Beranda blog Halaman 217

Hutan untuk Siapa? Ketika Janji Prabowo Bertabrakan dengan Kenyataan

0
Ilustrasi Deforestasi (Foto: Ilustrasi/proxsisgroup)

NUKILAN.ID | OPINI – Presiden Prabowo Subianto kerap tampil sebagai orator yang berapi-api. Di berbagai forum nasional maupun internasional, ia dengan gagah menegaskan bahwa kekayaan negara tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang. Narasi ini tak ayal membangkitkan harapan publik: bahwa ada keberpihakan pada rakyat kecil dan bahwa era keadilan sosial benar-benar akan dimulai.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa semangat perubahan itu masih terjerembap di liang praktik-praktik lama. Pemerintah saat ini justru terlihat semakin aktif membagi-bagikan kawasan hutan kepada para pemodal besar melalui skema perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH), istilah baru yang menggantikan hak pengusahaan hutan (HPH). Hingga akhir 2023, sebanyak 152 pemohon tercatat mengincar konsesi seluas 4,8 juta hektare—luas yang setara dengan gabungan Provinsi Jawa Barat dan Banten.

Alih-alih didistribusikan untuk kepentingan masyarakat adat atau koperasi lokal, konsesi-konsesi ini justru lebih banyak mengalir ke korporasi yang sudah sejak lama menikmati kue kehutanan. Di Papua Barat dan Papua Barat Daya, misalnya, terdapat dua perusahaan—PT Salawati Hijau Lestari dan PT Sorong Hijau Ekosistem—yang mendapat konsesi 150.000 hektare. Kedua perusahaan ini dimiliki oleh Angelia Bonaventur Sudirman, cucu dari pendiri Grup Surya Dumai, yang saat ini mengendalikan perusahaan sawit raksasa di Singapura.

Ini bukan sekadar cerita tentang distribusi lahan, tapi juga tentang arah dan watak kekuasaan. Pemerintah memang menyebut bahwa izin PBPH kali ini bukan untuk eksploitasi kayu seperti di masa Orde Baru, melainkan untuk mendukung perdagangan karbon. Program ini diklaim sebagai upaya menjaga kelestarian hutan sekaligus memanfaatkan potensi ekonomi dari siklus karbon global.

Namun, di sinilah letak paradoksnya.

Perdagangan karbon, tanpa sistem yang transparan dan adil, justru membuka pintu baru bagi praktik greenwashing—mencuci dosa emisi lewat kompensasi palsu yang justru memperpanjang napas industri perusak lingkungan. Apalagi jika pengelolaan karbon hanya dijalankan oleh raksasa-raksasa sektor kehutanan, sawit, dan tambang. Maka manfaat lingkungan yang dijanjikan hanya akan jadi ilusi, sementara masyarakat adat dan komunitas lokal kembali jadi penonton.

Liputan Tempo mencatat ada 67 perusahaan yang mengajukan izin baru di area yang mengiris 310.000 hektare wilayah adat milik 37 komunitas adat. Ini bukan sekadar pengabaian terhadap hak masyarakat adat, tetapi pelanggaran terhadap prinsip keadilan ekologis dan distribusi ekonomi. Pemerintah bahkan menyulitkan publik mengakses informasi soal PBPH. Sistem informasi geospasial yang dulu digadang-gadang sebagai bukti keterbukaan, kini tak lagi berfungsi maksimal. Informasi soal luas area, jenis usaha, hingga nomor izin tidak bisa diakses publik. Sejak Mei 2024, Kementerian Kehutanan bahkan mengklasifikasikan proses PBPH sebagai informasi yang dikecualikan dari keterbukaan.

Di sisi lain, pemerintah melalui Undang-Undang Cipta Kerja membuka peluang multiusaha kehutanan. Dalam satu area konsesi, pelaku usaha bisa menjalankan beragam kegiatan—dari budidaya, wisata, hingga ekstraksi hasil hutan bukan kayu. Di atas kertas terlihat fleksibel, namun dalam praktiknya, ini justru menyuburkan potensi penyalahgunaan izin, konflik lahan, hingga degradasi lingkungan.

Yang lebih menyedihkan: pemerintah justru menempatkan sektor kehutanan dalam kategori industri berisiko tinggi. Seharusnya, risiko tinggi ini diikuti dengan tata kelola yang makin transparan dan akuntabel. Bukan sebaliknya.

Presiden Prabowo tidak boleh tinggal diam. Jika ia konsisten dengan ucapannya—bahwa negara ini bukan milik segelintir orang—maka ia harus segera mengoreksi arah kebijakan PBPH. Perlu ada moratorium sementara, audit menyeluruh, serta pelibatan masyarakat sipil dan komunitas adat dalam proses perizinan. Jangan sampai program ini hanya menjadi ladang baru bagi oligarki lama.

Presiden Joko Widodo pernah berujar, “We walk the talk, not only talk the talk.” Sayangnya, pidato itu kini lebih sering menjadi olok-olok ketimbang inspirasi. Jangan sampai Prabowo mengulang kesalahan yang sama: menjadi pemimpin yang hanya bicara lantang di podium, tapi bungkam ketika kebijakan nyata justru menyimpang dari semangat keadilan.

Kini, saatnya Prabowo membuktikan: apakah ia benar-benar berdiri untuk rakyat, atau sekadar bayangan dari sistem lama yang terus memihak segelintir elite. Jika tidak, sejarah akan mencatatnya sebagai pemimpin yang gagal menepati janji, dan hanya memperluas kesenjangan atas nama hutan dan perubahan iklim. (xrq)

Reporter: Akil

Guru MAN 3 Banda Aceh Jadi Pemateri di Forum Internasional Mazhab Syafi’i di Brunei

0
Guru MAN 3 Banda Aceh Jadi Pemateri di Forum Internasional Mazhab Syafi'i di Brunei. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Prestasi membanggakan datang dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Banda Aceh. Salah satu guru di sekolah tersebut, Dr. Sayuthi, dipercaya menjadi pemateri dalam Persidangan Antarbangsa Mazhab Syafi’i yang berlangsung di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, awal Juni 2025 lalu.

Kegiatan ilmiah bertaraf internasional ini mempertemukan para cendekiawan, peneliti, dan akademisi dari berbagai negara yang konsen terhadap pengembangan pemikiran Mazhab Syafi’i, mazhab yang paling dominan dianut di kawasan Asia Tenggara.

Dalam kesempatan itu, Dr. Sayuthi—yang mengajar mata pelajaran fikih di MAN 3 Banda Aceh—memaparkan makalah berjudul “RESOLVING INHERITANCE DISPUTES AND THEIR LEGAL IMPACT (EFFORT TO ACHIEVE PEACE THROUGH CUSTOMARY COURTS IN ACEH)”.

Dalam presentasinya, ia menyoroti praktik penyelesaian sengketa warisan di Aceh yang kental dengan pendekatan Mazhab Syafi’i dan terintegrasi dengan adat-istiadat lokal. Menurutnya, masyarakat Aceh cenderung memilih jalur non-litigasi yang diselesaikan melalui lembaga adat ketimbang melalui pengadilan formal.

Ia juga menegaskan bahwa pendekatan ini sejalan dengan nilai-nilai filosofis dalam hadih maja Aceh yang berbunyi: “Pantang peudeung melintueng sarong, pantang rincong meulinteung mata, pantang ureueng ta teu’oh kawon, pantang hukom geupeukara.”

Pandangan ini sejalan dengan pemikirannya yang tertuang dalam buku berjudul “Warisan dan Islam: Membongkar Perspektif Kesetaraan Gender”.

Kepala MAN 3 Banda Aceh, Junaidi Ibas, S.Ag., M.Si., mengapresiasi pencapaian tersebut. “Kami sangat bangga, karena ini menunjukkan bahwa guru-guru kita tidak hanya aktif di dalam kelas, tetapi juga mampu berkontribusi dalam forum ilmiah internasional,” ujarnya.

Persidangan ini tidak hanya menjadi ajang bertukar gagasan, tetapi juga wadah mempererat kolaborasi antarnegara dalam pelestarian dan pengembangan kajian Mazhab Syafi’i. Kehadiran guru dari Aceh menjadi simbol pentingnya peran pendidikan menengah dalam merawat kesinambungan tradisi keilmuan Islam di tengah arus modernisasi.

Editor: Akil

Aceh Tengah Luncurkan Sekolah Lansia untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Tua

0
Aceh Tengah Luncurkan Sekolah Lansia untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Tua. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | TAKENGON Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah resmi meluncurkan Sekolah Lansia di Kampung Gunung Singit, Kecamatan Silih Nara, pada Rabu (4/6/2025). Program ini diresmikan langsung oleh Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas hidup warga lanjut usia (lansia).

Dalam sambutannya, Bupati Haili menegaskan bahwa kehadiran Sekolah Lansia merupakan langkah strategis untuk menciptakan keluarga yang berkualitas. Melalui kegiatan edukatif dan pemberdayaan, para lansia diharapkan bisa lebih aktif, mandiri, dan tetap produktif di usia senja.

“Karena program ini membutuhkan dukungan semua pihak,” kata Haili Yoga, menekankan pentingnya kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat dalam menyukseskan program ini.

Ia juga menambahkan, Sekolah Lansia sejalan dengan visi pembangunan daerah yang berupaya menghadirkan Kampung Keluarga Berkualitas secara menyeluruh. Dengan pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan, program ini diharapkan mampu memperkuat fondasi sosial di tengah masyarakat Aceh Tengah.

“Pemerintah Aceh Tengah terus berkomitmen untuk mendukung program yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat,” ujar Haili.

Dengan peluncuran ini, Aceh Tengah menjadi salah satu daerah yang aktif mendorong peran serta lansia dalam pembangunan, sekaligus menunjukkan bahwa usia lanjut bukanlah halangan untuk terus belajar dan berkontribusi bagi komunitas.

Editor: Akil

Prajurit TNI AL Selamatkan Warga Tenggelam di Perairan Aceh Selatan

0
Prajurit TNI AL Selamatkan Warga Tenggelam di Perairan Aceh Selatan. (Foto: Kompas)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Seorang warga bernama Wahyu berhasil diselamatkan oleh prajurit TNI Angkatan Laut (AL) setelah tenggelam dan terseret arus di perairan pantai Desa Padang Bakau, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (3/6/2025) dini hari.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 00.45 WIB saat Wahyu bersama rekannya, Ahmad, sedang mencari ikan di kawasan tersebut. Tak lama berselang, Ahmad terdengar berteriak meminta pertolongan kepada warga setelah melihat Wahyu terseret arus dan menghilang di laut.

Mendengar teriakan tersebut, warga segera menghubungi Pos Jaga Pangkalan TNI AL (Lanal) Simeulue.

“Selanjutnya, personel Lanal Simeulue atas nama Kld Bah Ilham Firmansyah yang sedang melaksanakan jaga menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya korban tenggelam,” tulis keterangan Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal), Kamis (5/6/2025).

Merespons laporan tersebut, Kld Bah Ilham Firmansyah bersama unsur gabungan dari BPBD Aceh Selatan dan masyarakat setempat langsung bergerak ke lokasi dan melakukan pencarian dengan menyusuri perairan di sekitar titik hilangnya korban.

Beberapa waktu kemudian, Wahyu berhasil ditemukan dalam kondisi setengah sadar.

Korban kemudian dievakuasi ke daratan dan dilarikan ke Puskesmas terdekat guna mendapatkan penanganan medis. Saat ini, kondisi Wahyu telah sadar dan mulai membaik.

Komandan Lanal Simeulue, Letkol Laut (P) Oyu Mulia Sukmana, menegaskan bahwa keselamatan warga di wilayah kerja Lanal Simeulue menjadi prioritas utama. Ia juga mengimbau masyarakat agar selalu menggunakan alat keselamatan, seperti pelampung, saat melakukan aktivitas di laut.

Aksi cepat tanggap prajurit TNI AL dinilai sebagai wujud nyata komitmen TNI AL dalam menjaga keselamatan masyarakat di wilayah pesisir dan perairan.

“Hal ini sejalan dengan penekanan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali yang menegaskan bahwa prajurit TNI AL harus senantiasa hadir dan responsif terhadap situasi darurat, terutama yang terjadi di wilayah perairan, menjalin sinergi dengan instansi lain sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa dan negara,” ungkapnya.

Editor: Akil

Turki Salurkan 150 Hewan Kurban untuk Warga Aceh

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Turkiye Diyanet Vakfi (TDV), lembaga keagamaan yang bernaung di bawah Direktorat Kementerian Agama Turki, kembali menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat Aceh dengan menyalurkan 150 ekor hewan kurban. Bantuan ini disalurkan kepada warga di empat kabupaten/kota, yakni Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie Jaya, dan Aceh Jaya.

Penyembelihan hewan kurban tersebut dipusatkan di Gampong Lagang, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, pada Jumat, 6 Juni 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program solidaritas kemanusiaan tahunan yang dijalankan TDV bekerja sama dengan Aksen Foundation.

Prosesi penyerahan bantuan turut dihadiri perwakilan TDV Turki, Harun; perwakilan Aksen Foundation, Faisal; tokoh masyarakat Aceh, Husaini Ismail; serta Ketua DPRK Aceh Besar, Abdul Mukti, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Aceh Besar.

Dalam sambutannya, Harun menegaskan bahwa ikatan antara Turki dan Aceh sudah terjalin sejak lama dan bukan sekadar hubungan antarnegara.

“Hubungan antara Turki dan Aceh tidak bisa dipisahkan. Walau dipisahkan jarak, hati kami selalu dekat dengan Aceh. Kami mengikuti kabar dari sini, dan setiap kebahagiaan masyarakat Aceh juga menjadi kebahagiaan rakyat Turki,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa program kurban ini bukan hanya bentuk pelaksanaan ibadah, tetapi sekaligus menjadi simbol nyata solidaritas umat Islam lintas negara.

Ketua DPRK Aceh Besar, Abdul Mukti, dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian dan kepedulian pemerintah serta rakyat Turki kepada masyarakat Aceh.

“Kami sangat bersyukur atas kepedulian yang terus-menerus ditunjukkan oleh rakyat Turki. Semoga hubungan ini tidak berhenti di sini, tapi terus berlanjut dan semakin erat ke depan,” ujarnya.

Abdul Mukti memastikan bahwa pendistribusian daging kurban akan dilakukan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

“Semoga semangat persaudaraan antara Aceh dan Turki terus tumbuh dan memberi manfaat lintas generasi,” katanya.

Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama dan pembagian simbolis daging kurban kepada perwakilan masyarakat. Suasana haru dan penuh kebahagiaan mewarnai acara, yang tak hanya meringankan beban masyarakat menjelang Iduladha, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antara dua wilayah yang terpisah jarak namun dekat di hati.

Editor: Akil

Warga Pilih Salat Ied di Masjid Oman, BKM Sampaikan Terima Kasih

0
Ribuan jemaah memadati Masjid Oman Al-Makmur, Kampung Bandar Baru, Banda Aceh, untuk melaksanakan Salat Idul Adha 1446 Hijriah yang jatuh pada Jumat (6/6/2025). (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ribuan jemaah memadati Masjid Oman Al-Makmur, Kampung Bandar Baru, Banda Aceh, untuk melaksanakan Salat Idul Adha 1446 Hijriah yang jatuh pada Jumat (6/6/2025). Sebelum pelaksanaan salat, Badan Kemakmuran Masjid (BKM) menyampaikan informasi penting terkait kurban tahun ini.

Amatan Nukilan.id, salah satu pengurus BKM Masjid Oman menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat yang telah memilih Masjid Oman sebagai tempat pelaksanaan ibadah Idul Adha. Dalam pengumumannya, disebutkan bahwa sebanyak 21 ekor sapi dan 5 ekor kambing telah terkumpul dari warga Kampung Bandar Baru untuk kurban tahun ini.

“Alhamdulillah, tahun ini Kampung Bandar Baru berhasil mengumpulkan 21 hewan kurban, terdiri dari 17 ekor sapi di Masjid Oman dan 4 ekor sapi di Masjid Al-Fitra PHB Gampong Bandar Baru. Selain itu, 5 ekor kambing juga telah didaftarkan untuk disembelih,” ujar pengurus BKM dari mimbar pengumuman.

Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dijadwalkan pada Sabtu, 7 Juni 2025, dan akan dipusatkan di lapangan basket Kampung Bandar Baru, tepatnya di depan kantor kecil Gampong Bandar Baru. Proses penyembelihan dimulai pukul 06.30 WIB hingga selesai.

BKM juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyumbangkan hewan kurban berupa kambing atau domba. Biaya pemotongan untuk hewan jenis ini ditetapkan sebesar Rp250.000.

“Jemaah yang hendak berkurban kambing atau domba bisa langsung mengantarkan hewannya ke lokasi pemotongan,” ujar pengumum tersebut.

Suasana Idul Adha di Masjid Oman Al-Makmur tampak khidmat dan penuh kekeluargaan. Sejak pagi, jemaah dari berbagai penjuru mulai berdatangan, memenuhi halaman masjid dan jalan-jalan sekitarnya. Tak hanya sebagai momen ibadah, Idul Adha juga menjadi ajang silaturahmi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. (XRQ)

Reporter: Akil

Ustaz Muhajir Ajak Jemaah Masjid Oman Al-Makmur Teladani Ketaatan Nabi Ibrahim

0
Ilustrasi. (Foto: lamanriau)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ribuan umat Islam memadati halaman Masjid Oman Al-Makmur, Banda Aceh, Jumat (6/6/2025) pagi, untuk menunaikan Salat Idul Adha 1446 Hijriah. Di bawah langit Banda Aceh yang cerah, gema takbir dan lantunan tahmid berkumandang mengiringi pelaksanaan ibadah yang berlangsung khidmat.

Ustaz Muhammad Muhajir Syarifuddin, Lc., MA. bertindak sebagai khatib dalam salat ied kali ini. Amatan Nukilan.id, dalam khutbahnya, ia mengingatkan makna terdalam dari pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan pentingnya menumbuhkan kembali ketaatan tanpa syarat dalam kehidupan umat Islam hari ini.

“Inilah yang hilang dari kita hari ini, jemaah. Meja kerja kita, rumah tangga kita, bahkan fasilitas pendidikan dan olahraga kita—semuanya berjalan tanpa kehadiran Allah,” seru Ustaz Muhajir di hadapan ribuan jamaah yang memadati seluruh area masjid, termasuk hingga ke halaman dan badan jalan.

Nikmat Pilihan dan Kemuliaan Zulhijah

Di awal khutbahnya, Ustaz Muhajir menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat pilihan, yakni ketika seseorang dipilih oleh Allah untuk berada di waktu, tempat, dan keadaan yang mulia. Ia menyebutkan keistimewaan 10 hari pertama Zulhijah, sebagaimana Rasulullah menyatakan bahwa tidak ada amal saleh yang lebih dicintai Allah selain yang dilakukan di hari-hari tersebut.

“Kalau kalian tahu bagaimana cinta Rabb kalian kepada kalian, sungguh kalian akan meleleh dengan cinta,” ujar sang khatib, mengutip pandangan Imam Ibnul Qayyim.

Ia juga menyinggung Hari Arafah, yang disebut Rasulullah sebagai hari paling banyak Allah memerdekakan hamba-Nya dari api neraka. Hari itu, kata dia, merupakan momentum doa dan ampunan luar biasa bagi umat Islam yang memahami nilainya.

Ibrahim: Simbol Ketaatan dan Pengorbanan

Pesan utama dalam khutbah Idul Adha ini berpusat pada keteladanan Nabi Ibrahim AS. Ustaz Muhajir menekankan bahwa ketaatan Ibrahim merupakan simbol pengabdian tanpa syarat kepada perintah Allah, bahkan ketika perintah itu melampaui logika manusia.

Ia mengingatkan, perintah Allah kepada Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di tanah tandus, atau menyembelih anaknya sendiri, menjadi teladan tak terbantahkan tentang bagaimana seorang hamba sepenuhnya tunduk kepada kehendak Tuhannya.

“Ini yang hilang dari kita. Kita main hitung-hitungan sama Allah. Kita jadikan panggilan sederhana seperti azan menjadi berat,” kata Ustaz Muhajir dengan nada mengkritik diri.

Khutbah itu pun membawa jamaah menengok kembali sejarah Perang Uhud, saat para sahabat Nabi Muhammad SAW bangkit kembali meski tubuh mereka terluka parah, demi menjawab panggilan jihad. Ia mengaitkan kisah tersebut dengan realitas umat Islam masa kini yang mudah beralasan untuk menjauhi salat dan ibadah lain.

Ketergantungan kepada Allah

Khutbah kemudian ditutup dengan seruan untuk menumbuhkan kembali sifat tawakal dan ketergantungan mutlak kepada Allah, seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim dalam berbagai ujian berat yang ia hadapi.

Ia menyinggung dialog antara Siti Hajar dan Nabi Ibrahim ketika ditinggalkan di lembah tandus tanpa bekal.

“Kalau Allah yang memerintahkan, tidak mungkin Allah membiarkan kami sia-sia,” ujar sang khatib mengutip kalimat penuh keyakinan dari Siti Hajar, yang menjadi simbol kepercayaan mutlak terhadap janji Allah.

Khutbah yang disampaikan selama lebih dari 30 menit itu ditutup dengan takbir dan doa, yang diikuti penuh haru oleh para jamaah. Usai salat, banyak warga melanjutkan hari raya dengan menyembelih hewan kurban dan bersilaturahmi ke rumah-rumah keluarga. (xrq)

Reporter: Akil

Kakanwil Kemenag Aceh Ajak Jamaah Sembelih Ego dan Tebar Kepedulian

0
Kakanwil Kemenag Aceh Ajak Jamaah Sembelih Ego dan Tebar Kepedulian. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Aceh, Drs H Azhari MSi, bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan Shalat Idul Adha 1446 H yang digelar di Lapangan Tugu, kawasan Masjid Jamik Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Jumat (6/6/2025).

Dalam khutbah yang bertajuk “Qurban dan Kesalehan Sosial: Menyembelih Ego, Menebar Kepedulian”, Azhari mengajak seluruh jamaah untuk memaknai qurban bukan hanya sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi sebagai upaya spiritual untuk membentuk keikhlasan, ketundukan, serta kepedulian terhadap sesama.

Disampaikan dengan penuh keteduhan dan semangat keagamaan, khutbah Azhari menekankan bahwa qurban sejatinya adalah latihan ruhani yang mengajarkan umat untuk menundukkan ego dan membangkitkan empati.

“Qurban adalah simbol ketakwaan dan ketaatan, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Tetapi lebih dari itu, qurban adalah momentum untuk membebaskan diri dari keakuan, keserakahan, dan cinta dunia yang berlebihan,” ujarnya di hadapan ratusan jamaah.

Azhari juga mengingatkan bahwa inti dari ibadah qurban bukanlah daging dan darah hewan yang disembelih, melainkan ketaatan dan ketakwaan yang tercermin dalam tindakan nyata membantu sesama. Ia pun mengutip Surah Al-Hajj ayat 37 sebagai landasan pesan spiritual tersebut.

“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian,” katanya.

Menanggapi kondisi sosial saat ini yang cenderung individualistik dan materialistik, Azhari menyebut ibadah qurban sebagai bentuk kritik spiritual atas sikap tidak peduli terhadap sesama. Ia mengajak umat menjadikan momentum ini untuk menumbuhkan solidaritas sosial dan mengikis sifat egoistik.

“Qurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi soal menyembelih kesombongan, keangkuhan sosial, dan kemalasan untuk berbagi. Inilah qurban batiniah yang harus kita latih setiap saat,” lanjutnya.

Pada malam sebelumnya, Azhari turut hadir melepas pawai takbiran di halaman Masjid Raya Baiturrahman, menunjukkan semangat kebersamaan yang terus dijaga.

Kepada umat Islam yang belum mampu berqurban, Azhari turut menyampaikan pesan penyejuk. Ia menegaskan bahwa bentuk ibadah sosial tidak melulu berupa hewan qurban. Banyak jalan lain untuk menebar kebaikan.

“Berbuat kebaikan sesuai dengan kemampuan dan kemudahan yang kita miliki, yang penting kita terus menanam dan menebar kebaikan,” katanya.

Di akhir khutbahnya, Azhari mengajak para jamaah untuk tidak membatasi ibadah dalam ruang masjid semata, tetapi membawanya ke ruang-ruang sosial kehidupan.

“Jangan biarkan ibadah kita hanya berputar di masjid. Pancarkan keberkahan ibadah itu ke dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

Usai pelaksanaan shalat yang berlangsung khidmat itu, Kakanwil turut bersilaturahmi ke kediaman dinas Rektor USK, Prof Dr Marwan IPU.

Editor: Akil

Polres Aceh Barat Ikut Panen Raya Jagung Nasional

0
Polres Aceh Barat Ikut Panen Raya Jagung Nasional. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | Meulaboh – Kepolisian Resor (Polres) Aceh Barat turut ambil bagian dalam panen raya jagung serentak kuartal II yang merupakan bagian dari program Astacita Presiden RI Prabowo Subianto. Kegiatan ini berlangsung di lahan perkebunan PT Karya Tanah Subur, Kecamatan Kaway XVI, Kamis (5/6/2025).

Panen raya ini diawali dengan pengarahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo melalui sambungan zoom meeting dari Kalimantan. Acara juga dihadiri sejumlah unsur Forkopimda Aceh Barat, mulai dari Bupati, Wakil Bupati, Dandim 0105/Aceh Barat, Ketua DPRK, Kepala Bulog Meulaboh, Kadis Pertanian, hingga para camat.

Kapolres Aceh Barat, AKBP Yhogi Hadisetiawan, S.I.K., M.I.K., menyampaikan bahwa panen serentak kuartal II ini dilakukan di lahan seluas 11 hektare. Dari jumlah tersebut, dua hektare berada di lokasi panen saat ini, sementara sembilan hektare lainnya tersebar di titik lain.

“Kita di Aceh Barat hari ini melaksanakan panen raya serentak kuartal II dengan luas 11 hektare. Di titik ini 2 hektare dan 9 hektare berada di lokasi lain,” ujar AKBP Yhogi di sela kegiatan panen.

Menurut Kapolres, hingga saat ini total luas lahan jagung yang telah ditanam di wilayah Aceh Barat mencapai 55,2 hektare, dan sebagian di antaranya sudah mulai dipanen. Sambil menanti panen dari lahan lainnya, pihaknya aktif berkoordinasi dengan Bulog Meulaboh untuk memastikan ketersediaan pasar bagi hasil panen para petani.

Meski begitu, ia mengakui bahwa akses pasar masih menjadi tantangan tersendiri bagi para petani, terutama karena belum tersedianya industri hilir yang mampu menyerap hasil produksi jagung dalam jumlah besar.

“Kita berharap program ini tentunya seperti diharapkan bapak Presiden, namun tantangan akses industry hilir ini yang sudah kita bicarakan dengan pak Bupati tadi, strateginya seperti apa,” ujarnya.

Dalam diskusi bersama Bulog, Dandim, dan Bupati Aceh Barat, sejumlah opsi mulai dibahas. Salah satunya adalah menjalin kemitraan dengan industri pakan ternak agar jagung petani dapat terserap maksimal. Selain itu, disiapkan pula skema pengadaan alat drayer (pengering jagung) untuk memudahkan petani menjual hasil panen mereka.

AKBP Yhogi optimistis para petani di Aceh Barat akan segera terbebas dari kendala pemasaran, seiring upaya sinergis lintas sektor yang kini tengah dilakukan.

Editor: Akil

Polda Aceh Bangun Gudang Ketahanan Pangan Kapasitas Seribu Ton di SPN Aceh Besar

0
Polda Aceh. (Foto: Kiriman untuk Nukilan)

NUKILAN.ID | Jantho – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh memulai pembangunan gedung ketahanan pangan tipe 654 di lahan seluas 5.000 meter persegi yang terletak di Kompleks Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Aceh, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.

Pembangunan gedung berkapasitas penyimpanan seribu ton bahan pangan strategis ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Kapolda Aceh, Irjen Pol Dr. Achmad Kartiko, usai menghadiri secara virtual acara ground breaking Gudang Ketahanan Pangan Polri, Kamis (5/6/2025).

Dalam sambutannya, Irjen Achmad Kartiko menegaskan pentingnya program ketahanan pangan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas nasional.

“Program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Presiden ini bukanlah sekadar persoalan ekonomi atau pertanian semata, tetapi pilar strategis dalam menjaga stabilitas bangsa, baik dalam aspek sosial, keamanan, maupun pertahanan negara,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Polri turut mengambil peran aktif dalam mendukung program ketahanan pangan nasional dengan menghadirkan fasilitas penyimpanan strategis di wilayah yang memiliki potensi pertanian besar, seperti Provinsi Aceh.

“Pembangunan gudang ini merupakan bentuk keseriusan dan kontribusi Polda Aceh terhadap ketahanan pangan. Lokasi pembangunan berada di lahan milik Polri, yang berada di kompleks SPN Polda Aceh, dengan luas lahan 5.000 meter persegi. Di atas lahan tersebut akan dibangun gudang tipe 654, yang dirancang dengan kapasitas penyimpanan mencapai 1.000 ton bahan pangan strategis, seperti jagung dan kebutuhan pokok lainnya,” lanjutnya.

Jenderal bintang dua lulusan Akabri 1991 itu juga menekankan bahwa pembangunan ini merupakan bagian dari ekosistem ketahanan pangan berbasis sinergi.

“Pembangunan gudang ini bukanlah proyek yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari ekosistem besar yang ingin kita bangun bersama Pemerintah Daerah, TNI-Polri, dan petani, serta ekosistem pangan yang berbasis sinergi, pemberdayaan, dan kemandirian,” jelasnya.

Menurutnya, Polda Aceh ke depan akan berperan sebagai fasilitator distribusi pangan, penggerak produksi berbasis kemitraan, hingga pengawas potensi penyimpangan dalam sistem logistik.

“Melalui fasilitas ini, Polda Aceh bertekad untuk memaksimalkan peran sebagai fasilitator distribusi pangan, penggerak produksi pangan berbasis kemitraan, serta pengawas terhadap potensi pelanggaran dalam sistem logistik pangan. Polri tidak hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam pemecahan masalah nyata di tengah masyarakat melalui pendekatan humanis dan solutif,” ujarnya lagi.

Kapolda juga memastikan bahwa fasilitas gudang tersebut akan mendukung banyak pihak lintas sektor, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat sekitar dalam situasi darurat.

“Fungsi gudang tersebut tidak semata-mata untuk kepentingan institusi Polri, tetapi juga dibuka untuk mendukung kegiatan lintas sektor, seperti pengelolaan cadangan pangan oleh Pemerintah Daerah, distribusi logistik oleh instansi terkait, dan pemanfaatan dalam kondisi darurat oleh masyarakat sekitar,” jelasnya.

“Ini sejalan dengan semangat kolaboratif Polri sebagai pengayom dan pelindung masyarakat, serta sebagai mitra strategis dalam membangun ketahanan nasional dari sektor paling dasar, yaitu ketersediaan pangan,” tambah Kapolda Aceh.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan gudang tersebut.

“Mari kita bekerja sama, sama-sama bekerja dalam mendukung pembangunan ini agar berjalan dengan lancar, tepat waktu, tepat mutu, serta mampu memberikan manfaat yang besar dan berkelanjutan bagi masyarakat Aceh,” pungkasnya.

Editor: Akil