Beranda blog Halaman 335

Pakar: Pengaruh Besar Aceh Bentuk Sejarah Islam di Pahang

0
Para pembicara dalam webinar bertajuk Kajian Islam: Tamadun di Pahang dan Hubungannya dengan Aceh” (Foto: Humas UIN Ar Raniry)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Sejarah perkembangan Islam di Pahang disebut tidak bisa dilepaskan dari peran penting Aceh, khususnya dalam pembentukan sistem hukum Islam dan pengaruh keulamaan di wilayah tersebut.

Hal itu disampaikan oleh pakar sejarah dari Pusat Kajian Bahasa Arab dan Tamadun Islam Fakultas Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Dr Farid Mat Zain, dalam webinar internasional bertajuk “Kajian Islam: Tamadun di Pahang dan Hubungannya dengan Aceh”, Jumat (18/7/2025).

“Sejarah perkembangan Islam di Pahang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar Aceh, khususnya dalam pembentukan ulama lokal dan sistem hukum Islam seperti qanun Pahang,” kata Dr Farid Mat Zain.

Webinar yang digelar Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu bertujuan membahas hubungan strategis antara Aceh dan Pahang, terutama sejak abad ke-16.

Dalam pemaparannya, Dr Farid menjelaskan bahwa Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Pahang memiliki ikatan erat yang tercermin dari aspek sejarah, budaya, pendidikan, hingga keagamaan.

Salah satu bukti historis hubungan keduanya, lanjutnya, terlihat dari pernikahan politik antara Sultan Aceh Iskandar Muda dengan Puteri Kamaliah dari Pahang.

Ia juga menyoroti banyaknya peninggalan peradaban seperti manuskrip fikih, tasawuf, hingga arsitektur masjid dan adat istiadat yang menunjukkan kemiripan signifikan antara kedua kawasan. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti kuat adanya jaringan tamadun Islam Melayu yang saling memengaruhi.

Lebih jauh, Dr Farid turut menyinggung pentingnya Selat Malaka sebagai jalur strategis penyebaran peradaban Islam.

“Jalur tersebut tidak hanya menjadi lalu lintas perdagangan, tetapi juga pertukaran naskah keagamaan, gagasan, serta jaringan ulama,” kata Farid.

Sementara itu, Ketua Program Studi Doktor Studi Islam UIN Ar-Raniry, Prof Dr Syamsul Rijal, mengatakan webinar ini merupakan upaya membangun diskursus ilmiah yang komprehensif.

“Ini merupakan bagian dari upaya kami membangun diskursus ilmiah yang tidak hanya membahas aspek keislaman secara tekstual, tetapi juga secara kontekstual, terutama dalam lanskap sejarah dunia Melayu,” ujar Syamsul.

Editor: AKil

Pemerintah Aceh Tegaskan Dukungan bagi Penguatan PKK sebagai Mitra Strategis Pembangunan Daerah

0
Pemerintah Aceh Tegaskan Dukungan bagi Penguatan PKK sebagai Mitra Strategis Pembangunan Daerah. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh menegaskan komitmennya dalam memperkuat kemitraan dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) sebagai mitra strategis pembangunan yang berfokus pada pemberdayaan keluarga.

Penegasan itu disampaikan Asisten Sekda Aceh, Muhammad Diwarsyah, saat mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf dalam pembukaan Rapat Konsultasi TP PKK se-Aceh sekaligus Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-53 di Anjong Mon Mata, Meuligoe Gubernur Aceh, Jumat (18/7/2025).

Dalam sambutan Gubernur yang dibacakan Diwarsyah, disebutkan bahwa PKK memiliki peran penting dalam pembangunan daerah karena menyentuh langsung fondasi masyarakat, yaitu keluarga.

“Pemerintah Aceh menyadari bahwa keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada kerja birokrasi. Perlu ada sinergi dan kemitraan erat dengan organisasi kemasyarakatan seperti PKK, yang memiliki struktur kuat hingga ke tingkat desa,” ujar Diwarsyah.

Ia juga menekankan pentingnya keselarasan program antara pemerintah daerah dan PKK agar pembangunan berjalan tepat sasaran dan memberikan dampak luas kepada masyarakat.

Rapat Konsultasi TP PKK se-Aceh tahun ini dinilai penting sebagai forum konsolidasi dan perencanaan bersama untuk menjawab beragam tantangan sosial yang berasal dari ranah keluarga. Beberapa persoalan yang disoroti antara lain tingginya angka stunting, penyalahgunaan narkoba, dan permasalahan ekonomi rumah tangga.

“PKK memiliki peran penting dalam menjawab tantangan tersebut, terutama melalui peningkatan kapasitas kader, pemanfaatan teknologi informasi, serta pelatihan dan regenerasi kader yang berkelanjutan,” lanjut Diwarsyah.

Kegiatan ini juga menjadi momen refleksi bagi seluruh elemen gerakan PKK di Aceh untuk memperkuat jejaring kerja, menyatukan langkah, serta merancang program-program yang kontekstual dan inovatif sesuai tantangan zaman.

Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir, dalam arahannya meminta seluruh struktur PKK dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota untuk menjaga kekompakan dalam menjalankan tugas organisasi.

“Semoga ke depan semuanya bisa semakin kompak dan menjaga semangat kebersamaan dalam mewujudkan tanggung jawab,” kata Marlina.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Staf Ahli PKK Aceh, Mukarramah, yang juga istri Wakil Gubernur Aceh, turut membacakan sambutan Ketua Umum TP PKK Pusat, Tri Suswati Tito Karnavian. Dalam sambutannya, Tri Suswati menekankan pentingnya komitmen dalam menjalankan 10 program pokok PKK. Sambutan itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan HKG PKK ke-53 yang sebelumnya dipusatkan secara nasional di Kalimantan Timur.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan pengumuman pemenang lomba Gampong Mawaddah Warahmah tingkat Provinsi Aceh Tahun 2024, yang menilai pelaksanaan 10 program pokok PKK di seluruh kabupaten/kota.

Daftar Pemenang Gampong Mawaddah Warahmah Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2024:

  1. Peringkat I – Gampong Alur Mentawak, Kejuruan Muda, Aceh Tamiang (Nilai: 891)

  2. Peringkat II – Gampong Kajhu, Baitussalam, Aceh Besar (Nilai: 803)

  3. Peringkat III – Gampong Paya Seunara, Suka Karya, Kota Sabang (Nilai: 802)

  4. Harapan I – Gampong Ujong Kalak, Johan Pahlawan, Aceh Barat (Nilai: 759)

  5. Harapan II – Gampong Mane, Mane, Pidie (Nilai: 751)

  6. Harapan III – Gampong Lauke, Simeulue Tengah, Simeulue (Nilai: 725)

  7. Kategori Hiburan:
     • Gampong Bukit Gadeng, Kota Bahagia, Aceh Selatan (717)
     • Gampong Samuti Aman, Gandapura, Bireuen (698)
     • Gampong Naleung, Julok, Aceh Timur (685)
     • Gampong Blang Rongka, Timang Gajah, Bener Meriah (653)

Penghargaan ini diharapkan menjadi penyemangat bagi gampong-gampong lain di Aceh untuk terus mengoptimalkan peran PKK dalam memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Editor: AKil

Aceh Selatan Dapat Bantuan Alsintan dari Kementan, Dukung Program Bajak Sawah Gratis

0
Bupati Aceh Selatan H Mirwan MS dijamu langsung di kediaman Menteri Pertanian RI, Dr Ir H Andi Amran Sulaiman, MP. (Foto: Humas Aceh Selatan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Di tengah tekanan fiskal yang masih membayangi, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan terus bergerak mencari dukungan pusat demi menjaga kesinambungan program daerah. Bupati Aceh Selatan H Mirwan MS kembali menjalin komunikasi strategis dengan kementerian, kali ini bersama Menteri Pertanian RI, Dr Ir H Andi Amran Sulaiman, MP.

Pada Selasa, 16 Juli 2025, Bupati Mirwan dijamu langsung di kediaman Menteri Pertanian. Dalam pertemuan tersebut, ia memaparkan sejumlah agenda penting terkait pengembangan sektor pertanian di wilayahnya.

“Alhamdulillah, sembari ngopi Banda shubuh tadi di kediaman Menteri Pertanian Bapak Amran Sulaiman, kita telah memaparkan berbagai agenda untuk memajukan sektor pertanian Aceh Selatan salah satunya adalah program unggulan Pemkab Aceh Selatan yakni Bajak Sawah Gratis,” kata Mirwan, Kamis (17/7/2025).

Sebagai tindak lanjut, Bupati Mirwan mengajukan permohonan dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta bantuan bibit padi dan jagung, sejalan dengan program nasional Ketahanan Pangan yang diamanatkan Presiden RI Prabowo Subianto dan program daerah Bajak Sawah Gratis.

Usulan tersebut disambut positif oleh Menteri Pertanian. Menurut Mirwan, Kementerian Pertanian akan mengalokasikan bantuan berupa 10 unit traktor 4WD, satu unit combine padi, bibit padi untuk luasan 1.000 hingga 2.000 hektare, serta bibit jagung untuk luasan serupa. Seluruh bantuan ini akan masuk dalam skema anggaran Kementerian Pertanian tahun 2025.

Tak hanya itu, Bupati Mirwan juga mengusulkan bantuan bibit kopi dan jenis pangan lainnya, guna mendorong diversifikasi hasil pertanian di Aceh Selatan. Ia turut menyampaikan aspirasi terkait kelangkaan dan distribusi pupuk bersubsidi yang masih menjadi keluhan petani.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Pertanian memberikan respons yang membesarkan hati.

“Salam hangat dari Pak Menteri kepada seluruh masyarakat dan petani di Aceh Selatan. Alhamdulillah, Bapak Menteri akan memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa traktor dan combine dalam rangka mendukung program Bajak Sawah Gratis serta bantuan bibit padi juga bibit jagung,” jelas Mirwan.

Bupati Mirwan mengungkapkan bahwa ia akan terus memperkuat komunikasi dan melakukan lobi ke berbagai kementerian untuk memastikan program-program strategis Aceh Selatan mendapat dukungan dari pemerintah pusat.

“Insya Allah dengan berkat do’a dan dukungan masyarakat Aceh Selatan kita sangat yakin berbagai program dan kegiatan yang bermanfaat untuk pembangunan dan kemajuan daerah akan dapat diwujudkan, serta mendapat dukungan dari pemerintah pusat,” pungkasnya.

Editor: Akil

Petugas Gabungan Temukan Ribuan Batang Rokok Ilegal di Aceh Besar

0
Petugas menyita rokok ilegal di di Kecamatan Kuta Baro dan Kecamatan Blang Bintang, Jumat (18/7/2025). (Foto: Dok Satpol PP & WH Aceh Besar)

Nukilan | Aceh Besar – Tim gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Kabupaten Aceh Besar bersama Bea Cukai Banda Aceh menemukan ribuan batang rokok ilegal dalam operasi penertiban pasar di Kecamatan Kuta Baro dan Kecamatan Blang Bintang, Jumat (18/7/2025).

Operasi ini merupakan bagian dari kegiatan pemberantasan peredaran rokok tanpa izin cukai yang dibiayai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Penertiban juga merujuk pada sejumlah peraturan, di antaranya Permendagri No. 26 Tahun 2020, Qanun Aceh Besar No. 5 Tahun 2019, serta Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang Cukai.

Kepala Satpol PP dan WH Aceh Besar, Muhajir, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menertibkan peredaran rokok ilegal yang dapat merugikan negara dari sisi penerimaan pajak, sekaligus memberikan pemahaman kepada para pedagang mengenai pentingnya kepatuhan terhadap peraturan cukai.

“Kegiatan ini adalah upaya nyata kami untuk menekan peredaran rokok ilegal di wilayah Aceh Besar, sekaligus memberi edukasi kepada para pedagang agar tidak menjual rokok yang tidak sesuai ketentuan cukai,” ujar Muhajir dalam keterangannya kepada Nukilan, Jumat (18/7/2025).

Dalam operasi di dua kecamatan tersebut, petugas menyita 140 batang rokok tanpa pita cukai dan berpita cukai palsu. Barang bukti ditemukan saat pemeriksaan di sejumlah toko retail dan kios-kios kelontong. Para pelaku usaha juga diberikan surat peringatan serta stiker peringatan hukum yang mencantumkan ancaman pidana sebagaimana tercantum dalam Pasal 54 Undang-Undang Cukai.

Sementara itu, Pemeriksa Bea Cukai dari KPPBC Tipe Madya Pabean C Banda Aceh, Jefri Adriansyah SE, menambahkan bahwa sehari sebelumnya, operasi serupa juga dilakukan di Kecamatan Darul Imarah. Dari lokasi itu, petugas menyita 4.360 batang rokok ilegal, menjadikan total rokok tanpa cukai yang ditemukan selama dua hari mencapai 4.500 batang.

“Total kerugian negara akibat temuan di tiga kecamatan ini diperkirakan mencapai Rp7.726.000,” sebut Jefri.

Rokok yang diamankan diduga merupakan produk dari luar daerah yang masuk ke Aceh tanpa melalui prosedur resmi dan tidak dilengkapi pita cukai asli. Pemerintah menyatakan akan terus melanjutkan operasi serupa di wilayah lain untuk menekan peredaran produk ilegal yang merugikan negara dan berpotensi membahayakan konsumen. []

Reporter: Sammy

Mualem Surati Gubernur Massachusetts Perihal Lambang Orang di Logo Kota Salem

0
Surat Mualem untuk Gubernur Massachusetts, Maura Healey. (Foto: tangkapan layar)

Nukilan | Banda Aceh – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, menyurati Gubernur Massachusetts, Maura Healey, dan Pemerintah Kota Salem, Amerika Serikat, guna meminta agar lambang resmi kota tersebut tetap dipertahankan.

Surat tersebut dikirim sebagai tanggapan atas adanya wacana penggantian lambang Kota Salem, yang di dalamnya terdapat ilustrasi seorang laki-laki yang diyakini menggambarkan sosok masyarakat Aceh pada abad ke-18. Gambar ini merujuk pada sejarah perdagangan antara Aceh dan Salem yang berlangsung sejak akhir 1700-an, terutama dalam komoditas lada.

“Daripada menghapus lambang itu, mari kita perkuat maknanya melalui kerja sama yang lebih luas, seperti program pendidikan, pertukaran budaya, hingga kemungkinan menjalin hubungan kota kembar antara Banda Aceh dan Salem,” tulis Mualem dalam surat bernomor 400.6.4./9190 tertanggal 18 Juli 2025 yang dikutip Nukilan, Jumat (18/7/2025).

Dalam surat tersebut, Mualem menyebut lambang Salem sebagai simbol sejarah langka yang merekam hubungan awal antara Aceh dan Amerika Serikat, sebelum terjalinnya kerja sama diplomatik formal. Muzakir juga menilai bahwa ikon tersebut merupakan representasi penting dari peran Aceh dalam jalur perdagangan internasional masa lalu.

Pada masa itu, Kota Salem dikenal sebagai pelabuhan penting di Pantai Timur Amerika Serikat dan aktif menjalin hubungan dagang dengan berbagai wilayah di Asia, termasuk Kesultanan Aceh. Lada menjadi salah satu komoditas utama yang dibeli pedagang Salem dari Aceh, yang pada waktu itu merupakan salah satu produsen lada terbesar di dunia.

Rencana penggantian lambang tersebut muncul setelah sebagian warga Salem mempertanyakan relevansi gambar dalam logo kota itu. Perdebatan mengenai citra visual dalam lambang mulai mencuat dalam beberapa bulan terakhir di kalangan masyarakat dan dewan kota setempat yang menganggap representasi dalam logo tersebut bersifat rasis.

Sebagai bagian dari diplomasi budaya, surat dari Pemerintah Aceh juga ditembuskan kepada anggota Kongres Amerika Serikat dan Duta Besar AS untuk Indonesia. Langkah ini dimaksudkan untuk memperkuat komunikasi antar pemerintah serta menjaga warisan sejarah bersama yang telah berlangsung lebih dari dua abad.

Hubungan dagang antara Aceh dan Salem telah tercatat dalam berbagai arsip sejarah Amerika. Salah satu dokumen mencatat bahwa pada tahun 1795, kapal dagang dari Salem pertama kali berlabuh di Aceh untuk membeli lada dan rempah lainnya. Hubungan ini berlangsung secara intens selama beberapa dekade sebelum tergeser oleh perubahan jalur perdagangan dan geopolitik dunia.

Usulan kerja sama kota kembar antara Banda Aceh dan Salem juga disampaikan sebagai bagian dari inisiatif untuk memperkuat hubungan masyarakat (people-to-people diplomacy) serta memperluas cakupan kerja sama di bidang pendidikan, budaya, dan sejarah. Langkah ini menandai keterlibatan aktif Pemerintah Aceh dalam pelestarian warisan sejarah dan peningkatan hubungan luar negeri berbasis nilai-nilai budaya. []

Reporter: Sammy

Kadishub Aceh Temui Kemenhub, Usulkan Pembangunan Rambu Suar dan Pelayaran ke Penang

0
Kadishub Aceh Temui Kemenhub, Usulkan Pembangunan Rambu Suar dan Pelayaran ke Penang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh Teuku Faisal melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI di Jakarta pada Kamis (17/7/2025). Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Aceh melalui Kadishub menyampaikan sejumlah usulan strategis untuk pengembangan sektor perhubungan laut di Aceh.

Salah satu poin utama yang disampaikan adalah permintaan dukungan pembangunan menara atau rambu suar di empat pulau, yakni Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek di Kabupaten Aceh Singkil.

“Maksud kehadiran kami guna menyampaikan surat Gubernur Aceh terkait permohonan pembangunan rambu suar di 4 pulau di Kabupaten Aceh Singkil. Pembangunan rambu suar ini kami rasa penting dalam upaya membangun konektivitas laut menuju ke empat pulau yang akan dikembangkan oleh Pemerintah Aceh tersebut,” ujar Teuku Faisal dalam pertemuan tersebut.

Kedatangan Teuku Faisal diterima langsung oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, mewakili Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Direktur Kepelabuhanan, dan Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Perhubungan Laut, bersama sejumlah jajaran lainnya.

Selain pembangunan rambu suar, Kadishub juga meminta dukungan Kemenhub dalam upaya percepatan pembukaan pelayaran lintas internasional rute Krueng Geukuh, Aceh – Penang, Malaysia.

“Kita berharap Kemenhub membantu program Pemerintah Aceh untuk merealisasikan konektivitas laut Aceh – Penang khususnya terkait dengan regulasi dan perizinan pelayaran antar negara. Tentu pendampingan dari Kemenhub sangat kita butuhkan,” kata Teuku Faisal.

Dalam agenda yang sama, Pemerintah Aceh turut mengusulkan peningkatan kapasitas Pelabuhan Calang di Kabupaten Aceh Jaya dari 5.000 DWT menjadi 15.000 DWT. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung kelancaran kegiatan ekspor-impor, terutama produk Crude Palm Oil (CPO) yang dihasilkan dari wilayah pesisir barat dan selatan Aceh.

“Pelabuhan Calang sangat berpotensi untuk dikembangkan kedepannya dikarenakan kolam pelabuhan yang terlindungi dan kedalamannya cukup baik. Harapan kita, CPO yg diproduksi dari pabrik di wilayah pantai barat – selatan Aceh bisa langsung diekspor melalui pelabuhan Calang. Tidak perlu lagi dibawa keluar Aceh, sehingga lebih efisien,” sebutnya.

Tak hanya itu, Teuku Faisal juga mengusulkan agar dilakukan pengerukan alur di Pelabuhan Kuala Langsa dan Pelabuhan Singkil agar pelayanan kapal di kedua pelabuhan tersebut dapat kembali berjalan lancar dan menopang perekonomian lokal.

Menanggapi hal tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut yang diwakili oleh Sesditjen menyambut baik usulan Pemerintah Aceh. Pihaknya menyatakan akan segera mempelajari dan menindaklanjuti berbagai persoalan di sektor perhubungan laut di Aceh.

Editor: Akil

Nasir Djamil Desak Pemerintah Aceh Akhiri Diskriminasi TPP ASN PPPK

0
Nasir Djamil Desak Pemerintah Aceh Akhiri Diskriminasi TPP ASN PPPK. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS, Nasir Djamil, meminta Pemerintah Aceh segera mengakhiri diskriminasi terhadap Aparatur Sipil Negara Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (ASN PPPK) terkait pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).

Hal ini disampaikan Nasir usai menerima audiensi Forum Komunikasi ASN PPPK Pemerintah Aceh di sebuah kafe di Banda Aceh, Jumat (18/7/2025).

Menurut Nasir, kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Aceh Nomor 15 Tahun 2024 tidak boleh bertentangan dengan regulasi yang lebih tinggi. Ia menyoroti ketentuan Pasal 9 ayat (4) dalam Pergub tersebut yang menyebutkan bahwa pengaturan lebih lanjut mengenai TPP bagi PPPK akan diatur melalui Keputusan Gubernur.

“Ini mengangkangi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara yang dengan jelas menyebutkan ASN terdiri dari PNS dan PPPK,” tegas Nasir.

Ia juga menyinggung ketentuan dalam Permendagri Nomor 15 Tahun 2024 tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2025. Dalam aturan tersebut, pada kode 3.4.1.1.2 tentang TPP ASN, disebutkan bahwa besaran TPP atau tunjangan kinerja tidak boleh dibedakan antara PNS dan PPPK yang memiliki kelas jabatan yang sama.

“Menurut hierarki perundang-undangan, aturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan aturan di atasnya. Karena itu, saya mendesak Pemerintah Aceh segera merevisi Pergub tersebut,” ujar Nasir lagi.

Ia menekankan, ASN PPPK yang berasal dari kalangan tenaga guru, kesehatan, hingga teknis lainnya, memiliki kontribusi nyata dalam pelayanan publik. Oleh karena itu, mereka juga berhak atas kesejahteraan yang setara, termasuk dalam hal TPP yang bersumber dari Pendapatan Asli Aceh (PAA).

“Diskriminasi dan dikotomi antara PNS dan PPPK harus diakhiri. Ketimpangan ini tidak boleh dibiarkan terjadi di depan mata Pemerintah Aceh sendiri,” pungkas Nasir.

Editor: Akil

Warga Binaan Rutan Jantho Panen Raya, Dukung Ketahanan Pangan Aceh Besar

0

NUKILAN.ID | Jantho – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Jantho menggelar panen raya hasil pertanian warga binaan, Kamis (17/7/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Aceh Besar.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Aceh Besar, Bahrul Jamil, hadir langsung dalam panen raya tersebut dan menyampaikan apresiasi atas inisiatif Rutan Jantho yang dinilai selaras dengan agenda kemandirian pangan daerah.

“Pemerintah Aceh Besar memberikan apresiasi program yang bertujuan untuk mencapai kemandirian pangan dan mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan pangan,” kata Bahrul Jamil.

Menurut Bahrul, panen hasil pertanian warga binaan ini bukan hanya simbol kerja keras, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang dalam menjamin ketersediaan dan stabilitas pangan masyarakat.

“Program ketahanan pangan ini juga bertujuan menjaga ketersediaan pangan yang stabil dari waktu ke waktu, tanpa fluktuasi harga yang signifikan,” katanya lagi.

Panen raya ini meliputi hasil pertanian dari area seluas hampir satu hektar yang ditanami cabai, 1.300 batang semangka, serta pembesaran seribu bibit ikan nila. Hasil panen tersebut dibagikan kepada masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Kepala Rutan Kelas IIB Jantho, Muhammad Nasir, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

“Program ketahanan pangan tahun 2025 ini, kita laksanakan di antaranya penanaman cabe dengan luas area hampir satu hektar, 1.300 batang semangka dan seribu bibit ikan nila,” ujar Nasir.

Program ini, kata dia, juga menjadi bentuk pembinaan positif bagi para warga binaan agar tetap produktif meskipun sedang menjalani masa pidana.

Kegiatan panen raya ini turut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Aceh, Yan Rusmanto, serta jajaran instansi terkait.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus mendorong penguatan ketahanan pangan daerah dengan menggencarkan berbagai program, mulai dari peningkatan produktivitas pertanian, perbaikan infrastruktur seperti irigasi dan jalan tani, hingga modernisasi alat pertanian.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: Akil

Marlina Kukuhkan Ratna Sari Dewi sebagai Bunda PAUD dan Ketua Forikan Abdya

0
Marlina Kukuhkan Ratna Sari Dewi sebagai Bunda PAUD dan Ketua Forikan Abdya. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Bunda PAUD Aceh, Marlina Muzakir, secara resmi mengukuhkan Ratna Sari Dewi sebagai Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) untuk periode 2025–2030.

Prosesi pengukuhan berlangsung di Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Kamis (17/7/2025), dan turut disaksikan oleh Ketua Pokja Bunda PAUD Aceh, Mukarramah, serta sejumlah pengurus dari kedua organisasi.

Dalam sambutannya, Marlina menyampaikan keyakinannya terhadap komitmen Ratna Sari Dewi dalam mengemban dua peran strategis tersebut.

“Saya percaya saudari (Ratna Sari Dewi) akan bekerja dengan maksimal untuk membawa kemajuan bagi Aceh Barat Daya,” ujar Marlina.

Lebih lanjut, Marlina mendorong agar Ratna Sari terus memperkuat kolaborasi dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan dalam upaya menghadirkan layanan PAUD yang berkualitas. Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif terhadap nilai pendidikan anak usia dini di tengah masyarakat.

Tak hanya itu, Marlina menaruh perhatian khusus pada peran Ketua Forikan dalam mempromosikan pola makan sehat dengan meningkatkan konsumsi ikan, terutama bagi anak-anak.

“Ini bertujuan untuk mendorong masyarakat, terutama anak-anak, untuk lebih gemar makan ikan melalui berbagai kegiatan dan kampanye,” lanjut Marlina.

Ia juga berpesan agar Ratna Sari menjadi teladan dalam menyebarkan semangat makan ikan serta memberikan contoh positif di tengah masyarakat.

Pengukuhan ini menandai penutup dari rangkaian pelantikan Bunda PAUD dan Ketua Forikan di seluruh kabupaten dan kota se-Aceh untuk periode 2025–2030.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: AKil

Gubernur Aceh Terima Kunjungan SKK Migas dan Mubadala, Bahas Proyek Strategis Gas Andaman

0
Gubernur Aceh Muzakir Manaf menerima kunjungan penting dari jajaran manajemen Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) dan Presiden Direktur Mubadala Energy. (Foto: HarianRakyatAceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh Muzakir Manaf menerima kunjungan penting dari jajaran manajemen Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) dan Presiden Direktur Mubadala Energy, dalam rangka persiapan pelaksanaan proyek pengembangan lapangan gas di Wilayah Kerja (WK) Andaman.

Pertemuan strategis yang turut dihadiri oleh Plt Sekda Aceh dan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh ini menjadi langkah awal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Tanah Rencong, khususnya melalui penguatan sektor energi.

“Kami sangat mendukung penuh proyek strategis ini karena akan membawa dampak besar bagi kemajuan Aceh, terutama dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan penguatan sektor energi,” tegas Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Ia menambahkan bahwa Pemerintah Aceh berkomitmen menjaga iklim investasi yang kondusif, dengan tetap mengutamakan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama warga Lhokseumawe dan sekitarnya.

Proyek pengembangan gas laut dalam di WK Andaman dirancang untuk menjadi motor penggerak ekonomi, khususnya di kawasan KEK Lhokseumawe. Mubadala Energy, perusahaan migas asal Uni Emirat Arab, berencana membangun fasilitas pengaliran gas di daratan Aceh, yang diharapkan mampu menciptakan banyak lapangan kerja baru dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.

Azhari Idris, salah satu tokoh penting dalam pertemuan tersebut, menyambut baik dukungan Gubernur terhadap proyek tersebut.

“Dukungan Gubernur Aceh terhadap pelaksanaan kegiatan Mubadala sangat bagus dan disambut sangat positif oleh pimpinan Mubadala. Keinginan Gubernur Aceh sudah sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh manajemen Mubadala,” ujarnya.

Pertemuan yang dipimpin oleh Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas, Eka Bhayu Setta, juga dihadiri oleh perwakilan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), PT PEMA, dinas terkait Pemerintah Aceh, staf khusus Gubernur, hingga Wali Kota Lhokseumawe.

Dalam diskusi tersebut, berbagai isu strategis turut dibahas, termasuk komitmen terhadap penyerapan tenaga kerja lokal dan peningkatan peluang ekonomi di sekitar wilayah proyek.

“Pertemuan ini membahas banyak hal, termasuk prioritas tenaga kerja dan kesempatan ekonomi lainnya bagi warga Kota Lhokseumawe khususnya dan Aceh pada umumnya. Nantinya, Mubadala akan membangun fasilitas-fasilitas pengaliran gas di daratan dalam wilayah KEK Lhokseumawe,” tambah Azhari.

Sementara itu, Presiden Direktur Mubadala Energy, Abdullah, menegaskan bahwa pihaknya hadir dengan tekad untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat Aceh. “Kami hadir di Aceh untuk memberi sesuatu yang terbaik bagi masyarakat Aceh, insya Allah,” ucapnya.

Kolaborasi ini juga mencerminkan eratnya hubungan antara Aceh dan Uni Emirat Arab yang telah terjalin selama ini. Selain mendorong sektor migas, proyek strategis ini diharapkan mampu memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi sektor ekonomi lainnya di Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: Akil