Hasbi Kenalkan Keuneunong dan Meugo Adat kepada Generasi Muda Aceh

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pengetahuan masyarakat Aceh dalam mengelola pertanian dan menjaga keseimbangan lingkungan diperkenalkan kembali kepada generasi muda melalui kegiatan “Penguatan Kearifan Lokal Meugo Adat dan Peran Keujruen Blang dalam Menghadapi Bencana Ekologis serta Menjaga Ketahanan Pangan”.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Sabtu, 5 September 2026, tersebut diikuti sekitar 60 anak muda dari sejumlah komunitas dan wilayah di Aceh.

Program itu mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh dalam Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026. Pelaksanaannya turut melibatkan Nanggroe Institute.

Salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut ialah Hasbi, tokoh masyarakat dan adat dari Gampong Ulee Tuy, Mukim Daroy Jeumpet, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. Mantan Keuchik Gampong Ulee Tuy sekaligus pernah menjabat Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kecamatan Darul Imarah itu menyampaikan pengetahuannya mengenai Meugo Adat, Keujruen Blang, Kenduri Blang, dan Keuneunong.

Hasbi menjelaskan, Kenduri Blang tidak hanya menjadi bagian dari tradisi masyarakat ketika memasuki kegiatan pertanian, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur dan ikhtiar spiritual agar proses bercocok tanam berlangsung aman serta mendapat keberkahan.

Di sisi lain, Keujruen Blang mempunyai kedudukan penting dalam mengatur aktivitas pertanian sekaligus menjaga hubungan antarpetani di tengah masyarakat.

Menurut Hasbi, keberlangsungan pertanian tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan, khususnya hutan yang menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan sumber air untuk sawah.

“Hutan adalah sumber air bagi sawah. Kalau hutan kita rusak, air akan terganggu. Kalau air terganggu, pertanian juga akan terganggu. Jadi menjaga hutan berarti menjaga sawah dan menjaga ketahanan pangan masyarakat,” ungkapnya.

Ia kemudian menguraikan sejumlah aturan dan pantangan yang terdapat dalam Meugo Adat. Salah satunya berkaitan dengan larangan membiarkan hewan ternak berkeliaran setelah masyarakat mulai memasuki masa turun ke sawah.

Aturan tersebut bukan semata-mata bertujuan melindungi tanaman dari kerusakan. Di dalamnya juga terdapat nilai sosial yang mengajarkan masyarakat untuk menghormati hasil kerja petani lain dan menghindari tindakan yang dapat merugikan sesama.

Dalam praktik pengetahuan yang diwarisinya, Hasbi menggunakan kalender Masehi untuk menentukan Keuneunong melalui rumus yang disebut Pangkal 25.

Ia mencontohkan cara menghitung Keuneunong untuk September. Karena September merupakan bulan kesembilan, angka tersebut dikalikan dua hingga menghasilkan 18. Hasil itu kemudian dikurangi dari angka pangkal 25 sehingga menghasilkan angka 7.

9 × 2 = 18
25 − 18 = 7

Dari perhitungan tersebut, September dikategorikan sebagai Keunong 7. Hasbi mengatakan, berdasarkan pengetahuan yang diwariskan kepadanya, periode tersebut umumnya berkaitan dengan kondisi musim yang lebih kering atau kemarau.

Ia menilai pengetahuan tersebut memiliki kesesuaian dengan kondisi cuaca yang tengah berlangsung. Meski demikian, Hasbi mengingatkan bahwa Keuneunong tidak dapat diposisikan sebagai kepastian mutlak mengenai kondisi musim.

“Memang Keuneunong itu prediksi. Kita tidak mengatakan bahwa hasilnya pasti seratus persen terjadi. Tetapi dari prediksi itu kita bisa melakukan persiapan. Jadi, ini adalah salah satu bentuk kita dalam melakukan mitigasi,” ujarnya.

Karena itu, menurut dia, pengetahuan lokal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu pertimbangan masyarakat dalam mempersiapkan aktivitas pertanian dan menghadapi kemungkinan perubahan musim.

Hasbi juga menilai perkembangan pertanian Aceh ke depan tidak harus memilih antara adat dan teknologi. Keduanya, kata dia, dapat digunakan secara bersamaan dengan tetap menjadikan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting.

“Pertanian kita jangan meninggalkan adat, tetapi juga jangan menutup diri dari teknologi. Adat tetap menjadi pegangan, lingkungan harus kita jaga, dan teknologi kita manfaatkan untuk membantu petani. Ketiganya harus berjalan bersama,” pungkasnya.

Direktur Nanggroe Institute, Muhammad Zikri, S.IP., M.Kom., turut menilai pengetahuan mengenai Keuneunong masih memiliki relevansi dalam kehidupan pertanian masyarakat Aceh. Menurutnya, pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk membaca kecenderungan musim tanam sekaligus menjadi salah satu bentuk mitigasi berbasis kearifan lokal.

Untuk menjaga agar pengetahuan tersebut tidak berhenti pada generasi tertentu, Hasbi bersama Muhammad Zikri berencana mendokumentasikan Keuneunong dan Meugo Adat melalui sebuah buku.

Dokumentasi tersebut nantinya akan mencakup berbagai aspek, mulai dari Kenduri Blang, pantangan dalam Meugo Adat, peran Keujruen Blang, pengetahuan mengenai pembacaan musim, hingga keterkaitan antara hutan, air, dan ketahanan pangan.

“Kalau hanya disampaikan dari mulut ke mulut, suatu saat bisa hilang. Karena itu harus kita tulis dan dokumentasikan. Anak-anak muda harus tahu bahwa orang Aceh punya pengetahuan sendiri dalam membaca musim, mengatur pertanian, menjaga alam, dan menjaga ketahanan pangan,” kata Hasbi.

Upaya tersebut diharapkan dapat membuat pengetahuan lokal Aceh tetap terdokumentasi dan dikenal generasi muda. Di saat yang sama, kearifan tersebut dapat terus berkembang tanpa harus berseberangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News