Beranda blog Halaman 47

Menjelang Idulfitri, Pembangunan Hunian Korban Banjir di Aceh Tamiang Dipercepat

0
Pembangunan huntap dan huntara warga terdampak bencana di Aceh Tamiang. (FOTO: Dok Bakom RI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, terus dipacu. Berbagai pihak dilibatkan dalam proses percepatan pembangunan tersebut, termasuk personel TNI dan Polri yang turun langsung membantu pekerjaan di lapangan.

Dikutip dari Metrotvnews.com, Senin (9/3/2026), aparat Polsek Kejuruan Muda melakukan peninjauan sekaligus pengamanan di lokasi pembangunan huntara dan huntap bagi warga terdampak banjir di Kecamatan Kejuruan Muda.

Sementara itu, di Desa Rantau Pauh, Kecamatan Rantau Pauh, anggota TNI terlihat turut membantu proses pembangunan hunian. Sejumlah personel TNI mengangkut pasir menggunakan gerobak dorong untuk dipindahkan ke lantai huntara. Material tersebut akan digunakan untuk mencampur semen dan batu guna memperkuat struktur bangunan.

Di lokasi pembangunan tampak deretan bangunan semi permanen yang disiapkan sebagai hunian sementara bagi masyarakat yang terdampak banjir bandang di Aceh Tamiang.

Pemerintah menargetkan pembangunan hunian tersebut dapat segera memberikan tempat tinggal yang lebih layak dan aman bagi warga terdampak bencana, sekaligus mendukung percepatan pemulihan kondisi masyarakat menjelang Lebaran.

Data hingga Minggu (8/3/2026) menunjukkan pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait telah membangun 1.771 unit hunian sementara yang tersebar di 25 lokasi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.339 kepala keluarga telah menempati hunian yang tersedia. Selain menyediakan tempat tinggal, pemerintah juga menyiapkan fasilitas dasar seperti akses air bersih dan listrik secara gratis guna membantu meringankan beban para penyintas banjir.

Kapolda Aceh Ikuti Tanam Raya Jagung Kuartal I 2026 di Aceh Besar, Dukung Program Swasembada Nasional

0
Kapolda Aceh Ikuti Tanam Raya Jagung Kuartal I 2026 di Aceh Besar. (Foto: Polda)

NUKILAN.ID | JANTHO – Kapolda Aceh Marzuki Ali Basyah mengikuti kegiatan tanam raya jagung serentak Kuartal I Tahun 2026 secara virtual pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung program swasembada jagung nasional dan terhubung langsung dengan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Kegiatan tanam raya di wilayah Aceh Besar itu dipusatkan di Desa Data Gaseu, Kecamatan Seulimum. Selain Kapolda Aceh, kegiatan tersebut turut dihadiri Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, Irwasda Polda Aceh, para pejabat utama Polda Aceh, unsur Forkopimda Aceh, sejumlah kepala SKPA, unsur TNI-Polri, jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, serta masyarakat dan kelompok tani setempat.

Pada kegiatan tersebut, penanaman jagung dilakukan di lahan seluas sekitar lima hektare dengan estimasi produktivitas mencapai sekitar 12 ton per hektare. Program ini diharapkan mampu meningkatkan hasil pertanian sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya para petani jagung di Aceh Besar.

Kapolda Aceh menyatakan bahwa keterlibatan Polri, khususnya Polda Aceh, merupakan bentuk dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Melalui kegiatan tanam raya jagung serentak ini, diharapkan upaya bersama antara Polri, pemerintah, dan masyarakat dapat memperkuat ketahanan pangan serta mewujudkan swasembada jagung nasional,” ujar Kapolda Aceh.

Ia juga menyampaikan bahwa program tanam raya ini diharapkan dapat membantu para petani meningkatkan kualitas tanaman serta menjaga mutu hasil panen, sehingga harga jagung tetap stabil dan memberikan keuntungan bagi petani.

Selain itu, Polda Aceh juga berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dalam memenuhi kebutuhan para petani, mulai dari penyediaan bibit, pupuk, hingga sarana pendukung lainnya agar kegiatan pertanian dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, program Tanam Raya Kuartal I Tahun 2026 oleh Polda Aceh dilaksanakan di lahan seluas 31,75 hektare yang tersebar di sembilan Polres jajaran.

Sementara itu, khusus di Desa Data Gaseu, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar, lahan seluas lima hektare ditanami jagung menggunakan jenis bibit Maxi oleh Kelompok Tani Commando Indonesia Maju. Dalam kegiatan tersebut, Kapolda Aceh bersama Wakapolda, pejabat utama Polda Aceh, unsur Forkopimda, serta kelompok tani turut melakukan penanaman bibit jagung secara simbolis.

Panas Terik di Aceh Dipicu Perubahan Iklim Global

0
Ilustrasi Panas Terik. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Suhu panas yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Aceh dalam beberapa waktu terakhir berkaitan erat dengan krisis iklim global serta perubahan pola cuaca musiman.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Yopi Ilhamsyah, Ketua Divisi Hydrometeorological Hazard & Climate Change pada Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, dalam siaran program Green Radio di Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh, Sabtu (7/3/2026).

Menurut Yopi, fenomena panas ekstrem yang terjadi saat ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu rata-rata global. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah mengalami cuaca yang lebih panas dan kering dari biasanya.

“Panas ekstrem yang kita rasakan merupakan bagian dari dampak perubahan iklim. Suhu udara meningkat karena akumulasi gas rumah kaca di atmosfer yang menahan panas bumi,” kata Yopi dalam siaran tersebut.

Ia menjelaskan bahwa secara musiman wilayah utara Aceh memang sedang berada dalam periode yang relatif kering. Sementara itu, sejumlah wilayah lain di Indonesia, terutama bagian selatan, masih mengalami curah hujan. Perbedaan kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer serta karakteristik geografis masing-masing wilayah.

Di Aceh, faktor topografi turut memengaruhi distribusi curah hujan. Wilayah barat dan selatan Aceh disebut lebih sering menerima hujan karena menjadi daerah pertama yang dilalui massa udara lembap dari laut. Sebaliknya, wilayah utara dan timur cenderung lebih kering setelah awan kehilangan sebagian kandungan uap airnya ketika melintasi kawasan pegunungan.

Kondisi panas dan kering yang berlangsung dalam waktu lama berpotensi menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat. Dari sisi kesehatan, suhu tinggi dapat meningkatkan risiko dehidrasi, menurunkan kualitas kebersihan lingkungan, hingga memicu munculnya penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan vektor seperti nyamuk.

Selain itu, sektor pertanian juga menghadapi tantangan. Berkurangnya ketersediaan air dapat mengganggu sistem irigasi dan menyebabkan lahan pertanian—terutama sawah tadah hujan—mengalami kekeringan.

“Jika kondisi ini berlangsung lama, maka produksi pangan bisa terpengaruh karena tanaman membutuhkan air yang cukup untuk tumbuh,” ujarnya.

Meski demikian, Yopi menilai kondisi cuaca panas tidak selalu berdampak negatif bagi seluruh sektor. Bagi sebagian nelayan, cuaca yang relatif tenang justru dapat memudahkan aktivitas melaut karena gelombang dan angin cenderung lebih stabil.

Ia menegaskan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim tetap penting dilakukan secara bersama-sama. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan ruang terbuka hijau.

Menurutnya, pepohonan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim lokal karena mampu menyerap karbon dioksida sekaligus membantu menurunkan suhu lingkungan.

“Penanaman dan pelestarian pohon menjadi langkah sederhana tetapi penting untuk mengurangi dampak pemanasan,” kata Yopi.

Ia juga mengingatkan bahwa alih fungsi lahan dan berkurangnya kawasan hijau dapat memperparah peningkatan suhu di berbagai wilayah. Karena itu, perencanaan pembangunan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan infrastruktur dan keberlanjutan lingkungan.

Yopi berharap masyarakat semakin memahami bahwa fenomena panas ekstrem bukan sekadar kondisi cuaca biasa, melainkan bagian dari tantangan krisis iklim yang membutuhkan kesadaran serta tindakan bersama.

Kakanwil Kemenag Aceh Tutup Program Pesan Teraman di Aceh Timur, Setelah Bireuen dan Aceh Utara

0
Kakanwil Kemenag Aceh Tutup Program Pesan Teraman di Aceh Timur. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh, Drs H Azhari MSi, menutup program Pesantren Terapi Ruhani Ramadhan (Pesan Teraman) di Kabupaten Aceh Timur, Ahad (8/3/2026) sore.

Program tersebut merupakan kegiatan pendidikan sekaligus pendekatan psikosial bernuansa nilai-nilai Islam pada bulan Ramadhan, yang ditujukan bagi anak-anak korban banjir di Aceh.

Kegiatan di Aceh Timur berlangsung di MIN 4 kawasan Lhok Dalam, Peureulak. Pada kesempatan itu, Azhari turut memberikan semangat kepada para siswa dan guru menjelang waktu berbuka puasa.

Dalam kegiatan penutupan tersebut, Kakanwil didampingi sejumlah pejabat Kanwil Kemenag Aceh, di antaranya Kabid Penaiszawa H Zulkifli SAg MAg, Kabid Penmad H Khairul Azhar SAg MSi, serta Kakankemenag Aceh Timur H Salamina MA bersama jajaran.

Selain menyampaikan tausiah pada penutupan program bagi para siswa, Azhari juga menyerahkan bantuan berupa tiga unit kipas angin untuk Masjid Assa’adah Buket Bata, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur.

Kabid Penaiszawa Kanwil Kemenag Aceh, H Zulfikar SAg MAg, menjelaskan bahwa program Pesan Teraman di Aceh Timur diikuti oleh 50 peserta dan berlangsung sejak 3 hingga 8 Maret 2026.

Sebelumnya, Kakanwil Azhari juga menutup program serupa di Kabupaten Bireuen pada 7 Maret 2026.

Penutupan program di daerah tersebut dilaksanakan di MIN 42 Bireuen yang saat ini digunakan sebagai lokasi sementara pascabanjir.

Menurut Zulfikar, kegiatan pemulihan traumatik bernuansa syiar Ramadhan itu juga diikuti oleh 50 siswa.

“Siswa di lokasi sementara mengikuti kegiatan tersebut sejak 2 hingga 7 Maret 2026,” ujarnya didampingi Kabid Penmad H Khairul Azhar SAg MSi.

Selain di Aceh Timur dan Bireuen, penutupan Pesantren Terapi Ruhani Ramadhan (Pesan Teraman) juga dilaksanakan di Masjid Baituttaqwa, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, pada Ahad (8/3/2026).

Kegiatan yang merupakan kerja sama Bidang Penaiszawa Kanwil Kemenag Aceh dengan IPARI Kabupaten Aceh Utara itu diikuti oleh 52 siswa dan berlangsung sejak 3 hingga 8 Maret 2026.

Kembalinya Bupati Mirwan Memimpin Aceh Selatan Disambut Sejumlah Harapan dari Generasi Muda

0
mirwan ms
Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Kabar mengenai kembalinya Bupati Aceh Selatan nonaktif, Mirwan MS, untuk kembali menjalankan tugasnya disambut dengan beragam harapan dari kalangan generasi muda di daerah tersebut.

Berdasarkan informasi yang diterima Nukilan.id, Mirwan dijadwalkan kembali aktif memimpin Kabupaten Aceh Selatan pada hari ini, Senin (9/3/2026) setelah menjalani masa penonaktifan selama tiga bulan yang dijatuhkan oleh Kementerian Dalam Negeri.

Kembalinya Mirwan dinilai menjadi momentum baru bagi pemerintahan daerah untuk kembali bergerak lebih fokus, termasuk dalam menjawab berbagai persoalan yang dirasakan oleh generasi muda.

Untuk menghimpun pandangan anak muda, Nukilan.id mewawancarai sejumlah mahasiswa di Aceh Selatan mengenai tantangan yang paling dirasakan generasi muda saat ini, sekaligus program yang mereka anggap penting untuk membuka ruang kemajuan bagi kaum muda.

Salah satu tanggapan datang dari Zikra, mahasiswa asal Kecamatan Samadua. Ia terlebih dahulu menyampaikan sikap optimistis terhadap kembalinya Mirwan memimpin Aceh Selatan.

Menurutnya, kepemimpinan yang kembali berjalan secara penuh diharapkan mampu menghadirkan energi baru bagi pembangunan daerah, terutama dalam memperhatikan aspirasi generasi muda.

Berbicara mengenai tantangan yang dihadapi anak muda, Zikra menilai persoalan mendasar yang paling dirasakan saat ini adalah terbatasnya lapangan pekerjaan serta kesempatan untuk mengembangkan potensi diri.

“Saat ini, program yang sangat dibutuhkan adalah pelatihan keterampilan, dukungan terhadap wirausaha muda, serta penyediaan ruang kreatif bagi anak muda agar mereka bisa berkarya dan berkontribusi bagi daerah,” ungkap Zikra saat diwawancarai Nukilan.id pada Sabtu (7/3/2025) lalu.

Ia menilai, tanpa dukungan program yang konkret dari pemerintah daerah, potensi besar yang dimiliki generasi muda Aceh Selatan akan sulit berkembang secara maksimal.

Karena itu, Zikra berharap pemerintah daerah dapat lebih terbuka dalam mendengar aspirasi anak muda serta menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pengembangan kapasitas generasi muda.

“Kami berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan program yang membuka peluang kerja, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mendukung kreativitas anak muda agar mereka bisa ikut membangun Aceh Selatan ke arah yang lebih baik,” tuturnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Naufal, mahasiswa asal Kecamatan Tapaktuan. Ia melihat persoalan yang dihadapi generasi muda Aceh Selatan tidak jauh berbeda, yakni keterbatasan lapangan kerja dan minimnya ruang pengembangan diri setelah menyelesaikan pendidikan.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak anak muda harus mencari peluang di luar daerah.

“Banyak lulusan SMA maupun perguruan tinggi yang akhirnya harus merantau keluar daerah karena peluang kerja di daerah masih terbatas,” kata Naufal.

Ia menilai pemerintah daerah perlu menghadirkan program yang mampu menjawab kebutuhan nyata generasi muda, bukan sekadar kebijakan yang bersifat administratif.

Menurut Naufal, sejumlah langkah strategis yang bisa dilakukan antara lain memperluas pelatihan keterampilan, memperkuat dukungan terhadap kewirausahaan pemuda, serta mendorong pengembangan UMKM yang melibatkan generasi muda secara aktif.

Selain itu, ia juga menilai pentingnya ruang dialog antara pemerintah daerah dan kalangan pemuda, agar ide serta gagasan yang lahir dari generasi muda dapat tersalurkan dalam proses pembangunan.

“Sebagai mahasiswa, saya pribadi melihat banyak ide-ide dari kalangan pemuda dan mahasiswa yang bisa diaplikasikan untuk pemajuan daerah. Maka dari itu, saya berharap Bupati Mirwan bisa membuka ruang dialog dan kolaborasi dengan kalangan pemuda dan mahasiswa,” ungkapnya.

Berbagai pandangan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda Aceh Selatan menaruh harapan besar terhadap kepemimpinan yang kembali berjalan secara penuh.

Bagi mereka, kehadiran pemerintah daerah bukan hanya diharapkan mampu menjalankan roda pemerintahan, tetapi juga membuka jalan bagi tumbuhnya peluang dan ruang berkarya bagi generasi muda di daerah. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Dilarang mengambil konten, melakukan crawling, atau pengindeksan otomatis di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Nukilan.id. Konten Nukilan.id dapat dikutip atau disebarluaskan kembali untuk kepentingan informasi dengan syarat mencantumkan “Sumber: Nukilan.id”

Reporter: Akil

ITB–Paragon Kirim Teknologi Filter Air Bersih untuk Warga Pascabencana di Aceh Tamiang

0
ITB–Paragon Kirim Teknologi Filter Air Bersih untuk Warga Pascabencana di Aceh Tamiang. (Foto: ITB)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Pascabencana yang melanda Aceh, Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menyalurkan bantuan berupa teknologi filter air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Aceh Tamiang. Bantuan tersebut dikirim melalui kolaborasi ITB bersama Paragon Corp dan dipasang di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, pada Sabtu (7/3/2026).

Program ini merupakan kerja sama ITB melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB dengan dukungan Paragon sebagai sponsor. Teknologi filter air tersebut dipasang di tepi Sungai Tamiang yang menjadi sumber air utama bagi sistem penyaringan.

Dalam kegiatan serah terima, pihak Paragon diwakili oleh Dwi Eliani, sementara dari ITB diwakili Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, N. Nurlaela Arief. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi.

Teknologi ini bekerja dengan menyedot air sungai yang sebelumnya dalam kondisi keruh, kemudian memprosesnya melalui dua tahap filtrasi hingga menghasilkan air yang jernih dan layak digunakan, bahkan dapat diminum. Air hasil penyaringan kemudian ditampung dalam tangki berkapasitas besar sebelum didistribusikan kepada masyarakat.

Dari tangki penampungan tersebut, air dialirkan ke sejumlah toren yang berada di sekitar permukiman warga di Kampung Sukajadi. Melalui sistem distribusi ini, sekitar 1.200 warga kini dapat memanfaatkan air bersih untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci, sanitasi, hingga sebagai sumber air minum.

Selain dialirkan ke rumah warga, sebagian masyarakat juga datang langsung ke lokasi filter untuk mengambil air bersih. Selama bulan Ramadan, terutama menjelang sore hari, warga terlihat antre sambil membawa galon kosong untuk mengisi air dari sistem filter ITB–Paragon tersebut.

Sistem filter air ini memiliki kapasitas maksimum hingga 7.200 liter per jam, sehingga mampu menyediakan pasokan air bersih dalam jumlah besar bagi masyarakat sekitar.

Perangkat filter tersebut dikirim dari Kota Bandung menuju Aceh Tamiang dengan waktu perjalanan sekitar satu pekan sebelum akhirnya tiba di lokasi dan siap digunakan oleh masyarakat. Pengiriman ini menjadi bagian dari upaya mendukung masa pemulihan wilayah Aceh pascabencana, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih.

Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh ITB dan Paragon. Ia berharap bantuan tersebut dapat membantu percepatan pemulihan kondisi masyarakat.

“Saya berharap dengan dukungan Pemerintah dan banyak pihak, kondisi di sini bisa lebih cepat pulih,” kata Armia Fahmi.

Sementara itu, Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, N. Nurlaela Arief, mengatakan keberadaan teknologi tersebut juga menghadirkan pengalaman menarik bagi warga setempat.

Salah satu kisah datang dari seorang bayi yang sebelumnya mengalami diare selama hampir satu bulan dan tidak kunjung sembuh meskipun telah mendapatkan pengobatan. Setelah keluarganya menggunakan air dari sistem filter tersebut, kondisi bayi tersebut dilaporkan berangsur membaik hingga akhirnya sembuh.

“Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana sinergi antara perguruan tinggi dan sektor industri dapat menghadirkan solusi teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ke depan, diharapkan semakin banyak perusahaan yang dapat berkolaborasi dengan ITB untuk menghadirkan inovasi serupa, mengingat teknologi filter air seperti ini terbukti sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Aceh Tamiang,” ujar Nurlaela.

Teknologi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile atau filter air bersih ini merupakan kontribusi dari berbagai pihak di ITB, termasuk Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, Ketua Tim IPA Mobile Bagus Budiwantoro dari Kelompok Keahlian Perancangan Teknik dan Produksi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, Yayasan LAPI ITB, serta sejumlah pihak internal ITB lainnya.

452 Guru Lulus Seleksi, Program Beut Kitab Bak Sikula di Aceh Besar Dijadwalkan Diluncurkan Selasa

0
452 Guru Lulus Seleksi, Program Beut Kitab Bak Sikula di Aceh Besar Dijadwalkan Diluncurkan Selasa. (Foto: MC ABES)

NUKILAN.ID | JANTHO — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar terus mendorong penguatan pendidikan agama di sekolah melalui program Beut Kitab Bak Sikula. Program tersebut direncanakan akan diluncurkan secara resmi pada Selasa mendatang, setelah proses seleksi tenaga pengajar hampir rampung.

Hal itu disampaikan dalam rapat evaluasi dan pelaporan hasil perekrutan guru yang dipimpin langsung Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris atau yang dikenal sebagai Syech Muharram di Gedung Dekranasda Aceh Besar, Jumat (6/3/2026) malam.

Rapat tersebut dihadiri Ketua Tim Seleksi Beut Kitab Bak Sikula Baba H. Marwan Abdullah, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar Rahmawati, S.Pd., M.Pd, Kabid Pendidikan Dasar Disdikbud Aceh Besar Sanusi, SE, tim asistensi bupati, jajaran Disdikbud Aceh Besar, serta tim seleksi.

Kegiatan yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Besar itu menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat pendidikan agama Islam di sekolah formal, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dalam arahannya, Bupati Aceh Besar Muharram Idris menyampaikan rasa syukur karena proses seleksi guru program tersebut hampir selesai.

“Alhamdulillah pada malam ini sudah bisa kita finalkan untuk persoalan guru-guru di dua belas wilayah. Ini merupakan langkah penting dalam memperkuat pendidikan agama di sekolah-sekolah kita,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa program tersebut tidak lagi bersifat percontohan, tetapi akan diterapkan secara luas di seluruh sekolah di Aceh Besar. Karena itu, penempatan guru akan diatur berdasarkan regional wilayah agar lebih efektif.

“Kita atur berdasarkan regional agar lebih efisien. Misalnya antara Blang Bintang dengan Darussalam bisa saling menyesuaikan. Dengan begitu para guru tidak habis waktu di jalan dan bisa fokus mengajar,” jelasnya.

Muharram juga mengungkapkan bahwa peluncuran resmi program Beut Kitab Bak Sikula direncanakan berlangsung pada Selasa mendatang.

“Insya Allah hari Selasa nanti kita rencanakan launching, launching ini bukan lagi percontohan, tapi sudah kita terapkan untuk seluruh sekolah dibawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar,” kata Syech Muharram.

Selain peluncuran program tersebut, pemerintah daerah juga berencana menyalurkan bantuan santunan bagi anak yatim di Aceh Besar.

“Seluruh anak yatim yang sudah terdata akan kita berikan bantuan santunan. Walaupun jumlahnya tidak besar, tapi ini sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada anak-anak yatim di Aceh Besar,” ujarnya.

Dalam rapat tersebut juga dibahas rencana kerja sama antara Pemkab Aceh Besar dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) untuk memberdayakan para penghafal Al-Qur’an dan lulusan dayah sebagai tenaga pengajar pendidikan agama di sekolah.

Menurut Muharram, kerja sama tersebut penting agar potensi sumber daya lokal dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Kita akan mencoba meningkatkan kerja sama melalui MoU dengan Kanwil Kemenag. Kita ingin mengutamakan kearifan lokal dan potensi sumber daya Aceh sendiri, sehingga semua sekolah di Aceh Besar dapat menerapkan program Beut Kitab Bak Sikula,” tambahnya.

Sementara itu, Plt Kepala Disdikbud Aceh Besar Rahmawati menjelaskan bahwa kebutuhan guru untuk menjalankan program tersebut mencapai 457 orang. Jumlah itu diperuntukkan bagi 215 Sekolah Dasar dan 89 Sekolah Menengah Pertama yang tersebar di seluruh kecamatan di Aceh Besar.

Ia menyebutkan bahwa pada tahap awal tahun 2025, Pemkab Aceh Besar telah merekrut 124 guru sebagai bagian dari program percontohan. Pada seleksi lanjutan tahun 2026, pemerintah kembali membuka kebutuhan sebanyak 333 guru.

“Pada seleksi tahap kedua tahun 2026, dari kebutuhan 333 orang yang dibuka, jumlah yang dinyatakan lulus sebanyak 276 orang. Selain itu terdapat 42 guru dari kategori guru SPT tahun 2025 yang juga dinyatakan lulus,” jelas Rahmawati.

Selain itu, terdapat pula 10 guru dari program Beut Kitab Bak Fauzul Kabir yang sudah lebih dahulu mengajar dan turut menjadi bagian dari kebutuhan tenaga pengajar.

Dengan demikian, jumlah keseluruhan guru yang telah lulus seleksi hingga saat ini mencapai 452 orang, sehingga masih tersisa kekurangan lima orang lagi dari total kebutuhan 457 guru.

“Secara akumulasi, jumlah guru yang sudah lulus seleksi baik dari tahun 2025 maupun 2026 sebanyak 452 orang, sehingga masih terdapat kekurangan lima orang lagi untuk memenuhi kuota keseluruhan,” tambahnya.

Sekretaris Tim Seleksi Tgk. Nazar menyampaikan bahwa pada seleksi tahun 2026 terdapat 337 orang yang mendaftar, dengan 331 peserta mengikuti tes.

“Dari jumlah tersebut sebanyak 276 orang dinyatakan lulus, sementara 55 orang lainnya belum berhasil melewati seleksi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa seleksi dilakukan berdasarkan pembagian 12 regional wilayah yang mencakup seluruh kecamatan di Aceh Besar, guna memudahkan distribusi guru sekaligus meningkatkan efisiensi penempatan tenaga pengajar.

Ketua Tim Seleksi Baba H. Marwan Abdullah menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada timnya dalam melaksanakan proses seleksi.

“Amanah ini kami jalankan sebaik mungkin sesuai kemampuan kami. Semua proses dilakukan dengan memperhatikan arahan pimpinan, ulama, serta pihak dinas terkait,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, ulama, akademisi hingga lembaga pendidikan.

Ia juga menilai perlu adanya penguatan hubungan antara dayah dan dinas terkait agar pengembangan pendidikan agama dapat berjalan lebih terintegrasi.

“Selama ini terkesan dayah berjalan sendiri-sendiri tanpa advokasi yang kuat dari dinas. Ke depan kita berharap ada sinergi yang lebih kuat sehingga dayah dan lembaga pendidikan formal dapat saling mendukung dalam mencetak generasi Aceh yang berilmu dan berakhlak,” pungkasnya.

Dengan rampungnya proses seleksi tersebut, program Beut Kitab Bak Sikula diharapkan dapat menjadi salah satu langkah strategis Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam memperkuat pendidikan agama di sekolah, menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini, serta membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.

Sambut Kembalinya Mirwan MS, Ridwansyah Harap Infrastruktur dan Telekomunikasi Trumon Raya Jadi Perhatian

0
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pemuda Pelajar Trumon (HMP2T), T. Ridwansyah. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kabar mengenai kembalinya Bupati Aceh Selatan nonaktif, Mirwan MS, untuk kembali menjalankan tugasnya mulai mendapat respons dari berbagai kalangan masyarakat. Sejumlah warga menilai momentum tersebut penting untuk mengembalikan stabilitas pemerintahan sekaligus memastikan agenda pembangunan daerah berjalan lebih optimal.

Berdasarkan informasi yang diterima A1 Nukilan.id, Mirwan dijadwalkan kembali aktif memimpin Kabupaten Aceh Selatan pada Senin (9/3/2026) setelah menjalani sanksi penonaktifan selama tiga bulan dari Kementerian Dalam Negeri.

Menjelang kepulangan orang nomor satu di Aceh Selatan itu, sejumlah kalangan mulai menyampaikan harapan terhadap arah kepemimpinan yang akan kembali berjalan secara penuh. Salah satu suara datang dari kalangan muda di wilayah selatan kabupaten tersebut.

T. Ridwansyah, mahasiswa asal Kecamatan Trumon Raya, menilai kembalinya Mirwan menjadi momentum penting untuk kembali menguatkan fokus pembangunan, terutama bagi wilayah-wilayah yang selama ini masih menghadapi berbagai persoalan mendasar.

“Tentunya kami merasa senang mendengar kabar Bapak Mirwan akan kembali memimpin Aceh Selatan. Momentum ini adalah kesempatan penting untuk memperkuat kembali arah pembangunan daerah, khususnya dalam menjawab berbagai persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di wilayah-wilayah pinggiran,” kata Ridwansyah yang juga Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pemuda Pelajar Trumon (HMP2T) tersebut.

Ia menilai kawasan Trumon Raya merupakan salah satu wilayah yang membutuhkan perhatian lebih serius dari pemerintah daerah, terutama dalam hal pembangunan infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

“Untuk wilayah Trumon Raya, kami berharap beliau dapat menyelesaikan persoalan-persoalan infrastruktur yang selama ini menjadi keluhan masyarakat,” ujarnya.

Salah satu persoalan yang paling dirasakan masyarakat, lanjut Ridwansyah, adalah persoalan banjir yang hampir setiap tahun melanda sejumlah wilayah di kawasan tersebut. Menurutnya, penanganan banjir memerlukan langkah yang lebih sistematis dan berkelanjutan dari pemerintah daerah.

“Kebutuhan terhadap pembangunan infrastruktur pengendali banjir menjadi sangat mendesak, baik melalui pembangunan tanggul, normalisasi sungai, maupun sistem drainase yang lebih baik. Tanpa adanya upaya yang terencana dan berkelanjutan, banjir tahunan ini akan terus berdampak terhadap aktivitas masyarakat, pertanian, serta kondisi ekonomi warga,” tuturnya.

Selain persoalan banjir, Ridwansyah juga menyoroti masalah lain yang tidak kalah penting bagi masyarakat Trumon Raya, yakni keterbatasan jaringan telekomunikasi. Ia menyebutkan, hingga kini masih terdapat sejumlah wilayah di Kecamatan Trumon, Trumon Tengah, dan Trumon Timur yang kerap mengalami gangguan jaringan dengan durasi yang cukup lama.

“Hal ini tentu sangat berdampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari komunikasi sehari-hari, akses informasi, hingga kegiatan pendidikan dan ekonomi digital yang saat ini semakin berkembang. Dalam era digital seperti sekarang, ketersediaan jaringan telekomunikasi yang stabil seharusnya menjadi kebutuhan dasar bagi masyarakat di setiap daerah,” jelasnya.

Karena itu, Ridwansyah berharap kepemimpinan Mirwan yang akan kembali aktif dapat memberi perhatian lebih serius terhadap persoalan infrastruktur dasar di kawasan tersebut, khususnya bagi masyarakat yang berada di wilayah pinggiran.

“Oleh karena itu, kami sebagai generasi muda berharap setelah kembali aktif memimpin, Bupati Mirwan MS dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pembangunan infrastruktur di wilayah Trumon Raya,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Gempa M 5,3 Guncang Simeulue, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami

0
Ilustrasi gempa. (Foto: iStockphoto)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,3 mengguncang wilayah Simeulue, Aceh, pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 13.05 WIB.

Informasi tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Direktur Gempabumi dan Tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono. Berdasarkan analisis BMKG, pusat gempa berada di laut.

Episenter gempa terletak pada koordinat 2,03° LU dan 96,49° BT, atau sekitar 50 kilometer arah tenggara Sinabang, Aceh, dengan kedalaman 29 kilometer.

Rahmat menjelaskan, getaran gempa dirasakan masyarakat di beberapa wilayah di Aceh.

“Gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di Simeulue dengan skala intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu), Subulussalam dan Aceh Selatan dengan skala intensitas II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang),” kata Rahmat lewat keterangan tertulis.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan akibat gempa tersebut.

BMKG juga memastikan gempa ini tidak memicu potensi tsunami.

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami,” kata Rahmat.

Selain itu, hingga pukul 13.30 WIB, hasil pemantauan BMKG juga belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan atau aftershock.

Rahmat menjelaskan bahwa gempa tersebut termasuk jenis gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” pungkas Rahmat.

Sebelumnya, informasi mengenai gempa ini juga dilaporkan oleh CNN Indonesia pada Minggu (8/3/2026).

Pengamat Ekonomi Kerakyatan: Kembalinya Bupati Mirwan Diharapkan Jadi Momentum Penguatan UMKM Aceh Selatan

0
Uqra Fhalin Fharabi M.E, Pengamat Ekonomi Kerakyatan dari Aceh Strategy Advisory (ASA). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Bupati Aceh Selatan nonaktif, Haji Mirwan, dikabarkan akan kembali aktif memimpin kabupaten berjuluk Negeri Pala tersebut. Berdasarkan informasi A1 yang diterima Nukilan.id, Mirwan dijadwalkan mulai kembali menjalankan tugasnya pada Senin (9/3/2026).

Kembalinya Mirwan dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kabupaten tersebut. Pasalnya, UMKM merupakan salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Aceh, termasuk di Aceh Selatan.

Berdasarkan data yang dihimpun Nukilan.id dari portal Open Data Aceh, jumlah usaha mikro dan kecil di Aceh Selatan pada 2023 tercatat sebanyak 810 unit yang tersebar di berbagai kecamatan.

Melihat hal tersebut, Nukilan.id mewawancarai Uqra Fhalin Fharabi M.E, Pengamat Ekonomi Kerakyatan dari Aceh Strategy Advisory (ASA), mengenai langkah yang dapat ditempuh pemerintah daerah dalam mendorong perkembangan UMKM.

Uqra menilai kembalinya Mirwan ke kursi kepemimpinan harus dimanfaatkan untuk memperkuat pemberdayaan pelaku usaha agar mampu berkembang dan naik kelas.

“Momentum kembalinya Bupati Mirwan harus dimanfaatkan untuk membenahi ekosistem UMKM di Aceh Selatan. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa program pemberdayaan benar-benar mendorong pelaku usaha untuk berkembang dan naik kelas,” kata Uqra kepada Nukilan.id, Sabtu (7/3/2026).

Menurutnya, berbagai program pemberdayaan UMKM yang dijalankan di banyak daerah selama ini kerap hanya berhenti pada pemberian bantuan modal usaha dan pelatihan yang bersifat seremonial. Program tersebut dinilai belum diikuti langkah nyata yang mampu memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan dan keberlanjutan usaha masyarakat.

Karena itu, ia menilai pendekatan tersebut perlu diubah dengan kebijakan yang lebih berorientasi pada peningkatan kualitas usaha.

“Pemberdayaan UMKM tidak boleh berhenti pada pembiayaan semata atau pelatihan singkat yang bersifat seremonial. Yang lebih penting adalah memastikan pelaku usaha mendapatkan pendampingan berkelanjutan agar usahanya benar-benar berkembang,” ujarnya.

Uqra menjelaskan pemerintah daerah dapat mengambil sejumlah langkah strategis untuk membantu pelaku UMKM berkembang. Salah satunya melalui formalisasi usaha, dengan mendorong pelaku usaha memiliki legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) serta sertifikasi produk, seperti sertifikasi halal maupun Standar Nasional Indonesia (SNI).

Selain itu, digitalisasi juga dinilai menjadi faktor penting dalam pengembangan usaha masyarakat. Pelaku UMKM perlu didorong memanfaatkan teknologi digital, baik dalam pemasaran melalui platform daring maupun penggunaan sistem pembayaran digital.

“Digitalisasi sangat penting agar UMKM bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Pemerintah daerah bisa berperan memfasilitasi pelaku usaha untuk go digital,” katanya.

Ia juga menilai peningkatan produktivitas usaha harus menjadi perhatian, mulai dari peningkatan kualitas produk, perbaikan manajemen bisnis, hingga penguatan kapasitas produksi. Dengan peningkatan tersebut, produk UMKM dinilai akan lebih kompetitif dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Selain itu, akses pasar juga perlu diperluas agar pelaku usaha lokal memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan bisnisnya.

“Ketika akses pasar terbuka, pelaku UMKM memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan usahanya,” ujarnya.

Uqra berharap berbagai langkah tersebut dapat mendorong peningkatan skala usaha masyarakat di Aceh Selatan, sehingga usaha mikro dapat berkembang menjadi usaha kecil, usaha kecil meningkat menjadi usaha menengah, bahkan usaha menengah berpotensi tumbuh menjadi usaha besar.

“Yang kita harapkan adalah adanya peningkatan skala usaha. Jangan sampai status usaha masyarakat mentok di UMKM dari tahun ke tahun tanpa ada peningkatan,” kata Uqra.

Ia menambahkan, apabila pembinaan dilakukan secara serius dan berkelanjutan, sektor UMKM dapat menjadi salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat di Aceh Selatan. (XRQ)

Reporter: Akil