Beranda blog Halaman 344

Belasan ASN di Banda Aceh Terjaring Razia saat Nongki di Warkop, Listrik Mati Jadi Alasan

0
Petugas Satpol PP dan WH Aceh merazia ASN yang nongkrong di warung kopi saat jam kerja, kawasan Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Selasa (30/9/2025). (Foto: Humas Satpol PP-WH Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Petugas Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP-WH) Aceh kembali merazia aparatur sipil negara (ASN) yang kedapatan nongkrong di warung kopi saat jam kerja, Selasa (30/9/2025), di kawasan Banda Aceh.

Tim Nukilan.id yang berada di lokasi melihat, para ASN tampak asyik bercengkerama di salah satu warkop kawasan jalan syiah kuala. Kehadiran petugas Satpol PP-WH baru disadari setelah beberapa saat.

Petugas kemudian menginterogasi para ASN dengan meminta identitas, instansi tempat mereka bekerja, serta menanyakan alasan nongkrong di warkop pada jam kerja.

Salah seorang ASN beralasan, “Mati listrik pak, panas di kantor.”

Seperti diberitakan Nukilan.id sebelumnya, sejak Senin (29/9/2025) sore, listrik di Banda Aceh memang padam. Namun, alasan tersebut langsung disanggah petugas dengan tegas. “Di kantor ibu memangnya tidak ada genset? perlu saya telpon Walikota,” ujar seorang petugas. Setelah itu, para ASN membubarkan diri dan kembali ke kantor masing-masing.

Kepala Satpol PP-WH Aceh, Jalaluddin SH MM, melalui Kasi Humas Huzaifal SSos, menjelaskan dari total 11 ASN yang terjaring, enam orang diberikan sanksi pembinaan secara persuasif di tempat.

“Sementara 5 orang lagi, dilakukan penindakan dengan mengambil KTP karena mereka melawan pada saat penindakan,” ungkap Huzaifal dalam keterangannya.

Ia menambahkan, pelanggaran tersebut berpotensi ditindaklanjuti dengan pembinaan internal apabila kembali terulang. “Akan kita panggil atasan langsung untuk pembinaan internal,” pungkasnya.

Sebelumnya, pada Selasa (26/8/2025), sebanyak 9 ASN juga terjaring razia saat nongkrong di warkop pada jam kerja. Mereka langsung dibawa ke Mako Satpol PP-WH Aceh di Banda Aceh untuk dilakukan pembinaan. Para ASN tersebut berasal dari dua dinas dan ditangkap di dua warkop berbeda di Kecamatan Kuta Alam serta Syiah Kuala.

“Ditemukan sedikitnya 9 orang ASN sedang duduk santai di warung kopi pada jam kerja kantor, selanjutnya diberikan pembinaan di Makosat,” jelas Kepala Satpol PP-WH Aceh kala itu.

Sehari sebelumnya, Senin (25/8/2025), sebanyak 17 ASN juga dirazia saat nongkrong di warkop pada jam kerja di enam titik kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.

Kasi Humas Satpol PP-WH Aceh mengimbau seluruh ASN di lingkungan Pemerintah Aceh maupun kabupaten/kota agar menjaga kedisiplinan dan etos kerja selama jam dinas.

Salah satu bentuk kedisiplinan, katanya, adalah tetap berada di tempat tugas masing-masing dan tidak meninggalkan lokasi kerja tanpa alasan jelas serta dapat dipertanggungjawabkan sebelum jam kerja berakhir.

“Hal ini penting untuk mendukung kinerja pemerintahan yang efektif dan optimal dalam melayani masyarakat,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: Akil

32 PPPK Jabatan Fungsional Dinas Pengairan Aceh Dilantik

0
32 PPPK Jabatan Fungsional Dinas Pengairan Aceh Dilantik. (Foto Dinas Pengairan Aceh)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Sebanyak 32 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Dinas Pengairan Aceh resmi dilantik dan dikukuhkan pada Selasa, 30 September 2025. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Aula Lantai 3 Dinas Perhubungan Aceh, Banda Aceh.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh para pejabat struktural dan fungsional Dinas Pengairan Aceh. Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pengairan Aceh menyampaikan selamat kepada para PPPK yang baru dilantik dan berpesan agar seluruh pegawai baru dapat bekerja dengan penuh tanggung jawab serta menjunjung tinggi integritas dalam melayani masyarakat.

“Pelantikan ini bukan hanya seremoni, tetapi momentum penting untuk meneguhkan komitmen kita semua dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang pengairan,” ujar Kepala Dinas dalam sambutannya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pengelolaan sumber daya air yang semakin kompleks.

Para PPPK yang dilantik berasal dari berbagai jabatan fungsional di bidang teknik pengairan, administrasi, dan pendukung operasional lainnya. Dengan bergabungnya tenaga baru ini, diharapkan kinerja Dinas Pengairan Aceh semakin optimal dalam mendukung program pembangunan infrastruktur dan pengelolaan air di Aceh.

Pelantikan ini juga menjadi wujud komitmen Pemerintah Aceh dalam memberikan kepastian status dan kesejahteraan bagi tenaga honorer yang telah lama mengabdi.

“Kami berharap kehadiran PPPK ini dapat memperkuat pelayanan dan mempercepat pencapaian target pembangunan pengairan di Aceh,” tambahnya.

Suasana penuh kebanggaan terpancar dari para pegawai yang baru dikukuhkan. Setelah acara resmi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama pimpinan dan seluruh peserta pelantikan.

Aceh Sentralisasi Pengelolaan Limbah Medis B3 untuk Dongkrak PAD

0
Pemerintah Aceh resmi membuka blueprint sentralisasi industri pengelolaan limbah medis B3 di Ruang Potda 2, Setda Aceh, Senin (29/9/2025). (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh resmi membuka blueprint sentralisasi industri pengelolaan limbah medis B3 di Ruang Potda 2, Setda Aceh, Senin (29/9/2025). Langkah ini diharapkan menjadi sumber baru Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus mengakhiri ketergantungan Aceh pada Sumut.

Pertemuan bertajuk “Investasi Industri Terkait Pengelolaan Limbah B3” dipimpin Plt. Asisten I Sekda Aceh Drs. Syakir, M.Si, dan dihadiri Penasehat Gubernur Bidang Investasi dan Hubungan Luar Negeri T. Emi Syamsyumi alias Abu Salam serta jajaran SKPA terkait.

Data riset menunjukkan 68 rumah sakit di Aceh memproduksi limbah medis B3 rata-rata 2.244 kilogram per hari atau 819.060 kilogram per tahun. Dengan tarif pengolahan Rp50 ribu per kilogram, potensi ekonomi yang tersimpan mencapai Rp40,9 miliar per tahun, setara 0,168 persen dari total PAD Aceh 2024 sebesar Rp24,3 triliun.

Selama ini, limbah medis Aceh dikirim ke Medan dan Pulau Jawa, menghabiskan biaya angkut Rp4,1 miliar per tahun.

“Ini bukan hanya soal efisiensi, tapi juga kedaulatan ekonomi. Kita tidak bisa terus bergantung pada Sumut,” ujar seorang pejabat SKPA.

Blueprint ini sejalan dengan regulasi nasional Permenkes Nomor 7 Tahun 2019 dan PermenLHK Nomor 56 Tahun 2015. Mualem mendorong berdirinya hazardous waste facility skala provinsi, dengan mandat khusus dipercayakan kepada Abu Salam.

Industri pengelolaan limbah medis di Indonesia diperkirakan bernilai Rp22,1 triliun per tahun dengan pertumbuhan 6 persen. Dengan hanya enam pengolah limbah resmi, lima di Pulau Jawa, Aceh berpeluang menjadi pionir pengelolaan limbah medis di kawasan barat Indonesia.

Selain potensi PAD, proyek ini juga diharapkan meringankan beban anggaran Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), sehingga dana kesehatan dapat dialihkan untuk memperluas layanan publik.

Editor: AKil

MAN 1 Banda Aceh Raih Juara 1 dan 2 Lomba Cerdas Cermat TWK AYGA 2025

0
MAN 1 Banda Aceh Raih Juara 1 dan 2 Lomba Cerdas Cermat TWK AYGA 2025. (Foto: MAN 1 Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Banda Aceh berhasil menorehkan prestasi gemilang pada ajang Aceh Youth Geoscience Activity (AYGA) 2025. Kegiatan ini diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK).

Dalam lomba Cerdas Cermat Tes Wawasan Kebumian (TWK), tim MAN 1 Banda Aceh meraih Juara 1 dan Juara 2 sekaligus. Tim Juara 1 terdiri dari Tazkiyatul Salsabila, Falisha Fitria Phonna, dan Uzli Fathil Jannah (XI-1), sedangkan Tim Juara 2 diperkuat Muhammad Rifki, Zamira, dan Muhammad Rifqi (XI-1). Kedua tim tampil unggul di babak final mengalahkan peserta dari berbagai sekolah di Aceh.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, H. Salman SPd MAg, menyampaikan apresiasi atas prestasi siswa MAN 1 Banda Aceh.

“Prestasi ini membuktikan bahwa madrasah mampu bersaing di ajang akademik bergengsi. Saya bangga dengan semangat belajar para siswa yang terus mengharumkan nama madrasah dan Kementerian Agama. Semoga ini menjadi inspirasi bagi madrasah lainnya untuk terus berkarya dan berprestasi,” ujarnya.

Kegiatan AYGA 2025 menjadi wadah untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap ilmu kebumian sekaligus melatih analisis, kecepatan berpikir, dan kerja sama tim. Keberhasilan MAN 1 Banda Aceh menunjukkan komitmen madrasah dalam mencetak generasi unggul, berilmu, dan berdaya saing.

Pernyataan Mualem Soal Tambang Dinilai Belum Sentuh Akar Kerusakan Lingkungan di Aceh

0
Pembukaan lahan dengan Excavator. (Foto: Dok. Apel Green Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Direktur Yayasan Apel Green Aceh, Rahmad Syukur, menilai pernyataan Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) yang menyoroti persoalan tambang ilegal di Aceh masih belum menyentuh akar permasalahan lingkungan yang lebih luas.

Menurutnya, fokus terhadap tambang ilegal saja tidak cukup karena perusakan hutan justru terjadi secara lebih sistematis melalui pembukaan kawasan hutan menggunakan alat berat.

“Misalnya di Rawa Tripa, Kila, hingga Beutong Ateuh, ekspansi ilegal terus berjalan. Kawasan hutan lindung yang seharusnya menjadi benteng terakhir kehidupan kini dipreteli sedikit demi sedikit oleh kepentingan ekonomi jangka pendek,” ujar Syukur dalam keterangan tertulisnya yang diterima Nukilan, Senin (29/9/2025).

Syukur menegaskan, dampak dari penghancuran hutan Aceh sudah diketahui secara luas. Hilangnya hutan berarti hilangnya sumber air bersih bagi rakyat, meningkatnya risiko banjir dan longsor, musnahnya lahan pertanian masyarakat, hingga punahnya satwa langka seperti orangutan, gajah, dan harimau.

Lebih jauh, Syukur menjelaskan bahwa perusakan hutan memperparah krisis iklim global yang dampaknya semakin nyata dirasakan di Aceh, seperti musim yang tak menentu, kekeringan panjang, hingga gelombang pasang yang makin sering menghantam pesisir.

“Jika Mualem sungguh peduli terhadap masa depan Aceh, maka seharusnya kritik tidak berhenti pada tambang semata. Mengapa diam ketika hutan dirusak dengan ekskavator? Mengapa tidak lantang bicara ketika kawasan gambut digunduli untuk kepentingan segelintir pihak,” tanya Syukur.

Menurutnya, rakyat berhak menuntut konsistensi moral dari para elit politik Aceh. Ia mendesak agar suara politik diarahkan untuk mendorong penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan. Tanpa itu, kritik terhadap tambang akan selalu terlihat hanya untuk kepentingan politik sesaat.

“Aceh butuh kepemimpinan moral yang konsisten: menolak perusakan baik oleh tambang maupun perambahan hutan,” kata Syukur.

Ia mengingatkan kembali pesan Wali Nanggroe Aceh, Tgk. Hasan di Tiro, yang pernah berwasiat: “Peuseulamat uteun Aceh, sabab uteuen njan nakeuh salah saboh pusaka keuneubah endatu njang akan tapulang keu aneuk tjutjo geutanjoe di masa ukeu.”

“Ini bukan sekadar kata-kata, tetapi peringatan agar kita tidak menggadaikan masa depan demi keuntungan jangka pendek. Kini saatnya para elit Aceh membuktikan apakah benar peduli pada rakyat dan masa depan Aceh, atau hanya menjadikan isu lingkungan sebagai komoditas politik,” pungkasnya.

Reporter: Rezi

Meuseuraya Festival 2025 Sukses Digelar, Catat 11 Ribu Pengunjung dan Transaksi UMKM Rp 2,5 Miliar

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Meuseuraya Festival 2025 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh resmi berakhir pada Minggu (28/9/2025) di Balee Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh.

Festival yang berlangsung selama lima hari, sejak 24 September ini berhasil menarik lebih dari 11.000 pengunjung dan mencatatkan total transaksi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hampir mencapai Rp2,5 miliar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan penyelenggaraan festival yang mengusung tema “Kolaborasi Meningkatkan Daya Saing Aceh melalui Ekonomi dan Keuangan Syariah yang Inklusif, Digital, dan Berkelanjutan” ini.

“Keberhasilan Meuseuraya Festival 2025 adalah hasil dari kebersamaan, sinergi, dan kolaborasi semua pihak. Festival ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi momentum penting untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah, menggali potensi, dan memperlihatkan budaya Aceh sebagai kekuatan ekonomi kreatif dan pariwisata yang bernilai tinggi,” kata Agus

Festival yang merupakan Strategic Flagship Event (SFE) Bank Indonesia Aceh ini menghadirkan lebih dari 17 rangkaian kegiatan, meliputi expo UMKM, business matching, forum dan talkshow, workshop, kompetisi kreatif-edukatif, hingga pertunjukan budaya Islami.

Selama pelaksanaannya, festival ini mencatat sejumlah capaian signifikan. Expo dan Bazaar UMKM diikuti oleh 120 UMKM, 11 perbankan, dan 5 instansi pemerintah daerah. Total transaksi UMKM mencapai hampir Rp2,5 miliar dengan lebih dari 70 ribu transaksi, mayoritas melalui sistem pembayaran non-tunai QRIS.

Business matching antara perbankan dan UMKM juga menghasilkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp1,45 miliar. Sementara itu, program wakaf produktif melalui Pojok Berkah berhasil mengumpulkan dana Rp44,45 juta.

Enam forum dan talkshow tematik di bidang ekonomi syariah, UMKM, dan Pelindungan Konsumen diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta. Festival juga menggelar enam kompetisi kreatif-edukatif, termasuk Lomba Ranking 1 Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah, Lomba Tari Ratoh Jaroe, Lomba Nasyid Islami, hingga QRIS Hip-Hop Competition yang diikuti oleh 744 peserta dari kalangan pelajar dan anak muda Aceh.

Aktivasi komunitas seperti QRIS Fun Walk, Meuseuraya Challenge, dan Pojok Berkah berhasil menarik partisipasi lebih dari 5.000 orang. Festival juga menampilkan pagelaran seni budaya Aceh, termasuk teatrikal, hikayat, serta Aceh Fashion Collaboration yang mengangkat busana Islami bernuansa kearifan lokal.

Agus menekankan bahwa semangat “meuseuraya” atau gotong royong akan terus dirawat melalui program-program sinergi lainnya bersama Pemerintah Aceh. Program tersebut antara lain pengembangan UMKM dan Zona KHAS (Kuliner Halal, Aman, dan Sehat), penyelenggaraan Aceh Ramadhan Festival, digitalisasi, serta pelatihan sektor pertanian untuk mendukung ketahanan pangan.

Acara penutupan dihadiri oleh Gubernur Aceh yang diwakili Asisten II Sekda Aceh, Dr. Ir. Zulkifli, M.Si., unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) Aceh, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, pimpinan perbankan, perguruan tinggi, asosiasi, komunitas, serta masyarakat Aceh.

Reporter: Rezi

Dinas Pengairan Aceh Gelar Sidang Kedua TKPSDA Wilayah Sungai Pase–Peusangan

0
Dinas Pengairan Aceh Gelar Sidang Kedua TKPSDA Wilayah Sungai Pase–Peusangan. (Foto: Dinas Pengairan Aceh)

NUKILAN.ID | Bireuen – Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinas Pengairan Aceh, Ichsan Iswandy, S.STP., MM., selaku Ketua Harian Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) membuka Sidang Kedua TKPSDA Wilayah Sungai Pase–Peusangan yang berlangsung di Hotel Luxury Bireuen, pada Selasa, 30 September 2025.

Sidang ini menjadi forum koordinasi penting dalam pengelolaan sumber daya air, yang mempertemukan berbagai pihak terkait untuk membahas isu dan kebijakan strategis di wilayah sungai tersebut.

Dalam kesempatan itu, Plh. Kepala Dinas Pengairan Aceh juga turut menjadi narasumber dengan membawakan materi berjudul “Optimalisasi Layanan Pengaduan Masyarakat melalui Sistem Pengaduan Masyarakat Pengairan (SI PADUM PENG)”.

Melalui pemaparannya, ia menekankan pentingnya peningkatan layanan publik berbasis teknologi informasi agar masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam penyampaian aspirasi dan pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya air.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, efektif, dan transparan di Aceh.

Kepala Dinas Pengairan Aceh Hadiri Silaturahmi UPTD PI Wilayah II

0
Kepala Dinas Pengairan Aceh Hadiri Silaturahmi UPTD PI Wilayah II. (Foto: Dinas Pengairan Aceh)

NUKILAN.ID | Bireuen – Usai dilantik, Kepala UPTD Pengelolaan Irigasi (PI) Wilayah II, Sejahtera, ST., MT., mengadakan kegiatan silaturahmi bersama seluruh staf UPTD PI Wil-II.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Luxury Bireuen, pada Selasa, 30 September 2025, turut dihadiri oleh Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinas Pengairan Aceh, Ichsan Iswandy, S.STP., MM.

Dalam kesempatan tersebut, Plh. Kepala Dinas Pengairan Aceh memberikan arahan sekaligus menegaskan pentingnya sinergi dan koordinasi dalam pelaksanaan tugas di lapangan, khususnya dalam pengelolaan dan pelayanan irigasi di wilayah kerja masing-masing.

Kegiatan silaturahmi ini juga menjadi momentum memperkuat semangat kebersamaan dan profesionalitas aparatur dalam mendukung visi Dinas Pengairan Aceh untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Banda Aceh Perkuat Layanan PAUD Melalui Program SEULANGA

0
Banda Aceh Perkuat Layanan PAUD Melalui Program SEULANGA. (Foto: Pemko Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pokja Bunda PAUD Kota Banda Aceh, yang diketuai oleh Dr. dr. Siti Hajar, M.Kes., M.Ked (Oph)., Sp.M, terus memperkuat komitmennya untuk menghadirkan layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang bermutu, inklusif, dan berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan peran Bunda PAUD Kota Banda Aceh, Bunda Illiza Sa’aduddin Djamal, dalam mendukung visi Pokja.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam Kegiatan Apresiasi Pokja Bunda PAUD Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2025 yang berlangsung di Hotel Rasamala pada 28–30 September 2025. Acara yang dibuka oleh Bunda PAUD Provinsi Aceh, Bunda Marlina Muzakir, ini menjadi wadah strategis untuk meningkatkan kualitas pengelolaan program Bunda PAUD di daerah.

Dalam forum tersebut, Ketua Pokja Bunda PAUD Kota Banda Aceh Dr. Siti Hajar memperkenalkan program SEULANGA (Semarakkan Edukasi Untuk Anak Negeri Gapai Akses Wajib Belajar 13 Tahun). Program ini bertujuan mendukung percepatan realisasi wajib belajar 13 tahun, yang mencakup 1 tahun pra-sekolah.

Program unggulan SEULANGA mencakup beberapa strategi, antara lain:

  1. Gerakan GERSINTA & GERSIK: Advokasi dan penyusunan regulasi terkait wajib belajar 13 tahun.

  2. Program PIJAR: Pemetaan dan pendataan Anak Tidak Sekolah (ATS), serta edukasi bagi orang tua.

  3. Program SANTRI & SASIMI: Membangun kemitraan dengan dunia usaha, organisasi profesi, dan lembaga pendidikan.

  4. Pembentukan PAUD Negeri Terpadu: Memanfaatkan aset daerah yang belum terpakai untuk sarana pendidikan.

  5. Peningkatan Mutu Guru PAUD: Melalui pelatihan dan diklat berjenjang.

Dr. Siti Hajar menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai ajang berbagi pengalaman dan praktik baik.

“Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat sinergi, memperluas wawasan, serta meningkatkan komitmen bersama dalam menghadirkan layanan PAUD yang ramah anak, inklusif, dan berkualitas. Kami berharap hasil kegiatan ini dapat diimplementasikan di daerah masing-masing demi masa depan anak-anak Aceh yang lebih baik,” ujarnya.

Ketua Pokja juga didampingi sejumlah perwakilan, antara lain Maisarah (Ketua DWP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan), Risda Zuraida (Dinas P3AP2KB), Sabri Ts, S.Pd (Kepala Bidang PAUD dan PNF), dan Ruwaida (Wakil Sekretaris Pokja Bunda PAUD Kota Banda Aceh).

Melalui langkah strategis ini, Pokja Bunda PAUD Kota Banda Aceh berharap semakin banyak anak usia dini di Banda Aceh yang memperoleh akses pendidikan berkualitas, sebagai pondasi kuat menuju Generasi Emas Indonesia.

Pemerintah Aceh Jajaki Kerja Sama Energi dengan Denmark

0
Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Fadhlullah saat melakukan audiensi dengan pihak Kedutaan Besar Kerajaan Denmark di Menara Rajawali, Jakarta Pusat, Senin (29/9/2025). (Foto: ANTARA/HO-Humas Pemprov Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh tengah menjajaki peluang kerja sama dengan Kerajaan Denmark, khususnya di sektor energi dan pengembangan potensi daerah lainnya.

Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, melakukan audiensi dengan pihak Kedutaan Besar Denmark di Jakarta, Senin (29/9/2025). Pertemuan tersebut diterima langsung oleh Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia, Sten Frimodt Nielsen.

“Hari ini kami dengan senang hati bisa bertemu dan menyampaikan berbagai potensi Aceh,” ujar Fadhlullah dalam keterangan tertulis.

Ia menjelaskan, Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah, mulai dari minyak, gas, tembaga, emas, hingga bijih besi. Selain itu, provinsi ujung barat Indonesia ini juga dikenal dengan komoditas unggulannya seperti kopi arabika Gayo, robusta, dan nilam.

Aceh juga menawarkan potensi wisata alam, termasuk Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang dijuluki paru-paru dunia.

“Kemudian, Aceh, khususnya Sabang merupakan titik nol kilometer Indonesia yang strategis karena dilintasi sekitar enam ribu kapal setiap harinya (Selat Malaka),” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Fadhlullah turut menyampaikan apresiasi kepada Denmark dan negara-negara Eropa lainnya atas bantuan yang pernah diberikan saat Aceh menghadapi konflik dan bencana tsunami dua dekade lalu.

Sementara itu, Dubes Sten Frimodt Nielsen menyatakan rencana untuk berkunjung langsung ke Aceh. Ia menegaskan, Denmark akan melakukan pemetaan potensi daerah tersebut dengan melibatkan pakar berkompeten, termasuk yang saat ini bertugas di Kementerian ESDM RI.

Pemetaan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan kerja sama Aceh dan Denmark di masa depan.