Wednesday, 21 October 2026 Banda Aceh 28°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Etnik

HIMPASAY Minta Pemerintah Aceh Perhatikan Sanggar Tari Mahasiswa Aceh di Yogyakarta

Sanggar seni tari mahasiswa Aceh di Yogyakarta. (FOTO: FOR NUKILAN)
Sanggar seni tari mahasiswa Aceh di Yogyakarta. (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | YOGYAKARTA – Keberadaan sanggar seni tari mahasiswa Aceh di Yogyakarta memiliki peran strategis dalam memperkenalkan tarian tradisional Aceh, seperti Rapai Geleng, Ratoh Jaroe dan Rapai Geurimpheng , kepada masyarakat lintas daerah. Melalui berbagai kegiatan kebudayaan, para mahasiswa turut membangun ruang perjumpaan antarkultur sekaligus memperkuat citra Aceh sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan ekspresi seni.

Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Aceh Yogyakarta (HIMPASAY), Teuku Auliya Rahman, meminta Pemerintah Aceh agar memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan sanggar-sanggar tarian tradisional Aceh yang dikelola oleh mahasiswa Aceh di Yogyakarta.

Menurutnya, sanggar-sanggar tersebut bukan sekadar ruang berkesenian, melainkan bagian dari upaya mahasiswa perantauan dalam menjaga identitas, merawat warisan budaya, serta memperkenalkan kekayaan seni Aceh kepada masyarakat luas.

“Mahasiswa Aceh di Yogyakarta tidak hanya datang untuk menempuh pendidikan, tetapi juga mengambil bagian dalam menjaga identitas dan kebudayaan daerahnya. Sanggar-sanggar tari yang mereka kelola merupakan salah satu bentuk nyata kecintaan generasi muda terhadap kebudayaan Aceh,” ujar Teuku Auliya Rahman.

Namun, upaya menjaga kebudayaan tersebut tidak seharusnya hanya dibebankan kepada inisiatif dan kemampuan mahasiswa. Pemerintah Aceh, melalui instansi terkait, perlu hadir memberikan dukungan yang berkelanjutan, baik dalam bentuk fasilitasi perlengkapan dan kostum tari, dukungan pembinaan, bantuan operasional kegiatan, maupun kesempatan untuk terlibat dalam agenda promosi kebudayaan Aceh.

“Jangan sampai mahasiswa kita dituntut menjadi garda terdepan dalam melestarikan kebudayaan Aceh, tetapi pada saat yang sama harus berjuang sendiri untuk mempertahankan sanggar-sanggar seni yang mereka kelola. Pelestarian kebudayaan membutuhkan ekosistem yang mendukung, dan pemerintah merupakan salah satu pihak yang memiliki tanggung jawab penting di dalamnya,” tegasnya.

Auliya juga menekankan bahwa perhatian terhadap sanggar-sanggar mahasiswa Aceh di Yogyakarta tidak semestinya dipahami sebatas pemberian bantuan sesaat. Pemerintah perlu membangun pola pembinaan yang terarah, transparan, dan berkelanjutan agar komunitas seni mahasiswa dapat terus berkembang serta memiliki ruang yang memadai untuk berkarya.

Ia mendorong Pemerintah Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, serta Lembaga Adat Wali Nanggroe agar membuka ruang komunikasi dengan organisasi mahasiswa dan pengelola sanggar seni Aceh di Yogyakarta. Pendataan sanggar, pemetaan kebutuhan, dan penyusunan program kolaborasi dapat menjadi langkah awal untuk memastikan dukungan yang diberikan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Menurutnya, mahasiswa Aceh yang berada di luar daerah juga merupakan bagian dari kekuatan kebudayaan Aceh. Mereka dapat menjadi penghubung antara tradisi lokal dengan masyarakat nasional, bahkan internasional, melalui pertunjukan seni, festival budaya, dan berbagai ruang ekspresi lainnya.

“Ketika tarian Aceh tampil di panggung-panggung kebudayaan di Yogyakarta, yang dibawa bukan sekadar gerakan dan irama. Ada sejarah, nilai, identitas, dan kebanggaan masyarakat Aceh yang ikut diperkenalkan. Karena itu, mendukung sanggar-sanggar ini berarti ikut merawat warisan budaya sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutannya,” tutup Auliya.

Ia berharap Pemerintah Aceh dapat menjadikan sanggar-sanggar tari mahasiswa Aceh di Yogyakarta sebagai bagian dari perhatian dan program pembinaan kebudayaan daerah. Dengan dukungan yang tepat, mahasiswa tidak hanya mampu mempertahankan tradisi di tanah perantauan, tetapi juga menjadi duta kebudayaan yang memperkenalkan Aceh secara lebih luas. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News