Beranda blog Halaman 444

30 April 1492: Spanyol Beri Izin Columbus Berlayar, Dunia pun Berubah

0
Christopher Columbus (1451–1506) adalah pelaut dan penjelajah asal Genoa. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Pada tanggal 30 April 1492, sejarah dunia memasuki babak baru. Di Kota Santa Fe, Spanyol, Ratu Isabella dari Kastilia dan Raja Ferdinand dari Aragon menandatangani sebuah dokumen penting yang memberikan izin resmi kepada Christopher Columbus untuk memulai ekspedisi pencarian rute barat menuju Asia. Dokumen itu dikenal sebagai Capitulaciones de Santa Fe.

Langkah berani kerajaan Katolik Spanyol ini ternyata menjadi titik tolak dari sebuah revolusi global. Ekspedisi Columbus tak membawa rempah-rempah Asia, tetapi justru membuka jalan bagi penemuan Benua Amerika dan awal dari era kolonialisme Eropa di Dunia Baru.

“Perjanjian ini menjanjikan Columbus gelar kehormatan Admiral of the Ocean Sea, hak atas 10 persen kekayaan yang ditemukan, serta jabatan gubernur atas wilayah yang ia klaim,” dikutip Nukilan.id dari tulisan Samuel Eliot Morison dalam buku Admiral of the Ocean Sea: A Life of Christopher Columbus (1942).

Keyakinan yang Mengubah Dunia

Christopher Columbus (1451–1506) adalah pelaut dan penjelajah asal Genoa, wilayah yang kini menjadi bagian dari Italia. Ia meyakini bahwa bumi itu bulat, dan bahwa pelayaran ke barat dari Eropa akan lebih cepat sampai ke Asia daripada rute ke timur yang dikuasai Kesultanan Ottoman.

Namun, keyakinan ini awalnya ditolak. Pada 1485, Columbus sempat mengajukan proposalnya kepada Raja Portugal, namun ditolak karena dianggap terlalu berisiko. Baru setelah jatuhnya Granada—tanda berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol pada Januari 1492—Ratu Isabella bersedia mendanai rencana ambisiusnya.

“Setelah perjanjian itu ditandatangani, Columbus memulai pelayarannya pada 3 Agustus 1492 dengan tiga kapal: Santa María, Pinta, dan Niña,” sebut Phillips & Phillips dalam The Worlds of Christopher Columbus (1992).

Mendarat di “Dunia Baru”

Puncak dari pelayaran itu terjadi pada 12 Oktober 1492. Berdasarkan catatan The Diario of Christopher Columbus’s First Voyage to America, 1492-1493 yang diterbitkan oleh University of Oklahoma Press, Columbus dan anak buahnya mendarat di sebuah pulau yang kini diketahui sebagai bagian dari Kepulauan Bahama. Columbus menamakannya San Salvador, dan ia percaya telah tiba di Asia Timur.

Kesalahan inilah yang membuatnya menyebut penduduk asli sebagai “Indian”, sebuah kekeliruan yang terus bertahan dalam sejarah.

Ekspedisi itu berlanjut ke Kuba dan Hispaniola (sekarang Haiti dan Republik Dominika), di mana Columbus mendirikan pemukiman La Navidad, permukiman Eropa pertama di benua Amerika.

Namun, penemuan ini bukan tanpa konsekuensi.

Luka di Balik Penemuan

Di balik kisah penjelajahan yang melegenda, tercatat pula babak kelam yang menyusul setelahnya. Sistem encomienda yang diterapkan membuat penduduk asli, suku Taíno, terjerumus dalam kerja paksa. Penyakit-penyakit Eropa seperti cacar menyebar dan memusnahkan populasi lokal.

Dalam Columbus: The Four Voyages (2011), Laurence Bergreen menyebut bahwa Columbus bahkan membawa ratusan penduduk asli ke Spanyol sebagai budak. Kekerasan, eksploitasi, dan kekeliruan geografis menjadi bagian dari warisan Columbus yang rumit.

“Hingga akhir hayatnya pada 1506, Columbus bersikukuh bahwa ia telah mencapai Asia, bukan benua baru,” tulis Bergreen.

Warisan yang Diperdebatkan

Di Eropa, Columbus pernah dipuja sebagai pahlawan penjelajah. Tapi di Amerika, banyak pihak memandangnya sebagai simbol penjajahan dan penindasan. Di Amerika Serikat, peringatan Columbus Day pada 12 Oktober kini banyak digantikan dengan Indigenous Peoples’ Day, sebagai bentuk penghormatan terhadap korban kolonialisme.

Meski membuka era pertukaran global—yang oleh para sejarawan disebut sebagai Columbian Exchange—penjelajahan Columbus juga memicu kerusakan ekologis dan krisis kemanusiaan.

Tanaman seperti kentang dan jagung memang diperkenalkan ke Eropa, tetapi penyakit dan invasi biologis juga ikut mengalir ke Dunia Baru. (XRQ)

Reporter: AKIL

Gelar Rakerda, Demokrat Aceh Matangkan Strategi Hadapi Pemilu Mendatang

0
Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron saat doorstop di sela-sela Rakerda Demokrat Aceh. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Aceh menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Selasa (29/4/2025). 

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron ini turut dihadiri oleh seluruh ketua dan sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC), serta anggota DPR Aceh (DPRA) dan DPR Kabupaten/Kota (DPRK) dari Partai Demokrat se-Aceh.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron mengatakan pelaksanaan Rakerda merupakan kewajiban organisasi sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.

Ia menyebut, Rakerda kali ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah dan strategi politik menuju agenda politik ke depan.

“Mesin kami sudah mulai dipanaskan. Tujuan kami jelas, bagaimana meraih kembali kepercayaan rakyat Aceh. Kita punya sejarah yang baik di sini, pernah mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Itu yang ingin kami ulangi,” ujar Herman kepada awak media, termasuk Nukilan.

Herman juga mengingatkan pencapaian Partai Demokrat di Aceh, yang pernah menyumbangkan 7 kursi di DPR RI, 8 kursi di DPRA, dan meningkat menjadi 10 kursi pada Pemilu 2014. Menurutnya, sejarah tersebut menjadi motivasi untuk kembali bangkit dan meraih simpati rakyat.

Selain membahas strategi politik, Rakerda juga menghasilkan sejumlah rekomendasi internal dan eksternal yang masih dalam tahap penyempurnaan. Para kader juga mendapatkan berbagai pembekalan penting dari DPP Partai Demokrat, termasuk arahan langsung dari Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) secara virtual.

“Kami juga dibekali dengan informasi perubahan AD/ART hasil Kongres ke-6, strategi komunikasi dari Bakomstra, hingga rencana kerja BPOKK untuk memperkuat konsolidasi,” tutup Herman.

Reporter: Rezi

Doa Nabi Yunus di UTBK 2025: Cerita Haru Perjuangan Menuju Kampus Impian

0
Suasana pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) di Universitas Syiah Kuala, Aceh. (Foto: USK)

NUKILAN.ID | Feature – Pagi baru saja menjelang ketika seorang remaja laki-laki berseragam santai, berkemeja abu-abu dan bercelana hitam, duduk sendiri di pelataran Gedung ICT Center Universitas Syiah Kuala.

Di hadapannya, mentari belum tinggi, namun wajahnya telah lebih dulu dibasahi cahaya harapan dan kegelisahan. Tampak sesekali ia menatap langit, sesekali pula menunduk sembari memejamkan mata, seolah sedang berdialog dengan Sang Pemilik Hidup.

Remaja itu bernama Farhan. Saat ditemui Nukilan.id di lokasi pelaksanaan ujian, ia memperkenalkan diri dengan suara pelan namun mantap.

“Namaku Farhan, dari Aceh Barat,” ucapnya pada Rabu (23/4/2025).

Farhan memilih untuk gap year tahun lalu. Bukan karena kendala biaya, melainkan karena belum berhasil lolos ke fakultas impiannya—Fakultas Kedokteran.

“Tahun lalu tidak lolos di Kedokteran. Jadi aku tidak kuliah dulu setahun untuk persiapan di tahun ini,” tuturnya.

Sebagai bentuk kesungguhan dan harapannya untuk masa depan, ia datang satu jam lebih awal sebelum pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Bukan karena takut terlambat, melainkan untuk menenangkan hatinya yang sejak malam tak kunjung menemukan kedamaian.

Bagi sebagian orang, UTBK mungkin hanya sekadar rangkaian soal dan waktu. Namun, bagi Farhan, ini adalah pertaruhan besar untuk masa depannya. Ia tidak ingin mengalami kegagalan untuk kedua kalinya.

Di dalam kepalanya, hanya ada satu doa yang terus terulang, yaitu doa Nabi Yunus yang sudah ia lantunkan sejak malam sebelumnya. Saat diminta Nukilan.id untuk menyebutkan lafaz doanya, Farhan membisikkan dengan lirih, nyaris tak terdengar:

“Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz-dzalimin.”

Dari raut wajahnya, seolah hanya Tuhan yang benar-benar tahu betapa besar harapan yang ia titipkan hari ini.

Tampak sebait doa terpampang di layar handphone-nya. Saat ditanya alasannya memasang doa tersebut, ia mengaku bahwa baginya UTBK bukan sekadar ujian akademik, melainkan juga momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Tahun lalu, layar handphone-nya masih dihiasi foto sang mega bintang sepak bola asal Portugal, idolanya sejak lama.

“Dulu foto Ronaldo di sini, tapi aku ganti supaya selalu ingat doa ini,” ungkapnya sambil tersenyum.

Seiring dengan itu, ia juga mulai mengurangi kebiasaan begadang demi menonton pertandingan sepak bola, demi fokus mempersiapkan diri menghadapi UTBK.

“Tadi malam overthinking, gelisah. Aku berdoa biar tenang. Tapi nggak tenang-tenang juga,” katanya sembari tertawa kecil, menyembunyikan ketegangan.

Namun, di balik kecemasannya, Farhan tetap berpegang pada satu keyakinan, doa Nabi Yunus dan doa-doa lain yang ia panjatkan akan mempermudah langkahnya dalam mengikuti ujian dan diterima di fakultas impiannya.

Tak hanya Farhan, wajah-wajah peserta lain yang memadati ICT Center juga tampak diliputi kecemasan menjelang dimulainya ujian.

Meski begitu, sebagian peserta tampak lebih santai karena telah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari. Salah satunya adalah Nabila.

Kepada Nukilan.id, Nabila mengaku berasal dari keluarga petani di Aceh Besar dan bercita-cita melanjutkan pendidikan di Universitas Syiah Kuala.

“Ayahku petani. Semoga aku lulus di USK,” ungkapnya.

Berbeda dengan Farhan, Nabila mengaku lebih tenang menghadapi UTBK hari ini karena sudah melakukan berbagai persiapan sebelumnya.

Tiga hari menjelang ujian, Nabila justru memilih untuk berhenti belajar. Bukan karena menyerah, melainkan sebagai strategi. Ia ingin tubuh dan pikirannya tetap segar saat menghadapi hari ujian.

“Kalau terus dipaksa belajar sampai hari H, takut malah blank pas ngerjain,” kata Nabila.

Nabila memilih program studi Hukum—sebuah pilihan yang cukup mengejutkan karena selama SMA ia belajar di jurusan IPA. Tapi dunia debat telah membentuk kecintaannya pada hukum.

“Aku suka debat dari dulu. Nggak tahu kenapa, berasa hidup aja kalau lagi debat,” ucapnya sambil tersenyum. “Jadi walaupun harus belajar dari nol, aku siap.”

Berbagai try out ia ikuti, dari yang gratis hingga berbayar. Puluhan soal ia taklukkan, les tambahan ia jalani, bahkan waktu nongkrong bersama teman pun rela ia kurangi.

UTBK 2025 diikuti oleh 860.976 peserta di seluruh Indonesia, termasuk 377 peserta difabel. Di antara mereka, hanya sekitar 295 ribu kursi yang tersedia di berbagai perguruan tinggi negeri.

Artinya, tidak semua akan berhasil. Tapi pagi itu, di bawah langit Banda Aceh yang mulai cerah, tidak ada yang ingin bicara tentang kegagalan.

Semua percaya, perjuangan mereka hari ini akan membawa hasil suatu saat nanti, entah lewat jalur SNBT atau jalur mandiri.

Bagi Farhan, hasil bukan segalanya. Yang terpenting, ia sudah berjuang. Ia sudah mengatur ulang mimpi dan menyiapkan diri untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

“Kalau gagal, mungkin ada pintu lain yang dibukakan,” ujarnya tenang.

Di sisi lain, Nabila masih memandangi langit. Ia tahu jalan menuju kampus impian masih panjang. Tapi ia tidak takut. Di balik buku-buku tebal dan deretan latihan soal, ia percaya, tidak ada perjuangan yang sia-sia selama dijalani dengan sepenuh hati.

Pagi itu, Banda Aceh menyimpan ratusan harapan yang melayang ke langit—harapan dari mereka yang baru menamatkan sekolah, yang sempat gapyear, hingga anak-anak petani di pelosok desa.

Semuanya dipersatukan oleh satu keyakinan, bahwa mimpi layak diperjuangkan, sejauh apa pun jalannya. Ditemani doa, dipeluk mimpi. (XRQ)

Penulis: Akil

Tgk. Haekal Afifa: Pelecehan Seksual Marak di Lembaga Berasrama, Bukan Hanya Dayah

0
Ilustrasi kekerasan seksual. (Foto: Ist)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kasus pelecehan seksual terhadap anak dan remaja di Aceh kian mengkhawatirkan. Yang membuat publik terkejut, sejumlah kasus justru mencuat dari institusi pendidikan, termasuk lembaga pendidikan berbasis agama seperti dayah atau pesantren. Kondisi ini memunculkan polemik di tengah masyarakat Aceh, benarkah dayah yang harus disalahkan, ataukah ini hanya efek bias dari pemberitaan media?

Menanggapi hal ini, Tgk. Haekal Afifa dari Institut Peradaban Aceh menyampaikan pandangannya dalam sebuah forum diskusi grup (FGD) yang ditayangkan oleh SagoeTV.

Dikutip Nukilan.id pada Selasa (29/4/2025), ia mengungkapkan bahwa sorotan publik terhadap dayah belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Ketika ini menjadi satu fenomena, kawan-kawan di publik itu kan menyorot dayah. Padahal di kampus juga lebih parah. Dan lebih parahnya lagi dari beberapa catatan dan riset dari dulu itu, saya coba masuk di institusi yang sifatnya boarding,” ungkap Tgk. Haekal.

Ia menekankan bahwa kecenderungan terjadinya pelecehan seksual bukan semata terjadi di dayah, melainkan pada semua institusi pendidikan yang menerapkan sistem berasrama atau boarding school.

“Jadi harus kita pahami penyakit ini, predator ini dia tetap bermain di ruang boarding yang sifatnya berasrama. Tidak mesti dayah,” tegasnya.

Namun demikian, menurut Haekal, stigma terhadap dayah muncul karena posisi dayah sebagai lembaga penjaga moral di masyarakat. Ketika lembaga yang seharusnya menjadi benteng akhlak justru terlibat kasus amoral, reaksi publik menjadi berlipat ganda.

“Masalahnya kenapa dayah yang diangkat? Karena dayah sebagai penjaga moral. Sama seperti polisi ketika dia melanggar aturan atau ada polisi yang melakukan tindak pidana, tetapi respon dari pihak kepolisiannya lambat, itu akan menjadi satu hal yang wah,” tuturnya.

Sorotan ini, tambahnya, bisa menciptakan persepsi keliru bahwa dayah adalah episentrum dari persoalan pelecehan seksual. Padahal, menurut pengalamannya sebagai Ketua Majelis Akreditasi Dayah, jumlah kasus memang ada, tetapi tidak mendominasi jika dibandingkan dengan lembaga lainnya.

“Ini sebenarnya yang menjadi titik masalah yang seakan-akan ya secara asumsi mungkin di dayah lebih banyak,” katanya.

Secara terbuka, Haekal juga mengakui bahwa lembaganya pernah menangani dan memproteksi beberapa dayah yang terlibat kasus pelecehan seksual terhadap santri. Ia tidak menutup-nutupi adanya pelanggaran yang dilakukan oleh oknum pimpinan maupun dewan guru.

“Maaf cakap ya. Selama saya menjadi ketua majelis akreditasi dayah, kami itu memproteksi sekitar tujuh atau delapan dayah yang memiliki kasus pelecehan seksual terhadap santri. Baik dilakukan oleh oknum pimpinan atau dilakukan oleh oknum dewan guru,” ujarnya.

Pernyataan Tgk. Haekal ini membuka ruang refleksi bagi semua pihak, bahwa persoalan kekerasan seksual di dunia pendidikan tidak boleh dilihat dari kacamata sempit. Diperlukan langkah serius untuk membenahi sistem pengawasan, khususnya di lembaga berasrama, agar anak-anak terlindungi dari para predator yang bersembunyi di balik jubah moral. (XRQ)

Reporter: AKil

Penaklukan Islam di Hispania: Awal Peradaban Al-Andalus 29 April 711

0
Lukisan Roderic yang memimpin Visigoth dalam Pertempuran Guadalete pada tahun 711 yang menjadi titik awal Islamisasi Spanyol dan Eropa dalam catatan sejarah dunia. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pada 29 April 711, sebuah momen penting dalam sejarah Eropa terjadi ketika pasukan Muslim yang dipimpin oleh seorang jenderal muda bernama Tariq bin Ziyad menjejakkan kaki di sebuah tanjung berbatu di ujung selatan Semenanjung Iberia.

Tempat itu kelak dikenal sebagai Gibraltar, berasal dari bahasa Arab Jabal Tariq—Gunung Tariq. Tanpa disadari, pendaratan ini akan mengubah wajah Eropa Barat untuk delapan abad ke depan, melahirkan peradaban gemilang bernama Al-Andalus.

Retaknya Kerajaan Visigoth

Sebelum kedatangan Islam, Hispania diperintah oleh Kerajaan Visigoth, sebuah kekuatan Kristen yang telah bercokol selama tiga abad. Namun kekuasaan itu rapuh, diguncang perebutan tahta dan konflik internal.

Dalam buku Muslim Spain and Portugal: A Political History of Al-Andalus, Nukilan.id menemukan bahwa kematian Raja Witiza membuka babak baru dalam krisis kepemimpinan. Roderick, yang mengklaim mahkota, tak diakui oleh semua bangsawan Visigoth.

Salah satu tokoh yang menentangnya adalah Count Julian, Gubernur Ceuta, yang konon mengundang kekuatan Muslim untuk menggulingkan Roderick..

Menurut sejarawan Muslim abad ke-9, Ibn Abd al-Hakam dalam Futuh Misr wa’l-Maghrib, permintaan bantuan itu diterima oleh Musa bin Nusayr, Gubernur Umayyah di Afrika Utara. Ia lalu mengirim jenderalnya yang paling terpercaya, Tariq bin Ziyad, untuk melakukan ekspedisi militer ke Hispania.

Langkah Pertama: Pertempuran Guadalete

Dengan pasukan sekitar 7.000 hingga 12.000 prajurit, mayoritas dari suku Berber, Tariq mendarat di Gibraltar pada 9 April 711. Dua bulan kemudian, pada 19 Juli, pasukan Muslim berhadapan langsung dengan tentara Visigoth yang dipimpin Raja Roderick di dekat Sungai Guadalete.

Pertempuran ini menjadi titik balik sejarah. Dalam The Arab Conquest of Spain, 710–797, diceritakan bahwa pasukan Roderick mengalami kekalahan telak. Raja itu sendiri tewas dalam pertempuran, dan kerajaan Visigoth pun runtuh dalam hitungan minggu. Jalan menuju penaklukan terbuka lebar.

Lahirnya Al-Andalus

Setelah kemenangan di Guadalete, pasukan Muslim melaju tanpa banyak perlawanan. Kota Toledo, ibu kota Visigoth, jatuh pada tahun yang sama. Disusul oleh Cordoba dan Sevilla pada 712. Tak lama kemudian, Musa bin Nusayr menyusul dengan bala bantuan dan memperluas kendali Muslim hingga ke pegunungan Pirenia, berbatasan dengan wilayah Prancis saat ini.

Pada tahun 718, hampir seluruh wilayah Hispania berada di bawah kekuasaan Islam, kecuali beberapa kantong di utara seperti Asturias. Dari sinilah Al-Andalus, nama yang diberikan Muslim untuk wilayah tersebut, mulai tumbuh sebagai entitas politik dan budaya yang unik.

Mercusuar Peradaban

Berbeda dengan citra penaklukan yang brutal, kehadiran Islam di Hispania justru memunculkan zaman keemasan di bidang ilmu pengetahuan, arsitektur, dan kebudayaan. Kota Cordoba menjadi pusat intelektual dunia pada abad pertengahan, menyaingi Baghdad dan Konstantinopel.

Dikutip dari The Ornament of the World: How Muslims, Jews, and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain, ribuan manuskrip karya filsuf Yunani dan Romawi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, lalu ke Latin, yang kelak menjadi bahan bakar bagi Renaisans Eropa. Di perpustakaan Cordoba, lebih dari 400.000 naskah disimpan, jumlah yang menyaingi perpustakaan manapun di Eropa kala itu.

Selain ilmu pengetahuan, Al-Andalus juga dikenal karena toleransi beragamanya. Umat Kristen dan Yahudi diperbolehkan mempraktikkan ajaran mereka dengan status dzimmi—kaum yang dilindungi hukum Islam, meskipun membayar pajak khusus.

Senjakala dan Akhir Era Emas

Namun kejayaan itu tak abadi. Sejak abad ke-11, kerajaan-kerajaan Kristen di utara mulai melakukan Reconquista—gerakan perebutan kembali wilayah yang dikuasai Muslim. Secara bertahap, wilayah Al-Andalus menyusut. Puncaknya terjadi pada 1492, ketika Granada—kota terakhir Muslim di Iberia—jatuh ke tangan pasangan monarki Katolik, Ferdinand dan Isabella. Bersamaan dengan itu, berakhir pula sejarah panjang peradaban Islam di Eropa Barat.

Warisan yang Tak Pernah Padam

Meski kekuasaan Islam di Iberia telah lama berlalu, jejaknya masih terasa hingga kini. Dari istana Alhambra di Granada hingga pengaruh bahasa Arab dalam kosakata Spanyol modern, warisan Al-Andalus tetap hidup. Penaklukan Tariq bin Ziyad bukan sekadar peristiwa militer, tetapi awal dari percampuran budaya yang menghasilkan salah satu peradaban paling cemerlang dalam sejarah manusia. (XRQ)

Reporter: Akil

Fenomena Bunuh Diri di Aceh: Antara Tekanan Hidup dan Minimnya Dukungan Psikologis

0
Ilustasi Depresi. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Maraknya kasus bunuh diri di Aceh dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan keprihatinan banyak pihak. Salah satu kasus terbaru melibatkan seorang mahasiswi yang ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar kos kawasan Darussalam, Banda Aceh. Tragedi ini menyisakan pertanyaan besar: apakah masyarakat Aceh tidak tahu bahwa bunuh diri adalah perbuatan dosa, terlebih Aceh dikenal sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam?

Menanggapi hal ini, Miftahul Jannah, seorang akademisi dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, memberikan penjelasan dalam sebuah podcast yang disiarkan oleh SagoeTV.

Dikutip Nukilan.id pada Selasa (29/4/2025), ia menegaskan bahwa pengetahuan masyarakat Aceh terhadap hukum agama sejatinya tidak diragukan.

“Semua orang tahu bahwa bunuh diri itu adalah dosa. Tapi kenapa juga beberapa orang melakukan bunuh diri? itulah karena tekanan hidup yang tidak sanggup dihadapi. Sehingga mencari jalan-jalan yang tidak baik,” ujar Miftahul.

Ia menilai bahwa tekanan hidup yang berat, baik karena persoalan pribadi, sosial, maupun akademik, menjadi penyebab utama seseorang memilih mengakhiri hidupnya. Dalam beberapa kasus, tekanan emosional yang berasal dari hubungan asmara juga turut memicu tindakan nekat tersebut.

“Banyak juga kasus mungkin selain stres akademik juga mungkin kasus percintaan dan putus cinta ikutam untuk aksi (bunuh diri) itu juga,” katanya.

Karena itu, menurut Miftahul, penting bagi kalangan muda, terutama mahasiswa, untuk memiliki kemampuan mengelola emosi dan memahami batas dalam membina hubungan dengan lawan jenis.

“Kalau di kampus kan selalu dosen menyampaikan remaja itu harus pintar-pintar membawa diri pada masa yang baru mengenal pasangan atau mengenal lawan jenis,” tuturnya.

Lebih lanjut, Miftahul juga merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti BRIN, Yurika Fauzia Wardani. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa dari tahun 2012 hingga 2020 terdapat lebih dari 2.000 kasus bunuh diri di Indonesia. Faktor percintaan disebut sebagai salah satu penyebab utama.

“Ada peneliti dari BRIN oleh Bu Yurika Fauzia Wardani. beliau meneliti sejak 2012 sampai 2020 ada 2.000 kasus lebih tentang bunuh diri. saya baca beberapa penelitian beliau, termasuk salah satu penyebab (bunuh diri) itu percintaan,” ujar Miftahul.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pendekatan agama saja tidak cukup tanpa dukungan psikososial dan kesehatan mental yang memadai. Pencegahan bunuh diri perlu menjadi agenda bersama semua pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga, untuk menciptakan ruang aman bagi masyarakat yang sedang berjuang menghadapi tekanan hidup. (XRQ)

Reporter: Akil

Kasus Bunuh Diri Meningkat di Aceh, Akademisi UIN Ar-Raniry Ungkap Pola dan Penyebabnya

0
Ilustrasi Bunuh Diri. (Foto: SuaraSurabaya)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Fenomena bunuh diri kembali menggemparkan publik Aceh. Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswi ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengakhiri hidupnya sendiri di sebuah kamar kos di kawasan Darussalam, Banda Aceh.

Peristiwa memilukan ini menambah daftar panjang kasus serupa yang kian sering terjadi di Tanah Rencong. Masyarakat pun dibuat cemas, terutama karena banyak korban berasal dari kelompok usia muda, termasuk pelajar dan mahasiswa.

Miftahul Jannah, seorang akademisi dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, mengungkapkan keprihatinannya terhadap tren ini dalam sebuah podcast yang disiarkan SagoeTV.

Dikutip Nukilan.id pada Selasa (29/4/2024), ia menyebut bahwa data dari sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kasus bunuh diri di Aceh melibatkan proporsi yang relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan.

“Jadi angka bunuh diri di Aceh itu ada laki-laki dan ada perempuan. Kalau dari beberapa penelitian kita lihat sama angkanya,” ujarnya.

Namun, menurutnya, alasan di balik tindakan nekat ini seringkali berbeda antara laki-laki dan perempuan. Ia menjelaskan bahwa konstruksi sosial yang menempatkan laki-laki pada posisi yang dianggap “lebih kuat” justru kerap membuat mereka menutup diri saat menghadapi tekanan.

“Kalau laki-laki kan karena dianggap lebih tinggi derajatnya dibanding perempuan sehingga kalau punya masalah itu agak tertutup, tidak berani menceritakan kepada orang lain,” tambahnya.

Sementara itu, pada kasus perempuan, beban mental dan rasa terjebak dalam situasi tanpa jalan keluar sering menjadi pemicu utama. Tekanan emosional yang tak tersalurkan secara sehat dapat menggiring pada keputusan tragis.

“Kalau perempuan biasanya ketika sudah pikirannya mentok dan tidak punya jalan lain untuk diselesaikan, mencari jalan pintas untuk bunuh diri,” jelas Miftahul.

Di akhir pernyataannya, Miftahul menitipkan pesan khusus kepada para remaja dan generasi muda Aceh. Ia berharap mereka lebih berani mengungkapkan beban pikiran, mencari bantuan, dan percaya bahwa setiap masalah memiliki solusi.

“Nah, kepada remaja-remaja sekarang yang akan beranjak dewasa, kalian adalah penerus generasi bangsa. Kalau punya masalah tentu ada hikmah di balik masalah itu dan insyaallah akan ada jalan titik terang untuk masa depan kalian,” tutupnya penuh harap.

Fenomena ini menjadi alarm bagi semua pihak—keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, hingga masyarakat luas—untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental, khususnya di kalangan generasi muda. Sebab, di balik senyum dan prestasi, bisa jadi ada jiwa yang sedang berteriak minta tolong dalam diam. (XRQ)

Reporter: Akil

UMY Anugerahkan Novel Baswedan Penghargaan atas Dedikasi Berantas Korupsi

0
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menganugerahkan penghargaan istimewa kepada mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Jakarta — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menganugerahkan penghargaan istimewa kepada mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. Penghargaan itu diberikan dalam momentum Rapat Senat Terbuka Laporan Tahunan Rektor & Pidato Milad ke-44 UMY, Senin (28/4).

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas kiprah panjang Novel dalam memperjuangkan pemberantasan korupsi dan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

“Terkait dengan dedikasi dalam pemberantasan korupsi dan perjuangan HAM [Hak Asasi Manusia] serta konsistensi dalam integritas,” ujar Novel saat dikonfirmasi melalui pesan tertulis, Senin (28/4).

Pihak UMY menyampaikan bahwa rilis resmi terkait penghargaan tersebut akan segera disebarluaskan.

UMY Awards merupakan agenda tahunan yang diberikan kepada tokoh nasional yang dinilai berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa, terutama pada bidang-bidang strategis. Tahun ini, penghargaan difokuskan pada bidang Hukum dan HAM, yang dianggap krusial dalam menjaga keadilan dan stabilitas sosial.

“UMY Awards bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga komitmen kami untuk mendorong semangat perjuangan membangun Indonesia yang lebih baik,” kata Ketua Pelaksana Pidato Milad ke-44 UMY, Zain Maulana, dikutip dari laman resmi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Rekam Jejak Perjuangan

Bukan pertama kali Novel menerima penghargaan atas konsistensinya melawan korupsi. Sebelumnya, pada 2020, ia juga meraih penghargaan bergengsi dari Perdana International Anti-Corruption Champion Fund (PIACCF), yang diserahkan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia saat itu, Tun Dr Mahathir Mohamad, di Putrajaya.

Selain Novel, penghargaan serupa juga diberikan kepada almarhum Datuk Anthony Kevin Morais, Wakil Jaksa Penuntut Umum Malaysia.

Nama Novel Baswedan tak asing dalam deretan kasus besar korupsi di Indonesia. Ia terlibat dalam pengungkapan berbagai perkara kakap, seperti megakorupsi proyek KTP elektronik (e-KTP), suap Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, korupsi proyek simulator SIM Korlantas Polri, hingga skandal suap cek pelawat Deputi Senior Bank Indonesia, Miranda Goeltom, pada 2004.

Namun, perjalanan Novel dalam memberantas korupsi penuh tantangan. Ia sempat mengalami kriminalisasi, bahkan menjadi korban kekerasan. Salah satu insiden mencolok terjadi saat operasi penangkapan mantan Bupati Buol, Amran Batalipu, ketika motor yang dikendarainya ditabrak oleh sekelompok orang tidak dikenal.

Ia juga pernah mengalami insiden serupa saat menuju kantor KPK dari rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, kala tengah menyelidiki kasus reklamasi Jakarta.

Diserang hingga Diberhentikan

Puncak kekerasan terjadi pada April 2017. Seusai salat subuh di Masjid Al Ihsan, Novel diserang dua orang tak dikenal dengan siraman air keras ke wajahnya. Serangan brutal itu membuat kedua matanya terluka parah, bahkan mata kirinya nyaris rusak permanen. Hingga kini, kasus penyiraman air keras tersebut dinilai publik belum mendapatkan penyelesaian hukum yang memuaskan.

Perjalanan Novel di KPK berakhir pada Mei 2021. Ia bersama puluhan pegawai lain dinyatakan tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), yang menjadi syarat alih status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Pemecatan massal ini menuai kritik keras dari berbagai kalangan.

Tak lama berselang, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengajak Novel dan sejumlah eks pegawai KPK untuk bergabung dalam Satuan Tugas Khusus (Satgassus) Pencegahan Korupsi di bawah naungan Polri, melanjutkan perjuangan mereka dalam mencegah praktik korupsi di tanah air.

EDITOR: AKIL

Hasan Nasbi Mundur dari Kepala PCO, Akhiri Perjalanan di Lingkaran Istana

0
Hasan Nasbi. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Jakarta – Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO), Hasan Nasbi, resmi mengundurkan diri dari jabatannya di Kabinet Merah Putih. Pengunduran diri itu telah diajukan Hasan sejak 21 April 2025.

Surat pengunduran dirinya dikirimkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto melalui dua orang kepercayaan di lingkaran Istana, yakni Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

“Pada hari ini, 21 April 2025, sepertinya saat itu sudah tiba. Surat pengunduran diri saya tanda tangani dan saya kirimkan kepada presiden melalui dua orang sahabat baik saya, Menteri Sekretaris Negara dan Sekretaris Kabinet,” ujar Hasan melalui akun Instagram @totalpolitikcom, dikutip Selasa (29/4/2025).

Hasan juga menyatakan bahwa tanggal 21 April adalah hari terakhirnya menjalankan tugas sebagai Kepala PCO.

“Kesimpulan saya sudah sangat matang bahwa sudah saatnya menepi keluar lapangan dan duduk di kursi penonton, memberikan kesempatan kepada figur yang lebih baik untuk menggantikan posisi bermain di lapangan.”

Dalam unggahannya, Hasan menekankan bahwa keputusannya tidak lahir dari emosi sesaat atau tekanan politik tertentu.

“Jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba dan bukan keputusan yang emosional. Ini rasanya adalah jalan terbaik yang dipikirkan dalam suasana yang amat tenang, dan demi kebaikan komunikasi pemerintah yang akan datang,” ucapnya.

Langkah Hasan mundur memunculkan spekulasi di publik. Sejumlah pengamat menilai keputusan itu tak lepas dari dinamika internal di Istana. Apalagi, Presiden Prabowo beberapa waktu lalu menunjuk langsung Prasetyo Hadi sebagai Juru Bicara Presiden, langkah yang dinilai sebagian pihak sebagai bentuk kekecewaan terhadap Hasan.

Nama Hasan Nasbi bukan sosok asing di dunia komunikasi politik nasional. Pria kelahiran Bukittinggi, 11 Oktober 1979 ini dikenal luas sebagai konsultan politik dan pendiri lembaga survei Cyrus Network.

Hasan menempuh pendidikan di SMA 2 Bukittinggi dan melanjutkan ke Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI). Kariernya di dunia politik dimulai sebagai wartawan pada 2005-2006, lalu berlanjut sebagai peneliti di Pusat Kajian Politik UI hingga 2008.

Puncak karier politiknya tercatat saat ia menjadi bagian dari tim pemenangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada Pilkada DKI Jakarta 2012. Lewat pendekatan kampanye yang segar dan terukur, pasangan ini sukses merebut hati warga Jakarta.

Hasan juga dikenal sebagai inisiator “Teman Ahok”, gerakan relawan yang sempat mengguncang politik ibu kota pada Pilkada 2017. Gerakan ini menjadi simbol independensi politik saat Ahok mencoba maju lewat jalur non-partai.

Dukungan Hasan kepada Jokowi berlanjut hingga dua periode Pilpres, yakni pada 2014 dan 2019. Namun pada Pilpres 2024, ia beralih arah mendukung pasangan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka, dan dipercaya menakhodai komunikasi presiden sebagai Kepala PCO.

Kini, setelah hampir satu tahun menjabat, Hasan memilih menepi dari panggung kekuasaan. Meskipun belum jelas siapa penggantinya, publik menanti sosok baru yang akan membawa arah komunikasi pemerintahan Prabowo-Gibran ke depan.

Editor: Akil

Rencana Pembentukan Kota Gayo Makin Terang, Bupati Aceh Tengah Beri Dukungan

0
Suku Gayo. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Takengon — Rencana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kota Gayo, pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah, kian menemukan titik terang. Dukungan nyata datang dari Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga.

Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Komite Percepatan Pembentukan Kotamadya Gayo (KP2KG), Mustawalad, pada Selasa (29/4/2025).

Dikutip dari LintasGayo.com, Mustawalad mengungkapkan sinyal positif dari Bupati muncul saat pengurus KP2KG melakukan audiensi dengan Haili Yoga di ruang kerja Bupati pada Senin (28/4/2025).

“Kami pengurus memberi apresiasi kepada Bapak Bupati dan jajarannya atas sambutan dan solusi konkret yang diberikan dalam diskusi kemarin, kami berharap ada dukungan pemerintah daerah sebagai salah satu syarat pembentukan DOB, yang juga merupakan tujuan kami melakukan audiensi itu,” kata Mustawalad.

Dalam pertemuan tersebut, Bupati Haili Yoga juga menghadirkan sejumlah pejabat strategis, antara lain Pj Sekda Mursyid, Plt Kepala Bappeda Jumadil Enka, Kabag Hukum sekaligus Plt Asisten I Abshar, serta Kabag Tata Pemerintahan Asmaul Husna.

Mustawalad menambahkan, Bupati Aceh Tengah sebelumnya telah menjalin komunikasi intensif dengan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Profesor Abubakar Karim, guna memperdalam pemahaman tentang aturan dan mekanisme pembentukan daerah otonomi baru.

“Pertemuan kemarin di kantor Bupati sangat produktif, dimana Pak Bupati memberikan arahan terkait pembuatan kerangka kerja tentang rencana pembentukan DOB kepada jajarannya, juga menyebutkan pembentukan kota baru hasil pemekaran dari Aceh Tengah sudah seharusnya, dan layak jika dibandingkan dengan kota lainnya yang telah terbentuk sebelumnya di Aceh,” tambah Mustawalad.

Tak hanya itu, gaya komunikatif Haili Yoga dalam memberikan arahan dan masukan juga mendapat apresiasi dari pengurus KP2KG.

Dalam diskusi tersebut, Plt Kepala Bappeda Aceh Tengah, Jumadil Enka, turut menyampaikan pesan penting terkait tujuan pemekaran.

“Pembentukan daerah otonomi baru jangan sampai menimbulkan interaksi negatif sesama masyarakat karena tujuan pemekaran adalah untuk percepatan pembangunan,” kata Jumadil.

Diskusi itu juga dihadiri oleh Presiden Mahasiswa Universitas Gajah Putih (UGP) dan sejumlah mahasiswa lainnya, menunjukkan keterlibatan aktif kalangan muda dalam mendukung proses pembentukan Kota Gayo.

Sebagai langkah lanjutan, KP2KG berencana menggelar audiensi dengan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah untuk memperkuat dukungan politik atas inisiatif tersebut.