NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Setiap hari manusia menghasilkan sampah. Dari sisa makanan saat sarapan, kemasan kopi yang dibeli di warung, hingga kardus paket belanja yang tiba di rumah. Sampah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun persoalannya bukan pada keberadaan sampah itu sendiri, melainkan bagaimana kita memperlakukannya setelah digunakan.
Momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati setiap 21 Februari menjadi pengingat bahwa persoalan sampah bukan sekadar urusan kebersihan, tetapi juga menyangkut kesehatan, lingkungan, ekonomi, hingga masa depan generasi mendatang.
Tema ini menjadi semakin relevan ketika Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Belajar dari Tragedi Leuwigajah
Hari Peduli Sampah Nasional lahir dari tragedi longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005. Gunungan sampah setinggi puluhan meter runtuh setelah diguyur hujan deras dan dipicu ledakan gas metana. Bencana tersebut menewaskan lebih dari 150 orang dan mengubur dua kampung di sekitarnya.
Peristiwa itu menjadi salah satu tragedi lingkungan terbesar dalam sejarah Indonesia sekaligus pengingat bahwa sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat berubah menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia.
Dua puluh satu tahun setelah tragedi tersebut, Indonesia masih menghadapi persoalan serupa meskipun dalam bentuk yang berbeda.
Indonesia Darurat Sampah
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia menghasilkan puluhan juta ton sampah setiap tahunnya. Sampah rumah tangga menjadi penyumbang terbesar, sementara sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pengolahan yang optimal.
Kondisi ini menyebabkan banyak TPA di berbagai daerah mengalami kelebihan kapasitas. Tidak sedikit yang masih menerapkan sistem open dumping atau pembuangan terbuka yang berpotensi menimbulkan pencemaran tanah, udara, dan air.
Persoalan sampah juga berkaitan erat dengan perubahan iklim. Sampah organik yang menumpuk menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan global jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida.
Dengan kata lain, membuang sampah sembarangan bukan hanya menciptakan lingkungan yang kotor, tetapi juga berkontribusi terhadap krisis iklim yang sedang dihadapi dunia.
Aceh dan Tantangan Pengelolaan Sampah
Di Aceh, tantangan pengelolaan sampah juga terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Data Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh menunjukkan volume sampah harian yang masuk ke sistem pengelolaan kota berkisar antara 250 hingga 270 ton per hari. Pada momentum tertentu seperti Ramadan, Idulfitri, dan hari besar lainnya, jumlah tersebut dapat meningkat secara signifikan.
Sebagian besar sampah yang dihasilkan masyarakat terdiri dari sisa makanan dan kemasan plastik. Sayangnya, banyak sampah masih tercampur menjadi satu sehingga sulit untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
Padahal, jika dipilah sejak awal, sebagian besar sampah tersebut masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Mengapa Pemilahan Sampah Menjadi Kunci?
Banyak orang menganggap pengelolaan sampah harus dimulai dari teknologi canggih atau fasilitas modern. Padahal langkah paling penting justru terjadi sebelum sampah diangkut oleh petugas kebersihan, yaitu saat sampah dipilah dari sumbernya.
Pemilahan sampah memiliki banyak manfaat.
Pertama, sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pakan maggot yang bermanfaat bagi pertanian dan peternakan.
Kedua, sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, kardus, dan kaleng dapat dijual kembali atau didaur ulang menjadi produk baru.
Ketiga, volume sampah yang dikirim ke TPA dapat berkurang secara signifikan sehingga memperpanjang umur tempat pembuangan akhir.
Dengan kata lain, pemilahan sampah merupakan pintu masuk menuju ekonomi sirkular, sebuah sistem yang berupaya memastikan sumber daya tetap digunakan selama mungkin dan meminimalkan limbah yang terbuang.
Pengalaman Awal Nukilan Green
Kesadaran inilah yang melatarbelakangi lahirnya Nukilan Green pada Desember 2025.
Sebagai media lokal yang setiap hari meliput berbagai isu lingkungan dan bencana di Aceh, tim Nukilan.id menyadari bahwa perubahan tidak cukup hanya disampaikan melalui berita. Perubahan harus dimulai dari praktik nyata.
Langkah sederhana pun dilakukan di lingkungan kantor dengan menyediakan fasilitas pemilahan sampah dan mengajak seluruh anggota tim untuk membiasakan diri memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu.
Perjalanan tersebut tentu tidak langsung berjalan sempurna. Pada awalnya masih banyak kesalahan dalam memilah sampah karena kebiasaan lama yang sulit diubah. Namun seiring waktu, kebiasaan baru mulai terbentuk. Sampah yang sebelumnya bercampur kini dipisahkan berdasarkan jenisnya. Minyak jelantah yang biasanya dibuang kini dikumpulkan untuk dimanfaatkan kembali. Sampah bernilai ekonomi juga mulai dijual kepada pengepul.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat dimulai dari langkah sederhana dan tidak selalu membutuhkan biaya besar.
Perubahan Dimulai dari Kita
Persoalan sampah sering kali dianggap terlalu besar untuk diselesaikan oleh individu. Padahal setiap orang memiliki peran penting dalam mengurangi timbulan sampah setiap hari.
Membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja yang dapat dipakai ulang, mengurangi plastik sekali pakai, menghabiskan makanan, serta memilah sampah sebelum dibuang merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara kolektif.
Hari Peduli Sampah Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini perlu menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab kita semua.
Karena pada akhirnya, sampah bukanlah masalah yang tidak memiliki solusi.
Sampah hanya akan menjadi masalah ketika kita memilih untuk mengabaikannya. Namun ketika dikelola dengan benar, sampah dapat berubah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan masa depan bumi yang lebih berkelanjutan.
Referensi
[1] Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN).
[2] Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Hari Peduli Sampah Nasional dan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan.
[3] Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh. Data Timbulan Sampah Harian Kota Banda Aceh.
[4] Belantara Foundation. Hari Peduli Sampah Nasional: Pentingnya Pengelolaan Sampah Terpadu.
[5] United Nations Environment Programme (UNEP). Global Waste Management Outlook.




