Beranda blog Halaman 2304

Aceh Termiskin di Sumatera, BPS Pakai Sample 2.920 Rumah Tangga

0
Kepala BPS Provinsi Aceh Ihsanurijal S.Si, M.Si

Nukilan.id – Kepala BPS Provinsi Aceh Ihsanurijal S.Si, M.Si menjelaskan, pengumuman hasil survei BPS di bulan September tidak dapat diumumkan hingga per Kabupaten/kota, karena jumlah sample yang dipakai lebih kecil dibanding semester per Maret 2020.

“Karena sample per September lebih kecil dari semester per Maret, sehingga tidak dapat menampilkan data survei Kabupaten kota,” kata Ihsanurijal S.Si, M.Si ketika dtanya Nukilan.id, media online di Aceh, terkait pengumuman BPS yang menempatkan Aceh termiskin di Sumatera, Jum’at (19/2/2021).

Dijelaskannya, sampel yang dipakai per September sebesar 2.920 rumah tangga yang ada di Aceh, sehingga estimasinya hanya berskala Provinsi saja.

“Bulan Maret samplenya besar, sehingga estimasinya memungkinkan untuk Kabupaten/Kota,” jelasnya.

Penyampaian hasil survei periode (2020) ini–katanya–memang agak istimewa lantaran ada pandemi Covid-19, berlakunya bukan hanya di Aceh tetapi diseluruh Indonesia, bahkan dunia.

Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) rutin dilakukan di 34 provinsi yang dinamakan dengan survei sosial ekonomi nasional (sosenas).[]

Reporter: Yuli Asmiati

Peringatan BMKG: Aceh Berpotensi Kebakaran Hutan dan Lahan

0

Nukilan.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Sultan Iskandar Muda Aceh Besar keluarkan peringatan dini terhadap potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan/Karhutla yang diperkirakan pada 19-20 Februari 2021.

“Melihat fenomena cuaca dalam beberapa hari terakhir yang sudah semakin sedikit dari curah hujan. BMKG Aceh mengeluarkan warning potensi mudah terjadi kebakaran,” kata Koordinator Kasi Data dan Informasi BMKG Aceh, Zakaria, Jumat, 19 Februari 2021.

Zakaria menyebutkan wilayah berpotensi terjadinya kebakaran lahan yaitu, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Lhokseumawe, dan sebagian besar Bireun. kemudian di bagian utara Aceh, yaitu Pidie Jaya bagian utara dan sebagian besar Pidie bagian utara, Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang, Aceh Jaya. paparnya

Selanjutnya di bagian barat selatan Aceh yaitu, Aceh Barat, Nagan Raya bagian Barat dan selatan, sebagian Aceh Barat Daya bagian selatan, Aceh Selatan bagian selatan dan timur, Subulussalam, Aceh Singkil, Aceh tenggara bagian selatan.

“BMKG mengimbau masyarakat harus waspada dan tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan dalam membuka lahan baru,” tutupnya.[]

Reporter: Akhi Wanda

Guru Besar USK Lulus Fit and Proper Test Dewan Syariah Aceh Periode 2021-2025

0

Nukilan.id – Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK) Prof. Dr. M. Shabri Abd. Majid lulus Fit and Proper Test atau Uji Kelayakan dan Kepatutan seleksi Calon Anggota Tetap Dewan Syariah Aceh Periode 2021-2025, Jum’at (19/2/2021).

Pengumuman hasil rapat Panitia Seleksi Dewan Syariah Aceh yang menyatakan peserta yang lulus Uji Kelayakan dan Kepatutan bernomor 04/PANSELDSA/2021 tanggal 17 Februari 2021 ditandatangani oleh H. T. Ahmad Dadek, SH, MH sebagai Ketua Pansel.

Peserta yang dinyatakan lulus tersebut terdapat tiga nama masing-masing yaitu Prof. Dr. M. Shabri Abd. Majid, SE, M.Ec, Dr Eddy Gunawan, S.Ag, M.Ec dan Dr. Zaky Fuad, M.Ag.

Prof. Shabri Abd. Majid merupakan guru besar Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (USK) yang visioner terhadap Lembaga Keuangan Syariah (LKS).

Fit and Proper Test Calon Anggota Tetap Dewan Syariah Aceh Periode 2021-2025 diikuti oleh 12 peserta yang dilakukan pada Senin, 8 Februari 2021 di Dinas Syariat Islam Aceh.

Sumber: acehsatu.com

Kejari Medan Tangani 3 Kasus Korupsi Senilai Rp8 Miliar Lebih

0
Kejari Medan Teuku Rahmatsyah M.H

Nukilan.id – Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan sedang menangani tiga kasus dugaan korupsi yang telah masuk ke tahap peyidikan untuk dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Medan.

Itu disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri Medan, Teuku Rahmatsyah disela-sela Coffee Morning bersama wartawan di Warung Kopi Srikandi Medan, Jumat (19/2/2021).

Kejari yang ikut didampingi Kasi Pidum Riachad Sihombing, Kasi Pidsus Sofyan Hadi dan Kasi Intelijen Bondan Subrata Medan mengatakan, ketiga kasus korupsi yang ditangani antara lain pengelolaan dana kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Tahun 2019 di Puskesmas Glugur Darat, Kota Medan.

“Dalam kasus korupsi ini kerugian diperkirakan capai Rp.2.789.533.186 dan telah menetapkan Bendahara Puskesmas Glugur Darat EW sebagai tersangka,” kata Teuku Rahmatsyah.

Sementara Kasi Intel Kejari Medan, Bondan Subrata, menyebutkan pihaknya juga sedang menangani kasus korupsi pengadaan revitalisasi peralatan praktik dan perlengkapan pendukung teknik permesinan pada SMK Negeri Binaan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2014 dengan nilai kerugian negara sebesar Rp.4.838.270.535.

“Dalam kasus ini, kita telah menetapkan tersangka IB sebagai Penyedia Jasa/Barang (pelaksana kegiatan), sebelumnya sempat ditetapkan sebagai DPO Kejaksaan Negeri Medan,” jelas Bondan.

Selain itu Bondan mengatakan, kasus lain yang sedang ditangani adalah pengadaan papan visual videotron di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan yang bersumber dari APBD Kota Medan Tahun 2013, dengan nilai perhitungan kerugian negara sebesar Rp.1.059.676.483.

“Dari kasus itu, telah ditetapkan dua tersangka J dan E tanggal 20 Maret 2017. Begitu juga, tersangka J sempat ditetapkan sebagai DPO dan telah berhasil ditangkap oleh Tim Penyidik Kejaksaan pada tanggal 15 Januari 2021,” jelas Kasi Intel Kejari Medan Bondan Subrata. (red)

Alyasa’ Abubakar: Butuh Waktu untuk Keluar dari Kemiskinan

0
Prof Dr H Alyasa’ Abubakar MA

Nukilan.id – Guru Besar Ushul Fiqh Prodi Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Aceh Prof Dr H Alyasa’ Abubakar MA menjelaskan, ada dua syarat untuk menjauhi kemiskinan yakni lebih banyak berusaha agar ada penghasilan dan perlu lebih hemat agar pengeluarannya lebih sedikit.

Hal itu disampaikan Al-Yasa’ Abubakar ketika dihubungi Nukilan.id, media online di Aceh, terkait Aceh menjadi daerah termiskin di Sumatera, Kamis (18/2/2021) kemarin.

Menurutnya Al-Yasa’, untuk keluar dari kemiskinan di Aceh tidak bisa ditanganin dalam waktu sehari atau dua hari, tetapi butuh waktu kerja yang panjang.

“Pemerintah sudah melakukan langkah dan program untuk menangulangi kemiskinan, baik dari Gubernur, Kepala dinas, Bupati/Walikota, mereka sudah mengarahkan dan berkeinginan keluar dari kemiskinan ini,” katanya.

Untuk itu–kata Alyasa’ Abubakar, semua pihak harus berusaha memperbaiki keadaan, terlepas bagaimana pun hasilnya, kita harus terus meningkatkan kualitas diri kita, baik secara pribadi maupun masyarakat.

“Kita semua harus bekerja keras, karena ini bukan pekerjaan pemerintah saja, kita sebagai masyarakat juga harus mendukung. Karena usaha pemerintah sebaik apapun itu tidak berarti apa-apa kalau masyarakat tidak mendukung,” demikian kata Prof Dr H Alyasa’ Abubakar MA. []

Reporter: Akhi Wanda

SLB YPAC Banda Aceh Siap Bentuk Lulusan Tangguh dan Mandiri

0
Sekolah SLB-B YPAC, Heni Ekawati, M.Pd meninjau usaha anak didik di Banda Aceh

Nukilan.id – Lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB)-B (Tuna Rungu dan Tuna Wicara) YPAC Kota Banda Aceh telah meluluskan siswa siap bekerja secara mandiri. Dan, sebagian dari mereka juga berhasil melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi yang diminati.

Kepala Sekolah SLB-B YPAC, Heni Ekawati, M.Pd saat meninjau usaha perbengkelan alumni SLB, Kamis (18/2/2021) di Pango, Kota Banda Aceh, mengatakan, saat ini jumlah siswa di sekolahnya mencapai 82 siswa. Jenjangnya dari dari SD, SMP dan SMA yang setiap tahunnya menerima 20 hingga 30 siswa baru.

“Yang kuliah juga ada, namun tidak banyak. Tapi kami sangat bangga ketika mendengar ada salah seorang lulusan SLB-B YPAC Banda Aceh yang lulus dengan predikat Cumlaude di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur,” terangnya.

Pihak sekolah, lanjutnya, terus membentuk kepribadian yang tangguh dan melatih kemampuan mereka agar mampu bersaing di dunia kerja atau membuka usaha sendiri.

Menurutnya, banyaknya tuna rungu yang bekerja karena secara fisik tidak terlihat berbeda dengan yang orang lain. Mereka masih dapat diajak untuk berfikir menangani pekerjaan.

“Disini kami beserta dewan guru terus menempa anak-anak agar mampu mandiri setelah tamat sekolah. Kebanyakan mereka membuka usaha secara berkelompok. Bahkan mereka menikah sesamanya (tuna rungu) dan memiliki anak yang mampu berbicara dan mendengar secara normal,” katanya.

Secara soft skill maupun hard skills, katanya, lulusan SLB cukup menguasai.

“Tentu, setiap anak memiliki kemampuan serta keahlian yang berbeda-beda. Selama di sekolah, mereka dibekali dengan keahlian sesuai dengan minat dan bakat mereka,” ujar Heni Ekawati.

Dijelaskan, sekolah mengajarkan secara merata kepada siswa, bagaimana cara berwirausaha dengan baik agar setidaknya mereka memiliki bekal serta ilmu untuk membuka usaha sendiri.

Kini–cerita Heni Ekawati–di beberapa tempat usaha sudah diisi lulusan SLB-B YPAC Banda Aceh, seperti doorsmeer motor dan mobil, bengkel mobil dan motor, menjadi jasa pengamanan (satpam), petugas pemadam kebakaran, pelayan coffee dan warung, bekerja salon, tempat pangkas, dan ditempat lainnya.[]

Red

BPS: Setiap Tahun Angka Kemiskinan di Aceh Terus Menurun

0
Logo BPS

Nukilan.id – Badan Pusat Statistik mencatat Daerah Istimewa Aceh sudah menjadi daerah termiskin dengan daerah lain di tanah Sumatera sejak 2002.

Pada 2002, jumlah penduduk miskin di Aceh berjumlah 1,19 juta jiwa atau secara persentase sebesar 29,83%. Tertinggi dibandingkan daerah lain seperti Sumatera Selatan yang saat itu jumlah penduduknya secara persentase 22,32%, Bengkulu 22,7%, dan yang paling sedikit angka kemiskinannya saat itu adalah Bangka Belitung dengan persentase 11,62%.

Berbeda dengan BPS, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) justru mencatat tingginya kemiskinan di Aceh sudah terjadi sejak tahun 2000.

“Jadi so far, Provinsi Aceh tingkat kemiskinan sudah tinggi sejak tahun 2000,” jelas Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas Maliki sebagaimana dilansir CNBC Indonesia pada Kamis (18/2).

Menurut Maliki ini disebabkan oleh jumlah penduduk Aceh yang lebih sedikit dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera. Di samping itu, optimalisasi dari sumber daya masih rendah. Seperti kopi, yang sebenarnya sangat digemari oleh masyarakat dunia.

Dari tahun ke tahun, jumlah penduduk miskin di Aceh memang menunjukkan adanya angka penurunan, namun tidak signifikan. Sehingga tidak menggeserkan Aceh sebagai daerah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Sumatera.

Dilihat dari data tahunan, selama 5 tahun ini jumlah penduduk miskin di Aceh masih tinggi. Pada September 2015 misalnya, jumlah penduduk miskinnya 859,41 ribu atau 17,11%.

Persentase itu turun jadi 16,43% pada September 2016 dan berlanjut lagi menjadi 15,92% pada September 2017 dan 15,68% pada September 2018.

Pada September 2019, angka kemiskinan berhasil turun lagi menjadi 15,01% dan turun lagi menjadi 14,99% pada Maret 2020.

Kemudian naik lagi menjadi 15,43% atau sebanyak 833,91 ribu orang pada September 2020 seperti yang dilaporkan oleh Kepala BPS Suhariyanto belum lama ini. Jumlah itu bertambah 19.000 orang dibandingkan dengan Maret 2020 yakni 814,91 ribu orang.

Disamping itu, optimalisasi dari sumber daya alamnya masih rendah. Seperti kopi, yang sebenarnya sangat digemari oleh masyarakat dunia.

“Produk-produk masyarakat miskin rentan masih belum diolah sehingga (tidak) mempunyai daya jual yang lebih tinggi. Mungkin karena Medan masih menjadi pusat ekonomi di daerah itu,” ujarnya.

“Hasil olahan rakyat, terutama kopi masih banyak didominasi oleh pasaran melalui Medan, Jadi kontrol harga masih belum optimal,” kata Maliki melanjutkan.

Menurut Maliki, kebanyakan masyarakat penduduk Aceh juga lebih banyak memperhatikan investasi daripada untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya.

“Orang Aceh lebih banyak memperhatikan investasi daripada pengeluaran untuk makanan dan sehari-hari. Inipun pasti akan mempengaruhi profil pengeluaran. Di mana kemiskinan sangat dipengaruhi oleh pola makan dan kalori,” tuturnya.

Dana otonomi khusus (Otsus) Aceh yang sudah digelontorkan oleh pemerintah sejak 2015-2020 Rp 47,6 triliun juga menurut Maliki belum dimanfaatkan secara baik.

“Mungkin nanti ke depan (dana otsus) bisa digunakan untuk meningkatkan akses pasar yang lebih independen. Daripada harus lewat Medan, Sumatera Utara,” tuturnya.

Untuk menanggulangi dan mengurangi angka kemiskinan di Aceh, Bappenas berencana untuk membuat beberapa uji coba yang akan segera diperluas di Aceh. Bappenas akan memulainya dengan merapikan data dengan melakukan uji coba registrasi sosial mendata seluruh penduduk di beberapa desa di Aceh.

Dalam menanggulangi kemiskinan di Aceh, Bappenas juga akan memperluas cakupan administrasi kependudukan, terutama cakupan akta lahir. Pasalnya masyarakat miskin rentan tidak memiliki memiliki akta lahir.

“Sistem pelayanan dasar, baik pendidikan, kesehatan, maupun sanitasi air minum. Tata kelolanya sedang kami merapikan. Kami juga akan melakukan pemberdayaan ekonomi dengan memberdayakan rakyat miskin melalui pemberdayaan sumber daya lokal, namanya keperantaraan,” jelas Maliki.

Soal Investasi Aceh, Nova: Keamanan dan Kepastian Hukum Berjalan Baik

0
Gubernur Aceh Nova Iriansyah

Nukilan.id – Gubernur Aceh Nova Iriansyah melaporkan perkembangan investasi di Aceh kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, di Jakarta, Kamis, (18/02/2021) kemarin.

Nova yang didampingi Ketua BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Aceh, Rizky Syahputra menyampaikan, kondisi keamanan dan kepastian hukum di Aceh selama ini telah berjalan dengan baik.

“Semua investasi di Aceh berjalan baik, hanya saja terkendala dengan Covid-19,” kata Nova.

Investasi yang mengalami penundaan akibat covid-19 adalah Blok Andaman III yang dikelola Repsol, perusahaan migas asal Spanyol dan Mubadala Petroleum. Seharusnya eksplorasi di Blok Andaman III ini dilakukan pada Februari tahun ini. Namun covid membuat aktifitas eksplorasi tertunda hingga diperkirakan mencapai satu tahun lamanya.

Nova juga menyampaikan rencana investasi Uni Emirat Arab (UEA) yang awalnya menargetkan Pulau Banyak, Aceh Singkil. Namun, mereka terakhir beralih ke Sabang.

“Karena di Pulau Banyak airborne, dermaganya belum ada, mereka berharap kita membangun infrastruktur dulu. Padahal alamnya sangat bagus,” kata Nova.

Untuk tahap awal, kata Nova, para investor UEA akan melakukan investasi di Sabang. Mereka akan mengeluarkan anggaran sekitar setengah triliun yang dipergunakan untuk pembangunan resort.

Selanjutnya, Nova juga melaporkan terkait pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Nagan Raya dengan kapasitas 10 Mega Watt. Namun, sudah berjalan 5 Mega Watt.

“Kalau untuk PLTA Peusangan 1 dan 2 yang berdaya 88 Megawatt sudah saya tinjau baru-baru ini ke lokasi, ada kendala kontruksi di bawah tanah, tapi mereka janji akhir 2022 akan selesai,” kata Gubernur.

Nova meminta bantuan terkait pengembangan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Seulawah, Aceh Besar dengan proyeksi 80 Mega Watt, di bawah pengelolaan PT Pertamina Geothermal Energy.

“Dulunya mereka berjanji dalam 2 tahun sudah mulai melakukan pengerjaan, tapi ini sudah lebih dari tiga tahun belum adanya pengerjaan,” kata Nova.

Tak lupa Nova berterimakasih kepada BKPM, karena pengelolaan minyak dan gas Blok B di Lhokseumawe sudah diambil alih oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Selain itu, Nova juga meminta bantuan terkait dengan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Aceh yang saat ini baru direalisasi oleh PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan sudah mulai membangun pabrik pupuk.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyambut baik kedatangan Gubernur Aceh untuk menyampaikan laporan terkait dengan investasi yang ada di Aceh. Pihaknya berjanji untuk membantu penyelesaian beberapa kendala investasi di bumi Aceh.[]

Sumber: Humprov

Tiba-tiba Kaya Raya Gara-gara Pertamina

0
Mobil-mobil yang diborong warga Tuban. Foto: iNews.id

Nukilan.id – Beberapa hari belakangan jagat maya dihebohkan dengan video yang menampakkan warga satu desa di Tuban, Jawa Timur, memborong ratusan mobil.

Warga desa tersebut ‘kaya mendadak’ setelah mendapat ganti rugi pembebasan lahan untuk proyek kilang minyak Tuban milik Pertamina.

Warga desa di wilayah Kecamatan Jenu ini, mendapat uang ganti rugi lahan melalui proses penetapan Konsinyasi di Pengadilan Negeri (PN) Tuban. Proses itu selesai pada 10 Desember 2020 lalu.

Banyaknya ganti rugi yang diterima warga lantaran nilai proyek kilang Tuban juga fantastis. Nilainya sebesar Rp 211,9 triliun dan membutuhkan pembebasan lahan seluas 811,9 hektar.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kilang Tuban membutuhkan 20.000 tenaga kerja pada saat konstruksi dan 2.500 pekerja saat sudah beroperasi. Targetnya, Kilang Tuban akan beroperasi pada 2026.

Proyek kilang Tuban merupakan bagian dari program mega proyek kilang Pertamina yang terdiri dari Refinery Development Master Plan (RDMP) dan kilang baru.

Dalam proyek ini, Pertamina bekerja sama dengan perusahaan migas asal Rusia, Rosneft. Pada 2017, kedua perusahaan itu membentuk PT Pertamina Rosneft dengan komposisi saham 55% Pertamina dan 45% Rosneft.

Namun pembangunan kompleks kilang raksasa ini menemui banyak kendala. Seperti pembebasan lahan, perizinan hingga penyelesaian kontrak. Proyek ini juga sempat termasuk dalam daftar Rp 708 triliun investasi yang mangkrak.

Padahal, Kilang Tuban masuk dalam proyek infrastruktur prioritas sejak masa kabinet pertama Presiden Joko Widodo. Hingga pada awal 2020, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, ikut menangani pembebasan lahan bersama Pemprov Jawa Timur, Pemkab Tuban serta Pertamina.

Kilang Tuban nantinya akan menjadi salah satu kilang tercanggih di dunia yang memiliki kapasitas pengolahan sebesar 300 ribu barel per hari, yang akan menghasilkan 30 juta liter BBM per hari untuk jenis gasoline dan diesel.

Saat ini, Pertamina Rosneft tengah menyiapkan pembebasan lahan tahap 4 yang akan dilakukan pada akhir Februari 2021. Pertamina Rosneft juga sedang mempersiapkan lelang untuk reklamasi laut Tuban.

(Sumber: kompas.tv)

Agar Rumah Tangga tetap Hangat di Masa Pandemi

0

Nukilan.id – Bagi sebagian orang, menjalani keseharian bersama pasangan di rumah saja selama pandemi Covid-19 memang tidak mudah.

Bukannya hubungan rumah tangga semakin romantis, interaksi yang terlalu sering malah membuat pasangan suami-istri banyak bertengkar.

Tetapi menurut psikolog, hal demikian adalah hal yang wajar.

Adalah Christ Kraft, Ph. D, psikolog dan pakar hubungan dan seksualtas yang dikutip dari hopkinsmedicine.comyang mengatakan demikian.

Menurutnya, konflik rumah tangga selama masa pandemi Covid-19 memang wajar terjadi karena perasaan jenuh dengan pasangan.

Memang pada awal-awal pandemi kebersamaan dengan pasangan selama 24 jam menjadi hal yang menyenangkan.

Tapi, seiring berjalannya waktu, berbagai perasaan negatif bisa muncul. Kebosanan salah satunya.

Beberapa orang juga mengalami cabin fever sendiri atau perasaan negatif yang muncul akibat terlalu lama isolasi di rumah atau tempat tertentu.

Namun terdapat cara-cara yang dapat dilakukan untuk membuat hubungan rumah tangga selama pandemi jadi lebih romantis.

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut caranya:

1. Meluangkan Waktu Sendiri

Meski tinggal bersama dengan pasangan, namun sebaiknya tetap sisipkan waktu untuk diri sendiri atau me time.

Me time dapat membuat kita jadi mudah untuk mengendalikan emosi dari konflik yang sering terjadi. 

Waktu me time ini juga berguna bagi masing-masing untuk melakukan perawatan diri.

Tak hanya itu, me time juga memberikan ruang bagi kita untuk melakukan kegiatan yang kita sukai dan mengenal diri kita lebih dalam.

Saat sudah sama-sama melakukan me time, kita akan merasa senang dan bahagia. Begitu juga dengan pasangan.

Dengan demikian saat bertemu pasangan setelah itu, hubungan pun bisa jadi lebih romantis.

2. Mencoba Hal Baru dengan Pasangan

Jika sebelum pandemi masing-masing lebih banyak sibuk dengan kegiatan masing-masing, kini pasangan jadi punya banyak waktu luang yang bisa dihabiskan bersama.

Lakukanlah hal baru dengan pasangan, seperti olahraga bersama, masak, atau melakukan makan malam romantis ala rumahan.

Dengan melakukan hal yang menyenangkan secara bersama dapat membuat pasangan menjadi kenal lebih dalam satu sama lain.

Selain itu, kegiatan yang menyenangkan juga dapat menurunkan tingkat stres selama pandemi dan menjaga daya tahan tubuh. 

3. Rutin Bercinta

Perasaan negatif seperti cemas dan stres selama pandemi Covid-19 sering menghantui kita.

Hal ini membuat sebagian orang kehilangan hasrat seksualitasnya. 

Tak hanya itu, terkadang kita juga lupa menjaga hubungan intim dan kemesraan dengan pasangan.

Padahal, menurut Dr. dr. Hudi Winarso, M.Kes., Sp.And, berhubungan intim dengan pasangan dapat mencegah pertengkaran di rumah.

Berhubungan intim dapat meningkatkan daya tahan tubuh selama pandemi Covid-19. 

4. Menjaga komunikasi tetap baik

Rasa jenuh pada pasangan sebaiknya jangan dipendam, tetapi diutarakan langsung untuk bersama-sama dicarikan solusinya.

Dengan begini, pasangan dapat semakin memahami satu sama lain.

(Sumber: parapuan.co)