Beranda blog Halaman 336

Kisah Perjuangan Prof. Rahmat Fadhil: Dari Aktivis Mahasiswa ke Guru Besar Rekayasa Industri Pertanian

0
Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc. Guru Besar dalam bidang Rekayasa Industri Pertanian USK. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali mencatatkan prestasi akademik dengan mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc. sebagai Guru Besar dalam bidang Rekayasa Industri Pertanian. Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Gedung Academic Activity Center (AAC) Prof. Dr. Dayan Dawood, MA, Kamis (17/7/2025), disaksikan oleh pimpinan universitas, sivitas akademika, tamu undangan, dan keluarga besar Prof. Rahmat.

Dalam orasi ilmiah berjudul Rekayasa Industri Pertanian: Rahmat Bagi Seluruh Alam, Prof. Rahmat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Ia mengajak para hadirin untuk merenungkan peran ilmu di tengah krisis sosial dan ekologi.

“Sebesar apa pun gelar dan riset yang kita miliki, yang utama adalah seberapa besar manfaatnya bagi umat dan lingkungan,” tegasnya.

Kisah perjalanan akademik Prof. Rahmat turut disampaikan dalam orasi tersebut. Ia menempuh pendidikan sarjana selama tujuh tahun, program magister empat tahun, dan berhasil meraih gelar doktor dari IPB University dalam waktu 2,5 tahun, dengan total 15 publikasi ilmiah di tingkat nasional dan internasional.

“Keterlambatan bukanlah akhir. Yang terpenting adalah kebangkitan dan niat sungguh-sungguh,” ujarnya.

Sebagai akademisi di bidang rekayasa industri pertanian, Prof. Rahmat menyoroti rendahnya tingkat hilirisasi komoditas unggulan Aceh, seperti kopi Gayo. Ia menyebut lebih dari 80 persen produk agroindustri masih diekspor dalam bentuk mentah, sehingga nilai tambah tidak dinikmati oleh masyarakat lokal.

Menjawab persoalan tersebut, Prof. Rahmat menawarkan pendekatan ilmiah berbasis Multi-Criteria Decision Making (MCDM) sebagai solusi strategis untuk merumuskan kebijakan pertanian yang lebih tepat sasaran. Pendekatan ini dinilai bisa diterapkan dalam berbagai sektor, mulai dari asuransi pertanian, pengolahan pangan, hingga desain kemasan produk lokal.

Sebagai Direktur Kewirausahaan dan Alumni USK, ia juga menekankan pentingnya sinergi antara akademisi dan pelaku usaha. Menurutnya, rekayasa industri pertanian tidak hanya berbasis teknologi semata, tetapi juga harus mendukung penguatan Indeks Kewirausahaan Nasional.

Dalam bukunya yang berjudul Rekayasa Industri Pertanian dalam Perspektif Kewirausahaan, Prof. Rahmat merumuskan konsep dan pengalaman yang dapat menjadi rujukan dalam membangun ekosistem agribisnis yang inklusif dan berkelanjutan.

Di penghujung acara, dalam suasana haru, Prof. Rahmat menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung langkah akademiknya.

“Saya persembahkan capaian ini kepada orang tua saya, para guru, istri tercinta, dan anak-anak saya. Semoga ini menjadi amal jariyah,” ucapnya.

Pengukuhan ini menjadi momentum penting bagi USK untuk memperkuat peran akademisi sebagai agen perubahan. Komitmen Prof. Rahmat dalam mengintegrasikan sains, etika, dan pengabdian masyarakat mencerminkan semangat baru pendidikan tinggi: ilmu pengetahuan yang berdampak nyata dan berpihak pada kesejahteraan alam.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: Akil

Pemkab Aceh Barat Raih Penghargaan Pembentukan Koperasi Merah Putih Tercepat di Aceh

0
Plt Sekda Aceh, M Nasir Samaun menyerahkan piagam penghargaan kepada Pemkab Aceh Barat diterima Asisten Pemerintahan Aceh Barat Ifan Murdani (kiri), pada peringatan Hari Koperasi ke-78 tingkat Provinsi Aceh yang digelar di halaman Kantor Gubernur Aceh di Banda Aceh, Kamis (17/7/2025). (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat menerima piagam penghargaan dari Pemerintah Aceh atas keberhasilan dalam menyelesaikan pembentukan badan hukum Koperasi Merah Putih tercepat di Provinsi Aceh.

Piagam tersebut diserahkan langsung oleh Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Samaun, kepada Asisten Pemerintahan dan Keistimewaan Aceh Setdakab Aceh Barat, Ifan Murdani. Penyerahan dilakukan pada peringatan Hari Koperasi ke-78 tingkat Provinsi Aceh di halaman Kantor Gubernur Aceh, Kamis (17/7/2025).

“Penghargaan ini merupakan hasil kerja keras semua pihak, mulai dari pemerintah kabupaten, aparatur desa, hingga masyarakat yang mendukung penuh keberadaan koperasi sebagai penggerak ekonomi desa,” kata Ifan dalam keterangannya.

Menurut Ifan, piagam tersebut merupakan bentuk apresiasi atas komitmen dan keseriusan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dalam menuntaskan legalitas Koperasi Desa Merah Putih secara cepat dan tepat waktu.

Ia menyebutkan, pencapaian ini tidak hanya menjadi prestasi administratif, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam penguatan koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan di tingkat lokal.

Ia berharap, pencapaian tersebut dapat mendorong koperasi-koperasi lain di Aceh Barat untuk semakin aktif dan tertib dalam pengelolaan serta administrasi.

“Sehingga dapat berkontribusi lebih besar dalam meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ifan menambahkan bahwa peringatan Hari Koperasi ke-78 tahun ini menjadi momen penting untuk memperkuat peran koperasi, terutama di tengah tantangan ekonomi global.

“Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berkomitmen untuk terus mendampingi dan memfasilitasi pengembangan koperasi agar semakin mandiri, sehat, dan mampu bersaing di era digital,” katanya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: Akil

Tiga Bupati dari Aceh Masuk Kepengurusan APKASI 2025–2030, Wagub: Bawa Aceh Lebih Berdaya Saing

0
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, SE, saat menghadiri Pengukuhan Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) periode 2025-2030 di Puri Agung, Grand Sahid Hotel, Jakarta, Kamis, (17/7/2025). (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Tiga kepala daerah dari Aceh resmi terpilih sebagai pengurus nasional Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) periode 2025–2030. Pengukuhan berlangsung di Puri Agung, Grand Sahid Hotel, Jakarta, Kamis (17/7/2025), dan turut dihadiri oleh Wakil Gubernur Aceh, Fadlullah.

Ketiga bupati yang masuk dalam jajaran pengurus baru APKASI itu adalah Bupati Nagan Raya, Bupati Aceh Barat Daya, dan Bupati Aceh Besar.

Wakil Gubernur Fadlullah menyambut positif kepercayaan yang diberikan kepada para bupati asal Aceh dalam struktur nasional APKASI. Ia menilai, kehadiran mereka menjadi peluang strategis untuk memperkuat jejaring daerah di tingkat nasional.

“Saya berharap para bupati yang masuk dalam kepengurusan APKASI ini mampu menjadi duta kepentingan daerah, dan membawa daerah khusus Aceh ke arah yang lebih baik, berdaya saing, dan berwibawa di tingkat nasional,” ujar Fadlullah.

Lebih lanjut, Fadlullah menekankan pentingnya pemanfaatan posisi ini untuk memperjuangkan isu-isu mendasar yang dihadapi Aceh, mulai dari pendidikan dan kesehatan, hingga pengelolaan sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan.

Sebagai wadah resmi para bupati se-Indonesia, APKASI diharapkan mampu menjadi penggerak kolaborasi antardaerah, serta jembatan komunikasi yang efektif antara pemerintah kabupaten dan pemerintah pusat.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: Akil

Mahasiswa KKN USK Hidupkan Kembali Perpustakaan Gampong di Bireuen

0
MAHASISWA KKN USK
Mahasiswa KKN USK Hidupkan Kembali Perpustakaan Gampong di Bireuen. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BIREUEN – Suasana ceria kembali menyelimuti Perpustakaan Gampong di Meunasah Teungku Digadong, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, setelah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi Universitas Syiah Kuala (USK) hadir menghidupkan aktivitas literasi di tengah masyarakat.

Sejak dimulai pada Rabu, 5 Juli 2025 lalu, kegiatan revitalisasi perpustakaan ini menjadi bagian dari program KKN Tematik Literasi yang bertujuan menumbuhkan minat baca dan menciptakan ruang belajar yang inklusif serta menyenangkan.

Melalui pendekatan kreatif seperti pojok baca anak, lomba mewarnai, kelas membaca bersama, hingga penataan ulang koleksi buku, para mahasiswa berhasil menarik perhatian puluhan anak dan remaja.

Kelompok KKN ini terdiri dari sepuluh mahasiswa lintas fakultas di USK, yakni dari FISIP, FEB, dan FKEP. Mereka adalah Teuku Ridwansyah, Anissatul Muthiah, Afifah Tazkiya, Salaisya Putri Nabila, Okta Vadilla, As-Syifayatul Amalia, Yolanda Fitrah Vadisa, Shalsabilla Putri Rinaldi, Desi Marlina, dan Syifa Fania.

Teuku Ridwansyah, Ketua Kelompok KKN, kepada Nukilan.id menyampaikan bahwa kegiatan yang mereka lakukan bukan semata-mata untuk menyelesaikan program kerja semata. Lebih dari itu, mereka berupaya membangun kedekatan dengan warga serta menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak-anak desa.

“Kami ingin menciptakan ruang yang nyaman bagi anak-anak untuk belajar dan bermain sambil menumbuhkan rasa cinta terhadap buku. Suasana yang dulunya sepi, kini mulai ramai dengan tawa dan cerita anak-anak desa,” ungkap Ridwansyah pada Jumat (18/7/2025).

Ridwansyah menceritakan bahwa momen mengharukan sempat terjadi ketika seorang anak kecil menghampiri salah satu mahasiswa sambil membawa buku cerita miliknya. Dengan polos ia bertanya, “Kak, sekarang aku bisa baca ini di sini, ya?” Ucapan sederhana itu meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa.

“Beberapa di antara kami mengaku tak kuasa menahan air mata saat melihat antusiasme anak-anak yang begitu besar untuk membaca,” tambah Ridwansyah.

Ia menjelaskan bahwa kehadiran mahasiswa KKN Tematik Literasi disambut hangat oleh Kepala Gampong serta para tokoh masyarakat setempat. Kehadiran mereka dinilai membawa dampak positif, terutama dalam mendorong semangat literasi di kalangan warga desa.

“Mereka menyampaikan harapan agar perpustakaan ini terus aktif ke depannya dan menjadi tempat belajar bagi generasi muda di Gampong Meunasah Teungku Digadong,” pungkasnya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Reporter: Akil

Dukung Program Makan Bergizi Gratis, Polda Aceh Dirikan SPPG

0
Kapolda Aceh Irjen Pol Achmad Kartiko mendengarkan penjelasan terkait makanan bergizi di SPPG Polda Aceh di Banda Aceh, Kamis (17/7/2025). (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh mendirikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bentuk dukungan terhadap program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto.

Kapolda Aceh Irjen Pol Achmad Kartiko mengatakan, pendirian SPPG merupakan langkah nyata untuk memastikan keberlanjutan program MBG, sebagai investasi jangka panjang dalam mencetak generasi unggul yang sehat dan cerdas.

“Pembentukan SPPG ini merupakan inisiatif dan implementasi nyata Polri Presisi melalui peran aktif Yayasan Kemala Bhayangkari dalam mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto di bidang pemenuhan gizi anak usia sekolah,” ujar Achmad Kartiko saat meresmikan SPPG Polda Aceh di Gampong Lambung, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Kamis (17/7/2025).

Peresmian SPPG Polda Aceh dilakukan serentak bersama 28 SPPG Polri lainnya di seluruh Indonesia. Secara simbolis, kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari Mako Korps Brimob Polri.

Achmad Kartiko menyampaikan apresiasinya kepada Yayasan Kemala Bhayangkari Daerah Aceh dan seluruh pihak yang telah mendukung pendirian SPPG tersebut.

“Dengan menyediakan makanan bergizi sejak dini, kita sedang membangun sumber daya manusia yang akan menjadi pilar masa depan bangsa,” katanya.

Kapolda juga mendorong seluruh Polresta dan Polres di jajaran Polda Aceh agar turut membentuk SPPG di wilayah masing-masing, demi memperluas manfaat program MBG.

Saat ini, SPPG Polda Aceh telah melayani 14 sekolah dengan total penerima manfaat sebanyak 3.695 orang. Mereka terdiri dari siswa tingkat TK hingga SMA sederajat, serta ibu hamil, menyusui, dan balita.

Selain itu, pembangunan empat SPPG baru tengah berlangsung di beberapa titik, yakni di Gampong Lamcot, Kecamatan Darul Imarah, dan Gampong Ateuk Jawoe, Kecamatan Baiturrahman (wilayah Polresta Banda Aceh); Desa Jantho Makmur, Kecamatan Kota Jantho (wilayah Polres Aceh Besar); serta Desa Geulanggang Gampong, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen (wilayah Polres Bireuen).

Keempat lokasi tersebut saat ini dalam tahap pembangunan atau renovasi, serta pengadaan peralatan sebelum diverifikasi oleh Badan Gizi Nasional untuk operasional penuh.

“Semoga SPPG ini bukan hanya simbol kepedulian terhadap pemenuhan gizi anak, tetapi juga bukti kehadiran Polri yang humanis demi terwujudnya masyarakat yang sehat, sejahtera, dan cerdas,” kata Achmad Kartiko.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: Akil

Ngidam Naik Mobil Polisi, Ibu Hamil di Aceh Tengah Dapat Sambutan Humanis dari Polres

0
Seorang Ibu Hamil di Aceh Tengah Ngidam Naik Mobil Polisi. (Foto: Lintasgayo.co)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Momen tak biasa sekaligus mengharukan terjadi di Mapolres Aceh Tengah pada Kamis (17/7/2025). Seorang ibu hamil datang bukan untuk melaporkan tindak kejahatan, melainkan mengutarakan permintaan unik: ngidam naik mobil patroli polisi sambil berkeliling kota.

Dikutip dari Lintasgayo.co, perempuan tersebut adalah Nanda Pebriana (30), warga Blang Mancung Atas, Kecamatan Ketol, yang saat ini tengah mengandung anak keduanya. Ia datang ke Mapolres sekitar pukul 14.00 WIB, ditemani anak pertamanya, dan langsung menyampaikan keinginannya kepada personel Provos.

Tanpa banyak tanya, permintaan itu langsung disambut hangat oleh personel Provos Bripda Salman dan anggota Satlantas Briptu Ryaas. Keduanya dengan ramah mengajak Nanda dan anaknya naik mobil Patwal Satlantas Polres Aceh Tengah untuk berkeliling Kota Takengon.

Perjalanan singkat tersebut membawa kebahagiaan tersendiri bagi Nanda. Usai menikmati momen langka itu, ia diantar kembali ke tempat kerjanya di Kantor Kementerian Agama Aceh Tengah.

Sambil tersenyum, Nanda menyampaikan rasa terima kasihnya kepada jajaran Polres Aceh Tengah, khususnya Satlantas, atas pelayanan yang berkesan itu.

Kapolres Aceh Tengah AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H., turut mengapresiasi tindakan anggotanya yang dinilai menunjukkan wajah humanis institusi kepolisian.

“Polri hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tapi juga sebagai sahabat dan pelayan masyarakat. Tindakan kecil namun penuh empati seperti ini menjadi wajah nyata dari semangat Presisi dan pelayanan humanis,” ujar Kapolres.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: Akil

Tiga Mahasiswa Unimal Wakili Aceh di Pertamina Youth Energy 2025

0
Tiga Mahasiswa Unimal Wakili Aceh di Pertamina Youth Energy 2025. (Foto: Humas UNIMAL)

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Tiga mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal) terpilih menjadi delegasi Aceh dalam ajang nasional Pertamina Youth Energy 2025 yang berlangsung di Bogor pada 15–20 Juli 2025. Mereka mewakili Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Aceh usai lolos seleksi nasional yang digelar panitia pusat.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Muhammad Gazza dari Program Studi Teknik Material, Fajar Lesmana dari Teknik Industri, dan Putri Meurah Intan dari Program Studi Pengolahan dan Pemanfaatan Teknologi Migas (PVTM). Mereka akan mengikuti berbagai kegiatan yang berfokus pada isu energi nasional dan penguatan karakter kepemimpinan generasi muda.

Ketua DEM Aceh, Faizar Rianda, S.Pd, yang juga merupakan alumni Prodi PVTM Unimal, menyebutkan bahwa keikutsertaan ini menjadi bagian dari program strategis nasional untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya transisi energi.

“Kegiatan ini tidak hanya membahas isu energi, tapi juga menjadi sarana edukasi dan pembentukan karakter kepemimpinan serta wawasan kebangsaan. Ini menjadi peluang emas bagi mahasiswa Unimal untuk tampil dan berkontribusi nyata dalam isu strategis energi nasional,” ujar Faizar.

Aceh sendiri mengirimkan total empat delegasi dalam ajang ini. Selain tiga mahasiswa Unimal, satu peserta lainnya berasal dari Universitas Samudra, yakni Maulia Rizki Syarafa.

Dukungan terhadap keikutsertaan para mahasiswa ini juga datang dari kalangan kampus. Ketua Program Studi Teknik Material Unimal, Dr. Zulnazri, mengapresiasi keterlibatan mahasiswanya dalam ajang nasional tersebut.

“Kami sangat mendukung keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seperti ini karena memberikan wawasan, pengalaman, serta jejaring yang luas di bidang energi. Mereka juga berkesempatan melakukan kunjungan industri ke fasilitas Pertamina, yang tentu sangat bermanfaat,” tutur Dr. Zulnazri.

Pihak program studi, lanjutnya, juga memberikan kemudahan bagi mahasiswa peserta, termasuk penyesuaian jadwal Ujian Akhir Semester (UAS) agar kegiatan dapat diikuti secara maksimal.

Sementara itu, Faizar menegaskan bahwa keikutsertaan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat eksistensi DEM Aceh di tingkat nasional.

“Kami berharap dukungan penuh dari semua elemen, khususnya dari kampus, agar ke depan DEM Aceh semakin berkembang dan bisa mendorong perhatian lebih dari pemerintah pusat terhadap potensi Aceh sebagai salah satu sumber energi utama Indonesia, khususnya di sektor minyak dan gas,” pungkasnya.

Pertamina Youth Energy 2025 sendiri diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka telah melewati seleksi ketat untuk mengikuti rangkaian kegiatan seperti seminar tematik, pelatihan kepemimpinan, hingga studi lapangan ke fasilitas energi milik Pertamina.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: Akil

Bobby dan Bobroknya Dinasti Politik di Era Reformasi

0
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. (Foto: ICW)

NUKILAN.ID | OPINI – Korupsi dan politik dinasti tampaknya kian sulit dipisahkan dalam lanskap kekuasaan Indonesia. Keduanya seperti dua sisi dari satu koin yang sama—saling melengkapi, saling meneguhkan. Kasus terbaru yang menyeret Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menantu mantan Presiden Joko Widodo, kembali menyingkap sisi kelam demokrasi Indonesia yang justru subur dalam sistem politik yang mengklaim dirinya sebagai republik.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan tengah menimbang untuk memeriksa Bobby dalam pusaran kasus dugaan suap proyek infrastruktur. Kasus ini mencuat setelah penangkapan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sumatera Utara, Topan Ginting, dan satu pejabat lainnya yang diduga menerima suap sebesar Rp8 miliar dari dua kontraktor proyek jalan. Yang membuat kasus ini menarik bukan hanya soal besarannya, tapi juga jalinan relasi kekuasaan di belakangnya.

Topan bukan pejabat biasa. Ia merupakan loyalis Bobby sejak Pilkada Medan 2020 dan disebut-sebut sebagai salah satu arsitek kemenangan politiknya. Ketika Bobby naik menjadi Wali Kota Medan, Topan pun ikut naik, menduduki posisi penting hingga kemudian ditarik ke provinsi saat Bobby menjadi Gubernur. Inilah pola klasik dinasti: loyalitas lebih utama daripada kapabilitas.

Tak bisa dimungkiri, Bobby tampil ke panggung politik bukan semata karena kapabilitasnya. Statusnya sebagai menantu presiden menjadi modal utama yang mendongkrak elektabilitas dan membuka jalan kekuasaan.

Hanya berselang beberapa bulan setelah bergabung dengan PDI Perjuangan, ia dengan mudah memenangkan Pilkada Medan. Kini, ketika ia menjabat Gubernur Sumatera Utara, problem dinasti politik itu menjadi semakin kentara: pengangkatan tim sukses ke birokrasi, rusaknya sistem meritokrasi, dan rendahnya integritas pemerintahan daerah.

Menurut Survei Penilaian Integritas KPK, skor integritas Pemerintah Kota Medan di bawah kepemimpinan Bobby hanya berada pada angka 61,69—terendah se-Indonesia. Ini bukan angka biasa, melainkan cerminan dari kekacauan sistem dan lemahnya pengawasan. Demokrasi yang seharusnya menjunjung keterbukaan, justru terjerat oleh patronase dan nepotisme.

Sejak pemilihan kepala daerah secara langsung diberlakukan pada 2005, setidaknya 49 persen kepala daerah terafiliasi dengan dinasti politik. Dari jumlah itu, sekitar 13 persen tersangkut kasus korupsi. Umumnya, daerah yang dipimpin oleh politikus dinasti juga mencatat angka kemiskinan tinggi serta indeks pembangunan manusia yang rendah. Artinya, dinasti tidak hanya melahirkan inkompetensi, tetapi juga memiskinkan rakyat secara struktural.

Politikus dinasti juga cenderung menutupi penyimpangan keluarga mereka yang lebih dulu berkuasa. Dalam kasus Bobby, misalnya, KPK baru mulai berani mengusut orang-orang di sekitarnya setelah Presiden Jokowi tak lagi menjabat. Ini membuktikan satu hal: kekuasaan masih menjadi tameng paling ampuh untuk melindungi praktik-praktik koruptif.

Kita juga belum melupakan kesaksian mantan Gubernur Maluku Utara, Abdul Ghani Kasuba, yang sebelum meninggal dunia sempat menyebut nama Bobby dalam kasus konsesi pertambangan Blok Medan di wilayahnya. Namun hingga kini, kasus itu tak kunjung menyentuh pihak-pihak yang disebutkan. KPK tampaknya berhenti pada lingkaran luar kekuasaan, belum menyentuh pusatnya.

Celakanya, alih-alih mengerem laju politik dinasti yang telah nyata merusak demokrasi, Presiden Joko Widodo justru ikut melanggengkannya. Ia mendorong anak sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi wakil presiden dalam pemilu 2024. Maka lengkaplah skenario pewarisan kekuasaan ala monarki dalam tubuh republik.

Peringatan Muhammad Yamin pada 1945 dalam sidang BPUPK kini terasa relevan kembali. Yamin kala itu menolak sistem monarki karena khawatir akan munculnya politik dinasti yang melahirkan oligarki. Sayangnya, kekhawatiran itu justru menjadi kenyataan dalam era yang mengklaim diri sebagai reformis.

Soekarno memang tidak membentuk dinasti politik, namun ia merusak sistem demokrasi melalui Demokrasi Terpimpin. Soeharto lebih jauh lagi: merusak semangat republikanisme dengan kekuasaan represif selama 32 tahun dan bahkan mulai membangun dinasti di ujung kekuasaannya dengan menunjuk anaknya, Siti Hardianti Rukmana, sebagai menteri. Kini, pascareformasi, dinasti justru berkembang lebih ganas karena pemilu yang mahal, kelembagaan partai yang lemah, serta masyarakat pemilih yang permisif.

Bobby Nasution hanya satu dari sekian contoh bagaimana republikanisme di Indonesia makin runtuh. Yang kita saksikan bukan lagi demokrasi yang sehat, tapi demokralisasi kekuasaan oleh keluarga dan kroni. Jika ini dibiarkan, republik ini bukan hanya kehilangan maknanya, tapi juga masa depannya.

Akhir kata, saatnya publik menolak politik dinasti. Bukan karena ia tidak sah secara hukum, tetapi karena ia merusak moralitas republik. Kita butuh pemimpin, bukan pewaris tahta. (XRQ)

Penulis: Akil

TRK Undang Menteri UMKM Buka Expo Nagan Raya, Tawarkan Giok sebagai Produk Unggulan

0
TRK dalam pertemuan hangat dengan Menteri Maman di Jakarta, Rabu (16/7/2025). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan (TRK), mengundang Menteri UMKM RI, Maman Abdurrahman, untuk membuka Expo UMKM Nagan Raya yang dijadwalkan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Nagan Raya.

Undangan itu disampaikan langsung oleh TRK dalam pertemuan hangat dengan Menteri Maman di Jakarta, Rabu (16/7/2025). Agenda ini merupakan bagian dari upaya Pemkab Nagan Raya untuk mengangkat potensi pelaku UMKM lokal ke panggung nasional.

“Expo UMKM ini menjadi momentum penting bagi daerah kami untuk memamerkan potensi dan karya masyarakat, khususnya dalam pengembangan kerajinan tangan, produk pertanian olahan, serta inovasi anak-anak muda Nagan Raya. Kami sangat berharap kehadiran Pak Menteri bisa memberikan semangat dan dukungan langsung bagi pelaku UMKM di daerah kami,” ujar TRK usai pertemuan.

Dalam kesempatan itu, Bupati TRK juga menyerahkan cenderamata berupa giok khas Nagan Raya kepada Staf Khusus Menteri UMKM, Syahmud Basri Ngabalin. Giok tersebut menjadi simbol persahabatan sekaligus bagian dari strategi promosi produk kerajinan lokal yang bernilai seni dan ekonomi tinggi.

Syahmud menyambut pemberian itu dengan penuh antusias dan mengapresiasi perhatian pemerintah daerah dalam mendorong tumbuhnya UMKM. Ia menegaskan komitmennya untuk membantu membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM Nagan Raya, baik di tingkat nasional maupun global.

Bahas Kepemimpinan Golkar di Aceh

Selain membahas soal pengembangan UMKM, pertemuan tersebut juga diwarnai diskusi ringan terkait dinamika internal Partai Golkar di Aceh. Menteri Maman, yang juga kader senior Golkar, menyoroti pentingnya kaderisasi internal partai.

“Golkar Aceh punya banyak kader hebat. Tidak ada alasan untuk memaksakan orang luar memimpin. Kita butuh regenerasi yang sehat, berbasis pengalaman dan loyalitas,” ujar Maman di hadapan TRK dan Syahmud.

Pernyataan ini dinilai sebagai bentuk dukungan moral kepada TRK yang saat ini disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat dalam bursa kepemimpinan Partai Golkar Aceh menjelang Musda mendatang.

Sinergi Pusat dan Daerah

Pertemuan antara TRK dan Menteri Maman menjadi gambaran sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam penguatan ekonomi kerakyatan melalui sektor UMKM. TRK sendiri dikenal sebagai sosok muda dan progresif yang aktif mengembangkan sektor pertanian, infrastruktur, hingga pemberdayaan pelaku usaha kecil.

Di sisi lain, Menteri Maman juga dikenal memiliki komitmen kuat dalam memperkuat koperasi dan UMKM sebagai pilar utama ekonomi nasional.

“Ini bagian dari komitmen kita mendorong ekonomi kerakyatan yang merata. Saya sangat apresiasi inisiatif Pak Bupati. Kita akan pastikan program ini terhubung dengan ekosistem pembinaan UMKM nasional,” pungkas Maman.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: AKil

Mualem Minta PT MSB II di Subulussalam Ditutup Sementara

0
Surat Gubernur Aceh untuk Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). (Foto: tangkapan layar)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, secara resmi meminta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk menutup sementara aktivitas operasional PT Mandiri Sawit Bersama (MSB) II yang beroperasi di Kota Subulussalam. Permintaan tersebut disampaikan melalui surat bernomor 500.10/7816 yang bersifat segera pada Selasa (24/6/2025).

Dikutip Nukilan dari surat tersebut, permintaan ini didasarkan pada sejumlah temuan lapangan dan dokumen pendukung yang belum dipenuhi oleh pihak perusahaan. Salah satu dasar utama permohonan ini adalah surat Wali Kota Subulussalam Nomor 500.4.4.24/445/2025 tertanggal 23 Mei 2025, yang menginformasikan bahwa PT MSB II belum memenuhi sejumlah dokumen perizinan yang dipersyaratkan.

Hasil verifikasi Tim Pemerintah Aceh juga menemukan bahwa PT MSB II merupakan perusahaan dengan status Penanaman Modal Asing (PMA), sehingga pengawasannya menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui BKPM. Selain persoalan administrasi, tim juga menemukan dugaan pelanggaran lain yang dinilai perlu ditelusuri lebih lanjut. Notulensi hasil verifikasi tim lapangan turut dilampirkan dalam surat yang dikirimkan ke Kementerian.

“Berkenaan dengan hal tersebut, dan mengingat kewenangan PMA berada di bawah Kementerian Investasi/BKPM, kami mengharapkan pertimbangan Bapak Menteri untuk melakukan penutupan sementara sambil proses pembinaan dilakukan terhadap perusahaan tersebut,” demikian tertulis dalam surat yang dikirimkan oleh Mualem.

Menindaklanjuti hal ini, Pemerintah Aceh juga berencana menurunkan Tim Terpadu ke lapangan untuk melakukan verifikasi lebih lanjut terhadap operasional perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit itu. Langkah ini sekaligus sebagai bentuk respons atas pengaduan masyarakat dan laporan resmi dari Pemerintah Kota Subulussalam. Pemerintah Aceh menegaskan komitmennya dalam memastikan bahwa seluruh kegiatan investasi di wilayah Aceh berjalan sesuai dengan ketentuan hukum, serta menghormati hak-hak masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.

PT MSB II diketahui telah beroperasi di wilayah Subulussalam selama beberapa tahun terakhir. Namun, aktivitasnya sempat menuai sorotan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat sipil dan LSM lingkungan, terkait dugaan ketidaksesuaian izin dan praktik operasional perusahaan di lapangan. []

Reporter: Sammy