Beranda blog Halaman 469

Cuaca Lhokseumawe Berawan, Hujan Guyur Wilayah Dataran Tinggi Aceh

0
Ilustrasi hujan. (Foto: Freepik)

NUKILAN.id | Lhokseumawe – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Malikussaleh memprediksi kondisi cuaca di wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara pada Selasa (8/4/2025) akan berawan sejak pagi hingga sore hari.

Namun, masyarakat di sejumlah wilayah dataran tinggi seperti Bener Meriah, Takengon, serta daerah pesisir timur seperti Aceh Timur, Bireuen, dan Kota Langsa diimbau untuk waspada. Pasalnya, hujan diperkirakan mengguyur kawasan tersebut sepanjang hari.

“Suhu udara diperkirakan berkisar 29-33 Derajat Celcius,” ujar Marcelinus Muaya, Prakirawan Cuaca BMKG Malikussaleh, dalam siaran Info Cuaca pagi yang disampaikan melalui Pro-1 RRI Lhokseumawe.

Selain kondisi daratan, BMKG juga mencatat situasi cuaca di wilayah perairan dalam kondisi normal. Ketinggian gelombang di pesisir diperkirakan berada pada kisaran 0,3 hingga 0,5 meter. Sementara di perairan lepas pantai dengan jarak sekitar 20 kilometer dari daratan, gelombang mencapai 0,5 hingga 1 meter.

“Angin di laut normal, kondisi ini baik bagi masyarakat di pantai serta nelayan yang mencari ikan di laut,” imbuhnya.

Meski demikian, Marcelinus tetap mengingatkan masyarakat yang berada di dataran tinggi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan disertai petir pada sore hari.

“Lanjut Marselinus, himbauan untuk masyarakat di dataran tinggi agar waspada dengan cuaca hujan disertai petir di sore hari. Selain itu dirinya juga mengingatkan Masyarakat untuk selalu pantau info BMKG,” tutupnya.

Harga Emas di Banda Aceh Hampir Tembus Rp6 Juta per Mayam

0
Perhiasan di Toko Emas Italy di sekitaran Pasar Aceh, Banda Aceh. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Harga emas di Banda Aceh hari ini, Jum’at (11/4) mencapai Rp5.820.000 per mayam. Angka tersebut belum termasuk ongkos pembuatan yang berkisar antara Rp100.000 hingga Rp150.000 per mayam tergantung model perhiasan.

Daffa, pedagang emas di Toko Italy yang berlokasi di kawasan Pasar Aceh, menyampaikan bahwa harga emas saat ini hampir menyentuh angka Rp6 juta per mayam dan diprediksi akan tembus dalam beberapa minggu atau bulan ini.

“Harga emas mengalami kenaikan sekitar Rp320.000 per mayam dari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Kami memprediksi harga emas akan naik terus,” kata Daffa kepada Nukilan, Jum’at (11/4/2025).

Dia menambahkan, daya beli emas saat ini sangat meningkat dengan 98 persen konsumen melakukan pembelian dan hanya 2 persen yang menjual emas di tokonya.

Sementara itu, untuk harga emas batangan Antam, saat ini mencapai Rp2.025.000 per gram.

Menurut Daffa, salah satu penyebab utama kenaikan harga emas adalah dampak dari kebijakan baru terkait ekspor-impor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat, khususnya di bawah pemerintahan Donald Trump.

“Kenaikan pajak dan aturan ekspor-impor dari Amerika memengaruhi harga emas dunia, dan itu berdampak juga ke Indonesia,” pungkasnya.

Reporter: Rezi

Komnas HAM Masih Selidiki Dugaan Pelanggaran HAM Berat di Perkebunan Bumi Flora

0
Komnas HAM. (Foto: low-justice.co)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) masih melanjutkan penyelidikan atas satu kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat masa lalu di Aceh, yakni peristiwa berdarah yang terjadi di kawasan perkebunan kelapa sawit milik PT Bumi Flora, Kabupaten Aceh Timur, pada Agustus 2001.

“Masih ada satu penyelidikan lagi yang masih dilakukan untuk kasus yang terjadi di Aceh, kasus Bumi Flora,” ungkap Ketua Komnas HAM, Atnike Nova Sigiro, kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (10/4/2025).

Pernyataan itu disampaikan Atnike usai menerima kunjungan kerja Komisi XIII DPR RI ke kantor Komnas HAM Perwakilan Aceh.

Peristiwa tragis di Bumi Flora diduga melibatkan penembakan terhadap warga sipil di area perkebunan sawit. Berdasarkan catatan Komnas HAM, insiden tersebut menyebabkan 31 orang tewas, tujuh lainnya luka-luka, dan satu orang dilaporkan hilang.

Lima Kasus, Satu Masih Berproses

Menurut Atnike, selama ini Komnas HAM telah melakukan penyelidikan terhadap lima kasus dugaan pelanggaran HAM berat di Aceh yang terjadi selama masa konflik. Kelima kasus tersebut adalah:

  1. Peristiwa Simpang KKA di Kabupaten Aceh Utara

  2. Rumoh Geudong dan Pos Sattis di Kabupaten Pidie

  3. Jambo Keupok di Aceh Selatan

  4. Timang Gajah di Bener Meriah

  5. Perkebunan Bumi Flora di Aceh Timur

Dari kelima kasus itu, tiga di antaranya—yakni Simpang KKA, Rumoh Geudong, dan Jambo Keupok—sudah diakui oleh Pemerintah Indonesia sebagai pelanggaran HAM berat. Adapun penyelidikan kasus Timang Gajah telah rampung dan kini berada di tangan Kejaksaan Agung.

“Kalau penyelidikan sudah selesai empat kasus di Aceh, dan sudah diserahkan oleh Komnas HAM ke Kejaksaan Agung. Masih ada satu lagi kasus Bumi Flora,” lanjut Atnike.

Pemulihan Korban Masih Minim

Atnike menuturkan bahwa tiga kasus pelanggaran HAM berat di Aceh yang sudah diakui pemerintah era Presiden Joko Widodo disiapkan untuk diselesaikan melalui mekanisme non yudisial, seperti pemulihan hak-hak korban dan keluarganya. Namun, program tersebut kini terhenti akibat pergantian pemerintahan.

“kami harap hal tersebut dapat ditindaklanjuti karena sebagian besar korban pelanggaran HAM berat belum mendapatkan pemulihan,” katanya.

Dari sekitar 5.000 nama korban pelanggaran HAM berat yang telah diajukan untuk mendapatkan pemulihan, hingga saat ini hanya sebagian kecil yang memperoleh haknya. Atnike berharap penyelesaian kasus ini menjadi prioritas pemerintah, dan mendapat dukungan dari Komisi XIII DPR RI.

Sejarah Apollo 13: Misi Gagal yang Menjadi Simbol Ketangguhan Manusia

0
Ilustrasi peluncuran Apollo 13. (Foto: NASA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pada 11 April 1970, dunia menyaksikan sebuah peluncuran ambisius dari Kennedy Space Center, Florida, Amerika Serikat. Tepat pukul 13:13 waktu setempat, roket raksasa Saturn V menggetarkan bumi saat mengangkut tiga astronot dalam misi luar angkasa ketujuh dari Program Apollo. Tujuannya jelas: mendaratkan manusia untuk ketiga kalinya di Bulan, tepatnya di wilayah Fra Mauro, sebuah dataran tinggi yang diyakini menyimpan rahasia awal pembentukan Bulan.

Namun, dalam sejarah penjelajahan luar angkasa, Apollo 13 justru dikenang bukan karena pendaratannya di Bulan, melainkan karena perjuangan heroik menyelamatkan hidup tiga astronot setelah insiden mengerikan yang nyaris mengubah misi ini menjadi tragedi.

Awal yang Mulus, Harapan Melambung

Dikutip Nukilan.id dari berbagai sumber komandan misi James A. Lovell Jr., seorang veteran Apollo 8, bersama dua rekannya—Jack Swigert Jr. sebagai pilot modul komando, dan Fred Haise Jr. sebagai pilot modul lunar—mengawali perjalanan dengan penuh optimisme. Meski salah satu mesin tahap kedua roket mati lebih awal, tim berhasil mencapai orbit Bumi berkat kerja keras mesin lainnya.

Setelah modul komando Odyssey dan modul lunar Aquarius dipisahkan dari roket, perjalanan ke Bulan berlangsung tenang. Bahkan, kru sempat mengadakan siaran televisi dari dalam kapsul, menyiarkan kehidupan sehari-hari di luar angkasa kepada pemirsa di Bumi. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.

Ledakan yang Mengubah Segalanya

Pada 13 April 1970, lebih dari 55 jam setelah peluncuran, tiba-tiba terdengar ledakan keras di ruang hampa antariksa. Sebuah tangki oksigen di Modul Servis meledak. Kalimat ikonik Swigert pun menggema ke seluruh dunia: “Houston, we’ve had a problem.”

Ledakan itu menyebabkan hilangnya sebagian besar oksigen, air, dan tenaga listrik. Suplai utama kehidupan lumpuh. Apollo 13 tak lagi punya pilihan untuk mendarat di Bulan. Misi berubah seketika menjadi operasi penyelamatan.

Modul lunar Aquarius yang semula dirancang untuk dua astronot selama 45 jam, kini menjadi “sekoci ruang angkasa” bagi tiga orang selama hampir empat hari.

Perjuangan Hidup di Ruang Angkasa

Suhu dalam Aquarius turun drastis, mendekati titik beku. Kru harus bertahan dengan sumber daya minimum—air minum yang dijatah ketat, listrik yang dihemat, dan udara yang perlahan dipenuhi karbon dioksida.

Di Bumi, pusat komando di Houston menjadi markas krisis. Para insinyur bekerja tanpa henti, mengembangkan solusi darurat dalam waktu singkat. Salah satunya: membuat adaptor penyaring karbon dioksida dari bahan seadanya—kantong plastik, selotip, dan bagian dari manual misi. Solusi kreatif ini, yang tampak seperti eksperimen ilmiah dadakan, menyelamatkan nyawa kru Apollo 13.

Navigasi menjadi tantangan berikutnya. Dengan sistem yang terbatas, para astronot dibantu insinyur di Bumi harus melakukan perhitungan manual untuk menyesuaikan jalur kembali. Manuver slingshot—mengelilingi Bulan untuk menggunakan gravitasi sebagai dorongan—menjadi satu-satunya harapan mereka.

Kembali ke Bumi: Sebuah Keajaiban Teknologi dan Kemanusiaan

Pada 17 April 1970, dunia kembali menahan napas. Kapsul Apollo 13 akhirnya menembus atmosfer Bumi dan mendarat dengan selamat di Samudra Pasifik. Ketiga astronot kembali hidup—selamat dari salah satu insiden paling dramatis dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa.

Apollo 13 memang gagal mencapai Bulan, namun ia tidak gagal dalam makna terdalamnya. Misi ini membuktikan daya tahan manusia dalam menghadapi kondisi ekstrem, kolaborasi luar biasa antara manusia dan teknologi, serta pentingnya kecerdikan di saat krisis.

Sejak saat itu, Apollo 13 dikenal sebagai “a successful failure”—sebuah kegagalan yang justru menunjukkan keberhasilan yang lebih besar: menyelamatkan nyawa dan membuktikan bahwa harapan tetap ada, bahkan di tengah kehampaan luar angkasa. (XRQ)

Reporter: Akil

11 April 1814: Napoleon Bonaparte Turun Tahta

0
Ilustrasi Kaisar Napoleon Bonaparte. (Foto: OkeZone)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Tanggal 11 April 1814, menjadi salah satu titik balik paling dramatis dalam sejarah Eropa. Napoleon Bonaparte, sang Kaisar Prancis yang mengubah wajah benua dengan ambisi dan kejeniusannya di medan perang, secara resmi turun tahta setelah serangkaian kekalahan yang menghancurkan Prancis.

Dihimpun Nukilan.id dari berbagai sumber, langit kekuasaan Napoleon mulai mendung saat pasukan koalisi—gabungan kekuatan Austria, Rusia, Prusia, Inggris, dan lainnya—menembus jantung Prancis dan merebut Paris pada 31 Maret 1814.

Kekalahan demi kekalahan memaksa para marsekalnya, termasuk Ney, Macdonald, dan Marmont, untuk bersikap realistis. Mereka mendesak Napoleon agar melepaskan kekuasaan demi mencegah kehancuran yang lebih besar bagi negeri yang telah lama ia pimpin dengan tangan besi.

Di Istana Fontainebleau, Napoleon sempat mencoba mempertahankan dinasti Bonaparte dengan menawarkan tahta kepada putranya, Napoleon II. Namun, para pemimpin koalisi menolak usulan itu. Mereka menginginkan satu hal: abdikasi tanpa syarat.

Akhirnya, pada 11 April 1814, Traktat Fontainebleau ditandatangani. Napoleon menyerahkan mahkota kekaisaran dan setuju untuk diasingkan ke Pulau Elba, sebuah pulau kecil di Laut Mediterania yang kini menjadi panggung baru bagi sang mantan kaisar.

Meskipun kehilangan kekuasaan atas Prancis, Napoleon dan istrinya, Marie Louise, diizinkan mempertahankan gelar kaisar dan permaisuri seumur hidup. Ia juga diperbolehkan membawa 400 prajurit sebagai pengawal pribadi ke Elba. Sebagai bagian dari perjanjian, Marie Louise diberikan Kadipaten Parma, Piacenza, dan Guastalla.

Abdikasi ini menandai berakhirnya dominasi Napoleon di Eropa dan membuka jalan bagi Restorasi Bourbon, dengan Louis XVIII naik takhta menggantikan sang legenda militer.

Namun, sejarah belum selesai menulis kisah Napoleon. Di Elba, api ambisinya belum padam. Setahun kemudian, ia kembali ke Prancis dan memimpin selama periode yang dikenal sebagai “Seratus Hari”, sebelum kekalahannya yang menentukan dalam Pertempuran Waterloo.

Penandatanganan Traktat Fontainebleau bukan sekadar akhir kekuasaan seorang kaisar. Ia adalah simbol dari jatuhnya seorang tokoh besar yang pernah mengguncang tatanan dunia lama—dan yang meskipun dikalahkan, tetap hidup sebagai legenda sepanjang zaman. (XRQ)

Reporter: Akil

Mualem Tancap Gas, Temui Menteri PU Dorong Percepatan Pembangunan Aceh

0
Mualem Temui Menteri PU Dorong Percepatan Pembangunan Aceh. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Jakarta – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, menunjukkan langkah cepat menyambut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025. Tak berselang lama setelah telewicara dengan Presiden Prabowo Subianto saat panen raya beberapa waktu lalu, Mualem langsung menggelar safari politik ke sejumlah kementerian.

Salah satu kunjungan penting terjadi pada Kamis, 10 April 2025. Mualem menyambangi Kantor Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan disambut hangat oleh Menteri PU, Dody Hanggodo, bersama Sekretaris Jenderal Kementerian PU, Muhammad Zainal Fatah.

Pelaksana Tugas Sekda Aceh, M. Nasir, yang turut mendampingi, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk keseriusan Gubernur Aceh dalam menjemput perhatian pemerintah pusat.

“Ini adalah bentuk keseriusan dan gerak cepat Pak Gubernur untuk menjemput perhatian Presiden. Fokus beliau jelas, mendorong pembangunan infrastruktur dan memperkuat ketahanan pangan di Aceh,” ujar Nasir.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Menteri Dody pun mengenang masa tugasnya di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD–Nias usai tsunami Aceh.

“Kami bangga bisa kembali terhubung dengan Aceh. Kehadiran Pak Mualem menjadi semangat baru. Seperti yang berkali-kali disampaikan Bapak Presiden, Aceh memang perlu mendapat perhatian lebih,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Mualem menyampaikan komitmennya untuk memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi dengan kementerian di pusat.

“Momentum perhatian Bapak Presiden tidak boleh lewat begitu saja. Ini akan kami tindak lanjuti secara sungguh-sungguh, demi kemajuan Aceh,” ujarnya penuh semangat.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Zulfadli, yang turut hadir dalam pertemuan, menyambut baik langkah cepat tersebut. Menurutnya, perhatian dari pemerintah pusat harus dijawab dengan kerja nyata di daerah.

“Ini momentum penting. Kami di DPRA siap menyambut dan memperkuat program-program strategis Mualem. Penerimaan hangat dari Menteri PU menandakan komitmen nyata pemerintah pusat,” ucapnya.

Sebagai bagian dari upaya mempererat kolaborasi, Mualem turut mengundang Menteri PU untuk kembali mengunjungi Aceh.

“Mari kita lihat kembali hasil-hasil rehab rekon masa lalu yang Bapak rintis. Kita lanjutkan jejak itu bersama,” ajaknya.

Dalam audiensi ini, Mualem didampingi sejumlah tokoh, antara lain Staf Khusus Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rian Syaf, Erwin Ferdinan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Mobilitas Penduduk Aceh, serta Ketua DPRA Zulfadli. Seluruh pihak yang hadir sepakat bahwa kolaborasi pusat dan daerah menjadi kunci percepatan pembangunan Aceh secara berkelanjutan.

Ketua AMSI Aceh Soroti Tekanan Politik Terhadap Jurnalis: Negara Harus Hadir Melindungi

0
Ilustrasi. (Foto: Gibas news)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Aceh, Aryos Nivada, mengungkapkan keprihatinannya terhadap tekanan politik dan berbagai bentuk intimidasi yang kerap dihadapi para jurnalis dalam menjalankan tugas. Dalam wawancara bersama Nukilan.id, Aryos menyebut bahwa tekanan terhadap insan pers bukan lagi hal baru, melainkan sudah menjadi fenomena yang lumrah terjadi di lapangan.

“Tekanan politik tentunya menjadi suatu hal yang lumrah. Bukan hanya politik tetapi juga dari aktor-aktor yang terganggu dengan cara jurnalistik,” ungkap Aryos pada Kamis (10/4/2025).

Menurut Aryos, gangguan terhadap jurnalis tidak hanya bersumber dari kepentingan politik, tetapi juga dari kelompok-kelompok lain yang merasa terusik dengan kerja-kerja jurnalistik yang mengungkap fakta. Hal ini, kata dia, menempatkan jurnalis pada posisi rawan—baik secara fisik maupun secara hukum.

“Tentunya ini menjadi tantangan serius yang harus dihadapi. Jadi tantangan terhadap nyawa, jeratan hukum, yang mengancam jurnalis perlu dilindungi oleh negara ke depannya,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya peran negara dalam memberikan perlindungan yang menyeluruh kepada jurnalis. Aryos menilai bahwa perlindungan hukum terhadap jurnalis tidak cukup jika hanya bersandar pada Undang-Undang Pers semata.

“Jadi bukan hanya sebatas undang-undang pers yang memang melekat pada jurnalis saat bekerja,” tambahnya.

Aryos mendorong agar negara hadir secara konkret untuk memastikan kebebasan pers tetap terjaga dan para jurnalis dapat bekerja tanpa rasa takut. Menurutnya, komitmen terhadap kebebasan pers adalah salah satu pilar penting dalam menjaga demokrasi di Indonesia, termasuk di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Gubernur Aceh Siap Sukseskan Sekolah Rakyat, Siapkan Lahan di Empat Kabupaten

0
Gubernur Aceh Siap Sukseskan Sekolah Rakyat. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, menyatakan kesiapan penuh Provinsi Aceh dalam menyukseskan program Sekolah Rakyat atau pendidikan gratis berbasis asrama yang digagas oleh Pemerintah Pusat.

Pernyataan itu disampaikan Mualem saat bersilaturahmi dengan Ketua MPR RI Ahmad Muzani di rumah dinas Ketua MPR, Kompleks Widya Candra, Jakarta Selatan, Kamis (10/4/2025).

“Insya Allah, Aceh siap (mendukung pembangunan program boarding school),” ujar Mualem dalam keterangan tertulis yang diterima di Banda Aceh.

Dalam pertemuan tersebut, Mualem menjelaskan kesiapan Aceh untuk mendukung pembangunan sekolah berbasis asrama (boarding school) yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program ini akan dikelola langsung oleh Kementerian Sosial, menyediakan pendidikan gratis dari tingkat SD hingga SMA, lengkap dengan fasilitas asrama dan konsumsi harian.

Pemerintah Pusat diketahui mengharuskan setiap daerah yang ingin ambil bagian dalam program ini untuk menyediakan lahan seluas enam hektare.

“Beberapa daerah di Aceh seperti Kabupaten Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Besar, dan wilayah sekitarnya sudah kami siapkan,” lanjut Mualem.

Ketua MPR RI, Ahmad Muzani menyambut baik komitmen Aceh tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk menjembatani komunikasi antara Gubernur Aceh dengan Menteri Sosial guna merealisasikan program nasional tersebut.

Selain membahas isu pendidikan, Mualem juga memanfaatkan pertemuan tersebut untuk membicarakan rencana kedatangan Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia ke Aceh yang dijadwalkan pada pertengahan Juli 2025.

Gubernur berharap tokoh penting dunia Islam itu bisa menyampaikan khutbah di Masjid Raya Baiturrahman, serta melihat langsung potensi keislaman dan keindahan Aceh untuk kemudian dibawa ke forum-forum strategis internasional.

Tak hanya itu, Mualem juga memaparkan perkembangan komunikasi antara Pemerintah Aceh dan Uni Emirat Arab terkait potensi investasi besar di wilayah Andaman.

“Nilai investasi awal yang telah diajukan mencapai Rp80 miliar, ini sebagai langkah awal pengembangan kawasan ekonomi baru,” tutur Mualem.

Dengan sejumlah langkah strategis ini, Gubernur Aceh menegaskan komitmennya dalam membuka peluang pendidikan dan investasi sebagai bagian dari transformasi pembangunan Aceh yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Editor: Akil

TII Kritik Wawancara Eksklusif Prabowo: Komunikasi Publik atau Pertunjukan Elitis?

0
Felia
Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute, Felia Primaresti. (Foto: TII)

NUKILAN.id | Jakarta – Wawancara eksklusif Presiden terpilih Prabowo Subianto yang diselenggarakan di kediamannya di Hambalang, Bogor, Minggu (6/4/2025) lalu, menyita perhatian publik. Acara tersebut menghadirkan sejumlah jurnalis senior dari media papan atas nasional, seperti Pemimpin Redaksi tvOne Lalu Mara Satriawangsa, Uni Lubis dari IDN Times, Najwa Shihab dari Narasi, Alfito Deannova Gintings dari Detikcom, Retno Pinasti dari SCTV-Indosiar, serta Sutta Dharmasaputra dari Harian Kompas.

Namun, di balik sorotan media terhadap momen tersebut, kritik tajam datang dari kalangan pengamat kebijakan publik. Salah satunya disampaikan oleh Felia Primaresti, Manajer Riset dan Program di The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII).

Felia menilai bahwa wawancara tersebut tidak mencerminkan praktik komunikasi publik yang inklusif, melainkan justru memperlihatkan kecenderungan elitis yang membatasi ruang partisipasi masyarakat secara luas.

“Wawancara ini terkesan elitis dan jelas sudah disusun oleh timnya agar berjalan sesuai narasi yang diinginkan. Prabowo memang tampak akomodatif, tetapi hanya kepada elite media tertentu yang dipilih. Sementara, masyarakat di akar rumput, termasuk suara-suara yang vokal, masih menghadapi tekanan, teror, dan represi. Suara mereka tetap tidak didengar dan diabaikan,” ungkap Felia.

Selain itu, Felia juga menyoroti bagian wawancara yang membahas Undang-Undang TNI. Menurutnya, pernyataan Prabowo dalam sesi tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman mendalam terhadap substansi regulasi yang tengah diperdebatkan.

Menurut Felia, bagian wawancara tentang UU TNI justru paling ironis. Prabowo tampak tidak memahami substansi aturan yang sedang dibahas. Bahkan, ia terlihat bingung dengan gelombang protes besar yang terjadi dan justru mengaitkannya dengan campur tangan asing.

”Ini menunjukkan bahwa Prabowo tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang persoalan yang sedang berkembang. Secara umum analisa sosialnya juga lemah, ia tampak tidak memahami mengapa partisipasi publik itu penting dan dengan sederhananya menunjuk campur tangan asing, tanpa memahami konteks keresahan dan tentangan keras publik terhadap UU TNI yang kontroversial tersebut,” tambah Felia.

”Prabowo melihat kebijakan publik dari sudut pandangnya sendiri tanpa mendengarkan pihak lain untuk bergerak. Hal ini terlihat dari narasinya soal ‘kita ingin gerak cepat, rakyat miskin dan lapar tidak bisa menunggu’, seolah-olah segala sesuatu harus diputuskan secara sepihak tanpa melibatkan aspirasi publik dan mengabaikan permasalahan yang ada,” ujar Felia melanjutkan.

Lebih lanjut, Felia menegaskan bahwa jika Presiden Prabowo benar-benar berkomitmen terhadap transparansi dan keterbukaan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membiasakan partisipasi publik dalam setiap perencanaan kebijakan.

“Bukannya malah menggelar wawancara eksklusif yang sebagian besar isinya hanya klarifikasi terhadap berbagai kebijakan yang sudah dibuat. Pemerintah seharusnya menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik sejak awal dan di seluruh proses kebijakannya, bukan menutup keran partisipasi, dan lebih sibuk di klarifikasi kebijakan yang kerap ‘blunder’ dan kontroversial di awal,” tegasnya.

Di akhir, Felia menyampaikan bahwa perbaikan komunikasi publik tidak hanya sebatas wawancara eksklusif dengan jurnalis senior dan media terpilih, tetapi juga harus melibatkan masyarakat luas dan memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini kurang terdengar dan kritis terhadap pemerintah dan kebijakan yang ada.

Dalam konteks kebebasan pers dan melihat tantangannya hingga saat ini, justru pemerintah wajib memastikan keberpihakan dan komitmennya untuk perlindungan terhadap media dan segenap awak media, serta kebebasan pers. Lebih jauh, Felia mengatakan jika komunikasi hanya dilakukan di lingkaran elite, maka publik tetap akan berada di posisi yang terpinggirkan tanpa kesempatan untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung, bermakna, dan berdampak.

Editor: AKil

BPPA Fasilitasi Pertemuan Gubernur Aceh dengan Hasyim Djojohadikusumo

0
BPPA Fasilitasi Pertemuan Gubernur Aceh dengan Hasyim Djojohadikusumo. (Foto: BPPA)

NUKILAN.id | Jakarta – Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) memfasilitasi pertemuan antara Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, dengan pengusaha Hasyim Djojohadikusumo di Aula Arsari Group, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan ini, Mualem, yang didampingi oleh Ketua DPR Aceh, Zulfadli, A.Md, menyampaikan sejumlah tantangan yang dihadapi Aceh, serta membahas peluang investasi yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Salah satu isu utama yang dibahas adalah pentingnya pembangunan fasilitas penggilingan gabah (rice mill) di Aceh. Mualem menjelaskan bahwa selama ini gabah dari Aceh harus dikirim ke Medan untuk digiling, kemudian kembali ke Aceh dalam bentuk beras. Proses ini menyebabkan tingginya harga beras dan mengurangi keuntungan bagi petani Aceh.

“Selama ini, gabah dari Aceh dikirim ke Medan untuk digiling, kemudian kembali ke Aceh dalam bentuk beras. Ini menyebabkan harga beras menjadi mahal dan petani kita tidak menikmati keuntungan secara optimal,” ujar Mualem.

Gubernur Aceh tersebut juga menegaskan bahwa Pemerintah Aceh sangat terbuka terhadap investasi yang dapat memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat. Ia menyebutkan beberapa sektor potensial yang perlu perhatian lebih, seperti sektor perikanan.

Pembangunan pabrik pengalengan ikan tuna di Aceh, menurutnya, dapat menjadi peluang besar untuk menyerap tenaga kerja lokal. Selain itu, Mualem juga menekankan pentingnya reaktivasi Pabrik Kertas Aceh yang sudah lama tidak beroperasi.

Tak hanya itu, Mualem juga meminta agar lahan ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) yang masih berada di bawah wewenang pemerintah pusat dapat segera diserahkan kepada Pemerintah Aceh untuk dimanfaatkan secara maksimal.

Menanggapi hal tersebut, Hasyim Djojohadikusumo memberikan respons positif. Ia menawarkan solusi cepat dan efisien untuk penggilingan gabah di Aceh melalui teknologi rice mill mini. Teknologi ini, menurut Hasyim, sudah terbukti fleksibel dan cocok diterapkan di daerah-daerah sentra pertanian, terutama yang jauh dari fasilitas penggilingan besar.

“Saya akan bantu hadirkan rice mill mini ke Aceh dan segera menghubungi para investor untuk melihat langsung potensi yang ada,” ujar Hasyim.

Teknologi ini, yang dikembangkan bersama mitra teknologi seperti Siki Shor dan Akiva, dinilai sangat cocok untuk daerah-daerah terpencil. Selain itu, teknologi rice mill mini juga diharapkan dapat mempercepat proses penggilingan gabah dan menekan biaya distribusi.

Pertemuan ini turut dihadiri oleh Ketua DPR Aceh, Zulfadli; Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun; dan Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Iskandar Zulkarnaen. Dalam kesempatan tersebut, Iskandar memaparkan potensi Sabang sebagai pelabuhan bebas dan hub logistik kawasan.

“Sabang telah ditetapkan sebagai pelabuhan bebas sejak 25 tahun lalu. Kini saatnya kita optimalkan sebagai pintu gerbang perdagangan regional,” ujar Iskandar.

Dengan berbagai peluang investasi dan pengembangan yang diutarakan dalam pertemuan tersebut, Aceh diharapkan dapat memanfaatkan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.