Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi Kabupaten Nagan Raya dalam menjalin kerja sama global, khususnya di sektor pemerintahan dan percepatan pembangunan infrastruktur. Dalam pertemuan tersebut, Bupati yang akrab disapa TRK menyampaikan apresiasi atas undangan yang diterimanya.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, saya merasa sangat terhormat atas undangan dari Bank Dunia ini. Seperti disampaikan oleh Bapak Wempi tadi, mungkin saya adalah bupati pertama dari Indonesia yang hadir langsung ke kantor pusat World Bank di Washington, D.C. Ini sebuah sejarah, dan saya menyambutnya dengan rasa syukur yang mendalam,” ujar TRK.

Ia menekankan bahwa kunjungannya bukan sekadar seremoni, melainkan membawa visi besar untuk mempercepat pembangunan di Nagan Raya. Salah satu fokus utama yang dibawa dalam pertemuan tersebut adalah rencana pembangunan Pelabuhan Laut Internasional di wilayah pantai barat selatan Aceh.

“Kami datang dengan harapan besar agar kolaborasi ini bisa membuka jalan bagi percepatan pembangunan di Nagan Raya, khususnya dalam mewujudkan pembangunan Pelabuhan Laut Internasional. Wilayah kami memiliki posisi strategis di Pantai Barat Selatan Aceh yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Ini adalah aset geopolitik dan geoekonomi yang belum dimanfaatkan secara optimal,” tegasnya.

Pelabuhan yang dirancang tersebut diharapkan mampu menjadi simpul ekspor-impor yang strategis, menghubungkan Indonesia dengan kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika Timur, hingga Australia. Infrastruktur ini akan mendukung pengiriman langsung berbagai komoditas unggulan Aceh, seperti batu giok, emas, kelapa sawit, kelapa, kopi, nilam, dan karet, ke pasar internasional tanpa harus melalui pelabuhan besar lainnya yang jauh dari pusat produksi.

Lebih jauh, TRK menjelaskan bahwa pelabuhan tersebut juga dirancang untuk melayani kapal-kapal ekspor-impor besar hingga kapal pesiar mancanegara. Ia menilai proyek ini akan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal, nasional, hingga regional.

“Pelabuhan ini bukan hanya proyek infrastruktur biasa, melainkan kunci pembuka pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional, maupun regional. Ia akan memangkas biaya logistik, meningkatkan daya saing produk, mendorong pertumbuhan industri hilir, dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat luas lintas negara,” paparnya.

TRK juga mengajukan permohonan dukungan konkret dari World Bank, baik dalam hal pendampingan teknis, kajian kelayakan, maupun fasilitasi investasi.

“Kami berharap World Bank dapat membantu memfasilitasi investor yang mau berinvestasi membangun pelabuhan ini. Kami juga memerlukan bantuan teknis, seperti pemetaan potensi daerah (diagnostik), kajian kelayakan, hingga dukungan pendanaan awal,” ungkapnya.

Menurut TRK, keterlibatan World Bank akan menjadi sinyal positif bagi investor dan lembaga donor lainnya bahwa proyek ini layak dan menjanjikan dampak ekonomi yang luas.

“Jika ini dapat terwujud, saya yakin wilayah Pantai Barat Selatan Aceh tidak lagi menjadi daerah pinggiran, tetapi akan tumbuh sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia bagian barat,” katanya.

Kunjungan ini disambut hangat oleh jajaran eksekutif World Bank. Mereka menilai inisiatif yang dibawa oleh Bupati Nagan Raya sejalan dengan misi pembangunan berkelanjutan yang selama ini menjadi fokus lembaga tersebut. Pemerintah Kabupaten Nagan Raya pun menyatakan kesiapan untuk bekerja sama secara terbuka dengan berbagai pihak, termasuk investor swasta dan kementerian terkait di Indonesia.

“Kami bukan datang membawa proposal, kami datang membawa masa depan. Dan saya yakin, jika World Bank bersama kami, masa depan itu bukan sekadar mimpi, tapi akan menjadi kenyataan,” ujar TRK menutup pernyataannya.

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif World Bank Group, Dr. Wempi Saputra, menyatakan komitmennya untuk mendukung pembangunan yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Nagan Raya.

“World Bank sebagai lembaga internasional siap mendukung Pemerintah Kabupaten Nagan Raya sesuai dengan fungsi dan mandat kelembagaan yang kami emban,” ujarnya.

Ia juga menyatakan kesediaan untuk memfasilitasi investor dari berbagai negara agar dapat berpartisipasi dalam pembangunan pelabuhan laut internasional di wilayah tersebut.

“Langkah yang ditempuh oleh Bupati Nagan Raya merupakan inisiatif yang sangat positif dan strategis. Hal ini tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan nasional, tetapi juga akan mendorong kemajuan daerah serta kawasan pesisir barat selatan Aceh,” pungkas Wempi.

Editor: AKil

Lantik Wali Kota Sabang, Mualem Ingatkan Pentingnya Amanah dan Kemudahan Investasi

0
Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem resmi melantik H. Zulkifli H. Adam dan Drs. Suradji Junus sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sabang periode 2025–2030. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.ID | SABANG — Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem resmi melantik H. Zulkifli H. Adam dan Drs. Suradji Junus sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sabang periode 2025–2030. Pelantikan tersebut berlangsung dalam rapat paripurna DPRK Sabang di Kantor DPRK Sabang, Sabtu (14/6/2025).

Dikutip Nukilan.id dari video yang diunggah pada akun TikTok pribadinya, dalam sambutannya Mualem menegaskan pentingnya komitmen dan integritas dalam memimpin Kota Sabang, yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Aceh.

Ia berharap agar kepemimpinan yang baru dapat menjaga amanah dan menjadikan Sabang sebagai kota wisata yang ramah serta dipercaya oleh wisatawan dan investor.

“Nggak usah muluk-muluk, jual senyum saja. Harus amanah, jika dompet wisatawan jatuh tolong dikembalikan, itu saja,” ujar Mualem, memberi pesan sederhana namun bermakna dalam membangun citra kota wisata yang bersahabat.

Menurutnya, kesederhanaan dalam pelayanan, kejujuran, serta keramahan warga merupakan kunci penting dalam mengembangkan sektor pariwisata. Dengan membangun kepercayaan wisatawan, Sabang akan mampu meningkatkan daya saingnya di tingkat nasional maupun internasional.

“Hal ini supaya Sabang lebih dipercaya dan lebih maju (pariwisatanya),” lanjutnya.

Tak hanya soal pariwisata, Mualem juga menyinggung potensi investasi besar yang segera masuk ke Kota Sabang. Ia menyebut, kehadiran investor kelas dunia seperti Mubadala, perusahaan asal Uni Emirat Arab, harus disambut dengan keseriusan dan pelayanan yang maksimal.

“Apalagi Mubadala tidak lama lagi akan berinvestasi sebesar-besarnya di Kota Sabang. Maka, amanah ini harus dijaga,” tegas Mualem.

Ia menekankan, pemerintah kota harus mampu menciptakan iklim usaha yang sehat dan kondusif. Salah satu langkah konkret yang harus diambil adalah penyederhanaan birokrasi serta percepatan perizinan.

“Kemudian, jangan persulit persoalan administrasi dan perizinan bagi mereka yang ingin berinvestasi di Sabang,” pungkasnya.

Pelantikan ini diharapkan menjadi momentum bagi Kota Sabang untuk berbenah dan melangkah lebih maju, tidak hanya dalam pengelolaan sektor pariwisata, tetapi juga dalam menjadikan daerah ini sebagai pintu masuk investasi strategis di ujung barat Indonesia. (XRQ)

Reporter: Akil

Mualem Ungkap Alasan Empat Pulau Diperebutkan: Ada Gas Setara Blok Andaman

0
Gubernur Aceh saat memberikan sambutan di pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sabang, pada Sabtu, 14 Juni 2025. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | SABANG – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, menyoroti sengketa empat pulau di Kabupaten Aceh Singkil yang kini telah ditetapkan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai bagian dari wilayah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Pernyataan tersebut disampaikan Mualem dalam sambutannya saat pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sabang, pada Sabtu, 14 Juni 2025.

Dikutip dari Nukilan.id, melalui video yang diunggah di akun Instagram resminya, Mualem menyebutkan bahwa potensi sumber daya alam, khususnya gas, menjadi alasan utama perebutan wilayah empat pulau tersebut.

“Kenapa sekarang berebut empat pulau itu, tahu enggak? Karena di sana ada kandungan energi, gasnya sama besar dengan di (blok) Andaman. Itu masalahnya,” ujar Mualem.

Ketua Umum Partai Aceh tersebut juga menyinggung letak geografis Pulau Andaman di India yang dinilainya cukup dekat dengan Aceh. Ia mengingatkan pentingnya menjaga wilayah perbatasan, termasuk Pulau Rondo di Sabang.

Sambil berseloroh, Mualem menegaskan bahwa empat pulau yang saat ini disengketakan tetap merupakan bagian dari Aceh.

“Pulau kita mau direbut di Singkil. Kita ambil Andaman aja, boleh? Karena dekat. Kalau tidak, jaga Pulau Rondo biar tidak diambil India. Walaupun bercanda, kita harus hati-hati juga. Tapi yang jelas, empat pulau itu hak kita, kita punya, jadi selow aja,” tambahnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nasri Jalal, menyampaikan bahwa keempat pulau yang dimaksud—Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek—berada berdekatan dengan wilayah potensi migas di sekitar Wilayah Kerja (WK) Offshore West Aceh (OSWA).

“Secara umum, keempat pulau tersebut berdekatan dengan dengan WK OSWA,” kata Nasri.

Kendati demikian, Nasri menjelaskan bahwa keempat pulau itu tidak termasuk dalam wilayah kerja BPMA. Ia juga menyebutkan bahwa hingga kini belum tersedia cakupan data seismik yang cukup untuk mengevaluasi potensi migas secara menyeluruh.

“Belum ada cakupan data seismik di empat pulau tersebut, sehingga evaluasi potensi migas belum bisa dilakukan secara komprehensif,” jelasnya.

BPMA mendorong agar survei awal dan akuisisi data seismik dilakukan untuk mengetahui potensi sumber daya energi di kawasan tersebut. (XRQ)

Reporter: Akil

Mengenal Iskandar: Dosen ISBI Aceh Perancang Logo UIN Sultanah Nahrasiyah

0
Mengenal Iskandar, Dosen ISBI Aceh Perancang Logo UIN Sultanah Nahrasiyah. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Transformasi IAIN Lhokseumawe menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah turut menghadirkan identitas visual baru yang sarat makna. Logo resmi UIN Sultanah Nahrasiyah dirancang oleh Iskandar, M.Sn, dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.

Logo tersebut menggabungkan berbagai elemen simbolik, seperti bentuk kande dari makam Sultanah Nahrasiyah, huruf Arab nun (ن) sebagai representasi perempuan (nisa), kaligrafi bertuliskan Nahrasiyah, serta ilustrasi pena, arah mata angin, atom terisolasi, bintang, dan bunga keupula. Keseluruhan elemen ini diramu dalam gaya modern yang tetap menghormati nilai lokal dan keislaman.

Iskandar dikenal sebagai seniman dan pegiat budaya serta sejarah Aceh. Penunjukannya dilakukan langsung oleh Rektor IAIN Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag dalam proses pengusulan perubahan status kelembagaan, yang kini telah diresmikan melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2024.

Dalam keterangannya, Iskandar menyampaikan bahwa perancangan logo ini tidak semata persoalan estetika, melainkan upaya menggali dan merangkai simbol-simbol historis, spiritual, dan filosofis yang merepresentasikan visi UIN Sultanah Nahrasiyah ke depan.

Sebagai lulusan ISI Yogyakarta, Iskandar memiliki pengalaman panjang di dunia seni rupa dan desain di Aceh. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kebudayaan menjadi bekal dalam merancang identitas visual kampus Islam tersebut.

Menurutnya, logo ini dirancang sebagai cerminan komitmen UIN Sultanah Nahrasiyah terhadap pengembangan ilmu keislaman, keterbukaan terhadap inovasi, kerja lintas disiplin, serta pemberdayaan budaya lokal dan peran perempuan dalam sejarah dan masa depan.

Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah, Prof. Dr. Danial, M.Ag, memberikan apresiasi tinggi atas karya tersebut. Ia menilai logo ini merepresentasikan misi besar universitas dalam bingkai lokalitas dan globalitas.

“Kami ingin UIN Sultanah Nahrasiyah tampil sebagai universitas Islam yang tidak hanya kokoh dalam tradisi keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan, melainkan juga kuat dalam merawat tradisi lokal dan mumpuni dalam menghadapi tantangan global. Logo hasil ‘ijtihad dan jihad’ intelektual, emosional, dan spiritual seniman muda Iskandar Tungang ini melukiskan dengan apik misi dan citra tersebut. Di samping itu, logo UIN ini sarat dimensi dan multi-nuansa: historis, teologis, antropologis, geografis, akademis, dan estetis. Logo yang lahir dari rahim keilmuan dan kearifan eksotik salah seorang dosen ISBI ini bukan hanya menunjukkan kepiawaiannya dalam mendesain, tetapi juga kedalaman dan keluasan pemahamannya tentang aneka konteks yang komprehensif dan integratif. Ibarat obat, ia mampu meracik masa lalu dan menyembuhkan masa depan. Insya Allah. Tabik!”

Dengan kehadiran UIN Sultanah Nahrasiyah, Lhokseumawe dan wilayah utara Aceh kini memiliki poros penting dalam pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Logo yang baru ini bukan sekadar simbol formal, tetapi merepresentasikan arah baru universitas yang modern, inklusif, dan transformatif, dengan pijakan kuat pada nilai-nilai keislaman, ilmu pengetahuan, budaya, dan identitas lokal.

Editor: AKil

Kurir Sabu 48 Kg Ditangkap di Halaman Masjid di Langsa

0
Ilustrasi sabu. (Foto: Tempo)

Nukilan | Banda Aceh – Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menangkap seorang pria berinisial H (42) di halaman parkir Masjid Agung Darul Falah, Kota Langsa. Penangkapan ini dilakukan pada Kamis (13/6/2025) dini hari, setelah H diduga menerima paket narkotika jenis sabu seberat 48 kilogram.

Penangkapan bermula dari informasi yang diterima penyidik awal Juni 2025, terkait rencana pengiriman sabu dari Malaysia ke wilayah Lhokseumawe. Menindaklanjuti informasi tersebut, tim gabungan dari Bareskrim Polri dan Direktorat Bea Cukai melakukan penyelidikan intensif di kawasan Lhokseumawe.

“Pada Kamis, 12 Juni 2025 pukul 21.30 WIB, tim mendapat informasi bahwa paket sabu dari Malaysia telah tiba dan diserahkan kepada penerima di darat,” ujar Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Hadi Santoso dalam keterangannya kepada Nukilan, Jumat (13/6/2025).

Berdasarkan hasil penyelidikan, sabu tersebut diketahui telah berpindah tangan kepada H. Sekitar pukul 02.45 WIB, tim melakukan penangkapan terhadap H di lokasi yang telah dipantau sebelumnya.

“Pelaku ini berperan sebagai kurir darat,” jelas Brigjen Eko.

Saat dilakukan penggeledahan terhadap kendaraan yang dikendarai H, polisi menemukan 48 bungkus sabu yang disimpan di dalam mobil. Barang bukti tersebut terdiri dari satu bungkus kemasan coklat bertuliskan “Guanyinwang”, 16 bungkus kemasan coklat polos, dan 31 bungkus kemasan hijau bertuliskan “Guanyinwang”.

Hingga saat ini, penyidik masih melakukan pengembangan lebih lanjut untuk mengungkap jaringan pengedar lainnya yang terlibat dalam pengiriman sabu lintas negara tersebut. []

Reporter: Sammy

Tokoh Masyarakat Pulau Banyak: Kami Sangat Marah dengan Keputusan Mendagri

0
Empat pulau di Aceh Singkil yang diambil Sumut. (Foto: Google Maps)

Nukilan | Singkil – Salah seorang tokoh masyarakat Desa Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil, Ahmad Tahsis mengatakan masyarakat Singkil saat ini sangat marah dengan keputusan Mendagri, Tito Karnavian yang dinilai mencaplok empat pulau di Singkil menjadi masuk ke wilayah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

“Kami sangat tidak senang, dari dulu-dulu kan empat pulau itu sudah masuk dalam wilayah kita itu, wilayah Aceh. Kan parah,” ujarnya kepada Nukilan, Sabtu (14/6/2025).

Dia menambahkan, masyarakat Singkil polemik ini diselesaikan secara hukum yang sudah berlaku, yaitu keempat pulau dimaksud masuk ke wilayah Aceh Singkil. Dia mempertanyakan berdasarkan apa perubahan itu bisa terjadi.

“Karena keserakahan barang kali, nggak tahu kita cara berpikirnya hingga empat pulau itu bisa diambil Sumut,” kata Ahmad Tahsis.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Aceh dan sejumlah tokoh daerah menolak keputusan yang menyatakan keempat pulau, yaitu Pulau Mangkir Besar, Pulau Mangkir Kecil, Pulau Lipan, dan Pulau Panjang itu milik Sumatra Utara.

Mereka menilai kebijakan tersebut tidak hanya bertentangan dengan hukum, tetapi juga mengabaikan fakta sejarah dan identitas Aceh sebagai wilayah dengan otonomi khusus. []

Reporter: Sammy

Aceh Tak Tempuh Jalur Hukum Soal Empat Pulau Masuk Sumut

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. (Foto: Pemerintah Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh bersama DPR Aceh, Forbes DPR/DPD RI asal Aceh, serta sejumlah pihak terkait sepakat tidak akan membawa polemik empat pulau yang diklaim milik Aceh ke ranah hukum. Meskipun keberatan dengan keputusan pemerintah pusat yang menetapkan keempat pulau itu masuk wilayah Sumatera Utara, mereka memilih menyelesaikannya melalui jalur kekeluargaan, administratif, dan politis.

Keputusan tersebut diambil usai rapat yang dipimpin Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem pada Jumat (13/6/2025). Rapat tersebut turut dihadiri oleh DPR Aceh, perwakilan Forbes, Bupati Aceh Singkil, para ulama, hingga akademisi.

“Pertama pendekatan secara kekeluargaan dan juga administratif dan politik,” kata Mualem.

Dalam rapat itu juga disepakati bahwa Aceh tidak akan menggugat keputusan Menteri Dalam Negeri ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Sebagai gantinya, Mualem akan menyampaikan surat keberatan kepada Mendagri Tito Karnavian.

“Poinnya itu, pertama hak kita, bukti dan data hak kita, kemudian secara historis hak kita. Secara penduduk kita, secara geografis hak kita, saya rasa seperti itu, itu saja kita pertahankan,” ujar Mualem.

Selain surat keberatan, Mualem juga dijadwalkan menghadiri rapat bersama Mendagri pada Rabu (18/6) untuk membahas persoalan tersebut. Jika tidak tercapai kesepakatan, ia menyatakan akan menyampaikan keberatan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

“Itu langkah terakhir (bertemu Presiden). Insyaallah itu tahap terakhir. Jika semuanya tidak mempan, Alhamdulillah, saya yakin (Presiden) berkomitmen untuk Aceh, seperti itu. Insyaallah. Kita doakan bersama,” katanya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan bertemu dengan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, Mualem menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak dibahas dalam rapat.

“Tidak kita bahas, bagaimana kita duduk bersama (Gubernur Sumut), itu kan hak kita, kepunyaan kita, milik kita, wajib kita pertahankan, itu saja,” ujar dia.

Sementara itu, perwakilan Forbes DPD-DPR RI asal Aceh, TA Khalid, menyatakan bahwa berdasarkan bukti sejarah dan dokumen yang ada, keempat pulau tersebut merupakan milik Aceh.

“Bukti-bukti sejarah dan lain sebagainya, empat pulau itu sah untuk kita (Aceh). Maka kami bersepakat untuk mempertahankan, dan wajib dikembalikan,” kata Khalid.

Ia menegaskan, tidak ada alasan membawa persoalan itu ke PTUN.

“Tidak usah, ngapain ke PTUN, milik kita itu. Dan kita sudah sepakat melakukan langkah administratif dan politis,” ujarnya.

Diketahui, empat pulau yang disengketakan antara Aceh dan Sumatera Utara adalah Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek. Sengketa ini telah berlangsung cukup lama dengan kedua provinsi saling mengklaim wilayah.

Pada 25 April 2025, Kementerian Dalam Negeri menerbitkan Keputusan Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025 yang menetapkan empat pulau tersebut masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Keputusan ini menjadi dasar kekisruhan baru antara dua provinsi tersebut.

Editor: AKil

Deforestasi Terus Terjadi, Afrizal: Ancaman Nyata bagi Manusia dan Lingkungan

0
afrizal
Putra daerah Kluet Tengah, Afrizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Deforestasi terus menggerogoti hutan-hutan alam Indonesia. Laporan terbaru dari Auriga Nusantara mencatat bahwa sepanjang tahun 2024, Indonesia telah kehilangan hutan alam seluas 261.575 hektare.

Angka ini memperlihatkan bahwa kerusakan hutan masih menjadi persoalan serius, termasuk di kawasan konservasi strategis seperti Taman Nasional Gunung Leuser yang berada di wilayah Aceh dan Sumatra Utara. Kawasan yang dikenal sebagai paru-paru dunia itu kini berada di urutan keenam dengan luas deforestasi mencapai 335 hektare.

Menanggapi temuan ini, Nukilan.id menghubungi Afrizal, peneliti bidang Hutan dan Pertambangan dari Perkumpulan Pembela Lingkungan Hidup (P2LH) Aceh.

Ia menegaskan bahwa dampak dari hilangnya hutan alam tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga menyisakan ancaman besar dalam jangka panjang terhadap ekosistem dan kehidupan manusia.

“Berbicara dampak jangka panjang, tentunya kita menyadari bahwa hutan adalah bagian sentral sebagai benteng perlindungan kehidupan. Tidak hanya berdampak pada masyarakat di sekitar hutan, tapi juga berdampak pada masyarakat yang tinggal di daerah kota dan padat industri,” ungkap Afrizal pada Sabtu (14/6/2025).

Menurutnya, kerusakan hutan akan berbanding lurus dengan peningkatan risiko bencana alam. Deforestasi menyebabkan hilangnya daya serap air, memperbesar potensi banjir, dan memicu longsor yang sewaktu-waktu bisa mengancam pemukiman warga.

“Bencana alam seperti banjir, tanah longsor, menjadi ancaman yg nyata apabila hutan terus dirusak. Hal ini sejalan dengan intensitas bencana yg terjadi di Aceh dalam beberapa tahun terakhir,” lanjutnya.

Afrizal juga menyoroti dampak lain yang tak kalah mengkhawatirkan, yaitu meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar. Ketika habitat alami terganggu, hewan-hewan seperti gajah, harimau, hingga beruang madu kehilangan ruang hidupnya dan mulai masuk ke kawasan pemukiman penduduk.

“Belum lagi maraknya konflik satwa dan manusia yg terjadi akibat tidak adanya keseimbangan yg terjadi di hutan,” tambahnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa persoalan deforestasi bukan hanya isu lokal atau nasional. Dunia internasional pun turut mengkhawatirkan hilangnya hutan tropis Indonesia, karena berkontribusi terhadap krisis iklim global. Maka dari itu, berbagai negara kini aktif mendorong pendanaan untuk pelestarian hutan.

“Secara global bahkan, dunia terus berupaya untuk membiayai pelestarian hutan ditengah ancaman krisis iklim. Banyak traktat yg kemudian mengikat komitmen negara-negara untuk memelihara hutan demi menampik dampak besar dari perubahan iklim,” pungkasnya.

Hilangnya ratusan ribu hektare hutan alam bukan hanya angka statistik. Di baliknya, ada ekosistem yang terdegradasi, ada masyarakat lokal yang kehilangan sumber penghidupan, serta generasi masa depan yang terancam kehilangan warisan alam yang seharusnya mereka jaga. (XRQ)

Reporter: Akil