Beranda blog Halaman 1719

Kemendagri Lakukan Pemeriksaan Tahap Akhir Calon Pj Gubernur

0
Ilustrasi Pj Gubernur. (Foto: repro)

Nukilan.id – Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Benny Irwan mengatakan, pihaknya sedang melakukan pemeriksaan tahap akhir untuk para calon penjabat (Pj) Gubernur pengganti tujuh kepala daerah yang masa jabatannya habis tahun ini.

Sebagaimana diketahui, ada tujuh Gubernur yang akan berakhir masa jabatannya pada 2022.

“Untuk (pj) Gubernur sama, saat ini sedang dalam masa tahap akhir review,” ujar Benny saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (6/5/2022).

Benny juga menjelaskan, sebagian besar daerah yang masa jabatan kepala daerahnya akan habis telah mengusulkan calon penjabat (pj) Bupati dan Wali Kota. Kemendagri sedang melakukan evaluasi atas usulan dari daerah tersebut.

“Sebagian besar daerah sudah mengusulkan calon pj Bupati dan Wali Kota. Saat ini Kemendagri melalui Dirjen Otonomi Daerah sedang me-review usulan tersebut satu-persatu sebelum diteruskan kepada presiden,” ungkap Benny.

Adapun masa jabatan 101 kepala daerah akan habis pada tahun ini. Dari 101 kepala daerah itu, tujuh di antaranya adalah gubernur. Mengenai kondisi ini, Benny Irwan dalam wawancara pada 3 Januari lalu menyatakan, kekosongan jabatan 101 kepala daerah itu diselesaikan dengan pengangkatan penjabat kepala daerah.

Hal tersebut merujuk pada UU Nomor 10 Tahun 2016 yang telah disempurnakan menjadi UU Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota. Para penjabat Gubernur, Bupati, dan Wali Kota bertugas hingga terpilihnya kepala daerah definitif melalui Pilkada serentak 2024. (Kompas.com)

Ahyadin Apresiasi Capaian Kota Banda Aceh Dalam Indeks Pembangunan Manusia

0

Nukilan.id – Capaian gemilang kota Banda Aceh dalam indeks pembangunan manusia menjadi catatan penting untuk kemajuan Aceh di masa mendatang.

“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2021 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Banda Aceh berhasil menempati posisi kedua setelah Yogyakarta dengan poin 85,71, berada di bawah Yogyakarta di posisi pertama dengan angka 87,18. Bahkan, IPM yang dibukukan Banda Aceh pun jauh di atas IPM Provinsi Aceh yakni 72,18 dan IPM Indonesia 72,29,” ungkap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Sain dan Teknologi Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI), Ahyadin Anshar, dalam keterangan tertulis kepada Nukilan.id Jum’at (06/05/2022).

Dia menjelaskan, hasil capaian kota Banda Aceh  tersebut berdasarkan pengukuran dari 514 Kabupaten/Kota se-Indonesia. Ibukota Provinsi Aceh ini pun tergolong daerah mandiri dan sejahtera. “Kita patut bersyukur, ternyata Banda Aceh kota hebat dalam pembangunan manusia. Capaian luar biasa ini patut kita acungi jempol,”ujarnya.

Dia meyakini, dengan pembangunan manusia yang luar biasa saat ini akan menjadi pondasi awal membangun generasi yang lebih gemilang di masa mendatang.

“Selamat buat Banda Aceh! kepedulian dan keseriusan pemerintah serta partisipatif yang tinggi dari masyarakat untuk terus maju menjadi poin penting sehingga Banda Aceh mampu membuktikan diri tampil teratas bersaing di tingkat nasional, ini tentunya jadi kebanggaan kita bersama,” kata Ahyaddin yang juga Humas Kaukus Peduli Aceh (KPA) itu.

Menurut Ahyaddin, peningkatan signifikan IPM Banda Aceh tidak terlepas dari keseriusan dan fokus pemerintah. Naiknya IPM Banda Aceh juga tak terlepas dari terus menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran. “Kita bisa lihat dari data BPS, angka kemiskinan 2017 7,44 persen, 2018 7,25, dan 2019 tersisa 7,22. Sementara pengangguran pada 2018 tinggal 7,29 persen, dan kini pada 2020 6,90 persen, turun jauh dari 12 persen pada 2015 silam. Jadi, angka kemiskinan dan pengangguran berbanding lurus dengan laju pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Banda Aceh naik dari 3,39 pada 201 7 menjadi 4,49 persen pada 2018 dan terus meningkat hingga 2022. Pendapatan per kapita juga naik dari Rp 64,2 juta menjadi Rp 66,2 juta per tahun. Kemudian inflasi juga turun dari 4,86 ke 1,93 persen,” jelasnya.

Tingkat kesejahteraan itu, kata Ahyaddin juga sangat berpengaruh terhadap laju pembangunan manusia. “Contoh sederhananya, dengan ekonomi yang meningkat maka orang tua akan mampu memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya. Jadi, strategi pemko Banda Aceh dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sehingga mampu mendorong laju pembangunan manusia sudah tepat, dan patu dijadikan contoh bagi daerah lainnya. Intinya, jika kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan, maka laju pembangunan manusia juga akan meningkat,” pungkasnya.[]

Banda Aceh Raih IPM Nomor 2 Se-Indonesia, FPMPA: Kota Hebat

0
Ketua FPMPA Muhammad Jasdi, (foto: Dok Ist)

Nukilan.id – Perolehan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) nomor 2 se Indonesia menunjukkan bahwa Banda Aceh adalah kota yang hebat dalam pembangunan manusia. Capaian IPM tertinggi kedua dari 514 kabupaten kota se-Indonesia menjadi indikator bahwa kepemimpinan Aminullah-Zainal berhasil dalam mewujudkan visi dan misinya untuk memajukan pendidikan dsn ekonomi.

Hal ini disampaikan oleh ketua Forum Paguyuban Mahasiswa dan Pemuda Aceh (FPMPA) Muhammad Jasdi kepada Nukilan.id Jum’at (6/5/2022).

Menurut pria yang akrab disapa Jhon Jasdi ini, capaian IPM 85,71 ini tentunya telah dilihat secara rinci berdasarkan tiga dimensi dasar IPM meliputi Umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. “Ini menunjukkan secara kesehatan, secara ilmu pengetahuan/pendidikan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat kota Banda Aceh diakui secara nasional dan keberhasilan pemerintah mewujudkan hal itu merupakan capaian yang gemilang,” ujarnya.

Jhon Jasdi mengatakan, keberhasilan Pemko Banda Aceh ini sudah seyogyanya menjadi role model yang dapat di contoh oleh pemerintah kabupaten/kota di Aceh, bahkan di Indonesia. “Di tengah kondisi sulit dikala pandemi covid-19 melanda, rata-rata daerah kebingungan dan mengalami kemunduran capaian, ternyata Banda Aceh terus berpacu hingga tampil menjadi terbaik kedua di nasional. Tentunya strategi khusus pemko Banda Aceh ini patut diapresiasi,” katanya.

Jhon Jasdi meyakini capaian ini merupakan salah satu indikator nyata bahwa Banda Aceh terus melakukan upaya maksimal dalam pembangunan manusia. “Capaian ini harus terus dipertahankan dan dimaksimalkan lagi ke depannya. Sebagai masyarakat wabil khusus kalangan muda kita siap menjadi garda terdepan untuk bersama-sama pemerintah dalam mengoptimalkan pembangunan manusia. Jika suatu daerah ekonominya baik, pembangunan manusianya optimal, sektor lainnya juga akan terus maju, insya Allah,” tutupnya.[]

Rafli Bantu 50 Juta untuk Masyarakat Samadua di Aceh Singkil

0

Nukilan.id – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia Rafli, menyerahkan bantuan sebesar Rp 50 juta untuk paguyuban masyarakat yang tergabung dalam Ikatan Masyarakat Samadua (Iksas) Aceh Selatan yang berdomisili di Aceh Singkil.

Penyerahan bantuan dana tersebut dilakukan seusai bersilaturrahmi antara pengurus masyarakat Samadua di Aceh Singkil dan Rafli Kande di kediamannya di Aceh Selatan.

Bantuan tersebut langsung diterima oleh Wakil Ketua IKSAS Herman didampingi Sekretaris Linda Syahputra.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua IKSAS Aceh Singkil Herman mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kepedulian  yang diberikan oleh Anggota DPR RI Rafli Kande yang juga sebagai putra asli Samadua yang dulu pernah sebagai anggota DPD RI asal Aceh.

Menurut Herman, bantuan tersebut akan bermanfaat untuk membantu kelancaran organisasi paguyuban IKSAS Aceh Singkil.

“Kami atas nama masyarakat Samadua di Aceh Singkil melakukan silaturrahmi dengan Rafli Kande anggota DPR RI dari partai PKS dan beliau memberikan sumbangan dana Rp 50 juta untuk pengadaan beberapa kebutuhan yang mendesak organisasi,” kata Herman dalam keterangan tertulis kepada Nukilan.id Kamis (5/5/2022).

Saat ini, kata Herman masyarakat asal Samadua Aceh Selatan yang berdomisili di Aceh Singkil lebih kurang 200 Kartu Keluarga (KK).

Turut hadir dalam pertemuan tersebut para pengurus IKSAS yang pulang kampung untuk berlebaran.[]

Objek Wisata Pulau Sabang Dipadati Pengunjung Selama Libur Lebaran

0
Wisatawan melakukan Snorkeling di pulau weh (Foto: Tripsabang)

Nukilan.id – Arus penyeberangan dari Pelabuhan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh ke Balohan, Kota Sabang, Provinsi Aceh padat dan membludak.

Ribuan wisatawan lokal Aceh dan dari berbagai provinsi di Sumatra hingga Pulau Jawa ramai-ramai mengunjungi banyak lokasi wisata bahari di Pulau Weh, Sabang yang dikenal sebagai titik Nol Indonesia.

Karena itu, sejak hari pertama, kesibukan layanan kapal penyeberangan setempat sangat sibuk mengangkut penumpang. Para pengunjung pun harus rela antre berjam-jam membeli tiket dan saat menaiki kapal.

Apalagi, mereka yang berlibur bersama keluarga dan membawa mobil pribadi. Tentu harus datang lebih awal.

Sesuai data yang diperoleh Media Indonesia, pada Rabu (4/5) dan Kamis (5/5), ribuan calon penumpang rela antrean untuk memdapati tiket kapal. Dalam sehari saja sekitar 1.200 orang menyeberang dengan tujuan pulau paling barat Indonesia tersebut.

Sebagian para wisatawan itu datang dari Sumatra Utara, Padang, Riau, Palembang, Lampung, dan Jakarta ingin menikmati keindahan alami bahari di ujung barat Indonesia tersebut.

Obyek wisata di Sabang antara lain adalah lokasi tugu nol kilometer Indonesia, Pantai Teluk Iboih, Pantai Gapang, dan Pelabuhan Internasional bebas Sabang.

“Ini mungkin  keinginan yang tergolong tertunda setelah dua tahun sepi karena covid-19. Bahkan ini mekebih tiga kali lipat dari jumlah pengunjung sebelum covid-19 melanda Indonesia,” kata petugas ASDP cabang Singkil Edi Saputra.

Untuk memenuhi kebutuhan pengunjung, ASDP harus menambah trip penyeberangan kapal Ferry. Begitu juga dengan kapal cepat Expres Bahari.

Tiga kapal ferry yang biasanya melayani Ulee Lheue, Banda Aceh-Balohan, Sabang sebanyak empat trip, kini bertambah hingga tujuh trip penyeberangan.

Sedangkan kapal cepat yang memiliki muatan 200 penumpang melayani hingga enam trip. Padahal biasanya hanya tiga trip pelayaran.

“Alhamdulilah ini menjadi awal kebangkitan ekonomi setelah covid-19 yang melanda Sabang sampai Merauke. Semua kita patut bersyukur dan jangan salah memanfaatkan rahmat Allah,” tutur Muhammad Haiqal, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. [Mediaindonesia]

Rayakan Lebaran di Aceh, Ria Ricis dan Teuku Ryan Rela Tempuh Perjalanan Selama 12 Jam

0
Teuku Ryan dan Ria Ricis rayakan lebaran di aceh (Foto: Instagram)

Nukilan.id – Tahun ini menjadi momen Hari Raya Idulfitri yang spesial bagi Ria Ricis. YouTuber yang satu ini merayakan hari besar bersama sang suami tercinta, Teuku Ryan.

Spesialnya lagi, adik aktris Oki Setiana Dewi ini merayakan Lebaran di kota asal sang suami di Aceh. Hal itu terlihat dari akun media sosial Instagram keduanya.

Dalam unggahan Instagram Story-nya, Ricis mengabarkan bahwa dia dan sang suami sudah berada di Langsa, Aceh. Perjalanan yang ditempuh dari Jakarta pun memakan waktu hampir 12 jam.

“Hampir 12 jam di perjalanan, dan akhirnya kami sampai di kota suami tercinta,” kata Ricis dikutip dari Instagram Story-nya, Senin (2/5/2022).

Pada momen Lebaran ini, Ricis dan Ryan terlihat kompak mengenakan busana bernuansa pink dan putih. “Taqabballahu minna wa minkum. Selamat lebaran semua,” tulis perempuan 26 tahun itu.

“Untuk suamiku, udah aku maafin kok,” kata Ria Ricis di keterangan fotonya.

Di platform yang sama, Ricis juga mengunggah momen kebersamaannya dengan keluarga sang suami. Mereka tampak berkumpul bersama dan menikmati hidangan khas Lebaran.

“Mohon maaf lahir dan batin,” tulisnya. [iNews]

Waspada, Tujuh kabupaten di Aceh Berstatus Siaga Banjir

0
Ilustrasi Hujan Lebat

Nukilan.id – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan tujuh kabupaten di Provinsi Aceh berstatus siaga banjir meningkatnya intensitas hujan dari level sedang ke hujan lebat.

Koordinator Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Aceh Besar Zakaria di Banda Aceh, Jumat, mengatakan tujuh kabupaten tersebut yakni Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Besar.

“Status daerah siaga ini kalau di daerah hulu sangat rawan terjadinya banjir bandang, kalau di daerah hilir berpotensi terjadinya banjir dan tanah longsor,” kata Zakaria.

Menurutnya, meningkatnya curah hujan yang terjadi di sejumlah daerah di Provinsi Aceh saat ini karena gangguan atmosfir siklon tropis di laut Andaman, India, karena terdapat pusaran angin.

Siklon tropis tersebut, kata dia, kemudian menyebabkan kecepatan arah angin melambat sehingga terjadinya belokan arah angin ke wilayah Aceh. Kemudian menyebabkan penumpukan uap air, sehingga potensi hujan lebat.

Dampak status daerah siaga tersebut juga menyebabkan adanya potensi tanah longsor di daerah tebing gunung. Dan apabila terjadinya hujan lebat, juga menyebabkan gangguan pandangan bagi pengguna jalan serta ruas jalan yang membahayakan pengguna jalan.

Zakaria juga menjelaskan, selain tujuh kabupaten di Aceh berstatus siaga, sebanyak 10 kabupaten/kota lainnya di Aceh juga berstatus waspada.

Ada pun daerah tersebut diantaranya Aceh Barat, Kota Subulussalam, Simeulue, Aceh Singkil, Gayo Lues, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Kabupaten Aceh Timur.

Zakaria mengatakan daerah yang berstatus waspada tersebut juga berpotensi terjadinya banjir luapan di sekitar daerah aliran sungai.

“Potensi tingginya curah hujan ini akan berlangsung hingga pertengahan Mei 2022,” kata Zakaria. [antara]

Strategi Mengurangi Limbah Makanan di Industri Pariwisata

0
Seorang warga melintasi tumpukan sampah sayur sayuran di Pasar Nagoya Jodoh Kota Batam. (Foto: Mongabay)

Nukilan.id – Industri hospitality dinilai sebagai salah satu sumber produsen makanan jadi limbah (food waste) yang sampai saat ini belum banyak ditanggulangi. Di sisi lain masih ada persoalan pembangunan berkelanjutan untuk mengatasi kelaparan dan kekurangan nutrisi.

Sejumlah peneliti berbagi hasil temuan dan strategi untuk mengurangi food waste dari usaha perjalanan wisata, akomodasi, dan resor-resor wisata berbasis pulau dalam webinar international: Food for Toughts, Waste Free Tourism. Dihelat 22 April 2022 oleh Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, dalam perayaan fakultas ke-37.

Viachaslau Filimonau dari School of Hospitality and Tourism Management University of Surrey, UK mengutip data UNEP 2021 menyebut 31% makanan jadi limbah. Jumlahnya sekitar 1,3 miliar ton per tahun (FAO 2021).

Hal ini menjadi paradoks karena ada kesenjangan seperti produksi berkurang namun konsumsi malah jadi limbah. Di sisi lain, makin berkembang konsep produksi, sesuatu yang dianggap limbah tapi makanan bernutrisi dan bisa dimakan (edible food) seperti biji bunga matahari dan kulit kentang. Ada juga semi edible food seperti tulang yang diolah. Karena itu, menurutnya, limbah makanan berkaitan dengan perilaku makan manusia.

Limbah makanan adalah biaya utama di industri turisme dan hospitality. Inggris Raya memperkirakan nilainya sekitar 3 miliar Euro per tahun pada 2014. Nilai ini dihasilkan dari tahap persiapan dan masak 50%, sisa di piring konsumen 35%, dan penyajian atau penyimpanan 15%. Tiga kelompok limbah ini adalah buah dan sayur, roti, dan daging.

Dari riset Filimonau dan rekannya pada 2021, lebih sedikit makanan terbuang dalam rantai bisnis yang terafiliasi. Fine dining atau makanan mahal lebih banyak terbuang di dapur. Sedangkan di layanan budget atau cepat lebih banyak terbuang di piring. Perusahaan besar lebih sedikit membuang sisa makanan dari tiap konsumen. Mereka dinilai lebih efisien melakukan layanan.

“Pendekatan manajemen biasanya pasif,” ujarnya. Keberlanjutan lingkungan tidak menjadi prioritas. Terlebih dampak pandemi, perusahaan fokus di memaksimalkan keuntungan untuk mengejar pendapatan.

Sejumlah cara praktis untuk mengurangi food waste di antaranya, untuk pihak internal dapur harus memperkirakan permintaan, pelatihan koki untuk mengurangi sisa makanan, dan menu sesuai dengan bahan yang tersedia. Dari sejumlah pengalaman restoran, menurutnya kadang banyak konsumen terkejut karena tidak menduga apa yang akan mereka dapatkan dari menu yang menyesuaikan dengan ketersediaan bahan. Sedangkan di luar dapur, perlu pendekatan konsumen dan komposting di lokasi, seperti hotel dan restoran.

Filimonau juga membagi sebuah konsep gelembung kolaborasi, sebuah kerjasama antara petani, pemilik usaha, dan konsumen. Ada juga beberapa referensi yang bisa jadi panduan dan global roadmap untuk mengurangi sisa makanan dalam sektor pariwisata. Misalnya sejumlah tools referensi untuk keberlanjutan pengelolaan makanan. Di antaranya Building and Understanding for Food Excess in Tourism (BUFFET) dikembangkan oleh The Asia Pacific Asia Travel Ascociation (PATA). Ada juga manual Sustainable Food Tools-Ways Communicate with Guests, University Vienna, Hotel Kitchens-Toolskit dari UNWTO, dan lainnya.

Langkah selanjutnya adalah strategi monitoring, pentingnya mengembangkan riset misalnya dari kuantitas, komposisi sisa makanan, ketersediaan sarana pemilahan, metode pengelompokkan limbah untuk komposting.

Jeremy Badgery Parker dari University of Adelaide, Australia, mengulas prinsip keamanan pangan. Prinsip ini meliputi ketersediaan pangan, akses, keamanan, dan stabilitas. Pentingnya keamanan pangan sesuai dengan piramida kebutuhan tiap orang misalnya untuk pertumbuhan, pengakuan dan rasa hormat, hubungan sosial, kesehatan, dan perlindungan.

Sedangkan Azila Asmi dari Faculty of Hotel and Tourism Management Universiti Teknologi MARA, Malaysia membagi hasil penelitian di resor Pulau Langkawi. Gugusan pulau yang menjadi tujuan wisata dengan lanskap alam dan lautan.

Pengelolaan industri hotel berbasis pulau ini menurutnya mirip dengan Bali serta resor-resor wisata kepulauan lain di Indonesia. Industri meliputi usaha perjalanan, penginapan, event, makanan dan minuman, serta rekreasi adalah industri yang paling cepat berkembang. Dari catatanya, produksi limbah sekitar 1 kg per hari per tamu. Di Malaysia hampir 17 ribu ton per hari atau 80% limbah berakhir di TPA (Hashim, 2021). Ia mengatakan kesadaran penurunan limbah dan daur ulang masih rendah.

Ia mengelompokannya menjadi limbah padat termasuk plastik dan limbah basah yakni sisa makanan. Ada juga limbah berbahaya seperti sisa minyak goreng dan lainnya.

Pulau Langkawi luasanya hampir 48 ribu hektar, terdiri dari 99 pulau kecil. Pada 2017, oleh UNESCO dinobatkan sebagai global geopark pertama di Asia Tenggara. Dari 168 hotel, hanya 56 yang menyediakan jasa makanan dan minuman. Karena wisata berbasis pulau, memberi dampak besar, TPA sudah hampir penuh karena produksi sampah turis dua kali lebih banyak dibanding warga.

Riset pada 2019 ini mewawancarai 23 pelaku hotel. Sejumlah hasil pemetaan adalah ada faktor internal seperti rendahnya kebijakan dan pengelolaan limbah, rendahnya keterampilan persiapan masak, dan kurangnya fasilitas seperti tidak tahu cara komposting. Faktor eksternal yang mendorong food waste di antaranya konsumsi turis saat makan bufet dan bahan makanan didistribusikan melalui rantai pasok yang panjang. Mengakibatkan bahan makanan rentan rusak atau tidak segar. Staf hotel juga dinilai tidak punya komunikasi dan kurang edukasi soal pengurangan sisa makanan.

Asmi memberikan beberapa referensi untuk memulai manajemen makanan yang berkelanjutan dan inisiatif yang sudah dicoba beberapa negara. Misalnya di Thailand ada yang berbasis aktivitas (menu engineering) mampu mengurangi 45% food waste saat periode studi.

Ada juga strategi menelusuri sisa makanan (food waste tracking system) bisa mengurangi 80% limbah. Ada juga pemetaan sisa makanan (food waste mapping) sebagai monitoring atau mengurangi porsi. “Perlu pendekatan menyeluruh di industri seperti edukasi, keterampilan, dan lainnya,” sebutnya.

Yayu Indrawati dan I Nyoman Sunarta, penanggap dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana memberi konteks lokal jika masalah food waste juga terjadi di Bali. Yayu mengutip data, hampir 150 ribu kg makanan dibuang per hari di Kota Denpasar. Untuk mencapai zero hunger dalam SDGs, usaha dari sektor pariwisata sangat berpengaruh.

Yayu mengakui makanan berdampak penting bagi pengalaman turis. Namun ada fakta jika food waste termasuk makanan segar tak hanya sisa makanan. Tapi ada hal lain yang mendorong terbuangnya makanan di industri pariwisata misalnya produksi pertanian yang dianggap tidak layak seperti buah kecil atau sedikit rusak. Hal ini menurutnya perlu kolaborasi petani, konsumen, dan industri pariwisata.

Dari sisi konsumsi, hotel-hotel yang menyediakan bufet juga jadi pendorong banyak makanan terbuang. “Sangat tragis ketika melihat banyaknya sisa makanan dan warga yang masih kelaparan,” keluhnya. [Mongabay]

Larangan Ekspor, Jutaan Petani Sawit akan Kehilangan Mata pencaharian

0
Petani sawit di Desa Bumi Kencana, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Foto: RMOLSumsel

Nukilan.id – Labor Institute Indonesia mengatakan, sekitar tujuh juta buruh maupun petani sawit tengah terancam kehilangan mata pencaharian. Hal itu disebabkan oleh kebijakan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya yang baru-baru ini diterbitkan pemerintah.

Menurut Sekretaris Eksekutif Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga, lima juta pekerja di sektor hulu, hilir, dan rantai pasok akan kehilangan pekerjaan. Selain itu, dua juta buruh tani akan terhambat produksi tandan buah segar karena ditolak oleh pabrik pengolahan kelapa sawit.

“Ancaman kehilangan pekerjaan tersebut disebabkan adanya kebijakan pelarangan ekspor sawit dan segala produk turunannya,” kata Andy, dikutip Mediaindonesia.com, Senin (2/5/2022).

Sebelumnya, pemerintah Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2022. Aturan tersebut melarang sementara ekspor crude palm oil, refined, bleached and deodorized palm oil, refined, bleached, and deodorized palm olein, dan used cooking oil.

Labor Institute Indonesia mengatakan, sekitar tujuh juta buruh maupun petani sawit tengah terancam kehilangan mata pencaharian. Hal itu disebabkan oleh kebijakan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya yang baru-baru ini diterbitkan pemerintah.

Menurut Sekretaris Eksekutif Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga, lima juta pekerja di sektor hulu, hilir, dan rantai pasok akan kehilangan pekerjaan. Selain itu, dua juta buruh tani akan terhambat produksi tandan buah segar karena ditolak oleh pabrik pengolahan kelapa sawit.

“Ancaman kehilangan pekerjaan tersebut disebabkan adanya kebijakan pelarangan ekspor sawit dan segala produk turunannya,” kata Andy, dikutip Mediaindonesia.com, Senin, 2 Mei 2022.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2022. Aturan tersebut melarang sementara ekspor crude palm oil, refined, bleached and deodorized palm oil, refined, bleached, and deodorized palm olein, dan used cooking oil. [Betahita]

Tak Sekadar Setop Ekspor, Pemerintah Harus Benahi Tata Kelola Sawit

0
Seorang pekerja sawit swadaya sedang memindahkan tandan buah sawit dari penampungan ke truk untuk diangkut ke pabrik pengolahan kelapa sawit. Foto: Andi Fachrizal

Nukilan.id – Pemerintah resmi melarang ekspor minyak goreng dan bahan baku minyak goreng, termasuk minyak sawit mentah (crude palm oil/ minyak sawit mentah) sejak 28 April lalu. Kebijakan untuk menstabilkan harga minyak goreng sawit dalam negeri ini dinilai hanya bersifat jangka pendek, tak menyasar problem mendasar industri sawit yakni karut marut tata kelola.

Sonny Mumbunan, ekonom dan peneliti dari Research Center for Climate Change Universitas Indonesia memaklumi keputusan pemerintah namun hal ini tidak bisa dilakukan terus menerus.

“Harus ada perbaikan tata kelola oleh pemerintah,” katanya saat dihubungi Mongabay, Minggu (1/5/22).

Kalau tidak, ketidakberdayaan pemerintah dalam mengontrol harga sawit dan minyak goreng bisa mamangkas hutan yang masih ada saat ini. Sonny bilang, ada keterkaitan antara kenaikan harga sawit dengan deforestasi berdasarkan penelitian 2001-2016.

Penelitian yang dia maksud ini terbit pada 2021 dalam Journal of Environmental Economics and Management. “Intinya ada perbandingan 1:7 antara keduanya. Jika harga sawit naik satu poin standar deviasi, deforestasi akan naik 7%,” kata Sonny.

Efeknya memang baru terasa dalam beberapa tahun ke depan. Kenaikan harga sawit bisa terus terjadi karena berbagai faktor di dalam maupun luar negeri.

Saat ini, pasar luar negeri dipengaruhi konflik antara Rusia-Ukraina. Konflik ini tak hanya memicu kenaikan harga sawit, juga harga pupuk yang membuat biaya produksi di Industri sawit turut meningkat.

Di dalam negeri, kenaikan harga dipicu peningkatan permintaan menjelang hari raya, dalam hal ini Idul Fitri. Namun, katanya, tanpa faktor-faktor itu, kenaikan harga sawit merupakan sebuah keniscayaan di Indonesia.

Sonny menyebut, setidaknya dalam Jurnal yang dia rujuk disebut ada faktor seperti pemilihan kepala daerah (pilkada) juga bisa memicu kenaikan harga sawit.

Untuk itu, pekerjaan rumah yang besar adalah bagaimana memastikan deforestasi tak terjadi sekalipun ada kenaikan harga sawit.

“Salah satunya dengan intensifikasi, bukan ekstensifikasi. Ini yang sudah sering kita suarakan.”

Sayangnya, saat ini industri sawit masih cenderung menerapkan ekstensifikasi lahan pertanian mereka. Ditambah lagi, keberpihakan pemerintah lewat dana sawit yang lebih menyasar industri besar ketimbang petani.

“Kalau (tata kelola) yang dalam negeri dibenerin, efeknya enggak harus seperti saat ini, (sampai harus) block (ekspor minyak goreng) sama sekali,” katanya.

Perbaikan tata kelola industri sawit juga disuarakan kelompok masyarakat sipil yang memberi somasi pada pemerintah atas kelangkaan dan harga minyak goreng tinggi. Langkah ini, mereka nilai lebih efektif ketimbang menutup keran ekspor yang bersifat sementara.

“Perbaikan tata kelola bisa membuat pemerintah mengurangi konglomerasi lahan dan konsentrasi CPO yang selama ini ada pada kelompok tertentu,” kata Achmad Surambo, Direktur Eksekutif Sawit Watch.

Penguasaan CPO pada kelompok tertentu ini sangat terasa ketika pemerintah menyerahkan harga minyak goreng ke mekanisme pasar lantaran tidak bisa memcahkan masalah kelangkaan.

“Buktinya ketika harga dilepas ke pasaran setok minyak goreng langsung banjir.”

Sawit buat energi

Keberpihakan pemerintah terhadap Industri sawit sebagaimana dikatakan Sonny bisa terlihat dari dana sawit yang banyak lari ke industri biodiesel yang dikuasai korporasi besar. Serikat Petani Sawit (SPKS) mencatat, dana pungutan sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (BPDPKS) yang teralokasi untuk biodiesel mencapai Rp57 triliun hingga 2020.

Dana ini meningkat pada 2021 mencapai Rp107 triliun atau 83% dari total dana yang dihimpun. Sementara dana yang mengalir ke petani untuk program replanting hanya Rp4 triliun.

Edi Suhardi, analis sawit berkelanjutan, menyuarakan hal serupa. Lebih 70% dana BPDPKS lari ke sektor biodiesel.

Dia menilai, dana BPDPKS ini seharusnya bisa terealokasi untuk subsidi minyak goreng. “Jadi, program biodiesel ini seharusnya bisa fleksibel,” katanya.

Dengan demikian, mandatory B30 pada biodiesel bisa disesuaikan di tengah krisis yang sedang terjadi. Biodiesel untuk minyak sawit, kata Edi, bisa diturunkan menjadi B0-B30, tidak perlu ‘harus’ B30.

Edi menyebut, dana BPDPKS sudah lebih dari cukup untuk subsidi minyak goreng. Jadi, prioritas mencegah inflasi dan penurunan harga minyak goreng sesuai keinginan pemerintah bisa lebih mudah tercapai.

Tenny Kristiana, Associate Researcher, International Council on Cean Transportation (ICCT) mengatakan, kengototan pemerintah mendorong biodiesel bisa membuat kelangkaan dan harga minyak goreng tinggi terulang di tahun-tahun mendatang. Apalagi, pemerintah berencana mendorong kebijakan ini menjadi B40.

“Dari mana lagi CPO-nya? Sekarang saja konsumsi CPO dalam negeri lebih tinggi untuk biodiesel ketimbang minyak goreng,” katanya dalam webinar bertajuk impact of Indonesia’s refined palm oil export ban & global bioenergy mandates, baru-baru ini.

Pernyataan Tenny beralasan, Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI) sempat mengeluarkan data serupa.

Dalam catatan GAPKI, konsumsi minyak sawit untuk biodiesel melampaui pangan terjadi sejak November 2021. Pada Januari 2022, konsumsi minyak sawit dalam negeri mencapai 1.506 juta ton dengan konsumsi terbesar untuk biodiesel 732.000 ton dan industri pangan hanya 591.000 ton.

Kondisi ini menunjukkan, penting perbaikan tata kelola sawit dari hulu ke hilir. “Harus ada penyelarasan antara pemanfaatan CPO sebagai bahan fuel ‘biodiesel’ atau food ‘minyak goreng’,” katanya.

Dampak ke petani

Belum terang kapan pemerintah akan cabut pelarangan ekspor minyak goreng dan bahan baku minyak goreng.

“Begitu kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi, saya akan cabut larangan eskpor,” demikian pernyatan Presiden Joko Widodo dalam video yang diunggah di akun Youtube Sekretariat Presiden yang siar langsung Rabu (27/4/22).

Permendag Nomor 22/2022 tentang Larangan Sementara Ekspor CPO, refined, bleach and deodorized palm oil, refined, bleach and deodorized palm oil dan used cooking oil hanya menerangkan akan ada evaluasi periodik setiap bulan atau dalam waktu tertentu.

“Saya harap kebijakan ini hanya jangka pendek dan setelah Lebaran bisa dicabut,” ucap Edi.

Kalau berkepanjangan, katanya, petani akan terbebani karena harga tandan buah segara (TBS) sawit jatuh.

Hal ini, katanya, karena keengganan perusahaan membeli TBS dengan harga tinggi yang ditetapkan pemerintah di tengah pelarangan ekspor. “Maka terjadi banyak PKS (pabrik sawit) yang tolak buah petani.”

Sedang petani tak memiliki kemampuan menyimpan buah yang mereka panen. Tidak seperti PKS, bisa menyimpan sampai beberapa minggu.

Dengan demikian, petani harus menelan pil pahit karena merelakan buah dibeli dengan harga murah. “Daripada busuk dalam waktu 2-3 hari,” kata Edi.

Pernyataan Edi ini dibenarkan SPKS. Mansuetus Darto, Sekjen SPKS, menyebut, penurunan harga TBS ini terjadi sejak kebijakan masih wacana.

Berdasarkan catatan terakhir 29 April, harga TBS bervariasi mulai dari Rp2.361-Rp2.900 per kilogram. Padahal, standar TBS disebut Darto berkisar antara Rp3.800-Rp3.900 per kilogram.

“Perusahaan masih bandel, masih tidak mengikuti anjuran pembelian TBS sesuai harga standar,” kata Darto.

Anjuran ini diimbau Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian yang mengeluarkan Surat Edaran Nomor 165/KB.020/E/04/2022 pada 25 April lalu. Dalam SE itu gubernur daerah penghasil sawit diminta mengirimkan surat edaran pada bupati/walikota sentra sawit agar tak menerapkan harga beli TBS secara sepihak. Adapun acuan harga beli adalah pada penetapan Tim Penetapan Harga TBS tingkat provinsi.

“Ini arena pukul balik dari para taipan sawit,” kata Darto.

Dia yakin hal ini terjadi karena ketidaksukaan para oligarki sawit atas keputusan pemerintah. Pasalnya, harga TBS yang anjlok terjadi di seluruh wilayah penghasil sawit.

Darto meminta, ada tindakan tegas dari pemerintah dan penegak hukum. “Mereka yang membeli TBS murah ini melanggar hukum,”.

Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies mengatakan, keputusan ini tak akan menyelesaikan masalah dan akan mengulang kesalahan pemerintah yang memberhentikan ekspor batubara pada Januari 2022.

“Yang harusnya dilakukan pemerintah mengembalikan kebijakan DMO CPO 20% dari total produksi CPO,” katanya.

Kebijakan ini akan membuat Indonesia berpotensi kehilangan devisa ekspor US$3 miliar setara Rp43 triliun.

Fariz Panghegar, Traction Energy Asia mengatakan, selama ini tidak ada regulasi terkait tata niaga industri sawit hingga negara gagap terhadap situasi pasar CPO yang dinamis. Akibatnya, saat harga CPO melonjak tinggi, pengusaha akan memprioritaskan untuk ekspor daripada memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Regulasi kita gagal mengatasi situasi. Misal, tidak ada pembagian jatah CPO untuk ekspor dan kebutuhan domestik pangan, untuk biodiesel.”

Fariz menilai, kebijakan industri sawit saat ini masih bersifat parsial dan reaktif, serta tidak berorientasi terhadap risiko di kemudian hari.

Dia katakan, perlu ada regulasi yang komprehensif untuk kebutuhan domestik dan ekspor apalagi komoditas ini tidak hanya untuk pasar domestik juga internasional.

Perlu perubahan mendasar

Darto mengapresiasi langkah presiden menghentikan sementara ekspor CPO untuk memastikan ketersediaan minyak goreng terjangkau bagi masyarakat.

Namun, dia menilai, masalah kenaikan harga minyak goreng ini akan terjadi ke depan kalau tak ada perubahan sistemik dalam industri sawit di Indonesia. Mengapa? Karena pelaku usaha menguasai hulu hingga hilir industri ini, mulai dari perkebunan hingga proses refinery minyak goreng.

Situasi ini memberi pengaruh untuk mendikte pasar, di mana pengusaha akan lebih memprioritaskan ekspor saat minyak goreng kekurangan pasok dalam negeri.

“Saat harga sawit naik, pengusaha sibuk mengekspor produk olahan ke luar negeri karena lebih menguntungkan dan melupakan tugas dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri,” katanya.

Dia mendorong, pemerintah dan BUMN membangun refinery minyak goreng baik skala kecil maupun besar. Juga perlu memperkuat koperasi-koperasi petani untuk lebih bersuara dalam menentukan harga yang kini disetir perusahaan besar.

“Agar negara tak kalah dengan segelintir orang. Ini juga bahaya bagi keamanan ekonomi dan politik dalam negeri. Dengan kartelisasi saja, bisa memporak-porandakan stabilitas politik dalam negeri.”

Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia sepakat perlu ada pengembangan industri perkebunan yang dikelola rakyat, tak hanya perusahaan besar.

“Perkebunan sawit perusahaan telah mengubah hutan jadi tanaman monokultur, menghilangkan kekayaan sumber daya alam, merampas lahan masyarakat, masyarakat adat dan penduduk lokal. ”

Perusahaan juga sering melanggar hukum, tak membayar pajak adil kepada negara, tak memenuhi peraturan bahkan beroperasi di luar konsesi dan merambah kawasan hutan.

“Negara harus berperan dalam transisi ini dengan melakukan reforma agraria, di mana perkebunan yang luasnya lebih dari 25 hektar masuk dalam program reforma agraria.”

***

Sejak akhir 2021, kenaikan harga minyak goreng menjadi sorotan. Terlebih, Indonesia sebagai negara produsen terbesar sawit di dunia. Kelangkaan mnyak goreng sawit ini berbuntut Kejaksaan Agung menetapkan empat tersangka dari korporasi maupun pemerintah yang tersangkut kasus mafia minyak goreng.

Kejagung menetapkan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Indrasari Wisnu Wardhana, Komisaris PT Wilmar Nabari Indonesia, Master Parulian Tumanggor, Senior Manager Corporate Affair Permata Hijau Group Stanley MA dan General Manager PT Musim Mas, Togar Sitanggang sebagai tersangka.

Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah mengatakan, penetapan tersangka dampak kebijakan Kemendag menetapkan domestic market obligation (DMO) dan domestic price obligation (DPO) bagi perusahaan yang ingin ekspor CPO dan produk turunannya.

Implementasinya, perusahaan eksportir tak memenuhi DPO namun mendapatkan izin ekspor dari pemerintah.

Jaksa penyidik menemukan perbuatan melawan hukum dalam kasus ini. Upaya ini tidak berpedoman pada pemenuhan kewajiban distribusi kebutuhan dalam negeri. Kejagung mensinyalir ada gratifikasi dari pemberian izin persetujuan ekspor ini.

“Ketika pegajuan ekspor ini memang harus diteliti apakah memang DMO itu sudah ada. Ketika ini lolos seperti yang kita sampaikan bahwa ternyata di lapangan langka, tentunya ini menjadi pertanyaan kita, apalagi penyidik,” katanya.

Proses penyidikan masih terus berjalan dan belum bisa menyampaikan apa yang menjadi kerja sama antara pihak pemohon dan termohon. “Penyidik sudah menetapkan dengan proyek pemeriksaan masalah ekspor dan kewajiban DMO tentunya penyidik sudah memiliki alat bukti. ”

Indonesia menghasilkan 59% dari pasokan global bahan dasar minyak goreng di Indonesia dan bahan bakar nabati. Sejak akhir tahun lalu, kelangkaan minyak goreng jadi persoalan serius.

KPPU bergerak

Ada 14.000-an orang menanda tangani petisi online dengan hastag #TurunkanHargaMinyakGoreng mendesak KPPU untuk mengusut tuntas dugaan kartel minyak goreng yang digalang oleh koalisi masyarakat sipil. Ia terdiri dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Indonesia Corruption Watch (ICW), LBH Jakarta dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan.

Tulus Abadi, Ketua Harian YLKI mengatakan, publik mendukung pengungkapan dugaan kartel minyak goreng dengan mahalnya harga setelah pemerintah menetapkan HET di tingkat konsumen.

Guntur Saragih, Wakil Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan, kali pertama ada dukungan publik kepada lembaga pengawas ini. Karena kasus minyak goreng (sawit) ini, berdampak bagi masyarakat.

“Temuan Kejaksaan Agung justru menguatkan dugaan kami. Semua pihak kami coba jaring karena bekerja dalam penegakan hukum persaingan usaha, Yang melibatkan aktor besar memang membutuhkan energi,” katanya dalam konferensi pers belum lama ini.

Menurut KPPU, ada empat perusahaan menguasai perdagangan minyak goreng di Indonesia dan ada dugaan perusahaan ini melakukan praktik kartel serta bersengkokol dalam menentukan harga bersama.

Egi Primayogha, Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW mengatakan, petisi ini disuarakan karena kelangkaan dan minyak goreng mahal berlarut-larut tanpa penanganan efektif dari pemerintah.

“Penetapan tersangka ini seakan mengamini pernyataan Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, yang pernah menyebut mafia sebagai dalang di balik masalah minyak goreng.” [Betahita]