Beranda blog Halaman 334

Pohon Tumbang Timpa Kabel Listrik di Aceh Besar, Lalu Lintas Sempat Terganggu

0
Pohon tumbang akibat angin kencang di Jalan Laksamana Malahayati, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu pagi (19/7/2025). (Foto: Dok BPBD Aceh Besar)

NUKILAN.ID | JANTHO – Sebuah pohon tumbang akibat angin kencang di Jalan Laksamana Malahayati, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu pagi (19/7/2025), sekitar pukul 10.10 WIB. Pohon tersebut menimpa kabel listrik dan sempat mengganggu arus lalu lintas menuju Pelabuhan Krueng Raya.

Peristiwa terjadi saat kondisi lalu lintas sedang sepi, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Aceh Besar, Iqbal, menyampaikan bahwa pihaknya menerima laporan dari Camat setempat tidak lama setelah kejadian.

“Tim reaksi cepat BPBD bersama sejumlah unsur langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi,” ujar Iqbal dalam keterangannya kepada Nukilan, Sabtu (19/7/2025).

Dia menambahkan, petugas langsung melakukan penanganan di lokasi. Proses pembersihan juga dibantu oleh personel TNI, Polri, pihak PLN, dan masyarakat sekitar

Proses penanganan dan pembersihan selesai sekitar pukul 11.25 WIB. Setelah itu, arus lalu lintas kembali normal dan aliran listrik secara bertahap dipulihkan oleh petugas PLN.

BPBD Aceh Besar mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di sejumlah wilayah. []

Reporter: Sammy

Jauhari Ilyas: Media Sosial Harus Jadi Sarana Menebar Hal Positif

0
JAUHARI ILYAS
Wartawan senior Aceh, Jauhari Ilyas. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wartawan senior Aceh, Jauhari Ilyas, menyoroti peran media dalam konteks kenegaraan yang kian kompleks seiring perkembangan teknologi informasi. Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi bertajuk Ngopi Aceh Damai yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh pada Sabtu, 19 Juli 2025, di Moorden, Beurawe, Banda Aceh.

Amatan Nukilan.id dalam forum yang dihadiri sejumlah pegiat media, akademisi, serta tokoh masyarakat itu, Jauhari menjelaskan bahwa saat ini setidaknya ada dua jenis media yang mendominasi ruang publik.

“Saat ini ada dua jenis media yang sering kita kenal. Pertama, media konvensional, yang dilindungi oleh undang-undang. Kedua, media sosial, yang hingga kini saya belum menemukan payung hukum yang secara khusus mengaturnya,” katanya.

Ia menekankan bahwa keberadaan media sosial yang begitu terbuka dan mudah diakses telah mengubah lanskap komunikasi publik secara signifikan. Kini, siapa pun bisa menjadi ‘penyiar informasi’, namun tanpa regulasi yang ketat, hal ini dapat menjadi pedang bermata dua.

“Semua orang sekarang menjadi pengguna media sosial. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami mengapa dan bagaimana kita bermedia sosial,” lanjutnya.

Jauhari kemudian membandingkan situasi media masa kini dengan kondisi di masa Orde Baru. Menurutnya, pada era tersebut, pers sangat dibatasi oleh aturan negara. Untuk bisa menerbitkan media, dibutuhkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), yang pemberiannya dikendalikan oleh rezim saat itu.

“Kalau melihat ke belakang, di masa Orde Baru, media konvensional itu sangat diatur oleh undang-undang. Dulu, kalau mau menerbitkan media, harus punya Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), dan surat izin ini sangat terbatas,” kenang Jauhari.

Ia menjelaskan bahwa pada masa itu, hanya segelintir pihak yang bisa memperoleh SIUPP karena proses penerbitannya sangat dikendalikan oleh pemerintah. Ini membuat ruang kebebasan pers menjadi sempit dan cenderung bersifat satu arah.

“Hanya sedikit yang bisa mendapatkannya karena prosesnya dikendalikan oleh rezim saat itu. Beda dengan sekarang, jauh lebih mudah dan terbuka. Negara memberi kelonggaran yang cukup besar,” sambungnya.

Namun, kemudahan dan keterbukaan yang diberikan negara pada masa kini justru menghadirkan tantangan baru, terutama dalam ranah media sosial yang tidak lagi dikendalikan oleh regulasi seketat media konvensional.

Jauhari menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya kebebasan mengakses informasi, tetapi juga tanggung jawab dalam menggunakannya.

“Nah, dalam konteks media sosial saat ini, yang paling penting adalah bagaimana kita menggunakannya secara bijak,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa setiap individu harus menyadari bahwa konten yang dibagikan memiliki dampak, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat luas. Oleh sebab itu, kehati-hatian dalam menyebarkan informasi sangat diperlukan.

“Kita harus memahami betul konten yang kita tayangkan, jangan asal membagikan informasi tanpa tahu duduk persoalannya,” tegas Jauhari.

Lebih jauh, ia juga mengingatkan ancaman tersembunyi dalam penyalahgunaan media sosial, terutama yang berkaitan dengan isu SARA serta penyebaran hoaks yang bersumber dari informasi yang tidak terverifikasi.

“Kemudian, jangan sampai kita terjerat hal-hal yang berkaitan dengan SARA, atau menyebarkan hoaks karena tidak menguasai data dan fakta,” ujarnya.

Karena itu, Jauhari menegaskan pentingnya verifikasi sebelum membagikan informasi ke ruang publik. Ketepatan dan akurasi menjadi kunci agar media sosial tidak berubah menjadi sumber kekacauan informasi.

“Jadi, sebelum membagikan sesuatu, pastikan dulu informasi itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan,” ucapnya.

Di akhir pemaparannya, Jauhari mengajak masyarakat untuk memandang media sosial bukan sebagai alat provokasi, melainkan sebagai medium untuk menyebarkan inspirasi dan nilai-nilai positif.

“Maka media sosial ini seharusnya menjadi sarana untuk mempublikasikan hal-hal positif, bukan sebaliknya,” pungkasnya.

Diskusi ini menjadi ruang reflektif bagi peserta untuk memahami kembali posisi media—baik konvensional maupun digital—dalam menjaga harmoni sosial serta mendorong peran aktif warga dalam mewujudkan kedamaian di Aceh. (XRQ)

Reporter: AKil

Kebakaran Hanguskan Lima Rumah di Aceh Besar, Korban Mengungsi ke Tenda Darurat

0
Kebakaran melanda kawasan permukiman di Desa Baet Meusago, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu dini hari (19/7/2025). Foto: Dok BPBD Aceh Besar)

NUKILAN.ID | JANTHO – Kebakaran melanda kawasan permukiman di Desa Baet Meusago, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu dini hari (19/7/2025), sekitar pukul 04.30 WIB. Peristiwa tersebut menghanguskan lima unit rumah milik warga dan menyebabkan 11 kepala keluarga (KK) mengungsi.

Kepala Pusdalops BPBD Aceh Besar, Iqbal, mengatakan seluruh rumah yang terbakar terdiri dari bangunan kayu dan satu unit rumah permanen.

“Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun seluruh korban kini harus mengungsi ke tempat penampungan sementara yang disiapkan oleh aparatur desa setempat,” ujar Iqbal dalam keterangannya kepada Nukilan, Sabtu (19/7/2025).

Korban pertama adalah Jalinah (60 tahun), yang tinggal seorang diri di rumah panggung berkonstruksi kayu. Bangunan tempat tinggalnya ludes terbakar dan ia kini mengungsi ke tenda darurat yang disiapkan oleh aparatur desa.

Korban kedua, Basiron (43 tahun), bersama keluarganya yang terdiri dari empat jiwa juga kehilangan rumah panggung yang habis terbakar. Nasib serupa dialami Harun Ahmad (86 tahun), yang tinggal sendiri di rumah permanen. Meski bangunannya bukan berbahan kayu, rumah milik Harun tetap tak luput dari amukan api dan rata dengan tanah.

Korban berikutnya adalah Asma (90 tahun) yang tinggal bersama tiga anggota keluarga lainnya. Mereka menghuni rumah panggung kayu yang juga habis dilalap api. Sementara itu, Syarkawi (50 tahun) kehilangan rumah shelter yang dihuni dua kepala keluarga dengan total empat jiwa. Rumahnya pun habis terbakar dalam kejadian tersebut.

Seluruh korban saat ini mengungsi ke tenda darurat (teratak) yang sedang disiapkan oleh aparat desa. Petugas pemadam kebakaran dan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar dilaporkan telah turun ke lokasi untuk membantu proses pemadaman serta mendata kerugian.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Pemerintah setempat juga tengah mengupayakan bantuan logistik bagi warga terdampak. []

Reporter: Sammy

Dr. Wiratmadinata: Peran Media dalam Konteks Kenegaraan Telah Bergeser

0
Dr. Wiratmadinata
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Dr. Wiratmadinata, SH, MH, (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Dr. Wiratmadinata, SH, MH, menyampaikan pandangannya terkait posisi media dalam konteks kenegaraan. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi bertajuk Ngopi Aceh Damai yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh, Sabtu, 19 Juli 2025, di Moorden, Beurawe, Banda Aceh.

Dalam pantauan Nukilan.id, Wiratmadinata menyampaikan bahwa di masa lalu media massa dipandang sebagai alat perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Namun, seiring perkembangan zaman dan teknologi, peran media telah mengalami pergeseran. Kini, media menjadi ruang bagi beragam kepentingan dan tidak lagi bersuara tunggal seperti dahulu.

“Dalam konteks negara yang sudah merdeka, pendekatan media sebagai alat perjuangan seperti masa lalu sudah tidak relevan lagi. Dulu, media massa digunakan sebagai alat perjuangan untuk kemerdekaan. Tapi sekarang, perjuangan itu sudah berpindah ke masyarakat, ke tengah-tengah kita, melalui berbagai saluran,” ujar Wiratmadinata.

Dalam narasinya, ia menggambarkan bagaimana perubahan pola kepemilikan media turut memengaruhi independensi dan objektivitas pemberitaan. Media, menurutnya, bukan lagi milik publik secara utuh, melainkan berafiliasi dengan berbagai kepentingan politik dan kekuasaan.

“Misalnya, partai politik seperti NasDem punya MetroTV, lalu CNN dimiliki oleh siapa, TVOne juga punya siapa. Hampir semua media sekarang punya pemilik yang punya afiliasi politik,” jelasnya.

Wiratmadinata juga mengajak peserta untuk menengok kembali sejarah media di masa Orde Baru. Saat itu, negara memiliki media resmi yang bertugas menyuarakan narasi tunggal pembangunan dan program pemerintah.

“Dulu, di zaman Orde Baru, negara punya media sendiri seperti Suara Rakyat, Pelita, dan lain-lain. Semuanya satu suara, untuk mendukung pembangunan dan program pemerintah,” katanya mengenang masa lalu.

Menurutnya, saat itu kontrol negara terhadap media sangat kuat sehingga pemberitaan lebih bersifat seragam dan diarahkan untuk menyukseskan agenda negara. Namun seiring dengan reformasi dan terbukanya kebebasan pers, kontrol tersebut melemah, digantikan oleh kepemilikan media yang semakin tersebar.

“Tapi sekarang tidak. Semua kelompok masyarakat, semua partai politik, bahkan ormas, punya medianya masing-masing. Jadi perjuangannya pun jadi sendiri-sendiri, sesuai kepentingannya masing-masing,” lanjutnya.

Ia menilai bahwa fragmentasi kepemilikan ini menyebabkan media tidak lagi berjalan dalam satu narasi kolektif seperti dahulu. Masing-masing media hadir dengan misi yang berbeda, merepresentasikan suara dan aspirasi pemiliknya.

Dalam konteks itu, Wiratmadinata pun menyoroti pergeseran mendasar dalam identitas media. Fungsi idealis media sebagai alat perjuangan perlahan memudar, digantikan oleh fungsi pragmatis yang lebih dekat pada urusan kekuasaan dan kepentingan kelompok.

“Karena itu, media sekarang rasanya sudah nggak pas lagi disebut alat perjuangan. Lebih tepat disebut sebagai alat untuk bisnis. Tapi bisnis di sini bukan cuma soal dagang, tapi soal urusan. Urusan politik, urusan kekuasaan, dan sebagainya,” papar dia.

Ia menjelaskan bahwa istilah “bisnis” dalam konteks media saat ini tidak bisa dipahami secara sempit sebagai aktivitas ekonomi semata. Lebih dari itu, media telah menjadi instrumen politik yang digunakan untuk memengaruhi opini publik dan memperjuangkan kepentingan tertentu.

“Karena kondisinya begitu, media massa hari ini sarat dengan kepentingan yang sifatnya subjektif. Partai A punya kepentingannya sendiri, Partai B juga begitu, Partai C pun sama,” ujarnya.

Diskusi ini tidak hanya mengungkap fenomena komunikasi digital masa kini, tetapi juga mengajak publik untuk berpikir lebih kritis terhadap konten yang dikonsumsi sehari-hari. Kegiatan Ngopi Aceh Damai kembali menunjukkan peran penting forum-forum terbuka sebagai ruang untuk memperkuat literasi media dan demokrasi di kalangan masyarakat. (XRQ)

Reporter: Akil

Kesbangpol Aceh Gelar Diskusi Ngopi Damai, Bahas Perilaku Komunikasi Pengguna Medsos

0
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh menggelar diskusi bertajuk Ngopi Aceh Damai pada Sabtu, 19 Juli 2025. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh kembali menggelar diskusi bertajuk Ngopi Aceh Damai pada Sabtu, 19 Juli 2025. Diskusi yang berlangsung di Moorden, Beurawe, Banda Aceh, itu mengangkat tema “Fenomena dan Perilaku Komunikasi Pengguna Media Sosial” dan menghadirkan tiga narasumber yang aktif dalam kajian media serta sosial politik.

Ketiganya adalah Wiratmadinata, Jauhari Ilyas, dan Aryos Nivada. Acara yang dimulai pukul 14.30 WIB itu dipandu oleh wartawan senior, Adi Warsidi.

Algoritma, Echo Chamber, dan Penyempitan Ruang Publik

Dalam pemaparannya, Wiratmadinata menyoroti perubahan mendasar dalam cara kerja media di era digital. Ia menyebut bahwa media kini telah menjadi bagian dari sistem bisnis yang dikendalikan algoritma.

“Mungkin hari ini kita harus mengakui bahwa algoritma media sudah menjadi bagian dari bisnis. Coba lihat saja di internet atau media sosial—ada istilah echo chamber, di mana apa yang kita klik, apa yang kita tonton, akan terbaca sebagai hal yang kita sukai. Kalau kita klik soal mobil, maka yang muncul selanjutnya semuanya tentang mobil,” katanya.

Lebih jauh, Wiratmadinata menilai bahwa fenomena echo chamber bukan semata perkara teknis algoritma, melainkan telah membentuk ulang cara publik mengakses informasi. Alih-alih memperluas wawasan, media sosial justru menciptakan ruang yang sempit.

“Jadi ruang kita sebenarnya makin sempit, karena diarahkan oleh algoritma,” tambahnya.

Peran Media dan Tanggung Jawab Sosial

Sementara itu, wartawan senior Aceh, Jauhari Ilyas, menyoroti pergeseran fungsi media dalam konteks kenegaraan. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah menjadikan hampir semua orang sebagai pengguna media sosial aktif.

“Semua orang sekarang menjadi pengguna media sosial. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami mengapa dan bagaimana kita bermedia sosial,” ujarnya.

Menurut Jauhari, tantangan terbesar bukan lagi soal kebebasan informasi, melainkan bagaimana masyarakat dapat bersikap bijak dalam mengelola informasi tersebut.

“Nah, dalam konteks media sosial saat ini, yang paling penting adalah bagaimana kita menggunakannya secara bijak,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab atas konten yang dibagikannya.

“Kita harus memahami betul konten yang kita tayangkan, jangan asal membagikan informasi tanpa tahu duduk persoalannya,” tegas Jauhari.

Melawan Hoaks dengan Kebiasaan Verifikasi

Di sesi terakhir, Ketua AMSI Aceh, Aryos Nivada, menyoroti persoalan hoaks yang masih menjadi tantangan besar di tengah arus informasi yang deras. Ia memaparkan materi berjudul “Langkah Cerdas Lawan Hoaks”, dan menegaskan bahwa hoaks tidak hanya menyasar masyarakat awam, tetapi juga kalangan berpendidikan.

“Kecerdasan seseorang tidak selalu linier dengan kemampuannya menyaring informasi. Banyak orang cerdas yang tetap menyebarkan hoaks karena tidak punya habit verifikasi,” jelas Aryos.

Ia mengungkapkan bahwa penyebaran hoaks lebih banyak didorong oleh emosi dan kebencian, serta minimnya kesabaran dalam menyaring informasi.

Budaya “nguping” atau menerima informasi setengah-setengah juga menjadi celah rawan untuk manipulasi. Karena itu, Aryos mendorong masyarakat untuk membangun kebiasaan verifikasi dan memperkuat literasi media.

“Kalau tidak punya kualitas pemahaman informasi, maka akan mudah dikendalikan orang lain,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: Akil

PT PEMA Ajukan Proposal Kelola Wilayah Kerja South Block A ke BPMA

0
PT PEMA Ajukan Proposal Kelola Wilayah Kerja South Block A ke BPMA. (Foto: PT PEMA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PT PEMA melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) pada Kamis (17/7/2025). Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama sekaligus penyerahan proposal minat pengelolaan Wilayah Kerja (WK) South Block A.

WK South Block A merupakan blok migas terminasi dari Kontrak Kerja Sama (KKS). PT PEMA menyatakan kesiapannya untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi blok tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan serta peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Aceh.

Direktur Utama PT PEMA, Mawardi Nur, mengatakan langkah ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Aceh melalui perusahaan daerah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam di sektor migas.

“PT PEMA selaku mitra strategis BPMA ingin mendorong sama-sama terhadap pembangunan ekonomi daerah melalui pengelolaan Wilayah Kerja Migas dengan dapat membantu peningkatan PAD Aceh dan juga pembukaan lapangan kerja,” ujar Mawardi.

Dalam pertemuan itu hadir jajaran direksi PT PEMA, mulai dari Direktur Utama, Direktur Pengembangan Bisnis, Direktur Komersial, Sekretaris Perusahaan, hingga Manajer Eksekutif Pengembangan Bisnis.

Direktur Pengembangan Bisnis PT PEMA, Naufal Natsir Mahmud, menjelaskan proposal yang diajukan telah disusun secara komprehensif. Menurutnya, dokumen tersebut mempertimbangkan potensi wilayah kerja, aspek teknis, serta rencana pengembangan jangka panjang yang berkelanjutan.

Hal ini, kata Naufal, selaras dengan Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2015 yang memberi peluang bagi BUMD untuk mendapatkan prioritas dalam pengelolaan WK migas terminasi.

“Kami yakin bahwa pengelolaan Wilayah Kerja South Block A akan membuka peluang besar bagi peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja di Aceh,” ujar Naufal.

Sementara itu, Direktur Komersial PT PEMA, Faisal Ilyas, menegaskan bahwa pengelolaan WK tersebut tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, melainkan juga memperhatikan aspek keberlanjutan serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Untuk memperkuat posisi, PT PEMA telah mengantongi dua rekomendasi penting dari pemerintah daerah. Pertama, rekomendasi Penjabat Gubernur Aceh Nomor 500.10.7.1/1481 tentang Pengelolaan WK South Block A. Rekomendasi ini dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap langkah PT PEMA mengelola blok migas tersebut.

Selain itu, Gubernur Aceh juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memprioritaskan BUMD dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk blok migas yang telah diterminasi.

“Rekomendasi ini menjadi landasan kuat bagi kami untuk melanjutkan tahapan pengelolaan Wilayah Kerja South Block A. Kami sangat mengapresiasi dukungan penuh dari dari Bapak Gubernur, yang menunjukkan komitmennya dalam mendorong partisipasi BUMD terhadap pengelolaan sumber daya alam,” tutup Mawardi.

Pemko Banda Aceh Jalin Kolaborasi dengan UII, Dorong Pendidikan dan Ekonomi Kreatif

0
Pemko Banda Aceh Jalin Kolaborasi dengan UII, Dorong Pendidikan dan Ekonomi Kreatif. (Foto: Pemko Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Kota Banda Aceh menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dalam bidang pendidikan dan ekonomi kreatif. Kolaborasi tersebut dibahas dalam rapat yang digelar secara daring melalui Zoom pada Rabu (16/7/2025) dari Ruang Rapat Pendopo Wali Kota Banda Aceh.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, memimpin langsung pertemuan tersebut. Hadir pula Sekretaris Daerah Jalaluddin, Kepala Bagian Tata Pemerintahan Muhammad Ridha, Kepala Bappeda Rosdi, serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni UII Rohidin. Sejumlah unsur perangkat UII dan pejabat Pemko Banda Aceh lainnya juga ikut serta.

Pertemuan tersebut membahas dua fokus utama kerja sama, yakni program Beasiswa Hafiz Quran serta pengembangan ekonomi kreatif dengan mem-branding Banda Aceh sebagai kota parfum Indonesia.

Dalam arahannya, Illiza menegaskan komitmen Pemko untuk menjadikan Banda Aceh sebagai kota unggulan di sektor pendidikan dan kewirausahaan.

“Banda Aceh akan menjadi kota pendidikan dan kewirausahaan yang kreatif, inovatif dan selalu berkolaboratif. Dan tidak hanya unggul dalam segi akademik namun juga harus unggul dalam bidang spiritual atau keagamaan,” sebut Illiza.

Ia juga menyoroti potensi sumber daya alam Banda Aceh yang dinilai sangat menjanjikan untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

“Banda Aceh juga memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa. Maka dari itu, kami memilih parfum sebagai ekonomi kreatif. Sebagai contoh, minyak nilam dari Aceh sudah diakui sebagai minyak nilam terbaik di dunia,” ungkapnya.

Melalui kemitraan ini, Illiza berharap terbangun sinergi kuat antara Pemko Banda Aceh dan UII, baik dalam hal peningkatan kualitas pendidikan maupun pengembangan sektor ekonomi berbasis sumber daya lokal.

”Harapannya kita dapat saling memberikan sinergi yang kuat, dalam memajukan sumber daya yang unggul dalam pendidikan dan juga ekonomi melalui beasiswa Hafidz Quran dan kemitraan parfum ini,” ujarnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: Akil

Resmi Diresmikan, Empat Satuan Baru TNI Hadir di Aceh

0
Sebanyak 4 satuan baru Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD), pasukan Infanteri di jajaran Kodam Iskandar Muda diresmikan. (Foto: Dok/Penrem 011 LW)

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) meresmikan empat satuan baru pasukan Infanteri di jajaran Kodam Iskandar Muda. Salah satunya adalah Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon-TP) 855/Raksaka Dharma yang bermarkas di Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

Yon-TP 855/Raksaka Dharma kini menjadi rumah bagi 420 prajurit organik TNI yang dipimpin oleh Mayor Inf Irvan Nugraha Rodin sebagai Komandan Batalyon. Para prajurit tersebut resmi menjadi bagian dari batalyon usai menjalani prosesi tradisi penerimaan warga baru satuan.

Upacara penyambutan yang berlangsung di Lapangan Kompi B, Yonif 114/SM, Kecamatan Dabun Gelang itu dipimpin langsung oleh Bupati Gayo Lues, Suhaidi, yang bertindak sebagai inspektur upacara.

Dalam amanatnya, Suhaidi menyampaikan bahwa kehadiran pasukan TNI di wilayahnya merupakan suatu kebanggaan dan tonggak baru dalam kolaborasi lintas sektor.

“Atas nama pribadi dan pemerintah Kabupaten Gayo Lues, serta seluruh masyarakat, saya mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung di tengah-tengah kami,” sebutnya.

Suhaidi menekankan bahwa satuan ini bukan sekadar kekuatan tempur, melainkan juga mitra pembangunan daerah.

“Konsep Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan yang diusung menunjukkan, TNI kini hadir lebih dekat, bukan hanya sebagai alat pertahanan negara, melainkan juga sebagai mitra pembangunan masyarakat,” ujarnya.

Ia pun berharap sinergi antara TNI dan seluruh elemen daerah akan mempercepat kemajuan Kabupaten Gayo Lues.

“Gayo Lues adalah kabupaten yang kaya akan potensi, namun juga memiliki tantangan mempercepat pembangunan, kami percaya, dengan semangat kebersamaan sinergi antara TNI dan pemerintah daerah beserta seluruh elemen masyarakat, kita akan mampu mengatasi setiap tantangan dalam mewujudkan Gayo Lues yang lebih maju, aman, dan sejahtera,” harapnya.

Tak hanya di Gayo Lues, Kodam Iskandar Muda juga meresmikan tiga satuan infanteri lainnya. Brigade Infanteri (Brigif) 90/Yudha Giri Dhanu dan Yonif TP 854/Dharma Kersaka disambut dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si di Lapangan Kompi D, Yonif 114/Satria Musara, Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah.

Sementara itu, 423 prajurit Yonif TP 853/Bawar Reje Bur diterima secara resmi melalui prosesi tradisi yang digelar di Kompi Senapan A, Yonif 111/Karma Bhakti, Kecamatan Peudawa, Kabupaten Aceh Timur. Wakil Bupati Aceh Timur, T. Zainal Abidin, bertindak sebagai inspektur upacara.

Dalam prosesi di Gayo Lues, tampak hadir sejumlah pejabat daerah dan militer seperti Dandim 0113/GL Letkol Inf Agus Satrio Wibowo, Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo, dan Danyonif TP 855/RD Mayor Inf Irvan Nugraha Rodin, bersama tamu undangan lainnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: AKil

Petugas Puskesmas di Banda Aceh Dilatih Bikin Konten Imunisasi di Medsos

0
Peserta Pelatihan sedang praktek membuat video edukasi tentang imunisasi. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Untuk menjawab tantangan rendahnya cakupan imunisasi di Banda Aceh, UNICEF bersama mitra lokal menggelar pelatihan pengelolaan media sosial bagi petugas puskesmas, Kamis (17/7/2025), di N.O.Y Cafe, Lambhuk, Banda Aceh.

Pelatihan ini bertujuan mendorong petugas puskesmas agar mampu memproduksi dan menyebarkan konten edukatif seputar imunisasi melalui media sosial, guna menjangkau masyarakat yang masih ragu atau enggan melakukan imunisasi pada anak.

“Kita semua sepakat imunisasi itu penting. Tapi kenyataannya, masih banyak orang tua yang tahu tentang imunisasi tapi belum tergerak membawa anaknya untuk diimunisasi. Artinya bukan hanya soal layanan tersedia, tapi bagaimana kita menyampaikan pesannya,” ujar Andi Yoga Tama dari Perwakilan UNICEF Aceh dalam sambutannya.

Andi menyoroti bahwa cakupan imunisasi di Banda Aceh, yang merupakan ibu kota provinsi, justru masih tertinggal dibandingkan daerah lain seperti Kota Langsa. Hal ini menurutnya menandakan perlunya pendekatan komunikasi yang lebih menyentuh langsung ke masyarakat.

“Pesan saya bagaimana mengajak masyarakat, kalau pelayanan ada, tapi kalau pelayanan yang ada tidak diakses, hasilnya sama saja, indikator kesehatan tetap seperti itu aja dan tentunya kejadian Kejadian Luar Biasa (KLB) akan terus terjadi di Aceh,” jelasnya.

Selain memproduksi konten, Andi juga mengimbau agar para peserta tidak berhenti sampai di pelatihan ini. Ia mendorong para petugas puskesmas untuk membagikan ilmu yang didapat kepada kader Posyandu di wilayah masing-masing.

“Semakin banyak yang terlibat, semakin besar pengaruhnya ke cakupan imunisasi,” ungkapnya.

Dengan meningkatnya penggunaan media sosial di masyarakat, Andi berharap petugas puskesmas bisa menjadi agen perubahan dengan konsisten menyebarkan konten ajakan imunisasi.

“Harapannya setiap puskesmas bisa minimal membuat satu konten seminggu. Ini bisa diperluas ke kader Posyandu agar dampaknya makin luas,” tambahnya.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara UNICEF, Yayasan Inovasi Bangun Negeri, dan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh sebagai bagian dari upaya menekan angka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, seperti polio dan difteri, yang sempat merebak di Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: AKil

Wali Nanggroe Aceh Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan Singapura

0
Wali Nanggroe Aceh Tgk Malik Mahmud Al Haythar bersama para guru saat bertemu dengan perwakilan Pemerintah Singapura, di Aceh Besar, Jumat (18/7/2025). (Foto: Humas Wali Nanggroe Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wali Nanggroe Aceh Tgk Malik Mahmud Al Haythar menjalin kerja sama pendidikan dengan Pemerintah Singapura, setelah upaya inisiasi yang telah dilakukan sejak lima tahun lalu akhirnya menemukan momentum.

“Apa yang kita lakukan ini sudah lama sekali dinanti-nanti dan sangat perlu,” kata Tgk Malik Mahmud Al Haythar saat menyampaikan keterangan di Aceh Besar, Jumat (18/7/2025).

Sebagai langkah awal, pihak Wali Nanggroe memfasilitasi pertemuan antara Kementerian Pendidikan Singapura dan para pimpinan serta perwakilan guru tingkat SMP se-Kota Banda Aceh dalam sebuah workshop khusus. Kegiatan ini berlangsung di Meuligoe Wali Nanggroe, Aceh Besar.

Dari Singapura, hadir langsung Manajer Utama Kementerian Pendidikan Singapura Willy Kurniawan, Konsul Konsulat Jenderal Singapura Jerrica Yap Wee Ping, serta Manajer Kementerian Pendidikan Singapura Wei Kit.

Workshop ini menjadi tindak lanjut konkret dari kerja sama pendidikan yang telah lama diupayakan oleh Wali Nanggroe Aceh bersama Pemerintah Singapura, dan telah melalui proses diskusi sejak lima tahun lalu.

Dalam pertemuan tersebut, Kementerian Pendidikan Singapura memaparkan sistem pendidikan mereka, termasuk berbagai peluang kerja sama, beasiswa, dan program pertukaran pelajar.

“Kami ingin mengeksplorasi potensi kerja sama dengan sekolah di Aceh, mengenal lebih dekat para pimpinan pendidikan di Banda Aceh, sekaligus memperkenalkan program kami termasuk beasiswa dari Kementerian Pendidikan Singapura,” ujar Willy Kurniawan.

Tgk Malik Mahmud menegaskan bahwa sejak berakhirnya masa konflik, sektor pendidikan menjadi perhatian utama pemerintah Aceh. Oleh karena itu, berbagai peluang kerja sama internasional terus dijajaki, termasuk dengan negara-negara yang memiliki sistem pendidikan maju.

Menurutnya, Aceh memiliki keistimewaan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Hal ini, kata dia, menjadi peluang strategis untuk mendorong kualitas pendidikan di daerah.

“Keistimewaan ini menjadi peluang besar bagi Aceh untuk membangun pendidikan yang lebih baik dan berdaya saing melalui kerja sama luar negeri,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa kerja sama ini dapat mencakup program beasiswa, magang, pertukaran siswa, pemberian premi bagi guru dan tengku dayah, serta penguatan kurikulum dan penyelenggaraan forum diskusi pendidikan modern.

“Termasuk upaya perbaikan kurikulum hingga penyelenggaraan FGD dan lokakarya pendidikan modern seperti yang dilakukan dengan Kementerian Pendidikan Singapura hari ini,” katanya.

Tgk Malik Mahmud berharap Pemerintah Aceh melalui dinas terkait segera menindaklanjuti kerja sama ini agar dapat memberikan dampak nyata bagi kemajuan dunia pendidikan di Tanah Rencong.

“Saya minta agar Pemprov Aceh, melalui dinas terkait untuk segera menindaklanjuti kerja sama ini agar membawa dampak nyata bagi kemajuan pendidikan Aceh,” ujar Tgk Malik Mahmud.

Editor: Akil