Beranda blog Halaman 490

Peringatan Hari Bhayangkara ke-79, Ribuan Warga Aceh Tengah Meriahkan Jalan Santai

0
Ribuan Warga Aceh Tengah Meriahkan Jalan Santai di Peringatan Hari Bhayangkara ke-79. (Foto: LintasGayo)

NUKILAN.ID | TAKENGON — Ribuan warga memadati ruas Jalan Leube Kader, Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu pagi (28/6/2025), untuk mengikuti kegiatan jalan santai dan senam massal dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79.

Kegiatan yang diselenggarakan Polres Aceh Tengah ini merupakan bagian dari rangkaian acara menuju puncak perayaan Hari Bhayangkara pada 1 Juli mendatang. Antusiasme terlihat dari keikutsertaan masyarakat dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, yang turut memeriahkan suasana penuh semangat dan keakraban.

Rute jalan santai dimulai dari depan Mapolres Aceh Tengah, melintasi Bundaran Simpang V, Simpang Terminal, Simpang Wariji, dan kembali ke titik awal. Usai jalan santai, peserta diajak mengikuti senam bersama dan berkesempatan mendapatkan hadiah doorprize menarik.

Satu unit sepeda motor menjadi hadiah utama dalam kegiatan ini, selain itu disediakan juga hadiah lainnya seperti sepeda gunung, televisi, kulkas, serta beragam bingkisan hiburan yang disambut antusias oleh masyarakat.

Pelepasan peserta dilakukan langsung oleh Bupati Aceh Tengah, didampingi Kapolres Aceh Tengah AKBP Dody Indra Eka Putra, S.I.K., M.H., serta unsur Forkopimda dan sejumlah tamu undangan.

Dalam sambutannya, Kapolres AKBP Dody menekankan bahwa kegiatan ini mencerminkan kedekatan Polri dengan masyarakat.

“Perayaan ini kami kemas dengan berbagai kegiatan, tidak hanya olahraga, tapi juga senam bersama, festival kuliner dan UMKM, hiburan musik, serta malam harinya akan digelar Didong Jalu antara Teruna Jaya dan Siner Pagi Mude sebagai pelestarian budaya Gayo,” ujar AKBP Dody.

Ia berharap peringatan Hari Bhayangkara ke-79 ini dapat menjadi momen memperkuat silaturahmi dan komitmen pelayanan terbaik kepada publik.

“Melalui kegiatan ini, kita pupuk semangat persaudaraan dan kecintaan terhadap budaya lokal,” tambahnya.

Senada dengan itu, Bupati Aceh Tengah menyampaikan apresiasinya kepada Polres Aceh Tengah atas inisiatif kegiatan yang merangkul masyarakat.

“Semoga Kepolisian semakin dicintai rakyat, menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang profesional, humanis, serta responsif terhadap dinamika sosial,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap pelaku UMKM yang ikut serta membuka stand produk lokal dalam kegiatan tersebut.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi daerah. Kegiatan seperti ini bukan hanya sebagai hiburan dan olahraga, tapi juga ruang promosi yang efektif bagi pelaku usaha,” imbuhnya.

Semarak kegiatan, kehadiran ribuan warga, dan beragam hiburan yang disuguhkan, menjadikan momen ini tak hanya sebagai bentuk peringatan semata, melainkan juga cerminan kuatnya sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun lingkungan yang sehat, aman, dan penuh kebersamaan.

Editor: Akil

BMKG Ingatkan Waspada Suhu Maksimum 34 Derajat Celsius di Aceh dan Medan

0
Ilustrasi cuaca panas. (Foto: Pinterest)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terkait suhu maksimum yang cukup tinggi di sejumlah wilayah pada hari ini, Minggu, 29 Juni 2025. Dalam keterangannya, suhu di beberapa kota besar terpantau mencapai angka yang cukup mengkhawatirkan.

“Suhu maksimum di Aceh dan Medan mencapai 34 derajat Celsius,” ungkap Prakirawan BMKG Rira A Damanik, Minggu (29/6/2025).

Selain Aceh dan Medan, kota-kota lain juga mengalami suhu yang cukup tinggi. Tanjung Pinang dan Bengkulu tercatat mengalami suhu maksimum hingga 33 derajat Celsius. Sementara itu, Jambi dan Lampung mencatat suhu maksimum sebesar 32 derajat Celsius.

“Selanjutnya di Jambi dan Lampung suhu maksimum mencapai 32 derajat Celsius,” jelas dia.

Pekanbaru dan Padang berada di kisaran suhu yang lebih rendah dibanding kota lainnya, dengan suhu maksimum masing-masing 28 dan 27 derajat Celsius.

“Suhu yang mencapai 34 derajat celsius sehingga diharapkan tetap waspada terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan,” jeals Rira.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan menghindari paparan langsung sinar matahari dalam waktu lama, terutama pada siang hari. Masyarakat juga diingatkan untuk tetap mengonsumsi air putih yang cukup agar terhindar dari dehidrasi akibat cuaca panas.

EDITOR: AKIL

392 Jamaah Haji Asal Aceh Kloter Pertama Tiba di Tanah Air

0
Ilustrasi jemaah haji. (Foto: MetroTV)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sebanyak 392 jamaah haji asal Kota Banda Aceh yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) pertama telah tiba kembali di tanah air melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar, pada Sabtu (28/6/2025) pagi.

Kepulangan rombongan pertama ini disambut langsung oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Embarkasi Aceh. Ketua PPIH Embarkasi Aceh, Azhari, menyampaikan bahwa pesawat yang membawa jamaah mendarat lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan.

“Alhamdulillah, hari ini kloter pertama haji Aceh sudah tiba di tanah air, mendarat pada pukul 06:30 WIB, lebih cepat dari jadwal sebelumnya,” ujar Azhari di Bandara SIM, Aceh Besar.

Diketahui, jumlah jamaah kloter pertama ini sebelumnya berjumlah 393 orang saat diberangkatkan. Namun, satu orang jamaah meninggal dunia di tanah suci karena sakit, sehingga jumlah yang kembali ke tanah air menjadi 392 orang.

“Semoga yang meninggal di Arab Saudi mendapatkan haji mabrur, dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapinya,” sambungnya.

Azhari juga mengimbau agar jamaah yang baru tiba dapat bersikap tertib dan mematuhi prosedur pemulangan. Khusus kloter pertama yang berasal dari Banda Aceh, mereka diperkenankan langsung dijemput oleh keluarga masing-masing di Asrama Haji.

“Setelah pelepasan langsung dijemput oleh keluarga, karena hari ini jamaahnya asal Banda Aceh,” jelasnya.

Menurut kebijakan PPIH, hanya jamaah dari Banda Aceh dan Aceh Besar yang dapat dijemput langsung oleh keluarga, mengingat lokasi mereka yang dekat dengan asrama. Sementara itu, jamaah dari kabupaten/kota lain akan diantar dengan bus menuju titik penjemputan di daerah masing-masing yang telah ditentukan oleh pemerintah daerah.

Untuk tahun ini, PPIH Embarkasi Aceh mencatat sebanyak 4.446 jamaah haji diberangkatkan ke tanah suci. Hingga saat ini, 12 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia di Arab Saudi akibat gangguan kesehatan.

Kepulangan jamaah haji Aceh ke tanah air akan berlangsung bertahap mulai 27 Juni hingga 9 Juli 2025 melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah.

Editor: AKIL

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue: Saksi Bisu Tsunami

0
Masjid Baiturrahim Ulee Lheue. (Foto: Popularitas)

NUKILAN.ID | FEATURE – Angin laut pagi itu terasa seperti biasa—sejuk, asin, dan mengirimkan bisikan dari ujung Selat Malaka. Tapi ada yang tak biasa dari langkah kaki para pengunjung yang tiba di pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. Mereka tak hanya mencari ketenangan, tapi juga kenangan. Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan yang anggun dan bersahaja: Masjid Baiturrahim, rumah ibadah yang tak pernah roboh meski lautan pernah mengamuk hebat.

Bagi sebagian orang, ia hanya tempat sujud. Tapi bagi banyak warga Aceh, masjid ini adalah penjaga iman, pelipur lara, dan saksi bisu dari tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah melanda tanah rencong.

Minggu pagi itu, 26 Desember 2004, adalah hari yang tak akan dilupakan siapa pun yang hidup di Aceh. Kota Banda Aceh baru saja terjaga ketika bumi berguncang hebat. Tidak lama kemudian, dinding air setinggi pohon kelapa datang menerjang dari arah laut, melumat kota, menyapu rumah, kendaraan, dan manusia tanpa pandang bulu.

Ulee Lheue, yang dulunya dikenal sebagai kawasan pelabuhan yang padat dan ramai, menjadi ladang puing dan tubuh-tubuh tanpa nyawa. Tapi ada yang tak ikut terseret: Masjid Baiturrahim tetap berdiri.

Kisah tentang masjid ini sebenarnya telah banyak ditulis oleh berbagai penulis, baik dalam artikel maupun jurnal. Letaknya hanya beberapa puluh meter dari garis pantai. Secara logika, bangunan ini seharusnya sudah rata dengan tanah. Namun kenyataannya, masjid itu masih berdiri kokoh, meski terdapat luka-luka kecil di sisi dan bagian belakangnya.

“Salat lima waktu secara berjamaah selalu kami gelar di sini. Bahkan pada hari terjadinya tsunami, kami juga menggelar salat Zuhur berjamaah di sini,” tutur Subhan, pengurus masjid, sebagaimana dalam wawancaranya dengan VOA Islam pada 2013 silam.

Namun, dalam hitungan menit, ketenangan berubah menjadi teror. Gempa dahsyat berkekuatan 9,3 magnitudo mengguncang, disusul gelombang laut setinggi lebih dari 10 meter yang menggulung daratan. Ulee Lheue—yang saat itu dihuni sekitar 6.000 jiwa—rata dengan tanah. Empat dusun hilang. Tapi Masjid Baiturrahim tetap berdiri.

“Hari itu saya melihat Ulee Lheue antara percaya dan tidak. Seperti dalam mimpi. Semua rata dengan tanah, satu-satunya bangunan selamat hanya masjid ini,” kata Subhan.

Ia mengenang bagaimana tiga gelombang menerjang masjid itu. Setiap kali menghantam, gelombang raksasa seperti pecah di dinding masjid. Air laut mengamuk di luar, namun di dalam masjid, air terasa tenang.

“Kondisi air dalam masjid saat itu begitu tenang, orang bisa berenang antara tiang ini ke tiang itu, sementara di luar bergulung-gulung sangat ganas,” ujar Subhan.

Banyak warga yang mencoba menyelamatkan diri dengan naik ke lantai atas masjid. Namun maut tetap mengintai. Namun, dalam berbagai sumber tercatat hanya sembilan orang yang berhasil mencapai atap masjid dan selamat.

Ketika air surut, masjid bersih dari jenazah, hanya satu jasad perempuan tua ditemukan di sudut ruangan. Al-Qur’an dan kitab suci lainnya berserakan dalam kondisi utuh. Bangunan masjid rusak hanya sekitar 20 persen di bagian samping dan belakang, padahal ia dibangun tanpa rangka besi.

Rasa penasaran mendorong penulis menelusuri catatan sejarah digital. Dari situ, penulis menemukan bahwa salah satu dari sembilan orang yang selamat adalah Syarifah Mazura. Dikutip dari KBA.ONE, saat itu ia berusia 40 tahun dan tinggal di sebuah rumah kontrakan yang terletak persis di depan masjid.

“Pagi itu kami semua berlarian ke Masjid Jami’ Baiturrahim Ulee Lheue. Rumah sewaan saya tepat di depan Masjid itu,” ungkap Syarifah.

Ia memeluk ketiga anaknya erat-erat, berharap akan selamat. Namun ombak raksasa datang menghantam seperti ular kobra raksasa. Genggaman itu terlepas. Ketiga anaknya, suami, dan orang tuanya hilang dari pandangan.

“Mereka sempat minta maaf ke saya. Umi, maafin kami kalau ada salah selama ini,” kenang Syarifah, mengulang kalimat terakhir dari sang anak.

Ia sendiri sempat terseret arus. Tubuhnya terapung di sekitar masjid. Seorang pria melihatnya dan mencoba menyelamatkan. Pertama menarik rambutnya, lalu akhirnya berhasil menarik lengannya yang mulai kaku.

“Alhamdulillah saya bisa naik ke atap masjid, kami selamat sembilan orang dan ada anak usia 8 bulan satu orang,” katanya.

Sembilan jam mereka bertahan di atas atap masjid. Ketika air benar-benar surut, mereka berjalan kaki ke kota. Mayat-mayat berserakan di sepanjang jalan.

“Saat itu saya sudah linglung, anak hilang, suami juga sudah tiada. Saya hanya sendiri saat itu,” ujarnya.

Tahun-tahun setelahnya, ia habiskan dalam proses penyembuhan. Kini, ia membangun kembali hidupnya dengan keluarga kecil yang baru. Syarifah kini mengabdikan diri sebagai petugas memandikan jenazah dan guru pengajian ibu-ibu di Ulee Lheue.

“Saya bersyukur bisa selamat, meski sendiri tapi saya coba bangkit lagi,” ucapnya.

Masjid Baiturrahim bukan hanya milik masa kini. Jejak sejarahnya membentang hingga ke abad ke-17, saat Kesultanan Aceh masih berjaya. Dulu ia dikenal sebagai Masjid Jami’ Ulee Lheue, pusat spiritual masyarakat pelabuhan yang dinamis. Peran masjid ini semakin krusial ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda pada 1873, menjadikannya benteng terakhir spiritual umat kala itu.

Bangunan yang berdiri hari ini adalah hasil pemugaran tahun 1923 oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pilar-pilar bergaya Eropa dengan lengkungan khas kolonial menjadi saksi bagaimana arsitektur lokal berbaur dengan sejarah penjajahan. Masjid ini juga pernah diuji oleh gempa besar tahun 1983, yang meruntuhkan kubahnya. Warga tak patah semangat. Mereka membangun kembali atap masjid dengan kayu, sederhana, tapi kokoh oleh niat baik.

Tsunami tahun 2004 hanya merusak sekitar 20 persen bangunan. Meski dibangun tanpa kerangka besi, ia tetap tegak berdiri. Tempo.co mencatat, kitab-kitab suci yang ditemukan berserakan di sekitarnya menjadi bukti betapa dekatnya maut dan mukjizat saat itu.

“Masjid Baiturrahim sangat berharga bagi kami, apalagi setiap hari kami gunakan masjid untuk beribadah, bermusyawarah, dan tempat anak-anak mengaji. Masjid ini juga saksi bisu peristiwa tsunami yang menghancurkan kawasan kami,” kata seorang warga dalam sebuah penelitian di Jurnal Ilmiah.

Dua puluh tahun telah berlalu, namun gema peristiwa dahsyat itu masih hidup dalam ingatan masyarakat. Kini, Masjid Baiturrahim tampil lebih megah setelah dipugar dengan sentuhan arsitektur yang memikat.

Saat kunjungan terakhir Nukilan.id pada pertengahan Februari lalu, masjid ini tampak telah dilengkapi sebuah menara yang menjulang. Bagian depannya menampilkan gaya arsitektur kolonial dengan lengkungan-lengkungan estetis yang khas. Di bagian atap, terdapat sebuah kubah yang berpadu harmonis dengan bentuk limas bertingkat—gaya yang kerap diasosiasikan dengan arsitektur tradisional Nusantara.

Di area luar masjid, berdiri Pusat Informasi dan Galeri Tsunami, sebuah fasilitas yang menyajikan beragam informasi sejarah serta “keajaiban” yang menyelimuti masjid ini. Galeri tersebut menampilkan foto-foto keganasan tsunami Aceh 2004 dan berfungsi sebagai ruang edukasi mitigasi bencana bagi para pengunjung.

Di sisi utara, barat, dan selatan masjid, kini telah kembali dipenuhi oleh permukiman penduduk. Warung makan kecil, toko kelontong, dan berbagai aktivitas harian masyarakat tampak hidup. Anak-anak bermain, orang dewasa berinteraksi, dan lalu lintas kendaraan cukup ramai—semuanya mencerminkan geliat ekonomi dan sosial yang kembali pulih. Area hijau yang tertata turut menambah kesan teduh dan nyaman di sekitarnya.

Sementara itu, sisi timur masjid langsung menghadap ke laut dan Pelabuhan Ulee Lheue, salah satu titik paling sibuk di Banda Aceh. Pelabuhan feri ini merupakan gerbang utama menuju Sabang (Pulau Weh) dan pulau-pulau kecil lainnya, sehingga selalu dipadati oleh penumpang, kendaraan, serta kapal feri yang hilir mudik.

Di sekitar pelabuhan, para pedagang makanan ringan ramai diserbu pengunjung, terutama pada sore hari. Banyak orang datang untuk menikmati pemandangan laut, senja, atau sekadar bersantai. Kawasan ini pun menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kini, masjid ini telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata religi utama di Banda Aceh. Bus-bus pariwisata dari dalam dan luar negeri sering berhenti di pelatarannya. Para pengunjung berjalan perlahan, membaca sejarah, berfoto, dan bertanya-tanya—bagaimana bisa bangunan ini tetap berdiri?

Para pengurus, dengan sabar, menjawab setiap pertanyaan dengan kisah. Dan setiap kisah membawa kita kembali pada hari itu: pada doa yang tak berhenti dipanjatkan, pada air mata yang tak pernah kering, dan pada harapan yang terus menyala meski dunia seperti akan berakhir. (XRQ)

Penulis: Akil

Peneliti Unsam Telusuri Situs Sejarah dan Legenda Rakyat di Aceh Barat

0
Akademisi Universitas Samudera (Unsam) Kota Langsa, M Yakob, M.Hum (tiga kiri), foto bersama saat berkunjung ke Aceh Barat, Sabtu (28/6/2025). (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Upaya pelestarian sejarah lokal terus digaungkan oleh kalangan akademisi. Salah satunya dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Samudera (Unsam) Langsa yang tengah menyusuri situs-situs bersejarah serta cerita rakyat di wilayah Aceh Barat.

Dalam kunjungan penelitiannya di Meulaboh, Sabtu (28/6/2025), dosen Bahasa Indonesia Unsam, M Yakob, M.Hum, mengungkapkan pentingnya menggali kembali sejarah dan legenda lokal sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat.

“Penelitian ini kami lakukan sebagai bahan edukasi bahwa di Aceh Barat ini banyak sejarah dan lagenda cerita rakyat,” ujar Yakob.

Yakob bersama timnya bertemu sejumlah tokoh masyarakat, termasuk Suandi, MA, seorang pemerhati sejarah sekaligus tokoh budaya setempat. Ia mengaku takjub dengan banyaknya kisah rakyat yang berkembang di tengah masyarakat serta temuan berbagai situs cagar budaya yang belum banyak dikenal publik.

Menurut Yakob, pelestarian cerita rakyat dan situs sejarah menjadi hal yang mendesak agar kekayaan budaya tak hilang ditelan zaman.

“Situs sejarah dan lagenda rakyat Aceh ini perlu dilestarikan dan dibukukan. Dengan demikian sejarah itu tidak terputus atau hilang dari cerita mulut ke mulut,” jelasnya.

Ia meyakini bahwa kisah-kisah rakyat yang tersebar di berbagai daerah menyimpan nilai-nilai kearifan lokal dan pesan moral yang relevan hingga kini.

“Sebab itu kami melakukan penelitian lagenda rakyat. Kami targetkan di semua wilayah, mulai dari Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tamiang,” tambahnya.

Salah satu legenda yang ditelusuri adalah “Lagenda Krueng Tujoh”, kisah yang hidup di tengah masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Meureubo, Aceh Barat. Nama “Krueng Tujoh” sendiri konon memiliki latar sejarah yang unik dan menarik untuk dikaji lebih dalam.

Akbar Priadi Sadikin, salah seorang mahasiswa yang turut dalam riset tersebut, mengaku terkesan dengan kekayaan cerita rakyat di daerah itu. Ia menyebut bahwa pengalaman tersebut membuka wawasannya tentang betapa kayanya budaya lokal di Aceh Barat.

Penelitian ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi pelestarian warisan budaya tak benda yang dimiliki Aceh, sekaligus menjadi bahan kajian ilmiah yang dapat digunakan dalam pendidikan dan dokumentasi sejarah daerah.

Editor: Akil

Perjalanan Panjang Andik Vermansyah, dari Jember hingga Kancah Internasional

0
Andik Vermansyah. (Foto: AnataraNews)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Nama Andik Vermansyah begitu familiar di telinga pecinta sepak bola di Aceh. Bagaimana tidak, selama dua musim terakhir, ia membela Persiraja Banda Aceh dan menjadi andalan di lini serang Laskar Rencong. Namun, pada Sabtu, 28 Juni 2025, Andik resmi mengumumkan kepergiannya dari klub kebanggaan masyarakat Aceh tersebut.

Andik merupakan salah satu pemain yang paling dikenang oleh publik sepak bola nasional. Pemain kelahiran Jember, Jawa Timur, 23 November 1991 ini dikenal luas sebagai winger yang lincah dan penuh determinasi. Ia sempat menjadi tulang punggung Timnas Indonesia di berbagai ajang internasional.

Dikutip Nukilan.id dari berbagai sumber, perjalanan karier Andik Vermansyah dimulai dari lingkungan yang sederhana. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan bola dan lapangan. Bakatnya mulai mencuri perhatian ketika bergabung dengan Persebaya Surabaya U-18. Tahun 2007 menjadi momentum penting—ia sukses mengantar timnya menjuarai Liga Pemuda Regional Jawa Timur dan juga menyabet medali emas di ajang Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur.

Langkahnya menuju panggung profesional dimulai saat ia tampil untuk tim senior Persebaya di usia 17 tahun, tepatnya pada 29 Agustus 2008. Ia juga menjadi bagian dari skuad Jawa Timur yang meraih medali emas di PON XVII Kalimantan Timur. Setelah itu, Andik terus menapaki jenjang kariernya dengan memperkuat Timnas Indonesia U-23. Ia meraih medali perak pada SEA Games 2011 dan 2013, serta menjalani trial di klub Major League Soccer (MLS), D.C. United.

Perjalanan internasionalnya berlanjut saat ia bergabung dengan klub Malaysia, Selangor FA pada 2013. Di sana, Andik sukses mempersembahkan Piala Malaysia 2015, sekaligus mengakhiri puasa gelar klub tersebut selama satu dekade. Penampilannya yang cemerlang membuat suporter menjulukinya sebagai “pemain asing favorit”.

Setelah membela Selangor, Andik bergabung dengan Kedah FA pada 2018, lalu kembali ke tanah air memperkuat Madura United, Bhayangkara FC, hingga akhirnya berlabuh di Persiraja Banda Aceh. Ia membela klub asal Aceh itu selama dua musim di Liga 2, sebelum resmi berpisah pada Juni 2025.

Andik juga pernah mencetak gol dalam laga uji coba saat memperkuat tim cadangan Ventforet Kofu di Jepang. Bahkan ia menerima pujian dari pelatih setempat atas penampilan apiknya.

Dengan tinggi badan sekitar 162 cm, Andik dikenal memiliki kecepatan luar biasa, dribel tajam, serta keberanian menembus pertahanan lawan. Postur dan gaya mainnya membuat publik menjulukinya sebagai “Messi Indonesia”. Julukan ini tak lepas dari aksinya yang energik di sisi sayap dan kontribusinya dalam mengubah jalannya pertandingan.

Salah satu puncak karier Andik bersama Timnas terjadi saat tampil di AFF Suzuki Cup 2016. Ia juga meraih penghargaan Best Goal AFF 2017 berkat gol spektakulernya. Sepanjang kariernya, Andik sempat menjadi salah satu pemain dengan gaji tertinggi asal Indonesia, khususnya saat berkiprah di Liga Malaysia.

Meski belum mengumumkan pensiun secara resmi, kepergiannya dari Persiraja menandai akhir dari satu babak penting dalam karier sang winger. Jejak langkahnya dari gang-gang kecil di Jember hingga menembus liga luar negeri menjadi teladan bagi banyak pemain muda Indonesia.

Biodata Lengkap Andik Vermansyah

  • Nama lengkap: Andik Vermansah

  • Tempat, tanggal lahir: Jember, Jawa Timur, 23 November 1991

  • Tinggi badan: Sekitar 162–163 cm

  • Agama: Islam

  • Posisi: Winger / Gelandang serang

  • Klub terakhir: Persiraja Banda Aceh (Liga 2)

  • Nomor punggung: 7

  • Karier junior: Persebaya Surabaya U-18

  • Karier senior: Persebaya, Selangor FA, Kedah FA, Madura United, Bhayangkara FC, Persiraja Banda Aceh

  • Prestasi:

    • Piala Malaysia 2015

    • Best Goal AFF 2017

    • Medali perak SEA Games 2011 dan 2013

Andik Vermansyah bukan hanya legenda lapangan hijau, melainkan juga simbol semangat juang anak bangsa yang membuktikan bahwa kerja keras, konsistensi, dan bakat bisa membawa siapa pun menuju panggung dunia. (xrq)

Reporter: AKil

Andik Vermansyah Resmi Tinggalkan Persiraja Banda Aceh

0
ANDIK VERMANSYAH
Mantan pemain tim nasional Indonesia, Andik Vermansyah. (Foto: Instagram)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Mantan pemain tim nasional Indonesia, Andik Vermansyah, resmi mengakhiri kebersamaannya dengan Persiraja Banda Aceh setelah dua musim membela klub berjuluk Laskar Rencong tersebut. Kabar ini ia sampaikan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, seperti dikutip Nukilan.id, Sabtu (28/6/2025).

“Di luar prediksi saya, sangat berat rasanya untuk mengucapkan perpisahan. Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pecinta Persiraja,” tulis Andik dalam pesannya.

Selama dua tahun memperkuat Persiraja, pemain asal Jember itu mengaku telah menciptakan banyak kenangan yang membekas di hati. Bukan hanya atmosfer pertandingan dan dukungan dari suporter, tetapi juga keramahan masyarakat Aceh yang ia nilai sangat menyentuh.

“Bukan sekadar teriakanmu dan dukunganmu yang membuat saya bangga membela Persiraja, tetapi juga kenyamanan lingkungan masyarakat yang begitu menyentuh hati. Semoga ketulusan saya untuk tim dan dedikasi selama ini bisa bermanfaat,” lanjutnya.

Andik juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekhilafan yang mungkin terjadi selama dirinya berada di Banda Aceh.

“Dari lubuk hati terdalam, saya berharap Persiraja, cepat atau lambat, bisa kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Saya mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada tingkah laku atau kekhilafan saya yang keliru selama di sini,” ungkapnya.

Tak lupa, ia memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran manajemen klub atas kerja sama yang telah terjalin.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh manajemen @persiraja_official yang telah berjuang bersama-sama. Sampai jumpa di lain kesempatan. Assalamualaikum,” pungkas Andik.

Kabar perpisahan ini cukup mengejutkan para pendukung setia Persiraja, mengingat Andik merupakan salah satu pemain kunci dalam dua musim terakhir. Sebagai mantan andalan Timnas Indonesia, kehadiran Andik sempat memberikan warna tersendiri bagi permainan Persiraja, baik di dalam maupun luar lapangan. (XRQ)

Reporter: Akil

Wagub Aceh Ingatkan Pentingnya Mewujudkan Nilai Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial

0
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, SE, memberikan sambutan saat menghadiri acara penyambutan kepulangan Jemaah Haji Aceh Kloter Pertama Kota Banda Aceh di Asrama Haji Embarkasi, Banda Aceh, Sabtu, (28/6/2025). (Foto: Aspim Setda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, SE, mengingatkan para jemaah haji agar gelar haji yang mereka sandang tidak berhenti pada aspek ibadah semata, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku sosial di lingkungan masing-masing.

Hal tersebut disampaikan Fadhlullah saat menghadiri acara penyambutan kepulangan Jemaah Haji Aceh Kloter Pertama asal Kota Banda Aceh di UPT Asrama Haji Embarkasi Aceh, Sabtu (28/6/2025).

Amatan Nukilan.id di lokasi, Fadhlullah menekankan bahwa haji bukan hanya ritual spiritual, melainkan juga memiliki dimensi sosial dan moral yang harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

“Tunjukkan bahwa haji mabrur itu tidak hanya dalam doa dan ibadah pribadi saja, tetapi juga dalam sikap sosial, kejujuran, kepedulian, keadilan, dan kesederhanaan. Mari kita jadikan rumah, gampong, dan lingkungan kita sebagai tempat yang lebih religius, rukun, dan harmonis,” ujarnya di hadapan jemaah yang baru pulang dari Tanah Suci.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas haji Aceh yang telah memberikan pelayanan terbaik selama proses ibadah berlangsung. Menurutnya, pelayanan yang profesional dan fasilitas yang memadai menjadi bagian penting dalam memastikan kenyamanan dan kekhusyukan jemaah selama menjalankan rukun Islam kelima.

“Kita ingin memastikan pelayanan haji yang lebih profesional, fasilitas yang semakin layak, dan koordinasi yang lebih baik antar instansi. Ini semua demi memastikan jemaah kita bisa beribadah dengan khusyuk dan kembali ke tanah air dalam keadaan bahagia,” tambahnya.

Lebih lanjut, Fadhlullah menegaskan bahwa Pemerintah Aceh akan terus berkomitmen dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji. Ia berharap pengalaman spiritual para jemaah di Tanah Suci bisa menjadi energi positif yang membawa perubahan saat kembali ke tengah masyarakat.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Aceh, kami mengucapkan selamat datang kembali di Tanah Rencong tercinta. Alhamdulillah, Bapak dan Ibu telah menunaikan rukun Islam yang kelima. Mudah-mudahan semua dosa diampuni dan semua amal ibadah diterima sebagai haji yang mabrur,” pungkasnya.

Acara penyambutan turut dihadiri oleh Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh, Drs Azhari, M.Si, sejumlah tokoh agama, dan para keluarga jemaah. Suasana haru dan bahagia menyelimuti momen kembalinya para tamu Allah dari perjalanan suci yang penuh makna. (XRQ)

Reporter: AKil

Jemaah Haji Kloter Pertama Asal Aceh Tiba di Bandara SIM

0
Ilustrasi jemaah haji. (Foto: MetroTV)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sebanyak 392 jemaah haji asal Aceh yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) pertama telah mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu, 28 Juni 2025, pukul 06.30 WIB. Para jemaah tersebut merupakan warga dari Kota Banda Aceh.

Kedatangan mereka disambut oleh sejumlah pejabat dari Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh.

“Alhamdulillah, jemaah haji Aceh kloter pertama sudah tiba di Bandara SIM,” ujar Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Embarkasi Aceh, Azhari, pada hari yang sama.

Azhari menjelaskan bahwa pesawat Garuda Indonesia yang membawa jemaah lepas landas dari Bandara Pangeran Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, pada pukul 18.42 waktu Arab Saudi (WAS).

Setibanya di Bandara SIM, para jemaah langsung diberangkatkan menuju Asrama Haji menggunakan 10 unit bus yang telah disiapkan oleh panitia.

“Dari Bandara SIM, para jemaah selanjutnya diantar ke Asrama Haji dengan menggunakan 10 bus,” ucap Azhari.

Setiba di Asrama Haji, jemaah akan melalui tahapan pemeriksaan kesehatan dan administrasi sebelum dilepas untuk kembali ke daerah masing-masing. Gubernur Aceh atau perwakilannya dijadwalkan hadir dalam prosesi pelepasan tersebut.

“Khusus untuk kloter pertama yang mayoritas berasal dari Kota Banda Aceh, pihak keluarga diperbolehkan menjemput langsung di asrama. Namun, panitia tetap mengatur sistem penjemputan agar berlangsung cepat dan terorganisir,” jelasnya.

Editor: Akil

Bupati Aceh Singkil Lantik Hj. Habibatussania sebagai Ketua PKK, Bunda PAUD, dan Ketua Dekranasda

0
Bupati Aceh Singkil Lantik Hj. Habibatussania sebagai Ketua PKK, Bunda PAUD, dan Ketua Dekranasda. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | SINGKIL – Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil resmi mengukuhkan pengurus Tim Penggerak PKK (TP PKK), Bunda PAUD, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), serta Majelis Pengajian Kabupaten Aceh Singkil untuk masa bakti 2025–2030. Acara pelantikan digelar pada Kamis (26/6/2025) di Pendopo Bupati Aceh Singkil.

Dalam seremoni tersebut, Bupati Aceh Singkil, H. Safriadi Oyon, SH melantik Hj. Habibatussania, yang juga merupakan istrinya, sebagai Ketua TP PKK, Bunda PAUD, serta Ketua Dekranasda Aceh Singkil.

Pelantikan diawali dengan pengukuhan jajaran pengurus TP PKK, yang dilanjutkan dengan pelantikan pengurus Dekranasda, Bunda PAUD, dan Majelis Pengajian. Hj. Habibatussania memimpin langsung prosesi pelantikan.

Dalam sambutannya, Hj. Habibatussania menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi antar sektor guna mewujudkan keluarga yang sejahtera di Aceh Singkil. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga masa depan generasi muda daerah.

“Dalam peran TP PKK ini, berdasarkan pengalaman kami 5 tahun yang lalu pernah jadi bupati pada 2012-2017, ini nyata kerjanya sebenarnya, dan itu tugas nya nyata serta bisa menjadi bahan perbandingan,” kata Bupati Safriadi Oyon, menyinggung pengalamannya di periode sebelumnya.

Ia berharap para pengurus yang baru saja dikukuhkan dapat menjalankan peran dengan maksimal agar manfaat dari keberadaan lembaga-lembaga tersebut bisa langsung dirasakan masyarakat.

Menurut Safriadi, peran pengurus TP PKK, Bunda PAUD, dan Dekranasda tidak bisa dianggap sebelah mata karena memiliki tugas-tugas yang nyata dan bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Editor: Akil