Beranda blog Halaman 254

Polda Aceh Tangani 1.131 Kasus Narkotika Sepanjang 2025

0
Kegiatan Konferensi pers tahunan Polda Aceh. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Kepolisian Daerah (Polda) Aceh mencatat peningkatan dalam penanganan kasus narkotika. Sepanjang tahun 2025, Polda Aceh menangani sebanyak 1.131 perkara, dengan tingkat penyelesaian mencapai 911 perkara.

Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Polda Aceh, Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, dalam konferensi pers akhir tahun yang digelar di Mapolda Aceh, Banda Aceh, Rabu (31/12/2025).

Brigjen Ari menjelaskan, capaian tersebut menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara kepolisian, masyarakat, serta instansi penegak hukum lainnya. Pada tahun sebelumnya, yakni 2024, Polda Aceh menangani 1.113 perkara dengan penyelesaian sebanyak 886 perkara.

“Ini merupakan hasil kerja sama kepolisian dengan masyarakat dan instansi penegak hukum lainnya, sehingga Polda Aceh berhasil melaksanakan penegakan hukum, terutama di bidang narkotika,” kata Ari kepada awak media, termasuk Nukilan.

Dalam pengungkapan kasus narkoba, Polda Aceh mencatat jumlah barang bukti yang signifikan. Sepanjang tahun 2024, polisi mengamankan sekitar 1 ton ganja, 336 kilogram sabu, 5.217 butir ekstasi, serta 1 kilogram heroin.

Sementara pada tahun 2025, jumlah barang bukti yang diamankan meningkat, yakni 1,1 ton ganja, 259,2 kilogram sabu, 1.138,49 gram dan 121 butir ekstasi, serta 1.912 butir tramadol dan kokain. Ari menyebut, nilai jual kokain di pasaran mencapai Rp5 miliar per kilogram.

“Kokain ini harganya sangat tinggi, satu kilogram bisa mencapai Rp5 miliar. Ini meningkat karena kondisi peredarannya yang cukup aktif,” ujarnya.

Selain penindakan, Polda Aceh juga mengedepankan upaya pencegahan melalui program Kampung Bebas Narkoba. Program ini bertujuan membangun kemandirian desa atau kelurahan dalam mencegah dan memberantas penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba, termasuk pengendalian minuman keras dan zat adiktif lainnya.

Saat ini, sebanyak 76 desa di 23 kabupaten/kota di Aceh telah diluncurkan sebagai Kampung Bebas Narkoba. Program tersebut dijalankan dengan menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) serta instansi terkait lainnya.

“Maksud dan tujuan program ini adalah menumbuhkan kemandirian masyarakat desa untuk mencegah dan menanggulangi peredaran gelap narkoba di lingkungannya sendiri, dengan target nol penyalahgunaan narkoba di desa,” jelas Ari.

“Kita perang dengan para bandar. Jangan sampai anak-anak kita terindikasi sudah mulai menggunakan barang haram ini,” tambahnya.

Reporter: Rezi

Rentan Kepentingan Politik, Aliansi Mahasiswa USK Desak Presiden Bentuk Tim Khusus Bencana Aceh

0
Koordinator Aliansi Mahasiswa USK sekaligus juru bicara, Ammar Malik Nabil. (Foto: NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Aliansi Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) mendesak Presiden Republik Indonesia untuk segera membentuk Tim Khusus Percepatan Penanganan dan Pemulihan Bencana Alam Hidrometeorologi Sumatera, menyusul dinilai rapuhnya tata kelola penanganan bencana di Aceh yang rentan disusupi kepentingan tertentu.

Desakan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar Selasa, 30 Desember 2025, di Direktorat Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, sebagai tindak lanjut dari rangkaian diskusi terbuka dan surat terbuka yang sebelumnya dirilis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di lingkungan USK.

Koordinator Aliansi Mahasiswa USK sekaligus juru bicara, Ammar Malik Nabil, menegaskan bahwa persoalan pascabencana di Aceh tidak lagi semata persoalan teknis di lapangan, melainkan telah memasuki wilayah struktural dan politis yang berpotensi menghambat pemulihan korban.

“Isu kebencanaan seharusnya ditempatkan sebagai persoalan kemanusiaan. Namun dalam praktiknya, kami melihat adanya kecenderungan pengalihan narasi ke isu-isu politik yang justru mengaburkan urgensi pemulihan masyarakat terdampak,” ujar Ammar.

Amatan NUKILAN.ID, Konferensi pers tersebut dihadiri oleh perwakilan BEM Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Pertanian, Fakultas Kelautan dan Perikanan, serta Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) USK. Konsolidasi lintas fakultas itu menjadi simbol keseriusan mahasiswa dalam merespons krisis kebencanaan secara komprehensif.

Selain penggiringan narasi politik, mahasiswa juga menyoroti indikasi penyalahgunaan fasilitas dan bantuan negara untuk kepentingan kelompok tertentu. Praktik tersebut dinilai mencederai rasa keadilan masyarakat terdampak dan berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap sistem distribusi bantuan.

“Kami menemukan gejala bahwa bantuan dan fasilitas negara tidak sepenuhnya berpihak pada korban, melainkan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Ini sangat berbahaya bagi kepercayaan publik,” kata Ammar.

Mahasiswa turut mengkritik minimnya pengawasan pemerintah daerah terhadap fluktuasi harga kebutuhan pokok dan makanan olahan di wilayah terdampak bencana. Kondisi ini memperberat beban ekonomi masyarakat, terutama kelompok rentan yang masih berjuang pulih.

“Ketiadaan kontrol harga di masa krisis bencana justru memperparah penderitaan masyarakat. Negara seharusnya hadir melindungi warga di saat-saat seperti ini,” tambahnya.

Sebagai solusi, Aliansi Mahasiswa USK kembali menegaskan rekomendasinya agar Presiden membentuk Tim Khusus yang ditunjuk langsung oleh Presiden, berada di bawah pengawasan langsung Presiden, dan memiliki kewenangan kuat mengoordinasikan lintas kementerian serta lembaga.

Tim tersebut diharapkan mampu mengawasi distribusi bantuan secara transparan, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, mempercepat rehabilitasi infrastruktur, serta mendorong pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat Aceh pascabencana.

Menutup pernyataan, mahasiswa mengajak seluruh elemen bangsa mengembalikan penanganan bencana pada nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial.

“Bencana tidak boleh menjadi panggung kepentingan. Yang utama adalah korban, kemanusiaan, dan keadilan bagi masyarakat terdampak,” tegas Ammar. (XRQ)

Reporter: AKIL

Aliansi Masyarakat Peduli Nanggro Salurkan Bantuan ke Daerah Terpencil Aceh, Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional

0
Aliansi Masyarakat Peduli Nanggro Salurkan Bantuan ke Daerah Terpencil Aceh, Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Aliansi Masyarakat Peduli Nanggro menyalurkan bantuan kemanusiaan ke sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh dan sekitarnya selama 27 hingga 29 Desember 2025. Aksi tersebut digerakkan oleh tiga organisasi, yakni Cakrawala Muda Aceh (CMA), Forum Solidaritas Mahasiswa Pemuda Aceh (SMPA), dan Ikatan Pemuda Mahasiswa Aceh Singkil (IPMA Singkil), dengan Iwan Rismadi sebagai koordinator lapangan.

Distribusi bantuan menyasar Desa Batu Sumbang di Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur; Desa Pantai Jempa dan Desa Babo di Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang; serta Desa Alur Selebuk di Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang.

Iwan Rismadi menegaskan bahwa kondisi masyarakat di wilayah terdampak membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Kami berharap kepada pemerintah pusat supaya menjadikan bencana alam di Sumatra ini menjadi bencana nasional, dan meminta kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah tolong perhatikan daerah daerah yang jauh dari kota,” ungkapnya kepada Nukilan.id, Selasa (30/12/2025).

Ia menilai, penetapan status bencana nasional akan mempercepat distribusi bantuan dan membuka akses penanganan yang lebih luas bagi masyarakat di wilayah terpencil.

Iwan juga menyampaikan peringatan keras apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

“Jika pemerintahan pusat tidak menetapkan bencana alam ini menjadi bencana sosial maka itu adalah suatu pengkhianatan kepada masyarakat Sumatra,terutama masyarakat aceh,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pemerintah tentang posisi dan kontribusi historis Aceh bagi bangsa Indonesia.

“Negara ini harus paham tentang aceh, bagai mana aceh membantu negara ini dari berbagai sumber daya, dan cerita sejarah telah membuktikan bagaimana aceh membatu negara ini dalam mendapatkan kemerdekaan,” ungkapnya.

Aliansi Masyarakat Peduli Nanggro berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret dan menjadikan penanganan bencana di wilayah Sumatra, khususnya Aceh, sebagai prioritas nasional demi menjamin keselamatan dan kesejahteraan masyarakat yang terdampak. (XRQ)

Reporter: AKIL

Hutama Karya Pulihkan Layanan Air Bersih, IPA Rantau Aceh Tamiang Kembali Beroperasi

0
Hutama Karya Pulihkan Layanan Air Bersih. (Foto: Hutama Karya)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG PT Hutama Karya (Persero) melakukan percepatan pemulihan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Rantau di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, guna mengembalikan akses air bersih bagi masyarakat yang sebelumnya terganggu akibat banjir lumpur.

Proyek rehabilitasi ini dilaksanakan atas penugasan Kementerian Pekerjaan Umum sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam mempercepat pemulihan layanan dasar masyarakat, khususnya akses air bersih di wilayah terdampak.

Sebelumnya, IPA Rantau dilaporkan tidak berfungsi setelah terendam lumpur. Sejumlah komponen vital, termasuk pompa listrik, ikut terendam sehingga menghentikan operasional instalasi dan menyebabkan distribusi air bersih lumpuh.

Lingkup pekerjaan yang dilakukan Hutama Karya mencakup reaktivasi fasilitas pengolahan air, penataan ulang sistem elektrikal dan mekanikal, perbaikan sistem pompa, serta penanganan darurat berupa penyediaan tower tangki air sementara, pembangunan sumur bor dangkal dan sumur bor dalam di Puskesmas Kuala Simpang.

Dalam keterangannya, Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menegaskan pentingnya percepatan pemulihan fasilitas tersebut.

“IPA Rantau menjadi infrastruktur penting bagi masyarakat Aceh Tamiang. Oleh karena itu, kami melakukan langkah-langkah teknis yang diperlukan agar instalasi ini dapat kembali beroperasi secara optimal dalam waktu singkat, dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan keandalan operasional,” ujar Mardiansyah.

Hingga Senin (29/12/2025), IPA Rantau telah berhasil diaktifkan kembali dan mampu mengolah air baku menjadi air bersih sesuai kapasitas semula. Pemulihan ini dinilai krusial mengingat sebelumnya warga setempat mengalami lumpuhnya akses terhadap air bersih.

Selain perbaikan fasilitas, pembersihan lumpur di sekitar area IPA Rantau juga dilakukan dengan menggunakan alat berat, termasuk di kawasan Pesantren Darul Muklisin. Untuk mendukung percepatan layanan, operasional IPA saat ini masih mengandalkan pasokan listrik sementara melalui genset sembari mengoptimalkan peralatan yang tersedia.

Mardiansyah menegaskan, program ini merupakan bagian dari komitmen sosial perusahaan melalui BUMN Peduli.

“Kami berkomitmen melalui BUMN Peduli untuk memastikan infrastruktur yang dibangun dapat kembali dimanfaatkan oleh masyarakat sesegera mungkin. Kehadiran IPA Rantau diharapkan mampu membantu pemulihan aktivitas sehari-hari warga serta mendukung kebutuhan dasar air bersih di Kabupaten Aceh Tamiang,” tutupnya.

Pemerintah Aceh Perkuat Distribusi Beras ke Aceh Tengah dan Bener Meriah

0
Pemerintah Aceh Perkuat Distribusi Beras ke Aceh Tengah dan Bener Meriah. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh terus memperkuat pasokan beras ke wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah guna memenuhi kebutuhan masyarakat pascabencana. Pada Senin (29/12/2025), sebanyak 24 truk dikerahkan untuk mengangkut 96 ton beras Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir, menjelaskan bahwa pengiriman beras tersebut dilakukan sebagai bagian dari penanganan dampak bencana alam di wilayah terdampak. Distribusi beras ditempuh melalui jalur darat dari Gudang Bulog Ulee Blang Manee, Lhokseumawe, menuju Gudang Bulog Blang Kolak II, Takengon.

“Pengangkutan beras CBP bencana alam tadi malam sebanyak 24 truk diberangkatkan, masing-masing membawa muatan 4 ton. Total pengiriman sebanyak 96 ton,” kata M Nasir.

Sebagai Ketua Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Nasir menegaskan bahwa pemerintah daerah terus mendorong Perum Bulog untuk menjaga stabilitas stok beras, terutama di Aceh Tengah dan Bener Meriah, mengingat tingginya kebutuhan masyarakat pascabencana.

“Pemerintah Aceh terus mendorong Bulog untuk memastikan ketersediaan dan stabilitas stok beras di Aceh Tengah dan Bener Meriah agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi,” ujarnya.

Selain distribusi darat, Pos Komando Tanggap Darurat juga telah mengoordinasikan penyaluran bantuan melalui jalur udara sebagai langkah antisipasi terhadap potensi terputusnya akses transportasi darat.

“Bantuan terus kita maksimalkan penyalurannya ke korban terdampak bencana di seluruh Aceh,” jelas Nasir.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, pada hari yang sama distribusi bantuan ke Aceh Tengah sebagian dilakukan melalui udara. Sejumlah helikopter membawa bantuan ke Kecamatan Linge, Silih Nara, dan Bintang sebagai upaya memastikan bantuan menjangkau wilayah yang sulit diakses.

Sekolah di Aceh Akan Kembali Dibuka 5 Januari 2026 Meski Terdampak Bencana

0
Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh memastikan seluruh aktivitas Belajar Mengajar (PBM) untuk semester genap tahun ajaran 2025/2026 akan dimulai secara serentak pada 5 Januari 2026. Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menegaskan bahwa kendala infrastruktur akibat bencana meteorologi tidak boleh menjadi alasan bagi terhentinya hak pendidikan anak-anak Aceh.

Berdasarkan data terbaru dari Posko Penanganan Bencana Meteorologi Pemerintah Aceh, dari 555 unit SMA di seluruh provinsi, sebanyak 214 unit terdampak banjir dan tanah longsor. Wilayah terdampak paling parah mencakup Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang.

“Kondisi di lapangan memang menantang, di mana ada 78 unit sekolah yang masuk kategori rusak berat. Namun, saya instruksikan agar proses belajar mengajar tetap dilaksanakan. Pendidikan harus hadir sebagai pemberi kepastian di tengah situasi bencana,” ujar Sekda Aceh, M. Nasir, Senin, 29 Desember 2025.

M. Nasir menambahkan, aktivitas sekolah bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga berperan penting dalam pemulihan psikologis siswa yang menjadi korban bencana.

“Kehadiran siswa di sekolah akan membantu mereka kembali ke ritme hidup normal, yang merupakan bagian penting dari pemulihan pascabencana,” tambahnya.

Sejalan dengan itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh sekaligus Juru Bicara Posko Penanganan Bencana, Murthalamuddin, telah mengeluarkan instruksi resmi kepada seluruh kepala sekolah SMA di Aceh.

“Bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat sehingga ruang kelas tidak dapat digunakan, kami instruksikan untuk menggunakan sarana darurat. PBM tidak boleh berhenti. Kami telah meminta para kepala sekolah untuk memastikan ketersediaan tempat belajar sementara agar siswa tetap bisa masuk sesuai jadwal,” jelas Murthalamuddin.

Lebih lanjut, Murthalamuddin menekankan peran guru dalam mendampingi siswa pada masa awal masuk sekolah nanti. Tenaga pendidik diminta untuk tidak langsung membebani siswa dengan materi pelajaran yang berat, melainkan mengutamakan pendekatan persuasif.

“Guru memiliki peran ganda saat ini, yakni sebagai pendidik sekaligus pendamping psiko sosial bagi siswa. Kami mendorong para guru mengedepankan pendekatan persuasif dan merangkul siswa secara psikologis agar semangat belajar mereka kembali pulih,” pungkasnya.

Sekda Aceh Tinjau Gerakan ASN Relawan di Wilayah Banjir Pidie Jaya–Bireuen

0
Sekda Aceh Tinjau Gerakan ASN Relawan di Wilayah Banjir Pidie Jaya–Bireuen. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | MEUREUDEU — Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, melakukan peninjauan langsung ke sejumlah titik lokasi terdampak banjir di Kabupaten Pidie Jaya dan Bireuen, Senin (29/12/2025). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program ASN Relawan Pemerintah Aceh berjalan optimal dan tepat sasaran.

Di Pidie Jaya, Sekda meninjau keterlibatan para Aparatur Sipil Negara yang dikerahkan sebagai relawan dalam kegiatan pembersihan fasilitas publik pascabanjir. Sejumlah lokasi yang menjadi fokus kegiatan meliputi tempat ibadah serta lingkungan SD Negeri 2 Meurah Dua, Gampong Meunasah Jurong. Kegiatan pembersihan ini dilaksanakan selama dua hari, pada 29–30 Desember 2025.

Setelah dari Pidie Jaya, M. Nasir melanjutkan peninjauan ke kawasan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen. Di wilayah tersebut, ia memantau langsung kegiatan relawan di beberapa titik, antara lain rumah sekolah, puskesmas, dan kantor camat.

Dalam kesempatan itu, Sekda menyampaikan apresiasi kepada para relawan atas dedikasi yang ditunjukkan di lapangan.

“Terima kasih atas semangat kerjanya. Semoga teman-teman relawan ASN Pemerintah Aceh terus dalam kondisi fit sehingga tugas mulia ini dapat kita selesaikan,” kata Sekda.

Program ASN Relawan dibentuk sebagai bagian dari upaya Pemerintah Aceh untuk mempercepat pemulihan pascabencana. Relawan disebar ke berbagai wilayah terdampak guna membantu masyarakat serta mengembalikan fungsi layanan publik, khususnya tempat ibadah dan sarana pendidikan, agar dapat kembali digunakan dalam waktu sesingkat mungkin.

Dalam kegiatan tersebut, Sekda Aceh turut didampingi Asisten I Sekda Aceh serta sejumlah pejabat terkait. Rangkaian peninjauan lapangan ini dimulai dari Pidie Jaya dan direncanakan berakhir di Aceh Tamiang, sebagai bentuk komitmen Pemerintah Aceh dalam memastikan respons penanganan bencana yang cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan di seluruh wilayah terdampak.

Di Tengah Lumpur yang Tak Pernah Usai: Catatan Pengabdian Polisi Pasca Banjir Bandang Aceh Tamiang

0
Ilustrasi Pengabdian Anggota Polda Aceh Pascabencna di Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

Presma UTU Sebut Darurat Kemanusiaan Tidak Bisa Dijawab dengan Represivitas

0
Presiden Mahasiswa UTU, Putra Rahmat. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | MEULABOH — Pemerintahan Mahasiswa Universitas Teuku Umar (PEMA UTU) menyampaikan keprihatinan serius terhadap tindakan aparat terhadap masyarakat sipil dalam aksi demonstrasi kemanusiaan di Aceh yang menuntut penetapan status bencana nasional.

Aksi tersebut dinilai sebagai ekspresi keprihatinan publik atas kondisi darurat kemanusiaan yang tengah dihadapi masyarakat. PEMA UTU menegaskan bahwa penyampaian aspirasi secara damai merupakan hak konstitusional warga negara yang wajib dihormati dan dilindungi oleh negara.

Presiden Mahasiswa UTU, Putra Rahmat, menilai pendekatan represif terhadap aksi sipil justru mencederai prinsip demokrasi dan negara hukum.

“Isu utama yang disuarakan masyarakat adalah kemanusiaan. Negara seharusnya hadir dengan solusi, bukan dengan tindakan represif yang melukai rasa keadilan publik,” tegas Putra Rahmat.

Menurut PEMA UTU, segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil dalam aksi damai tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun. Penanganan aspirasi publik, kata mereka, semestinya mengedepankan pendekatan hukum, dialog, serta nilai-nilai kemanusiaan, terlebih dalam konteks Aceh yang memiliki sejarah panjang konflik dan trauma kolektif.

Dalam pernyataan resminya, PEMA UTU juga mendorong pemerintah pusat untuk segera mempertimbangkan penetapan kondisi Aceh sebagai bencana nasional. Langkah tersebut dinilai penting guna mempercepat penanganan krisis, memperluas jangkauan bantuan, membuka akses ke wilayah-wilayah terisolir, serta menjamin ruang demokrasi bagi masyarakat sipil tetap terjaga.

“Krisis kemanusiaan tidak boleh dibungkam, dan demokrasi tidak boleh dihadapi dengan kekerasan,” lanjut Putra Rahmat.

PEMA UTU menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi warganya, terutama dalam situasi darurat yang menyangkut keselamatan, kemanusiaan, dan hak-hak sipil masyarakat. (XRQ)

KSAD Maruli Simanjuntak Murka Baut Jembatan Bailey di Aceh Diduga Dicuri: Perbuatan Biadab

0
Baut jembatan bailey di Aceh diduga dicuri (Foto: detikcom)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak mengekspresikan kemarahannya setelah mendapati baut-baut jembatan bailey yang dibangun di Aceh diduga dicuri. Menurut Maruli, tindakan ini termasuk sabotase terhadap fasilitas vital tersebut.

“Dalam kondisi kompak pun, ini masih ada orang yang berusaha mensabotase jembatan bailey kita. Dua hari yang lalu, mungkin ada ditayangkan ininya, dibongkar baut-bautnya,” ujar Maruli dalam konferensi pers di Posko Terpadu Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025).

Maruli juga memamerkan foto jembatan bailey yang bautnya telah dicabut. Jembatan tersebut berlokasi di Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh.

“Kami juga tidak menyangka ada orang sebiadab ini ya, terus terang saja. Memang kami pikir masyarakat sedang bencana, ini baut-bautnya dibongkar. Terlihat itu berpindah, nanti kalau ada yang perlu lihat fotonya, nanti saya kasih,” tambahnya.

KSAD Maruli menegaskan, perbuatan ini merugikan masyarakat dan menilainya sebagai tindakan biadab.