NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Akademisi Universitas Iskandar Muda (UNIDA), Munawwar, mendorong generasi muda Aceh untuk mempelajari kembali sejarah kejayaan peradaban Islam.
Menurutnya, sejarah tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda dalam memahami perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, pemerintahan, hingga keterbukaan dalam kehidupan masyarakat.
Munawwar mengatakan, salah satu periode penting dalam sejarah peradaban Islam terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah. Pada masa tersebut, Baitul Hikmah berkembang sebagai pusat kegiatan keilmuan dan riset yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
“Pada konteks Aceh juga mengalami perkembangan ilmu pengetahuan yang luar biasa pada era Sultan Iskandar Muda. Pada masa ini dilakukan pengembangan ilmu pengetahuan melalui konsep kombinasi antara ilmu pengetahuan, akhlak dan semangat keterbukaan dalam pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Munawwar dalam wawancara Nukilan.id, Jumat (18/9/2026).
Ia menilai, sejarah perkembangan dan kemunduran peradaban Islam perlu kembali dipelajari oleh generasi muda. Pemahaman tersebut dinilai penting sebagai bahan refleksi untuk membangun masa depan yang lebih maju.
“Generasi muda telah menunjukkan tekad untuk mengembalikan kejayaan peradaban islam salat satunya dibuktikan dengan banyak para pemuda Aceh yang melanjutkan studi ke luar negeri ini merupakan salah satu indikator dimulainya pembangunan peradaban islam kembali,” ujar Munawwar.
Di tengah perkembangan teknologi digital, kata Munawwar, generasi muda menghadapi tantangan dalam memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai sejarah peradaban Islam. Arus informasi yang cepat melalui berbagai platform media sosial membuat perhatian anak muda lebih mudah teralihkan.
Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat juga dapat membuat sebagian generasi muda kurang tertarik untuk membaca dan memahami sejarah secara mendalam.
Ia menambahkan, ketersediaan literatur sejarah peradaban Islam yang mudah diakses dan menarik juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi tersebut perlu dijawab dengan menghadirkan konten edukasi yang sesuai dengan karakter generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.
Munawwar menilai, media sosial dapat dimanfaatkan bukan hanya sebagai ruang hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkenalkan sejarah dan nilai-nilai peradaban Islam kepada generasi muda Aceh.
“Generasi muda Aceh diharapkan menjadi generasi yang cerdas di zaman yang serba digital ini, akan tetapi untuk senantiasa memegang teguh dengan filosofi keislaman serta nilai-nilai kearifan lokal Aceh sehingga dapat memberikan sumbangsih yang nyata untuk kemajuan peradaban,” pungkasnya.
Reporter: Tibrani
Editor: Akil
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

