Beranda blog Halaman 287

Ketua IKA Ilmu Pemerintahan USK Kritik Lambannya Respons Pemerintah Aceh Tangani Banjir

0
Ketua Bentara Muda Abdya, T. Auliya Rahman. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Ketua Ikatan Alumni (IKA) Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala (USK), T. Auliya Rahman, menyoroti keras lambannya respons Pemerintah Aceh dalam menangani bencana banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh dalam beberapa hari terakhir.

Ia menilai pemerintah terkesan pasif dan belum menunjukkan langkah konkret untuk melindungi masyarakat terdampak.

“Kejadian banjir yang menimpa hampir seluruh daerah Aceh kali ini adalah musibah yang sangat serius, dan pemerintah Aceh tidak sepatutnya hanya berdiam diri,” kata Auliya dalam keterangannya, Kamis (27/11/2025).

Ia menyoroti dua persoalan utama sejak banjir meluas: lambannya gerak pemerintah serta minimnya informasi yang diterima masyarakat.

Menurutnya, selain pemadaman listrik yang hampir menyeluruh—yang masih dapat dimaklumi karena potensi bahaya aliran listrik saat banjir—akses jaringan telekomunikasi di banyak daerah juga terganggu. Namun di tengah kondisi tersebut, ia menilai pemerintah belum menyediakan fasilitas alternatif untuk layanan maupun pusat informasi bagi warga.

“Terlepas dari fasilitas telekomunikasi yg terganggu, pemerintah Aceh sejauh ini belum menyediakan opsi fasilitas layanan dan pusat informasi lainnya. Selain itu kita juga belum mendapat informasi resmi dari Pemerintah Aceh terkait langkah-langkah serius apa yg selanjutnya akan dilakukan,” ujarnya.

Auliya juga menyoroti lemahnya proses evakuasi di sejumlah daerah. Menurutnya, beberapa lokasi menunjukkan akses mobilisasi yang terputus dan fasilitas perlindungan yang terbatas bagi masyarakat terdampak banjir.

“Hal ini menjadi bukti atas ketidakbecusan pemerintah Aceh selama ini dalam mengantisipasi dan memitigasi bencana,” kata dia.

Ia menegaskan bahwa Aceh memiliki anggaran besar yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kesiapsiagaan bencana sejak jauh hari. Karena itu, ia meminta kebijakan pembangunan tidak hanya berfokus pada investasi atau proyek infrastruktur, tetapi turut memasukkan aspek keselamatan warga.

Auliya mengingatkan bahwa Aceh adalah daerah rawan bencana. Berkaca pada pengalaman tsunami 2004 dan banjir yang kerap berulang, menurutnya kerugian masyarakat seharusnya dapat diminimalisir melalui asesmen dan mitigasi yang tepat.

“Pemahaman terhadap mitigasi bencana seperti ini sudah seharusnya ‘dibumi’ kan di Aceh, bisa dengan kreasi budaya, ataupun lewat kurikulum di sekolah,” ujarnya.

Ia mencontohkan tradisi Nandong Smong di Simeulue yang terbukti menyelamatkan banyak warga saat tsunami 2004.

Dalam kritiknya, Auliya juga menyinggung faktor kerusakan lingkungan yang menurutnya tidak lepas dari kebijakan yang lebih berorientasi pada kepentingan tertentu.

“Bencana alam yang kita alami sekarang ini adalah dampak dari kerusakan lingkungan yang diwadahi lewat regulasi dan kebijakan yang hanya berorientasi pada keserakahan, tanpa pernah pikir panjang,” ujar dia.

Menutup pernyataannya, Auliya mengajak seluruh pihak mendoakan agar Aceh segera pulih dari bencana.

“Kita doakan semoga Aceh segera membaik, dan segala bencana yg kita alami menjadi ibrah bagi kita,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: AKIL

Cuaca Ekstrem Ancam Aceh Besar, BPBD Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

0
Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar, Ridwan Jamil. (FOTO: BPBD ACEH BESAR)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Aceh dalam dua hari terakhir menyebabkan cuaca ekstrem di sejumlah kawasan, termasuk Aceh Besar. Beberapa titik mulai tergenang banjir akibat curah hujan tinggi dan tersumbatnya saluran pembuangan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar, Ridwan Jamil SSos MSi, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang bisa muncul sewaktu-waktu.

Imbauan tersebut disampaikan sebagai respons atas kondisi lapangan dan peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh yang meminta seluruh warga tetap waspada terhadap cuaca saat ini.

Ridwan menyebut intensitas hujan sedang hingga lebat merata di seluruh wilayah Aceh Besar. Berdasarkan informasi BMKG, hujan dengan intensitas serupa masih mungkin terjadi dalam waktu dekat.

“Maka kita mengingatkan warga Aceh Besar untuk selalu waspada, bila berpergian, baik jalur darat, maupun laut,” ujarnya.

Ia menambahkan, beberapa lokasi di Aceh Besar sudah menunjukkan adanya genangan air yang dipicu tingginya curah hujan sejak kemarin. Genangan ini juga diperparah oleh saluran pembuangan yang tersumbat di kawasan permukiman.

BMKG dalam rilisnya menyebut potensi cuaca buruk saat ini merupakan dampak tidak langsung dari perkembangan Bibit Siklon Tropis “95B” yang teramati di Selat Malaka.

“Ancaman Bencana dan Imbauan Kunci BMKG mengingatkan bahwa hujan yang terus-menerus dan berdurasi lama dapat memicu banjir, tanah longsor, dan angin kencang,” pungkasnya.

Mata Siklon Senyar Mulai Keluar dari Indonesia, Namun Hujan dan Badai Belum Berakhir

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Mata Siklon Senyar telah bergerak keluar dari wilayah Indonesia pada Sabtu (29/11/2025) sekitar pukul 06.00 WIB. Namun demikian, fase siklon belum sepenuhnya berakhir dan cuaca ekstrem masih terus dirasakan di sejumlah daerah, terutama di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan pesisir Bengkulu.

Hujan lebat dan angin kencang masih mengguyur berbagai wilayah. BMKG mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, khususnya di Aceh Singkil, Aceh Utara, Bireuen, Lhokseumawe, Kota Padang, dan Tanjungbalai, yang hingga pagi ini masih mengalami curah hujan tinggi.

Dikutip NUKILAN.ID dari BMKG, fase siklon diperkirakan akan benar-benar berakhir pada Sabtu (29/11/2025) menjelang tengah malam. Sementara itu, beberapa wilayah lainnya diperkirakan memasuki akhir fase siklon pada Jumat (28/11/2025) sekitar pukul 18.00 WIB.

Meski pusat siklon telah bergerak menuju wilayah Semenanjung Malaysia, potensi hujan deras, angin kencang, dan banjir susulan di Indonesia masih tinggi. Warga diimbau terus memantau informasi resmi dan meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi diri dan keluarga.

Reporter: AKIL

Gempa M 6,3 Guncang Aceh, BMKG Pastikan Tidak Picu Tsunami

0
Ilustrasi gempa bumi. (Foto: Getty Images)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gempa tektonik berkekuatan M6,3 mengguncang wilayah Aceh pada Kamis (27/11/2025) sekitar pukul 11.56 WIB. Dalam laporan resminya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut episenter gempa berada pada koordinat 2,67 LU dan 95,84 BT, atau berjarak sekitar 62 kilometer di barat laut Sinabang, Aceh.

Guncangan berasal dari kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Sembilan Kabupaten di Aceh Tetapkan Status Darurat Banjir

0
Banjir menlanda Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. (Foto: Istimewa)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sebanyak sembilan kabupaten di Provinsi Aceh menetapkan status darurat bencana banjir setelah wilayah itu diguyur hujan berintensitas tinggi selama sepekan terakhir.

Adapun daerah yang telah menyatakan status darurat tersebut meliputi Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Fadmi Ridwan, menyebutkan bahwa keputusan penetapan status darurat dikeluarkan langsung oleh masing-masing kepala daerah berdasarkan perkembangan kondisi di wilayahnya.

“Daerah yang telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi yaitu Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Singkil, Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat,” ujar Fadmi kepada wartawan, Rabu (26/11/2025).

Berdasarkan data sementara, total warga terdampak mencapai 46.893 jiwa, dengan 1.497 orang di antaranya terpaksa mengungsi. Banjir terparah tercatat terjadi di Aceh Timur, Aceh Singkil, dan Aceh Utara, dengan ketinggian air bervariasi hingga 80 sentimeter. Genangan juga merendam fasilitas publik dan lahan pertanian, dan hingga kini air masih belum surut di sejumlah titik.

Fadmi menjelaskan bahwa intensitas hujan yang tinggi memicu luapan sungai, sementara kondisi geologi yang labil turut memperparah terjadinya banjir di banyak wilayah.

BPBA, kata dia, terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota untuk memastikan penanganan darurat dilakukan secara optimal.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir, tanah bergerak, dan longsor, terutama pada wilayah dengan curah hujan tinggi,” ujarnya.

5 Menara SUTT di Aceh Roboh Diterjang Banjir, PLN Bangun Tower Darurat

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – PT PLN (Persero) melaporkan lima menara Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV di Aceh terdampak banjir bandang. Empat menara dilaporkan roboh, sementara satu lainnya mengalami kerusakan.

Manager Komunikasi dan TJSL PLN Unit Induk Distribusi Aceh, Lukman Hakim, mengatakan lima menara tersebut berada di wilayah Kabupaten Bireuen. Untuk mempercepat pemulihan, PLN mengerahkan tim gabungan dari Sumatera Utara, Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah guna membangun lima menara darurat.

“Kami memohon dukungan dan doa agar pekerjaan teknis di lapangan berjalan lancar tanpa hambatan, sehingga pasokan listrik di Aceh dapat kembali normal secepat mungkin,” ujar Lukman dalam keterangan yang diterima, Kamis (27/11/2025).

PLN juga memobilisasi berbagai material pendukung dari Palembang, Lampung, Jambi, Pekanbaru, dan Padang untuk mempercepat penormalan sistem kelistrikan. Perkembangan pemulihan akan diumumkan secara berkala melalui saluran informasi resmi PLN.

Pelanggan yang membutuhkan informasi dapat memanfaatkan layanan 24 jam melalui aplikasi PLN Mobile atau menghubungi Contact Center PLN 123.

“Dengan kerja keras dan doa masyarakat, PLN optimistis pasokan listrik di Aceh akan segera kembali andal,” kata Lukman.

Kerusakan pada lima menara SUTT tersebut berdampak pada gangguan pasokan listrik di sejumlah wilayah, mulai dari Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, hingga Aceh Singkil.

Unimal Liburkan Perkuliahan 26–27 November akibat Cuaca Ekstrem dan Banjir

0
Prof. Dr. Ir Herman Fithra, ASEAN Eng, Rektor Universitas Malikussaleh. (Foto: HUMAS UNIMAL)

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Universitas Malikussaleh (Unimal) meliburkan kegiatan perkuliahan pada Rabu dan Kamis, 26–27 November 2025. Keputusan tersebut disampaikan menyusul kondisi cuaca ekstrem sejak 23 November 2025 yang menyebabkan banjir di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara.

Pihak kampus menyebut kebijakan ini diambil untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan seluruh sivitas akademika.

Dilansir Nukilan.id dari keterangan yang diunggah melalui akun Instagram resmi @univ.malikussaleh, disampaikan bahwa semua Kegiatan perkuliahan pada hari Rabu dan Kamis pada tanggal 26 sampai dengan 27 November 2025 diliburkan sementara.

“Rektor menetapkan semua Kegiatan perkuliahan pada hari Rabu dan Kamis pada tanggal 26 sampai dengan 27 November 2025 diliburkan sementara,” tulis akun tersebut pada tanggal 25 Noveember 2025.

Unimal turut mengimbau mahasiswa serta dosen untuk tetap berhati-hati dan mengikuti perkembangan informasi resmi kampus. Informasi lebih lengkap mengenai pengumuman ini dapat diakses melalui website unimal.ac.id. (XRQ)

Reporter: AKIL

Banjir Meluas di Aceh Utara, Sawah hingga Fasilitas Publik Terendam

0
Ilustrasi sekolah terendam banjir di SD Tanah Jambo Aye, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (23/11/2025)(FOTO: KOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Aceh, sejak beberapa hari terakhir kini meluas hingga mencakup delapan kecamatan. Luapan air merendam ratusan hektare area persawahan, tambak, hingga sejumlah perkantoran.

Kawasan terdampak berada di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktia Barat, Langkahan, Samudera, Syamtalira Aron, Lapang, dan Muara Batu. Banjir dipicu pendangkalan sungai dan muara sehingga air meluap saat intensitas hujan meningkat.

“Banjir menyebabkan terendamnya 616 hektare sawah, 555 tambak, sejumlah infrastruktur dan fasilitas publik, sekolah, perkantoran, tempat ibadah, dayah, rumah warga, serta akses jalan di sejumlah lokasi,” ujar juru bicara Pemerintah Aceh Utara, Muntasir Ramli kepada Nukilan.id, Selasa (25/11/2025).

Menurut laporan pemerintah daerah, total warga terdampak mencapai 4.555 orang. Dari jumlah tersebut, 1.754 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. BPBD Aceh Utara bersama sejumlah instansi saat ini terus melakukan evakuasi dan koordinasi penanganan.

“Bupati telah menginstruksikan tenaga kesehatan untuk melakukan pengecekan secara berskala kondisi kesehatan para pengungsi, terutama ibu hamil, anak-anak, balita, lansia, dan disabilitas,” tambah Muntasir.

Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil atau Ayah Wa, juga telah menyalurkan bantuan masa panik sejak Minggu (23/11) ke sejumlah titik pengungsian. Bantuan itu mencakup beras, sarden, mi instan, makanan anak-anak, minyak goreng, air mineral, telur ayam, kecap, saus, dan roti. (XRQ)

Reporter: AKIL

Pemerintah Aceh Jelaskan Alasan Impor 250 Ton Beras di Sabang, Harga Mahal Jadi Pemicu

0
Proses bongkar muat di Sabang. (Foto: Beacukai)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh memberikan penjelasan terkait impor 250 ton beras di Sabang yang sebelumnya disorot Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Pemerintah menegaskan impor tersebut dilakukan karena harga beras di Sabang jauh lebih mahal dibandingkan daratan, sehingga memberatkan masyarakat.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, mengatakan tidak ada aturan yang dilanggar oleh Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) maupun pihak lain yang terlibat.

“Salah satu hal yang dihadapi Pemerintah Kota Sabang adalah tingginya harga beras apabila membawa dari daratan, sehingga memberatkan masyarakat di tengah kondisi ekonomi seperti saat ini,” kata MTA kepada Nukilan.id, Selasa (25/11/2025).

Menurutnya, kondisi itu menjadi dasar kebijakan memasukkan beras dari luar negeri sebagai langkah transisi yang dianggap strategis dan berpihak kepada masyarakat. Hal tersebut juga dimungkinkan karena Sabang memiliki status kawasan bebas.

MTA menilai pernyataan Mentan Andi Amran terlalu berlebihan dan tidak mempertimbangkan sensitivitas Aceh sebagai daerah yang pernah dilanda konflik. Ia menilai pernyataan bahwa impor tersebut ilegal seolah menggambarkan tindakan pidana serius, padahal tidak mendasar.

Ia menambahkan bahwa kewenangan kawasan Sabang telah diatur dalam regulasi khusus dan tertuang dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Oleh sebab itu, pernyataan ilegal yang disampaikan Mentan dinilai mereduksi kewenangan daerah.

“Kami meminta ke depan apabila ada permasalahan kewenangan dan regulasi seperti yang terjadi ini, semua pihak terutama pemegang otoritas bisa menjaga keharmonisan dan menjaga stabilitas nasional dengan memegang teguh persatuan. Sesuai cita-cita Presiden Prabowo untuk mewujudkan Indonesia maju dan kuat,” ujarnya.

MTA juga menyampaikan bahwa Gubernur Aceh meminta Mentan segera melakukan uji laboratorium terhadap 250 ton beras tersebut sesuai prosedur, agar dapat segera disalurkan kepada masyarakat Sabang.

Sebelumnya, Mentan Andi Amran mengungkap temuan impor 250 ton beras yang diduga berasal dari Thailand dan Vietnam. Ia menyebut beras itu masuk tanpa izin pemerintah pusat.

“Kami terima laporan tadi sekitar jam 2, bahwasannya ada beras masuk di Sabang itu 250 ton, tanpa izin dari pusat, tanpa persetujuan pusat,” kata Amran dalam keterangannya, Senin (24/11/2025).

Ia mengaku telah menghubungi Kapolda, Kabareskrim, dan Pangdam untuk menindaklanjuti laporan tersebut. Beras impor itu disebut sudah disegel. “Langsung disegel ini berasnya, nggak boleh keluar,” ujarnya.

Amran menegaskan pemerintah telah menetapkan kebijakan tidak melakukan impor beras sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, sehingga ia mempertanyakan asal-usul masuknya beras tersebut. (XRQ)

Reporter: AKIL

Badai Siklon 04B Muncul di Dekat Langsa, Bergerak di Selat Malaka

0
Badai siklon (cyclonic storm) 04B terbentuk dekat Kota Langsa, Aceh, Selat Malaka, pada Rabu (26/112025). (FOTO: ZOOM EARTH)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badai siklon (cyclonic storm) 04B terdeteksi terbentuk di wilayah dekat Kota Langsa, Aceh, tepatnya di Selat Malaka, Rabu (26/11). Sistem cuaca ini bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan sekitar 6 km per jam (3 knot) dalam enam jam terakhir.

Dikutip Nukilan.id dari Pusat Peringatan Topan Gabungan (JTWC), tinggi gelombang signifikan maksimum yang ditimbulkan badai tersebut mencapai 4 meter (13 kaki).

Dalam perkiraan awal, 04B diprediksi bergerak ke arah barat dalam 24 jam ke depan. Dari sisi intensitas, sistem ini diperkirakan akan menguat selama 12 jam karena masih berada di atas perairan dengan tingkat geseran angin yang rendah hingga sedang. Setelah itu, interaksi dengan medan daratan akan membuat 04B mengalami pelemahan.

JTWC juga memproyeksikan bahwa setelah 24 jam, lintasan badai akan berbelok kembali ke timur. Perubahan arah ini dipengaruhi oleh adanya pusaran dangkal di atas daerah pegunungan Sumatra bagian utara serta pengarah tingkat rendah yang menjadi faktor utama pergerakan sistem.

Saat badai mulai memasuki wilayah daratan Sumatra utara, pusaran diperkirakan terus melemah. Proses disipasi atau hilangnya sistem 04B diprediksi terjadi dalam waktu sekitar dua hari. (XRQ)

Reporter: AKIL