NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Badan Reintegrasi Aceh (BRA) melakukan audiensi dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) di Jakarta, Rabu (26/8/2026). Pertemuan tersebut membahas upaya memperkuat keberlanjutan perdamaian Aceh melalui pendekatan akademik.
Dalam audiensi yang berlangsung sekitar satu jam itu, Ketua BRA, Cand (Dr) Jamaluddin, memaparkan rancangan Roadmap BRA 2026–2036. Dokumen tersebut disusun bersama tim akademisi dari Universitas Syiah Kuala (USK) dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Kedatangan rombongan BRA mendapat sambutan positif dari Rektor beserta sivitas akademika Unhan RI. Rektor Unhan RI, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., mengapresiasi langkah BRA yang memilih pendekatan akademik sebagai salah satu strategi untuk mempertahankan perdamaian Aceh yang telah berlangsung selama 21 tahun.
Dalam pertemuan itu, Unhan RI juga menyambut baik rencana kolaborasi yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi di Aceh maupun di luar Aceh. Kampus yang direncanakan terlibat antara lain USK, UIN Ar-Raniry, Universitas Teuku Umar (UTU), Universitas Gadjah Mada (UGM), serta Unhan RI.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memanfaatkan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai ruang bersama dalam memperkuat pendidikan, penelitian, serta pengembangan keilmuan yang konstruktif dan memberikan manfaat bagi keberlanjutan perdamaian Aceh.
Ketua BRA menjelaskan bahwa Roadmap BRA 2026–2036 diharapkan menjadi pijakan awal bagi Aceh untuk memberikan kontribusi bagi dunia melalui pengalaman Aceh dalam penyelesaian konflik dan pembangunan perdamaian.
Menurut BRA, rancangan roadmap tersebut sebelumnya telah dibahas dan mendapatkan rekomendasi dari tiga perguruan tinggi di Aceh, yakni USK, UIN Ar-Raniry, dan UTU. Ketiga perguruan tinggi tersebut selama ini turut memberikan dukungan terhadap BRA.
Dari pertemuan tersebut, kedua pihak menyepakati pentingnya keterlibatan akademisi Unhan RI dalam penyempurnaan roadmap yang telah disusun BRA bersama tim.
Rektor Unhan RI juga meminta akademisi di lingkungan Unhan untuk memberikan masukan terhadap rancangan tersebut. Selain itu, Unhan akan turut mendorong agar gagasan yang terdapat dalam roadmap dapat menjadi salah satu model dalam menjaga keberlanjutan perdamaian Aceh.
Jamaluddin, SH, MKn, dalam pemaparannya di hadapan Rektor, para Wakil Rektor, jajaran dekan, serta sivitas akademika Unhan RI, menyampaikan bahwa pendekatan akademik dinilai menjadi salah satu jalur strategis untuk memastikan perdamaian Aceh tetap terjaga sesuai dengan amanah MoU Helsinki, UUPA, dan berbagai regulasi terkait lainnya.
Ia juga menyinggung momentum 21 tahun perdamaian Aceh yang diperingati setiap 15 Agustus. Menurutnya, peringatan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum untuk mengenang perjalanan perdamaian sekaligus memastikan generasi saat ini memahami sejarah konflik Aceh.
Rangkaian peringatan tersebut juga diisi dengan berbagai agenda yang diselenggarakan BRA sebagai bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif mengenai perjalanan perdamaian Aceh.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan FISIP USK, Dr. Masrizal, S.Sos.I., M.A., yang sebelumnya menjabat Koordinator Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana USK, turut menyampaikan pandangannya dalam diskusi bersama pimpinan Unhan RI.
Masrizal yang juga menjadi bagian dari tim ahli penyusunan Roadmap BRA menyebut dokumen tersebut sebagai langkah BRA untuk membuka gagasan mengenai arah keberlanjutan perdamaian Aceh kepada publik.
Dalam audiensi tersebut, Ketua BRA didampingi sejumlah anggota tim, di antaranya Dr. Masrizal, M.A. selaku tim ahli Roadmap BRA, Kasubag Hukum BRA Masfirah, S.H., M.H., Ghazi Ahmad, S.H., M.Kn. selaku Kabid Politik, Hukum dan Pendidikan Damai, serta Intan Munirah, S.H., M.H., akademisi Fakultas Hukum.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara jajaran sivitas akademika Unhan RI dan rombongan BRA.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News




