NUKILAN.ID | TAKENGON – Klaim pemerintah mengenai alokasi bantuan senilai Rp2,5 triliun dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk pemulihan sawah dan kebun terdampak banjir bandang di Aceh belum dirasakan sebagian petani di Kabupaten Aceh Tengah.
Seorang petani di Kampung Merodot, Kecamatan Bintang, Supriyadi Bintang, yang memiliki sawah seluas sekitar satu hektare, mengaku hingga kini belum menerima bantuan maupun kepastian tindak lanjut meski lahannya telah didata sejak beberapa bulan lalu.
“Setelah bencana sekitar dua bulan, ada pendataan dari Dinas Pertanian Aceh Tengah melalui kepala desa. Kami diminta foto di lahan dengan titik koordinat. Semua berkas sudah diserahkan, tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi,” kata SUpriyadi kepada Nukilan, Jumat (7/8/2026).
Ia mengatakan sawah miliknya tidak lagi dapat ditanami karena saluran irigasi tertutup longsor dan jaringan drainase rusak. Akibatnya, sumber air yang biasa mengairi sawah tidak lagi mengalir sehingga ia gagal menanam padi pada musim tanam tahun ini.
Tak hanya sawah, sekitar dua hektare kebun kopi miliknya juga terdampak longsor. Dari ratusan tanaman kopi berusia sekitar dua setengah tahun, kini hanya sekitar 100 batang yang tersisa.
Menurutnya, pendataan kerusakan kebun dilakukan aparatur desa atas arahan pemerintah, tanpa petugas dinas turun langsung ke lokasi.
“Kami berharap instansi terkait yang turun langsung supaya tahu kondisi sebenarnya. Kalau hanya berdasarkan laporan, kami khawatir nanti datanya tidak akurat,” ujarnya.
Sebelumnya, Pemerintah Aceh menyatakan Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran Rp2,5 triliun untuk pemulihan lahan sawah dan kebun yang rusak akibat bencana hidrometeorologi. Dana tersebut disebut digunakan untuk pemulihan lahan, penyediaan alat pertanian, serta bantuan benih sesuai usulan pemerintah daerah. []
Reporter: Sammy

